Você está na página 1de 10

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Lengkap Praktikum Bioteknologi dengan judul Pembuatan


Biogas Sederhana di susun oleh:
nama : Juliana
NIM : 1414041006
kelas/kelompok : Pendidikan Biologi/II(dua)
telah diperiksa dan dikonsultasikan kepada Asisten/Koordinator Asisten, maka
dinyatakan diterima.

Makassar, April 2017


Koordinator Asisten Asisten

Muhammad Nur Arsyad, S.Pd Ahmad Zuhudi


NIM :

Mengetahui
Dosen Penanggung Jawab

Prof.Dr.Ir.Hj. Yusminah Hala, M.S


NIP.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Manusia dalam kehidupannya sehari-hari dalam melakukan aktivitasnya
sangat sering menggunakan bahan bakar. Aktivitas manusia yang biasanya
membutuhkan bahan bakar antara lain berkendara, pembakaran dipabrik,
pembangkit listrik dan yang paling penting adalah penggunaan bahan bakar
untuk memasak. Bahan bakar yang biasanya digunakan oleh manusia antara
lain minyak tanah, solar, bensin dan gas elpiji. Bahan-bahan ini tidak hanya
memberikan keuntungan bagi manusia, namun juga membawa dampak yang
tidak baik. Dalam penggunaannya bahan bakar ini akan membuat polusi
dalam lingkungan yang berdampak buruk bagi kesehatan lingkungan maupun
manusia itu sendiri. Selain itu juga sebagian besar dari bahan bakar yang
digunakan merupakan sumber daya alam yang terbatas sehingga apabila
digunakan secara terus menerus akan habis.
Untuk itu, sangat diperlukan bahan alternative yang dapat digunakan
sebagai bahan bakar untuk kepentingan manusia yang tidak berdampak
negatif bagi lingkunga atau ramah lingkungan dan mudah terjangkau. Seiring
dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, manusia menemukan
alternative lain untuk menciptakan suatu jenis bahan bakar yang ramah
lingkungan dan mudah dibuat maupun digunakan. ALternatif tersebut adalah
biogas sederhana. Biogas merupakan gas yang dibuat dengan fermentasi
bahan-bahan sisa atau kotoran makhluk hidup dalam hal ini hewan dan
tumbuhan. Biogas dapat digunakan sebagai pengganti gas elpiji maupun
minyak tanah yang digunakan untuk memasak dan pada skala besar biogas
dapat digunakan sebagai pembangkit listrik. Disamping itu dari pembuatan
biogas akan dihasilkan sisa kotoran ternak yang dapat langsung dipergunakan
sebagai pupuk organic pada tanaman. Berdasarkan pernyataan-pernyataan
tersebut maka dilakukan sebuah praktikum pembuatan biogas sederhana dari
bahan-bahan sisa tumbuhan dan hewan.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum adalah untuk membuat bioga sederhana dari bahan-
bahan organic.
C. Manfaat Praktikum
Manfaat praktikum adalah mahasiswa mengetahui cara membuat biogas
sederehana dengan prosedur yang benar.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Meskipun Indonesia adalah salah satu negarapenghasil minyak dan gas,


