Você está na página 1de 3

Pada praktikum kali ini dilakukan penentuan kadar fosfor dalam urin

dengan menggunakan spektrofotometer. Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk


menentukan konsentrasi fosfor anorganik dalam sampel urin menggunakan
spektrofotometer UV-Vis. Fosfor merupakan komponen penting penyusun untuk
transfer energi (ATP & nukleoprotein lain), untuk sistem informasi genetik, untuk
membran sel (fosfolipid), dan fosfoprotein. Terlebih dahulu dilakukan pembuatan
reagen amonium molibdat dengan melarutkan amonium molibdat dalam aquades
lalu ditambahkan asam sulfat. Preparasi sampel dilakukan pengenceran urin dan
air dengan perbandingan 1: 10 dan ditambahkan TCA 5% lalu disentrifugasi agar
terpisah antara zat yang akan diukur dengan zat pengotornya sehingga diperoleh
supernatan.

Pengukuran konsentrasi fosfor dilakukan dengan analisis kuantitatif dengan


spektrofotometer pada panjang gelombang visible yaitu 690 nm. Dimana sampel,
blangko dan larutan standar dimasukkan ke well lalu ditambahkan amonium
molibdat dan asam sulfanilic masinng-masing ke dalam well, kemudian
diinkubasi selama 30 menit dan diukur absorbansinya.

Penambahan TCA 5% bertujuan untuk mengendapkan berbagai protein dan


zat pengotor di dalam larutan. Penambahan asam sulfat bertujuan untuk
mengubah semua metafosfat dan pirofosfat menjadi ortofosfat yang ada dalam
sampel sehingga akan bereaksi dengan amonium molibdat dan mempertahankan
terjadinya reaksi. Penambahan amonium molibdat bertujuan untuk mengikat
fosfor karena fosfor bersifat mudah teroksidasi, terjadi pembentukan amonium
fosfomolibdat berwarna kuning. Penambahan asam sulfinilic bertujuan mereduksi
sampel membentuk kompleks senyawa asam fosfomolibdenum berwarna biru,
dimana spektrofotometer dapat mendeteksi kadar fosfor berdasarkan serapan
intensitas warna pada panjang gelombang visible karena fosfor mempunyai
konsentrasi yang sangat kecil sehingga hanya terdeteksi pada panjang gelombang
tersebut. Warna biru tersebut dengan jumlah fosfor berbanding langsung dengan
intensitas larutan uji.
Dimana energi cahaya yang terserap berfungsi untuk transisi elektron yang
dapat menyebabkan eksitasi molekul pada sampel dari tingkat dasar ke tingkat
yang lebih tinggi. Pada panjang gelombang warna larutan dikorelasikan dengan
panjang ikatan pada senyawa phospor yang yang mengandung gugus-gugus
pengabsorbsi.

Pada praktikum ini dibuat kurva standar. Kurva standar merupakan standar
dari sampel yang dapat digunakan sebagai acuan untuk sampel tersebut pada saat
pengujian. Absorbansi adalah suatu polarisasi cahaya yang terserap oleh bahan
( komponen kimia ) tertentu pada panjang gelombang tertentu sehingga akan
memberikan warna tertentu terhadap sampel. Sinar bersifat monokromatis dan
mempunyai panjang gelombang tertentu. Jika cahaya yang bersifat monokromatis
tersebut dilewatkan pada media transparan maka intensitas cahaya akan berkurang
sebanding dengan ketebalan konsentrasi larutan. Untuk terjadi proses absorbansi
butuh senyawa standar. Sampel memiliki konsentrasi tertentu untuk dapat terjadi
proses absorbansi. Sampel tidak boleh terlalu pekat sehingga harus diencerkan
terlebih dahulu sebelum melakukan absorbansi. Pengenceran kurva baku 100
mg/dl diencerkan menjadi berbagai konsentrasi 1,5 mg/dl, 1 mg/dl, 0,5 mg/dl, dan
0,2 mg/dl. Pembuatan kurva standar ini bertujuan untuk mengetahui hubungan
antara konsentrasi larutan dengan nilai absorbansinya, sehingga konsentrasi
sampel dapat diketahui. Tujuan dari pembuatan larutan standar dengan volume
yang berbeda-beda adalah untuk membuat kurva kalibrasi yang nantinya akan
digunakan untuk menghitung kadar fosfor dalam sampel urin.

Pada pembuatan kurva standar dengan konsentrasi 0.1 mg/dl hasil


absorbansi yang di dapat menunjukaan angka yang terlalu tinggi sehingga dapat
merusak kurva yang dibuat, sehingga tidak digunakan. Dari pembuatan kurva
standar didapatkan persamaan

y= 0.1394x+0.0028 dengan koefisien korelasi 0.9651. Selanjutnya kadar


sampel dihitung menggunakan persamaan tersebut.
Berdasarkan pengukuran dengan menggunakan microplate reader, diperoleh
hasil kadar fosfat yang bervariasi, dimana kadar tertinggi yaitu 1,755 mg/dL dan
kadar terendah yaitu -0,271 mg/dL. Hasil pengukuran kadar yang berbeda jauh
tersebut kemungkinan diduga disebabkan oleh faktor kurangnya konsumsi fosfat
oleh pemilik sampel, fosfat yang menguap ketika perlakuan urin, preparasi sampel
yang kurang tepat, dan juga adanya kontaminasi yang mengganggu pada saat
pengukuran. Dari 36 sampel uji yang diukur kadar fosfat anorganiknya, diketahui
bahwa 8 sampel memiliki kadar fosfat dalam urin yang normal dan 28 sampel
memiliki kadar fosfat dalam urin yang tidak normal.