Você está na página 1de 14

About

Sitemap

Contact

Disclaimer

Asal Usul
Asal Usul | Asal Muasal

Home

Tembus Pandang

Berita Properti

Hanya di Indonesia

Berita Unik

Dl Skrg

5Besar

80-an

Search...

Asal Usul Asal Usul Asal Mula Masakan Padang


Asal Mula Masakan Padang
Asal Usul
Asal Usul :

I. Pengantar :
Sejak kapan masakan minang itu menjadi kekayaan budaya kuliner Minangkabau ? Bagaiman
asal usulnya ? Siapa yang pertama membuatnya? Bila pertanyaan ini kita ajukan kepada orang
tua-tua kita bahkan seorang ahli masak sekalipun, sebaiknya, simpan sajalah pertanyaan-
pertanyaan itu, sebab kemungkinan besar tidak ada yang bisa menjawabnya dengan pasti.
Seandainyapun kita bertanya pada para ahli kuliner dikancah Nasional, seperti : Tuty Soenardi,
Bondan Winarno, dan ibu Sisca (maklum tidak ada yang berasal dari etnis Minang), pasti mereka
tidak tahu tidak tahu asal usul masakan minang yang bercita rasa tinggi itu. Bagaimana cara
menelusuri sedemikian banyak jumlah makanan khas Minang ini. Namun, hasilnya nihil.
Saya bertanya kepada induak induak yang tinggal di daerah Padang Pariaman hingga Pesisir
Selatan. Di Bukit Tinggi saya juga bertanya kepada amai-amai yang berjualan masakan di Los
Lambuang. Merekapun tak ada yang bisa menjawab.
Namun mengingat menelusuri riwayat masakan Minang ini adalah penting, karena ia adalah
kekayaan budaya kuliner etnis Minangkabau, maka selayaknya kita mencoba menelusuri dari
hal- hal sebagai berikut ;
* asal usul nenek moyang minangkabau,
* karakter masyarakat primitive
* pengaruh asing pada alam Minangkabau

II. ASAL USUL MINANGKABAU DAN PENGARUH ASING DI MINANGKABAU :

Dalam sejarah Indonesia, maka Suku Minangkabau merupakan bagian dari kelompok Deutro
Melayu (Melayu Muda) yang melakukan migrasi dari belahan daratan Asia kurang lebih 500
tahun sebelum masehi. Diperkirakan alur penyebaran nenek moyang dari kelompok melayu
muda ini, bermula dari daratan Asia, menuju Thailand , kemudian masuk ke Malaysia Barat dan
terus masuk menuju tempat-tempat di Nusantara. Nenek moyang suku Minangkabau. Dari
Malaysia barat kemudian, bangsa ini masuk kearah Timur pulau Sumatera, menyusuri aliran
sungai Kampar hingga tiba di dataran tinggi yang disebut negeri Periangan, dilereng Gunung
Merapi. Sebagaimana yang dikisahkan dalam Tambo, sejalan dengan perkembangan penduduk
dan kelompok masyarakat ketika itu, nenek moyang etnis Minangkabau mencari tempat
pemukinan penduduk dan menemukan tiga lokasi untuk perluasan yang disebut Luhak nan Tigo
(darek). Dari Luhak nan Tigo inilah suku Minang menyebar ke seluruh wilayah yang disebut
alam Minangkabau.
Persentuhan bangsa yang telah mendiami alam minangkabau dengan bangsa yang berasal dari
jazirah Arab, Persia dan India, telah berlangsung jauh sebelum munculnya agama islam. Wilayah
minangkabau banyak dikunjungi, karena ketersedian hasil alam berupa ; rempah-rempah
khususnya pala dan merica, kapur barus, emas, menyebabkan mereka ingin menguasai wilayah
ini. Tidak kurang pula seperti ekspedisi Pamalayu dari Kerajaan Mojopahit, yang juga
bermaksud untuk menguasai sumber-sumber hasil alam di wilayah ini.