namun berkurangnya cadangan minyak dan penghapusan subsidi BBM yang
diterapkan oleh pemerintah menyebabkan harga minyak labil. Dalam situasi
seperti ini pencarian, pengembangan, dan penyebaran teknologi energi non BBM
yang ramah. lingkungan menjadi amat penting, terutama ditujukan kepada
keluarga miskin sebagai golongan yang banyak terkena dampak kenaikan BBM.
Salah satu teknologi yang sesuai dengankeadaan tersebut ialah teknologi biogas.
Biogas dapat dihasilkan dari pengolahan limbah rumah tangga dan buangan dari
sisa kotoran ternak dengan demikian biogas memiliki peluang yang besar dalam
pengembangannya karena bahannya dapat diperoleh dari sekitar tempat tinggal
masyarakat (Wahyono dan Sudarno 2012 dalam Sanjaya dkk 2015).
Biogas mulai dikembangkan di Indonesia sekitar tahun 1970. Namun
tingginya penggunaan bahan bakar minyak tanah dan tersedianya kayu bakar
menyebabkan penggunaan biogas menjadi kurang berkembang. Teknologi
biogas mulai berkembang kembali sejak tahun 2006 ketika kelangkaan energi
menjadi topik utama di Indonesia. Awalnya biogas dibangun dalam bentuk
denplotn oleh pemerintah dengan reacto berbentuk kubah yang terbuat dari
bata atau beton (fixed dome), kini bahan reaktor yangdigunakan telah
berkembang , ada yang terbuat dari beton, bata, plat besi, plastik dan serat kaca
(fiber) dengan masing-masing kelebihan dan kekurangannya (Renilalili,2015).
Eceng gondok dapat dimanfaat dalam produksi biogas karena mempunyai
kandungan hemiselulosa yang cukup besar dibandingkan komponen organic
tunggal lainnya. Hemiselulosa adalah polisakarida kompleks yang merupakan
campuran polimer yang jika dihidrolisis menghasilkan produk campuran turunan
yang dapat diolah dengan metode anaerobic digestion untuk menghasilkan dua
senyawa campuran sederhana berupa metan dan karbondioksida yang biasa
disebut biogas. (Yonathan, 2013).
Biogas adalah gas mudah terbakar (flammable) yang dihasilkan dari proses
fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri bakteri anaerob (bakteri yang hidup
dalam kondisi kedap udara). Pada dasarnya semua jenis bahan organik bisa di
proses untuk menghasilkan biogas, namun demikian hanya bahan organik (padat,
cair) homogen seperti kotoran dan urine (air kencing) hewan ternak yang cocok
untuk sistem biogas sederhana. Biogas merupakan salah satu solusi teknologi
energi untuk mengatasi kesulitan masyarakat akibat kenaikan harga bahan bakar
minyak (BBM), teknologi ini bisa segera diaplikasikan, terutama untuk kalangan
masyarakat pedesaan yang memelihara hewan ternak sapi. Biogas yang
menggunakan bahan kotoran ternak menghasilkan api berwarna biru bersih, tidak
menghasilkan asap maupun bau sehingga kebersihan dapur terjaga. Biogas dapat
digunakan 24 jam nonstop tidak akan berhenti sepanjang bahan baku kotoran
ternak rutin dipasok ke dalam digester (Hastuti, 2009).
Jenis kotoran ternak mempengaruhi biogas yang dihasilkan. Hal ini terkait
dengan hubungan antara jumlah karbon dan nitrogen dinyatakan dengan
rasionkarbon/nitrogen (C/N). Rasio digester anaerobic berkisar 25-30 . Jika C/N
terlalu tinggi nitrogen akan dikonsumsi dengan cepat oleh bakteri metanogen
untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhannya dan hanya sedikit yang beraksi
dengan karbon akibatnya gas yang dihasilkan menjadi rendah. Sebaliknya jika
C/N rendah nitrogen akan dibebaskan dan berakumulusi dalam bentuk ammonia.
Kotoran ternak sapi mempunya rasio 24. Sedangkan kotoran kambing memiliki
rasio C/N yang lebih rendah yaitu 12 (Putri dkk, 2014).
Menurut Jessung (2011) dalam Renilaili (2015) dalam pembuatan biogas
ada faktor-faktor yang sangat mempengaruhi pembentukan biogas antara lain
sebagai berikut :
1) Starter, cairan pemula untuk mempercepat perombakan bahan organik
menjadi biogas.
2) Kondisi bahan baku , yang biasanya terdiri dari enceng gondok dan
kotoran sapi, yang berfungsi sebagai starter.
3) pH (derajad keasaman), ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan
mikroba biasanya nya sekitar 6,4-7,8.
4) Lamanya fermentasi, biasanya produksi biogas sekitar minimal 10 hari,
biasanya setelah 10 hari fermentasi sudah terbentuk kira-kira 0,1-0,2 m3/kg
dari berat bahan kering. Peningkatan penambahan waktu fermentasi dari
10 hari hingga 30 hari meningkatkan produksi biogas sebesar 50%.
Jenis bahan organik yang diproses sangat mempengaruhi produktifitas sistem
biogas di samping parameter-parameter lain seperti temperatur digester, pH,
tekanan dan kelembaban udara. Bahan organik dimasukkan ke dalam digester
(ruangan tertutup kedap udara) sehingga bakteri anaerob akan membusukkan
bahan organik tersebut yang kemudian menghasilkan gas (disebut biogas). Energi
biogas punya kelebihan-kelebihan dibanding energi nuklir atau batubara, yakni
tak berisiko tinggi bagi lingkungan. Selain itu, biogas tak memiliki polusi yang
tinggi. Alhasil, sanitasi lingkungan pun makin terjaga (Hastuti, 2009).
Komponen biogas yang dihasilkan dari proses fermentasi berupa gas Methan
(CH4) sekitar 54-70%, gas karbondioksida (C02) sekitar 27-45%, nitrogen (N2)
3% - 5%, hidrogen (H2) sebesar 1%, 0,1% karbonmonoksida (CO), 0,1%
oksigen (O2), dan sedikit hidrogen sulfida (H2S). Gas methan (CH4) yang
merupakan komponen utama biogas merupakan bahan bakar yang berguna karena
mempunyai nilai kalor yang cukup tinggi, yaitu sekitar 4800 sampai 6700
kkal/m3, sedangkan gas metana murni mengandung energi 8900 Kcal/m3. Karena
nilai kalor yang cukup tinggi itulah biogas dapat dipergunakan untuk keperluan
penerangan, memasak, menggerakan mesin dan sebagainya (Sunaryo, 2014).
Limbah biogas, yaitu kotoran ternak yang telah hilang gasnya (slurry)
merupakan pupuk organik yang sangat kaya unsur-unsur yang dibutuhkan oleh
tanaman. Bahkan unsur-unsur tertentu seperti protein, sellulose, lignin dan lain-
lain tidak bisa digantikan oleh pupuk kimia (Hastuti, 2009).

