Você está na página 1de 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam sebuah proses audit terdapat proses pengujian, diantaranya adalah pengujian
pengendalian dan pengujian substantive atas transaksi pada siklus penjualan dan penagihan.
Kedua jenis pengujian tersebut merupakan bagian dari tahap II dalam proses audit. Setelah
memahami kedua pengujian tersebut maka proses audit selanjutnya adalah melanjutkan ketahap
III dan berfokus pada prsedur analitis substantive dan pengujian perincian saldo dalam siklus
penjualan dan penagihan.
Dalam pembahasan ini akan mengilustrasikan betapa pentingnya bagi auditor untuk
memilih bukti yang tepat dalam melakukan verifikasi saldo akun terhadap siklus penjualan dan
penagihan, setelah menentukan batas salah saji yang dapat diterima, menjalankan prosedur
identifikasi risiko untuk menilai risiko pengendalian dan risiko yang tak terhindarkan, serta
melakukan pengujian pengendalian dan pengujian substantive atas transaksi.
Dalam siklus penjualan dan penagihan ini akan membahas mengenai desain untuk prosedur
analisis substantive dan pengujian perincian saldo dari dua akun kunci neraca pada siklus
tersebut, yaitu piutang dagang dan cadangan kerugian piutang.

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimanakah metodologi desain pengujian saldo?
b. Bagaimanakah cara mendesain pengujian perincian saldo?
c. Bagaimanakah metode dalam melakukan konfirmasi terkait akun piutang dagang?
d. Bagaimanakah cara untuk mengembangkan pengujian atas program audit perinci?

1.3 Tujuan

Penulisan makalah ini juga dilakukan untuk memenuhi beberapa tujuan yang akan dicapai
dan diharapkan dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca. Tujuan tersebut antara lain adalah:
a. Mampu menjelaskan metodologi dalam mendesain pengujian perincian saldo.
b. Mampu mendesain dan melakukan prosedur analitis untuk akun-akun dalam siklus penjualan
dan penagihan.
c. Mampu mendesain dan melakukan pengujian perincian saldo piutang dagang.
d. Menjalankan dan mengevaluasi konfirmasi piutang dagang.
e. Mendesain prosedur audit untuk audit piutang dagang serta menggunakan kertas kerja
perencanaan bukti sebagai panduan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 MetodologiDesainPengujianPerincianSaldo
Metodologi desain pengujian perincian saldo yang menggunakan model resiko audit
digunakan para auditor dalam mendesain pengujian yang tepat untuk saldo piutang
dagang. Dalam metodologi tersebut berkaitan dengan kertas kerja perencanaan bukti yang
diperkenalkan dalam bab materialitas dan resiko.
Bukti yang memadai yang akan dipakai dalam pengujian perincian saldo harus
diputuskan berbasis dengan tujuan dengan tujuan (objective-by-objective). Pengambilan
keputusan ini menjadi kompleks karena adanya beberapa interaksi yang mempengaruhi atas
bukti tersebut. Contohnya auditor harus mengevaluasi pelanggaran dan mempertimbangkan
risiko bawaan (inherest risk).Potensi dan resiko ini dapat bervariasi sesuai dengan tujuannnya,
seperti halnya hasil pengujian pengendalian identifikasi risiko, yang bervariasi sesuai dengan
tujuan.Auditor itu harus pula mempertimbangkan hasil pengujian subtantif dari penjualan dan
penerimaan kas.
Dalam mendesain pengujian perincian saldo piutang dagang, auditor harus memenuhi
delapan tujuan perincian saldo. Delapan tujuan umum ini sama untuk seluruh akun, yang
disebut tujuan audit yang terkait dengan saldo piutang dagang. Kedelapan tujuan tersebut
adalah sebagai berikut :
1. Piutang dagang dalam neraca saldo sesuai dengan jumla pada berkas utama, dan jumlah totalnya
secara tepat ditambahkan sesuai dengan buku besar (kecocokan perincian).
2. Perincian piutang dagang yang terjadi (Keberadaan).
3. Seluruh piutang dagang sudah dihitung (Kelengkapan).
4. Jumlah piutang dagang yang tepat (Akurasi).
5. Piutang dagang diklasifikasikan dengan benar (Klasifikasi).
6. Pisah batas waktu piutang dagang yang tepat (pisah batas)
7. Piutang dagang dinyatakan dalam nilai yang dapat direalisasikan (Nilai Terealisasi)
8. Klien memiliki hak atas piutang dagang

