Você está na página 1de 62

Automatic Transfer Switch

SURABAYA Hampir semua orang pernah dibuat jengkel dengan listrik padam. Semua
aktivitas terhambat. Di sekolah atau kampus, misalnya, kegiatan pembelajaran jadi kurang
optimal.

Di rumah, saat-saat istirahat atau bersantai juga bisa terganggu. Nah, dari pengalaman banyak
orang itu, Zainal Arifin, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya, berinovasi untuk
menjaga nyala listrik.

Dia menciptakan automatic control transfer switch. Alat itu dibuat sedemikian rupa untuk
menjaga listrik tetap menyala.

Kalau listrik PLN mati, bisa tersambung otomatis dengan genset, kata mahasiswa jurusan
teknik elektro itu.

Umumnya saat listrik PLN mati, harus ada orang yang menyalakan genset secara manual.
Otomatis ada jeda waktu cukup lama agar listrik kembali menyala dengan menggunakan
genset.

Tetapi, dengan alat inovasinya, Zainal menyatakan bahwa genset tidak perlu dinyalakan
secara manual, melainkan bisa secara otomatis.

Di dalam alat itu, ada controller yang memerintah genset untuk meng-cover kebutuhan listrik
selama tidak menyala. Ada relay yang dipasang sedemikian rupa untuk menjadi sensor yang
memberikan input.

Jadi, saat lampu mati, bisa langsung menghidupkan genset, jelasnya. Demikian juga
sebaliknya. Setelah listrik PLN kembali menyala, kontrol akan mematikan genset secara
otomatis.

Memindah switch ke PLN dan listrik kembali di-cover PLN, jelas peraih juara pertama
inovasi teknologi tepat guna Pemerintah Kota Surabaya itu.

Zainal menambahkan, jeda waktu saat memindah listrik dari PLN ke genset atau sebaliknya
bergantung pada kondisi generator yang dipakai. Jika generator masih baru, jeda waktunya
cukup singkat.

Yakni, satu detik. Menurut dia, inovasi itu sangat tepat guna. Terutama untuk skala rumah
tangga maupun industri. Menurut Zainal, pembuatan alat tersebut tidak membutuhkan waktu
lama.

Bahkan, dalam satu minggu bisa rampung. Hanya, butuh waktu untuk riset lapangan. Biaya
pembuatannya juga terjangkau. Yakni, Rp 1,5 juta hingga Rp 2,5 juta.
Bisa Rp 5 juta kalau dilengkapi pemindah switch sekaligus starter, tuturnya.

Bahan Bakar Buah Zaitun

Para ilmuwan Universitas Teknologi Wina bekerja di sekitar sebuah konstruksi baja setinggi
hampir enam meter. Ini adalah generasi baru 'instalasi gasifikasi,' yang dicetuskan pertama
kali oleh universitas tersebut dua dekade lalu. Instalasi mampu mengubah biomassa menjadi
gas, dan di Austria serta sejumlah negara Eropa lainnya, gas ini digunakan untuk
menjalankan generator dan memproduksi listrik.

Kini masalahnya adalah membeli biomassa yang terjangkau agar dapat bersaing dengan
sumber energi terbarukan dan bahan bakar fosil. Mengingat harga kayu dan hasil pertanian
yang terus melambung, Uni Eropa membiayai sebuah proyek yang bertujuan mengubah
pomace - apa yang tersisa dari buah zaitun setelah minyaknya diperas - menjadi bahan bakar
bio.

Stefan Mller memperlihatkan instalasi gasifikasi di Universitas Teknologi Wina

"Pada akhir proses terdapat residu dan tidak ada minyak zaitun lagi yang tersisa. Jadi ini
semacam materi limbah dari kilang minyak zaitun, namun konten energinya masih cukup
tinggi," ungkap Stefan Mller, seorang periset senior di Universitas Teknologi Wina, kepada
DW.

Proyek Phenolive bertujuan memaksimalkan nilai buah zaitun. Di laboratorium Phenobia,


sebuah start-up yang digagas Universitas Bordeaux, para peneliti mengidentifikasi senyawa
yang dapat diambil dari pomace zaitun setelah minyaknya diperas dan sebelum diubah
menjadi energi.

Sejumlah wilayah produsen zaitun di Eropa telah membakar pomace zaitun sebagai bahan
bakar, namun Mller ingin menganalisa residu dan sepenuhnya menginvestigasi potensi
energinya. Kegunaan lain dari pomace termasuk kompos dan pupuk.

Instalasi ini mengubah biomassa menjadi gas

Tim riset universitas juga memproduksi bahan bakar cair dari biomassa. Dan mereka
mengatakan ini berpotensi memungkinkan industri zaitun untuk menjalankan kendaraan
transportasi mereka dengan bahan bakar dari hasil residu zaitun. Sebuah instalasi gasifikasi
yang dikembangkan di Gssing, Austria, sudah memproduksi bahan bakar cair bagi
kendaraan.

"Idenya adalah penyulingan bio. Sumber daya terbarukannya memproduksi bahan bakar masa
depan," ucap insinyur Johannes Schmid. Targetnya, katanya, adalah untuk
mendemonstrasikan bahwa penyulingan tidak perlu membakar bahan bakar fosil.
Eropa memproduksi 80 juta ton pomace minyak zaitun setiap tahun, menurut proyek
Phenolive. Apabila proyek ini berhasil, tentu industri zaitun akan menguat dan biayanya,
terutama untuk energi, akan banyak berkurang.

BATERAI AIR

Salah satu siswa SMA Negeri 5 Kota Madiun, Emlirisda, mengatakan karya yang diciptakan
bersama teman-temannya itu bermula dari ide untuk mendapatkan sumber energi listrik
alternatif selain dari energi fosil. Selain itu, diharapkan karya mereka juga tepat guna dan
ramah lingkungan. Lalu muncul ide memanfaatkan air sebagai penghantar ion yang
mengandung listrik dari logam jenis seng dan tembaga. Rangkaiannya terdiri dari seng,
tembaga, kabel, penjepit, pipa penyaring, lem, dan bola lampu, ujar siswa kelas XII IPA 1 ini
pada Tempo, Sabtu, 28 Juli 2012.

Seng dan tembaga merupakan dua jenis logam dengan beda potensial atau tegangan yang
tinggi dibanding logam lain. Cara kerja baterai air ini dimulai dari lempengan atau sel seng
dan tembaga yang direndam dalam sebuah tempat berisi air. Lempengan seng dan logam
ditata sejajar atau berhadapan dan tidak boleh bersentuhan atau berhimpitan.

Dalam proses ini, seng berfungsi sebagai elektroda negatif dan tembaga adalah elektroda
positif. Larutan ion negatif pada seng akan berpindah atau tertarik ke tembaga yang
berkutub positif melalui perantara air sebagai elektrolit (penghantar), ucap Emlirisda.

Sehingga muncul larutan ion yang mengandung energi listrik. Energi listrik yang timbul itu
dialirkan melalui kabel berarus positif dan negatif yang dipasang pada tiap lempengan seng
dan tembaga. Dari situ, energi listrik dalam kabel dialirkan ke bola lampu hingga
memancarkan cahaya. Sementara itu, lem digunakan untuk merekatkan rangkaian kabel dan
pipa penyaring yang berfungsi sebagai sirkulasi air jika air dibuat mengalir. Sedangkan klip
penjepit kabel digunakan untuk menyambungkan aliran listrik dari rangkaian kabel pada
lempengan ke rangkaian kabel yang menuju lampu.

Eksperimen baterai air karya siswa ini dilakukan dengan menggunakan masing-masing enam
lempengan atau enam sel seng dan tembaga. Hasilnya, satu selnya (lempengan seng dan
tembaga) mengandung daya listrik 0,9 volt, ucap siswa lain, Vitara Hardinia.

Sehingga enam sel akan menghasilkan tegangan listrik 5,4 volt. Tegangan 5,4 volt itu
dihasilkan jika tanpa beban atau tanpa dihubungan dengan lampu. Kalau menggunakan
beban (lampu menyala), total menghasilkan tegangan 2,4 volt, ucap siswa kelas XII IPA 2
ini.

Jika butuh tegangan listrik yang lebih besar, maka cukup menambah jumlah lempengan atau
sel seng dan tembaga dalam rangkaian. Cahaya yang timbul dari energi listrik dengan
menggunakan masing-masing enam lempeng seng dan tembaga itu teruji tahan satu bulan
tanpa mati.

Penggunaan baterai air oleh siswa setempat pertam kali digunakan di bidang pertanian.
Cahaya yang dihasilkan dari listrik baterai air jadi perangkap serangga hama. Terapan baterai
air model ini disebut dengan Water Electric Light Trap (WELT) atau perangkap cahaya listrik
dari air. Sebagai perangkap, lampu yang menyala dengan listrik baterai air diletakkan di atas
alat penggorengan sebagai tempat untuk mengumpulkan serangga. Serangga bersayap akan
tertarik dengan cahaya sehingga terkumpul dan jatuh kesini (alat penggorengan), Vitara
menjelaskan.

Penelitian mereka ini telah dibukukan dalam karya ilmiah dan mendapat juara III karya tulis
ilmiah tingkat SMA dalam Lomba Inovasi Teknologi Lingkungan (LITL) pada Maret 2012
yang diselenggarakan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Karya tulis
ilmiahnya berjudul Baterai Air Sebagai Sumber Energi Listrik Alternatif Water Electric
Light Trap Pengendali Hama Non Pestisida. Baterai air ini juga pernah dipertontonkan
dalam pameran teknologi tepat guna nasional di Yogyakarta pada 22-26 September 2010.

Baterai air ini ternyata juga ramah lingkungan. Selain menghasilkan listrik, bekas air yang
digunakan bisa dimanfaatkan untuk penyiraman tanaman. Bekas airnya mengandung seng
yang dibutuhkan tanaman agar lebih kuat, ucap Vitara.

Guru pembina Fisika SMA Negeri 5 Kota Madiun Imam Zuhri mengatakan baterai air ini
sederhana, bisa dibuat siapa saja, dan dimanfaatkan dimana saja selama ada sumber air. Air
ada dimana-mana dan cara kerjanya tidak rumit, tuturnya.

Menurutnya, segala sesuatu yang mengandung air termasuk tanaman bisa menimbulkan
energi listrik melalui proses elektrokimia. Siswa setempat juga pernah menciptakan energi
listrik serupa dengan tanaman kaktus sebagai elektrolit atau penghantar. Dibanding
menggunakan kaktus, energi yang dihasilkan dengan media air lebih tahan lama, Imam
menegaskan. Sebab kadar asam pada kaktus bisa menimbulkan korosi atau karat pada logam
sehingga mempengaruhi tingkat kualitas ionisasi logam terutama seng.
Baterai Untuk Rumah

Melihat tagihan listrik rumah, seringkali kita merasa biayanya terlampau mahal. Hal ini
memunculkan pertanyaan, dapatkah kita menghasilkan listrik secara mandiri? Tenaga angin
dan tenaga air dapat membangkitkan listrik, namun diperlukan ruang yang cukup besar untuk
menyimpan tenaga tersebut berikut dengan peralatannya.

Chief Executive Tesla, Elon Musk mengumumkan mereka tengah mengembangkan baterai
rumah untuk menghasilkan listrik secara mandiri. Kelebihan listrik yang dihasilkan malahan
dapat dijual ke perusahaan listik.

Elon Musk mengumumkan kepada para calon investor bahwa desain untuk baterai rumah
tersebut sudah siap dan dapat dilihat oleh umum dalam satu atau dua bulan mendatang, dan
akan diproduksi setidaknya enam bulan ke depan.

Baterai stasioner buatan Tesla ini bisa jadi merupakan penghubung energi terbarukan ke
konsumen dengan cara yang mudah. Saat ini, tantangan untuk menyimpan energi bersih
(clean energy) dari matahari atau angin menjadi salah satu alasan konsumen tetap
menggunakan jaringan listrik konvensional.

Meskipun Elon Musk belum berkomentar tentang harga produk baru mereka ini, namun besar
kemungkinan produk ini akan menghasilkan penghematan besar dibanding jaringan listrik
konvensional.

Inovasi dalam bidang energi seperti ini tidak hanya diperuntukkan bagi pemilik rumah ramah
lingkungan. Baterai ini juga dapat memberikan keuntungan untuk mereka yang bermukim di
luar jangkauan listrik konvensional, seperti desa-desa terpencil yang biasanya
menggantungkan kebutuhannya pada generator listrik. Beberapa orang mengatasi masalah ini
dengan menyiapkan generator propana atau bensin, yang mana cara ini tidak selalu praktis
dan murah.

Elon Musk menjanjikan baterai buatan Tesla tersebut akan dibuat dengan desain yang
menarik sehingga bisa menjadi bagian dari dekorasi rumah, bahkan bisa juga dimanfaatkan
untuk properti komersial, seperti kantor atau pertokoan.
DRAG FORCE GENERATOR

Harianjogja.com, BANTUL-Empat mahasiswa Teknik Elektro Universitas


Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menciptakan inovasi Drag Force Generator
(Dragtor). Alat yang diciptakan dalam rangka mengikuti Program Kreativitas
Mahasiswa (PKM) 2016 bidang Karsa Cipta ini diklaim mampu membantu
menghemat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) mobil konvensional.

Empat mahasiswa yang terdiri dari Dimas Oktanugraha, Muhammad Khairul


Syarif, Muhammad Rizaldy, dan Sekar Arum Firmandya ini membuat Dragtor
sebagai alat yang kemudian bekerja untuk menambah energi listrik pada mobil,
sehingga biaya operasional mobil lebih hemat.

Ketua pelaksana tim PKM-KC Dragtor Dimas Oktanugraha menuturkan, ide awal
pembuatan dragtor ini muncul ketika dirinya mengendarai sepeda motor. Ketika
sedang melaju naik motor, tekanan angin yang menerpa helm dan bodi motor
sangat besar. Angin yang besar tadi menurut tim ini bisa dijadikan sumber energi
untuk listrik.
Akhirnya kami mencobanya di mobil agar konsusmsi BBM di mobil dapat
dihemat, katanya, Rabu (15/6/2016)

Cara kerja Dragtor adalah dengan memanfaatkan aliran angin yang terjadi pada
bagian badan mobil, saat mobil dalam keadaan bergerak akibat dari adanya
gaya hambat udara (drag force) dan membuat kipas turbin berputar.

Efek dari turbin yang berputar itulah yang akan membuat generator berputar
dan menghasilkan listrik yang akan disimpan di baterai atau aki. Semakin cepat
mobil bergerak maka semakin besar pula energi listrik yang dihasilkan.

Ia menerangkan setelah tiga bulan merancang dan melakukan uji coba, program
ini telah mencapai 82% secara keseluruhan. Tim telah melakukan uji coba
menggunakan generator 400 watt. Alat juga diuji coba pada mobil pick up dan
menghasilkan tegangan 11-13 volt. Saat itu kecepatan pick up mencapai
60km/jam.

Saat ini alat Dragtor tersebut masih berupa prototype dan masih akan dilakukan
pengembangan terus menerus. Untuk turbin tidak akan ada perubahan, namun
kami akan terus melakukan pengembangan untuk rangkaian elektroniknya, dari
uji coba awal hasil yang diperoleh sudah mendekati harapan, imbuhnya.

Mereka berharap agar terciptanya Dragtor ini dapat memberikan kontribusi


menghemat penggunaan listrik pada mobil listrik dan menghemat penggunaan
bahan bakar fosil pada mobil konvensional, sehingga pada mobil listrik jarak
tempuh dalam sekali pengisian listrik bisa bertambah.
Energi Biomassa Sebagai Energi Alternatif
Penggunaan energi besar-besaran telah membuat manusia mengalami krisis energi. Ini
disebabkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan gas alam
yang sangat tinggi. Sebagaimana kita ketahui, bahan bakar fosil merupakan sumber daya
alam yang tidak dapat kita perbarui.Untuk mengatasi krisis energi masa depan, beberapa
alternatif sumber energi mulai dikembangkan, salah satunya adalah energi biomassa.

Pada awalnya, biomassa dikenal sebagai sumber energi ketika manusia membakar kayu untuk
memasak makanan atau menghangatkan tubuh pada musim dingin. Kayu merupakan sumber
energi biomassa yang masih lazim digunakan tetapi sumber energi biomassa lain termasuk
bahan makanan hasil panen, rumput dan tanaman lain, limbah dan residu pertanian atau
pengolahan hutan, komponen organik limbah rumah tangga dan industri, juga gas metana
sebagai hasil dari timbunan sampah.

