Você está na página 1de 19

ANALISIS KEMANDIRIAN KEUANGAN DAERAH

PADA PEMERINTAH DAERAH DIY PASCA DITETAPKANNYA


UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG KEISTIMEWAAN DIY

Oleh : Topaz Mardiarto

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ditetapkannya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang kemudian diubah dengan
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah serta Undang-Undang Nomor 25
Tahun 1999 yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah menjadi sebuah momentum besar dalam sistem
pembangunan nasional. Disahkannya kedua peraturan tersebut membawa dampak yang signifikan
khususnya dalam sistem pembangunan yang diwujudkan dalam pemberlakukan otonomi daerah.
Sebagai daerah otonom, pemerintah daerah mempunyai kewenangan dan tanggung jawab
menyelenggarakan kepentingan masyarakat berdasarkan prinsip keterbukaan, partisipasi
masyarakat dan pertanggungjawaban kepada masyarakat.
Terkait dengan hal tersebut Halim (2001) menjelaskan bahwa ciri utama suatu daerah yang
mampu melaksanakan otonomi adalah pertama, adanya kemampuan keuangan daerah yang artinya
daerah harus memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber-sumber keuangan,
mengelola dan menggunakan keuangan sendiri yang cukup memadai untuk membiayai
penyelenggaraan pemerintahannya. Kedua, ketergantungan daerah kepada bantuan pusat harus
seminimal mungkin, agar pendapatan asli daerah (PAD) dapat menjadi bagian sumber keuangan
terbesar sehingga peranan pemerintah daerah menjadi lebih besar. Kemampuan suatu daerah yang
digambarkan dalam dua ciri tersebut dapat menjadi penilaian apakah sebenarnya daerah tersebut
mampu melaksanakan pemerintahannya sendiri (otonom) atau malah sebaliknya justru
menghambat perkembangannya.
Pemerintah Daerah DIY selaku daerah otonom tentunya juga memiliki kewajiban dan
tanggung jawab dalam menjalankan pemerintahan agar dapat memberikan pelayanan kepada
masyarakatnya. Dalam hal ini kinerja keuangan Pemerintah Daerah DIY menjadi sebuah gambaran
nyata tentang kemandirian keuangan daerah, dimana seiring perjalanan waktu seharusnya tingkat
ketergantungan kepada pemerintah pusat cenderung semakin menurun dari tahun ke tahun atau
dengan kata lain kemandirian keuangan daerah semakin meningkat. Kondisi tersebut dapat
tercermin dari bagaimana Pemerintah Daerah DIY melaporkan kondisi keuangannya setiap tahun
dalam sebuah Laporan Keuangan yang terdiri dari neraca, laporan realisasi anggaran serta laporan
arus kas.
Laporan Keuangan pemerintah secara umum menginformasikan kepada penggunanya
tentang nilai-nilai total aktiva, total utang, aktiva bersih, total pendapatan, total pengeluaran serta
arus kas masuk dan arus kas keluar. Dari data-data dalam laporan tersebut nantinya kemudian dapat
dianalisis secara lebih mendalam untuk mengetahui bagaimana kondisi keuangan pemerintah
daerah. Adapun Ritonga (2014) mendefinisikan kondisi keuangan pemerintah daerah sebagai
kemampuan keuangan suatu pemerintah daerah untuk memenuhi kewajibannya untuk
mengantisipasi kejadian tak terduga, dan untuk mengeksekusi hak-hak keuangannya secara efisien
dan efektif. Analisis mengenai kondisi keuangan pemerintah daerah menjadi hal yang penting karena
pemerintah daerah adalah penyedia utama layanan publik seperti kesehatan, pendidikan dan
infrastruktur.
Dalam pembahasan ini penulis tidak menganalisis secara keseluruhan komponen-komponen
yang ada dalam Laporan Keuangan Pemerintah Daerah DIY, namun hanya terfokus pada rasio
kemandirian keuangan daerah pasca ditetapkannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang
Keistimewaan DIY. Alasan hanya dipilihnya rasio kemandirian keuangan daerah adalah menurut
penulis hal tersebut merupakan yang paling mudah digunakan sebagai pisau analisis dalam menilai
kondisi keuangan daerah, sedangkan periode waktu yang dipilih adalah pasca ditetapkannya UU
tentang keistimewaan yaitu karena pasca penetapan DIY sebagai daerah istimewa terdapat
konsekuensi-konsekuensi lanjutan yang salah satunya terkait dengan keuangan daerah yaitu
diberikannya dana keistimewaan. Hal ini menjadi menarik untuk dibahas, di satu sisi seperti yang
telah dijelaskan di awal sebagai daerah otonom ketergantungan Pemerintah Daerah DIY terhadap
bantuan pusat harus seminimal mungkin agar Pendapatan Asli Daerah (PAD) dapat menjadi bagian
sumber keuangan terbesar sehingga peranan pemerintah daerah menjadi lebih besar. Namun di sisi
lain, adanya transfer dari pusat dalam bentuk dana keistimewaan sebagai konsekuensi
ditetapkannya DIY sebagai daerah istimewa tentunya akan mempengaruhi rasio kemandirian
keuangan pada Pemerintah Daerah DIY.
Kajian Pustaka
Kemandirian keuangan daerah yang dihitung menggunakan rasio menunjukkan kemampuan
pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan
kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan daerah
yang berasal dari sumber lain, seperti bantuan pemerintah pusat ataupun dari pinjaman. Mahmudi
(2007) secara lebih rinci mengemukakan bahwa rasio kemandirian keuangan daerah dapat dihitung
dengan cara membandingkan jumlah penerimaan Pendapatan Asli Daerah dibagi dengan jumlah
pendapatan transfer dari pemerintah pusat dan provinsi serta pinjaman daerah. Semakin tinggi
angka rasio ini maka menunjukkan bahwa semakin tinggi kemandirian keuangan daerahnya.
Tidak jauh berbeda, CICA (1991) dalam Ritonga (2014) menjelaskan bahwa kemandirian
keuangan daerah adalah suatu kondisi dimana pemerintah daerah tidak rentan terhadap sumber
pendanaan diluar kendalinya atau pengaruhnya, baik dari sumber-sumber nasional maupun
internasional. Untuk memenuhi definisi tersebut maka pembilang dari rasio-rasio dimensi
kemandirian keuangan adalah pendapatan asli daerah, sedangkan penyebut dari rasio-rasionya
adalah total pendapatan. Seperti disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintah Daerah serta Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan
antara pusat dan daerah, pendapatan asli daerah (PAD) terdiri dari pendapatan pajak daerah,
pendapatan retribusi daerah, dividen dari investasi pemerintah daerah serta pendapatan asli daerah
lainnya. Adapun secara lebih mudah maka rasio kemandirian daerah dapat digambarkan sebagai
berikut.