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Hari/ tanggal : Rabu, 12April 2017
Waktu : Pukul 07.30 s/d 09.30 WITA
Tempat : Halaman Jurusan Biologi FMIPA UNM
B. Alat dan bahan
1. Alat
a. Botol air minum kemasan 1500 ml+tutup 1 buah
b. Korek api 1 buah
c. Selang plastic 1m
d. Pipa aluminium 3 cm
e. Pisau 1 buah
f. Pengaduk 1 buah
2. Bahan
a. Eceng gondok secukupnya
b. Kotoran ayam secukupnya
c. Kotoran kambing secukupnya
d. Kotoran sapi secukupnya
e. Lem lilin 1 buah
f. Air secukupnya
C. Prosedur Kerja

Mencampurkan eceng
Memotong dan menghaluskan
gondong dengan kotoran
eceng gondok
hewan

Memasukkan campuran ke
Memasukkan air secukupnya ke
dalam botol
dalam botol berisi campuran

Memasang pentil pada ujung


selang yang berada diluar botol
Menyambungkan tutup botol
dengan pipa besi dan selang

Menutupi celah-celah ditutup botol


Meremuk bagian leher botol dan maupun daerah pipa besai dengan
disimpan selama 2 minggu lem
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
No Gambar Pengamatan Keberadaan Gas
Ada Tidak Ada
1. Biogas Kotoran Ayam -

2. Biogas Kotoran Kambing -

3. Biogas Kotoran Sapi -


B. Pembahasan
Pembuatan biogas sederhana dilakukan dengan menggunakan bahan-
bahan organic seperti eceng gondok dan juga kotoran ternak yang meliputi
kotoran ayam, kotoran sapi dan juga kotoran kambing. Eceng gondok
digunakan karena berdasarkan teori bahan ini mengandung hemiselulosa yang
dapat dirombak menjadi salah satu bahan biogas. Selain itu eceng gondok juga
merupakan salah satu tumbuhan yang berlimpah karena pertumbuhannya yang
begitu cepat. Pada pembuatan biogas digunakan tiga jenis kotoran (kotoran
sapi, ayam dan kambing). Tujuan dari pembuatan biogas dengan tiga bahan ini
adalah untuk membandingkan bagaimana gas yang dihasilkan dari tiga jenis
kotoran tersebut.
Proses pembuatan dilakukan menggunakan prinsip fermentasi. Mikroba
yang digunakan merupakan mikroba alami yang ada pada bahan-bahan
organic tersebut. Fermentasi dilakukan selama dua minggu. Untuk wadah
yang digunakan ditutup serapat mungkin karena proses yang diinginkan
adalah proses anaerob. Selain itu digunakan selang yang fungsinya sebagai
saluran gas yang akan dihasilkan. Ujung selang ditutup dengan pentil agar gas
yang dihasilkan selama fermentasi tidak keluar dan tetap terperangkap di
dalam selang agar dapat diuji selanjutnya.
Setelah dua minggu, biogas yang dibuat diuji dengan cara mengamati
botol apakah mengembang atau tidak serta mendekatkan api ke selang setelah
pentil dibuka. Apabila terdapat api berwarna biru artinya biogas berhasil dan
apabila tidak artinya tidak ada gas dan biogas tidak berhasil. Dari ketiga bahan
organic yang berbeda yaitu kotoran ayam, sapi dan kambing yang
menunjukkan adanya keberadaan gas adalah biogas dengan bahan kotoran sapi
sedangkan dua lainnya tidak menunjukkan bahwa terdapat gas.
Hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan teori. Menurut teori dalam
Buku saku peternakan Dit Bina Program Dirjen peternakan bahwa kotoran
ayam akan menghasilkan lebih banyak biogas dibandingkan dengan kotoran
sapi. Hal ini berhubungan dengan kadar C/N dalam bahan organic. Menurut
teori Sunaryo (2014) Beberapa percobaan yang telah dilakukan oleh ISAT
menunjukkan bahwa aktifitas metabolisme dari bakteri methanogenik akan
optimal pada nilai rasio C/N sekitar 8-20.
Kesalahan dapat disebabkan beberapa factor diantaranya kualitas
kotoran yang digunakan. Kotoran ayam yang digunakan merupakan kotoran
yang diambil dari kandang peternakan ayam ras dimana kotoran ayam
bercampur dengan makanan ayam yang berhamburan dilantai. Sedangkan
kotoran sapid an kotoran kambing yang digunakan dapat langsung diambil
tanpa tercampur dengan substratnya sehingga jauh lebih murni. Selain itu
kotoran yang digunakan juga tidak fresh karena kotoran diambil satu hari
sebelum proses pembuatan. Selain itu kesalahan juga dapat disebabkan oleh
peralatan yang digunakan yang mungkin terdapat kebocoran seperti bagian
botol ataupun selang.
Botol yang menggembung serta api yang menyala pada kotoran
sapi disebabkan adanya gas metana (CH4) yang dihasilkan dari proses
pembusukan oleh bakteri metanogen. Selain itu juga dihasil CO2 sebagai
hasil metabolism dari bakteri menggunak kandungan C dan N yang terdapat
di dalam bahan-bahan organic yang digunakan.