Você está na página 1de 12

AKHLAK & TASAWUF

Pengertian Akhlak

Kata Akhlak berasal dari bahasa Arab, jamak dari khuluqun ( )yang menurut
bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.
Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun ()
yang berarti kejadian, yang juga erat hubungannya dengan khaliq ( )yang berarti sang
pencipta, demikian pula dengan mkhluqun ( )yng berarti yang diciptakan.
Kata akhlak adalah jamak dari kata khalqun atau khuluqun yang artinya sama dengan
arti akhlak sebagaimana telah disebutkan di atas. Baik kata akhlak atau pun khuluk kedua-
duanya dijumpai pemakaiannya baik dalam Al Quran maupun Al Hadits, sebagai berikut:
( 4 : )
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al Qalam: 4)
( )
Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang sempurna budi
pekertinya. (HR. Tirmidzi)
Ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan-perbuatan manusia,
kemudian menetapkannya apakah perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baik atau
perbuatan yang buruk. Ilmu akhlak dapat pula disebut sebagai ilmu yang berisi pembahasan
dalam upaya mengenal tingkah laku manusia, kemudian memberikan nilai atau hukum
kepada perbuatan tersebut, yaitu apakah perbuatan tersebut tergolong baik atau buruk.

Imam Al-Ghazali membagi tingkatan keburukan akhlak menjadi empat macam, yaitu:
1. Keburukan akhlak yang timbul karena ketidaksanggupan seseorang mengendalikan
nafsunya, sehingga pelakunya disebut al-jahil ( ) .
2. Perbuatan yang diketahui keburukannya, tetapi ia tidak bisa meninggalkannya
karena nafsunya sudah menguasai dirinya, sehingga pelakunya disebut al-jahil al-
dhollu (
) .
3. Keburukan akhlak yang dilakukan oleh seseorang, karena pengertian baik baginya
sudah kabur, sehingga perbuatan buruklah yang dianggapnya baik. Maka
pelakunya disebut al-jahil al-dhollu al-fasiq ( ) .
4. Perbuatan buruk yang sangat berbahaya terhadap masyarakat pada nya, sedangkan
tidak terdapat tanda-tanda kesadaran bagi pelakunya, kecuali hanya kekhawatiran
akan menimbulkan pengorbanan yang lebih hebat lagi. Orang yang melakukannya
disebut al-jahil al-dhollu al-fasiq al-syarir(
) .
TASAWUF

Pengertian Tasawuf

Sebelum lebih jauh membahas tentang asal-usul tasawuf, sedikit kami berikan
pengertian singkat sufi dan tasawuf. Ada beberapa pendapat tentang asal-usul kata tasawuf.
Ada yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata safa, artinya suci, bersih atau murni.
Karena memang, jika dilihat dari segi niat maupun tujuan dari setiap tindakan dan ibadah
kaum sufi, maka jelas bahwa semua itu dilakukan dengan niat suci untuk membersihkan jiwa
dalam mengabdi kepada Allah SWT.[1] Ada lagi yang mengatakan tasawuf berasal dari
kata saff, artinya saff atau baris. Mereka dinamakan sebagai para sufi, menurut pendapat ini,
karena berada pada baris (saff) pertama di depan Allah, karena besarnya keinginan mereka
akan Dia, kecenderungan hati mereka terhadap-Nya.[2] Ada pula yang mengatakan bahwa
tasawuf berasal dari kata suffah atau suffah al Masjid, artinya serambi mesjid. Istilah ini
dihubungkan dengan suatu tempat di Mesjid Nabawi yang didiami oleh sekelompok para
sahabat Nabi yang sangat fakir dan tidak mempunyai tempat tinggal. Mereka dikenal sebagai
ahli suffah. Mereka adalah orang yang menyediakan waktunya untuk berjihad dan berdakwah
serta meninggalkan usaha-usaha duniawi.

Hubungan Akhlak dan Tasawuf

Akhlak dan Tasawuf saling berkaitan. Akhlak dalam pelaksanaannya mengatur


hubungan horizontal antara sesama manusia, sedangkan tasawuf mengatur jalinan
komunikasi vertical antara manusia dengan Tuhannya. Akhlak menjadi dasar dari
pelaksanaan tasawuf, sehingga dalam prakteknya tasawuf mementingkan akhlak. Hubungan
akhlak dan tasawuf tidak bisa terpisashkan karena kesucian hati akan membentuk
akhlakjyang baik pula .Pada intinya seseorang yang masuk kedalamn dunia tasawuf hgarus
munundukan jasmani dan rohani dengan cara mendekatkan diri kepada Allah dan menjaga
akhlak yang baik.