Adat dan budaya semakin berkembang, selain berasal dari Luhak nan Tigo, kemudian menyebar
kewilayah pesisir pantai pulau Sumatera. Wilayah rantau disebut Luhak rantau (luhak nan
bungsu).
Kedatangan bangsa Arab, India, Persia terjadi ketika pantai barat Sumatera menjadi pelabuhan
alternatif perdagangan selain Malaka. Demikian pula pesisir pantai jatuh ke tangan Portugis,
ketika perairan Malaka dikuasai oleh bangsa ini. Interaksi masyarakat pesisir pantai, banyak
terjadi dengan kedatangan pedagang pedagang ini.
Interaksi social, yaitu hubungan social yang dinamis, baik hubungan antar individu, antar
individu dan masyarakat dan antar masyarakat sendiri. Pengaruh timbal balik diperbagai segi
kehidupan manusia, melahirkan sesuatu hal yang dapat memenuhi semua kebutuhan hidup
manusia, termasuk dibidang kuliner.
Secara antropologi, setiap masakan menyebar seiring dengan penyebaran manusia. Makanan
yang tersebar itu kemudian bisa diterima di tempat lain. Selain itu, makanan juga menyebar
karena ada lokalisasi, proses industri yang disesuaikan dengan adapt dan budaya setempat.

III. Kekayaan budaya kuliner Minangkabau :


Tak terhingga kalimat untuk menggambarkan kekayaan yang dimiliki oleh alam Minangkabau.
Memiliki adat dan budaya yang sedemikian kuat. Didukung oleh alam yang indah dan kaya raya
dengan hasil alamnya, yang mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup manusianya.
Masyarakatnyapun dinamis, namun telah memiliki pedoman hidup yang bersandar pada falsafah
alam, dalam pola hubungan serasi antara manusia dan individu dengan alamnya, sehingg alam
terkembang jadi guru.
Dibidang kuliner, masyarakat semulanya membutuhkan makanan untuk kekuatan tubuh, yang
diperoleh dari bahan makanan yang mengandung karbo hidrat. Mereka menanam padi. Mereka
memasak nasi. Kemudian mereka melengkapi dengan lauk pauk yang diperoleh dari binatang
ternak yang dipelihara dan hidup di alam.
Resep dasar, yang dapat menyeimbangkan antara cita dan rasa masakan, diracik dengan
menggunakan bumbu-bumbu yang mengandung khasiat tertentu.
Kategori Masakan :
Hidangan khas Minang tersedia di seluruh pelosok Nusantara dan Mancanegara. Hampir bisa
dipastikan setiap orang pernah mencicipinya. Variasi bahan baku untuk masakan asal Minang ini
sungguh banyak. Kita dapat membedakan jenis masakan tersebut dalam kategori sebagai berikut,
yaitu :

1. Makanan utama
2. Makanan selingan
3. Kue-kue tradisional
4. Aneka Minuman khas Minang

Cita rasa yang utama di temui pada masakan khas Minang adalah gurih dan pedas. Rasa gurih
dan pedas tersebut diperoleh dari santan dan cabai merah yang memang banyak di konsumsi
orang Minang.
Rasa gurih dan pedas ini yang berasal dari santan dan cabe, dapat dicampur dengan bahan baku
apa saja. Semisal, bahan baku hewani , yaitu ; daging sapi, ayam atau bebek, ikan laut, ikan
tambak, termasuk telur ayam. Sementara sayurannya lebih banyak menggunakan kacang
panjang, daun singkong, pakis, nangka, buncis, serta petai dan jengkol.
Khasiat Bumbu tradional Minang:
Bumbu dalam masakan Minang memegang peranan penting dalam setiap masakan. Unsur
tradisional yang penting dalam setiap masakan itu, adalah :

Santan : sebagai ciri khas masakan Minang, tidak lain kekayaan hayati yang tumbuh dan subur
di Minangkabau. Santan membuat makan olahan apapun juga menjadi gurih legit. Sangat
diyakini pengolahan makanan dengan menggunakan santan akan menghasilkan cita rasa yang
luar biasa, seperti bangsa-bangsa Eropa yang menggunakan susu sebagai pencipta rasa gurih
masakan.

mengandung khasiat sebagai multivitamin, yang dapat* Cabe : menghangatkan tubuh dan
mengandung anti oksidan. Yang dapat menangkal radikal bebas yang berasal dari lemak-lemak
bahan baku makanan ataupun santan yang berpotensi mengandung lemak jenuh.