Kolom dalam kertas kerja perencanaan bukti termasuk tujuan audit terkait saldo.auditor
menggunakan faktor-faktor yang ada untuk membantu mengetahui resiko deteksi piutang dagang
yang terencana, sesuai tujuannya.
Mengidentifikasi Risiko Bisnis Klien yang Mempengaruhi Piutang Dagang (Tahap I)
Pengujian atas piutang dagang didasarkan pada prosedur penilaian resiko audit agar auditor memahami bisnis dan
industri klien.Sebagai bagian dari pemahaman tersebut, auditor mempelajari lingkungan bisnis dan industri klien serta
mengevaluasi tujuan manajemen dan proses bisnis yang mengidentifikasi risiko bisnis secara signifikan dapat mempengaruhi
pelaporan keuangan, termasuk piutang dagang.
Risiko bisnis klien yang mempengaruhi piutang dagang oleh auditor dianggap sebagai resiko tak terhindarkan dan
dijadikan bukti perencanaan untuk piutang dagang. Contohnya, sebagai hasil dari perubahan lingkungan ekonomi dalam industri,
auditor bisa meningkatkan risiko bawaan dalam nilai realisasi bersih piutang dagang.
Mengidentifikasi Salah Saji yang Dapat diterima dan Mengevaluasi Resiko Bawaan (Tahap I)
Auditor terlebih dahulu memberikan penilaian awal mengenai materialitas untuk keseluruhan laporan keuangan, lalu
mengalokasikan jumlah yang dianggap material untuk setiap akun neraca, termasuk piutang dagang. Alokasi ini disbut penentuan
salah saji yang dapat diterima (tolerable mistatement).Piutang dagang biasanya merupakan salah satu bagian terpenting dari
pelporan keuangan bagi perusahaan dengan penjualan kredit. Meskipun saldo piutang dagang tersebut kecil, transaksi dalam
siklus penjualan dan penagihan yang memengaruhi saldo tersebut biasanya berjumlah besar.
Auditor mentukan resiko tak terhindarkan untuk masing-masing akun (misalnya puitang dagang) dengan
mempertimbangkan resiko bisnis dan industri perusahaan klien. PSA 70 (SA 316) mengindikasikan bahwa auditor harus bisa
mengidentifikasi risiko pelanggaran dalam pengakuan pendapatan. Hal ini biasanya memengaruhi evaluasi auditor trhadap resiko
tersebut untuk tujuan: eksistensi, batas waktu penjualan, pengembalian barang dagangan, dan batas penetapan cadangan kerugian
piutang. Klien biasanya baik secara segaja maupun tidak sengaja slah menetapkan cadangan atas piutang tak tertagih (nilai
realisasi bersih) karena sulitnya menentukan jumlah yang tepat.
Mengevaluasi Risiko Pengendalian dalam Siklus penjualan dan penagihan (Tahap I)
Pengendalian internal atas penjualan dan bukti penerimaan kas yang berhubungan dengan piutang dagang biasanya
berlangsung secara efektif di banyak perusahaan karena manajemen sangat peduli dengan pencatatan yang akurat untuk menjaga
hubungan baik dengan pelanggan. Auditor umumnya memperhatikan tiga aspek pengendalian internal, yaitu:
1. Pengendalian untuk menghindari atau mendeteksi pencurian.
2. Pengendalian atas penetapan pisah batas.
3. Pengendalian yang berhubungan dengan cadangan piutang tidak tertagih.

Auditor harus menghubungkan risiko pengendalian atas tujuan audit terkait transaksi dan tujuan audit terkait saldo,
terutama untuk merencanakan risiko deteksi dan bukti-bukti yang akan digunakan dalam pengujian perincian saldo.hubungan dua
hal ini biasanya mudah ditemukan.Pada figur 14-2 menunjukkan hubungan antara kedua transaksi untuk siklus penjualan dan
penagihan. Sebagai contoh, auditor menyimpulkan risiko pengendalian untuk transaksi penjualan dan penerimaan kas adalah
rendah dalam hal akurasi saldonya. Dengan demikian, auditor menyimpulkan bahwa pengendalian untuk akurasi saldo piutang
dagang adalah efektif karena transaksi satu-satunya yang mempengaruhi piutang dagang adalah penjualan dan penreimaan kas.
Tentunya jika pengembalian barang dagangan, penetapan cadangan, dan pengapusan piutang tak tertagih jumlah signifikan, maka
perlu dipertimbangkan risiko pengendaliauntuk jenis transaksi tersebut.
Kedua aspek yang berhubungan dalam figur 14-2 disebutkan di bawah ini, yaitu :
1. Untuk penjualan, tujuan audit terait keterjadian transaksi (occurrence transaction-related audit
objective) memengaruhi tujuan audit terkait keberadaan saldo.Untuk penreimaan kas, tujuan
audit-terkait keterjadian transaksi memengaruhi tujuan audit-terkait kelengkapan saldo.
Hubungan yang sama juga terjadi pada tujuan audit-terkait kelengakapan transaksi. Alasan dari
kesimpulan ini adalah karena kenaikan penjualan meningkatkan piutang dagang, namun
penerimaan kas menurunkan saldo piutang dagang. Sebagai contoh, pencatatan penjualan (yang
sebetulnya tidak terjadi) akan berbeda dengan tujuan audit-terkait ketrejadian transaksi dan
tujuan audit-terkait keberadaan saldo. Pencatatan penerimaan kas tidak hanya akan berbeda
dengan tujuan audit-terkait keterjadian transaksi, tetapi juga berbeda dengan tujuan audit-terkait
kelengkapan saldo karena piutang dagang yang masih belum dibayar tidak termasuk dalam
pencatatan tersebut.
2. Nilai realisasi dan tujuan audit-terkait saldo piutang dagang, seperti halnya tujuan audit-terkait
penyajian dan pengungkapan, tidak dipengaruhi oleh evaluasi risiko pengendalian di luar tujuan-
tujuan audit diatas, auditor harus mengidentifikasi dan melakukan pengujian terpisah.

