Você está na página 1de 13

TEKNIK PEMELIHARAAN TRANSFORMATOR

Pemeliharaan Transformator merupakan cara untuk mempertahankan penyaluran tenaga


Listrik kepelanggan agar tidak terganggu, sehingga pelanggan mendapatkan kepuasan,
disamping itu pemeliharaan trafo dan asessoriesnya sendiri bertujuan untuk mempertahankan
kemampuan dan umur trafo tersebut agar perusahaan tidak mengeluarkan biaya yang sangat
besar untuk pemeliharaan trafo tsb.

Pemeriksaan/inspeksi yang seksama perlu dilakukan untuk menjamin agar transformator


selalu berada dalam kondisi yang baik. Apabila diperlukan maka transformator harus
dimatikan untuk melakukan pemeriksaan. Dengan pemeriksaan yang rutin dan seksama akan
diketahui kondisi transformator setiap saat dan kerusakan yang akan memakan biaya besar
dapat dihindari.

Untuk mendapatkan unjuk kerja dan umur trafo tsb diatas yang sesuai dengan yang
diharapkan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan dan pemeliharaan
mulai dari pabrikan, penerimaan/pemindahan, pembongkaran, pemasangan sampai
pengoperasian dan pembebanan.

3.1. PEMINDAHAN DAN BONGKAR TRAFO.

3.1.1. Penurunan transformator dari atas truck.

1. Memakai alat bantu Rope Sling dan Wire Sling :

Untuk menarik transformator dari atas truck dapat digunakan Rope Sling.

Posisi sling diletakkan di bawah atau pada dasar dan melingkar pada transformator yang akan
ditarik, karena tumpuan beratnya berada di dasar packing transformator.

2. Memakai alat bantu Forklift :

Untuk menurunkan transformator dari atas truck dengan menggunakan forklift yang harus
diperhatikan adalah, mengangkat dari bawah/dasar packing yang sudah dibuat khusus untuk
penurunannya. Tidak boleh terlalu kasar pada saat mendorong atau meletakkan tranformator
tersebut.

3. Memakai alat bantu crane :

Untuk menurunkan transformator dari atas truck dengan menggunakan crane maka bisa
mengangkatnya dari atas dengan menyantolkan sling ke tempat cantel yang sudah ada.

Jika posisi dari bak truck tidak rata, maka disaat penarikan dengan menggunakan sling
menuju ke posisi forklift yang akan menurunkannya harus secara perlahan karena cenderung
bisa merusak Arrester maupun LV Bushing.
Jadi tidak boleh salah pada saat penempatan sling sebagai alat bantu untuk menarik
transformator tersebut.

3.1.2. Cara Pembongkaran Kayu pada transformator yang dipacking penuh.

1. Harus membuka tutup atas terlebih dahulu dengan mencabut keseluruhan paku-paku
yang ada dengan menggunakan alat bantu cukit satu-persatu.

2. Setelah itu baru membuka stoot bagian dalam yang menyilang dengan mencabut
pakunya terlebih dahulu dengan alat bantu cukit.

1. Membuka klem siku plat yang berada pada sudut-sudut packing transformator
tersebut.

4. Tinggal melepas dari packing yang tersisa yaitu :

Pagar muka belakang

Pagar kiri kanan

PEMERIKSAAN SAAT PENERIMAAN BARANG.

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat penerimaan transformator antara lain :

3.2.1. Pemeriksaan Fisik.

Packing transformator, jika packing tertutup apakah masih tertutup baik.

Periksa assesoris transformator, apakah sudah sesuai dengan syarat kontrak yang disepakati,
misalnya Termometer, Oil Level, Buchholz Relay, Breather (silica gel ) dll.

Periksa Name Plate serta Sertifikat Transformator, apakah telah sesuai dengan
permintaan, pemeriksaan antara lain :

Daya/ Kapasitas . : kVA

Tegangan Sisi Teg. Tinggi : Volt

Tegangan Sisi Teg. Rendah : Volt

Pemeriksaan Vektor Group :

Pemeriksaan Tapping Tegangan :

Periksa Volume minyak pada gelas duga (oil Level), apakah terdapat kebocoran pada
transformator.

3.2.2 Pemeriksaan Elektrik


Antara sisi Tegangan rendah (TR) dengan sisi Tegangan Tinggi (TT).

Antara sisi Tegangan rendah (TR) dengan bodi (E).

