Você está na página 1de 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sejarah Agama menunjukkan bahwa kebehagiaan yang ingin dicapai dengan
menjalankan syariah agama itu hanya dapat terlaksana dengan adanya akhlak yang baik.
Kepercayaan yang hanya berbentuk pengetahuan tentang keesaan Tuhan, ibadah yang
dilakukan hanya sebagai formalitas belaka, muamalah yang hanya merupakan peraturan
yang tertuang dalam kitab saja, semua itu bukanlah merupakan jaminan untuk tercapainya
kebahagiaan tersebut.
Timbulnya kesadaran akhlak dan pendirian manusia terhadap-Nya adalah pangkalan
yang menetukan corak hidup manusia. Akhlak, atau moral, atau susila adalah pola tindakan
yang didasarkan atas nilai mutlak kebaikan. Hidup susila dan tiap-tiap perbuatan susila
adalah jawaban yang tepat terhadap kesadaran akhlak, sebaliknya hidup yang tidak
bersusila dan tiap-tiap pelanggaran kesusilaan adalah menentang kesadaran itu.
Kesadaran akhlak adalah kesadaran manusia tentang dirinya sendiri, dimana manusia
melihat atau merasakan diri sendiri sebagai berhadapan dengan baik dan buruk. Disitulah
membedakan halal dan haram, hak dan bathil, boleh dan tidak boleh dilakukan, meskipun
dia bisa melakukan. Itulah hal yang khusus manusiawi. Dalam dunia hewan tidak ada hal
yang baik dan buruk atau patut tidak patut, karena hanya manusialah yang mengerti dirinya
sendiri, hanya manusialah yang sebagai subjek menginsafi bahwa dia berhadapan pada
perbuatannya itu, sebelum, selama dan sesudah pekerjaan itu dilakukan. Sehingga sebagai
subjek yang mengalami perbuatannya dia bisa dimintai pertanggungjawaban atas
perbuatannya itu.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi fokus permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini dapat
dirumuskan sebagai berikut:
1. Pengertian Akhlak ?
2. macam macam akhlak pada sesama manusia?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian Akhlak
2. Untuk mengetahui macam macam akhlak
BAB II
1
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Akhlak


Kata Akhlak berasal dari Bahasa Arab, Jamak dari khuliq, yang artinya tabiat, budi
pekerti, watak, atau kesopanan. Sinonim kata akhlak ialah tatakrama, kesusilaan, sopan
santun (Bahasa Indonesia), moral, ethic (Bahasa Inggris), ethos, ethikos (Bahasa Yunani).
Namun akar kata akhlak dari akhlaqa sebagai mana tersebut diatas tampaknya kurang
pas, sebab isim masdar dari kata akhlaqa bukan akhlak, tetapi ikhlak. Berkenaan dengan
ini, maka timbul pendapat yang mengatakan bahwa secara linguistic, akhlak merupakan
isim jamid atau isim ghair mustaq, yaitu isim yang tidak memiliki akar kata, melainkan
kata tersebut memang sudah demikian adanya.
Untuk menjelaskan pengertian akhlak dari segi istilah, kita dapat merujuk kepada
berbagai pendapat para pakar di bidang ini. Ibnu Miskawaih (w. 421 H/1030 M) yang
selanjutnya dikenal sebagai pakar bidang akhlak terkemuka dan terdahulu misalnya secara
singkat mengatakan bahwa akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang
mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan
pertimbangan.
Sementara itu, Imam Al-Ghazali (1015-1111 M) yang selanjutnya dikenal sebagai
hujjatul Islam (pembela Islam), karena kepiawaiannya dalam membela Islam dari berbagai
paham yang dianggap menyesatkan, dengan agak lebih luas dari Ibn Miskawaih,
mengatakan akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-
macam perbuatan dengan gambling dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan
pertimbangan.

2.2 Ciri-Ciri Perbuatan Akhlak:


1. Tertanam kuat dalam jiwa seseorang sehingga telah menjadi
kepribadiannya.
2. Dilakukan dengan mudah tanpa pemikiran.
3. Timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya tanpa ada paksaan atau
tekanan dari luar.
4. Dilakukan dengan sungguh-sungguh.
5. Dilakukan dengan ikhlas.