Figure 14-2 Hubungan antara tujuan audit-terkait untuk siklus penjualan dan penagihan dan tujuan audit terkait saldo
untuk piutang dagang
Kecoc Kebera Kelengka Akura Klasifika Pisa Nilai Hak
okan daan pan si si h Tereal (Rig
Jenis Tujuan Perinci (Existe (Complet (Accur (Classific Bata isasi hts)
Transa Audit an nce) eness) acy) ation) s (Reliz
ksi Terkait (Detail (Cut able
Transaksi Tie-In) off) Value)

Penjual Keterjadi X
an an
(Occuran
ce)
Kelengka X
pan
(Complet
eness)
Akurasi X
(Accurac
y)
Posting X
Dan
Ringkasa
n (Posting
And
Summariz
ation)
Klasifikas X
i
(Classific
ation)
Penetapan X
Waktu
(Timing)
Peneri Keterjadi X
maan an
Kas (Occuran
ce)
Kelengka X
pan
(Complet
eness)
Akurasi X
(Accurac
y)
Posting X
Dan
Ringkasa
n (Posting
And
Summariz
ation)
Klasifikas X
i
(Classific
ation)
Penetapan X
Waktu
(Timing)

Figur 14-7 mencantumkan tiga baris evaluasi tiga baris evaluasi resiko pengendalian: satu untuk penjualan, satu untuk
penerimaan kas, dan satu untuk pengendalian tambahan sehubungan dengan saldo piutang dagang. Sumber dari resiko
pengendalian untuk penjualan dan penreimaan kas adalah matriks risiko pengendalian yang mengansumsikan bahwa hasil
pengujian pengendalian mendukung mendukung pengujian awal. Auditor membuat evaluasi resiko pengendalian yang terpisah
untuk tujuan yang hanya berkaitan dengan piutang dagang atau untuk penyajian dan pengungkapan.

Mendesain dan Melakukan Mengujian Pengendalian dan Pengujian Subtantif atas Transaksi (Tahap II)
Hasil pengujian pengendalian menentukan apakah resiko pengendalian atas penjualan dan penerimaan kas perlu
direvisi.Auditor menggunakan hasil pengujian subtantif atas transaksi untuk menentukan apakahrisiko pengendaliam atas
penjualan dan penerimaan kas perlu direvisi.auditor menggunakan hasil pengujian subtantif atas transaksi untuk mentukan
apakah perencanaan resiko deteksi sudah memenuhi untuk setiap tujuan audit terkait saldo piutang dagang.

Mendesain dan Melakukan Prosedur Analitis (Tahap III)


Prosedur analitis biasanya dilakuikan dalam tiga tahap audit : selama perencanaan, saat pelaksanaan pengujian terperinci
dan saat menyelesaikan audit.
Prosedur analitis umumnya dialkukan selama tahap pengujian diselesaikan setelah tanggal neraca, namun sebelum
dilakukan pengujian perincian saldo. Hal ini menimbulkan keinginan untuk melakukan ekstensifikasi prosedur analitis sebelum
klien mencatat seluruh transaksi selama tahun tersebut dan menyelesaikan laporan keuangan.
Auditor menjalankan prosedur analitis untuk seluruh siklus penjualan dan penagihan, tidak hanya piutang dagang. Hal
ini perlu dilakukan karena terdapat hubungan erat antara laporan laba rugi dengan akun-akun pada neraca. Jika auditor
mengidentifikasi adanya kesalahan penyajian dalam penjualan atau pengembalian barang dagangan dengan menggunakan
prosedur analitis, piutang dagang kemungkian besar akan menutupi kesalahan tersebut.
Sebagai tambahan untuk prosedur analitis pada tabel 14-1, auditor perlu menelaah piutang dagang yang jumlahnya besar
atau tidak lazim, seperti saldo yang besar.rekening yang tidak tertagih dalam waktu lama, piutang dari perusahaan yang terfiliasi,
karyawan, direktur atau pihak-pihak lain, dan saldo kredit.Untuk mengidentifikasi jumlah ini, auditor perlu menlaah daftar
rekeningpada tanggal neraca untuk menentukan akun mana yang perlu diselidiki lebih lanjut.
Tabel 14-1 Prosedur analitis untuk siklus penjualan dan penagihan:
Prosedur analitis Salah saji yang mungkin terjadi
Membandingkan presentasi laba kotor dengan tahun Lebih saji atau kurang saji penjualan dan piutang dagang
sebelumnya (sesuai lini produk)
Membandingka penjualan bulanan (sesuai lini produk) Lebih saji atau kurang saji penjualan dan piutang dagang
Membandingkan retur dan potongan penjualan sebagai Lebih saji atau kurang saji retur dan potongan penjualan
presentasi dan penjualan kotor dengan angka tahun dan piutang dagang
sebelumnya (sesuai lini produk)
Membandingkan saldo pelanggan individu yang Salah saji pada piutang dagang dan akun laporan
melebihi jumlah tertentu dengan angka tahun laba/rugi terkait
sebelumnya
Membandingkan piutang tidak tertagih sebagai Piutang dagang yang tak tertagih yang belum tersedia
presentase dari penjualan kotor dengan angka tahu
sebelumnya
Membandingkan jumlah hari peredaran piutang dagang Lebih saji atau kurang saji pada cadangan kerugian dan
dengan angka tahun sebelumnya dan perputaran dengan piutang tak tertagih ; hal ini dapat mengindikasikan
piutang dagang terkait adanya piutang dagang fiktif
Membandingkan ketegori umur piutang sebagai Lebih saji atau kurang saji pada cadangan kerugian
presentase dari piutang dagang dengan angka tahun piutang dan piutang tak tertagih
sebelumnya.
Membandingkan cadangan kerugian piutang sebagai Lebih saji atau kurang saji pada cadangan kerugian
sebagai presentase dari piutang dagang dengan angka piutang dan piutang tak tertagih
tahun sebelumnya
Membandingkan penghapusan piutang tak tertagih Lebih saji atau kurang saji pada cadangan kerugian
sebagai presentase dari total piutang dagang dengan piutang dan piutang tak tertagih
angka tahun sebelumnya