Tujuan Tasawuf

Adapun tujuan tasawuf adalah:


1. Menurut Harun Nasution, tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat
mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan
rohnya dapat bersatu dengan Roh Tuhan.[15]
2. Menurut K. Permadi, tujuan tasawuf ialah fana untuk mencapai makrifatullah, yaitu
leburnya diri pribadi pada kebaqaan Allah, dimana perasaan keinsanan lenyap
diliputi rasa ketuhanan.[16]
Dengan demikian inti dari ajaran tasawuf adalah menempatkan Allah sebagai pusat
segala aktivitas kehidupan dan menghadirkan-Nya dalam diri manusia sebagai usaha
memperoleh keridaan-Nya

Kesimpulan

1. Kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti, peranggai, tingkah laku atau tabiat.
Ahklak adalah hal yang melekat dalam jiwa, dan dari kebiasaan itu akan timbul
perbuatan-perbuatan yang mudah tanpa dipikirkan oleh manusia.
2. Tasawuf itu bersumber dari ajaran Islam itu sendiri ialah al-Quran dan Sunah,
mengingat yang dipraktekkan Nabi SAW dan para sahabat. Namun setelah tasawuf
itu berkembang menjadi pemikiran, bisa saja ia mendapat pengaruh dari luar
seperti filsafat Yunani dan sebagainya. Dan andaipun terdapat persamaan dengan
ajaran beberapa agama, kemungkinan yang dapat terjadi adalah persamaan dengan
agama-agama samawi (Nasrani dan Yahudi), mengingat semua agama samawi
berasal dari tuhan yang sama Allah SWT yang dalam Islam diyakini sama
mengajarkan tentang ketauhidan.

MELAKSANAKAN AMAR MARUF NAHI MUNGKAR

Pengertian Amar Maruf Nahi Munkar


Amar ma'ruf nahi munkar (al`amru bil-ma'ruf wannahyu'anil-mun'kar) adalah sebuah frasa
dalam bahasa Arab yang maksudnya sebuah perintah untuk mengajak atau menganjurkan hal-hal yang
baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi masyarakat. Frasa ini dalam syariat Islam hukumnya
adalah wajib.
Dalil amar ma'ruf nahi munkar adalah pada surah Luqman, yang berbunyi sebagai berikut:
Ya bunay-ya aqimi al-s-salata wa-mur bi-al-marufi wa-inha ani al-munkari wa-isbir ala ma
17.
asaba-ka in-na dhalika min azmi al-umuri

Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah
mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.
Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (Luqman
17)

Perintah Amar Maruf Nahi Mungkar


Lafaz Hadis
: :

.
Dari Abu Said Al Khudri r.a berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : Siapa
yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka
rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal
tersebut adalah selemah-lemahnya iman. (Riwayat Muslim)

Penjelasan Hadist
Amar Maruf dan Nahi Mungkar berasal dari kata bahasa Arab / merupakan
mashdar atau kata dasar dari fiil atau kata kerja yang artinya memerintah atau menyuruh.
Jadi / artinya perintah. artinya yang baik atau kebaikan / kebajikan.
Sedangkan = yaitu perkara yang keji. Yang dimaksud amar maruf adalah
ketika engkau memerintahkan orang lain untuk bertahuid kepada Allah, menaati-Nya,
bertaqarrub kepada-Nya, berbuat baik kepada sesama manusia, sesuai dengan jalan fitrah dan
kemaslahatan. Atau makruf adalah setiap pekerjaan (urusan yang diketahui dan dimaklumi
berasal dari agama Allah dan syara-Nya. Termasuk segala yang wajib yang mandub. Makruf
juga diartikan kesadaran, keakraban, persahabatan, lemah lembut terhadap keluarga dan lain-
lainnya.
Sedang munkar adalah setiap pekerjaan yang tidak bersumber dari agama Allah dan
syara-Nya. Setiap pekerjaan yang dipandang buruk oleh syara, termasuk segala yang haram,
segala yang makruh, dan segala yang dibenci oleh Allah SWT. Allah berfirman:

Tolong menolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan bertaqwalah, serta jangan tolong
menolong dalam hal dosa dan kejahatan. (QS. 5 Al Maidah: 2)
Termasuk tolong menolong ialah menyerukan kebajikan dan memudahkan jalan untuk
kesana , menutup jalan kejahatan dan permusuhan dengan tetap mempertimbangkan
kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
Agama Islam adalah agama yang sangat memperhatikan penegakan Amar Maruf dan
Nahi Munkar. Amar Maruf merupakan pilar dasar dari pilar-pilar akhlak yang mulia lagi
agung. Kewajiban menegakkan kedua hal itu adalah merupakan hal yang sangat penting dan
tidak bisa ditawar bagi siapa saja yang mempunyai kekuatan dan kemampuan melakukannya.
Bahkan Allah swt beserta RasulNya mengancam dengan sangat keras bagi siapa yang tidak
melaksanakannya sementara ia mempunyai kemampuan dan kewenangan dalam hal tersebut.


Menurut beberapa ulama maksud dari hadis ini adalah ketika ada
kemungkaran maka harus diubah dengan beberapa cara, yaitu :
Kekuasaan bagi para penguasa
Nasihat atau ceramah bagi para Ulama, kaum cerdik pandai, juru penerang, para wakil
rakyat, dan lain-lain.
Membencinya di dalam hati bagi masyarakat umum.

Setiap orang memiliki kedudukan dan kekuatan sendiri-sendiri untuk mencegah


kemungkaran. Dengan kata lain, hadis tersebut menunjukkan bahwa umat Islam harus
berusaha melaksanakan amar maruf nahi mungkar menurut kemampuannya, sekalipun hanya
melalui hati. Ada beberapa karakter masyarakat dalam menyikapi amar maruf nahi munkar.
Antara lain :
1. Memerintahkan yang maruf dan melarang yang munkar, atau dinamakan karakter orang
mukmin.
2. Memerintahkan yang munkar dan melarang yang maruf, atau dinamakan karakter orang
munafik.
3. Memerintahkan sebagian yang maruf dan munkar, dan melarang sebagian yang maruf dan
munkar. Ini adalah karakter orang yang suka berbuat dosa dan maksiat.

Rukun Amar Makruf Nahi Munkar


Menurut imam ghazali Amar maruf nahi munkar memiliki empat rukun, yaitu:
Al-Muhtasib (Pelaku amar maruf nahi munkar)
Al-Muhtasab alaihi(orang yang diseru)
Al-muhtasab fih (perbuatan yang diseruhkan)
Al-Ihtisab(Perbuatan amar maruf nahi munkar itu sendiri)

Di antara sifat pelaku amar maruf nahi munkar yang terpenting adalah:
Ikhlas
Berilmu.
Rifq / Lemah Lembut
Sabar

A. Simpulan

Memerintahkan suatu kebajikan dan melarang suatu kemungkaran (Amar Maruf Nahi
Mugkar) adalah perintah agama, karena itu ia wajib dilaksanakan oleh setiap umat manusia
sesuai dengan kemampuan dan kekuatannya.
Islam adalah agama yang berdimensi individual dan sosial, maka sebelum memperbaiki orang
lain seorang Muslim dituntut berintrospeksi dan berbenah diri, sebab cara Amar Maruf yang
baik adalah yang diiringi dengan keteladanan.
Menyampaikan Amar Maruf Nahi Mungkar disandarkan kepada keihklasan karena
mengharap ridho Allah semata.