- untuk masakan tertentu).* Pemanis masakan , berasal dari : bawang merah dan bawang putih (
lengkuas, serai.* Empat serangkai bumbu utama : jahe, kunyit,
Bumbu ini mengandung khasiat obat, untuk menetralisir gangguan pencernaan akibat
penggunaan cabe merah atau hijau.
pengharum masakan : daun kunyit, daun jeruk dan untuk masakan tertentu (daun salam, daun
mangkok ).* Untuk

Orang Minang dalam mengolah masakan, tidak pernah pelit dalam memasukkan bumbu dalam
sebuah masakan. Mereka meracik masakan dengan bahan dan bumbunya kental dan terasa pekat.
Berdasarkan unsur tradisionil suatu masakan sebagaimana yang diuraikan diatas, maka manfaat
bawang merah dan bawang putih sebagai pembuat gurih masakan, adalah berbanding 2 : 1.
Bahkan ada yang memberi perbandingan bumbu dan bahan baku dalam masakan minang adalah
3 : 8. Artinya takaran bumbu adalah 3 berbanding 8 dengan takaran bahan baku. Dengan
perbandingan takaran ini, dapat dipastikan betapa gurihnya cita dan rasa masakan Minang .
Di lain daerah, misalnya Jawa atau Sunda, mereka memasukkan gula sebagai penyedap masakan.
Pada masakan Minang, tidak pernah menggunakan gula dalam setiap masakannya, baik gula
merah maupun gula putih. Gula hanya digunakan untuk membuat kue saja.

IV. Jenis Masakan Sederhana hingga Masakan yang Bercita Rasa Tinggi :

Dari unsur tradional setiap masakan minang sebagaimana yang telah dijelaskan pada butir III,
antara lain : pemanis masakan (bawang merah atau bawang putih), empat serangkai bumbu
masak (jahe, kunyit, lengkuas, serai), pengharum masakan yang berasal dari (daun kunyit, daun
jeruk, daun salam, kadang-kadang daun mangkok), maka masakan Minang dapat menjadi
masakan sederhana hingga menjadi masakan yang bercita rasa tinggi.

Masakan asli Minang :


Jenis masakan asli Minang adalah sebagai berikut :
a. Masakan yang dibakar, yaitu : panggang ikan, panggang ayam, sate Padang
b. Masakan yang direbus dengan menggunakan cabe merah : asam padeh ikan, asam padeh
daging atau kadang asam padeh ayam.
c. Masakan gurih dari santan ; kalio daging/ayam, gulai ikan/udang/cumi, gulai telur, gulai
nangka, gulai kacang panjang, gulai pakis, dll.
d. Rendang : utamanya berbahan dasar daging sapi.
e. Gulai itik ; termasuk masakan asli minang yang berasal dari Nagari Koto Gadang. Masakan ini
ditumis kemudian direbus dengan menggunakan cabe hijau.

Ada pula masakan yang merupakan hasil dari akulturasi budaya karena ada pengaruh asing yang
datang ke Minangkabau, seperti Arab, India, China, Belanda, yaitu :
a. Slada Padang :
Yang aslinya berasal dari negeri Belanda yang kemudian diolah menjadi masakan yang bercita
rasa Minang.
b. Gado Gado Padang :
yang berasal dari cara pengolahan makanan mentah atau rebusan dari tanah Jawa.
c. Soto Padang :
Soto ini kemungkinan mendapat pengaruh dari soup yang dibawa dari benua Eropa, yaitu
Belanda. Berisikan daging dan pergedel kemudian disiram cairan kaldu dengan unsur bumbu
tradisional minang.
d. Masakan serba Mie : Yang berasal dari negeri Cina.
e. Gulai bagar merah dan gulai putih (Karoma korma?) : Umumnya masakan ini dihidangkan
pada perhelatan besar dalam rangka selamatan atau kenduri. Di Negara asalnya, Jazirah Arab
atau India masakan ini hanya menggunakan bumbu yang sangat sederhana yang terdiri dari
bahan rempah-rempah, yaitu merica, kayu manis, buah pala, cengkeh dan garda munggu.
Masakan itu kemudian masuk ke alam Minangkabu bersamaan dengan masuknya pengaruh
asing, baik dalam rangka perdagangan ataupun penyebaran agama islam.