2.3 Akhlak sesama manusia

2
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial (al insanu ijtima'iyyun bi at tob'i). Integritas
manusia dapat dilihat secara bertingkat, integritas pribadi, integritas keluarga dan integritas sosial.
Diantara ketiga lembaga; pribadi, keluarga dan masyarakat terdapat hubungan saling
mempengaruhi. Masyarakat yang baik terbangun oleh adanya keluarga-keluarga yang baik, dan
keluarga yang baik juga terbangun oleh individu-individu anggauta keluarga yang baik, sebaliknya
suasana keluarga akan mewarnai integritas individu dan suasana masyarakat juga mewarnai
integritas keluarga dan individu.
Hubungan antar anggota masyarakat ada yang diikat oleh faktor domisili pertetanggaan, ada
juga yang diikat oleh kesamaan profesi, atau kesamaan asal usul dan kesamaan sejarah. Oleh
karena itu disamping ada masyarakat lingkungan juga ada masyarakat pers, masyarakat pendidikan,
masyarakat ekonomi, masyarakat politik dan sebagainya, juga ada masyarakat etnik dan
masyarakat bangsa.
Dalam perspektip ini kita mengenal ungkapan yang mengatakan bahwa seorang pemimpin
adalah anak zaman, artinya kualitas masyarakat seperti apa akan melahirkan pemimpin seperti apa.
Seorang penulis juga anak dari zamannya, artinya pemikiran yang muncul dari seorang penulis
mencerminkan keadaan masyarakat zamannya. Bagi orang yang sadar akan makna dirinya sebagai
makhluk sosial maka ia bukan hanya dibentuk oleh masyarakatnya, tetapi secara sadar berusaha
membangun masyarakat sesuai dengan konsep yang dimilikinya.
Secara berencana ia membangun institusi-institusi yang akan menjadi pilar terbangunnya
masyarakat yang diimpikan, satu pekerjaan yang sering disebut dengan istilah rekayasa sosial,
social enginering. Islam mengajarkan bahwa antara individu dengan individu yang lain bagaikan
struktur bangunan (ka al bun yan), yang satu memperkuat yang lain. Masyarakat yang ideal adalah
yang berinteraksi secara dinamis tetapi harmonis, seperti yang diumpamakan oleh Nabi bagaikan
satu tubuh (ka al jasad al wahid), jika satu organ tubuh menderita sakit maka organ yang lain ikut
merasakannya dan keseluruhan organ tubuh melakukan solidaritas.
Dari sudut tanggung jawab anggauta masyarakat, suatu masyarakat itu diibaratkan Nabi
dengan penumpang perahu, jika ada seorang penumpang di bagian bawah melubangi kapal karena
ingin cepat memperoleh air, maka penumpang yang di bagian atas harus mencegahnya, sebab jika
tidak, yang tenggelam bukan hanya penumpang yang di bawah, tetapi keseluruhan penumpang
perahu, yang bersalah dan yang tidak.

Jadi disamping setiap individu memiliki HAM yang perlu dilindungi, dan setiap keluarga
memiliki kehidupan privacy yang perlu dihormati, maka suatu masyarakat juga memiliki norma-
norma dan tatanan sosial yang harus dipelihara bersama. Pelanggaran atas norma-norma sosial
akan berakibat terjadinya kegoncangan sosial yang dampaknya akan dirasakan oleh setiap keluarga
dan setiap individu. Akhlak terhadap masyarakat adalah bertujuan memelihara keharmonisan