Kesimpulan auditor mengenai prosedur analitis subtantif untuk siklus penjualan dan penagihan terhubungkan dengan
kertas kerja perencanaan bukti yang terdapat pada figur 14-7 baris ketiga dari bawah.Oleh karena prosedur analitis merupakan
pengujian subtantif, maka prosedur ini mengurangi tugas auditor dalam melakukan pengujian perincian saldo, jika hasil dari
prosedur tersebut memuaskan.
Jika prosedur analitis dalam siklus penjualan dan penagihan mengungkapkan adanya fluktuasi tidak biasa, maka auditor
perlu meminta informasi kepada manajemen. Tanggapan dari manajemen perlu dievaluasi dengan kritis, apakah mampu
menjelaskan mengenai fluktuasi tersebut dan mampu menunjukkan bukti pendukungnya.

Mendesain dan melakukan Pengujian Perincian Saldo Piutang dagang (Tahap III)
Pengujian perincian yang tepat terhadap saldo bergantung pada faktor-faktor yang disebutkan dalam kertas kerja
perencanaan bukti.Resiko deteksi yang terncana untuk setiap tujuan audit terkait saldo piutang dagang ditampilkan pada baris
kedua.Keputusan ini secara subjektif ditentukan auditor untuk setiap faktor yang disebutkan dalam baris tersebut.
Tugas menggabungkan faktor-faktor penentu risiko deteksi terencana cukup kompleks karena pengukuran untuk setiap
faktor bisa saja salah dan penentuan bobot untuk setiap faktor sifatnya sangat subjektif.Sebaliknya, hubungan abtar faktor dan
resiko deteksi terencana biasanya mudah dilakukan. Sebagai contoh, Auditor tahu risiko tinggi yang tak terhindrkan atau resiko
pengendalian menurunkan risiko deteksi terencana, sedangkan hasil yang baik untuk pengujian substantif atas transaksi
meningkatkan risiko deteksi terencana dan menurunkan pengujian subtantif ternecana lainnya.