Gambar 1
Rumus Perhitungan Rasio Kemandirian Daerah
Total Pendapatan Asli Daerah
Rasio Kemandirian Daerah =
Total Pendapatan

Setelah diperoleh rasio kemandirian keuangan daerah dengan menggunakan rumus


perhitungan tersebut, maka kemudian dibandingkan dengan pengkategorian yang menggunakan
skala tingkat kemampuan daerah menurut Hersey dan Blanch dalam Halim (2002) yaitu sebagai
berikut.
Tabel 1
Kategori Kemampuan Keuangan Daerah
Kemampuan Keuangan Daerah Kemandirian (%)
Rendah Sekali 0 25%
Rendah 25 50%
Sedang 50 75%
Tinggi 75 100%

PEMBAHASAN
Pasca ditetapkannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY,
sebagaimana diatur dalam Pasal 7 peraturan tersebut dijelaskan bahwa sebagai daerah otonom yang
istimewa Pemda DIY memiliki kewenangan tersendiri dalam mengatur urusan-urusan keistimewaan
meliputi kewenangan dalam tata cara pengisian jabatan, kedudukan, tugas, dan wewenang Gubernur
dan Wakil Gubernur, kewenangan dalam kelembagaan Pemerintah Daerah DIY serta kewenangan
dalam urusan kebudayaan, pertanahan dan tata ruang. Sebagai konsekuensi dari penambahan
kewenangan untuk mengatur urusan-urusan keistimewaan tersebut, maka dalam Pasal 42 diatur
pula mengenai masalah pendanaan yaitu pemerintah menyediakan pendanaan dalam rangka
penyelenggaraan urusan Keistimewaan DIY dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
sesuai dengan kebutuhan DIY dan kemampuan keuangan negara. Dana sebagaimana dimaksud
adalah berupa dana keistimewaan yang diperuntukkan bagi dan dikelola oleh Pemerintah Daerah
DIY yang pengalokasian dan penyalurannya melalui mekanisme transfer ke daerah.
Terkait dengan hal tersebut, pembahasan pertama yang akan dianalisis oleh penulis adalah
bagaimana trend penggunaan dana keistimewaan pada Pemerintah DIY. Hal ini penting menurut
penulis karena trend tersebut dapat digunakan sebagai gambaran untuk melihat seberapa besar
komposisi dana keistimewaan dalam struktur Pendapatan dalam APBD Pemda DIY khususnya pada
Pendapatan Transfer. Sebagaimana diketahui, dana keistimewaan mulai masuk dalam APBD Pemda
DIY sejak tahun 2013 oleh karena itu analisis yang dilakukan oleh penulis adalah pada Laporan
Keuangan Pemda DIY sejak tahun 2013 sampai dengan terakhir tahun 2015. Adapun trend struktur
pendapatan dari dana keistimewaan dapat dilihat dalam tabel yang diolah dari Laporan Keuangan
Pemda DIY berikut ini.
Tabel 2
Realisasi Pendapatan Transfer pada Laporan Keuangan Pemda DIY
Uraian Realisasi Tahun (dalam Rp)
2013 2014 2015
Total Pendapatan Transfer 1.356.662.127.537 1.666.443.974.080 1.795.163.924.136
Dana Keistimewaan 115.696.326.500 357.965.628.003 400.250.905.939

Dari tabel diatas dapat dilihat trend Realisasi Dana Keistimewaan pada Pemda DIY terus
meningkat sejak tahun 2013. Jika dihitung kenaikannya, maka pendapatan dari dana keistimewaan
pada tahun 2014 mengalami kenaikan yang cukup signifikan yaitu mencapai 309% dari tahun
sebelumnya 2013. Begitu pula dengan tahun 2015 kemarin, pendapatan dari dana keistimewaan juga
masih mengalami kenaikan yang cukup signifikan meskipun tidak sebesar tahun sebelumnya yaitu
mencapai 111% dari tahun 2014. Hal ini tentunya juga berpengaruh terhadap semakin meningkatnya
total pendapatan transfer pada Pemerintah Daerah DIY. Apabila dilakukan perhitungan rasio antara
dana keistimewaan jika dibandingkan dengan total pendapatan transfer pada Pemda DIY maka
hasilnya adalah pada tahun 2013 jumlah dana keistimewaan di Pemda DIY jika dibandingkan dengan
total pendapatan transfer adalah sebesar 8,53%. Rasio perbandingan ini terus meningkat seiring
dengan peningkatan jumlah dana keistimewaan yang dimanfaatkan oleh Pemda DIY, dimana pada
tahun 2014 rasio perbandingannya adalah meningkat menjadi sebesar 21,48% dan trus meningkat
menjadi 22,30% pada tahun 2015.
Peningkatan jumlah dana keistimewaan dipengaruhi oleh peningkatan jumlah anggaran
untuk membiayai program-program dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Pemda DIY dalam
menjalankan sejumlah kewenangan urusan-urusan keistimewaan. Jika dilakukan analisis secara