3
tatanan masyarakat agar sebagai lembaga yang dibutuhkan oleh semua anggauta masyarakat ia
berfungsi optimal.
Di dalam lingkungan masyarakat yang baik, suatu keluarga akan berkembang secara wajar,
dan kepribadian individu akan tumbuh secara sehat.
Diantara akhlak terhadap masyarakat adalah:
1. Memelihara perasaan umum. Masyarakat yang telah terjalin lama akan memiliki nilai-nilai
yang secara umum diakui sebagai kepatutan dan ketidakpatutan. Setiap individu hendaknya
menjaga diri dari melakukan sesuatu yang dapat melukai perasaan umum, meski perbuatan
itu sendiri halal, misalnya berpesta di tengah kemiskinan masyarakat, memamerkan
kemewahan di tengah masa krisis ekonomi, menunjukkan arogansi kekuasaan di tengah
masyarakat yang lemah, menyelenggarakan kegiatan demontratif yang mengganggu
kekhustyu'an orang beribadah, dan sebagainya.
2. Berperilaku disiplin dalam urusan publik. Disiplin adalah mengerjakan sesuatu sesuai
dengan kemestiannya, menyangkut waktu, biaya, dan prosedur. Seorang yang disiplin,
datang dan pulang kerja sesuai dengan jadwal kerja, membayar atau memungut bayaran
sesuai dengan tarifnya, menempuh jalur urusan sesuai dengan prosedurnya. Pelanggaran
kepada disiplin, misalnya' menyuap atau menerima suap, meski dirasa ringan secara
ekonomi, tetapi bayarannya adalah rusaknya tatanan dan sistem kerja. Demikian juga
nepotisme dalam menggolkan urusan, meski tidak terbukti secara administratip, tetapi
sebenarnya merusak aturan main, yang pada gilirannya akan menjadi bom waktu. Korupsi
waktu sebenarnya juga suatu perbuatan yang merugikan orang lain, meski tak diketahui
secara pasti siapa yang dirugikan. Mark up atau manipulasi biaya/kualitas dari suatu
proyek pelayanan publik pada dasarnya merupakan perbuatan penghancuran terhadap masa
depan generasi.
3. Memberi kontribusi secara optimal sesuai dengan tugasnya. Ulama dan cendekiawan
menyumbangkan ilmunya, Pemimpin (umara) mengedepankan keadilan dan
tanggungjawab(amanah), pengusaha mengutamakan kejujuran, orang kaya
mengoptimalkan infaq dan sedekah, orang miskin mengutamakan keuletan, kesabaran dan
doa, politisi memelihara kesantunan dan kelompok profesional mengedepankan
profesionalitasnya.
4. Amar makruf nahi munkar. Setiap anggauta masyarakat harus memiliki kepedulian
terhadap hal-hal yang potensil merusak masyarakat, oleh karena itu mereka harus aktip
menganjurkan perbuatan baik yang nyata-nyata telah ditinggalkan masyarakat dan
mencegah perbuatan buruk yang dilakukan secara terang terangan oleh sekelompok
anggota masyarakat.
Banyak sekali rincian yang dikemukakan al-Quran berkaitan dengan perlakuan terhadap
sesama manusia. Petunjuk mengenai hal ini bukan hanya dalam bentuk larangan atau hal negatif,
seperti membunuh, mencuri, menyakiti badan atau yang lainnya. Namun disisi lain al-quran

4
menekankan bahwa setiap orang hendaknya didudukkan secara wajar, tidak masuk ke rumah orang
lain tanpa izin, jika bertemu saling mengucapkan salam, dan ucapan yang dikeluarkan adalah
ucapan baik, benar dan tidak mengucilkan orang lain atau kelompok, tidak wajar pula berprasangka
buruk tanpa alasan, atau menceritakan keburukan seseorang, memanggil dengan sebutan buruk.
Lalu dianjurkan untuk menjadi orang yang pandai memaafkan, pandai menahan hawa nafsu, dan
mendahulukan kepentingan orang daripada kepentingan kita. Allah berfirman dalam QS. An-Nur,
24: 58, QS. Al-Baqarah, 2: 83

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki,
dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu
hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan Pakaian (luar)mu di tengah
hari dan sesudah sembahyang Isya'. (Itulah) tiga 'aurat bagi kamu. tidak ada dosa atasmu dan tidak
(pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada
keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu.
dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (An-Nur 24:58)

Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu
menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak
yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, Dirikanlah
shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil
daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (Al-Baqarah 2: 83)

2.4 Akhlak terpuji (Mahmudah)


1) Husnuzan
Berasal dari lafal husnun (baik) dan Adhamu (Prasangka). Husnuzan berarti
prasangka, perkiraan, dugaan baik. Lawan kata husnuzan adalah suuzan yakni
berprasangka buruk terhadap seseorang . Hukum kepada Allah dan rasul nya wajib,
wujud husnuzan kepada Allah dan Rasul-Nya antara lain :
Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua perintah Allah dan Rasul
Nya Adalah untuk kebaikan manusia.
Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua larangan agama pasti
berakibat buruk.
Hukum husnuzan kepada manusia mubah atau jaiz (boleh dilakukan).
Husnuzan kepada sesama manusia berarti menaruh kepercayaan bahwa
dia telah berbuat suatu kebaikan. Husnuzan berdampak positif berdampak
positif baik bagi pelakunya sendiri maupun orang lain.

