Você está na página 1de 4

A.

DEFINISI
Leptospirosis merupakan penyakit hewan yang disebabkan oleh
beberapa bakteri dari golongan leptospira yang berbentuk spiral kecil disebut
spirochaeta. Bakteri ini dengan flagellanya dapat menembus kulit atau
mukosa manusia normal. Leptospira ini dapat hidup di air tawar selama lebih
kurang 1 bulan. Sistem klasifikasi tradisional didasarkan atas patogenitas yang
membedakan antara spesies patogen yaitu Leptospira interrogans dan spesies
nonpatogen yang hidup bebas, yaitu Leptospira biflexa. Leptospira berbentuk
ulir yang rapat, tipis dengan panjang 5-15 mm. Leptospira dapat hidup
berminggu-minggu di dalam air, khususnya pada pH basa. (Brooks, 2005)

B. PENYEBAB
Leptospirosis disebabkan bakteri pathogen (dapat menyebabkan
penyakit) berbentuk spiral termasuk genus Leptospira, famili leptospiraceae
dan ordo spirochaetales. Spiroseta berbentuk bergulung-gulung tipis, motil,
obligat, dan berkembang pelan secara anaerob. Genus Leptospira terdiri dari 2
spesies yaitu L interrogans yang merupakan bakteri patogen dan L biflexa
adalah saprofitik.
Berdasarkan temuan DNA pada beberapa penelitian terakhir, 7 spesies
patogen yang tampak pada lebih 250 varian serologi (serovars) telah berhasil
diidentifikasi. Leptospira dapat menginfeksi sekurangnya 160 spesies
mamalia diantaranya adalah tikus, babi, anjing, kucing, rakun, lembu, dan
mamalia lainnya. Hewan peliharaan yang paling berisiko mengidap bakteri ini
adalah kambing dan sapi.
Setiap hewan berisiko terjangkit bakteri leptospira yang berbeda-beda.
Hewan yang paling banyak mengandung bakteri ini (resevoir) adalah hewan
pengerat dan tikus. Hewan tersebut paling sering ditemukan di seluruh
belahan dunia.
Di Amerika yang paling utama adalah anjing, ternak, tikus, hewan
buas dan kucing. Beberapa serovar dikaitkan dengan beberapa hewan,
misalnya L pomona dan L interrogans terdapat pada lembu dan babi, L
grippotyphosa pada lembu, domba, kambing, dan tikus, L ballum dan L
icterohaemorrhagiae sering dikaitkan dengan tikus dan L canicola dikaitkan
dengan anjing. Beberapa serotipe yang penting lainnya adalah autumnalis,
hebdomidis, dan australis.

C. TANDA DAN GEJALA


Tanda-tanda dan gejala Leptospirosis biasanya muncul secara tiba-
tiba, sekitar 7 sampai 14 hari setelah seseorang terinfeksi. Dalam beberapa
kasus, tanda dan gejala tersebut mungkin muncul sebelum atau
sesudahnya. Ada dua jenis utama penyakit Lepitospirosis, yaitu : Leptospirosi
ringan dan Leptospirosis berat. Kedua jenis Leptospirosis ini memiliki tanda
dan gejala sebagai berikut:
1. Tanda dan Gejala Leptospirosis Ringan
Adapun beberapa tanda dan gejala Leptospirosis ringan yaitu :
a. Menggigil
b. Batuk
c. Diare
d. Sakit kepala, bisa datang tiba-tiba
e. Demam tinggi
f. Nyeri otot, khususnya punggung bawah dan betis
g. Mual
h. Hilang nafsu makan
i. Mata merah dan iritasi
j. Nyeri Kulit
Orang yang terkena gejala leptospirosis biasanya membaik dalam waktu
satu minggu tanpa pengobatan. Sebagian kecil dari mereka tidak
membaik, dan akan menderita Leptospirosis berat.
2. Tanda dan Gejala Leptospirosis Berat
Tanda dan gejala ini akan muncul beberapa hari setelah gejala
Leptospirosis ringan telah menghilang. Tanda dan gejala tergantung pada
organ vital yang telah terpengaruh oleh bakteri Leptospira sp.