Antara sisi Tegangan Tinggi (TT) dengan bodi (E).

X1 X2 dan X3 X4 untuk transformator 1 phasa.

Periksa hubungan phasa-phasa pada sisi TT dan sisi TR apakah terhubung dengan
baik ( Megger 0 Ohm).

Pada transformator 1 phasa dengan 4 bushing tegangan rendah X1 terhubung dengan X2 dan
X3 terhubung dengan X4 dan antara X1-X2 dan X3-X4 tidak terhubung ( Open ).

Pada transformator 1 phasa CSP (dengan pengaman) periksa apakah mekanisme breker
bekerja, dengan meng On/Off kan breker.

Gambar 1 Pengukur tahanan isolasi (Megger).

Pada saat On hubungan phasa X1 X2 dan X3 X4 terhubung atau jika diukur dengan megger
menunjuk nilai 0 (short), pada saat Off hubungan phasa terbuka (Open).

3.2.3. Pemeriksaan Tap Changer pada setiap posisi.

Ubah-ubah posisi tap changer mulai tap 1 sampai tap ter akhir, dengan cara pengendurkan
pengunci pada kepala tap tap changer, tarik kepala keatas dan putar pada tapping yang
dikehendaki. Pada tiap tap, terminal phasa tersambung (megger 0 ).

3.2.4. Pemeriksaan minyak Transformator.

Untuk transformator yang telah lama dan tersimpan digudang yang tidak digunakan (lebih
dari 1 tahun) sebelum diberi tegangan perlu diadakan pemeriksaan tegangan tembus minyak
trafo. Hal ini diperlukan karena dimungkinkan adanya benturan-benturan atau kebocoran-
kebocoran yang menyebabkan sil packing yang rusak sehingga adanya udara yang masuk ke
trafo, dan juga yang perlu diperhatikan saat penerimaan trafo dari pabrikan agar diperiksa
pada tahun pembuatannya

3.3. ASSESORIES TRANSFORMATOR.

Pada transformator dengan daya yang besar diperlengkapi dengan sistem proteksi
transformator, yaitu :

1. Thermometer Oli Double Contact.

2. Thermometer Winding Double Contact.

3. Buchholz Relay (trafo kapasitas besar).


4. Breather (Silica Gel).

5. Oil Level.

6. Fan (trafo kapasitas besar).

7. Pada Transformator type Hermatic peralatan 1 s/d 5 dapat digantikan dengan DGPT
yaitu satu peralatan untuk mendeteksi gas pressure dan temperatur minyak/oil.

Gambar 3 Assesoris Transformator


1. Relay buchol z. 2. Breather.

2. Thermometer. 4. Oil level.

3. Preseure relief Valve.

3.3.1. PENGATURAN KONTAK PADA THERMOMETER DOUBLE CONTACT.

Pengaturan kontak thermometer didasarkan pada Temperature Rise (kenaikan suhu)


Transformator seperti yang disyaratkan pada IEC-76, SPLN-50, dan SPLN-17 yaitu
temperature rise oli 55C, untuk type Hermatic atau dengan Conservator 60 C dan
temperatur rise winding 65C.

Karena transformator dirancang menurut standart IEC yang mengacu pada temperatur udara
sekitar 20C, maka jika dioperasikan pada temperatur udara sekitar 30C ( Keadaan di
Indonesia ) maka transformator tersebut akan mengalami penurunan daya (derating) yang
menurut SPLN-17A daya Transformator akan menjadi 91% dari daya sebenarnya. Sehingga
temperatur rise oli dan winding di set pada daya 91% daya nominal dan dengan
mengasumsikan rugi besi (Wf) 19 %, dan rugi tembaga (Wcu) Transfortnator, maka :

Temperatur Rise oli 91 % daya adalah :

TRoli 91 % = x TRoli 100 %

dimana X adalah :

0.8 untuk sirkulasi udara alami.

1,0 untuk sirkulasi udara paksa dan pendingin air.

Wcu 91 % = (91/100)2 Wcu 100 %

= 0.8281 Wcu 100 %

maka :

1. Untuk transformator dengan sirkulasi udara alami ( ONAN ) adalah 52.96 C.


2. Untuk Transformator dengan sirkulasi udara paksa ( ONAF ) adalah 51.33 C.

Sehingga pengaturan kontak Thermometer minyak adalah :

Untuk Alarm, 52.96 C + 30 C = 83 C untuk ONAN

51.33 C + 30 C = 81 C untuk ONAF

Untuk Tripping antara 90 C sampai 95 C.