5
2) Tawaduk
Pengertian Tawadhu adalah rendah hati, tidak sombong. Pengertian yang lebih
dalam adalah kalau kita tidak melihat diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan
hamba Allah yang lainnya. Orang yang tawadhu adalah orang menyadari bahwa
semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari Allah SWT. Yang dengan
pemahamannya tersebut maka tidak pernah terbersit sedikitpun dalam hatinya
kesombongan dan merasa lebih baik dari orang lain, tidak merasa bangga dengan
potrensi dan prestasi yang sudah dicapainya. Ia tetap rendah diri dan selalu menjaga
hati dan niat segala amal shalehnya dari segala sesuatu selain Allah. Tetap menjaga
keikhlasan amal ibadahnya hanya karena Allah.
Tawadhu ialah bersikap tenang, sederhana dan sungguh-sungguh menjauhi perbuatan
takabbur (sombong), ataupun sumah ingin diketahui orang lain amal kebaikan kita.
Tawadhu merupakan salah satu bagian dari akhlak mulia jadi sudah selayaknya kita
sebagai umat muslim bersikap tawadhu, karena tawadhu merupakan salah satu akhlak
terpuji yang wajib dimiliki oleh setiap umat islam. Perhatikan sabda Nabi SAW
berikut ini :
Rasulullah SAW bersabda: yang artinya Tiada berkurang harta karena sedekah, dan
Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan. Dan
tiada seseorang yang bertawadhu kepada Allah, melainkan dimuliakan (mendapat
izzah) oleh Allah. (HR. Muslim).
Iyadh bin Himar ra. berkata: Bersabda Rasulullah SAW: Sesungguhnya Allah SWT
telah mewahyukan kepadaku: Bertawadhulah hingga seseorang tidak
menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap
lainnya.(HR. Muslim).
Rasulullah SAW bersabda, Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan
manusia. (HR. Muslim)
Ibnu Taimiyah, seorang ahli dalam madzhab Hambali menerangkan dalam kitabnya,
Madarijus Salikin bahwa tawadhu ialah menunaikan segala yang haq dengan
bersungguh-sungguh, taat menghambakan diri kepada Allah sehingga benar-benar
hamba Allah, (bukan hamba orang banyak, bukan hamba hawa nafsu dan bukan
karena pengaruh siapa pun) dan tanpa menganggap dirinya tinggi.
Tanda orang yang tawadhu adalah disaat seseorang semakin bertambah ilmunya maka
semakin bertambah pula sikap tawadhu dan kasih sayangnya. Dan semakin
bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya. Setiap

6
kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali
bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk
membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka
semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai
kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka. Ini karena orang yang
tawadhu menyadari akan segala nikmat yang didapatnya adalah dari Allah SWT,
untuk mengujinya apakah ia bersyukur atau kufur.

3) Tasamu
Tasamuh artinya toleransi. Adapun toleransi menurut istilah
tasamuh ialah suatu sikap yang menghargai dan menghormati
orang lain yang memiliki perbedaan dengan dirinya. Baik suku
bangsa, ras, golongan, mahzab, organisasi, agama, dan sebagainya.
Dengan sikap tasamuh, seseorang dapat berhubungan dan bergaul
secara rukun dan harmonis dengan orang lain, tanpa menghiraukan
adanya perbedaan tertentu diantara mereka. Memiliki sikap
tasamuh, artinya menyadari tentang kelemahan yang dimiliki.
Didunia ini, tidak ada manusia yang sempurna, yang dapat
memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Perhatikan firman Allah SWT.
Artinya ;
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari
seseorang laki-laki dan seseorang perempuan kemudian Kami
jadikan kamu berbagnsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling
mengenal. Sungguh yang paling mulia diantara kamu disisi Allah
ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui,
Maha Teliti (Qs. Al-Hujurat :13)
Pentingnya Tasamuh Sikap tasamuh memiliki peranan penting bagi
kehidupan manusia. Orang memiliki seikap tasamuh, niscaya dapat
hidup berdampingan secara aman dan damai dengan siapapun.
Meskipun diantara mereka terdapat berbagai perbedaan, namun
perbedaan itu tidak dijadikan sebagai sumber masalah dan
permusuhan. Sebagai muslim yang beriman, hendaknya kita