Penyebaran masakan ini selanjutnya diranah Minang, diikuti dengan upaya pe-lokalan. Proses
pelokalan masakan ini mungkin sama seperti pelokalan Islam di Minangkabau. Inilah yang
mengakibatkan muncul jenis masakan ini, yang ditempat aslinya disebut karee.
Di Minang, jenis masakan karee diolah dengan menggunakan santan dibumbui bumbu
tradional Minang disertai rempah- rempah tadi. Sedangkan di tempat asalnya tidak menggunakan
bumbu seperti yang digunakan pada bumbu tradisional Minang. Melainkan menggunakan
minyak samin bersama rempah. Sesungguhnya rempah-rempah itu berasal dari Negeri kita juga.
Ketika bangsa ini mendatangi tanah Sumatera yang jaya akan hasil alamnya.

V. Penutup
Mari kita berikan acungan jempol kepada ~padusi~ Minang, yang menemukan bumbu tradional
mengolah masakan Minang dari berbagai budaya kuliner nasional maupun asing. Ditangan
merekalah masakan itu menjadi bercita rasa tinggi, seperti yang ditampilkan di Restoran-restoran
yang bertaraf Internasional, maupun dilingkungan kedai nasi biasa. Demikian pula kaum lelaki
minang pun memiliki keahlian dalam masak-memasak.
Dalam setiap kesempatan acara dan kenduri ; Upacara sepanjang kehidupan manusia, Upacara
Yang Berkaitan dengan Perekonomian, Upacara keselamatan, selalu terhidang aneka ragam
masakan tradisional . Diantara semua ragam masakan itu, maka rendang merupakan menu utama
disetiap kesempatan
Saling mempengaruhi dalam setiap ragam masakan Minang, merupakan hal yang biasa, seperti
hasil suatu kebudayaan. Berbagai macam tradisi, masuk dalam budaya kuliner, yang berasal dari
pengaruh asing seperti Arab, India, China, Eropah.
Penyebaran budaya kuliner, diikuti dengan upaya pelokalan. Proses pelokalan masakan menjadi
masakan khas Minang mungkin sama seperti pelokalan Islam di Minangkabau. Inilah yang
mengakibatkan muncul berbagai jenis masakan di alam Minangkabau.
Penelusuran asal usul masakan dan penyebarannya memang baru sebatas kemungkinan.
Pasalnya, sumber-sumber yang ditanyai mengatakan, sejauh ini belum ada penelitian mendalam
khusus mengenai masakan kita. Mengapa itu terjadi? Menurut pendapat penulis Urang Minang
saja belum menganggap makanan sebagai bagian dari kekayaan budaya kuliner Minangkabau.
Ada yang berpendapat bahwa Makanan masih dianggap sesuatu yang sepele. Jadi, buat apa
dipelajari!!

Mengapa disebut masakan Padang ?


Tidak salah pula kiranya, bila masakan Minang itu dikenal menjadi Masakan Padang. Tempat
pijakan urang Minang meninggalkan kampong halamannya. Mereka berlayar pergi merantau
dari Pelabuhan Muara atau Pelabuhan Teluk Bayur yang berada di Kota Padang tercinta. Ketika
mereka tiba dirantau mereka menyebut daerah asalnya Padang . Makanya jangan heran hingga
saat ini etnis lain di Indonesia lebih mengerang orang Padang ketimbang urang Minang .
Demikian pula masakan.
Bagi penulis dengan adanya pencaplokkan hasil karya, cipta dan rasa anak bangsa, oleh Negara
tetangga kita, maka sangat penting bagi kita, untuk mematenkan masakan Minang itu. Ini
kekayaan yang tidak ternilai harganya. Budayawan Minang dengan Pemda Sumbar sebagai
mediator dan fasilitator harus berupaya menggali kekayaan budaya kuliner Minangkabau. Bila
masakan Padang ingin disebut Masakan Minang.

