Você está na página 1de 12

ANALISIS LINGKUNGAN BISNIS RUMAH SAKIT UMUM DAERAH

KABUPATEN KUDUS

February 22, 2011 by Yulia Silvianti

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Rumah sakit memiliki fungsi yang bergeser dari tahun ke tahun, apabila jaman dahulu
secara umum rumah sakit berfungsi social kemudian dengan perkembangan jaman fungsi
rumah sakit berubah menjadi sosioekonomik. Masyarakat sekarang mulai dapat menerima
system nilai baru tersebut, bahwa rumah sakit, sekalipun berfungsi utama mengatasi
penderitaan manusia yang mengalami musibah sakit, rumah sakit harus dapat
menghasilkan surplus dari usahanya, dengan tujuan agar dapat menghidupi diri sendiri
dan dapat berkembang serta memberi pelayanan yang semakin baik. Walaupun demikian
RSUD harus tetap bisa memberikan pelayanan yang prima kepada semua lapisan
masyarakat tanpa memandang status social.

Rumah Sakit Umum Daerah Kudus memiliki tenaga 236 orang pegawai negeri, 3
dokter part time dan 155 orang tenaga kontrak yang terdiri dari Dokter spesialis 24 orang,
Dokter umum 7 orang, Dokter gigi 2 orang, Sarjana Non Kesehatan 8 orang, Sarjana
Muda Non Kesehatan 3 orang, Apoteker 1 orang, Asisten Apoteker 8 orang, Para medis
Perawatan (Akper 26 orang, SPK 34 orang, Bidan 9 orang, Pekarya Kesehatan 15 orang,
SMAK 3 orang, SPPH 2 orang, SPAG 1 orang, APRG 1 orang), STM 7 orang, SMA 28
orang, SMP 19 orang, SD 24 orang, dan Tenaga Kontrak 155 orang.

Menjelang era globalisasi banyak tantangan yang harus dihadapi rumah sakit
khususnya RSUD. Tantangan yang pertama adalah bagaimana mengubah paradigma yang
berorientasi pemberi pelayanan (provider oriented) menjadi berorientasi pelanggan
(customer oriented). Tantangan berikutnya adalah persaingan antar rumah sakit baik lokal,
nasional maupun regional. Dengan demikian untuk dapat bersaing maka RSUD harus
mampu memberikan jasa pelayanan kesehatan yang bermutu lebih baik, berharga lebih
rendah, dengan pelayanan yang prima, mudah terjangkau dan memenuhi kebutuhan,
tuntutan dan kepuasan pelanggan. Dengan dukungan tenaga tenaga yang professional
RSUD Kudus diharapkan mampu untuk menghadapi tantangan di era globalisasi dengan
cara mengingkatkan terus menerus mutu sumber daya manusia, memperbaiki management
rumah sakit serta meningkatkan kesejahteraan karyawan (internal customer).

Kota Kudus terletak di jalur pantura dengan angka kecelakaan yang tinggi serta
merupakan daerah industri, hal ini merupakan peluang tersendiri bagi RSUD Kudus untuk
meraih pelanggan sebanyak mungkin.

Dimana saat ini kita telah memasuki era otonomi daerah, dengan diberlakukannya UU
25/1999 tentang perimbangan fiscal dan UU 22/1999 tentang desentralisasi maka ada
dampak terhadap aspek keuangan dalam pelayanan kesehatan. Dana anggaran kesehatan
dari pusat diserahkan ke daerah melalui Dana Alokasi Umum, namun mungkin DAU
untuk kesehatan porsinya lebih kecil. Dengan demikian RSUD harus mampu mencari
terobosan sebagai upaya kemandirian management rumah sakit. Kerja sama dengan pihak
ke III perlu ditingkatkan, selain untuk membiayai pelayanan kesehatan di rumah sakit
juga menambah biaya investasi. Biaya investasi bagi RSUD Kudus saat ini sangat penting
yakni untuk membangun dan memperbaiki sarana fisik dan melengkapi alat alat
kedokteran yang kurang.