2.2 MendesainPengujianPerincianSaldo
Meskipun auditor menekankan akun-akun neraca dalm pengujian perincian saldo, akun laporan laba-rugi tidak dilupakan
karena akun laporan laba/rugi diuji sebagai produk sampingan dari pengujian neraca. Sebagai contoh, jika auditor
mengkonfirmasi saldo piutang dagang dan menemukan lebih saji yang disebabkan karena kesalahan dalam penagihan ke
pelanggan, maka baik piutang dagang maupun penjualan menjadi lebih saji.
Konfirmasi atas piutang dagang merupakan pengujian terpentingterhadap perincian piutang dagang. Kita akan
mendiskusikan konfirmasi secara singkat sambil mempelajari pengujian yang memadai untuk setiap tujuan audit-terkait saldo.
Kita akan membahasnya lebih terperinci dalam bab ini.
Dalam membahas pengujian perincian saldo piutang dagang, kita berfokus pada tujuan audit terkait saldo. Kita akan
mengasumsikan dua hal, yaitu:
1. Auditor telah melengkapi kertas kerja.
2. Auditor telah menetapkan risiko deteksi terencana untuk pengujian atas tujuan audit-terkait
saldo.
Piutang Dagang Ditambahkan secara Tepat dan Sesuai dengan Berkas Utama dan Buku Besar
Pada umumnya, pengujian atas piutang dagang dan cadangan kerugian piutang dilakukan berdasarkan neraca saldo.
Sebuah neraca saldo menyajikan saldo piutang dagang pada tanggal neraca termasuk data saldo piutang untuk setiap pelanggan
disertai perincian saldo untuk kurun waktu antara tanggal penjualan dan tanggal neraca.
Biasanya, auditor melakukan pengujian atas informasi yang didapatkan dari kecocokan perincian (detail tie-in) dalam
neraca saldo, sebelum melakukan pengujian lainnya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah populasi yang diuji sama
dengan buku besar dan piutang dagang pada berkas utama. Total kolom dan kolom yang berkaitan dengan umur piutang harus
diuji dan total pada neraca saldo dibandingkan dengan buku besar. Sebagai tambahan, auditor harus menelusuri sampel untuk
saldo masing-masing dokumen pendukung, seperti duplikat bukti penjualan untuk mencocokkan nama pelanggan, saldo, dan
penghitungan umur piutang yang tepat. Perluasan pengujian terhadap kecocokan perincian bergantung pada jumlah rekening,
tingkat pengujian atas berkas utama sebagai bagian dari uji pengendalian dan pengujian substantive atas transaksi, dan tingkat
pengujian yang dilakukan oleh auditor internal atau pihak independen lain sebelum auditor. Auditor sering kali menggunakan
peranti lunak audit untuk menjumlah ke bawah (foot) dan ke samping (cross-foot) pada neraca saldo dan menghitung ulang
taksiran umur piutang.
Piutang Dagang Dicatat Sesuai Keberadaannya
Konformasi atas saldo tagihan pelanggan merupakan pengujian paling penting untuk menentukan keberadaan piutang
dagang yang dicatat. Ketika pelanggan tidak menanggapi konfirmasi, maka auditor perlu memeriksa dokumen pendukung untuk
mengecek pengiriman barang , juga menguji bukti penerimaan kas selama masa tenggat (subsequent) untuk mengetahui apakah
pembayaran sudah dilakukan. Biasanya, auditor tidak menguji dokumen pengiriman atau bukti penerimaan kas dalam sampel
yang dikonfirmasi, melainkan memperluas penggunaan dokumen tersebut sebagai alternative bukti bagi konfirmasi yang tidak
ditanggapi.
Piutang Dagang Dicatat secara Lengkap
Bagi auditor, sulit untuk melakukan pengujian saldo rekening di luar neraca saldo, kecuali bergantung pada pertimbangan
data piutang dagang di berkas utama. Contohnya, jika klien tanpa sengaja tidak memasukkan piutang dagang pada neraca saldo,
kemungkinan hal ini akan dapat dideteksi ketika auditor melakukan penjumlahan ke bawah terhadap piutang dagang di neraca
saldo, kemudian melakukan rekonsiliasi saldo melalui akun pengntrol di buku besar.
Jika seluruh penjualan kepada pelanggan tidak dimasukkan dalam jurnal penjualan, maka kurang saji pada piutang dagang
tidak dapat diungkap melalui pengujian perincian saldo. Sebagai contoh, auditor jarang mengirimkan konfirmasi piutang dagang
kepada pelanggan dengan saldo nol, sebagian karena hasil penelitian menyebutkan bahwa pelanggan biasanya tidak merespons
permintaan konfirmasi yang menunjukkan saldo mereka kurang. Sebagai tambahan, penjualan yang tidak tercatat kepada
pelanggan baru akan sulit diidentifikasi dalam konfirmasi karena nama pelanggan tersebut tidak masuk dalam berkas utama.
Kurang saji atas penjualan dan piutang dagang lebih baik dideteksi dari prosedur analitis dan pengujian substantive atas transaksi
pengiriman yang dilakukan, tetapi tidak dicatat (tujuan kelengkapan atas pengujian transaksi penjualan).
Akurasi Piutang Dagang
Konfirmasi rekening yang diambil dari neraca saldo merupakan bentuk pengujian perincian saldo yang paling umum
dilakukan untuk mengetahui akurasi piutang dagang. Bila pelanggan tidak merespons permintaan konfirmasi, auditor dapat
melihat data pendukung untuk memperoleh keyakinan atas keberadaan piutang tersebut. Auditor melakukan pengujian debet dan
kredit pada saldo pelanggan individu dengan memeriksa dokumen pendukung untuk pengiriman dan penerimaan kas.
Piutang Dagang Diklasifikasikan dengan Benar
Umumnya, auditor dapat mengevaluasi klasifikasi piutang dagang dengan mudah, yaitu dengan menelaah neraca saldo
untuk piutang yang jumlahnya material dari afiliasi, karyawan, direktur, atau pihak terkait lainnya. Auditor perlu mengecek
apakah piutang yang sifatnya jangka panjang sudah dipisahkan dari piutang dagang biasa, dan saldo kredit pada piutang dagang
yang jumlahnya besar diklasifikasikan kembali menjadi utang dagang.
Terdapat hubungan erat antara tujuan audit-terkait klasifikasi saldo dengan klasifikasi terkait, penyajian atas
pemahamannya, dan tujuan pengungkapannya. Untuk mencapai tujuan audit-terkait klasifikasi saldo, auditor harus menetapkan
apakah klien telah mengklasifikasikan piutang dagang secara benar. Sebagai contoh, auditor akan menetapkan apakah piutang
dari pihak terkait telah dipisahkan di neraca saldo. Untuk memenuhi persyaratan penyajian dan pengungkapan, auditor harus
memastikan bahwa klasifikasi disajikan secara benar dengan menentukan apakah transaksi antara pihak-pihak yang terkait
dengan perusahaan telah dicatat secara tepat dalam laporan keuangan selama menyelesaikan tahapan audit.
Penetapan Pisah Batas (Cutoff) Piutang Dagang secara Tepat
Salah saji akibat pisah batas (Cutoff Misstatement) terjadi ketika transaksi dalam waktu berjalan dicatat selama jeda
waktu antara pembuatan pelaporan dan waktu audit, atau sebaliknya. Tujuan pengujian pisah batas, tanpa memperhatikan jenis
transaksi, adalah untuk melihat apakah transaksi yang terjadi di akhir periode akuntansi dicatat pada periode yang tepat. Hal ini