lebih mendalam, urusan dengan alokasi terbesar adalah urusan kebudayaan dimana beberapa
program yang dilaksanakan diantaranya program-program yang terkait dengan pengembangan nilai
budaya, program pengelolaan kekayaan budaya, program pengelolaan keragaman budaya serta
program pengembangan kerja sama pengelolaan kekayaan budaya. Gelontoran dana keistimewaan
pada urusan ini memberikan pengaruh dalam menggeliatnya sektor budaya melalui stimulan-
stimulan atau rangsangan pada potensi seni dan budaya di DIY. Dalam hal seni pertunjukan misalnya,
sejumlah pertunjukan-pertunjukan tradisional secara rutin dipentaskan dengan memberdayakan
seniman-seniman lokal seperti jathilan, tari dan sebagainya. Event-event yang mengangkat
kebudayaan lokal juga marak dipertontonkan diberbagai daerah mulai dari pagelaran wayang kulit,
ketoprak hingga yang bertema lokal seperti event rasulan di Gunungkidul, merti bakpia dengan
mengarak gunungan bakpia, merti desa, parade budaya dan lain sebagainya. Pada beberapa desa di
DIY juga diberikan fasilitas berupa seperangkat gamelan jawa guna melestarikan seni karawitan yang
banyak ditekuni oleh masyarakat jogja. Sebagai kota tujuan wisata secara tidak langsung tentunya
kegiatan-kegiatan tersebut membawa dampak pada meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan di
DIY yang juga memberikan multiplier effect pada perputaran roda perekonomian masyarakat di DIY.
Data dari Dinas Pariwisata DIY menunjukkan bahwa trend jumlah kunjungan wisatawan ke DIY terus
meningkat dan melebihi target setiap tahunnya. Pada tahun 2015 jumlah kunjungan wisatawan
mancanegara ke DIY mencapai 290.000 wisatawan melebihi target yaitu 264.000 wisatawan,
sedangkan jumlah wisatawan nusantara jumlahnya mencapai kurang lebih 3,4 juta wisatawan.
Urusan dengan jumlah anggaran terbesar lainnya adalah urusan pertanahan dan tata ruang.
Persoalan pertanahan di DIY sangat terkait erat dengan keberadaan Sultan Ground (SG) dan
Pakualaman Ground PAG) yang terletak di DIY yang sampai saat ini masih diakui, baik oleh
pemerintah maupun masyarakat. Tanah itu tersebar di 4 (empat) Kabupaten dan Kota Yogyakarta.
Program-program yang dilakukan misalnya ialah pendataan terhadap tanah-tanah tersebut. Untuk
urusan tata ruang sendiri, program-program andalan yang dilakukan ialah penataan ruang di wilayah
DIY berbasis keistimewaan dengan mengedepankan potensi-potensi lokal, misalnya penataan
kawasan budaya kraton, kawasan pakualaman, kawasan budaya kotabaru, dan wilayah-wilayah
bersejarah lainnya diseluruh DIY. Dampak nyata lainnya pada urusan ini ialah pembelian sejumlah
bangunan-bangunan yang bernilai cagar budaya oleh Pemerintah DIY untuk selanjutnya dikelola dan
dilestarikan. Beberapa bangunan yang bernilai sejarah tinggi juga terus dipugar seperti misalnya
Masjid Agung Mataram yang terletak di makam raja-raja di Kotagede serta sejumlah situs-situs
penting yang memiliki nilai sejarah. Kondisi-kondisi tersebut menunjukkan bahwa memang trend
akan kebutuhan untuk memenuhi program-program yang berbasis keistimewaan terus meningkat,
hal ini tentunya berdampak pada anggaran dana keistimewaan yang terus naik setiap tahunnya.
Beranjak pada pembahasan kedua, penulis akan menganalisis rasio kemandirian keuangan
daerah pada Pemda DIY dengan cara membandingkan jumlah penerimaan Pendapatan Asli Daerah
dibagi dengan jumlah pendapatan secara keseluruhan. Penulis mengacu pada rumus perhitungan
yang diungkapkan oleh Ritonga (2014) bahwa rasio kemandirian keuangan daerah diukur dengan
cara membandingkan antara Pendapatan Asli Daerah dengan Total Pendapatan Daerah. Adapun
untuk mengetahui secara lebih rinci mengenai jumlah Pendapatan Asli Daerah dan Total Pendapatan
Daerah periode tahun 2013 sampai 2015 yang diambil dari Laporan Keuangan Pemda DIY dapat
dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 3
Realisasi PAD dan Total Pendapatan Daerah
Uraian Realisasi Tahun (dalam Rp)
2013 2014 2015
Pendapatan Asli Daerah 1.216.102.749.617 1.464.604.954.200 1.593.110.769.595
Total Pendapatan Daerah 2.583.056.763.524 3.139.871.880.417 3.400.014.811.777