Sebagai bahan bakar, biomassa perlu diolah terlebih dahulu agar dapat dengan mudah
dipergunakan. Proses ini dikenal sebagai konversi biomassa. Beberapa proses tersebut adalah
dengan mengubah biomassa menjadi briket sehingga mudah disimpan, diangkut, dan
mempunyai ukuran dan kualitas yang seragam. Jenis konversi lain adalah mengubah
biomassa melalui proses kimia dan fisika seperti anaerobic digestion (peruraian tanpa
bantuan oksigen) yang menghasilkan gas metana, pirolisis (dekomposisi menggunakan
panas) yang menghasilkan produk bahan bakar padat berupa karbon dan produk lain berupa
karbon dioksida dan metana.
Energi dari Halte Busway

Anak muda Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa di kancah dunia. Kali ini,
Indonesia sukses meraih juara kedua Grand Final Kompetisi Schneider Go Green in the City
2016 (GGITC) di Paris, Prancis baru-baru ini. Adalah tim Scarf yang beranggotakan Nabila
Astari dan Stephanie Rawi, dua mahasiswi Universitas Indonesia menjadi pemenang kedua
kompetisi tingkat global dengan mengusung konsep Droplock Turnstile Gate.

Human Resources Director Schneider Electric Indonesia, Nita Herawati, menjelaskan Tim
Scarf memfokuskan konsepnya pada peluang efisiensi energi yang dapat dicapai dengan
memanfaatkan mobilitas masyarakat yang setiap hari menggunakan TransJakarta. Dengan 45
rute yang tersedia, setiap harinya TransJakarta mengangkut kurang lebih 330.000 penumpang
menggunakan 669 armada bus dan 227 halte yang ada di sepanjang koridor. Setiap harinya,
330.000 penumpang ini melewati dan menggerakkan 681 buah pintu putar tiga kaki atau
droplock turnstile gate, di mana masing-masing halte rata-rata memiliki tiga buah gate.

Pergerakan dari setiap orang yang menggunakan kartu akses dan melewati gate akan
mengaktifkan generator khusus yang ada di dalam gate dan menghasilkan energi listrik.
Pergerakan satu orang penumpang setiap melewati gate dapat menghasilkan 0,03 kW di mana
setiap jam rata-rata ada 30 orang yang memasuki halte. Dengan jam operasional 17 jam per
hari, maka setiap harinya sebuah halte TransJakarta dapat menghasilkan 15,3 kWh listrik,
yang dapat dipergunakan untuk menghidupi perangkat card reader pada gate, menerangi
halte, ataupun disimpan di dalam baterai untuk menghidupi charging spot atau televisi.

Kunci kemenangan Tim Scarf terletak pada orisinalitas ide, pemenuhan aspek energi ramah
lingkungan serta kesiapan alat ini untuk diimplementasikan. Tidak hanya bisa dipakai di halte
Transjakarta, area layanan publik lainnya yang menggunakan pintu putar tiga kaki seperti
stasiun dan tempat wisata juga dapat menggunakan solusi ini. Semoga inovasi berupa energi
terbarukan ini dapat segera diimplementasikan untuk menunjang terciptanya Jakarta Smart
City, jelasnya.

Lebih jauh dia menuturkan, pada tingkat grand final ini tim Anemoi dari Jerman berhasil
meraih Juara Pertama, disusul dengan Tim Scarf di posisi kedua dan tim Holoenergy dari
Brasil di posisi ketiga. Kemenangan ini semakin mengukuhkan kenyataan bahwa generasi
muda Indonesia memiliki kemampuan untuk berinovasi dan membuat terobosan dalam
menciptakan kehidupan perkotaan yang lebih baik dan cerdas, terutama dari segi efisiensi
energi dengan menciptakan konsep yang sangat dekat dengan mobilitas masyarakat perkotaan
dan mampu memberikan efek yang sangat positif untuk mencapai efisiensi energi, tutupnya.

Energi Gelombang Air Laut


Energi gelombang yaitu sebuah energi yang berasal dari air laut yang memanfaatkan
gelombang laut. Salah satu contoh manfaat dari pemanfaatan energi ini yaitu untuk
pembangkit listrik, transportasi laut, dan untuk sistem pelampung. Mungkin, kadang Anda
tidak pernah memikirkan berbagai hal tentang bagaimana sebuah benda dapat bergerak dan
sebagainya. Baiklah, kami akan sedikit membahas mengenai pemanfaatan energi gelombang
ini.

Laut menyimpan berbagai sumber energi yang sangat besar. Sebenarnya energi laut itu
sendiri dapat dibagi menjadi tiga yaitu energi ombak, energi pasang surut dan juga energi
panas laut. Dua dari pembagian energi terserbut tentu Anda tahu jika memanfaatkan energi
gelombang.

Energi tersebut dimanfaatkan dan digunakan dengan bantuan energi kinetik. Perpaduan kedua
energi kinetik dan gelombang inilah yang akan memutar turbin dan menggerakkan generator
untuk menghasilkan energi listrik. Itulah pemanfaatan energi dari gelombang laut untuk
membangkitkan listrik.

Sebenarnya gelombang sendiri berasal dari air laut yang tertiup angin sehingga menghasilkan
energi kinetik. Pemanfaatan energi ombak ini untuk listrik memang cukup besar, tapi sangat
sulit untuk memanfaatkannya dan untuk menghasilkan listrik yang sangat memadai memang
cukup sulit.

Manfaat Energi Gelombang Laut

Hal inilah yang menjadikan pemanfaatan dari energi gelombang sebagai sebuah pembangkit
listrik masih sangat sedikit di dunia. Pada sebuah pembangkit listrik yang memanfaatkan
ombak sebagai sumber tenaganya memang harus memperhatikan aliran masuk dan keluarnya
ombak ke dalam ruangan khusus yang menyebabkan terdorongnya udara keluar dan masuk
melalui sebuah saluran khusus untuk dapat menghasilkan energi listrik.

Energi gelombang laut untuk pembangkit listrik yang lainnya yaitu dapat memanfaatkan
pasang surut air laut. Jika pasang, maka gelombang air laut akan besar dan jika surut maka
sebaliknya. Dengan memanfaatkan gelombang laut ini sebagai pembangkit listrik, dapat
dilakukan secara hydroelectric.

Sebagai pembangkit listrik dapat dibuat menyerupai bendungan beda yang akan
memanfaatkan air laut untuk memutar turbin sebagai alat untuk menghasilkan energi listrik.
Sebenarnya ada kekurangan yang terdapat dalam pembangkit listrik dengan memanfaatkan
gelombang ini yaitu pembangkit listrik hanya dapat menghasilkan listrik selama ombak
mengalir masuk dan mengalir keluar. Hal tersebut hanya terjadi kurang lebih 10 jam dalam
sehari.

Sebenarnya Indonesia sangat berpotensi untuk memanfaatkan energi ini mengingat negara ini
merupakan negara kepulauan dengan luas laut lebih luas dari luas daratannya. Tapi energi
tersebut juga tidak hanya dapat digunakan sebagai sumber energi pembangkit listrik tapi juga
dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan kapal di laut dan juga menggerakkan pelampung di
laut. Ombak laut yang tertiup angin menghasilkan gelombang yang dapat memindahkan
benda dari satu titik ke titik yang lainnya mengikuti arah gelombang yang digerakkan oleh
angin.

Energi Geothermal
Energi Geo (Bumi) thermal (panas) berarti memanfaatkan panas dari dalam bumi. Inti planet
kita sangat panas- estimasi saat ini adalah 5,500 celcius (9,932 F)- jadi tidak mengherankan
jika tiga meter teratas permukaan bumi tetap konstan mendekati 10-16 Celcius (50-60 F)
setiap tahun. Berkat berbagai macam proses geologi, pada beberapa tempat temperatur yang
lebih tinggi dapat ditemukan di beberapa tempat.

Menempatkan panas untuk bekerja


Dimana ada sumber air panas geothermal dekat permukaan, air panas itu dapat langsung
dipipakan ke tempat yang membutuhkan panas. Ini adalah salah satu cara geothermal
digunakan untuk menenuhi kebutuhan air panas, menghangatkan rumah, untuk
menghangatkan rumah kaca dan bahkan mencairkan salju di jalan.

Bahkan di tempat dimana penyimpanan panas bumi tidak mudah diakses, pompa pemanas
tanah dapat membahwa kehangatan ke permukaan dan kedalam gedung. Cara ini bekerja
dimana saja karena temparatur di bawah tanah tetap konstan selama tahunan. Sistem yang
sama dapat digunakan untuk menghangatkan gedung di musim dingin dan mendinginkan
gedung di musim panas.

Pembangkit listrik

Pembangkit Listrik tenaga geothermal menggunakan sumur dengan kedalaman sampai 1.5
KM atau lebih untuk mencapai cadangan panas bumi yang sangat panas. Beberapa
pembangkit listrik ini menggunakan panas dari cadangan untuk secara langsung dialirkan
guna menggerakan turbin. Yang lainnya memompa air panas bertekanan tinggi ke dalam
tangki bertekanan rendah. Hal ini menyebabkan "kilatan panas" yang digunakan untuk
menjalankan generator turbin. Pembangkit listrik paling baru menggunakan air panas dari
tanah untuk memanaskan cairan lain, seperti isobutene, yang dipanaskan pada temperatur
rendah yang lebih rendah dari air. Ketika cairan ini menguap dan mengembang, maka cairan
ini akan menggerakan turbin generator.

Keuntungan Tenaga Panas Bumi

Pembangkit listrik tenaga Panas Bumi hampir tidak menimpulkan polusi atau emisi gas
rumah kaca. Tenaga ini juga tidak berisik dan dapat diandalkan. Pembangkit listik tenaga
geothermal menghasilkan listrik sekitar 90%, dibandingkan 65-75 persen pembangkit listrik
berbahan bakar fosil.

Sayangnya, bahkan di banyak negara dengan cadangan panas bumi melimpah seperti
Indonesia yang memilikoo 40 % cadangan panas bumi dunia, sumber energi terbarukan yang
telah terbukti bersih ini tidak dimanfaatkan secara besar-besaran.

Energi Nuklir, Energi Alternatif


Sebagai Negara berkembang, Indonesia harus melakukan
pembaruan terhadap sumber energi yang ada, cepat atau lambat energi
yang dimiliki bangsa ini akan habis. Sehingga Indonesia harus berpikir
panjang mengenai pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Salah satu caranya adalah dengan pemanfaatan energi


Nuklir. Teknik nuklir adalah salah satu penerapan bidang ilmu inti atom.
Pemahaman minim di masyarakat mengenai tenaga nuklir menyebabkan
nuklir hanya terkesan digunakan oleh beberapa oknum untuk melakukan
hal-hal negatif yang merugikan. Padahal tenaga nuklir dapat
dimanfaatkan dalam berbagai bidang.Salah satu pemanfaatan tenaga
nuklir adalah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir(PLTN).

Keuntungan dari PLTN ini di antaranya seperti tidak menghasilkan


limbah berbahaya seperti karbon monoksida, mercury, nitrogen oksida,
dan gas lainnya. Selain itu tenaga nuklir juga mampu bertahan lebih lama,
menghasilkan tenaga yang lebih besar daripada bbm dan tidak
menyebabkan efek gas emisi rumah kaca. Teknologi nuklir digunakan juga
untuk kapal selam bertenaga nuklir, kapal induk bertenaga nuklir, dan lain
sebagainya.

Ada tiga jenis reaktor nuklir dilihat dari tujuan penggunaannya.


Pertama adalah reaktor yang digunakan untuk tujuan penelitian yang
lazim disebut reaktor penelitian (research reactor). Kedua adalah reaktor
yang dirancang untuk menghasilkan listrik yang lazim disebut reaktor
daya (power reactor) dan digunakan dalam Pembangkit Listrik Tenaga
Nuklir (PLTN). Ketiga adalah reaktor yang dirancang berperan ganda, yaitu
sebagai penghasil listrik (berperan sebagai reaktor daya) dan produksi
bahan bakar fisi (membiakkan bahan bakar nuklir) yang lazim dikenal
sebagai reaktor pembiak (breeder reactor).

sesuai dengan tujuan reaktor no 3. Reaktor daya hanya memanfaatkan


energi panas yang timbul dari reaksi fisi, sedang kelebihan neutron dalam
teras reaktor akan dibuang atau diserap menggunakan batang kendali.

Proses pemanfaatan panas hasil fisi untuk menghasilkan energi listrik di


dalam PLTN adalah sebagai berikut : Bahan bakar nuklir melakukan reaksi
fisi sehingga dilepaskan energi dalam bentuk panas yang sangat besar.

Panas hasil reaksi nuklir tersebut dimanfaatkan untuk menguapkan


air pendingin, bisa pendingin primer maupun sekunder bergantung
pada tipe reaktor nuklir yang digunakan.

Uap air yang dihasilkan dipakai untuk memutar turbin sehingga


dihasilkan energi gerak (kinetik).

Energi kinetik dari turbin ini selanjutnya dipakai untuk memutar


generator sehingga dihasilkan arus listrik.

PLTN Juga Mempunyai Pengaruh Terhadap Kesejahteraan Masyarakat


Indonesia antara lain

1. Tidak mencemarkan udara

2. Mengasilkan bahan-bahan sisa padat lebih sedikit.


3. Cadangan sumber bahan bakar nuklir melimpah.

4. Penyediaan bahan bakarnya memerlukan penambangan lebih


sedikit.

5. Lebih ekonomis.

6. Persoalan pengangkutan bahan bakar lebih mudah

7. Pemilihan letak lebih luwes\

Energi Nuklir Sebagai Energi Alternatif

Pertumbuhan penduduk saat ini semakin pesat, hal tersebut


menyebabkan tingkat penggunaan energi sangat tinggi. Salah satu
contohnya sering kita merasakan pemadaman bergilir.
Energi alternatif pengganti minyak bumi/batu bara dll saat ini sangat
dicari. Dan tenaga Nuklir sebagai jawabannya, tenaga nuklir lebih murah
dibandingkan batubara, 1 gram uranium dapat menghasilkan listrik
sebanyak 1 Megawatt atau sebanyak 3 ton penggunaan batu bara.
Energi Pasang Surut
Energi tidal atau energi pasang surut barangkali kurang begitu dikenal
dibandingkan dengan energi samudera yang lain seperti energi ombak
(wave energy). Jika dibandingkan dengan energi angin dan surya, energi
tidal memiliki sejumlah keunggulan antara lain: memiliki aliran energi
yang lebih pasti/mudah diprediksi, lebih hemat ruang dan tidak
membutuhkan teknologi konversi yang rumit. Kelemahan energi ini
diantaranya adalah membutuhkan alat konversi yang handal yang mampu
bertahan dengan kondisi lingkungan laut yang keras yang disebabkan
antara lain oleh tingginya tingkat korosi dan kuatnya arus laut.

Saat ini baru beberapa negara yang yang sudah melakukan penelitian
secara serius dalam bidang energi tidal, diantaranya Inggris dan
Norwegia. Di Norwegia, pengembangan energi ini dimotori oleh Statkraft,
perusahaan pembangkit listrik terbesar di negara tersebut. Statkraft
bahkan memperkirakan energi tidal akan menjadi sumber energi
terbarukan yang siap masuk tahap komersial berikutnya di Norwegia
setelah energi hidro dan angin. Keterlibatan perusahaan listrik besar
seperti Statkraft mengindikasikan bahwa energi tidal memang layak
diperhitungkan baik secara teknologi maupun ekonomis sebagai salah
satu solusi pemenuhan kebutuhan energi dalam waktu dekat.