adalah salah satu tujuan terpenting dari siklus karena salah saji dalam pisah batas memengaruhi laba periode berjalan. Sebagai
contoh, kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja dalam menetapkan penjualan yang terjadi setelah tanggal neraca
sebagai penjualan periode berjalan, atau kesalahan tidak memasukkan pembelian barang dagangan pada periode berjalan, akan
menyebabkan lebih saji laba bersih secara material.
Salah saji akibat penetapan pisah batas terjadi pada penjualan, retur dan cadangan barang dagangan, serta penerimaan
kas. Untuk masing-masing hal tersebut, auditor perlu melakukan tiga pendekatan dalam menetapkan kewajaran pisah batas, yaitu:
1. Menetapkan kriteria pisah batas yang tepat.
2. Mengevaluasi apakah klien telah melakukan prosedur yang memadai untuk menentukan tingkat
kewajaran pisah batas.
3. Menguji apakah pisah bats yang ditetapkan adalah tepat.
Pisah Batas Penjualan. Sebagian besar klien yang bergerak di bidang perdagangan dan manufaktur mencatat penjualan
berdasarkan kriteria pengiriman barang. Beberapa perusahaan mencatat faktur pada saat perpindahan kepemilikan, yang dapat
terjadi sebelum pengiriman (seperti dalam kasus barang yang diproduksi khusus), pada saat memulai pengiriman, atau selama
pengiriman berlangsung. Agar pengukuran dilakukan secara tepat pada periode berjalan, maka metode yang digunakan harus
mengikuti Prinsip Akuntansi Berterima Umum (Generally Accepted Accounting Principles/GAAP) dan diterapkan secara
konsisten.
Bagian terpenting pada evaluasi metode klien dalam menetapkan pisah batas adalah saat menentukan prosedur apa yang
digunakan. Jika klien menerbitkan dokumen pengiriman secara urut nomor, maka auditor akan sangat mudah mengevaluasi dan
menguji pisah batasnya. Pemisahan tugas antara fungsi pengiriman dan penagihan juga menguatkan kecenderungan untuk
mencatat transaksi pada periode yang tepat. Bagaimana pun juga, jika pengiriman dilakukan oleh armada perusahaan, jika
pencatatan pengiriman tidak diberi nomor, dan jika orang yang melakukan pengiriman dan penagihan tidak independen satu sama
lain, maka auditor akan sulit memastikan bahwa pisah batas yang ditetapkan adlah akurat.
Ketika pengendalian internal klien dianggap memadai, maka auditor biasanya dapat melakukan verifikasi pisah batas
dengan memeriksa nomor dokumen pengiriman pada saat pengiriman terakhir di akhir periode, lalu membandingkan nomor ini
dengan pencatatan penjualan selama periode berjalan dan periode jeda (subsequent). Sebagai ilustrasi, diasumsikan nomor
dokumen pengiriman untuk pengriman terakhir periode berjalan adalah 1489. Seluruh penjualan yang dicatat sebelum akhir
periode harus diawali dengan dokumen nomor 1490 dan tidak ada penjualan dicatat dan dikirimkan selama periode jeda yang
bernomor 1489 atau lebih kecil. Seorang auditor dapat menguji hal ini dengan membandingkan catatan penjualan dan dokumen
pengiriman terkait untuk beberapa hari terakhir pada periode berjalan, dan beberapa hari di awal periode jeda.
Pisah Batas Retur dan Cadangan Penjualan.
GAAP mensyaratkan retur penjualan harus dibandingkan dengan penjualan terkait jika jumlahnya material. Sebagai
contoh, jika pengiriman pada periode berjalan dikembalikan pada periode jeda (subsequent period), maka retur penjualan
seharusnya dianggap sebagai persediaan periode berjalan). Di kebanyakan perusahaan, retur penjualan dicatat pada periode
akuntansi di mana transaksi ini terjadi, dengan asumsi yang hamper sama, yaitu adanya saling-hapus (offsetting) jumlah pada
awal dan akhir periode akuntansi. Pendekatan ini dapat diterima selama jumlahnya tidak material. Beberapa perusahaan
menyediakan cadangan, mirip dengan cadangan piutang tak tertagih, untuk jumlah retur yang diperkirakan terjadi selama periode
jeda.
Jika auditor yakin bahwa klien mencatat seluruh retur penjualan tepat pada waktunya, maka pengujian pisah batas bias
dilakukan dengan mudah dan langsung. Auditor dapat menguji dokumen pendukung sebagai sampel untuk retur dan cadangan
penjualan yang dicatat selama periode jeda sampai tanggal penutupan untuk menentukan tanggal penjualan. Jika auditor melihat
bahwa jumlah yang dicatat selama periode jeda secara signifikan berbeda dari retur dan cadangan penjualan di awal periode
audit, maka mereka perlu melakukan penyesuaian. Sebagai contoh, suatu perusahaan bisa mengalami kenaikan retur penjualan
saat melakukan penjualan melalui internet. Hal ini disebabkan karena pembeli tidak bisa memeriksa produk sebelum dibeli.
Sebagai tambahan, jika evaluasi pengendalian internal atas pencatatan retur dan cadangan penjualan hasilnya tidak efektif, maka
lebih banyak sampel dibutuhkan untuk melakukan verifikasi terhadap pisah batas.
Pisah Batas Penerimaan Kas.
Dalam audit, biasanya penentuan pisah batas penerimaan kas dianggap tidak terlalu penting dibandingkan pisah batas
untuk penjualan, retur, dan cadangan penjualan. Hal ini disebabkan karena penentuan pisah batas penerimaan kas yang kurang
tepat hanya akan memengaruhi saldo kas dan piutang dagang, bukan laba. Jika salah saji tersebut material, maka hal tersebut
dapat memengaruhi penyajian wajar atas akun-akun ini, terutama ketika jumlah kas kecil atau bersaldo negative.
Pengujian untuk salah saji pisah batas penerimaan kas (biasanya disebut holding the cash receipts book open) cukup
mudah dilakukan, yaitu dengan menelusuri pencatatan penerimaan kas ke setoran bank pada periode jasa yang terdapat di laporan
bank. Jika beberapa hari tertunda, maka terdapat indikasi salah saji dalam penentuan pisah batas.Pada tingkat tertentu, auditor
dapat mengandalkan konfirmasi atas piutang dagang untuk menemukan salah saji pada pisah batas penjualan, retur, dan cadangan
penjualan, dan penerimaan kas. Sulit membedakan salah saji pisah batas dari suatu beda waktu (timing difference) normal yang
terjadi karena pengiriman dan pembayaran dalam perjalanan pada akhir periode. Sebagai contoh, jika pembeli mengirimkan dan
mencatat pembayaran cek kepada klien untuk rekening yang belum dibayar tanggal 30 Desember sedangkan klien menerima dan
mencatatnya tanggal 2 Januari, maka pencatatan oleh pembeli dan klien akan berbeda pada tanggal 31 Desember. Hal ini bukan
salah saji, melainkan terdapat beda waktu sehubungan dengan waktu pengiriman. Sulit bagi auditor untuk menentukan apakah
situasi seperti ini disebut salah saji atau beda waktu, jika jawaban konfirmasi dijadikan sumber informasi. Situasi tersebut
membutuhkan penyelidikan lebih lanjut, misalnya dengan pemeriksaan dokumen pendukung.
Piutang Dagang Dinyatakan dalam Nilai Terealisasi
GAAP mensyaratkan perusahaan mencatat piutang dagang dalam jumlah tertinggi yang dapat ditagih. Nilai terealisasi