B. Visi dan Misi RSUD Kudus

RSUD Kudus memiliki visi, Terwujudnya Pelayanan Kesehatan Prima Bagi Semua,
untuk Masa Depan Cerah dan Mandiri. Dan memiliki Misi sebagai berikut yaitu :

a. Memberikan pelayanan kesehatan yang akurat, tepat waktu, efektif dan efisien serta
memuaskan.
b. Memberikan pelayanan kesehatan prima kepada semua lapisan tanpa memandang status
sosial masyarakat.
c. Membuat terobosan sebagai upaya mandiri management rumah sakit dalam rangka
pengelolaan 4 M (Man, Money, Material, Metode) menuju otonomi daerah
d. Melaksanakan managemen terbuka melalui jaringan informasi secara lengkap dan tepat
waktu.
e. Meningkatkan kesejahteraan seluruh insan rumah sakit sesuai beban kerja, tanggung
jawabnya dan memberikan kenyamanan dalam bekerja serta memperkecil semua resiko
yang timbul.

C. Susunan Organisasi

Sesuai dengan Perda Kabupaten Kudus Nomor : 3 Tahun 1997 tentang terbentuknya
Rumah Sakit Umum Daerah Kelas B Non Pendidikan, maka untuk penyelenggaraan tugas
pokok dan fungsi terbagi atas :

a.Direktur
b.Dua Jabatan Wakil Direktur
c.Tiga Bagian dan Dua bidang
d. Masing masing bagian terdiri 3 Sub Bagian dan masing masing Bidang terdiri dari
tiga Kepala Seksi
e. Komite Medis
f. Staf Medis Fungsional
g. Instalasi Rumah Sakit terdiri dari 16 Unit Kerja

D. Maksud dan Tujuan

Maksud ditulisnya paper ini adalah untuk melakukan analisi lingkungan bisnis Rumah
Sakit Umum Daerah Kabupaten Kudus didalam menghadapi tantangan di era globalisasi
dan era otonomi daerah.

Tujuannya adalah untuk mempertahankan keberadaan dan keunggulan RSUD Kudus


dalam persaingan yang semakin ketat dalam lingkungan yang berubah sangat cepat. Hal
tersebut mengakibatkan harus terus menerus dilakukan perubahan kearah perbaikan.

Dimana perubahan tersebut disusun dalam tahapan yang konsisten dan berkelanjutan,
sehingga dapat meningkatkan akuntabilitas dan kinerja yang berorientasi pada pencapaian
hasil.
Analisis SWOT

A. Strength/Kekuatan

RSUD Kudus memiliki 24 orang tenaga dokter spesialis yang terdiri dari berbagai
keahlian, yaitu : 7 orang dokter umum dan 2 orang dokter gigi. Selain itu didukung
juga oleh tenaga Paramedis, administrasi dan ahli management rumah sakit. RSUD
memiliki Program Pengembangan SDM yang cukup baik, untuk para tenaga medis,
paramedic maupun management.

Gaji pegawai 64% masih ditanggung Pemerintah. Walaupun gaji pegawai yang
ditanggung Pemerintah sedikit namun masih ada sumber keuangan dari DAU.
Pengelolaan keuangan yang dilakukan RSUD Kudus adalah pengelolaan secara
swadana. Struktur Organisasi RSUD Kudus telah di perbaharui dan telah ditetapkan
dengan Peraturan Daerah. RSUD Kudus sudah memiliki Sistem Informasi Managemen
yang baik walaupun hal tersebut masih memerlukan penyempurnaan.

B. Weakness/Kelemahan

Ratio jumlah Paramedis dan jumlah tempat tidur belum seimbang. Jumlah
karyawan RSUD Kudus yang merupakan PNS hanya 64% dan banyak dari karyawan
yang usianya mendekati usia pension, sedangkan yang lainnya merupakan tenaga
kontrak. Selain memiliki struktur gaji baik, para karyawan juga mendapatkan
kompensasi dari Jasa Medik. Jasa Medik di RSUD Kudus belum sesuai dengan
tanggung jawab dan beban kerja (tidak proporsional). Pengembangan karir karyawan
belum baik, karena penilaian jabatan belum berdasrakan kualitas SDM yang
bersangkutan dan sangat tergantung dari steakholder (Pemda).