Hukum Islam, SyariatdanFiqih


A Hukum Islam
1. Pengertian Hukum Islam :
Menurut Hasby Ash Shiddieqie menyatakan bahwa hukum islam yang
sebenarnya tidak lain dari pada fiqh islam atau syariat Islam, yaitu koleksi daya upaya
para fuqaha dalam menerapkan syariat Islam sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
[6]

Kumpulan daya upaya para ahli hukum untuk menetapkan syariat atas
kebutuhan masyarakat.
Istilah hukum islam walaupun berlafad Arab, namun telah dijadikan bahasa
Indoneisa, sebagai terjemahan dari Fiqh Islam atau syariat Islam yang bersumber
kepada al-Quran As-Sunnah dan Ijmak para sahabat dan tabiin.lebih jauh Hasby
menjelaskan bahwa Hukum Islam itu adalah hukum yang terus hidup, sesuai dengan
undang-undang gerak dan subur. Dia mempunyai gerak yang tetap dan perkembangan
yang terus menerus.[7]
Hukum islam menekankan pada final goal, yaitu untuk mewujudkan
kemaslahatan manusia.. fungsi ini bisa meliputi beberapa hal yaitu : a. fungsi social
engineering. Hukum islam dihasilkan untuk mewujudkan kemaslahatan dan kemajuan
umuat. Untuk merealisasi ini dan dalam kapasitasnya yang lebih besar, bisa melalui
proses siyasah syariyyah, dengan produk qanun atau perundang-undangan ; b.
perubahan untuk tujuan lebih baik. Disini berarti sangat besar kemungkinannya untuk
berubah, jika pertimbangan kemanfaatan untuk masyarakat itu muncul.
2. Ruang Lingkup Hukum Islam
Dalan hukum islam tidak dibedakan antara hukum perdata dengan hukum
publik. Hal ini disebabkan menurut sistem hukum islam pada hukum perdata terdapat
segi-segi publik dan pada hukum publik ada segi-segi perdatanya. Oleh karena itu
dalam hukum Islam tidak dibedakan kedua bidang hukum itu. Yang disebutkan hanya
bagian-bagiannya saja, seperti (1). Munakahat., (2.).wirasah (3). Muamalat dalam arti
khusus (4). Jinayat atau ukubat (5). Al-ahkam as-sultoniyyah (khalifa) (6). Siyar.; (7).
Mukhasshamat[8]
Kalau bagian bagian-bagian tersebut disusun menurut sistimatika hukum barat
yang membedakan antara hukum perdata dengan hukum publik Maka susunan hukum
muamalah dalam arti luas itu adalah sebagai berikut : Hukum Privat : 1. Munakahat
mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan, perceraian serta
akibat-akibatnya ; 2. wirasah (faraidl) mengaur segala masalah yang berhubungan
dengan pewaris, ahli waris, harta peninggalan serta pembagian warisan ;
Muamalah dalam arti yang khusus, mengatur masalah kebendaan dan hak-hak
atas benda, tata hubungan manusia dalam soal jual beli, sewa menyewa, pinjam
meminjam, perserikatan dan sebagainya.
Hukum Publik adalah : Jinayat yang memuat aturan-aturan mengenai
perbuatan-perbuatan yang diancam dengan hukuman baik dalam jarimah hudud
maupun dalam jarimah takzir. Al-ahkam assultoniyyah membicarakan soal-soal yang
berpusat kepada negara, ke pemerintah 3. Siyar mengatur urusan perang dan damai,
tata hubungannya dengan pemeluk agama dan negara lain ; 4. Mukshshonat mengatur
soal; peradilan, kehakiman dan hukum acara. [9]
3. Prinsip-prinsip Hukum Islam
Maksud prinsip dalam bahasan ini adalah titik tolak pembinaan hukum Islam
dan pengembangannya. Prinsip ini berlaku dimanapun dan kapanpun di wilayah
hukum Islam. Prinsip-prinsp itu adalah :
Pertama : Tauhid Allah, prinsip ini menyatakan bahwa segala hukum dan
tindakan seorang muslim mesti menuj kepada satu tujuan, yaitu Tauhid Allah, Tauhid
Allah disini berarti kesatuan substansi hukum dan tujuan setiap tindakan manusia
dalam rangka menyatu dengan kehendak Tuhan.
Kedua :
prinsip ini menyatakan bahwa wahyu yang shah bersesuaian dengan penalaran
yang sarih. Dengan kata lain wahyu tidak akan pernah bertentangan dengan akal. Ini
berarti bahwa kebanaran wahyu adalah kebenaan yang mutlak dengan sendirinya.
Ketiga :
Kembali kepada al-quran dan assunnah yang tidak pernah berlawanan dengan
penalaran akal yang sarih. Namun demikian karena wahyu telah terhenti seiring
dengan wafatnya Rasululah SAW. Maka pokok-pokok ajaran agama dianggap telah
sempurna. Sementara response masyarakat muslim terhadap perubahan sosial budaya
dapat berkembang melalui proses ijtihadi.