Pembangkit listrik tenaga tidal terapung. Turbin-turbin air dan mesin-


mesin listrik terletak di bawah air, hanya bagian atas dari pembangkit
listrik tersebut yang tampak diatas permukaan laut (Sumber: Statkraft)

Perlu diketahui bahwa potensi energi tidal di Indonesia termasuk yang


terbesar di dunia, khususnya di perairan timur Indonesia. Sekarang inilah
saatnya bagi Indonesia untuk mulai menggarap energi ini. Jika bangsa kita
mampu memanfaatkan dan menguasai teknologi pemanfaatan energi
tidal, ada dua keuntungan yang bisa diperoleh yaitu, pertama,
keuntungan pemanfaatan energi tidal sebagai solusi pemenuhan
kebutuhan energi nasional dan, kedua, kita akan menjadi negara yang
mampu menjual teknologi tidal yang memberikan kontribusi terhadap
devisa negara. Belajar dari India yang mampu menjadi salah satu pemain
teknologi turbin angin dunia (dengan produk turbin angin Suzlon), maka
tujuan yang kedua bukanlah hal yang terlalu muluk untuk kita wujudkan.
Sel Fotovoltaik Mengkonversi Sinar Matahari Menjadi Listrik
Sel fotovoltaik, yang biasa disebut sel surya atau PV, adalah teknologi yang
digunakan untuk mengubah energi matahari langsung menjadi tenaga listrik. Sel
fotovoltaik adalah perangkat nonmekanis yang biasanya terbuat dari silikon
alloy.

Foton Membawa Energi Matahari


Sinar matahari terdiri dari foton, atau partikel energi surya. Foton ini
mengandung sejumlah energi yang bervariasi sesuai dengan panjang gelombang
dari spektrum matahari.

Ketika foton menerpa sel fotovoltaik, mereka dapat terpantul, menembus, atau
diserap. Hanya foton yang diserap yang memberikan energi untuk menghasilkan
listrik. Ketika sinar matahari yang cukup (energi) diserap oleh bahan
(semikonduktor), elektron lepas dari atom material. Perlakuan khusus di
permukaan bahan selama manufaktur membuat permukaan depan sel lebih
mudah menerima elektron bebas, sehingga elektron bermigrasi secara alami ke
permukaan.

Aliran Listrik
Ketika elektron meninggalkan posisi mereka, ruang kosong terbentuk. Ketika
banyak elektron, masing-masing membawa muatan negatif, bergerak ke
permukaan depan sel, terjadi ketidakseimbangan muatan antara permukaan
depan dan permukaan belakang sel yang menciptakan tegangan potensial
seperti pada terminal positif dan negatif baterai. Ketika dua permukaan
terhubung melalui beban eksternal, seperti peralatan, mengalirlah arus listrik.

Aplikasi Komersial Sistem Fotovoltaik


Keberhasilan PV di luar angkasa mendorong aplikasi komersial untuk teknologi
ini. Sistem fotovoltaik paling sederhana banyak ditemukan pada kalkulator kecil
dan jam tangan yang digunakan sehari-hari. Sistem yang lebih rumit
menyediakan listrik untuk memompa air, listrik peralatan komunikasi, dan
bahkan menyuplai listrik untuk rumah kita.

Beberapa keuntungan dari sistem fotovoltaik adalah:

Konversi dari sinar matahari menjadi listrik terjadi secara langsung,


sehingga sistem pembangkit mekanis yang besar tidak diperlukan.

Array PV dapat diinstal dengan cepat dan dalam berbagai ukuran.


Dampak lingkungan yang minimal, tidak membutuhkan air untuk
pendinginan sistem dan tidak menghasilkan produk sisa.

Sel fotovoltaik, seperti baterai, menghasilkan arus searah (DC), yang umumnya
digunakan untuk beban kecil (peralatan elektronik). Ketika DC dari sel fotovoltaik
digunakan untuk aplikasi komersial atau dijual kepada utilitas listrik
menggunakan jaringan listrik, maka harus dikonversi ke alternating current (AC)
dengan menggunakan inverter, perangkat yang mengkonversi daya DC ke AC.

Pembangkit Listrik Tenaga Magnet


Dunia internasional dalam keadaan terdesak karena pasokan energi semakin
berkurang, energi listrik paling banyak dicari tapi dalam membangkitkannya
perlu biaya yang cukup mahal. Pembangkit listrik tenaga uap lebih murah, tapi
membuat uap perlu usaha tersendiri. Pembangkit listrik tenaga angin memang
gratis, jika cukup banyak angin yang dapat bertiup sepanjang hari. Sedangkan
tenaga matahari adalah tenaga yang selalu ada, namun untuk mengubahnya
menjadi tenaga listrik, membutuhkan alat yang cukup mahal.Sementara
Indonesia masih berjuang dan menghemat penggunaan listrik di rumah
penduduk, negara lain telah menemukan generator tenaga magnet yang dapat
menghasilkan listrik untuk selamanya.

Free Energy Generator

Banyak penemu yang mengaku telah menemukan "free energy generator"


dengan prototype yang berbeda namun dengan satu pembangkit yang sama,
tenaga magnet. Penemu dari Georgia, Tariel Kapanadze, mengaku telah
membuat "free energy generator" yang menghasilkan listrik sebanyak 5kw. Alat
ini menghasilkan energi listrik dengan sumber yang tak terlihat.
Di dunia internasional, sebutan "free energy generator" bukan barang baru lagi.
Banyak perusahaan yang sudah menjual generator ini di berbagai negara,
penemu di seluruh dunia bersaing untuk membuat generator yang bisa
menghasilkan energi yang besar serta tahan lama. Bahakan ada banyak guide
book yang beredar di pasaran internasional yang siap untuk menjadi bahan
acuan anda untuk membuatnya di rumah, meskipun kebanyakan berbahasa
asing.
Siapapun pasti ingin menemukan alat yang bisa menghasilkan listrik dengan
harga terjangkau dan daya pembangkit listrik yang besar serta tahan lama.
Mengapa anda tidak mencobanya? Mungkin anda akan menjadi penemu
berikutnya. Bila penduduk indonesia dapat memanfaatkan tenaga magnet ini
dengan baik, PLN tidak perlu susah-susah menyarankan warganya hemat listrik
lagi atau, kita bisa membuat pabrik kompor, mobil, sepeda montor, kapal, kereta
api, bahkan pesawat bertenaga magnet. Jadi polusi bisa dikendalikan, dan udara
kita kembali bersih

FREE ELECTRICAL GENERATOR from an old car-ALTERNATOR (Romanian)

Generator Listrik dari Padi


Semakin mudahnya berbagi informasi lewat internet ternyata membuat banyak anak bangsa
menjadi kreatif, dan salah satu inovasi terbaru tersebut adalah generator listrik dari tanaman
padi dengan memanfaatkan proses fotosintesis dan prinsip fisika dan biologi. Inovasi tersebut
diberi nama e-Paddy.

Dheniz Fajar Akbar salah satu dari 5 perancang inovasi e-Paddy mengatakan bahwa dalam
proses fotosintesis tanaman padi yang menyerap sinar matahari menghasilkan glukosa
(C6H1206) dan oksigen (O2) yang kemudian diproses lebih lanjut melalui anoda dan kaatoda
yang dipasang pada tanaman padi. Pergerakan elektron ini akan menghasilkan listrik,
semakin banyak proses fotosintesis akan menghasilkan listrik semakin besar. Sehingga
semakin banyak tanaman disiram dan diberi kompos untuk menghasilkan elektron yang
banyak lagi, sehingga tegangan listrik yang dihasilkan semakin tinggi.

Menurut mahasiswa yang dibimbing Dewi Maya Maharani menjelaskan Semakin tua
tanaman padi, akan semakin banyak elektron yang dihasilkan. Dalam penelitian ini tim
menggunakan padi IR-64, umur tanaman antara 25-30 hari. Hasil penelitian mereka, tanaman
padi yang berisi 20 batang menghasilkan 331,6 mili volts (mV). Mereka menguji cova dalam
volume penyiraman sekitar 500 mililiter air dan kompos lima persen dari masa tanah dalam
pot.

Menurut sebuah penelitian di Belanda listrik alternatif dari tumbuhan ini, akan diatur
sehingga mampu memproduksi 3,2 watt/meter persegi dan bisa mencukupi kebutuhan listrik
sebuah rumah (2.800 kWh per tahun). (Faizal)

Kuala Lumpur, 23 Mei Universiti Malaysia Perlis (UniMAP) terus mencipta sejarah
tersendiri apabila salah satu produknya dipilih menerima Anugerah Best Invention bagi
kategori universiti atau institusi pendidikan pada Malam Budaya Cipta (A Celebration of
Creativity) yang diadakan bersempena 26th International Invention Innovation Exhibition
(ITEX) 2015 di sini, semalam.

Anugerah disampaikan oleh Timbalan Perdana Menteri yang juga Menteri Pendidikan, YAB
Tan Sri Muhyiddin Yassin kepada wakil penyelidik Mohd Hafiz Arshad yang diraih melalui
produknya Portable Solar Generator: 2nd Generation (A Novel for relief during natural
disaster).
Turut hadir pada majlis itu adalah Timbalan Menteri Pendidikan II, YB P. Kamalanathan P.
Panchanathan; Pengasas dan Presiden Malaysian Invention and Design Society (MINDS),
Tan Sri Emeritus Profesor Datuk Dr. Augustine Ong Soon Hock; Penasihat Sains Pertama
Malaysia kepada Perdana Menteri, Profesor Emeritus Tan Sri Datuk Dr Omar Abdul Rahman;
Presiden C.I.S Network Sdn Bhd yang juga pengurus program ITEX 2015, Dato Vincent
Lim.

Mohd Hafiz berkata, usaha keras beliau dan rakan penyelidik lain dalam menghasilkan
inovasi menghasilkan generator berasaskan tenaga solar mudah alih yang boleh digunakan
untuk mengecas telefon bimbit terutama apabila berlaku bencana seperti banjir besar di
Kelantan baru-baru ini.

Ujar beliau, inovasi berkenaan terhasil selepas melihat kesukaran mangsa bencana untuk
terus berhubung dengan keluarga terdekat terutama apabila bekalan elektrik terputus.

Atas dasar itu, saya dan rakan penyelidik lainnya mengambil inisiatif menghasilkan
generator berasaskan tenaga solar yang boleh digunakan oleh mangsa banjir dan sukarelawan
terutama di pusat bantuan bencana.

Kami bekerja keras terhadap penyelidikan ini dan dengan terpilihnya produk kami ini telah
memberikan satu momentum baharu untuk meningkatkan lagi kualiti penyelidikan kami di
masa hadapan, katanya.

Selain Mohd Hafiz, penyelidik lain bagi produk ini adalah Baharuddin Ismail, Azralmukmin
Azmi, Mohd Zulhisham Mohd Radzi, Mohd Syahril Noor Shah dan Mohammad Faridun
Naim Tajuddin.

Produk di bawah kategori Alam Sekitar dan Tenaga Boleh Diperbaharui itu juga terpilih
menerima anugerah khas daripada World Invention Intellectual Property Association (WIIPA)
Taiwan.

Selain itu, dua lagi produk UniMAP yang turut menerima anugerah khas sama ialah produk
SAC OCDMA System Utilizing Flexible Cross Correlation (FCC) Code For Fiber
Wireless Network hasil penyelidikan Prof. Dr. Syed Alwee Aljunid Syed Junid; dan produk
Fly Ash Bubble Aggregate oleh Norlia Mohamad Ibrahim.

Selain menerima anugerah khas tersebut, ketiga-tiga produk ini turut menjadi penyumbang
kepada pingat emas UniMAP di ITEX 2015.

Untuk rekod, UniMAP telah mencatat kejayaan manis apabila kesemua 60 produk
penyelidikannya meraih pingat pada ITEX 2015 sekaligus mengekalkan pencapaian 100
peratus pingat seperti tahun lalu.
Pada pameran yang berlangsung bermula 21 hingga 23 Mei 2015 di Pusat Konvensyen Kuala
Lumpur (KLCC) di sini itu, delegasi penyelidik UniMAP meraih 18 emas, 31 perak dan 11
gangsa dari 665 pingat yang ditawarkan.

Dalam pada itu, Tan Sri Muhyiddin dalam ucapannya, mengucapkan tahniah kepada
penerima anugerah dan yakin mereka ini adalah sumber inspirasi kepada penyelidik lain.

Tan Sri Muhyiddin menyifatkan tiada siapa yang mengetahui dengan lebih baik kepentingan
inovasi melainkan penyelidik, akademia, para pencipta, usahawan dan pakar industri.

Baharu semalam, inovasi telah dikenalpasti sebagai salah satu sumber cas dalam Pelan
Malaysia ke 11 untuk menguatkan peningkatan ekonomi dan menambahbaik kehidupan
rakyat.

Kita akan memberi fokus untuk mengukuhkan hubungan kapital demi menggalakkan
hubungan yang lebih erat, kerjasama, dan kepercayaan di kalangan pemegang taruh. Usaha
untuk mempromosikan inovasi akan dilaksanakan dari peringkat perusahaan dan
masyarakat, katanya.

ITEX 2015 anjuran Malaysian Invention and Design Society (MINDS) telah diadakan buat
kali ke 26 dengan mempertandingkan 23 kategori dan mendapat penyertaan lebih 1000
produk penyelidikan dari lebih 20 negara.

Antara negara yang menyertai adalah Belgium, Mesir, German, Hong Kong, India, Indonesia,
Iraq, Itali, Japan, Korea, Moldova, Philipina, Poland, Romania, Rusia, Arab Saudi, Taiwan,
Thailand, Turki, Amerika Syarikat dan Malaysia.

Turut diadakan adalah Asian Young Inventors Exhibition 2015 (AYIE) dan Malaysian Young
Inventors Exhibition 2015 (MYIE) yang membariskan penyelidik muda berusia 20 tahun dan
ke bawah
Generator Urine

Empat remaja Afrika telah memukau pengunjung acara Maker Faire Africa dengan
mendemokan generator listrik yang dijalankan dengan tenaga listrik bersumber dari air
kencing atau urin. Acara MakerFaire sendiri merupakan acara yang menghadirkan inovasi,
penemuan dan inisiatif untuk menyelesaikan tantangan dan problem yang ada di masyarakat.
Dengan hanya menggunakan air kencing yang notabene adalah sumber daya yang dihasilkan
setiap orang , gadis-gadis remaja ini mampu mengembangkan sebuah generator yang
menghasilkan enam jam daya listrik dari satu liter urin. Nama-nama para remaja inovatif itu
adalah Duro-Aina Adebola, Akindele Abiola, Faleke Oluwatoyin ketiganya masih berumur 14
tahun dan Bello Eniola yang berumur 15 tahun. Para remaja ini masih berumur 14 dan 15
tahun dan sungguh menjadi inspirasi para remaja di dunia untuk mengembangkan sesuatu
yang berguna bagi semua orang.

Berikut ini penjelasan proses cara kerja menghasilkan listrik dari air seni/urin: Air
urin/kencing dimasukan dalam electrolytic cell, yang mengekstrak urea menjadi nitrogen,
water, dan hidrogen. Lalu hydrogen mengalir ke water filter untuk pemurnian/purification,
yang kemudian didorong ke silinder gas Lalu silinder gas mendorong hidrogen ke silinder
cairan borax, yang berfungsi untuk menghilangkan kelembaban/moisture dari dari gas
hidrogen Gas hidrogen yang telah dimurnikan didorong ke generator. 1 Liter urin bisa
menghasilkan kurang lebih 6 jam listrik
Teknologi Batubara Bersih
Batubara adalah sumber terbesar di dunia untuk memproduksi listrik dan sangat diperlukan
untuk perkembangan industri lainnya, seperti baja dan semen. Keragaman dan kelimpahan
cadangan batubara di dunia menegaskan bahwa mineral ini dapat memenuhi tantangan
strategis energi masa depan, dan dengan demikian, diperkirakan bahwa pangsa pasar
batubara akan menjadi 40% pada tahun 2100, ketika minyak sebagai sumber energi hampir
menghilang. Oleh karena itu, teknologi batubara bersih harus mengatasi tantangan ganda
untuk menghasilkan energi dengan cara yang ekonomis dan ramah lingkungan.

Pada tahun 80-an, pemerintah di beberapa negara memulai program kolaboratif dengan
industri swasta untuk mendorong pengembangan teknologi batubara bersih, sehingga dapat
meningkatkan baik efisiensi energi dan toleransi lingkungan, penyiapan dan penggunaan
batubara - dan dengan demikian dapat mengakibatkan pengurangan emisi polutan seperti
sulfur dan nitrogen oksida serta meningkatkan jumlah energi yang dimanfaatkan. Secara
umum, teknologi batubara bersih merupakan pemanfaatan yang lebih bersih, lebih efisien dan
lebih murah daripada proses konvensional, dan didasarkan pada perubahan struktur dasar
batubara dalam beberapa tahapan proses pembakaran.