Walaupun RSUD Kudus sudah menjadi RS Swadana namun masih ada kontribusi
RS terhadap PEMDA. Tarif dari RSUD masih rendah, penentuan tarif belum
berdasarkan unit cost. Hal tesebut disebabkan masih adanya invisible cost yang cukup
tinggi. Biaya obat dan askes terdiri 48% dari total biaya operasional. Anggaran
investasi belum bisa dimunculkan dalam DIKDA.

C. Opportunity/peluang

Saat ini Indonesia sedang memasuki era otonomi daerah yang dipicu oleh adanya
UU No.22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No 25 tahun 1999 tentang
Perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan daerah Kabupaten Kudus.
Kabupaten Kudus merupakan kabupaten dengan luas wilayah tersempit di Jawa Tengah
tetapi memiliki potensi industri yang cukup besar. Kunjungan rawat jalan dan tingkat
hunian semakin meningkat diikuti oleh meningkatnya kunjungan keluarga pasien.

Kudus merupakan kota yang terletak di jalur padat lalu lintas PANTURA dengan
angka kecelakaan cukup tinggi. Karena Kudus sebagai kota industri maka penyakit
penyakit akibat kerja seperti kecelakaan kerja dan penyakit akibat lingkungan cukup
tinggi. Kota Kudus dekat dengan sentra ekonomi sehingga banyak sekali menyerap
tenaga kerja (buruh) yang sebagian besar menjadi peserta asuransi kesehatan.
Kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk berobat ke fasilitas kesehatan cukup
baik.
D. Threats/Tantangan

Adanya suhu politik dan keamanan Indonesia yang belum stabil, adanya 2 RS
Swasta yang potensial menjadi pesaing RSUD Kudus, dan kemampuan RS untuk
membeli alat alat baru dengan teknologi canggih.

Analisis Lingkungan Eksternal

Saat ini Indonesia sedang memasuki era otonomi daerah yang dipicu oleh adanyanya
UU No 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No 25 tahun 1999 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta Peraturan Peraturan
(PP) yang akan mengatur Pemerintah Daerah dan Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Daerah. Undang undang tersebut akan berdampak pada sumber
keuangan daerah. Kabupaten Kudus merupakan Kabupaten dengan luas wilayah tersempit
di Jawa Tengah tetapi mempunyai potensi industri yang cukup besar. Di wilayah ini
terdapat industri besar seperti rokok, keras tekstil dan industri kecil yang menyerap tenaga
kerja sangat besar (98.681 buruh). Dimana keadaan eksternal ini merupakan potensi bagi
pengembangan pembiayaan pelayanan kesehatan yang dapat digali dari dana masyarakat
dengan sistem asuransi/Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM).

Kudus merupakan kota yang terletak di jalur padat lalu lintas PANTURA, dimana
angka kecelakaan cukup tinggi. Keadaan ini merupakan pangsa pasar yang baik dimana
RSUD Kudus dapat berperan dalam menekan angka kecacatan dan kematian akibat
kecelakaan, terutama kecelakaan lalu lintas.

Suhu politik dan keamanan di Indonesia yang belum stabil akan menghambat
investasi dan pertumbuhan ekonomi. Teknologi alat alat kedokteran semakin maju tetapi
kemampuan RS untuk membeli alat alat baru dengan teknologi canggih sangat lemah.

Proses Screening
Jenis Lingkungan RSUD Kudus

A. Lingkungan Langsung RSUD Kudus

1) Ketenagakerjaan

Rumah Sakit Umum Daerah Unit Swadana Kabupaten Kudus memiliki 203
tempat tidur dengan tenaga 239 orang pegawai negeri dan 155 orang tenaga kontrak.
Perbandingan yang ideal antara jumlah tenaga perawat dengan jumlah tempat tidur
untuk RS tipe B adalah 2:3. Dimana saat ini Rumah Sakit Umum Daerah Kudus telah
menjadi rumah sakit tipe B, masih dirasakan kekurangan tenaga paramedis perawatan.
Dan untuk penambahan/pengangkatan Pegawai Negeri Sipil digunakan sistem zero
growth.