Ke empat
hal-hal yang berkenaan dengan pokok-pokok agama an sich telah dijelaskan
oleh Rasul. Ini berarti bahwa dalam hal-hal kehidupan dunia yang terus berubah
menganut prinsip-prinsip keadlan dan kebenaran.
Kelima al-adalah, yang berarti keadilan. Yaitu keseimbangan dan
moderasi yang menghendaki adanya keseimbangan dan kelayakan antara apa yang
seharusnya dilakukan dengan kenyataan, keseimbangan antara kehendak manusia dan
kemampuan merealisasikannya.
Keenam,
Bahwa kebenaran itu bukan pada alam idea, bukan pada alam cita-cita dan
apa seharusnya, melainkan apa yang menjadi kenyataan. Prinsip ini menghendaki
pelaksanaan. Hukum Islam itu dilakukan sesuai dengan apa yang paling mungkin dan
tidak selalu mengharuskan dilaksanakan sesuai dengan apa yang diyakini paling tepat
dan benar.
Ketujuh Al-Huriyyah.
Ini berarti kemerdekaan atas kebebasan. Prinsip ini menyatakan bahwa setiap
orang mempunyai kebebasan baik untuk beragama ataupun tidak. Tidak ada paksaan
dalam beragama. Namun demikian sesuai dengan prinsif tauhid Allah, manusia telah
diberi dua pilihan bersyukur atau berkufur.
Kedelapan al-musawah prinip ini secara etimologis berarti persamaan,
prinsip menyatakan bahwa setiap manusia mempunyai derajat yang sama.
Pembentukan qonun hanya mungkin jika setiap individu masyarakat muslim
terlindungi hak-hak asasinya yang sesuai prinsip hukum islam, adalah al-hurriyyah,
dan al-musawwah . Hak-hak asasi setiap individu muslim yang
merupakan prinsip hukum islam dalam bermasyarakat itulah yang memungkinkan
terjadinya keseimbangan masyarakat,
Prinsip kesembilan al-musyawarah . Musyawarah dapat berarti
meminta pendapat dari pihak pimpinan kepada yang dipimpin atau berupa usul dari
arus bawah, yakni dari lapisan masyarakat yang dipimpin kepada yang memimpinnya.
Prinsip ini merupakan landasan hukum islam melalui proses taqnin dan
menjadikannya sebagai hukum positif.[10]