Sedangkan untuk pengaturan kontak Thermometer Winding adalah :

TRwd =

dimana Y adalah :

1.6 untuk sirkulasi udara alami

2.0 untuk sirkulasi udara paksa dan pendingin air

maka :

1. Untuk Transformator dengan sirkulasi udara alami ( ONAN ) adalah 55.90 C.

2. Untuk Transformator dengan sirkulasi udara alami ( ONAF ) adalah 53.83 C.

Sehingga pengetesan termometer winding adalah :

untuk Alarm 55.90 C + 30 C-= 86 C untuk ONAN

53.83 C + 30 C = 84 C untuk ONAF

Untuk Tripping antara 90 C sampai dengan 95 C.

Gambar 4 . a. Thermometer double Contact.

1. Relay Bucholz

I3.3.2. BUCHOLZ RELAY.

Bucholz relay adalah suatu peralatan untuk mendeteksi gangguan dalam transformator yaitu :

Spark Over antara bagian-bagian ber-arus ( bertegangan ).

Spark Over antara bagian ber-arus dengan inti besi.

Inter turn short Circuit.

Kebocoran dari tangki, radiator dan pipa-pipa.


Gangguan yang disebabkan karena gas.

Bucholz relay pada keadaan normal kontaknya terbuka (Normally open), Cara Kerja Bucholz
relay adalah :

1. Memberikan sinyal peringatan (Terminal 3 4)

Ketika Volume kandungan gas dalam rangka bucholz naik sampai batas tertentu atau ketika
volume oli dalam rangka menurun.

2. Memberikan sinyal tripping (Terminal 1 2)

Ketika volume gas naik atau volume oli turun dengan cepat atau ketika kecepatan aliran oli
dari tangki ke konservator melebihi 1 m/sec.

3.3.3. Breather ( Silica Gel ).

Breather berfungsi sebagai lubang pernafasan transformator untuk menjaga tekanan dalam
tangki. Breather dilengkapi dengan silica gel untuk menyerap kandungan uap air dalam
transformator.

Pada saat sebelum pemasukan tegangan lepas packing karet ( yang tertutup) antara tangki
dengan breather. Jika silica gel masih baru akan berwarna biru karena mengandung cobalt
chloride dan akan berubah warna menjadi merah muda jika menyerap air, dan ganti dengan
yang baru.

3.3.4. Fan

Penggunaan fan akan membantu proses pendinginan transformator dan untuk desain tertentu
fan berfungsi untuk menaikkan kapasitas daya transformator tersebut, sebab perlu desain
khusus untuk bushing dan tap changernya.

Fan dapat dikerjakan secara manual atau otomatis dengan menambahkan thermostat pada
transformator.

3.4. PERSIAPAN PENGOPERASIAN TRANSFORMATOR.

3.4.1. Pemeriksaan Tahanan Isolasi.

Periksa kembali tahanan isolasi transformator sebelum ber operasi seperti dijelaskan pada sub
bab II.2.3.

3.4.2. Pemasangan kabel pada bushing.

Pemakaian kabel yang menghubungkan antara beban dan transformator, besar dan jumlahnya
tergantung pada besar beban yang ditanggung. pemasangan kabel usahakan memakai schuun
kabel yang sesuai dan harus rapat sehingga tidak akan menimbulkan loss kontak, demikian
pula yang terhubung dengan bushing sekunder.
Pemasangan kabel pada bushing sekunder sebaiknya ditopang dengan rak kabel (cable
Support) sehingga bushing sekunder tidak terkena gaya tarik/ gaya tekan dari kabel, apalagi
jika kabel dalam jumlah yang cukup banyak. Hal ini akan mengakibatkan bushing tertarik
dan menyebabkan kebocoran pada seal bushing atau bahkan bushing akan pecah.

3.4.3. Breather.

Buanglah packing karet (yang tertutup) pada breather jika masih ada untuk menjaga tekanan
dalam tangki transfortnator.