piutang dagang sama dengan jumlah total piutang dagang dikurangi dengan cadangan piutang tak tertagih. Untuk menghitung
cadangan, klien mengestimasi jumlah total piutang dagang yang diperkirakan tidak dapat ditagih. Prediksi ini tentunya tidak
dapat dilakukan secara tepat, tetapi auditor perlu mengevaluasi apakah klien sudah menetapkan cadangannya secara masuk kal
dengan mempertimbangkan semua fakta. Untuk melakukan evaluasi ini, auditor sering kali menyiapkan skedul audit yang
menganalisis cadangan piutang tak tertagih.
Untuk memulai evaluasi cadangan atas piutang tak tertagih, auditor menganalisis hasil pengujian pengendalian mengenai
kebijakan kredit klien. Jika kebijakan ini tidak berubah dan hasil pengujian kebijakan kredit dan persetujuan kredit konsisten
dengan tahun sebelumnya, maka perubahan saldo cadangan piutang tak tertagih seharusnya hanya merefleksikan perubahan
kondisi ekonomi dan volume penjualan. Jika kebijakan kredit klien berubah secara signifikan, maka auditor harus berhati-hati
dalam mempertimbangkan dampak dari perubahan ini.
Auditor sering kali mengevaluasi kecukupan cadangan dengan memeriksa akun-akun jangka panjang pada neraca saldo
secara hati-hati untuk menentukan mana yang belum dibayar setelah tanggal neraca. Besaran saldo dan umur piutang yang belum
dibayar dapat dibandingkan dengan informasi serupa tahun-tahun sebelumnya untuk mengevaluasi apakah jumlah piutang jangka
panjang meningkat atau menurun selama kurun waktu tersebut. Auditor dapat juga menilai kolektibilitas piutang dagang dengan
memeriksa berkas-berkas kredit, mendiskusikan dengan manajer kredit dan menganalisis berkas korespondensi klien. Prosedur
ini sangat penting jika terdapat hanya sedikit rekening bersaldo tingi yang tidak tterbayarkan dengan basis regular.
Auditor menghadapi dua kesalahan yang biasa terjadi dalam mengevaluasi cadangan dengan memeriksa saldo jangka
panjang secara individu pada neraca saldo. Pertama, mereka mengabaikan tingkat kecukupan cadangan untuk akun jangka
pendek, meskipun beberapa akun ini jelas-jelas tak tertagih. Kedua, sulit untuk membandingkan hasil tahun berjalan dengan
tahun-tahun sebelumnya dalam basis yang tidak terstruktur. Jika akun-akun ini secara progresif tidak tertagih selama beberapa
tahun, maka akun ini telah diabaikan. Untuk menghindari dua kesalahan tersebut, klien dapat menyusun sejarah penghapusan
piutang tak tertagih (bad debt write-offs) selama kurun waktu tertentu sebagai referensi dalam mengevaluasi cadangan tahun
berjalan. Sebagai contoh, klien dapat menetapkan 2% dari akun berjalan, 10% dari akun berumur 30-90 hari, dan 35% dari semua
saldo yang berumur lebih dari 90 hari dianggap tidak tertagih. Auditor dapat memberlakukan persentase ini ke neraca saldo dan
membandingkan hasilnya dengan saldo pada akun cadangan. Auditor tentunya harus memverifikasi kewajaran dari persentase
yang digunakan dan berhati-hati dalam memperhitungkan perubahan kondisi.
Piutang Tak Tertagih Setelah auditor puas dengan akun cadangan, mudah baginya untuk memeriksa piutang tak tertagih.
Diasumsikan bahwa:
Saldo awal akun cadangan diverifikasi sebagai bagian dari audit sebelumnya.
Jumlah tak tertagih yang dihapus diverifikasi sebagai bagian dari pengujian substantive atas
transaksi.
Saldo akhir akun cadangan diverifikasi untuk berbagai tujuan.Piutang tak tertagih merupakan
saldo sisa yang diverifikasi dari perhitungan kembali.
Klien Berhak atas Piutang Dagang
Hak klien atas piutang dagang biasanya tidak menyebabkan masalah audit karena piutang umumnya memang milik klien.
Dalam beberapa kasus, ada bagian dari piutang dagang yang dijadikan jaminan, ditujukan untuk pihak lain, atau dijual dengan
nilai lebih rendah. Umumnya, pelanggan tidak tahu-menahu tentang hal tersebut, sehingga konfirmasi piutang pun tidak dapat
memberikan kejelasan. Untuk mendapatkan informasi mengenai keterbatasan hak klien atas piutangnya, auditor perlu
mendiskusikan dengan klien, melakukan konfirmasi ke bank, atau memeriksa kontrak utang sebagai bukti bahwa piutang dagang
dipakai sebagai jaminan, dan memeriksa berkas korespondensi.
Penyajian dan Pengungkapan Piutang dagang
Pengujian dari keempat tujuan audit-terkait penyajian dan pengungkapan dilakukan sebagai bagian dari penyelesaian
tahapan audit. Beberapa pengujian atas penuajian dan pengungkapan dilakukan untuk memenuhi tujuan audit-terkait saldo.
Contohnya, ketika pengujian penjualan dan piutang dagang dilakukan, auditor harus memahami dan mengevaluasi kewajaran
kebijakan klien atas pengakuan pendapatan untuk mengetahui pengungkapannya secara wajar dalam laporan keuangan. Auditor
juga perlu memutuskan apakah klien secara wajar telah menghitung saldo dan menyajikan informasi dari pihak-pihak terkait.
Untuk mengevaluasi kecukupan penyajian dan pengungkapan tersebut, auditor perlu memiliki pemahm SAK dan persyaratan
penyajian dan pengungkapan secara menyeluruh.
Bagian penting dari evaluasi meliputi keputusan apakah klien telah memisahkan hal-hal material yang memerlukan
pengungkapan terpisah dalam laporan keuangan. Contohnya, piutang dari pegawai atau perusahaan afiliasi harus dipisahkan dari
piutang dengan pelanggan lainnya, jika jumlahnya material. Dengan cara yang serupa, SEC mensyaratkan juga bahwa perusahaan
harus memisahkan pengungkapan penjualan dan asset dari segmen bisnis yang berbeda. Buku besar gabungan dalam laporan
keuangan juga perlu memisahkan saldo akun-akun yang tidak relevan dengan pengguna eksternal laporan. Jika seluruh akun
gabungan yang dimasukkan dalam buku besar diungkapkan secara terpisah dalam laporan, maka hal ini akan membingungkan
pengguna laporan.
2.3 KonfirmasiPiutangDagang
Persyaratan Standard Auditing
Standard audit mensyaratkan konfirmasi piutang dagang dalam kondisi normal. PSA 07 (SSA 330) menyebutkan tiga
pengecualian terhadap persyaratan konfirmasi tersebut, yaitu :
1. Piutang dagang jumlahnya tidak material. Hal ini biasa terjadi pada perusahaan tertentu,
misalnya totko diskon dengan penjualan tunai dan kartu kredit.
2. Auditor mempertimbangkan bahwa konfirmasi merupakan bukti yang tidak efektif karena
tingkat respon yang rendah atau tidak dapat diandalkan. Dalam industry tertentu, seperti rumah
sakit, tingkat respon untuk konfirmasi itu sangat rendah.
3. Kombinasi dari tingkat risiko bawaan dan risiko pengendalian adalah rendah dan bukti
substantive lain dapat diakumulasikan sebagai bukti yang cukup. Jika klien memiliki
pengendalian internal efektif dan risiko bawaan yang cukup rendah terhadap siklus penjualan dan
penagihannya, maka auditor perlu memenuhi persyaratan dengan melakukan pengujian
pengendalian, pengujian substantive atas transaksi, dan prosedur analitis.