2) Sarana

Instalasi Gawat Darurat/IGD

IGD sebagai tempat pelayanan 24 jam tempatnya kurang strategis sebab terlalu
menjorok ke dalam sehingga mobil pengantar pasien tidak dapat langsung masuk.
Tenaga medis dan paramedis dengan sertifikat Pelatihan Penatalaksanaan Gawat
Darurat (PPGD) dan Advanced Trauma Life Support (ATLS) masih kurang.

Instalasi Rawat Jalan

Instalasi Rawat Jalan saat ini mempunyai 14 Ruangan Poliklinik, jumlah ini masih
kurang sebab masih ada 1 (satu) ruangan yang digunakan untuk 2 (dua) Poliklinik.

Instalasi Rawat Inap

Dari segi fisik terlihat bahwa bangunan masing masing ruangan di Instalasi Rawat
Inap sudah tua dan mulai banyak kerusakan. Jumlah tempat tidur di Instalasi Rawat
Inap saat ini ada 203, melihat tingkat hunian dalam satu tahun terakhir ini rata rata
80% maka kapasitas TT masih kurang. Untuk ruang bersalin terlihat belum adanya
incubator, sedangkan ruang perawatan intensive (ICU) belum memenuhi standar, baik
dari segi bangunan maupun peralatannya.

Instalasi Bedah Sentral

Instalasi Bedah Sentral di bangun tahun 1981 walaupun sudah mengalami rehabilitasi
namun belum memenuhi standar estetika sebagai sebuah Instalasi Bedah Sentral.

Instalasi Farmasi

Instalasi Farmasi sebagai penyedia obat obat bagi pasien baik lewat jalan maupun
rawat inap belum optimal. Instalasi ini baru mampu melayani kurang lebih 50%
kebutuhan obat. Hal ini disebabkan karena keterbatasan anggaran.

Instalasi Laboratorium
Sebagai pelayanan penunjang dari segi fisik Instalasi Laboratorium sudah mempunyai
gedung yang memadai tetapi peralatannya masih kurang. Sampai saat ini peralatannya
masih ada yang sewa begitu juga ketenagaannya masih kurang sehingga belum bisa
melayani 24 jam. Hingga kini Instalasi Laboratorium belum mempunyai dokter
Patologi Anatomi.

Instalasi Radiologi

Keadaan fisik bangunan di Instalasi Radiologi cukup memadai tetapi untuk


peralatannya belum lengkap. Alat canggih seperti CT Scan belum ada.

Instalasi Rehabilitasi Medik

Sampai saat ini peralatan dan tenaga di Instalasi Rehabilitasi Medik masih kurang.

Gambaran di atas merupakan sebagian dari Instalasi yang ada di Rumah Sakit Umum
Daerah Unit Swadana Kabupaten Kudus. Selain yang disebutkan di atas masih ada
Instalasi Gizi, Instalasi Pengolahan Air Limbah, Instalasi Diklat, Instalasi Pemeliharaan
Sarana Rumah Sakit dan Instalasi PKMRS yang keadaanya masih kurang memadai.

3) Kinerja Pelayanan

Kinerja Pelayanan juga memegang peranan penting didalam lingkungan langsung


usaha dari RSUD Kudus. Dari kinerja pelayanan RSUD Kudus terjadi peningkatan
kunjungan pasien rawat inap dan rawat jalan di RSUD Kudus. Untuk bulan Januari s/d
Juni 2001 saja BOR-nya 89,2%. Dengan BOR yang di atas angka ideal ini
menyebabkan TOI kurang dari 1 hari, dan BTO kurang ideal. Keadaan seperti ini perlu
dipikirkan untuk penambahan tempat tidur, sehingga tidak terjadi antrean pemakaian
kamar

B. Lingkungan Pasar RSUD Kudus

1) Peraturan Pemerintah

Saat ini Indonesia sedang memasuki era otonomi daerah yang dipicu oleh
adanyanya UU No 22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No 25 tahun
1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta
Peraturan Peraturan (PP) yang akan mengatur Pemerintah Daerah dan Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Undang undang tersebut akan
berdampak pada sumber keuangan daerah.