Selain itu, metode modern eksplorasi dan ekstraksi batubara akan meminimalkan dampak
lingkungan dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan tambang. Tindakan untuk mengurangi
kebisingan dan debu, dan kontaminasi air tanah atau gas metana - yang bisa menjadi resiko
potensial- adalah hal yang umum dipakai. Disamping itu batubara juga telah dikurangi kadar
abu dan kotorannya (seperti lumpur atau belerang), serta meningkatkan kualitas air limbah.

Di antara berbagai teknologi dalam pengembangan yang digunakan saat ini, meliputi
gasifikasi batubara. Sistem ini berupa menempatkan batubara agar kontak dengan uap dan
oksigen, sehingga terjadi reaksi termo kimia yang menghasilkan gas yang mudah terbakar
yang terdiri dari karbon monoksida dan hidrogen, yang ketika dibakar dapat digunakan untuk
menggerakkan turbin gas. Beberapa merupakan hibrid yang mengkombinasikan teknologi
Batubara Bersih menggunakan teknik terbaik dari teknologi gasifikasi dan pembakaran,
mencapai efisiensi 50% lebih besar.

Singkatnya, jika batubara menjadi sumber energi dasar untuk pembangunan berkelanjutan di
masa depan, maka diperlukan pembangunan pembangkit baru yang bekerja dengan jenis
teknologi batubara bersih, untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Listrik dari Jerami

Hari Jumat (24/10) ini, Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai menandatangani nota
kesepahaman tentang pembangunan pembangkit listrik ini dengan perwakilan JSC
PromSviaz, PLN Wilayah Sumatera Utara, dan perwakilan Babcock and Brown, lembaga
finansial asal Australia yang rencananya mendanai pembangunan proyek tersebut.
Menurut Sahat M Sinaga perwakilan Xoma Power Nusantara, perusahaan yang akan
menggandeng JSC PromSviaz dan Babcock and Brown, pembangkit listrik menggunakan
sumber energi dari jerami dan sekam padi termasuk baru di Indonesia, meski pembangkit
sejenis sudah ada di Thailand dan Rusia.
Tidak banyak yang tahu jerami dan sekam padi punya kandungan kalori yang cukup tinggi,
sekitar 3.180 kalori per kilo gram. Orang sering salah menganggap pembakaran jerami hanya
menghasilkan karbon. Kalau batu bara yang dijadikan sumber energi listrik memiliki kalori
senilai 5.000 hingga 6.000 kalori per kilo gram.
"Dengan teknologi yang dimiliki Rusia, pembakaran jerami dan sekam pada suhu tertentu
bisa memanaskan tungku boiler untuk menggerakkan turbin," kata Sahat.
General Manager PLN Wilayah Sumut Manarep Pasaribu menyambut baik kerja sama ini.
Menurut dia, saat ini mayoritas pembangkit yang ada di Sumut berbahan bakar minyak (solar
jenis high spe ed diesel dan marine fuel oil), sehingga jika ada swasta yang membangun
pembangkit menggunakan energi terbarukan, bisa membantu menurunkan biaya produksi
listrik PLN.
"Tentu saja nanti listrik yang dihasilkan bisa dijual ke PLN dengan harga keekonomian
menurut kami. Sebagai ukuran, kami mensubsidi pelanggan untuk satu KwH (kilo watts
hour) sebesar Rp 1.600. Tingginya angka subsidi ini karena ongkos produksi listrik PLN di
Sumut r ata-rata mencapai Rp 2.500 per KwH," kata Manerep.
Sahat mengungkapkan, untuk menghasilkan listrik sebesar 10 MW diperlukan kurang lebih
80.000 ton jerami dan sekam. Dengan catatan semua sekam dan jerami bisa terkumpul
sebanyak itu. "Saat ini kami tengah memproses studi kelayakan penggunaan jerami dan
sekam di Sergai dan kabupaten-kabupaten sekitarnya," katanya.
Bupati Sergai T Erry Nuradi mengatakan, saat ini yang diperlukan pengembang tinggal
jaminan ketersediaan bahan baku berupa jerami dan sekam padi. Menurut Erry, dengan total
luas panen di Kabupaten Sergai 78.000 hektar pertahun, wilayahnya mampu memasok
kebutuhan jerami dan sekam untuk pembangkit listrik tersebut.
Dari 78.000 hektar luas panen di Sergai, jerami yang dihasilkan sekitar 400.000 ton jerami
dan 80.000 ton sekam.
Belum lagi kalau jerami dan sekam ini bisa kami kumpulkan dari daerah-daerah di sekitar
Sergai seperti Deli Serdang, Batubara dan Simalungun. "Tentu akan lebih banyak lagi jerami
dan sekam yang bisa dimanfaatkan," katanya.
JAKARTA JITUNEWS.COM Pernahkah Anda membayangkan energi
listrik dibuat dari jus buah? Ya gak mungkin bisa lah. Eitss, Anda salah.
Inovasi ini berhasil diciptakan lho, ajaibnya juga penemuan ini digagas
oleh anak SD! Hah, kok bisa?
Siswa sekolah dasar jenius tersebut bernama Muhammad Azkar
Habibullah. Ia merupakan siswa siswa SDIT Salsabila
Baiturrahman, Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, yang berhasil
membuat inovasi energi listrik alternatif dari sebuah jus belimbing. Meski
sederhana, namun upayanya untuk menciptakan listrik terlihat
berhasil. Keren!
Lantas bagaimana teknis pembuatannya. Dalam praktiknya, Azkar, biasa
siswa ini disapa, hanya menggunakan peralatan sederhana. Yakni, satu
gelas kosong berisi tanah, jus belimbing wuluh serta lempeng tembaga
dan seng.
Prosesnya, nanti tanah yang ada di dalam gelas diisi dengan jus
belimbing wuluh. Baru kemudian dimasukkan lempengan tembaga dan
seng yang kemudian dihubungkan satu persatu. Barulah keluar
listriknya, beber Azkar.
Selain Azkar, inovasi energi dari belimbing pun sebelumnya pernah
dilontarkan oleh Sunarto, di Magetan, Jawa Timur. Ide Sunarto yang
notabene merupakan guru elektronika di SMK 1 Bendo, Magetan,
ini muncul setelah ia merasa eman dengan buah belimbing wuluh yang
tumbuh subur di pekarangan rumahnya, dan selama ini lebih banyak
mubazir. Hanya sedikit yang dimanfaatkan untuk sayur.
Saya juga prihatin tarif listrik terus naik. Padahal, banyak warga di
pelosok desa yang belum tersentuh listrik, tuturnya.
Menurut Sunarto, energi listrik tercipta karena belimbing wuluh yang
memiliki tingkat keasaman tinggi dapat menghantarkan ion dan elektron
yang ada pada lempengan tembaga dan seng sehingga terciptalah arus
listrik.Rata-rata 10 butir belimbing wuluh mampu menciptakan tegangan
listrik hingga mencapai 2,5 volt atau setara dengan satu buah batu
baterai kering. Bahkan, menurut pengalaman Sunarto, energi listrik dari
belimbing sayur dapat bertahan lama hingga satu bulan.
Sunarto berharap temuannya itu dapat terus dikembangkan untuk
berbagai kebutuhan rumah tangga. Di rumahnya, listrik belimbing wuluh
ini digunakan Sunarto untuk menyalakan dua lampu neon, radio, sebagai
ganti baterai jam dinding, dan untuk lampu display.
Hingga kini, Sunarto masih terus mengembangkan hasil temuannya. Ia
ingin setelah berkembang nanti, energi listrik alternatif temuannya itu
dapat dikemas dalam bentuk produk energi yang praktis, layaknya
baterai. Jika itu bisa diwujudkan, maka temuannya bisa menjadi salah satu
alternatif energi murah di tengah beban kenaikan tarif listrik yang
mengimpit rakyat kecil.
So, Anda tertarik memanfaatkan belimbing wuluh sebagai energi
listrik? Semoga informasinya berguna ya!
Listrik dari Pohon Kedondong
Sebanyak 14 rumah milik warga Langsalama, Provinsi Aceh, telah memiliki penerangan
listrik hasil inovasi Naufal Rasiq (14) yang menemukan alat penghantar listrik dari pohon
kedondong.

"Sudah 14 rumah milik masyarakat Langsalama memiliki fasilitas listrik inovasi pohon pijar.
Dengan alat sederhana itu, masyarakat di sana bisa menikmati listrik sepanjang malam,
sekalipun jumlah rumah yang berlistrik masih terbatas," kata Naufal Rasiq kepada wartawan
dalam acara Pertamina Science Fun Fair di Grand Atrium Kota Kasablanka,Jakarta, Sabtu.

Naufal Rasiq merupakan siswa kelas III MTS Negeri Langsalama, berhasil menemukan alat
penyalur energi listrik untuk penerangan listrik rumah tangga dengan daya 10 watt.

"Daya listrik yang terpasang pada 14 unit rumah itu masih 5-10 watt dan mampu bertahan
selama 12 jam. Penerangan listrik yang terbatas itu membantu masyarakat di Langsalama
yang belum memiliki penerangan listrik," katanya, seperti dikutip Antara.

Aliran listrik untuk 14 rumah itu, menurut Naufal, dialirkan dari pohon kedondong yang
dijadikan pagar halaman rumah oleh warga Langsalama.

Dikatakannya, arus listrik dari pohon kedondong dialirkan ke Inveter (alat untuk mengubah
arus listrik dari AC ke DC untuk memasok listrik) pada rumah milik warga setempat .

Menurut anak pertama dari Suprinan (43), pohon kedondong memiliki kandungan asam
tinggi sebagai sumber energi listrik yang baik, sedangkan pohon mangga dan jeruk memiliki
kadar asam rendah sehingga kurang maksimal mendapatkan aliran listrik .

"Saya telah melakukan percobaan sebanyak 60 kali ternyata pohon kedondong sangat
tinggi kandungan asamnya sebagai penghantar daya listrik yang baik," kata Naufal Rasiq
Menurut dia, semakin banyak pohon kedondong digunakan sebagai penghantar listrik maka
daya listrik semakin besar.

Ia mengatakan, pohon kedondong sangat melimpah di Kota Langsalama sehingga menjadi


potensi untuk mengembangkan teknologi listrik alternatif sebagai upaya mengatasi
kelangkaan listrik di wilayah itu.
Listrik Tenaga Manusia

Setelah sukses dengan beberapa inovasi kereta seperti kereta api super cepat, super mewah
dan juga kereta api bawah tanah, nampaknya Jepang tidak puas dengan semua yang sudah
dimiliki itu. Saat ini, Jepang sedang membuat percobaan mengenai pembangkit listrik dari
tenaga manusia.

Perusahaan kereta api Jepang sektor timur, The East Japan Railway Company, bekerja sama
dengan para peneliti Universitas Keio, Jepang, mengadakan riset untuk mengembangkan
stasiun kereta api yang ramah lingkungan di stasiun Shibuya.

Mereka memanfaatkan lalu lalang para penumpang di stasiun tersebut untuk menghadirkan
pembangkit listrik dari tenaga manusia. Melalui teknologi tersebut penumpang akan bergerak
melalui tenaga dari hasil pijakannya sendiri.

Konsep teknologi tersebut didasari oleh teknologi Piezoelektrik, dimana perangkat


Piezoelektrik ini merupakan lempengan keramik yang bisa merubah suatu tekanan menjadi
suatu tegangan berdasarkan kekuatan yang ada.
Teknologi ini diletakkan pada lantai di gerbang tiket dan area lain di Stasiun Tokyo yang
ramai oleh orang yang berlalu-lalang, sehingga menghasilkan energi listrik dari penumpang
yang berjalan diatasnya.

Mengubah Tekanan Kaki Jadi Tegangan Listrik

Menurut riset, teknologi Pizeoelektrik mampu menyalakan 2 buah lampu yang bermuatan
sekitar 60 watt dalam satu kali pijakan. Selain itu pijakan kaki manusia yang kuat bisa
mengubah tekanan menjadi tegangan listrik antara 1-3,5 Volt.

Sedangkan pada saat percobaan di stasiun Shibuya, teknologi Piezoelektrik ini mampu
mensuplai listrik 1400 kW, pada kondisi normal trafffic, yang dapat menyediakan energi
listrik untuk semua display di stasiun tersebut.
Uniknya, teknologi Piezoelektrik ini tidak terbatas pada langkah manusia saja tetapi juga
dengan tenaga mekanik lainnya seperti rel kereta api, landasan pesawat terbang dan jalan
raya.

Setiap energi yang dihasilkan oleh piezoelektrik ini tergantung pada perubahan temperatur,
gerakan, massa suatu kendaraan, dan juga getaran yang dihasilkan.

Pemerintah Jepang sedang berusaha untuk mengembangkan teknologi ini secara besar-
besaran. Pemerintah Jepang melihat ini sebagai peluang bagi listrik ramah lingkungan masa
depan sehingga pemerintah Jepang optimis jika teknologi ini dikembangkan maka akan
menghasilkan sumber listrik yang besar.

Di satu sisi, teknologi ini merupakan teknologi yang ramah lingkungan, murah dan juga
canggih. Karena teknologi ini mampu membuat anggaran listrik pemerintah berkurang dan
dalam jangka penjang rencananya teknologi ini akan diterapkan di beberapa jalur yang ramai
seperti bandara, kereta, dan jalan raya.

Namun, di sisi lain teknologi ini juga belum bisa diterapkan oleh rumah tangga karena
teknologi ini membutuhkan infrastruktur yang besar dan mahal.
Material untuk piezoelektrik sangatlah terbatas sehingga membuat sistem piezoelektrik ini
belum bisa menyaingi fossil fuel (minyak, gas alam, atau batu bara). Selain itu teknologi
Pizeoelektrik ini juga membutuhkan aktivitas mekanis seperti pijakan atau goncangan
sehingga dirasa kurang efisien.

Kapasitas energi piezoelektrik yang tersimpan di tempat penyimpanannya ini bisa saja hilang
atau menurun seara drastis jika tidak ada langkah manusia, guncangan, cahaya matahari, atau
angin.
Energi Magnet Menjadi Energi Listrik
Energi magnet akan semakin jelas terlihat dan mudah dipahami dalam penelitian medan
magnet. Anda dapat membuat penelitian ini dengan menggunakan magnet serta pasir besi.
Medan magnet adalah sebuah daerah di sekitar kutub magnet yang memiliki energi magnetik.

Jika suatu benda yang dapat ditarik oleh magnet seperti besi atau baja berada di daerah
medan magnet maka magnet akan dengan mudah dapat menggerakkan benda tersebut.
Kemampuan menggerakkan benda inilah yang disebut sebagai energi magnetik. Jadi,
kejadian tarik-menarik dan tolak-menolak merupakan suatu energi magnetik.

Energi magnet dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam hal. Pada tahun 2012 pernah
ditemukan sebuah inovasi mengenai energi hemat listrik yang dibuat dengan memanfaatkan
energi magnet. Baru-baru ini energi memang selalu menjadi perhatian. Kasus-kasus yang
berkaitan dengan energi ramai diperbincangkan.

Manfaat energi yang sangat besar bagi kehidupan menjadi salah satu alasannya. Cara kerja
energi hemat listrik ini dibuat sederhana. Cukup dengan membangun instalasi dari tiga
gulungan kawat yang mengelilingi beberapa buah magnet. Energi listrik arus searah (DC)
akan dihasilkan ketika medan magnet berputar.

Di tengah-tengah sisi magnet terdapat energi magnet, saat kutub utara dan kutub selatan
saling bergesekan mereka akan menghasilkan energi. Energi tersebut akan dihubungkan
dengan baterai, jika pasarannya semakin cepat maka energi yang dihasilkan akan semakin
tinggi.

Bukan hanya arus searah yang dihasilkan oleh sistem energi tersebut, arus bolak-balik atau
arus AC. Namun lebih aman jika kita menggunakan arus yang searah karena arus bolak-balik
menghasilkan energi listrik yang tinggi. Energi listrik arus searah juga bisa disimpan dalam
accu atau baterai.
Instalasi yang memanfaatkan energi magnet ini digerakkan tanpa bahan bakar fosil sehingga
bahan bakar ini sangat hemat dalam penggunaannya. Bahkan untuk memanfaatkan energi ini
kita hanya membutuhkan aki saja sebagai alat pemicu arus. Ion positif akan terdorong keluar
oleh ion negatif saat pengisian ulang baterai. Arus searah dapat dialirkan dan disimpan di
dalam aki sehingga secara otomatis dapat mengisi ulang. Modifikasi ini dilakukan demi
penghematan energi.