Dari tabel di atas apabila dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus kemandirian
keuangan daerah maka akan diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 4
Rasio Kemandirian Keuangan Pemda DIY
Uraian 2013 2014 2015
% Kategori % Kategori % Kategori
Rasio Kemandirian 47,08 Rendah 46,65 Rendah 46,86 Rendah

Pada Tabel 4 terlihat bahwa rasio kemandirian keuangan Pemerintah Daerah DIY termasuk
dalam kategori rendah dengan rata-rata rasio sebesar 47%. Adapun jika dilihat secara trend maka
terjadi penurunan tingkat rasio kemandirian sebesar kurang lebih 1% setiap tahunnya meskipun
tidak signifikan dan masih masuk dalam kategori yang sama yaitu rendah. Penurunan yang terjadi
diakibatkan karena adanya peningkatan jumlah pendapatan daerah yang lain diluar PAD sehingga
rasio perbandingan antara PAD sebagai pembilang dan seluruh pendapatan sebagai penyebut
menjadi semakin kecil. Kondisi kemandirian keuangan yang rendah menunjukkan bahwa
Pemerintah Daerah DIY belum mampu secara maksimal untuk membiayai sendiri semua kegiatan
pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakatnya. Ketergantungan terhadap
sumber-sumber pendapatan yang berasal dari luar PAD dalam hal ini transfer pemerintah pusat
masih cukup tinggi. Namun demikian pada sisi lain, patut diapresiasi pula tingkat pencapaian
kenaikan Pendapatan Asli Daerah pada Pemda DIY dimana pada tahun 2014 terjadi kenaikan sebesar
20,43% dari jumlah sebelumnya yaitu Rp1.216.102.749.617,00 pada tahun 2013 menjadi
Rp1.464.604.954.200,00 pada tahun 2014. Begitu pula pada tahun 2015, jumlah Pendapatan Asli
Daerah Pemda DIY naik sebesar 8,77% menjadi Rp1.593.110.769.595,00 jika dibandingkan dengan
tahun 2014.
Jika dianalisis secara lebih mendalam, kenaikan jumlah PAD pada Pemerintah Daerah DIY
bersumber dari kenaikan pada pendapatan pajak daerah. Hal ini menunjukkan bahwa ada upaya dari
Pemda DIY untuk terus meningkatkan rasio kemandirian keuangan daerahnya yaitu salah satunya
dengan terus mengoptimalkan pemasukan-pemasukan yang bersumber dari PAD. Meningkatnya
pemasukan dari pajak daerah sekaligus menunjukkan bahwa masyarakat DIY turut menyumbang
kontribusi yang signfikan terhadap pelaksanaan pemerintahan pada Pemda DIY. Kondisi ini
menjadikan Pemda DIY harus lebih efektif dan efisien dalam setiap pelaksanaan program-program
dan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan, serta lebih akuntabel dalam penggunaannya sebagai
bagian dari mempertanggungjawabkan anggaran yang sejatinya bersumber dari masyarakat.
Pada pembahasan yang terakhir ketiga, berkaca pada pembahasan pertama yang telah
diuraikan sebelumnya serta dengan membandingkan analisis yang telah dilakukan pada pembahasan
kedua, maka dapat ditarik hipotesa sederhana bahwa dengan semakin meningkatnya pendapatan
transfer pasca ditetapkannya Undang-Undang Keistimewaan maka rasio kemandirian keuangan
daerah pada Pemda DIY akan semakin rendah. Hal ini berdasar pada semakin meningkatnya jumlah
pendapatan transfer dari pemerintah pusat melalui dana keistimewaan untuk membiayai
pelaksanaan program-program dan kegiatan-kegiatan dalam urusan keistimewaan. Untuk
membuktikannya maka perlu dihitung terlebih dahulu total pendapatan daerah diluar Dana
Keistimewaan untuk selanjutya dibandingkan dengan PAD guna memperoleh angka perhitungan
rasio kemandirian keuangan daerah pada Pemda DIY diluar dana keistimewaan. Realisasi PAD dan
Total Pendapatan Daerah diluar Transfer Dana Keistimewaan berdasarkan Laporan Keuangan
Pemda DIY pada kurun waktu tahun 2013-2015 dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 5
Realisasi PAD dan Total Pendapatan Daerah diluar Transfer Dana Keistimewaan
Uraian Realisasi Tahun (dalam Rp)
2013 2014 2015
Pendapatan Asli Daerah 1.216.102.749.617 1.464.604.954.200 1.593.110.769.595
Total Pendapatan Daerah 2.467.360.437.024 2.781.906.252.414 2.999.763.905.838
diluar Dana Keistimewaan
Dari tabel di atas apabila dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus kemandirian
keuangan daerah maka akan diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 6
Rasio Kemandirian Keuangan Pemda DIY diluar Transfer Dana Keistimewaan
Uraian 2013 2014 2015
% Kategori % Kategori % Kategori
Rasio Kemandirian 50,30 Sedang 52,65 Sedang 53,11 Sedang