2) Industri terbesar di Kabupaten Kudus

Kabupaten Kudus merupakan Kabupaten dengan luas wilayah tersempit di Jawa


Tengah tetapi mempunyai potensi industri yang cukup besar. Di wilayah ini terdapat
industri besar seperti rokok, kertas, tekstil dan industri kecil yang menyerap tenaga
kerja sangat besar (98.681 buruh). Dimana keadaan ini merupakan potensi bagi
pengembangan pembiayaan pelayanan kesehatan yang dapat digali dari dana
masyarakat dengan sistem asuransi/Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
(JPKM).
3) Konsumen RSUD Kudus

Kudus merupakan kota yang terletak di jalur padat lalu lintas PANTURA, dimana
angka kecelakaan cukup tinggi. Keadaan ini merupakan pangsa pasar yang baik
dimana RSUD Kudus dapat berperan dalam menekan angka kecacatan dan kematian
akibat kecelakaan, terutama kecelakaan lalu lintas.

4) Pesaing RSUD Kudus

Di Kabupaten Kudus memiliki tiga Rumah Sakit Swasta yang menjadi pesaing dari
RSUD Kudus. Dengan adanya pesaing pesaing tersebut maka RSUD Kudus berusaha
untuk meningkatkan pelayanan medis kepada masyarakat sekitarnya, terutama bagi
masyarakat tidak mampu.

C. Lingkungan Non-Pasar

Lingkungan non pasar terdiri tatanan sosial, kondisi politik dan kekuatan hukum.
Dibawah ini lingkungan non pasar yang mempengaruhi RSUD Kudus, yaitu:

1) Tatanan Sosial

Tatanan social dari masyarakat Kabupaten Kudus adalah masyarakat yang rata rata
sector ekonominya berasal dari industri dan perdagangan. Kondisi ini menyebabkan
masyarakat Kudus menjadi masyarakat yang konsumtif dan memiliki kebudayaan
yang lebih mementingkan kepentingannya sendiri. Hal ini dapat dilihat dari
kebiasaan masyarakat kudus yang selalu menghitung segala sesuatu dengan uang.

Kebudayaan ini berpengaruh terhadap pelayanan RSUD Kudus yang harus


memberikan pelayanan yang cepat dan baik. Mereka dapat pindah dengan mudah ke
pesaing RSU ini, karena mereka memiliki kemampuan untuk membayar pelayanan
yang lebih baik.

Konsumen dari RSU Kudus ini rata rata merupakan buruh dari pabrik pabrik di
daerah Kabupaten Kudus. Untuk mendapatkan konsumen menengah keatas, RSUD
Kudus mengalami banyak tantangan dari rumah sakit swasta. Sehingga untuk dapat
bersaing RSUD Kudus harus memahami konsidi masyarakat Kudus secara baik.

2) Kondisi Politik

Suhu politik dan keamanan di Indonesia yang belum stabil akan menghambat
investasi dan pertumbuhan ekonomi. Teknologi alat alat kedokteran semakin maju
tetapi kemampuan RS untuk membeli alat alat baru dengan teknologi canggih
sangat lemah.

Lapisan Lingkungan RSUD Kudus


A. Lingkungan Internasional

Lingkungan Internasional sedang mengalami krisis, sehingga secara tidak langsung


berdampak pada lingkungan nasional Indonesia. Teknologi alat alat kedokteran dari
Negara maju akan semakin mahal dengan adanya krisis tersebut. Kesulitan ditambah
lagi dengan kemampuan RS yang terbatas untuk membeli alat alat dengan teknologi
canggih tersebut.