7
memiliki sikap tasamuh dalam kehidupan sehari-hari, agar dapat
menjalin persaudaraan yang harmonis dengan siapapun. Dengan
demikian sikap tasamuh bukan hanya wajib dimiliki oleh setiap umat
Islam, melainkan juga bagi siapapun yang ingin hidupnya damai,
tenteram, aman dan rukun. Tasamuh Terhadap Sesama Muslim Islam
menganjurkan umatnya agar senantiasa menjalin persaudaraan
dengan sesama muslim, dari kalangan manapun, apapun suku
bangsanya dan warna kulitnya. Tasamuh terhadap sesama muslim
ini merupakan landasan kehidupan bagi umat Islam. Jika persatuan
telah terwujud maka kekuatan akan diraih sehingga mereka dapat
menghadapi berbagai tantangan dan gangguan yang dapat
merugikan kaum muslimin. Dalam hal ini Umar Ibnu Khatab berkata:
Artinya ; Sesungguhnya Islam itu menghimpun diantara kamu satu
sama lain, dan memandang sama antara raja dan rakyat dari segi
hukum (Umar bin Khatab). Tasamuh Terhadap Non-Muslim Dalam
ajaran Islam, perbedaan agama tidak harus menimbulkan pertikaian,
permusuhan, apalagi peperangan. Bahkan Islam menganjurkan agar
umatnya senantiasa dapat bekerjasama dengan siapapun dalam hal-
hal kebaikan meskipun denganorang yang lain agama sekalipun.
Nilai Positif DariTasamuh Dalam Fenomena Kehidupan Orang yang
berakhlak tasamuh, sikap prilakunya akan mengandung nilai-nilai
terpuji dan mulia. Sehingga dapat mendatangkan nilai- nilai luhur
yang bermanfaat baik bagi pelakunya maupun masyarakat
lingkungannya.

4) Taawun
Taawun artinya sikap tolong menolong, bantu-membantu, dan
bahu-membahu antara satu dengan yang lain. Taawun juga dapat
diartikan sebagai sikap kebersamaan dan rasa saling memiliki dan
saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya, sehingga
dapat mewujudkan suatu pergaulan yang harmonis dan rukun.
Qs. Al maidah ayat 2
( )

8
Artinya: dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat
dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah,
Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya. (Qs Al maidah : 2)

2.5 Akhlak tercela (Mazmumah)


1) Hasad

Artinya iri hati, dengki. Iri berarti merasa kurang senang atau cemburu melihat orang lain
beruntung. Hasad adalah merasa tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada orang
lain. Bukanlah definisi yang tepat untuk hasad adalah mengharapkan hilangnya nikmat Allah dari
orang lain, bahkan semata-mata merasa tidak suka dengan nikmat yang Allah berikan kepada orang
lain itu sudah terhitung hasad baik diiringi harapan agar nikmat tersebut hilang ataupun sekedar
merasa tidak suka. Demikianlah hasil pengkajian yang dilakukan oleh Syaikul Islam Ibnu
Taimiyyah. Beliau menegaskan bahwa definisi hasad adalah merasa tidak suka dengan nikmat yang
Allah berikan kepada orang lain.

Hasad memiliki banyak bahaya di antaranya:

1. Tidak menyukai apa yang Allah takdirkan. Merasa tidak suka dengan nikmat yang telah
Allah berikan kepada orang lain pada hakikatnya adalah tidak suka dengan apa yang telah
Allah takdirkan dan menentang takdir Allah.

2. Hasad itu akan melahap kebaikan seseorang sebagaimana api melahap kayu bakar yang
kering karena biasanya orang yang hasad itu akan melanggar hak-hak orang yang tidak dia
sukai dengan menyebutkan kejelekan-kejelekannya, berupaya agar orang lain
membencinya, merendahkan martabatnya dll. Ini semua adalah dosa besar yang bisa
melahap habis berbagai kebaikan yang ada.

3. Kesengsaraan yang ada di dalam hati orang yang hasad. Setiap kali dia saksikan tambahan
nikmat yang didapatkan oleh orang lain maka dadanya terasa sesak dan bersusah hati. Akan
selalu dia awasi orang yang tidak dia sukai dan setiap kali Allah memberi limpahan nikmat
kepada orang lain maka dia berduka dan susah hati.

9
4. Memiliki sifat hasad adalah menyerupai karakter orang-orang Yahudi. Karena siapa saja
yang memiliki ciri khas orang kafir maka dia menjadi bagian dari mereka dalam ciri khas
tersebut. Nabi bersabda, Barang siapa menyerupai sekelompok orang maka dia bagian
dari mereka. (HR Ahmad dan Abu Daud, shahih)

5. Seberapa pun besar kadar hasad seseorang, tidak mungkin baginya untuk menghilangkan
nikmat yang telah Allah karuniakan. Jika telah disadari bahwa itu adalah suatu yang
mustahil mengapa masih ada hasad di dalam hati.