3.4.4. PEMINDAHAN TAP CHANGER.

Fungsi dari tap changer pada transformator adalah menyesuaikan tegangan dari output
transformator agar sesuai dengan supply peralatan listrik/ beban yang akan digunakan.
Perubahan tegangan ini mungkin terjadi karena supply oleh PLN berubah. Biasanya posisi
nominal tap changer akan berada pada tap 3 (tegangan primer 20 KV), apabila diperlukan
perubahan posisi tap changer prosedur yang harus di ikuti adalah sebagai berikut :

1. Lepas tegangan incoming transformator (sisi primer) dengan melepaskan Fuse Cut
Out atau melalui Circuit Breaker pada panel incoming trafo. dan pastikan bahwa
sudah tidak ada tegangan tinggi yang mensupply trafo. Untuk menghindari beban
kejut yang besar pada transformator saat pemasukan tegangan, lepas beban pada sisi
sekunder dengan membuka beban pada panel Out Going.

2. Grounding transforinator untuk memastikan safety, keamanan operator.

3. Lepas kunci pengaman tap changer.

4. Putar tap changer pada kondisi yang diinginkan. Catatan :

Contoh perhitungan perbandingan tegangan. misal, pada trafo 1000 KVA 20 KV/400 V, pada
posisi tap 3 terjadi penurunan tegangan menjadi 390 V (no load) maka perhitungan .
20.000/400 x 390 = 19.500.

Jadi tap diubah ke posisi tap 4. (lihat name plate). Maka ada sisi sekunder akan keluar
tegangan 400 V (standar).

5. Pastikan tap pada posisi yang benar.

6. Pasang kembali kunci pengaman tap changer.

7. Ukur dengan megger antar phasa untuk melihat hubungannya (megger harus nol).

8. Masukkan kembali tegangan pada sisi primer dan masukan beban secara bertahap.

3.5. TEHNIK PEMELIHARAAN TRANSFORMATOR.

Pemeriksaan yang seksama pada trafo yang sedang ber-operasi perlu dilakukan untuk
menjamin agar transformator selalu berada dalam kondisi yang baik. Apabila diperlukan dan
dapat membahayakan petugas, maka transformator tersebut dapat dimatikan agar
pemeriksaan yang dilakukan mendapatkan hasil/data yang optimal. Dengan pemeriksaan
yang rutin dan seksama akan diketahui kondisi transformator setiap saat dan kerusakan-
kerusakan yang akan memakan biaya besar dapat dihindari.

3.5.1. PEMERIKSAAN MINYAK TRANSFORMATOR.

3.5.1.1 Pemeriksaan level minyak.

Pemeriksaan level minyak perlu dilakukan secara berkala untuk mengetahui apakah minyak
masih dalam batas yang diijinkan, jika ditemui keadaan yang abnormal, maka perlu diteliti
penyebabnya untuk mengetahui adanya kebocoran pada tangki.

Periksa packing/gasket, valve dan bagian yang dilas jika dijumpai kebocoran segera hubungi
pabrik pembuat.

3.5.1.2. Pemeriksaan tegangan tembus minyak trafo.

Minyak transformator berguna untuk mengisolasi tegangan antara winding dan core, body
dan antara bagian-bagian yang bertegangan lainnya. Minyak juga berfungsi juga
memindahkan panas yang dibangkitkan oleh core dan winding ke peralatan pendingin. Oleh
sebab itu harus memenuhi persyaratan karakteristik seperti di bawah ini :

1. Harus mempunyai kekuatan isolasi (dielectric Strength)

2. Harus mempunyai efek pendingin yang baik atau kekentalan rendah.

3. Harus sudah dimurnikan dan bebas dari material yang dapat menimbulkan karat atau
kerusakan material isolasi lainnya.

4. Harus bebas dari material seperti uap air,fiber dll.

5. Tidak mudah menguap.

Minyak isolasi dalam transformator lambat-laun akan mengalami pencemaran sesuai dengan
umur pakainya.

Penyebabnya adalah, minyak akan beroksidasi bila berhubungan langsung dengan udara dan
prosesnya akan dipercepat dengan kenaikan temperatur, sedangkan kontak dengan metal
didalam tangki akan menimbulkan percampuran dengan logam tembaga, besi,kertas dan
larutan varnis. Selain hal tersebut diatas, dalam minyak terjadi reaksi kimia dekomposisi dan
polymerisasi yang akan menimbulkan endapan dalam minyak.