B. Lingkungan Nasional

Dengan diberlakukannya UU 25/1999 tentang perimbangan fiscal dan UU 22/1999


tentang desentralisasi maka ada dampak terhadap aspek keuangan dalam pelayanan
kesehatan. Dana anggaran kesehatan dari pusat diserahkan ke daerah melalui Dana
Alokasi Umum, namun mungkin DAU untuk kesehatan porsinya lebih kecil. Dengan
demikian RSUD harus mampu mencari terobosan sebagai upaya kemandirian
management rumah sakit. Kerja sama dengan pihak ke III perlu ditingkatkan, selain
untuk membiayai pelayanan kesehatan di rumah sakit juga menambah biaya investasi.
Biaya investasi bagi RSUD Kudus saat ini sangat penting yakni untuk membangun dan
memperbaiki sarana fisik dan melengkapi alat alat kedokteran yang kurang.

C. Lingkungan Industri

Kabupaten Kudus memiliki industri besar seperti rokok, kertas, tekstil dan industri
kecil yang menyerap tenaga kerja sangat besar (98.681 buruh). Keadaan ini merupakan
potensi bagi pengembangan pembiayaan pelayanan kesehatan yang dapat digali dari
dana masyarakat dengan sistem asuransi/Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
(JPKM). Di Kabupaten Kudus memiliki 3 rumah sakit swasta yang memiliki andil
didalam persaingan RSUD Kudus ini. RSUD dapat bersaing dengan adanya
specialisasi didalam memberikan pelayanannya.

D. Lingkungan Perusahaan

RSUD Unit Swadana Kudus saat ini mempunyai tenaga dokter ahli cukup lengkap
dan didukung oleh dokter umum dan dokter gigi sehingga mampu melayani masyarakat
secara professional. Dengan demikian kepercayaan masyarakat yang sudah mulai akan
semakin meningkat.

Dengan status RSUD sebagai Unit Swadana maka penggunaan uang pendapatan
RS secara langsung sangat memudahkan pihak RS secara mandiri membiayai sebagian
besar kebutuhan operasionalnya. Meskipun demikian pembiayaan RS tetap mengalami
kendala karena masih adanya invisible cost dan pola tarif yang masih rendah maka RS
belum bisa melakukan investasi.

Biaya investasi saat ini sangat dibutuhkan oleh RS untuk membangun,


memperbaiki fasilitas dan pembelian alat alat kedokteran yang masih kurang.
Dengan dukungan Sistem Informasi Management maka pengambilan keputusan akan
lebih akurat. Citra RS pemerintah yang kurang baik dimata masyarakat diperburuk
dengan keadaan fasilitas bangunan yang kurang terawat dan banyak mengalami
kerusakan.
Isu isu Strategik

Berdasarkan analisis lingkungan dilakukan interaksi antara faktor internal dan faktor
eksternal untuk mendapatkan isu isu pengembangan di RSUD Swadana Kudus sebagai
berikut :

1. RSUD Kudus terletak di jalur pantura dengan angka kecelakaan lalulintas tinggi,
memiliki Dokter spesialis, Dokter umum dan paramedis purna waktu yang gajinya
masih di subsidi Pemerintah namun pasien kecelakaan yang dibawa ke RSUD Kudus
lebih sedikit di banding dengan RS swasta.
2. Tingkat kepercayaan masyarakat kepada RSUD Kudus mulai meningkat.
3. Dengan status RS Swadana dan dengan pelaksanaan OTODA maka tarif berdasarkan
Perda tahun 1989 layak untuk dinaikkan sesuai unit cost agar RSUD Kudus mampu
untuk berkembang secara mandiri.
4. Kesulitan dalam anggaran investasi maka diperlukan kerja sama pihak ke III untuk
membantu pembangunan fasilitas gedung dan pembelian alat alat kedokteran.
5. Etos kerja karyawan cukup baik namun masih bisa ditingkatkan dengan peningkatan
kesejahteraan karyawan.
6. Walaupun ada 3 RS Swasta namun sebagian besar dokter ahli merupakan dokter
RSUD Kudus yang bekerja paruh waktu di RSUD Kudus yang bekerja paruh waktu di
RS tersebut, maka perlu diupayakan analisis strategik dengan RS tersebut, baik
ditingkat teknologi, peralatan dan tenaga ahli.
7. Memanfaatkan jumlah kunjungan pasien dan keluarganya untuk mengembangkan unit
bisnis lain di luar unit bisnis inti bagi kemandirian dan kesejahteraan karyawan RS.