6. Hasad bertolak belakang dengan iman yang sempurna. Nabi bersabda, Kalian tidak akan
beriman hingga menginginkan untuk saudaranya hal-hal yang dia inginkan untuk dirinya
sendiri. (HR Bukhari dan Muslim). Tuntutan hadits di atas adalah merasa tidak suka
dengan hilangnya nikmat Allah yang ada pada saudara sesama muslim. Jika engkau tidak
merasa susah dengan hilangnya nikmat Allah dari seseorang maka engkau belum
menginginkan untuk saudaramu sebagaimana yang kau inginkan untuk dirimu sendiri dan
ini bertolak belakang dengan iman yang sempurna.

7. Hasad adalah penyebab meninggalkan berdoa meminta karunia Allah. Orang yang hasad
selalu memikirkan nikmat yang ada pada orang lain sehingga tidak pernah berdoa meminta
karunia Allah padahal Allah taala berfirman,

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian
kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian
dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa
yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. an Nisa': 32)

8. Hasad penyebab sikap meremehkan nikmat yang ada. Maksudnya orang yang hasad
berpandangan bahwa dirinya tidak diberi nikmat. Orang yang dia dengki-lah yang
mendapatkan nikmat yang lebih besar dari pada nikmat yang Allah berikan kepadanya.
Pada saat demikian orang tersebut akan meremehkan nikmat yang ada pada dirinya
sehingga dia tidak mau menyukuri nikmat tersebut.

9. Hasad adalah akhlak tercela. Orang yang hasad mengawasi nikmat yang Allah berikan
kepada orang-orang di sekelilingnya dan berusaha menjauhkan orang lain dari orang yang

10
tidak sukai tersebut dengan cara merendahkan martabatnya, meremehkan kebaikan yang
telah dia lakukan dll.

10. Ketika hasad timbul umumnya orang yang di dengki itu akan dizalimi sehingga orang yang
di dengki itu punya hak di akhirat nanti untuk mengambil kebaikan orang yang dengki
kepadanya. Jika kebaikannya sudah habis maka dosa orang yang di dengki akan dikurangi
lalu diberikan kepada orang yang dengki. Setelah itu orang yang dengki tersebut akan
dicampakkan ke dalam neraka.

2) Dendam
Dendam merupakan salah satu perilaku yang tercela. Dendam artinya adalah
keinginan keras di dalam hati untuk membalas orang lain. Apabila orang lain
berbuat suatu kesalahan kepada seseorang, maka di dalam hati memiliki
keinginan untuk membalasnya pada waktu yang lain. Keinginan tersebut
tertanam di dalam hati, dan berusaha mencari kesempatan untuk
melampiaskan dendamnya tersebut.
Islam tidak menginginkan umatnya menjadi pendendam, walaupun kepada
orang kafir sekalipun. Akan tetapi, Allah menghendaki hamba-hamba-Nya
untuk menjadi hamba yang pemaaf. Rasa benci dan amarah yang ada di dalam
hati, hendaklah ditahan untuk tidak dilampiaskan pada waktu yang lain. Orang
yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain
termasuk orang yang bertakwa yang akan disediakan surga oleh Allah swt.
Allah swt. berfirman dalam surah Ali Imran [2]:133-134
133. Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan
mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi
orang-orang yang bertakwa,

134. (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan
orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.
Dan Allah mencintai orang yang ber-buat kebaikan,

Rasulullah saw bersabda:













:



( )



11
Dari Abu Hurairah R.A., Rasulullah saw bersabda, Orang yang hebat itu
bukanlah orang yang kuat pukulannya, sesungguhnya orang yang kuat adalah
lyang mampu mengekang hawa nafsunya kegika marah. (H.R. Bukhari dan
Muslim)

Orang yang memiliki rasa dendam, memiliki ciri-ciri sebagai berikut.


1. Terdapat rasa benci di dalam hati terhadap orang yang didendami
2. Merasa tidak senang jika orang yang didendami mendapat suatu
kebahagiaan atau kenikmatan
3. Merasa senang jika orang yang didendami mendapat kesengsaraan,
musibah atau cobaan
4. Ingin berbuat jahat atau membalas kejahatan terhadap orang yang
didendami
5. Memengaruhi orang lain, untuk mencelakakan atau menjauhi orang yang
didendami.