4. Tujuan Hukum Islam


Agama Islam diturunkan Alloh mempunyai tujuan yaitu untuk mewujudkan
kemaslahatan hidup manusia secara individual dan masyarakat. Begitu pula dengan
hukum-hukumnya. Menurut Abu Zahroh ada tiga tujuan hukum Islam.[11]
1. Mendidik individu agar mampu menjadi sumber kebajikan bagi
masyarakatnya dan tidak menjadi sumber malapetakata bagi orang
lain;
2. Menegakkan keadilan di dalam masyarakat secara internal di antara sesama
ummat Islam maupun eksternal antara ummat Islam dengan masyarakat luar. Agama
Islam tidak membedakan manusia dari segi keturunan, suku bangsa, agama. Warna
kulit dan sebagainya. Kecuali ketaqwaan kepada-Nya.
3. Mewujudkan kemaslahatan hakiki bagi manusia dan masyarakat. Bukan
kemaslahatan semu untuk sebagian orang atas dasar hawa nafsu yang berakibat
penderitaan bagi orang ain, tapi kemaslahatan bagi semua orang, kemaslahatan yang
betul-betul bisa dirasakan oleh semua pihak.
Yang dimaksud dengan kemaslahatan hakiki itu meliputi lima hal yaitu Agama,
jiwa, akal, keturunan, dan harta. Yang lima ini merupakan pokok kehidupan manusia di
dunia dan manusia tidak akan bisa mencapai kesempurnaan hidupnya di dunia ini kecuali
dengan kelima hal itu. Menurutnya yang dimaksud dengan lima ini adalah:[12]
1. Memelihara Agama Memelihara agama adalah memelihara
kemerdekaan manusia di dalam menjalankan agamanya.
2. Memelihara jiwa adalah memelihara hak hidup secara terhormat
memelihara jiwa dari segala macam ancaman, pembunuhan,
penganiayaan dan sebagainya.
3. Memelihara akal adalah memelihara manusia agar tidak menjadi
beban sosial, tidak menjadi sumber kejahatan dan penyakit di
dalam masyarakat.
4. Memelihara keturunan, adalah memelihara jenis anak keturunan
manusia melalui ikatan perkwainan yang sah yang diikat dengan
suatu aturan hukum agama.
5. Memelihara harta benda adalah mengatur tatacara
mendapatkan dan mengembang biakkan harta benda secara
benar dan halal, Islam mengatur tatacara bermuamalah secara
benar, halal, adil dan saling ridla merdlai.
Muhammad Abu Zahro telah membagi kemaslahatan kepada 3 tingkatan : (1).
Bersifat dlaruri (2). Haaji; (3). Tahsini.[13]
1. Yang bersifat daruri adalah sesuatu yang tidak boleh tidak harus
ada untuk terwujudnya suatu maslahat seperti kewajiban
melaksanakan hukuman qisas bagi yang melakukan
pembunuhan sengaja, diyat bagi pembunuhan yang tidak
sengaja.
2. Masalahat yang bersifat haaji adalah sesuatu yang dibutuhkan
untuk menolak timbulnya kemadlaratan dan kesusahan di dalam
hidup manusia. Seperti diharamkan bermusuhan, iri dengki
terhadap orang lain, tidak boleh egois.
3. Maslahat yang bersifat tahsini adalah sesuatu yang diperlukan
untuk mewujudkan kesempurnaan hidup manusia.
Menurut Abdul Wahab Khalaf bahwa tujuan hukum Islam itu ada dua tujuan
yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Dimaksud dengan tujuan umum ditetapkannya
aturan hukum Islam adalah untuk mewujudkan kemaslahatan manusia didalam
hidupnya, yang prinsifnya adalah menarik manfaat dan menolak kemadlaratan.
Kemaslahatan manusia itu ada yang bersifat daruri, haaji dan tahsini.[14] Tujuan
hukum Islam yang bersifat khusus adalah yang berkaitan dengan satu persatu aturan
hukum Islam. Hal ini dapat diketahui dengan memahami asbabun nuzul dan hadits-
hadits yang shahih.

B. SYARIAT
Pengertian syariat islam menurut Mahmud Syaltut adalah ;
Syariat menurut bahasa ialah : tempat yang didatangi atau dituju oleh manusia
dan hewan guna meminum air. Menurut istilah ialah : hukum-hukum dan aturan yang
Allah syariatkan buat hambanya untuk diikuti dan hubungan mereka sesama manusia.
Disini kami maksudkan makna secara yang istilah yaitu syariat tertuju kepada
hukum yang didatangkan al-quran dan rasulnya, kemudian yang disepakati para
sahabat dari hukum hukum yang tidak datang mengenai urusannya sesuatu nash dari
al-quran atau as-sunnah
Tasyri ialah lafadl yang diambil dari kata syariat yang diantara maknanya
dalam pandangan orang Arab ialah ; jalan yang lurus dan yang dipergunakan oleh ahli
fikih islam untuk nama bagi hukum-hukum yang Allah tetapkan bagi hambanya dan
dituangkan dengan perantaraan rasul-Nya agar mereka mengerjakan dengan penuh
keimanan baik hukum-hukum itu berkaitan dengan perbuatan ataupun dengan aqidah
maupun dengan akhlak budi pekerti.
Syariat seperti telah disinggung dalam uraian terdahulu terdapat di dalam al-
Quran Dan kitab kitab Hadits. Kalau kita berbicara tentang syariat, yang dimaksud
adalah wahyu Allah dan sabda Rasulullah
Apabila diihat dari segi ilmu hukum, maka syariat merupakan dasar-dasar
hukumyang ditetapkan Allah melalui Rasul-Nya, yang wajib diikuti oleh orang islam
berdasarkan iman yang berkaitan dengan akhlak, baik dalam hubunganya dengan
Allah maupun dengan sesama manusia dan benda dalam masyarakat. Dasar-dasar
hukum ini dijelaskan dan atau dirinci lebih lanjut oleh Nabi Muhammad sebagai
Rosul-Nya. Karena itu, syariat terdapat didalam al qur an dan di dalam kitab kitab
Hadits.
Menurut Sunnah Nabi Muhammad, ummat islam tiak akan pernah sesat
dalam perjalanan hidupnya di dunia ini selama mereka berpegang teguh atau
berpedoman kepada Quran dan Sunnah Rasulullah.[17]
Dengan perkataan lain, ummat islam tidak pernah akan sesat dalam perjalanan
hidupnya di dunia ini selama ia mempergunakan pola hidup, pedoman lhidup, tolok
ukur hidup dan kehidupan yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadits yang sahih.
Karena norma-norma dasar yang terdapat di dalam AL Quran itu masih
bersifat umum, demikian juga halnya dengan aturan yang ditentukan oleh nabi
Muhammad terutama mengenai muamalah, maka setelah Nabi Muhammad wafat,
norma-norma dasar yang masih bersifat umum itu perlu dirinci lebih lanjut.
Perumusan dan penggolongan norma-norma dasar yang bersifat umum itu ke dalam
kaidah-kaidah lebih konkrit agar dapat dilaksanakan dalam praktek, memerlukan
disiplin dan cara cara tertentu.
Muncullah ilmu pengetahuan baru yang khusus menguraikan syariat
dimaksud. Dalam kepustakaan, ilmu tersebut dinamakan ilmu fiqih yang ke dalam
bahasa indonesia diterjemahkan dengan ilmu hukum islam. Ilmu fiqih adalah ilmu
yang mempelajari atau memahami syariat dengan memusatkan perhatiannya pada
perbuatan (hukum) manusia mukallaf yaitu manusia yang berkewajiban melaksanakan
hukum islam karena telah dewasa dan berakal sehat. Orang yang faham tentang ilmu
fikih disebut fakih atau fukaha (jamaknya). Artinya ahli atau para ahli hukum islam.
[18]