Analysis Rencana Strategik

A. Tujuan

a. Meningkatkan pelayanan kesehatan Prima

b. Meningkatkan terobasan sebagai upaya mandiri rumah sakit

c. Meningkatkan management rumah sakit secara terbuka

d. Meningkatkan kesejahteraan seluruh insan rumah sakit

B. Sasaran

Untuk mencapai tujuan rencana strategic Rumah Sakit Umum Daerah Unit Swadana
Kabupaten Kudus dalam bidang peningkatan pelayanan kesehatan prima diharapkan
mampu memberikan pelayanan yang akurat, tepat waktu, efektif, efisien serta
memuaskan pelanggan tanpa membedakan status social.

Untuk mencapai tujuan peningkatkan terobosan sebagai upaya mandiri rumah sakit
diharapkan mampu membuat terobosan sebagai upaya mandiri Rumah Sakit. Untuk
peningkatan management rumah sakit secara terbuka diharapkan rumah sakit mampu
melaksanakan management secara terbuka. Untuk peningkatan kesejahteraan seluruh
insan rumah sakit diharapkan rumah sakit mampu memberi kesejahteraan seluruh insan
Rumah Sakit.
C. Kebijakan

Untuk mencapai sasaran dalam memberikan pelayanan yang akurat, tepat waktu,
efektif dan efisien perlu meningkatkan kemampuan dan keterampilan karyawan di
semua instalasi/unit kerja, menambah kekurangan tenaga medis, paramedic dan non
paramedic, mengajukan usul perubahan SOT, mengembangkan unit pelayanan
unggulan, meningkatkan mutu pelayanan yang sudah ada, melengkapi dan
memperbaiki sarana dan prasarana, serta menyesuaikan pola tarif.

Untuk mencapai sasaran dalam membuat terobosan sebagai upaya mandiri rumah
sakit perlu meningkatkan efisiensi keuangan agar tidak terjadi pemborosan, mencari
sumber dana dengan bekerja sama dengan pihak ke II (Asuransi, pengusaha) untuk
pembiayaan pasien dan investasi, meningkatkan pemasaran informasi management
rumah sakit (SIM-RS).

Untuk mencapai sasaran dalam memberi kesejahteraan seluruh insane rumah sakit
perlu memperbaiki system kompensasi agar sesuai dengan tanggung jawab dan beban
kerja serta mengembangkan karier sesuai dengan prestasi kerja.

D. Program

1) Untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan karyawan di semua


instalasi/unit kerja perlu adanya peningkatan kemampuan dan ketrampilan
karyawan di semua instalasi/unit kerja.
2) Untuk menambah kekurangan tenaga medis, paramedic dan non paramedic perlu
adanya penambahan tenaga medis, paramedic dan non paramedis
3) Untuk mengembangkan unit pelayanan unggulan perlu adanya pengembangan unit
pelayanan unggulan.
4) Dalam meningkatkan mutu pelayanan yang sudah ada perlu adanya peningkatan
mutu pelayanan yang ada.
5) Untuk melengkapi dan memperbaiki saranan dan prasarana perlu adanya
pengadaan, pembangunan dan renovasi sarana dan prasarana.
6) Dalam penyesuaian pola tarif rumah sakit perlu adanya penyesuaian pola tariff
sesuai unit cost dan kemampuan masyarakat.
7) Untuk meningkatkan efisiensi keuangan agar tidak terjadi pemborosan perlu
peningkatan efisiensi keuangan.
8) Dalam mencari sumber dana dengan bekerja sama pihak ke III (asuransi,
pengusaha) untuk pembiayaan pasien dan investasi perlu adanya Penggalangan
Kerja Sama Pihak III untuk pembiayaan pasien dan investasi di Rumah Sakit.
9) Untuk memperbaiki Sistem Kompensasi agar sesuai dengan tanggung jawab dan
beban kerja perlu adanya perbaikan SIM-RS.
10) Untuk memperbaiki Sistem Kompensasi agar sesuai dengan tanggung jawab dan
beban kerja program yang dilaksanakan adalah Perbaikan Sistem Kompensasi.
11) Dalam mengembangkan karir sesuai dengan prestasi perlu adanya pengembangan
karir sesuai prestasi serta rotasi dan mutasi pegawai.