Dari perhitungan terhadap Rasio Kemandirian Keuangan Pemda DIY diluar Transfer Dana
Keistimewaan pada Tabel 6 menunjukkan bahwa rasio kemandirian keuangan Pemerintah Daerah
DIY termasuk dalam kategori sedang dengan rata-rata rasio sebesar 52%. Jika dibandingkan dengan
Rasio Kemandirian Keuangan Pemda DIY secara keseluruhan termasuk Dana Keistimewaan (Tabel
4), maka terdapat perbedaan yang cukup signifikan dimana dengan memasukkan unsur Dana
Keistimewaan maka rasio kemandiriannya menjadi lebih kecil. Hal ini sekaligus menjawab hipotesa
sederhana yang diungkapkan diatas bahwa memang benar dengan semakin meningkatnya
pendapatan transfer pasca ditetapkannya Undang-Undang Keistimewaan maka rasio kemandirian
keuangan daerah pada Pemda DIY akan semakin kecil.
Meskipun demikan, menurut penulis menurunnya rasio kemandirian keuangan daerah pada
Pemda DIY dalam kasus ini sangatlah wajar terjadi. Dengan menjadi daerah istimewa yang baru,
maka ada urusan-urusan baru serta kewenangan-kewenangan baru pula yang harus
dilaksanakan sebagai amanat Undang-Undang Keistimewaan. Konsekuensi logisnya adalah
kebutuhan anggaran untuk melaksanakan program-program dan kegiatan-kegiatan baru tersebut
menjadi meningkat, hanya saja dalam hal ini kebutuhan-kebutuhan akan anggaran tersebut
disediakan oleh pusat melalui mekanisme transfer pemerintah pusat dalam bentuk dana
keistimewaan. Dalam jangka panjang, tidak menutup kemungkinan pula apabila Pemda DIY terus
berupaya meningkatkan pendapatan asli daerahnya guna mencukupi kebutuhan-kebutuhan belanja
termasuk juga urusan-urusan keistimewaan maka rasio kemandirian ini akan semakin meningkat
seiring dengan meningkatnya rasio perbandingan antara PAD dengan seluruh total pendapatan. Pada
kondisi tersebut, ketika PAD yang dihasilkan dapat memenuhi kegiatan pemerintahan,
pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat maka dapat disimpulkan bahwa daerah tersebut
memiliki kemandirian dan kondisi keuangan yang baik.
PENUTUP
Kesimpulan
Ditetapkannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY membawa
konsekuensi logis terhadap pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Pemerintah Daerah DIY yang juga
bertambah guna mengakomodasi kewenangan dalam hal urusan-urusan keistimewaan. Hal ini
berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan transfer dari Pemerintah Pusat dalam
bentuk Dana Keistimewaan guna membiayai program-program dan kegiatan-kegiatan yang
mengampu urusan-urusan keistimewaan.
Kondisi tersebut ternyata berpengaruh terhadap rasio kemandirian keuangan Pemda DIY
dimana pendapatan-pendapatan yang bersumber dari transfer dana keistmewaan tersebut
berkontribusi terhadap turunnya angka rasio kemandirian keuangan Pemda DIY. Jika dihitung secara
keseluruhan, maka rasio kemandirian keuangan Pemda DIY pada kurun waktu tahun 2013 sampai
2015 menunjukkan angka rata-rata sebesar 47% atau masuk dalam kategori rendah. Namun apabila
rasio tersebut dihitung tanpa menyertakan pendapatan transfer pusat dalam bentuk Dana
Keistimewaan, maka rasio kemandirian keuangan Pemda DIY pada kurun waktu tahun 2013 sampai
2015 menunjukkan angka rata-rata yang lebih besar yaitu 52% atau masuk dalam kategori sedang.
Hal ini juga didukung dengan kondisi semakin meningkatnya Pendapatan Asli Daerah Pemda DIY
khususnya yang bersumber dari pendapatan pajak. Namun demikian bukan berarti transfer pusat
dalam bentuk dana keistimewaan menjadi tidak penting karena akan menurunkan kemandirian
keuangan daerah. Program-program dan kegiatan-kegiatan dalam urusan keistimewaan juga sangat
penting untuk dilaksanakan mengingat DIY adalah sebuah daerah istimewa yang diakui oleh Undang-
Undang. Hanya saja untuk kedepannya, dalam jangka panjang perlu dilakukan inovasi-inovasi guna
meningkatkan PAD dalam rangka membiayai urusan-urusan keistimewaan yang memang
menyebabkan belanja daerah menjadi meningkat. Dalam hal ini, peningkatan PAD akan
meningkatkan kapasitas Pemda DIY untuk mendanai program dan kegiatan pelayanan kepada
masyarakat. Pemerintah daerah dengan kemampuan PAD yang kuat akan memiliki kondisi keuangan
yang baik pula.
Keterbatasan
Kajian ini masih terbatas pada alat pengukuran/rasio dari satu sumber saja, untuk kajian
selanjutnya yang lebih mendalam dapat dilakukan perluasan alat pengukuran/rasio lainnya sebagai
alat analisis kinerja keuangan pemerintah daerah. Selain itu yang lebih penting dibalik angka-angka
perhitungan mengenai rasio kinerja keuangan pemerintah daerah ini, adalah bagaimana mengukur
efisiensi dan efektifitas dari pencapaian hasil-hasil program dan kegiatan yang telah dilaksanakan
oleh Pemerintah Daerah DIY. Menurut penulis akan menjadi sia-sia ketika kemandirian keuangan
suatu daerah menjadi tinggi namun di sisi lain pelaksanaan program-program dan kegiatan yang
dilakukan belum mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada masyarakatnya.

Saran
Bagi Pemda DIY, upaya-upaya peningkatan PAD perlu segera dilakukan mengingat kebutuhan
akan pembiayaan terhadap program-program dan kegiatan-kegiatan yang bersumber dari urusan
keistimewaan terus meningkat setiap tahunnya. Ketergantungan terhadap pendanaan dari
pemerintah pusat melalui transfer pendapatan dalam bentuk dana keistimewaan akan berdampak
pada kemandirian keuangan Pemda DIY. Upaya yang dapat dilakukan misalnya melalui optimalisasi
intensifikasi pemungutan pajak dan retribusi daerah, pemberdayaan BUMD maupun inovasi-inovasi
lainnya. Dengan melakukan intensifikasi berarti daerah setidaknya melakukan langkah upaya
peningkatan terhadap komponen penerimaan daerah pada pos laba usaha daerah. Optimalisasi
tersebut dapat dilakukan dengan melakukan pembenahan pada sistem manajemen perusahaan
daerah.
Pada sisi lain, upaya-upaya yang bersifat ekstensifikasi juga mungkin untuk dilakukan seperti
menciptakan sumber penerimaan baru misalnya dengan menciptakan sektor produksi baru melalui
upaya creative financing dengan melibatkan pihak swasta dengan stimulan yang menarik (perijinan,
lahan, market yang jelas, insentif pajak) untuk menanamkan investasinya ke DIY. Identifikasi sektor
unggulan terhadap potensi daerah juga perlu terus digali secara konsisten sebagai sumber PAD
potensial, misal melalui sektor pariwisata yang menjadi andalan DIY dengan terus mengembangkan
destinasi-destinasi baru dengan mengangkat dan memberdayakan potensi lokal. Sebagai contoh
ialah pada wilayah Gunungkidul melalui potensi wisata Goa (Pindul, Kalisuci, Jomblang dan
sebagainya) dan wisata-wisata pantainya.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Halim, Abdul, 2001, Akuntansi Sektor Publik Akuntansi Keuangan Daerah, Jakarta: Salemba Empat.
_____________, 2002, Bunga Rampai: Manajemen Keuangan Daerah Edisi Pertama, Yogyakarta: Unit
Penerbit dan Percetakan AMP YKPN.
Ritonga, Irwan Taufiq, 2014, Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah, Yogyakarta: Lembaga
Kajian Manajemen Pemerintah Daerah.
Mahmudi, 2007, Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah : Panduan Bagi Eksekutif, DPRD dan
Masyarakat dalam Pengambilan Keputusan Ekonomi, Sosial dan Politik, Yogyakarta: Unit
Penerbit dan Percetakan STIE YKPN.
Dokumen
Laporan Keuangan Pemerintah Daerah DIY Tahun 2013.
Laporan Keuangan Pemerintah Daerah DIY Tahun 2014.
Laporan Keuangan Pemerintah Daerah DIY Tahun 2015.
LAMPIRAN LAMPIRAN

1. Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2013

2. Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2014

3. Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2015


LAMPIRAN I
PERATURAN DAERAH
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
NOMOR 7 TAHUN 2014
TENTANG
PERTANGGUNGJAWABAN
PELAKSANAAN ANGGARAN
PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
TAHUN ANGGARAN 2013

A. LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH UNTUK TAHUN YANG
BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2013 DAN 2012

Nomor
Uraian Anggaran 2013 Realisasi 2013 (%) Realisasi 2012
Urut
1 2 3 4 5 6
1. PENDAPATAN DAERAH 2.658.370.090.569,00 2.583.056.763.524,01 97,17 2.171.734.307.663,33
1.1. PENDAPATAN ASLI DAERAH 1.151.006.344.797,00 1.216.102.749.617,01 105,66 1.004.063.125.812,33
1.1.1. Hasil Pajak Daerah 1.021.820.720.000,00 1.063.314.117.923,00 104,06 871.630.605.393,00
1.1.2. Hasil Retribusi Daerah 35.715.599.098,00 38.043.014.004,85 106,52 34.115.157.619,03
1.1.3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 40.411.499.192,00 40.817.517.188,12 101,00 35.492.532.563,21
1.1.4. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah 53.058.526.507,00 73.928.100.501,04 139,33 62.824.830.237,09
1.2. PENDAPATAN TRANSFER 1.498.548.269.522,00 1.356.662.127.537,00 90,53 1.161.102.204.851,00
1.2.1. Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak 964.396.534.022,00 957.561.850.914,00 99,29 894.544.324.851,00
1.2.1.1. a. Pendapatan Bagi Hasil Pajak 95.736.872.088,00 88.291.984.791,00 92,22 112.691.591.066,00
1.2.1.2. b. Pendapatan Bagi Hasil Bukan Pajak 5.828.993.934,00 6.439.198.123,00 110,47 5.743.297.785,00
1.2.1.3. c. Pendapatan Dana Alokasi Umum 828.334.768.000,00 828.334.768.000,00 100,00 757.056.696.000,00
1.2.1.4. d. Pendapatan Dana Alokasi Khusus 34.495.900.000,00 34.495.900.000,00 100,00 19.052.740.000,00
1.2.2. Transfer dari Pemerintah Pusat Lainnya 534.151.735.500,00 399.100.276.623,00 74,72 266.557.880.000,00
1.2.2.1. a. Dana Otonomi Khusus 231.392.653.500,00 115.696.326.500,00 50,00 -
1.2.2.2. b. Dana Penyesuaian 302.759.082.000,00 283.403.950.123,00 93,61 266.557.880.000,00
1.2.3. Transfer Pemerintah Provinsi - - - -
1.2.3.1. Pendapatan Bagi Hasil Pajak - - - -
1.2.3.2. Pendapatan Bagi Hasil Lainnya - - - -
1.3. LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH 8.815.476.250,00 10.291.886.370,00 116,75 6.568.977.000,00
1.3.1. Pendapatan Hibah 8.815.476.250,00 10.291.886.370,00 116,75 6.568.977.000,00
1.3.2. Pendapatan Dana Darurat - - - -
1.3.4. Pendapatan Lainnya - - - -
JUMLAH PENDAPATAN 2.658.370.090.569,00 2.583.056.763.524,01 97,17 2.171.734.307.663,33
2. BELANJA DAERAH 2.917.270.974.520,00 2.509.643.375.218,35 86,03 2.053.825.959.467,00
2.1. BELANJA OPERASI 1.999.803.650.546,00 1.640.519.809.958,57 82,03 1.521.924.861.484,00
2.1.1. Belanja Pegawai 687.347.027.974,00 634.832.119.680,00 92,36 572.023.717.192,00
2.1.2. Belanja Barang 649.751.792.338,00 449.868.675.222,57 69,24 482.062.123.930,00
2.1.3. Belanja Bunga - - - -
2.1.4. Belanja Subsidi - - - -
2.1.5. Belanja Hibah 639.268.520.925,00 542.939.546.556,00 84,93 369.002.245.000,00
2.1.6. Belanja Bantuan Sosial 23.436.309.309,00 12.879.468.500,00 54,96 24.153.330.000,00
2.1.7. Belanja Bantuan Keuangan - - - 74.683.445.362,00
2.2. BELANJA MODAL 413.179.214.341,00 369.395.794.039,00 89,40 216.419.982.440,00
2.2.1. Belanja Tanah 30.909.555.500,00 28.310.643.457,00 91,59 29.675.271.296,00
2.2.2. Belanja Peralatan dan mesin 96.008.802.145,00 78.059.776.458,00 81,30 55.983.530.179,00
2.2.3. Belanja Gedung dan Bangunan 107.155.685.047,00 93.938.285.734,00 87,67 76.882.359.043,00
2.2.4. Belanja Jalan, irigasi dan jaringan 173.361.426.139,00 164.544.588.860,00 94,91 51.869.478.867,00
2.2.5. Belanja Aset Tetap lainnya 4.695.051.270,00 3.597.456.530,00 76,62 1.543.435.555,00
2.2.6. Belanja Aset, Lainnya 1.048.694.240,00 945.043.000,00 90,12 465.907.500,00
2.3. BELANJA TIDAK TERDUGA 2.591.138.412,00 - - 1.172.560.543,00
2.3.1. Belanja Tidak Terduga 2.591.138.412,00 - - 1.172.560.543,00
JUMLAH 2.415.574.003.300,00 2.009.915.603.997,57 83,20 1.739.517.404.467,00
Nomor
Uraian Anggaran 2013 Realisasi 2013 (%) Realisasi 2012
Urut
1 2 3 4 5 6
2.4. TRANSFER 501.696.971.221,00 499.727.771.220,78 99,61 314.308.555.000,00
2.4.1. Transfer Bagi Hasil ke Kabupaten/Kota 376.702.290.859,00 376.702.290.858,78 100,00 314.308.555.000,00
2.4.1.1. Bagi Hasil Pajak ke Kabupaten/Kota 376.702.290.859,00 376.702.290.858,78 100,00 310.852.534.000,00
2.4.1.2. Bagi Hasil Retribusi ke Kabupaten/Kota - - - 3.456.021.000,00
2.4.1.3. Bagi Hasil Pendapatan Lainnya ke Kabupaten/Kota - - - -
2.4.2. Belanja Bantuan Keuangan 124.994.680.362,00 123.025.480.362,00 98,42 -
2.4.2.1. Belanja Bantuan Keuangan Kepada Kabupaten/ Kota 18.624.000.000,00 18.519.600.000,00 99,44 -
2.4.2.2. Belanja Bantuan Keuangan Kepada Desa 21.900.000.000,00 21.900.000.000,00 100,00 -
2.4.2.3. Belanja Bantuan Keuangan Kepada Kab/Kota Yang Bersifat 83.409.000.000,00 81.544.200.000,00 97,76 -
Khusus
2.4.2.4. Belanja Bantuan Keuangan Kepada Partai Politik 1.061.680.362,00 1.061.680.362,00 100,00 -
SURPLUS/DEFISIT (258.900.883.952,00) 73.413.388.305,66 28,39 117.908.348.196,33
3. PEMBIAYAAN 258.900.883.952,00 308.606.708.591,84 119,20 261.333.592.856,23
3.1. PENERIMAAN DAERAH 385.339.434.228,00 403.200.658.867,84 104,64 293.608.592.856,23
3.1.1. Penggunaan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) 379.241.941.053,00 379.241.941.052,56 100,00 269.529.213.643,23
3.1.2. Pencairan Dana Cadangan 3.224.600.842,00 3.224.600.842,28 100,00 -
3.1.3. Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan - - - -
3.1.4. Penerimaan Pinjaman Daerah - - - -
3.1.5. Penerimaan Kembali Pemberian Pijaman Daerah - - - -
3.1.6. Penerimaan piutang daerah - - - -
3.1.7. Penerimaan Kembali Investasi Dana Bergulir 2.506.301.320,00 20.367.526.960,00 812,65 23.019.937.048,00
3.1.8. Penerimaan Dari Biaya Penyusutan Kendaraan 366.591.013,00 366.590.013,00 100,00 1.059.442.165,00
JUMLAH PENERIMAAN PEMBIAYAAN 385.339.434.228,00 403.200.658.867,84 104,64 293.608.592.856,23
3.2. PENGELUARAN DAERAH 126.438.550.276,00 94.593.950.276,00 74,81 32.275.000.000,00
3.2.1. Pembentukan Dana Cadangan - - - -
3.2.2. Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah 126.438.550.276,00 94.593.950.276,00 74,81 32.275.000.000,00
3.2.3. Pembayaran Pokok Utang - - - -
3.2.4. Pemberian Pinjaman Daerah - - - -
3.2.5. Penyelesaian Kegiatan DPA - L - - - -
3.2.6. Pembayaran Kewajiban Tahun Lalu Yang Belum - - - -
Terselesaikan
JUMLAH PENGELUARAN PEMBIAYAAN 126.438.550.276,00 94.593.950.276,00 74,81 32.275.000.000,00
PEMBIAYAAN NETTO 258.900.883.952,00 308.606.708.591,84 119,20 261.333.592.856,23
SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN (SILPA) - 382.020.096.897,50 - 379.241.941.052,56
PEMERINTAH DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (VERSI SAP)
UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2014 DAN 2013