Sifat dendam sangat membahayakan. Di antara bahaya sifat dendam sebagai


berikut.
1. Menghilangkan ketenangan jiwa
2. Berusaha menghindar bila bertemu dengan orang yang didendami
3. Selalu marah ketika orang lain menceritakan kebaikan orang yang kita
dendami
4. Membatasi pergaulan
5. Menimbulkan rasa iri hati, benci, dan marah kepada orang lain,
6. Suka mengumpat, membohongi dan membuka aib orang lain,
7. Merusak tali persaudaraan,
8. Menimbulkan perselisihan dan permusuhan,
9. Menimbulkan penyesalan di kemudian hari
10. Mendapat murka Allah swt.

3) Gibah dan Fitnah

Ghibah adalah Anda menceritakan tentang sesuatu yang dibenci oleh seseorang untuk diceritakan,
baik berkaitan dengan bentuk fisik, agama, dunia, kejiwaan, budi pekerti, harta, anak, suami, istri,
pembantu, pelayan, pakaian, cara berjalan, cara bergerak, senyuman, kecemberutan, dan lain

12
sebagainya. Apakah Anda menceritakannya lewat lisan, tulisan, atau sekadar isyarat dengan mata,
tangan, kepala, dan sejenisnya.

Berkaitan dengan fisik, seperti kata-kata Anda: buta, pincang, pincang sebelah, botak, pendek,
tinggi, hitam, kuning, dan seterusnya. Berkaitan dengan agama seperti kata-kata Anda: pendosa,
pencuri, khianat, zhalim, meremehkan shalat, meremehkan najis, tidak berbakti kepada orangtua,
tidak meletakkan zakat pada tempatnya, tidak menjauhi ghibah, dan lainnya.

Dalam hal dunia seseorang seperti kata-kata Anda: kurang ajar, meremehkan orang lain,
meremehkan hak orang lain, banyak omong, banyak makan, banyak tidur, tidur tidak pada waktu-
nya, duduk tidak pada tempatnya. Pada hal-hal yang berkaitan dengan orangtuanya, seperti kata-
kata Anda: bapaknya adalah pendosa, orang kulit hitam, pekerja kasar, dan sebagainya.

Pada budi pekerti seperti Anda katakan: akhlaknya buruk, sombong, suka cari perhatian, suka bikin
malu, bengis, lemah, penakut, suka ngawur, angkuh, dan seterusnya. Berkaitan dengan pakaian,
seperti kata-kata Anda: lebar lobang tangannya, panjang buntut pakaiannya, kotor pakaiannya, dan
seterusnya. Pokoknya yang menjadi pedoman adalah menceritakan tentang keadaan orang lain
yang keadaan tersebut tidak dia sukai. Imam Abu Hamid al-Ghazali telah mengutip kesepakatan
seluruh kaum muslimin, bahwa ghibah adalah apabila Anda menceritakan tentang orang lain
dengan cerita yang tidak disukainya.

Ada beberapa jenis ghibah yabg diperbolehkan dengan maksud untuk mencapai tujuan benar dan
tidak mungkin tercapai kecuali dengan ghibah.
Ghibah yang diperbolehkan tersebut sbb:

1. Melaporkan perbuatan aniaya yang dilakukan oleh seseorang.

2. Usaha untuk mengubah kemungkaran dan membantu seseorang keluar dari perbuatan
maksiat

3. Ghibah untuk tujuan meminta nasehat.

Sebab-sebab terjadinya perbuatan Ghibah antara lain:

1. Karena dendam dalam hati.

2. Ingin menunjukkan kelebihan dirinya dengan menyebutkan aib atau kekurangan orang lain.

3. Rasa dengki atas kesuksesan yang telah dicapai orang lain

13
4. Sebagai perlampiasan rasa marah.