Jika kita bisa mengungkap riwayat atau legenda di balik makanan, mungkin makanan yang
biasa saja nilainya akan jauh lebih mahal. Kalau memang makanan itu ingin dijual, penggalian
informasi dan pengemasan memang perlu dilakukan. Ternyata produk kemasan masakan Minang

telah berlangsung sebagaimana yang telah kita ketahui bersama.

Sebagai penutup kata, konon secara filosofi adat dan budaya Minangkabau, Rendang memiliki
posisi terhormat dalam setiap hidangan.
Rendang yang terdiri dari 4 bahan pokok, mengandung makna, yaitu:
1. Daging (khususnya Sapi), sebagai bahan utama, pelambang Ninik Mamak dan
Bundokanduang yang akan memberi kemakmuran pada anak kemenakan dan anak pisang.
2. Kelapa, merupakan lambang Cerdik Pandai (Kaum Intelektual), yang akan merekat
kebersamaan kelompok dan individu
3. Cabe, merupakan lambang Alim Ulama yang pedas, tegas untuk mengajarkan syarak (agama),
4 Pemasak (Bumbu), peran funsional setiap individu dalam kehidupan berkelompok
danmerupakan unsur yang penting dalam hidup kebersamaan masyarakat Minang.
Mari kita gali setiap hasil dan produk budaya kita disaat dunia semakin global dan perantau
Minang semakin sulit pulang keranah Minang. (http://www.icrawl.org/)

Share this
Google Facebook Twitter More

Author : mayasari setiyaningsih

Related Posts


Asal Usul Nama Suku 'Betawi'

Asal-Usul Istilah Gaul

Singa sebagai lambang Malang mulai zaman Singosari hingga


Arema

Asal Usul Batu Akik

Next
Cerita Multi Level Marketing
Previous
Asal Mula Seni Suiseki

1 comments:

Write comments
Budi Santosa
July 15, 2014 at 9:15 AM delete

wah mantap ... keep posting terus yaa (Y)

Reply

Emoticon

Follow us

Weekly

Archive

Comments

Biografi Singkat : Raden Ajeng Kartini

Sejarah Terbentuknya Satuan Pamong Praja

Asal Mula Nama-Nama Hari

Sejarah Migrasi Orang Jawa di Suriname

Asal Mula Roti Croissant

Tanah untuk Usaha di Depok


Popular Tags
Asal Usul 171

Sejarah 95

Pertama Kali 61

Penemu 37

asal mula 23

Legenda 15

Biografi 11

Yang Paling 5

Most Trending


Biografi Singkat : Raden Ajeng Kartini

Sejarah Terbentuknya Satuan Pamong Praja

Asal Mula Nama-Nama Hari

Kisah Kanjeng Ratu Kidul

Legenda Jaka Tarub

Now! NetWork
Suppler Daging Sapi

Supplier Seafood

Resep Enak

Jual Ayam Potong

Rias Pengantin Bogor

Acara Tedak Siten

Info Gadget

Lele Sangkuriang Bogor

Rumah di Bintaro
Dokter Gigi Cempaka Putih

Tembus Pandang

Properti Indonesia

Klinik Gigi Bintaro

Dokter Gigi Depok

Rias Pengantin Bogor

Berita Properti

Scooter Indonesia

Mini Cooper Indonesia

Big Bike Indonesia

Tahun 80

Berita MEA

Panel Beton

Umroh Plus Turki 2016

Virgin Coconut Oil

Gawai Masa Kini

Humor Indonesia

Referensi Online

Foto Lucu

Kilas Kawat Dunia

Berita Bogor

Berita Depok
Lele Sangkuriang

Hanya di Indonesia

Asal Usul

Berita Unik

Asal Usul di Facebook


Translate
Powered by Translate

Total Pageviews

827,861
Copyright 2017 Asal Usul All Right Reserved
Created by Arlina Design