Energi magnet utara dan energi magnet selatan merupakan energi abadi yang tidak akan
habis. Diperkirakan 1 ton magnet mampu menghasilkan 1 juta watt. Sayangnya energi
magnet ini tidak bisa diaplikasikan langsung pada beberapa peralatan elektronik yaitu mesin
cuci, AC, freezer, dan kipas angin. Dibutuhkan sebuah Interver DC ke AC agar energi magnet
dapat diterapkan dalam peralatan tersebut.

Magnet juga memiliki peran penting dalam pembuatan pembangkit listrik. Magnet berperan
sebagai generator yang bisa menghasilkan listrik melalui putarannya. Putaran generator ini
bersamaan dengan putaran turbin. Padahal sebenarnya energi penggerak bagi generator juga
dapat diperoleh dari energi magnet.

Inovasi Mikro Bubble Generator Untuk Meningkatkan Kualitas Air Bersih

Air merupakan kebutuhan yang paling penting dalam kehidupan manusia terutama
air tawar yang bersih dan sehat. Namun demikian, kelangkaan dan kesulitan mendapatkan
air bersih dan layak pakai menjadi permasalahan yang mulai muncul di banyak tempat dan
semakin mendesak dari tahun ke tahun. Kecenderungan konsumsi air naik secara
eksponensial, sedangkan ketersediaan air bersih cenderung melambat akibat kerusakan
alam dan pencemaran, yaitu diperkirakan sebesar 15-35% per kapita pertahun. Pengelolaan
Kualitas Air diatur dalam Peraturan Pemerintah PP No. 82 Tahun 2001. Klasifikasi air yang
berkaitan dengan air untuk konsumsi masuk dalam kelas 1 yang merupakan air dengan
kualitas tertinggi yang dinyatakan dengan "air yang peruntukannya dapat digunakan untuk
air baku, air minum, dan peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama
dengan kegunaan air tersebut".
Dari beberapa sumber didapatkan informasi untuk kualitas sumber air yang ada di
Indonesia saat ini. Pemantauan kualitas air sungai yang dilakukan 33 Propinsi tahun 2004
dengan frekwensi pengambilan sampel sebanyak dua kali dalam setahun. Hasil
pemantauan parameter DO, BOD, COD, fecal coli dan total coliform mayoritas sudah tidak
memenuhi kriteria mutu air kelas I menurut PP 82 Tahun 2001. Berdasarkan parameter
dapat dikatakan bahwa mayoritas sungai yang terdapat di kota pada penduduk seperti di
pulau Jawa cenderung lebih tercemar. Mikro Bubble Generator merupakan salah satu alat
pengelolaan air bersih yang bisa mengatasi permasalahan diatas. Alat ini memiliki banyak
keunggulan dibanding alat lainnya. Dikarenakan kebutuhan masyarakat akan konsumsi air
bersih yang tinggi, alat ini mempunyai potensi besar untuk di jadikan bisnis guna menjawab
permasalahan air bersih kedepan.

Gambar Inovasi Micro Bubble


Gambar diatas adalah gambar inovasi dari micro bubble generator kami, dimana
terdapat perbedaan jika di bandingkan dengan micro bubble generator milik Dr Sadatomi.
Pada bubble generator milik Dr. Sadatomi posisi bola pejal tetap sehingga besar celah yang
dilalui air tidak dapat diubah. Sedangkan pada bubble generator yang kami rancang besar
celah yang dilewati oleh air dapat kami atur. Dengan pengaturan tersebut, kami dapat
merubah bentuk gelembung-gelembung yang akan menentukan ukuran gelembung yang
tepat agar di dapatkan penjernihan yang maksimal.

Skema Instalasi Alat

Seperti telah di jelaskan sebelumnya, bahwa gelembung-gelembung yang di


hasilkan oleh bubble generator akan mengikat partikel-partikel asing yang dikandung oleh
air, dikarenakan memiliki tegangan permukaan yang tinggi. Bubble akan membawa partikel
tersebut keatas permukaan, sehingga nantinya akan terbentuk lapisan permukaan yang
penuh dengan kotoran dan lapisan air bersih yang berada dibawahnya. Lapisan bagian
bawah inilah yang akan di alirkan keluar sebagai hasil dari penjernihan air.

OTEC
Konversi energi termal lautan (Inggris: Ocean Thermal Energy Conversion/OTEC)
adalah metode untuk menghasilkan energi listrik menggunakan perbedaan
temperatur yang berada di antara laut dalam dan perairan dekat permukaan
untuk menjalankan mesin kalor. Seperti pada umumnya mesin kalor, efisiensi
dan energi terbesar dihasilkan oleh perbedaan temperatur yang paling besar.
Perbedaan temperatur antara laut dalam dan perairan permukaan umumnya
semakin besar jika semakin dekat ke ekuator. Pada awalnya, tantangan
perancangan OTEC adalah untuk menghasilkan energi yang sebesar-besarnya
secara efisien dengan perbedaan temperatur yang sekecil-kecilnya.

Permukaan laut dipanaskan secara terus menerus dengan bantuan sinar


matahari, dan lautan menutupi hampir 70% area permukaan bumi. Perbedaan
temperatur ini menyimpan banyak energi matahari yang berpotensial bagi umat
manusia untuk dipergunakan. Jika hal ini bisa dilakukan dengan cost effective
dan dalam skala yang besar, OTEC mampu menyediakan sumber energi
terbaharukan yang diperlukan untuk menutupi berbagai masalah energi.
Siklus kalor yang sesuai dengan OTEC adalah siklus Rankine, menggunakan
turbin bertekanan rendah. Sistem dapat berupa siklus tertutup ataupun terbuka.
Siklus tertutup menggunakan cairan khusus yang umumnya bekerja sebagai
refrigeran, misalnya ammonia. Siklus terbuka menggunakan air yang dipanaskan
sebagai cairan yang bekerja di dalam siklusnya.

Prinsip Kerja Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC)

Secara sederhana dapat disebutkan bahwa OTEC bekerja dengan memanfaatkan


perbedaan temperatur untuk membangkitkan tenaga listrik dengan cara
memanfaatkannya untuk menguapkan Ammonia atau Freon. Tekanan uap yang
timbul kemudian dipergunakan untuk memutar turbin.

Pembangkit Listrik Tenaga Suhu

JAKARTA - Pembangkit listrik tenaga air, nuklir, maupun hidro telah umum dikenal. Tidak
mau kalah, tiga mahasiswa Fakultas Teknik (FT) Universitas Brawijaya (UB) Malang
menciptakan inovasi pembangkit listrik dengan menggunakan suhu.

Mereka adalah Rahmat Ananta, Dessy Lina Rachmawati, dan Rifka Fahriza Jauhari. Berawal
dari cara kerja dispenser, tercetuslah sebuah ide membuat energi alternatif dengan
menggunakan suhu. Jika dispenser menghasilkan air dingin dan panas karena energi listrik,
maka Hybrid Micro Thermoelectric Generator milik tiga sekawan tersebut membalik konsep
itu. Energi listrik bisa diciptakan dari suhu dingin dan panas.

Hybrid Micro Thermoelectric Generator adalah sejenis pembangkit listrik yang dihasilkan
lebih dari satu sumber. "Sumber tersebut berasal dari panas dan dingin. Untuk menciptakan
sebuah energi listrik memerlukan suhu panas dan dingin dengan menggunakan perbandingan
1:2. Jika suhu dinginnya 60 derajat Celcius, maka suhu panasnya berkisar 30 derajat Celcius,
atau bisa juga sebaliknya, yang penting mempunyai perbandingan 1:2," ujar Rahmat, seperti
dilansir dari laman resmi UB, Prasetya Online, Kamis (24/1/2013).

Rahmat menjelaskan, untuk mendapatkan suhu panas dan dingin sangat mudah. Suhu di
dalam dan di luar rumah pun bisa digunakan. Misalnya, jika di luar rumah suhunya dingin
otomatis di dalam rumah lebih hangat. Sementara sumber suhu yang lain juga bisa didapat
melalui air panas, air dingin, es, geyser atau salju.
Untuk daerah yang mempunyai suhu ekstrim, seperti daerah Kutub dan Padang Pasir,
lanjutnya, alat tersebut masih bisa digunakan selama masih ada perbedaan suhu. "Pada suatu
daerah yang mempunyai suhu ekstrim, seperti di daerah kutub dan padang pasir, Hybrid
Micro Thermoelectric masih bisa digunakan selama ada selisih perbedaan suhu. Contohnya,
di daerah Kutub Selatan yang sangat ekstrim dengan suhu dinginnya. Suhu di bawah dan di
atas es pasti mempunyai perbedaan. Jadi dengan menggunakan perbandingan 1:2, maka alat
tersebut bisa digunakan," paparnya.

Selain kelebihannya menggunakan suhu, Hybrid Micro Thermoelectric Generator juga bisa
digunakan dalam skala besar, seperti menggerakan mesin-mesin industri. Menurut Rahmat,
sumber dari energi listrik yang dihasilkan oleh Hybrid Micro Thermoelectric Generator
berasal dari suatu lempeng yang bernama elemen Peltier.

Dessy menambahkan, elemen Peltier tersebut berfungsi untuk mentransmisikan suhu dingin
dan panas menjadi suatu energi listrik. "Satu lempeng elemen bisa menampung minimal 12
Volt Ampere hingga maksimal 80 Volt Ampere," kata Dessy.

Inovasi kreatif dari ketiga mahasiswa ini pun mendapat medali emas di World Inventor Award
Festival di Seoul Korea Selatan pada Desember 2012. Bahkan, menyadari keunggulan yang
dimliki Hybrid Micro Thermoelectric Generator, maka mereka berinisiatif untuk segera
mematenkannya. "Saat ini kami sedang berusaha mencari perusahaan yang mau bekerjasama
dan mematenkan produk atas nama kami bertiga," imbuh Rahmat.

Pembangkit Listrik di Tangga

Semakin tingginya kesadaran bahwa energi seharusnya diproduksi dengan cara-cara yang
lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, inovasi-inovasi pun bermunculan. Salah satunya
seperti pembangkit listrik karya Mahasiswa Teknik Elektro Universitas 17 Agustus 1945
(Untag) Surabaya yang satu ini.

Pembangkit listrik yang dirancang oleh Radityo Jalu Atmojo dan rekannya Saiful Efendi ini
terbilang cukup unik karena berusaha memanfaatkan potensi kinetik dari aktifitas menaiki
anak tangga. Alhasil mereka akhirnya menciptakan sebuah pijakan tangga yang mampu
mengkonversi potensi kinetik menjadi energi listrik. Tentu saja inovasi ini merupakan karya
alternatif pembangkit energi listrik yang ramah lingkungan.

Memanfaatkan prinsip gaya pegas dan gerak putar, modul spring berfungsi sebagai
penggerak utama sedangkan roda gigi berfungsi sebagai sumber gerak putar generator DC
(alternator). Alternator tersebut akan menghasilkan arus listrik yang kemudian disimpan di
dalam aki. Listrik tersebut cukup untuk menyalakan lampu.

"Pijakan anak tangga yang menggunakan gaya pegas naik turun tersebut difungsikan sebagai
penggerak utama roda gigi. Penggerak utama roda gigi inilah yang merupakan sumber tenaga
penggerak generator DC maupun sebagai alternator penghasil listrik ," kata salah satu
perancang anak tangga pembangkit listrik, Radityo Jalu Atmojo di Surabaya, Rabu
(10/02/2016).
Kemudian rekan Radit, Saiful Efendi menambahkan bahwa dalam mekanisme dan
perancangannya alat tersebut tetap menggunakan ukuran standar dari anak tangga, supaya
ketika digunakan oleh peraga alat tersebut tetap aman.

Pijakan anak tangga yang mereka buat berukuran panjang 60 cm, lebar 26 cm, dan tebal 5
cm. Pemasangan spring diposisikan di bawah dari setiap pijakan anak tangga. Spring
kemudian digabung dengan gigi roda yang berbentuk vertikal, dan dihubungkan dengan
rantai untuk menggerakkan gigi utama. Gigi utama terletak seporos dengan alternator.

"Untuk anak tangga ini kami menggunakan ukuran standar dan kemiringan standar, yaitu
menggunakan sudut 40 derajat dan kemiringan 45 derajat, sehingga tetap memperhatikan
faktor keselamatan," terangnya.

"Desain dan konstruksinya juga masih bisa dikembangkan lagi oleh adik kelas maupun
masyarakat," jelas Saiful.

Meskipun belum ada kalkulasi pasti mengenai jumlah arus listrik yang dihasilkan per hari,
Radityo dan Saiful berharap alat yang mereka ciptakan itu mampu menjadi sumber energi
alternatif saat terjadi pemadaman listrik. Mereka juga ingin memberi inspirasi dan motivasi
untuk selalu berkarya dalam menciptakan energi listrik alternatif yang ramah lingkungan dan
bermanfaat bagi masyarakat luas.

Dengan pemanfaatan pijakan anak tangga sebagai energi alternatif ini akan membuat nilai
lebih dari fungsi tangga itu sendiri, pungkas Saiful.

Pembangkit Listrik Gas

GE sudah lama berkontribusi pada pembangunan Indonesia. Produk GE sudah dipakai di


sejumlah sektor, mulai dari industri pesawat terbang, perkeretapian, pembangkit listrik,
kesehatan, hingga minyak dan gas. Inovasi yang terus dilakukan membuat banyak pihak
selalu menunggu produk terbaru yang dikeluarkan perusahaan yang berdiri sejak 1890 ini.

Di antara produk inovasi baru yang menyita perhatian adalah mesin gas Jenbacher. Mesin
yang diproduksi di Jenbach, Austria ini banyak dipergunakan di Indonesia. Tidak kurang dari
400 mesin sudah dipakai di negeri ini dengan menghasilkan listrik lebih dari 900 MW. Secara
keseluruahn mesin Jenbacher sudah beroperasi lebih dari lima juta jam di Indonesia. Sudah
lebih dari 70 tahun GE dan Alstom (anak perusahaan GE) hadir di Indonesia, yaitu sejak
tahun 1945, ujar Rudolf Aritonang, Jenbacher Indonesia Sales Manager, saat menjadi salah
satu pembicara dalam acara J920 Flextra Technology: State Of the Art di Hotel Fairmont,
Rabu (7/9/2016).

Salah satu tipe terbaru dari Jenbacher yang diperkenalkan di Indonesia adalah J920 Flextra.
Menurut Christof Harrasser, Global Sales Director J920, ada sejumlah kelebihan dari tipe
terbaru ini. J920 Flextra di antaranya menghasilkan output listrik sebesar 10.380 kW (50 Hz),
dengan daya yang stabil, serta sangat ramah lingkungan. Mesin ini juga memiliki efisiensi
listrik sebesar 49,1%.
Total efisensi yang dihasilkan lebih dari 90%, ujar Harrasser. Dengan efisiensi secara
keseluruhan yang lebih dari 90%, dibandingkan dengan pembangkit lainnya, membuat
penghematan J920 Flextra setara dengan 76.000 barel minyak per tahun.

Mesin ini dirancang dengan ketelitian tinggi dan pemeliharaannya sangat mudah. Gensetnya
terdiri dari tiga modul yaitu generator, mesin, dan turbocharger. Setiap modul diuji coba
terlebih dahulu sebelum dikirim secara terpisah untuk dirakit di tempat. Dipastikan mesin ini
mudah diinstalasi. J920 Flextra memang dirancang untuk memberikan solusi atas berbagai
mesin pembangkit listrik.

Mengingat sejumlah kelebihan yang dimiliki J920 dibanding tipe lain, membuatnya langsung
banyak diminati sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang IPP (Independent Power
Producer) yang hadir dalam J920 Flextra Technology: State Of the Art. B Prabowo
Kartoleksono, misalnya. Technical Advisor dari PT Energi Dian Kemala ini menyebutkan
bahwa J920 Flextra sangat cocok untuk pembangkit listrik untuk skala menengah di
Indonesia.