Nomor Anggaran Realisasi Realisasi


Uraian (%)
Urut 2014 2014 2013
1 2 3 4 5 6
1. PENDAPATAN DAERAH 3.155.760.939.182,27 3.139.871.880.417,16 99,50 2.583.056.763.524,01
1.1. PENDAPATAN ASLI DAERAH 1.342.290.475.580,27 1.464.604.954.200,16 109,11 1.216.102.749.617,01
1.1.1. Pendapatan Pajak Daerah 1.202.117.342.494,00 1.291.664.420.808,00 107,45 1.063.314.117.923,00
1.1.2. Pendapatan Retribusi Daerah 40.682.507.208,00 44.595.094.779,94 109,62 38.043.014.004,85
1.1.3. Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan 48.063.944.818,32 48.247.880.493,70 100,38 40.817.517.188,12
Daerah Yang Dipisahkan
1.1.4. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah 51.426.681.059,95 80.097.558.118,52 155,75 73.928.100.501,04
1.2. PENDAPATAN TRANSFER 1.804.501.052.202,00 1.666.443.974.080,00 92,35 1.356.662.127.537,00
1.2.1. Transfer dari Pemerintah Pusat - Dana 1.046.227.488.649,00 1.013.811.389.590,00 96,90 957.561.850.914,00
Perimbangan
1.2.1.1. Dana Bagi Hasil Pajak 103.137.240.292,00 70.324.849.321,00 68,19 88.291.984.791,00
1.2.1.2. Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam 6.035.088.357,00 6.431.380.269,00 106,57 6.439.198.123,00
1.2.1.3. Dana Alokasi Umum 899.923.550.000,00 899.923.550.000,00 100,00 828.334.768.000,00
1.2.1.4. Dana Alokasi Khusus 37.131.610.000,00 37.131.610.000,00 100,00 34.495.900.000,00
1.2.2. Transfer dari Pemerintah Pusat Lainnya 758.273.563.553,00 652.632.584.490,00 86,07 399.100.276.623,00
1.2.2.1. Dana Otonomi Khusus 462.740.572.553,00 357.965.628.003,00 77,36 115.696.326.500,00
1.2.2.2. Dana Penyesuaian 295.532.991.000,00 294.666.956.487,00 99,71 283.403.950.123,00
1.3. LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH 8.969.411.400,00 8.822.952.137,00 98,37 10.291.886.370,00
1.3.1. Pendapatan Hibah 8.969.411.400,00 8.822.952.137,00 98,37 10.291.886.370,00
1.3.2. Pendapatan Dana Darurat - - - -
1.3.4. Pendapatan Lainnya - - - -
JUMLAH PENDAPATAN 3.155.760.939.182,27 3.139.871.880.417,16 99,50 2.583.056.763.524,01
2. BELANJA DAERAH 3.466.745.462.269,77 2.981.068.320.421,41 85,99 2.509.643.375.218,35
2.1. BELANJA OPERASI 2.249.087.791.482,92 1.942.797.509.932,94 86,38 1.640.519.809.958,57
2.1.1. Belanja Pegawai 642.581.566.630,25 623.924.262.660,00 97,10 634.832.119.680,00
2.1.2. Belanja Barang 835.356.617.854,67 697.030.165.607,94 83,44 449.868.675.222,57
2.1.3. Bunga - - -
2.1.4. Subsidi - - -
2.1.5. Hibah 756.360.684.998,00 611.770.903.665,00 80,88 542.939.546.556,00
2.1.6. Bantuan Sosial 14.788.922.000,00 10.072.178.000,00 68,11 12.879.468.500,00
2.2. BELANJA MODAL 583.804.239.084,00 442.446.473.601,00 75,79 369.395.794.039,00
2.2.1. Belanja Tanah 140.812.884.095,00 52.786.995.183,00 37,49 28.310.643.457,00
2.2.2. Belanja Peralatan dan mesin 81.742.640.326,00 72.784.989.325,00 89,04 78.059.776.458,00
2.2.3. Belanja Gedung dan Bangunan 181.101.315.432,00 153.771.760.970,00 84,91 93.938.285.734,00
2.2.4. Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan 176.662.239.181,00 160.100.029.210,00 90,62 164.544.588.860,00
2.2.5. Belanja Aset Tetap Lainnya 2.292.511.650,00 1.935.623.140,00 84,43 3.597.456.530,00
2.2.6. Belanja Aset Lainnya 1.192.648.400,00 1.067.075.773,00 89,47 945.043.000,00
2.3. BELANJA TIDAK TERDUGA 30.692.399.788,38 1.953.935.000,00 6,37 -
2.3.1. Belanja Tidak Terduga 30.692.399.788,38 1.953.935.000,00 6,37 -
JUMLAH 2.863.584.430.355,30 2.387.197.918.533,94 83,36 2.009.915.603.997,57
1 2 3 4 5 6
2.4. TRANSFER 603.161.031.914,47 593.870.401.887,47 98,46 499.727.771.220,78
2.4.1. Transfer / Bagi Hasil Pendapatan Ke 472.309.827.352,47 472.309.827.352,47 100,00 376.702.290.858,78
Kabupaten/Kota
2.4.1.1. Bagi Hasil Pajak Ke Kabupaten/Kota 472.309.827.352,47 472.309.827.352,47 100,00 376.702.290.858,78
2.4.1.2. Bagi Hasil Retribusi Lainnya Ke Kabupaten/Kota - - - -
2.4.2. Belanja Bantuan Keuangan 130.851.204.562,00 121.560.574.535,00 92,90 123.025.480.362,00
2.4.2.1. Belanja Bantuan Keuangan Kepada 15.000.000.000,00 15.000.000.000,00 100,00 18.519.600.000,00
Kabupaten/Kota
2.4.2.2. Belanja Bantuan Keuangan Kepada Desa 26.260.000.000,00 19.988.500.000,00 76,12 21.900.000.000,00
2.4.2.3. Belanja Bantuan Keuangan Kepada 88.529.524.200,00 85.510.774.200,00 96,59 81.544.200.000,00
Kabupaten/Kota yang bersifat khusus
2.4.2.4 Belanja Bantuan Keuangan Kepada Partai 1.061.680.362,00 1.061.300.335,00 99,96 1.061.680.362,00
Politik SURPLUS/DEFISIT (310.984.523.087,50) 158.803.559.995,75 51,06 73.413.388.305,66
3. PEMBIAYAAN 310.984.523.087,50 339.527.178.236,50 109,18 573.141.159.526,44
3.1. PENERIMAAN PEMBIAYAAN 382.020.096.897,50 389.527.178.236,50 101,97 403.200.658.867,84
3.1.1. Penggunaan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran 382.020.096.897,50 382.020.096.897,50 100,00 379.241.941.052,56
(SILPA)
3.1.2. Pencairan Dana Cadangan - - - 3.224.600.842,28
3.1.3. Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang - - - -
Dipisahkan
3.1.4. Penerimaan Pinjaman Daerah - - - -
3.1.5. Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman - - - -
3.1.6. Penerimaan Piutang Daerah - - - -
3.1.7. Penerimaan Kembali Investasi Dana Bergulir - 7.507.081.339,00 - 20.367.526.960,00
3.1.8. Penerimaan Dari Biaya Penyusutan Kendaraan - - - 366.590.013,00
JUMLAH PENERIMAAN PEMBIAYAAN 382.020.096.897,50 389.527.178.236,50 101,97 403.200.658.867,84
3.2. PENGELUARAN PEMBIAYAAN 71.035.573.810,00 50.000.000.000,00 70,39 94.593.950.276,00
3.2.1. Pembentukan Dana Cadangan - - -
3.2.2. Penyertaan Modal Pemerintah Daerah 71.035.573.810,00 50.000.000.000,00 70,39 94.593.950.276,00
3.2.3. Pembayaran Pokok Utang - - - -
3.2.4. Pemberian Pinjaman Daerah - - - -
3.2.5. Penyelesaian Kegiatan DPA - L - - - -
3.2.6. Pembayaran Kewajiban Tahun Lalu Yang - - - -
Belum Terselesaikan
JUMLAH PENGELUARAN PEMBIAYAAN 71.035.573.810,00 50.000.000.000,00 70,39 94.593.950.276,00
PEMBIAYAAN NETTO 310.984.523.087,50 339.527.178.236,50 109,18 308.606.708.591,84
SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN 0,00 498.330.738.232,25 103,82 382.020.096.897,50
(SILPA)