C. Fiqh
1. Pengertian Fiqh

Fiqh ialah mengetahui sesuatu memahaminya dan menanggapnya dengan
sempurna. [19]
Di dalam bahasa Arab, perkataan fiqih yang di dalam bahasa Indonesia ditulis
fikih atau fiqih atau kadangkadang feqih, artinyafaham atau pengertian. Kalau
dihubungkan perkataan ilmu tersebut di atas, dalam hubungan ini dapat juga
dirumuskan, ilmu fikih adalah ilmu yang bertugas menentukan dan menguraikan
norma-norma dasar dan ketentuan- ketentuan umum yang terdapat di dalam al-Quran
dan Sunnah Nabi Muhammad yang direkam dalam kitab-kitab Hadits. Dengan kata
lain, ilmu fikih, selain rumusan di atas, adalah ilmu yang berusaha memahami hukum-
hukum yang terdapat di dalam al-Quran dan Sunnah nabi Muhammad untuk
diterapkan pada perbuatan manusia yang telah dewasa yang sehat akalnya yang
berkewajiban melaksanakan hukum islam. [20]
Pengertian fiqh menurut sebagian para ulama adalah :

Hukum-hukum syara-syara yang diperlukan kedalam renungan yang
mendalam, pemahaman dari ijtihad.[21]
Fiqh arti asal katanya Paham. Disini fiqh merupakan pemahaman terhadap
ilmu yang berupa wahyu (yaitu al-quran dan al-hadits sahih). Jadi fiqh sebagai
suplemen dan sekaligus perbedaan prinsip dengan ilmu. Kelanjutan pengertian seperti
ini adalah bahwa fiqih identik dengan al-rayi yang menjadi kebalikan ilmu tadi.
Pengertian fiqh yang demikian kemudian berkembang menjadi berarti ilmu agama.
Atau ilmu yang berdasar agama yakni fase kedua.
Di samping uraian di atas, dalam membahas fiqh sering ditemui pengertian
hukum dalam pengertiannya menurut ilmu hukum (hukum sekuler), artinya fiqh juga
memuat pembahasan beberapa ketentuan sanksi terhadap tindak criminal (jarimah),
bagian-bagian hukum waris (mawaris), hukum perkawinan ( munakahat), hukum
perdagangan, hukum pidana (jinayah) dan lain-lain. Meskipun matan fiqh tersebut
dalam beberapa hal masih tampak sederhana, namun sudah bisa dikatakan cukup maju
untuk masanya. Jadi kesederhanaan itu bukan lantaran ketinggalan jaman, namun
sesuai dengan tuntutan waktu ketika pemikiran fiqh dihasilkan.