E. Kegiatan

Peningkatan kemampuan dan keterampilan karyawan di semua instalasi/unit kerja perlu


adanya kegiatan kegiatan sebagai berikut :
1. Pelatihan PPGD
2. Pelatihan ATLS
3. Pelatihan ICU dan Critical Care
4. Pengiriman karyawan untuk menempuh pendidikan lanjut, symposium, seminar, kursus
sesuai dengna kebutuhan

Pengembangan karir sesuai dengna prestasi karyawan

1. Perbaikan program computer untuk penilaian angkat kredit (PAK) pegawai fungsional
2. Peningkatan Kinerja TIM Penilai Angka Kredit
3. Menyusun prosedur rotasi karyawan

Perbaikan system kompensasi:

1. Memperbaiki system pembagian jasa medik

Penambahan tenaga medis, paramedic dan non paramedic

1. Menambah tenaga dokter ahli yang belum ada seperti ahli patologi anatomi, ahli bedah
saraf, ahli penyakit jangtung, ahli urologi
2. Menambah tenaga paramedic

Pengembangan Unit Pelayanan Unggulan :

1. Membuka Pelayanan one day care surgery


2. Membuka Pelayanan Trauma Centre

Pengadaan, pembangunan dan perbaikan sarana dan prasarana baik fisik bangunan
maupun peralatan kedokteran

1. Renovasi Ruang Rawat Inap


2. Renavasi Ruang Rawat Jalan
3. Pembangunan IGD dan Ruang Perawatan Intensif baru
4. Pembangunan Ruang Kebidanan dan Kandungan
5. Pemindahan Masjid
6. Pembangunan Kamar Bedah Sentral
7. Pembangunan Ruang Rawat Inap baru
8. Pembelian alat alat kedokteran dan alat perkantoran

Pengembangan pemasaran internal dan eksternal

1. Menyelenggarakan acara keakraban dilingkungan RSUD Kudus


2. Membuat selebaran tentang pelayanan unggulan
3. Menyelenggarakan survey kepuasan pelanggan

Pengembangan pemasaran social

1. Menyelenggarakan kunjungan ke rumah pasien

Penyesuaian Pola Tarif sesuai dengan unit cost


1. Meninjau secara berkala pola tarif agar kompetitif dan sesuai dengan unit cost

Penggalangan dana dari pihak ke III baik untuk investasi maupun untuk pembiayaan
pasien di RS.

1. Menambah kerjasama dengan penjamin biaya kesehatan (asuransi kesehatan,


perusahaan swasta) untuk pembiayaan pasien di RS.
2. Menggalang dana dari pihak ke III untuk membiayai investasi baik berupa pinjaman
lunak maupun dana hibah

Perubahan Struktur Organisasi dan Tatalaksana Rumah Sakit (SOT)

1. Mengajukan usul perubahan SOT

Perbaikan mutu pelayanan berkesinambungan dengan melaksanakan Total Quality


Control

1. Melaksanakan secara berkala Total Quality Control


2. Melaksanakan Audit Management, keuangan dan pelayanan medik oleh SPI secara
berkala

DAFTAR PUSTAKA

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Rumah Sakit Umum Daerah


Kabupaten Kudus tahun 2002

Post E. James, Lawrence T. Anne, Business and Society Corporate Strategy, Public Policy,
Ethic, McGraw-Hill, Tenth Edition 2002