5. Karena ingin menarik perhatian orang lain.

6. Sengaja untuk menghina dan menjelekkan orang lain.

Contoh-contoh perilaku Ghibah

1. Membicarakan keburukan orang lain melalui lisan, seperti teman, tetangga.

2. Membicarakan keburukan orang lain melalui bahasa isyarat.

3. Membicarakan keburukan orang lain melalui media massa tanpa ada maksud untuk
kebaikan

Bahaya sifat Ghibah

1. Menimbulkan kedengkian dan permusuhan

2. Menjatuhkan nama baik seseorang.

3. Merusak persatuan dan persaudaraan.

4. Merusak iman.

5. Menghapus amal kebaikan

Menghindari Perilaku Ghibah

Beberapa hal yang harus dilakukan supaya dapat terhindar dari perilaku Ghibah:

1. Selalu mengingat bahwa perbuatan ghibah adalah penyebab kemarahan dan kemurkaan
Allah.

2. Selalu mengingat bahwa amal kebaikan akan pindah kepada orang yang digunjingkannya.

3. Hendaklah orang yang melakukan ghibah mengingat terlebih dahulu aib dirinya sendiri dan
segera berusaha memperbaikinya.

4. Menjauhi hal-hal yang dapat menimbulkan terjadinya ghibah.

5. Senantiasa mengingatkan orang-orang yang melakukan ghibah.

14
4) Namimah
Adu domba atau namimah, yakni menceritakan sikap atau perbuatan seseorang yang
belum tentu benar kepada orang lain dengan maksud terjadi perselisihan antara keduanya.
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah
hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat
rahmat.
[QS. Al Hujurat:10]

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina(10), yang banyak
mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah(11), yang sangat enggan berbuat baik, yang
melampaui batas lagi banyak dosa, sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi
banyak dosa (12), yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya (13),karena dia
mempunyai (banyak) harta dan anak (14).
[QS. Al Qalam:10-14]

Tidak akan masuk surga orang yang mengadu domba (menebar fitnah)
[HR. Bukhari dan Muslim]

Imam Abu Hamid al-Ghazali rahimahullh mengatakan, Namimah biasanya dipakai untuk
menyebutkan aktivitas seseorang dalam memindahkan suatu perkataan dari satu orang atau
kelompok kepada orang lain atau kelompok lain, seperti jika Anda katakan kepada seseorang,
Ketahuilah bahwa si fulan mengatakan demikian dan demikian tentang kamu.

Tetapi, namimah tidak hanya terbatas pada hal seperti itu. Definisi namimah adalah mengemukakan
apa yang tidak disukai kedua belah pihak atau bahkan orang ketiga. Mengemukakannya bisa secara
lisan, tulisan, isyarat, atau lainnya. Yang dipindahkan bisa perkataan atau perbuatan, bisa aib
ataupun bukan. Sehingga hakikat namimah adalah mengemukakan apa yang dirahasiakan,
menyingkap tabir dari apa yang tidak disukai untuk dikemukakan.

Contoh-contoh perilaku Namimah

1. Mempunyai maksud yang tidak baik terhadap orang lain terutama orang yang sedang diadu
domba.

2. Terlalu mudah percaya pada orang lain tanpa mengetahui kebenarannya.

3. Suka menggosip

15
4. Menjadi provokator.

Bahaya Memiliki Sifat Namimah

1. Tersebarnya fitnah.

2. Timbulnya kekacauan dalam masyarakat.

3. Timbulnya permusuhan

4. Cara Menghindari Perilaku Namimah

Beberapa hal yang harus dilakukan supaya dapat terhindar dari perilaku namimah:

1. Menyadari bahwa perilaku namimah menyebabkan seseorang tidak masuk surga meskipun
rajin beribadah.

2. Jangan mudah percaya pada seseorang yang memberikan informasi negatif tentang orang
lain.

3. Menghindari faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku namimah, seperti


berkumpul tanpa ada tujuan yang jelas, menggosip dll.

16
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Akhlak adalah hal yang terpenting dalam kehidupan manusia karena akhlak mencakup
segala pengertian tingkah laku, tabi'at, perangai, karakter manusia yang baik maupun yang
buruk dalam hubungannya dengan Khaliq atau dengan sesama makhluk. Akhlak
merupakan hal yang paling penting dalam pembentukan akhlakul karimah seorang
manusia. Dan manusia yang paling baik budi pekertinya adalah Rasulullah S.A.W.

3.2 Saran
Dan diharapkan, dengan diselesaikannya makalah ini, baik pembaca maupun penyusun
dapat menerapkan akhlak yang baik dan sesuai dengan ajaran islam dalam kehidupan
sehari-hari. Walaupun tidak sesempurna Nabi Muhammad S.A.W, setidaknya kita termasuk
kedalam golongan kaumnya.

17
DAFTAR PUSTAKA

Bakry, Oemar. 1981. Akhlak Muslim. Aangkasa: Bandung


Nata, Abuddin. 2003. Akhlak Tasawuf. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta

18