D. CARA PENULARAN
Leptospira bisa keluar lewat urine/air seni hewan yang jatuh ke tanah.
Ini bisa berpotensi menginfeksi selama 6 48 jam. Pada urine yang
mempunyai pH netral atau basa, tidak terkontaminasi dengan deterjen dan
suhu di atas 22 derajat C, leptospira dapat hidup sampai berminggu-minggu.
Kita dapat terinfeksi bila terjadi kontak dengan air, tanah dan lumpur yang
terkena urine binatang tersebut.
Leptospira akan masuk ke kulit atau selaput lendir lewat luka atau
lecet pada kulit. Bakteri masuk kedalam tubuh manusia melalui selaput
lendir(mukosa) mata, hidung, kulit yang lecet atau makanan yang
terkontaminasi oleh urin hewan terinfeksi leptospirosa. Masa inkubasi dari
bakteri ini adalah selama 4 19 hari. Air yang menggenang atau mengalir
lambat akan memudahkan infeksi.

E. PENCEGAHAN
1. Membiasakan diri dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
2. Menyimpan makanan dan minuman dengan baik agar terhindar dari tikus
3. Mencuci tangan, dengan sabun sebelum makan
4. Mencuci tangan, kaki serta bagian tubuh lainnya dengan sabun setelah
bekerja di sawah/ kebun/ sampah/ tanah/ selokan dan tempat tempat yang
tercemar lainnya
5. Melindungi pekerja yang beresiko tinggi terhadap Leptospirosis ( petugas
kebersihan, petani, petugas pemotong hewan dan lain lain ) dengan
menggunakan sepatu bot dan sarung tangan.
6. Menjaga kebersihan lingkungan
7. Menyediakan dan menutup rapat tempat sampah
8. Membersihkan tempat tempat air dan kolam kolam renang.
9. Menghindari adanya tikus didalam rumah atau gedung.
10. Menghindari pencemaran oleh tikus.
11. Melakukan desinfeksi terhadap tempat tempat tertentu yang tercemar oleh
tikus.
12. Meningkatkan penangkapan tikus .

F. PENANGANAN
Pengobatan kasus leptospirosis masih diperdebatkan. Sebagian ahli
mengatakan bahwa pengobatan leptospirosis hanya berguna pada kasus kasus
dini(early stage)atau fase awal sedangkan pada fase ke dua atau fase
imunitas (late phase)yang paling penting adalah perawatan.
Tujuan pengobatan dengan antibiotik adalah:
1. mempercepat pulih ke keadaan normal
2. mempersingkat lamanya demam
3. mempersingkat lamanya perawatan
4. mencegah komplikasi seperti gagal ginjal (leptospiruria)
5. menurunkan angka kematian

Obat pilihan adalah Benzyl Penicillin. Selain itu dapat


digunakan Tetracycline,Streptomicyn, Erythromycin, Doxycycline, Ampicilli
n atau moxicillin.
Pengobatan dengan Benzyl Penicillin 6-8 MU iv dosis terbagi selama
5-7 hari. Atau Procain Penicillin 4-5 MU/hari kemudian dosis diturunkan
menjadi setengahnya setelah demam hilang, biasanya lama pengobatan 5-6
hari.
Jika pasien alergi penicillin digunakan Tetracycline dengan dosis awal
500 mg, kemudian 250 mg IV/IM perjam selama 24 jam, kemudian 250-
500mg /6jam peroral selama 6 hari. Atau Erythromicyn dengan dosis 250 mg/
6jam selama 5 hari.Tetracycline dan Erythromycin kurang efektif
dibandingkan dengan Penicillin.Ceftriaxone dosis 1 g. iv. selama 7 hari
hasilnya tidak jauh berbeda dengan pengobatan menggunakan penicillin.
Oxytetracycline digunakan dengan dosis 1.5 g. peroral, dilanjutkan
dengan 0.6 g. tiap 6 jam selama 5 hari; tetapi cara ini menurut beberapa
penelitian tidak dapat mencegah terjadinya komplikasi hati dan
ginjal.Pengobatan dengan Penicillin dilaporkan bisa menyebabkan komplikasi
berupa reaksi Jarisch-Herxheimer. Komplikasi ini biasanya timbul dalam
beberapa waktu sampai dengan 3 jam setelah pemberian penicillin intravena;
berupa demam, malaise dan nyeri kepala; pada kasus berat dapat timbul
gangguan pernafasan.