Jenis-jenis Konfirmasi
1. Konfirmasi positif
Konfirmasi positif adalah konfirmasi yang ditujukan kepada debitur untk meminta
konfirmasi secara langsung apakah saldo yang disebutkan dalam konfirmasi tersebut benar atau
salah.
Formulir konfirmasi kosong adalah jenis konfirmasi positif yang tidak menyebutkan
jumlah yang dikonfirmasi, tetapi mensyaratkan penerima untuk mengisi jumlahnya atau
memasukkan informasi lain. Formulir kosong ini jarang digunakan dalam praktik karena
biasanya tingkat responnya lebih rendah.
Konfirmasi tagihan adalah bentuk lain dari konfirmasi positif yang merupakan
konfirmasi individual, bukan saldo keseluruhan piutang pelanggan. Banyak pelanggan
menggunakan system voucher sehingga mereka bisa mengkonfirmasi tagihan individual, tetapi
bukna informasi saldo keseluruhan. Akibatnya, penggunaan konfirmasi tagihan ini menaikkan
tingkat respon.
2. Konfirmasi negative
Konfirmasi negative juga ditujukan kepada debitur, tetapi hanya meminta respon jika
debitur tidak menyetujui jumlah yang dinyatakan dalam konfirmasi.
Konfirmasi positif merupakan bukti yang lebih dapat diandalkan karena auditor dapat
melakukan prosedur lain jika respon tidak diperoleh dari debitur. Dengan konfirmasi negative,
pelanggan bisa saja tidak merespon dan dianggap menyetujui jumlah yang dikonfirmasi,
meskipun mungkin sebenarnya pelanggan mengabaikan permintaan konfirmasi.