Yogyakarta, 31 Desember 2014


GUBERNUR
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

HAMENGKU BUWONO X
PEMERINTAH DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (VERSI SAP)
UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 2015 dan 2014
(Dalam Rupiah)
Anggaran Realisasi Realisasi
Uraian %
2015 2015 2014
1 2 3 4 5
PENDAPATAN - LRA 3.357.761.886.230,77 3.400.014.811.777,00 101,26 3.139.871.880.417,16
PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) - LRA 1.518.860.030.656,77 1.593.110.769.595,00 104,89 1.464.604.954.200,16
Pendapatan Pajak Daerah - LRA 1.347.894.743.697,00 1.397.772.209.370,00 103,70 1.291.664.420.808,00
Pendapatan Retribusi Daerah - LRA 43.088.502.025,00 45.811.953.262,71 106,32 44.595.094.779,94
Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan 52.604.081.931,77 52.502.631.979,68 99,81 48.247.880.493,70
Daerah yang Dipisahkan - LRA
Lain-lain PAD Yang Sah - LRA 75.272.703.003,00 97.023.974.982,61 128,90 80.097.558.118,52
Jumlah Pendapatan Asli Daerah 1.518.860.030.656,77 1.593.110.769.595,00 104,89 1.464.604.954.200,16
PENDAPATAN TRANSFER - LRA 1.829.886.522.099,00 1.795.163.924.136,00 98,10 1.666.443.974.080,00
PENDAPATAN TRANSFER PEMERINTAH 1.056.608.866.160,00 1.021.886.268.197,00 96,71 1.013.811.389.590,00
PUSAT-DANA PERIMBANGAN - LRA
Bagi Hasil Pajak - LRA 96.831.240.763,00 60.016.641.500,00 61,98 70.324.849.321,00
Bagi Hasil Bukan Pajak/Sumber Daya Alam - 148.863.397,00 2.240.864.697,00 1.505,32 6.431.380.269,00
LRA
Dana Alokasi Umum (DAU) - LRA 920.544.722.000,00 920.544.722.000,00 100,00 899.923.550.000,00
Dana Alokasi Khusus (DAK) - LRA 39.084.040.000,00 39.084.040.000,00 100,00 37.131.610.000,00
Jumlah Pendapatan Transfer Dana 1.056.608.866.160,00 1.021.886.268.197,00 96,71 1.013.811.389.590,00
Perimbangan
PENDAPATAN TRANSFER PEMERINTAH 773.277.655.939,00 773.277.655.939,00 100,00 652.632.584.490,00
PUSAT - LAINNYA - LRA
Dana Otonomi Khusus - LRA - - -
Dana Keistimewaan - LRA 400.250.905.939,00 400.250.905.939,00 100,00 357.965.628.003,00
Dana Penyesuaian - LRA 373.026.750.000,00 373.026.750.000,00 100,00 294.666.956.487,00
Pendapatan Transfer Pemerintah Daerah - - - -
Lainnya - LRA
Bantuan Keuangan - LRA - - - -
Jumlah Pendapatan Transfer Pemerintah 773.277.655.939,00 773.277.655.939,00 100,00 652.632.584.490,00
Pusat - Lainnya
LAIN-LAIN PENDAPATAN DAERAH YANG SAH - 9.015.333.475,00 11.740.118.046,00 130,22 8.822.952.137,00
LRA
Pendapatan Hibah - LRA 9.015.333.475,00 11.740.118.046,00 130,22 8.822.952.137,00
Dana Darurat - LRA - - - -
Pendapatan Lainnya - LRA - - - -
Jumlah Pendapatan Lain-lain yang Sah 9.015.333.475,00 11.740.118.046,00 130,22 8.822.952.137,00
JUMLAH PENDAPATAN 3.357.761.886.230,77 3.400.014.811.777,00 101,26 3.139.871.880.417,16
1 2 3 4 5
BELANJA 3.087.618.164.733,12 2.795.636.515.967,65 90,54 2.387.197.918.533,94
BELANJA OPERASI 2.344.998.171.311,25 2.168.034.330.402,65 92,45 1.942.797.509.932,94
Belanja Pegawai 693.973.925.836,00 669.544.757.882,00 96,48 623.924.262.660,00
Belanja Barang dan Jasa 913.309.628.093,25 795.755.132.063,65 87,13 697.030.165.607,94
Belanja Bunga - - - -
Belanja Subsidi - - - -
Belanja Hibah 728.580.127.382,00 695.660.940.457,00 95,48 611.770.903.665,00
Belanja Bantuan Sosial 9.134.490.000,00 7.073.500.000,00 77,44 10.072.178.000,00
Jumlah Belanja Operasi 2.344.998.171.311,25 2.168.034.330.402,65 92,45 1.942.797.509.932,94
BELANJA MODAL 732.531.901.814,10 627.602.185.565,00 85,68 442.446.473.601,00
Belanja Modal Tanah 145.751.562.114,00 106.454.404.972,00 73,04 52.786.995.183,00
Belanja Modal Peralatan dan Mesin 133.247.298.492,71 118.548.851.364,00 88,97 72.784.989.325,00
Belanja Modal Gedung dan Bangunan 180.505.950.037,39 146.147.884.336,00 80,97 153.771.760.970,00
Belanja Modal Jalan, Irigasi dan Jaringan 269.376.242.670,00 253.039.219.208,00 93,94 160.100.029.210,00
Belanja Modal Aset Tetap Lainnya 2.726.827.300,00 2.581.937.135,00 94,69 1.935.623.140,00
Belanja Modal Aset Lainnya 924.021.200,00 829.888.550,00 89,81 1.067.075.773,00
Jumlah Belanja Modal 732.531.901.814,10 627.602.185.565,00 85,68 442.446.473.601,00
BELANJA TAK TERDUGA 10.088.091.607,77 - - 1.953.935.000,00
Belanja Tak Terduga 10.088.091.607,77 - - 1.953.935.000,00
Jumlah Belanja Tak Terduga 10.088.091.607,77 - - 1.953.935.000,00

TRANSFER 718.474.459.729,90 700.788.986.298,80 97,54 593.870.401.887,47


TRANSFER BAGI HASIL PENDAPATAN 596.060.006.789,90 583.092.613.250,80 97,82 472.309.827.352,47
Transfer Bagi Hasil Pajak Daerah 596.060.006.789,90 583.092.613.250,80 97,82 472.309.827.352,47
Transfer Bagi Hasil Pendapatan Lainnya - - - -
Jumlah Transfer Bagi Hasil Pendapatan 596.060.006.789,90 583.092.613.250,80 97,82 472.309.827.352,47
TRANSFER BANTUAN KEUANGAN 122.414.452.940,00 117.696.373.048,00 96,15 121.560.574.535,00
Transfer Bantuan Keuangan ke Pemerintah 119.344.325.000,00 114.837.112.000,00 96,22 15.000.000.000,00
Daerah Lainnya
Transfer Bantuan Keuangan ke Desa 1.710.000.000,00 1.710.000.000,00 100,00 19.988.500.000,00
Transfer Bantuan Keuangan Lainnya 1.360.127.940,00 1.149.261.048,00 84,50 1.061.300.335,00
Transfer Dana Otonomi Khusus - - - 85.510.774.200,00
Jumlah Transfer Bantuan Keuangan 122.414.452.940,00 117.696.373.048,00 96,15 121.560.574.535,00
JUMLAH BELANJA DAN TRANSFER 3.806.092.624.463,02 3.496.425.502.266,45 91,86 2.981.068.320.421,41
SURPLUS/(DEFISIT) (448.330.738.232,25) (96.410.690.489,45) 21,50 158.803.559.995,75
PEMBIAYAAN 448.330.738.232,25 461.093.118.507,25 102,85 339.527.178.236,50
PENERIMAAN PEMBIAYAAN 498.330.738.232,25 511.093.118.507,25 102,56 389.527.178.236,50
Penggunaan SiLPA 498.330.738.232,25 498.330.738.232,25 100,00 382.020.096.897,50
Pencairan Dana Cadangan - - - -
Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang - - - -
Dipisahkan
Pinjaman Dalam Negeri - - - -
Penerimaan Kembali Piutang - - - -
Penerimaan Kembali Investasi Non Permanen - 12.762.380.275,00 - 7.507.081.339,00
Lainnya
Pinjaman Luar Negeri - - - -
Penerimaan Utang Jangka Panjang Lainnya - - - -
Jumlah Penerimaan 498.330.738.232,25 511.093.118.507,25 102,56 389.527.178.236,50
PENGELUARAN PEMBIAYAAN 50.000.000.000,00 50.000.000.000,00 100,00 50.000.000.000,00
Pembentukan Dana Cadangan - - -
Penyertaan Modal/Investasi Pemerintah Daerah 50.000.000.000,00 50.000.000.000,00 100,00 50.000.000.000,00
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri - - - -
Pemberian Pinjaman Daerah - - - -
Pengeluaran Investasi Non Permanen Lainnya - - - -
Pembayaran Pokok Pinjaman Luar Negeri - - - -
Pembayaran Utang Jangka Panjang Lainnya - - - -
Jumlah Pengeluaran 50.000.000.000,00 50.000.000.000,00 100,00 50.000.000.000,00
PEMBIAYAAN NETTO 448.330.738.232,25 461.093.118.507,25 102,85 339.527.178.236,50
SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN (SILPA) - 364.682.428.017,80 - 498.330.738.232,25

Yogyakarta, 31 Desember 2015


GUBERNUR
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

HAMENGKU BUWONO X