J920 Flextra saat masih di pabrik (Kredit Foto: GE)

Mesin GE Jenbacher yang bertenaga gas ini cocok untuk kebutuhan proyek-proyek yang
akan dilakukan perusahaannya. Perusahaan kami sebenarnya bergerak di distribusi LNG,
namun kini juga masuk ke pembangkitan listrik. Kami sebenarnya sudah sangat familiar
dengan mesin GE Jenbacher. Dan J920 ini akan rencananya bisa kami pakai pada proyek
yang akan laksanakan, ujar Prabowo.
Hal yang sama juga disampaikan Syaiful dari PT Rekayasa Industri. Ia mengaku sudah lama
mengenal spesifikasi mesin GE Jenbacher. Mesin ini, menurutnya, cocok dengan kebutuhan
pembangkit listrik di Indonesia.

Pembangkit Listrik Non BBM

Krisis listrik melahirkan kreativitas dan inovasi. Sekolah Menengah Kejuruan Negeri
(SMKN) 1 Mendawai, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, sukses menciptakan
pembangkit listrik (PL) tanpa membutuhkan bahan bakar minyak (BBM).

Munculnya ide untuk me-rakit PL tanpa bahan bakar itu, lantaran kondisi kelistrikan yang
dipasok PLN di Kecamatan Mendawai dewasa ini sangat memprihatinkan. Ide kita
sebenarnya memikirkan bagaimana caranya untuk memenuhi kebutuhan listrik sekolah, kata
Kepala SMKN 1 Mendawai, Tutang, di Kasong-an, Rabu (6/5/2015).

Mesin PL itu berbentuk kotak yang dirakit dari kumpulan komponen dinamo penggerak,
dinamo pembangkit, aki 100 ampere, dan komponen lainnya. Sistem kerjanya memanfaatkan
perubahan energi potensi ke energi kinetik menjadi energi mekanik. Hasil akhirnya dalah
aliran energi listrik.

Hebatnya lagi, cara kerja pembangkit listrik ini tanpa perlu dilakukan pengisian ener-gi
melalui kabel cash atau se-bagainya. Karena selama digunakan arus yang keluar secara
otomatis akan diisi kembali ke dalam komponen penyimpan energi.

Jadi, PL ini dapat terus digunakan, terkecuali saat penggantian air aki atau ada kerusakan
alat lainnya, kata Tutang.
Ukurannya pun terbilang mini, sehingga dapat dengan mudah ditempatkan di dalam rumah
dan suara yang ditumbulkan pun tidak keras. Alat juga ini dapat memenuhi kebutuhan
listrik untuk satu rumah tangga dan sekolah skala kecil, misalkan untuk menghidupkan
kulkas, lampu, dan peralatan elektronik lainnya, kata Tutang.

Sejauh ini sudah dibuat dua jenis, yakni mesin dengan kapasitas 1.200 watt dan 1.500 watt.
Untuk merakit mesin dengan daya 1.200 watt, dibutuhkan dana berkisar Rp10 juta-Rp15
juta dengan tempo pengerjaan selama dua minggu lamanya, ungkap Tutang.

Saat dipamerkan pada pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) di
SDN 5 Telangkah, beberapa waktu lalu, banyak masyarakat yang berminat untuk
membelinya. Kalau untuk dijual saya rasa belum bisa, karena masih harus terus melakukan
pengembangan, ujar Tutang. (GP/B-4)

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah


Semarang (ANTARA News) - Lima mahasiswa Jurusan Teknik Elektro dan Fisika
Universitas Diponegoro Semarang berhasil menciptakan pembangkit listrik
dengan memanfaatkan perubahan tenaga panas dari pembakaran sampah.

"Sistem kerja pembangkit listrik ini intinya panas hasil pembakaran sampah kami
konversi menjadi energi listrik dengan menggunakan konverter energi," kata
Ketua Tim Penelitian Muhammad Alfin Assyidiq di Semarang, Kamis.

Alfin menjelaskan, konverter energi yang dia gunakan adalah thermo elektrik.
Alat tersebut mampu menghasilkan listrik apabila ada perbedaan panas di kedua
sisinya.

"Untuk menciptakan perbedaan suhu kami memasang heatsink di atas


pembakaran. Alat itu membuat bagian atas dingin sementara bawah masih
panas. Semakin besar perbedaan panas semakin tinggi tegangan yang
dihasilkan," katanya.

Saat ini Alfin dan tim masih melakukan pengembangan lebih lanjut untuk
meningkatkan tegangan listrik yang dihasilkan.
"Dari hasil uji coba, pembangkit listrik yang kami buat baru menghasilkan
tegangan lima volt, ke depannya kami akan coba memakai pendingin sirkulasi air
di gedung supaya hasil perubahan panasnya lebih besar," katanya.

Dia mengatakan, proses pembuatan pembangkit listrik tenaga sampah dilakukan


selama tiga bulan sejak Mei hingga Juli 2016. Penemuan tersebut merupakan
hasil dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang telah lolos untuk didanai
Dikti tahun ini.

"Dikti mengeluarkan dana untuk PKM kami di bulan Maret 2016 sebesar 70
persen dari biaya total. Kemudian sisanya akan diberikan di akhir tahun,"
katanya.

Sementara itu Alfin menjelaskan, dia tertarik untuk membuat pembangkit listrik
karena latar belakangnya sebagai mahasiswa teknik elektro konsentrasi konversi
energi. Selain itu, dia juga ingin hasil penelitiannya bermanfaat bagi masyarakat.

"Tujuan awalnya kami ingin menciptakan alat pembangkit listrik rumah tangga
sederhana untuk memenuhi kebutuhan di desa yang dapat disimpan dalam
bentuk baterai," katanya.

Pengangkat Sampah Tenaga Air

Dalam peristiwa banjir di Indonesia kerap terlihat sungai-sungai dipenuhi sampah. Beberapa
sungai itu dipasangi pengangkat sampah yang digerakkan oleh generator. Namun, saat banjir,
generator tidak dapat digunakan karena terendam air. Padahal, pada saat itu sampah
terkumpul banyak dan harus dibersihkan.

Hal ini mendorong Mamok Suprapto, dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas
Sebelas Maret (UNS), Solo, menggagas pengangkat sampah yang menggunakan aliran air
sebagai tenaga penggerak. Dengan demikian, tidak perlu generator dan bahan bakar.

Idenya berasal dari alat pengangkat sampah dan kincir air yang lazim digunakan di luar
negeri, tetapi belum banyak dimanfaatkan di Tanah Air. Ia lantas mengajak mahasiswanya
mewujudkan gagasan ini sekaligus sebagai bahan tugas akhir skripsi sarjana S-1 dari Bahroni
dan Alfiyansyah Setia Budi.
Selain itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2000, dari 80.235,87 ton
sampah yang dihasilkan di 384 kota/kabupaten setiap hari, 4,2 persen diangkut dan dibuang
ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), 37,6 persen dibakar, 4,9 persen dibuang ke sungai, dan
53,3 persen tidak tertangani.

Dari hitungan itu ada 3.931,56 ton sampah dibuang ke sungai setiap hari. Selain mencemari
air sungai, sampah juga bisa mengakibatkan banjir karena aliran air terhalang sampah.

Alat pengangkat sampah kreasi Mamok dan mahasiswanya terdiri atas kincir pengangkat
sampah yang digerakkan oleh kincir penggerak. Kincir penggerak terhubung dengan roda
gigi menggunakan tali karet.

Kincir penggerak berputar karena ada aliran air. Bilah kincir dibuat datar. Roda gigi
menggerakkan roda gigi lain yang berukuran lebih kecil yang kemudian menggerakkan poros
kincir pengangkat sampah. Roda gigi kecil menggerakkan kincir pengangkat sampah, tetapi
dengan arah putaran berlawanan arah dengan kincir penggerak. Ini agar sampah dapat
diangkat dan berpindah ke sisi sungai yang berlawanan.

Dari sini kita buatkan talang untuk mengarahkan sampah yang terangkat agar mengalir ke
tepi sungai. Dengan demikian, sampah yang terkumpul di tepi lebih mudah diambil untuk
pengolahan selanjutnya, kata Mamok, Jumat (18/1), di Solo.

Pizoelectric
Untuk mengatasi krisis energi fosil dan mendukung visi pemerintah, maka telah dilakukan
penghematan, pemberdayaan energi fosil yang masih banyak cadangannya seperti batu bara,
dan mencari berbagai energi alternatif. Salah satu energi alternatif yang banyak
dikembangkan saat ini adalah teknologi Piezoelektrik, hal ini dikarenakan Piezoelektrik tidak
memiliki zat buang sehingga tidak mencemari lingkungan hidup, sumbernya tersedia sangat
melimpah, dan mudah untuk diimplementasikan.

Kata piezoelektrik berasal bahasa Latin, piezein yang berarti diperas atau ditekan dan electric
yang bermakna energi listrik, sehingga efek piezoelektrik terjadi dikarenakan medan listrik
yang terbentuk karena material dikenai tekanan mekanik.
Gambar 1. Prinsip Kerja Pizoelektrik (Principles of Measurement System Fourth Edition)

Bahan piezoelektrik ditemukan pertama kali pada tahun 1880-an oleh Jacques dan Pierre
Curie. Bahan piezoelektrik adalah material yang memproduksi medan listrik ketika dikenai
regangan atau tekanan mekanis. Tekanan ini akan mengakibatkan penyesuaian molekul
sehingga material mengalami perubahan dimensi. Perubahan ini menyebabkan dipol
terinduksi dan mampu menghasilkan beda potensial (tegangan). Tegangan ini selanjutnya
dikondisikan oleh jembatan wheatstone, kapasitor, dan resistor, yang kemudian dapat
disimpan di dalam aki. Beda potensial dan aliran muatan yang terjadi dalam suatu waktu
tertentu inilah yang menimbulkan daya listrik yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai sumber
energi listrik. Sebaliknya, jika medan listrik diterapkan, maka material tersebut akan
mengalami regangan atau tekanan mekanis. Bahan piezoelektrik alami diantaranya: Kuarsa
(Quartz, SiO2), berlinite, turmalin dan garam rossel. Bahan piezoelektrik buatan
diantaranya: Barium titanate (BaTiO3), Lead zirconiumtitanate (PZT), Lead titanate
(PbTiO3) dsb.

Dengan teknologi Piezoelektrik, hampir setiap benda yang dapat ditekan dapat
diimplementasikan dengan Piezoelektrik sehingga mampu menghasilkan tegangan listrik.
Aplikasi dari teknologi Piezoelektrik ini sangat banyak, contohnya adalah Piezoelektrik dapat
diimplementasikan di rel kereta api.

Gambar 2. Desain Alat Pemanen Energi Rail Base


(Sumber : PKM GT Panen Energi Listrik dari Rail Base dengan Memanfaatkan Piezoelektrik,
Penulis : I Made Dani, Teknik Fisika FTI-ITS)

Desain di atas merupakan penerapan prinsip konversi energi. Rancangan alat memanfaatkan
dasar rel kereta api dan piezolektrik. Piezoelektrik yang akan digunakan sebagai generator
listrik akan ditanamkan pada rail base atau tumpuan rel. Alasannya adalah tekanan yang akan
diterima sangat besar karena ditimbulkan oleh beban kereta. Selain itu dalam satu rangkaian
kereta terdapat beberapa gerbong, sehingga satu kristal piezoelektrik yang terpasang nantinya
akan menghasilkan listrik tidak hanya sekali dalam waktu singkat namun beberapa kali dalam
waktu yang agak lama sesuai banyaknya gerbong kereta yang melintas. Akibatnya total
jumlah energi listrik yang dihasilkan akan semakin besar. Bahan yang akan digunakan
sebagai piezoelektrik adalah kristal kuarsa (SiO2). Kuarsa dipakai sebagai material elektrik
disebabkan karena modulus elastisitasnya tinggi, frekuensi resonansinya tinggi mulai dari
0,25 sampai 0,50 MHz, dan sensitivitasnya relatif tinggi. Karena piezoelektrik juga sensitif
terhadap perubahan temperatur selain sensitif terhadap tekanan, maka dari itu perlu ditambah
rangkaian jembatan wheatstone agar tidak mempengaruhi tegangan listrik yang dihasilkan.
Keluaran dari rangkaian tersebut dihubungkan ke device penyimpan seperti aki, sebelum
digunakan.

Implementasi lainnya dari teknologi Piezoelektrik adalah pemasangannya di Jalan Raya


(untuk supply energy listrik pada lampu lalu lintas) dan lain sebagainya. Dikarenakan tidak
menimbulkan polusi dan kerusakan lingkungan dalam penggunaannya, maka Piezoelektrik
sangat potensial untuk terus dikembangkan sehingga dapat menjadi pemanen energi listrik di
masa depan. Untuk mengembangkan Piezoelektrik tersebut dibutuhkan disiplin ilmu seperti
matematika, fisika bahan, kimia, mekanika, yang dapat diperdalam di jurusan Teknik Fisika
dan Ilmu Komputasi.

Mengubah Limbah Plastik Menjadi BBM, Solusi Energi


Alternatif
Didasari kegelisahan atas tumpukan limbah plastik di banyak kota, Tri Handoko
menelurkan inovasi luar biasa, ribuan ton limbah plastik yang menggunung di
tempat pembuangan akhir (TPA) kota Madiun, Jawa Timur, diubahnya menjadi
bahan bakar minyak bernilai jual, seperti solar dan premium, dengan teknologi
tepat guna.

Inovasi Tri Handoko tersebut menginspirasi hingga lintas daerah. Pemerintah


Kota Denpasar dan Pemerintah Kabupaten Banjarmasin pun melakukan studi
banding. Sejumlah pengusaha menawarkan kerja sama bisnis.

Tri adalah pengajar listrik dasar dan elektrolisis pada Sekolah Menengah Kejuruan
Negeri (SMKN) 3 Kota Madiun. Peraih gelar master Mekatronika Institut Teknologi
Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini memulai riset ketika terlibat dalam tim
peneliti bahan bakar minyak (BBM) alternatif berbahan dasar air yang
menghebohkan Indonesia tahun 2008. Saat itu, ia mulai belajar hidrokarbon
hingga memperdalam metode pengguntingan rantai karbon. Kemudian, ia
merancang teknologinya. Sistem kerja yang digunakan adalah pirolisis atau
destilasi kering. Limbah plastik dipanaskan di atas suhu leburnya sehingga
berubah jadi uap.

Proses pemanasan ini menyebabkan perekahan pada molekul polimer plastik


menjadi potongan molekul yang lebih pendek. Selanjutnya, molekul-molekul ini
didinginkan jadi fase cair.

Cairan yang dihasilkan jadi bahan dasar minyak atau minyak mentah. Dengan
destilasi ulang menggunakan temperatur berbeda, yakni mengacu pada titik
uap, minyak mentah diproses menjadi premium atau solar. Jika suhu
pemanasan yang digunakan di atas 100 derajat celsius, yang dihasilkan adalah
zat yang mendekati atau memiliki unsur sama dengan premium. Tinggal
mengembunkan lagi uapnya, kita dapat premium, ujarnya.

Konsep dasarnya mengambil unsur karbon (C) dari polimer penyusun plastik.
Polimer tersusun dari hidrokarbon, yakni rangkaian antara atom karbon (CO2)
dan hidrogen (H2O). Untuk menghasilkan premium perlu rantai hidrokarbon
dengan molekul lebih pendek, yakni C6-C10. Untuk menghasilkan minyak tanah
dan solar perlu rantai hidrokarbon dengan molekul lebih panjang, yakni C11C15
(minyak tanah) dan C16-C20 (solar).
Pada proses akhir perlu refinery, yakni pengolahan bahan baku minyak menjadi
minyak siap digunakan. Caranya, dengan mencuci, penambahan aditif,
mereduksi kandungan gum atau zat beracun, dan mengklasifikasikan atau
mengelompokkan berdasarkan panjang rantai hidrokarbon. Untuk memproses
limbah plastik menjadi bahan bakar yang dikehendaki perlu alat. Sekilas, bentuk
alat mirip tripod kamera atau handycam dengan sejumlah kaki penopang. Yang
diutamakan adalah fungsinya.

Bagi Tri, alat tak harus menggunakan material berkualitas tinggi. Alat bisa
dibangun dari material bekas, disesuaikan kemampuan pembuat dan kapasitas
limbah yang akan diolah. Alat yang dipakai bisa berbiaya Rp 650.000 hingga Rp
100 juta, tergantung kebutuhan.