2. Pencabangan Fiqh.
Fiqh atau hukum Islam mempunyai cakupan yang sangat luas, seluas aspek
perilaku menusia dengan segala macam jenisnya. Dalam pembagian klasik fiqh
meliputi empat kelompok a. ibadah b. muamalat. . munakahat; d. jinayat.
Kemudian muncul istilah fiqh politik (fiqh siyasah ) dan fiqih-fiqih lainnya.
Fiqh siyasah sebenarnya tidak sekedar diterjemahkan sebagai ilmu tata Negara dalam
Islam, namun disejajarkan dengan ilmu politik islam atau Islamic Poltical Thought
dan seterusnya sehingga istilah-istilah tersebut menampakkan ciri fiqh yang berupa
exersice pemikiran yang tidak berhenti dan tetap berkelanjutan, tidak malah
didominasi oleh ciri fiqh yang sarat dengan nilai ibadah yang berkonsekwensi
mandeg.

Dari uraian tersebut diatas, ada dua hal yang bisa dikemukakan yaitu :
Pertama : Cakupan fiqh baik dalam pengertiannya yang bercabang-cabang
tadi maupun masih dalam pengertian hukum Islam, adalah sangat luas, seluas perilaku
manusia. Sehingga kasus-kasus baru yang sedang dan akan bermunculan akan selalu
menuntut jawaban dari fiqh atau hukum islam.
Kedua : agar selalu tetap eksis hukum islam harus mampu memberi jawaban
dengan cepat terhadap tuntutan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Disatu sisi jawaban
itu harus cepat dan tepat., untuk itu diperlukan pemikir yang mumpuni, dari sisi lain
spesialisasi cabang-cabang fiqh perlu dikembangkan sesuai dengan perkembangan
sosial budaya dan tehnologi yang ada. [27]

KESIMPULAN
Bab ini merupakan jawaban terhadap pertanyaan masalah yang penulis ajukan dalam
bab. I. yaitu bahwa yang dimaksud dengan :
1. Hukum Islam sebenarnya tidak lain dari pada fiqh islam atau syariat Islam,
yaitu koleksi daya upaya para fuqaha dalam menerapkan syariat Islam sesuai dengan
kebutuhan masyarakat yang bersumber kepada al-Quran As-Sunnah dan Ijmak para
sahabat dan tabiin.
2. Syariat : Bawa syariat, yang dimaksud adalah wahyu Allah dan sabda
Rasulullah, merupakan dasar-dasar hukum yang ditetapkan Allah melalui Rasul-Nya,
yang wajib diikuti oleh orang islam dasar-dasar hukum ini dijelaskan lebih lanjut
oleh Nabi Muhammad sebagai Rosul-Nya.
3. Fiqh artinyafaham atau pengertian., dapat juga dirumuskan sebagai ilmu
yang bertugas menentukan dan menguraikan norma-norma dasar dan ketentuan-
ketentuan umum yang terdapat di dalam al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad
yang direkam dalam kitab-kitab hadits, dan berusaha memahami hukum-hukum yang
terdapat di dalam al-Quran dan Sunnah nabi Muhammad untuk diterapkan pada
perbuatan manusia yang telah dewasa yang sehat akalnya yang berkewajiban
melaksanakan hukum islam.
2. Karakter dan tantangannya
Hukum islam menekankan pada final goal, yaitu mewujudkan kemaslahatan
manusia. dan kemajuan umuat melalui proses siyasah syariyyah, dengan produk qanun atau
perundang-undangan ;
Dalam membahas fiqh sering ditemui pengertian hukum dalam pengertiannya
menurut ilmu hukum, artinya fiqh. tidak ada pemisahan antara hokum Islam atau fiqh yang
merupakan hasil ijtihad ulama dengan konsep syariah Allah. Karena norma-norma dasar yang
terdapat di dalam AL Quran itu masih bersifat umum, perlu dirinci lebih lanjut ke dalam
kaidah-kaidah lebih konkrit agar dapat dilaksanakan dalam praktek..