Alat terdiri atas saluran pemasukan atau intake manipul dari besi. Fungsinya,
memasukkan sampah plastik ke dalam tangki reaktor di atas tungku pembakar.
Bahan bakarnya bisa limbah kayu bekas atau gas elpiji. Bahkan, juga gas metan
hasil pembakaran sampah sehingga lebih ekonomis. Untuk memperoleh uap,
tangki reaktor dihubungkan kondensor atau pengembun yang berada di atas
tangki. Diperlukan minimal dua kondensor untuk memisahkan uap yang
mengandung rantai molekul pendek dengan uap yang mengandung rantai
molekul panjang. Penyaluran uap ini menggunakan pipa besi sehingga tahan
suhu tinggi atau panas.

Selanjutnya, pada setiap kondensor dipasang pipa penyalur untuk mengalirkan


embun dari uap yang dihasilkan. Tetes demi tetes embun ditampung dalam botol
sebelum proses refinery. Begitulah rangkaian proses pembuatan minyak
berbahan limbah plastik. Satu kg limbah plastik menghasilkan 1 liter bahan
dasar minyak atau minyak mentah. Ketika diolah jadi premium atau solar,
hasilnya tinggal 0,8-0,9 liter. Kotoran yang melekat pada plastik turut
memengaruhi. Demikian pula kualitas plastik yang dipakai. Makin bagus kualitas
plastik yang diolah, makin tinggi pula hasil yang didapat.

Sejauh ini, alat terbesar yang diaplikasikan di tempat pembuangan akhir


berkapasitas 15 meter kubik per hari. Dana pembuatan alat ini sekitar Rp 50
juta, termasuk biaya destilasi ulang atau refinery secara terpisah.

Hasil uji laboratorium SMKN 3 Kota Madiun menunjukkan, solar limbah plastik
menghidupkan mesin pemotong rumput. Meski belum diuji coba pada kendaraan
bermotor, premium limbah plastik telah diuji kromatografi gas pada laboratorium
PT Sucofindo. Kepala SMKN 3 Kota Madiun Sulaksono Tavip Rijanto mengatakan,
inovasi itu memenangi kompetisi Teknologi Tepat Guna tingkat kota, dan
dipamerkan pada Toyota Eco-Youth VI Jakarta.

Manfaat yang lebih diharapkan dari inovasi adalah membantu mengatasi


masalah lingkungan, meningkatkan taraf hidup masyarakat, dan tawaran solusi
mencari energi alternatif.

Listrik dari Rumput Laut


Pada zaman yang serba canggih sekarang ini dan
mobilitas yang semakin tinggi, tentu konsumsi energi semakin
meningkat, namun persediaan energi khususnya energi
berbahan baku fosil semakin menipis. Persediaan minyak
bumi dan batu bara sangat terbatas dan memerlukan waktu jutaan tahun untuk kembali terbentuk. Jika
dihitung, ketersediaan energi yang ada, dengan rata-rata produksi saat ini, maka diperkirakan minyak
bumi hanya mampu bertahan sekitar 24 tahun, gas hanya cukup bertahan sampai 59 tahun. Sementara
itu, batu bara berkisar 93 tahun. Selain jumlahnya yang sangat terbatas, penggunaan bahan bakar fosil
juga berdampak buruk bagi lingkungan karena dapat menimbulkan polusi udara. Oleh karena itu perlu
adanya suatu energi alternatif terbarukan serta ramah lingkungan sehingga dapat mengatasi dua
masalah sekaligus yaitu penyediaan sumber energi dan permasalahan pemanasan global. Salah satu
sumber energi terbarukan dan ramah lingkungan yang sangat prospektif yaitu berbahan baku rumput
laut. Rumput laut dapat diolah menjadi bioethanol. Caulerpa serrulata dan Gracilaria verrucosa
merupakan spesies rumput laut yang dapat menghasilkan bioetanol. Jenis ini memiliki kandungan
selulosa yang dapat dihidrolisis menjadi glukosa yang selanjutnya dapat diubah menjadi bioetanol.

Maka dari itu, kini pemerintah menggalakkan budidaya rumput laut besar-besaran sejak tahun 2010.
Payung hukum budi daya rumput laut menjadi sumber energi adalah Undang-Undang Nomor 30
Tahun 2007 tentang Energi yang mengamanatkan pemerintah wajib menyediakan energi terbaru dan
terbarukan sebagai bagian dari diversifikasi energi.

1. Proses pembuatan ethanol dari rumput laut melalui tiga tahapan, yaitu :
Persiapan bahan baku
Dalam tahap ini pati yang berupa selulosa akan dihidrolisis menjadi glukosa.
2. Fermentasi
Pada tahap ini, glukosa yang dihasilkan dari proses hidrolisis kamudian difermentasikan
sehingga menghasilkan ethanol (C2H5OH) dan CO2.
3. Distilasi
Tahap ketiga yaitu pemurnian hasil dengan cara distilasi. Sebelum distilasi, perlu dilakukan
pemisahan antara padatan dengan cairan, untuk menghindari terjadinya penyumbatan selama
proses distilasi. Distilasi dilakukan untuk memisahkan etanol dengan air. Titik didih etanol
murni adalah 78C sedangkan air adalah 100C untuk kondisi standar. Dengan memanaskan
larutan pada suhu rentang 78 - 100C akan mengakibatkan sebagian besar etanol menguap,
dan melalui unit kondensasi akan bisa dihasilkan etanol dengan konsentrasi 95% volume.

Rumput laut sebagai bahan bakar nabati alternatif memiliki banyak keuntungan bila dibandingkan
dengan jenis komoditas lainnya, yaitu :

1. Ketersediaan lahan budidaya


Keuntungan mengembangkan energi berbahan baku rumput laut yaitu, proses pembudidayaan
rumput laut tidak mengurangi lahan pertanian pangan karena tidak memerlukan lahan darat.
Selain itu, ketersediaan lahan budidaya rumput laut lebih luas dari pada komoditas lain seperti
tebu, jagung jarak dan lain sebagainya. Indonesia sebagai Negara kepulauan yang daerahnya
terdiri dari 2/3 lautan dan memiliki panjang pantai sekitar 81.000 km memiliki potensi besar
untuk membudidayakan rumput laut. Indonesia memiliki luas area untuk kegiatan budidaya
rumput laut seluas 1.110.900 ha, tetapi pengembangan budidaya rumput laut baru
memanfaatkan lahan seluas 222.180 ha sekitar 20% dari luas areal potensial.
2. Waktu panen relatif lebih singkat
Budi daya rumput laut cukup bermodalkan tali memanjang sebagai pengikat bibit, kemudian
rumput laut dapat dipanen antara 45 hari sampai 3 bulan setelah disemai. Masa panen rata-
rata rumput laut adalah dua bulan, sehingga dapat dipanen 6-7 kali dalam satu tahun.
3. Dapat memproduksi bioethanol yang lebih banyak
Rumput laut sebagai biodiesel dinilai lebih kompetitif dibandingkan komoditas lainnya. 1
hektar lahan rumput laut dapat menghasilkan 58.700 liter (30% minyak) pertahunnya, jumlah
tersebut sangat besar dibandingkan jagung yang menghasilkan 172 liter/tahun dan kelapa
sawit yang menghasilkan 5.900 liter/tahun.
4. Lebih ekonomis
Biaya produksi bioetanol dari rumput laut lebih murah dibanding dari komoditas lain yang
mengandung lignin kayu sehingga proses pengolahannya tidak dibebankan oleh penanganan
pendahuluan proses. Sehingga proses pengolahan yang lebih mudah dan biaya pun dapat lebih
murah. Hal ini juga berimbas pada harga pemasaran Bahan Bakar Nabati rumput laut yang
berpotensi bisa lebih murah dibandingkan yang lain.
Sebuah peluang besar pengembangan energi alternatif di masa depan yang dimiliki oleh
Bangsa ini. Sebuah peluang untuk lepas dari ketergantungan sumber energi fosil yang pasti
habis dan tak terbarukan. Penemuan sumber energi terbarukan bioethanol rumput laut ini
diharapkan secara bertahap dapat menghentikan ketergantungan konsumen Indonesia
khususnya terhadap bahan bakar fosil serta dapat pula menjadi salah satu solusi dari isu
pemanasan global sekarang ini.
Shoe Power Generator
Menanggapi isu global warming dan masalah energi masa depan, saat ini inovasi-inovasi di
bidang energi terbarukan mulai banyak dikembangkan. Mulai dari yang berskala besar seperti
pembangkit tenaga nuklir, geotermal, angin, surya yang diharapkan dapat menggantikan
bahan bakar minyak hingga inovasi yang bersifat kecil-kecilan untuk pemanfaatan energi
sehari-hari.

Dr. Ville Kaajakari, seorang asisten profesor Departemen Teknik Elektro di Universitas
Louisiana Tech, memiliki ide untuk memanfaatkan kegiatan yang paling sering dilakukan
manusia yaitu berjalan untuk menghasilkan energi. Inovasi yang dikembangkan oleh
Kaajakari adalah sebuah prototipe generator piezoelektrik yang cukup kecil sehingga dapat
dipasang pada sol sepatu yang didesain dapat menghasilkan cukup energi untuk
mengoperasikan perangkat ringan seperti GPS, sensor lari (running sensors), RF Transponder,
hingga telepon selular. Inovasi tersebut dinamakan Shoe Power Generator.

Ilustrasinya dapat dilihat pada gambar berikut :

(Credit: Image courtesy of Louisiana Tech University)

Pada prototipe ini digunakan tranduser piezoelektrik, piezoelektrik akan menghasilkan


muatan listrik ketika diberi gaya (contohnya ditarik, ditekan). Pieoelektrik ini dipasang pada
bagian sol sepatu, sehingga ketika seseorang berjalan, tekanan yang diterima oleh sepatu
dapat menghasilkan energi listrik melalui tranduser piezoelektrik tersebut. Piezoelektrik
sangat cocok digunakan untuk menghasilkan energi pada prototipe ini dikarenakan
piezoelektrik tidak memerlukan tegangan bias untuk beroperasi.

Pada umumnya material yang digunakan untuk tranduser piezoelektrik bersifat keras
sehingga tidak cocok untuk dipakai pada prototipe sepatu yang didesain Dr. Kaajakari karena
akan menyebabkan perasaan tidak nyaman bagi pengguna sepatu. Tidak seperti tranduser
keramik pada umumnya, tranduser yang digunakan oleh Dr. Kaajakari berbahan dari polymer
yang memiliki permukaan metal untuk kontak elektrikal. Dikarenakan berbahan dari plastik,
tranduser tersebut bersifat lembut sehingga dapat menggantikan absorber getaran pada sepatu
biasa tanpa menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi pengguna sepatu tersebut.

Tantangan yang dihadapi dalam penghasilan energi melalui piezoelektrik yaitu material
piezoelektrik optimum untuk menghasilkan tegangan tinggi tetapi hanya memberikan arus
output yang kecil. Polymer yang digunakan pada prototipe sepatu ini menghasilkan lebih dari
5 mJ energi tiap langkahnya namun pada tegangan yang terlalu besar (lebih dari 50 V) untuk
langsung digunakan pada perangkat bertenaga rendah.

Suatu terobosan dalam generasi piezoelektrik yaitu sirkit regulasi tegangan yang
dikembangkan di Universitas Lousiana Tech yang dapat mengkonversi tegangan yang
dihasilkan piezoelektrik menjadi tegangan yang dapat digunakan secara effisien. Sirkit
tersebut mengkonversi tegangan yang tinggi menjadi tegangan output 3 V yang dapat
digunakan untuk men-charge baterai ataupun digunakan langsung untuk menjalankan
perangkat elektronik ringan dengan efisiensi konversi lebih dari 70 %. Kemudian
dikombinasikan dengan tranduser polimer, sirkit regulasi tersebut dapat menghasilkan daya
rata-rata sebesar 2 mW per sepatu saat berjalan biasa. Dengan daya tersebut, prototipe ini
mampu memberikan cukup daya untuk menjalankan perangkat yang hanya membutuhkan
daya dengan skala mW, seperti sensor MEMS (Micro Electro Mechanical Systems) dan alat
pendeteksi lokasi seperti GPS.

Dr. Ville Kaajakari menyebutkan bahwa teknologi ini dapat menguntungkan, misalnya
pendaki gunung yang membutuhkan enregi untuk perangkat penanda lokasi. Sedangkan
untuk penggunaan yang lebih umum, teknologi tersebut dapat digunakan untuk menjalankan
perangkat portabel tanpa memboroskan baterai. Pada akhirnya teknologi ini diharapkan dapat
dikembangkan hingga mencapai level tertentu dimana kita dapat menggunakan daya yang
dihasilkan untuk men-charge ataupun menjalankan perangkat portabel seperti telepon
genggam.
SOLAR CELL TOWER

Energi terbarukan akan selalu menjadi isu yang sangat seksi untuk dibicarakan. Bagaimana
tidak, disetiap kehidupan manusia pastilah membutuhkan apa yang namanya energi. Dari mulai
kebutuhan sehari-hari, primer, sekunder, tersier maupun quartener semuanya butuh energi.
Apalagi dengan populasi manusia yang semakin banyak, hm.. tentu saja akan membuat
kebutuhan energi meningkat. Sementara disisi lain ketersediaan energi dari bahan bakar berbasis
fosil berkurang setiap harinya.
Tentu saja disetiap masalah pastilah ada solusinya. Yup.. hanya ada 1 jawaban untuk
menyelesaikan masalah energi tersebut. Memperbanyak sumber energi dari energi terbarukan
adalah jawabannya. Dan alam pun sudah banyak menyajikan berbagai macam energi terbarukan
yang siap kita panen tiap harinya. Salah satunya adalah sinar matahari.

Kenapa harus sinar matahari?? Sebenarnya tidak harus dari sinar matahari sih, tetapi Indonesia
sendiri adalah negara tropis dan memiliki disinari oleh matahari tiap harinya dengan intensitas
yang cukup tinggi. So, kenapa kita tidak memanfaatkannya??

Kelemahan Sistem Solar Cell


Solar cell sendiri menghasilkan output energy yang cukup lemah. Maklum saja energi yang dapat
dipanen dari cahaya matahari memang tidak banyak. Tetapi apabila kita menggabungkan
banyak solar cell dengan out put kecil tersebut maka kita akan mendapat daya cukup besar untuk
memenuhi kebutuhan kita.
Tetapi, apabila kita menggabungkan banyak solar cell untuk mendapatkan daya, timbul masalah
lagi. Yup.. lahan. Ketika kita memperbanyak solar cell maka kita akan menghabiskan lahan yang
cukup banyak. Selain itu matahari juga posisinya berpindah-pindah tiap waktunya sehingga
paparan dari matahari tidak akan maksimal.

Teknologi Sederhana Optimalisasi Solar Cell


MIT sebagai institut terkemuka di dunia terutama di bidang engineering ternyata memiliki
jawaban atas permasalahan ini. Engineer mereka berhasil menciptakan sistem solar cell yang
tidak hanya menghemat tempat tetapi juga dapat memperkuat output solar cell hingga 20x lipat.

Sistem ini sangatlah sederhana. Mereka membuat 3D solar cell tower system. Yup.. solar
cell yang dipasang tidak hanya mendatar tetapi vertikal keatas dan berlenggok-lenggok seperti
akordeon. Dengan sistem ini, solar cell tidak akan menghabiskan tempat, selain itu juga akan
mendapat energi dari sinar matahari secara optimal meskipun posisi matahari selalu berpindah-
pindah.
Sistem perhitungan sudut dan tinggi dilakukan dengan software komputasi. Software tersebut
akan menghitung sudut optimal, luas optimal dan tinggi optimal yang dapat digunakan untuk
memanen sinar matahari sebanyak-banyaknya.

Pemanfaatan ke depan
Salah satu penemu sistem ini bernama Jeffrey Grossman menyatakan bahwa sistem ini dapat
digunakan untuk merecharge mobil listrik. Potensi mobil listrik sebagai mobil masa depan sudah
mulai terlihat. Dengan memasang 3D solar cell tower di parkiran mobil, akan dapat membantu
merecharge mobil listrik untuk mengisi energi ketika diparkir.
Bagaimana teknologi yang simple bukan?? Meskipun simple teknologi ini bisa dibilang sebagai
teknologi jenius. Mungkin di Indonesia juga bisa diaplikasikan teknologi seperti ini. Hal ini
mengingat negara kita mempunyai sinar matahari yang sangat melimpah dan siap kita panen.

SOLAR POND
Awal Februari ini, Jurusan Teknik Elektro ITS kembali
mengirimkan dutanya di National Innovation Contest,
Mechanical Festival (MFest) 2013 ITB, tepatnya pada kategori
Kontes Inovasi Teknologi Antar Mahasiswa. Dalam kompetisi
tersebut, ITS mewakilkan 4 tim diantara 20 finalis dalam
kategori tersebut, dan dua diantaranya berasal dari Jurusan
Teknik Elektro ITS. Salah satu dari tim tersebut adalah
Portable Mini Solar Pond : Inovasi Pembangkit Listrik Portable
Berteknologi Kolam Surya (Solar Pond) untuk Skala Rumah
Tangga, yang beranggotakan Mochammad Wahyudi
,Ardiansyah dan Andhika Pramalistyanto (Desain Produk ITS).
Pembangkit listrik alternatif ini dilatar belakangi oleh
penumpukkan garam di Pulau Madura serta rasio elektrifikasi
dari pulau tersebut yang masih dibawa rata-rata nasional yakni
48,67. Karya yang dibimbing oleh Ir. H. Syariffuddin
Mahmudsyah, M.Eng, ini memanfaatkan perbedaan suhu pada
kolam garam untuk membuat siklus amoniak yang berfungsi
sebagai penggerak generator. Walaupun belum berhasil
menyabet juara dalam lomba ini, akan tetapi karya menjadi
inovasi baru dalam bidang sumber tenaga terbarukan karena
masih memerlukan penelitian yang lebih untuk
pengembangannya terutama di Indonesia.

SolaRoad, Jalan Raya sebagai Solar PowerBank

Inovasi energi alternatif Belanda salah satunya berfokus pada energi


matahari ketika terjadi peningkatan eksplosif pada penggunaan tenaga
matahari di negara oranye ini . Pemanfaatan energi matahari sendiri jika
kita amati sebenarnya merupakan bentuk pemanfaatan energi terbarukan
yang paling sederhana sebab tidak memerlukan proses yang rumit untuk
mengubahnya menjadi tenaga listrik, cukup dengan menggunakan panel
surya yang dihadapkan pada terik matahari.

Pada umumnya kita menemukan panel surya diletakkan di atap-atap


rumah ,perusahaan energi, atau di atas lampu penerangan jalan raya.
Padahal terik matahari sebenarnya tidak hanya mengenai permukaan-
permukaan tertentu. Faktanya terik matahari mengenai seluruh
permukaan bumi selama tidak terhalang langit malam serta iklim dan
cuaca yang menghalangi sinar matahari. Oleh sebab itu tidak sepatutnya
sumber energi satu ini ditelantarkan begitu saja.

=Bagaimana cara menangkap dan memanfaatkan energi surya ini


sebanyak-banyaknya? Belanda memiliki SolaRoad sebagai inovasi
pertama didunia yang meletakkan panel surya di jalur sepeda dengan
dilapisi kaca tembus cahaya setebal 1 cm. Nah perbedaannya dengan
Solar Roadways, fungsi SolaRoad adalah memproduksi energi untuk
kebutuhan rumah tangga dan transportasi. Sementara energi yang
dihasilkan Solar Roadways hanya digunakan untuk menerangi jalan di
malam hari. Oleh sebab itu tak mengherankan jika SolaRoad adalah
teknologi pertama di dunia yang memanfaatkan jalan raya sebagai media
penghasil energi listrik yang dapat dirasakan manfaatnya bagi semua
orang.

Cara kerja SolaRoad adalah menangkap sinar matahari melalui panel


surya di jalan dan menyalurkannya pada tempat yang membutuhkan
energi seperti di rumah ,lampu jalan raya, atau transportasi elektrik yang
melintas. Ide yang cukup sederhana namun menghasilkan banyak energi.
Bayangkan jika teknologi SolaRoad ini digunakan pada daerah yang terik
seperti di negara Afrika Utara atau kota-kota di Indonesia yang seringkali
tertimpa terik matahari maka akan meningkatkan produksi energi bahkan
memungkinkan ekspor energi yang tentu akan berdampak baik bagi
ekonomi nasional. Media Guardian mengatakan If all the roads in the US
were converted to Solar roadw ays , the Solar Roadw ays website claims ,
the country would generate three times as much energy as it currently
uses and cut greenhouse gases by 75 percent.

Tentunya masih ada beberapa kekurangan yang harus diperbaiki dalam


inovasi SolaRoad. Pertama, energi yang dihasilkan SolaRoad masih lebih
rendah 30% dibandingkan dengan panel surya yang dipasang di atap
rumah. Sehingga efisiensi SolaRoad perlu ditingkatkan. Kedua, ketebalan
lapisan kaca yang digunakan belum cukup resisten terhadap resiko
kerusakan jalan yang dapat merusak kinerja panel surya. Ketiga, besarnya
biaya pemasangan panel surya sebab teknologi yang masih terbilang
baru.

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GARAM


Mencari alternatif sumber energi merupakan suatu penelitian yang saat ini terus digagas oleh
para ilmuwan. Mereka semua merasa khawatir sumber energi yang telah digunakan selama
ini akan habis sehingga mereka berusaha mencari inovasi-inovasi baru yang
bermanfaat. Beberapa pembangkit listrik yang telah ditemukan di antaranya adalah nuklir,
udara, air, panas bumi, gravitasi bumi, magnet, serta cahaya matahari. Dan penemuan baru
yang ditemukan oleh para ilmuwan berjasa tersebut adalah pembangkit listrik tenaga garam.

PRINSIP KERJA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GARAM


Penemuan sumber energi dengan bahan dasar yang sangat ekonomis merupakan penemuan
cerdas yang perlu diacungi jempol. Penelitian yang ditemukan oleh para ilmuwan dari
Stanford University Amerika Serikat ini memiliki prinsip kerja hampir sama dengan
sebuah baterai konvensional.
Dengan menggunakan baterai galvanis, air garam yang mengandung natrium klorida ini akan
ter-ionisai menjadi ion positif yaitu natrium dan ion negatif yaitu klorida. Dan menjadi
sumber energi yang dapat menghasilkan listrik seperti nyala lampu pada percobaan yang
dilakukannya, dengan waktu yang lama.
Percobaan awal yang dilakukan adalah dengan menggunakan air garam dengan volume 200
ml dan hasilnya adalah sebuah lampu dapat menyala selama kurang lebih 8 jam. Namun,
setelah 8 jam, baterai tersebut harus diganti dengan yang baru karena sudah tidak dapat
menghasilkan listrik dalam waktu 6 bulan ke depan.

TEKNOLOGI TERMOELEKTRIK (Pemanfaatan Energi Panas menjadi


energi Listrik)

Pada tanggal 5 September 1977, NASA meluncurkan Voyager 1 yang dirancang khusus
untuk terbang menjauhi tata surya sehingga solar cell tidak dapat dipergunakan. Dalam
menempuh perjalanan yang tak terbatas itu diperlukan pula energi listrik yang besar dan
stabil untuk mengirimkan data ke Bumi. Voyager menggunakan generator listrik RTG
(Radioisotop Thermoelectric Generator) dengan plutonium-238 yang memanfaatkan
teknologi termoelektrik. Sistem ini mampu membangkitkan listrik sebesar 400 W, serta
secara kontinu dan tanpa perawatan apa pun, Voyager tetap dapat mengirimkan data walau
sudah terbang selama 30 tahun.

Apakah termoelektrik itu?

Teknologi termoelektrik adalah teknologi yang bekerja dengan mengkonversi energi panas
menjadi listrik secara langsung (generator termoelektrik), atau sebaliknya, dari listrik
menghasilkan dingin (pendingin termoelektrik). Untuk menghasilkan listrik, material
termoelektrik cukup diletakkan sedemikian rupa dalam rangkaian yang menghubungkan
sumber panas dan dingin. Dari rangkaian itu akan dihasilkan sejumlah listrik sesuai dengan
jenis bahan yang dipakai.

Prinsip kerja dari termoelektrik adalah dengan berdasarkan Efek Seebeck yaitu jika 2 buah
logam yang berbeda disambungkan salah satu ujungnya, kemudian diberikan suhu yang
berbeda pada sambungan, maka terjadi perbedaan tegangan pada ujung yang satu dengan
ujung yang lain ( Muhaimin, 1993).

Gambar 3. Thermoelectric conversion material


Untuk keperluan pembangkitan lisrik tersebut umumnya bahan yang digunakan adalah bahan
semikonduktor. Semikonduktor adalah bahan yang mampu menghantarkan arus listrik namun
tidak sempurna. Semikonduktor yang digunakan adalah semikonduktor tipe n dan tipe p.
Bahan semikonduktor yang digunakan adalah bahan semikonduktor ekstrinsik. Terdapat tiga
sifat bahan termoelektrik yang penting, yaitu :
1. Koefisien Seebeck (s)
2. Konduktifitas panas (k)
3. Resistivitas ()

Turbin Angin Vertikal, Inovasi Teknologi Hemat


Energi
INOVASI teknologi turbin angin vertikal menambah jajaran penemuan
teknologi untuk menghemat energi migas yang makin menipis. Turbin
angin vertikal tersebut dibuat dalam jenis dan fungsi yang berbeda-beda
itu ditampilkan pada pameran di ITB.

Ada turbin angin tipe Savonius dan turbin angin tipe H. Satu temuan lain
adalah pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) mikro berbasis turbocharger.

Inovasi-inovasi ini lahir dari pemikiran Dr. Ir. TA Fauzi Soelaiman, peneliti di
Laboratorium Termodinamika Pusat Rekayasa Industri Institut Teknologi
Bandung (PRI ITB).

Turbin angin tipe Savonius sendiri digunakan pada lampu-lampu


penerangan di jalan tol. Lampu-lampu jalan tol tidak perlu lagi
menggunakan listrik. Cukup dengan turbin angin Savonius ini, lampu akan
menyala, kata Daniel Surya, mahasiswa Teknik Mesin ITB, salah satu
mahasiswa yang aktif membantu proyek inovasi dosen di PRI ITB.

Cara kerja turbin Savonius ini adalah dengan memasangkan turbin angin
pada lampu jalan. Energi listrik didapatkan dari proses mekanika yang
terjadi akibat turbin yang bergerak karena angin.

Inovasi kedua, yaitu turbin tipe H, dipasangkan pada pemancar-pemancar


telekomunikasi. Pemancar telekomunikasi biasanya harus diisi bahan
bakar tiap hampir satu jam sekali. Itu adalah sesuatu hal yang tidak
efektif. Mengapa kita tidak menciptakan alat yang membuat pemancar itu
mendapatkan energi listriknya sendiri? kata Daniel.

Daniel menjelaskan, turbin angin tipe H yang menggunakan sirip air foil
tipe lift ini akan berputar karena angin dan menyebabkan pemancar
mendapatkan energi listrik sendiri. Turbin angin ini tidak serta merta bisa
bergerak sendiri.

Menurut Daniel, harus ada yang membuat turbin angin ini berputar.
Inilah gunanya turbin angin Savonius. Angin yang bergerak teratur akan
menggerakkan turbin angin tipe H ini, katanya.

Mahasiswa teknik ini menambahkan, inovasi-inovasi ini memang perlu


diteliti lebih lanjut agar lebih efisien. Walaupun turbin-turbin angin ini
sudah lebih efisien ketimbang turbin angin horizontal yang berukuran
besar seperti di Belanda.

DAFTAR PUSTAKA
http://nasional.kompas.com/read/2008/10/24/16324697/wah....jerami.bisa.
hasilkan.listrik

http://www.penggagas.com/inovasi-3d-tower-solar-cell-system-ini-dapat-
meningkatkan-output-20x-lipat/

http://www.jasuda.net/litbangdtl.php?ID=574

http://www.arah.com/article/14336/luar-biasa-listrik-dari-pohon-
kedondong-ciptaan-anak-aceh.html

http://abi-blog.com/pembangkit-listrik-tenaga-garam/

http://www.indoenergi.com/2012/03/teknologi-batubara-bersih.html

http://www.alpensteel.com/article/116-103-energi-angin--wind-turbine--
wind-mill/318-turbin-angin-vertikalinovasi-teknologi-hemat-energi

https://m.tempo.co/read/news/2012/07/30/061420043/baterai-air-solusi-
alternatif-atasi-krisis-listrik

http://tf-holic.blogspot.co.id/2012/08/apsifest-2012-ajang-bergengsi-
untuk.html
http://lembagaenergihijau.blogspot.co.id/2011/12/mengubah-limbah-
plastik-menjadi-bbm.html

http://hwc2015.nvo.or.id/258-inovasi-sederhana-mampu-mengubah-dunia/

http://www.jitunews.com/read/18357/wow-belimbing-wuluh-ternyata-bisa-
hantarkan-listrik-lho-cek-disini

http://blue-cat-ita.blogspot.co.id/2009/08/pembangkit-listrik-tenaga-
magnet.html

http://www.harianjogja.com/baca/2016/06/16/inovasi-mahasiswa-
mahasiswa-umy-ciptakan-dragtor-alat-penghemat-listrik-dan-bbm-pada-
mobil-729491

https://www.unimap.edu.my/index.php/my/berita-malay/166-inovasi-
generator-berasaskan-tenaga-solar-boleh-ubah-raih-anugerah-best-
invention-di-itex-2015

http://intelektualmudajogja.blogspot.co.id/2011/12/inovasi-mikro-bubble-
generator-untuk.html

http://majalahenergi.com/forum/energi-baru-dan-terbarukan/bentuk-
energi-baru/shoe-power-generator-berjalan-sambil-menghasilkan-energi

http://www.borneonews.co.id/berita/15757-pembangkit-listrik-non-bbm-
buah-inovasi-smkn-1-mendawai

http://gereports.co.id/post/151460427590/inovasi-mesin-pembangkit-
listrik-ini-lebih-hemat

http://www.indosecuritysystem.com/read/access_control/2016/10/10/1092/
inovasi-dua-mahasiswi-ui-manfaatkan-mobilitas-halte-transjakarta-
sebagai-sumber-energi

https://www.beritateknologi.com/empat-remaja-wanita-afrika-membuat-
generator-listrik-dari-air-kencing-urin/

http://news.okezone.com/read/2013/01/24/372/751052/inovasi-ub-
pembangkit-listrik-bertenaga-suhu

http://majalahenergi.com/forum/energi-baru-dan-terbarukan/energi-
laut/ocean-thermal-energy-conversion-otec

http://mythermodynamicsblog.blogspot.co.id/2015/04/teknologi-
termoelektrik-pemanfaatan.html

http://www.indoenergi.com/2012/07/menghasilkan-listrik-dengan-sel.html

http://www.kopertis12.or.id/2013/01/26/inovasi-dosen-mhs-uns-
pengangkat-sampah-tenaga-air.html

http://www.greeners.co/ide-inovasi/baterai-penghasil-dan-penyimpan-
listrik-untuk-rumah/
http://www.tribunnews.com/tribunners/2014/06/13/inovasi-unik-jepang-
listrik-tenaga-manusia-untuk-industri-kereta-api

http://www.indoenergi.com/2012/07/menghasilkan-listrik-dengan-sel.html

http://benergi.com/energi-magnet-menjadi-solusi-penghematan-listrik

http://www.intipesan.com/2016/12/18/generator-listrik-dari-tanaman-padi/

http://www.dw.com/id/inovasi-bahan-bakar-bio-dari-buah-zaitun/a-
17507132

http://manadopostonline.com/read/2016/06/07/Inilah-Inovasi-Terbaru-
Mahasiswa-Universitas-Muhammadiyah-Surabaya/14619

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2016/02/15/manfaatkan-pegas-
dua-mahasiswa-untag-ini-berhasil-ciptakan-pembangkit-listrik-alternatif

http://www.antaranews.com/berita/590053/mahasiswa-undip-ciptakan-
pembangkit-listrik-tenaga-sampah
http://www.greenpeace.org/seasia/id/campaigns/perubahan-iklim-
global/Energi-Bersih/geothermal/

http://benergi.com/pemanfaatan-energi-gelombang-untuk-pembangkit-
listrik

http://www.alpensteel.com/article/114-101-energi-terbarukan-renewable-
energy/338--energi-pasang-surut-sebagai-energi-terbarukan

http://mizani00.blogspot.co.id/2009/11/energi-biomassa-sebagai-
energi.html

http://baharsyahplubis.blogspot.co.id/2015/08/energi-nuklir-energi-
alternatif.html