Endapan ini tidak berpengaruh langsung terhadap dielectric strength tetapi endapan ini
mengumpul pada winding dan akan mengakibatkan penyumbatan pada celah pendingin (oil
duct), radiator dan dinding tangki sehingga mempengaruhi temperature kerja yang
merupakan faktor penentu dari umur material isolasi.

Karena pencemaran minyak terutama disebabkan oleh proses oksidasi, maka tindakan
pencegahannya adalah :
1. Menghindarkan hubungan langsung minyak dengan udara. Untuk itu dibuat
konservator yang berfungsi mencegah kontak langsung antara minyak yang panas
dalam tangki dengan udara luar.

2. Uap air juga mencemari minyak transformator, oleh sebab itu dipasang dehydrating
breather yang diisi silica gel.

3. Tangki yang tertutup rapat (Hermatically Sealed) dan diisi dengan nitrogen.

4. Tangki yang tertutup rapat dan diisi minyak sampai penuh (Totally filled).

Karena pentingnya minyak transformator, maka perlu dilakukan pemeriksaan secara berkala,
menurut IEC-156 untuk :

Minyak baru sebelum diolah 30 KV/ 2.5 mm

Minyak yang telah diolah 50 KV/ 2.5 mm

Minyak yang telah digunakan 30 KV/ 2.5 mm

Pemeriksaan tegangan tembus minyak dianjurkan 3 tahun pertama setelah transformator


dioperasikan dan tiap tahun untuk tahun-tahun berikutnya. Jika hasil pemeriksaan
labolatorium oli tersebut dibawah standart maka perlu dimurnikan kembali atau diganti
dengan oli yang baru.

Metoda Pengambilan contoh

Karena tegangan tembus dari contoh sangat sensitif terhadap pencemaran, maka pengambilan
contoh harus dilakukan dengan hati-hati. Letak/titik pengambilan contoh dilakukan di tempat
yang dianggap paling tercemar, misalkan pada titik terbawah.

Contoh: minyak diambil dengan membuka kran/valve bagian bawah secara perlahan-lahan,
biarkan minyak sedikit terbuang untuk membersihkan valve dari kotoran-kotoran yang
terdapat pada valve tersebut. Siapkan botol gelas yang bersih dari kotoran dan uap air.

Gambar 5 Alat Test minyak Trafo

Jika minyak sudah terlihat bersih, jangan tutup valve selanjutnya masukkan minyak ke dalam
botol tersebut kurang lebih 800 ml (test teg tembus, kandungan air dan kekentalan). Tutup
botol tsb dengan tutup yang bersih, usahakan jangan sampai minyak tersentuh tangan, karena
minyak trafo ini sangat peka terhadap lingkungan yang ada disekitarnya.

3.5.2. PEMERIKSAAN NOISE

Bila ditemui Noise atau bising yang abnormal dan dapat dibedakan dari kondisi normal, hal
ini dapat menunjukkan gejala dini dari suatu gangguan.

Beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya noise :


1. Resonansi dari tangki dan radiator yang disebabkan oleh pe rubahan frekwensi atau
tegangan dari power source.

2. Adanya cacat pada mekanisme penjepit/penahan bagian da lam transformator.

3. Gangguan antar lapisan (inter layer short circuit) pada core yang disebabkan
kerusakan pada lapisan varnis antar lapisan, dengan penjepit atau baut-baut penahan.

4. Penjepit atau clamp core kendur.

5. Noise dari baaian-bagian yang sistem groundingnya kurang baik dan menyebabkan
terjadinya static discharge.

3.5.3. PEMERIKSAAN BAGIAN PENJEPIT DAN KATUP/ VALVE.

Jika ditemui bagian penjepit yang kurang kencang, misalnya pada terminal bushing atau
grounding, matikan transformator dan segera kencangkan, jika tidak akan berakibat adanya
local over heating yang akan merusak isolasi transformator.

Selain itu katup/valve dapat menjadi kendur dan bocor oleh getaran yang terjadi selama
transformator beroperasi, sehingga harus selalu dikontrol.

3.5.4. PEMERIKSAAN ASSESORIES.

Pemeriksaan assesories ini perlu dilakukan untuk mengetahui apakah masih bekerja dengan
baik, sehingga dapat mencegah gangguan-gangguan secara dini, antara lain :

1. Thermometer Oli Double Contact

2. Thermometer Winding Double Contact

3. Bucholz Relay.

4. Breather ( Silica Gel )

5. Oil Level

6. Fan

3.5.5. PEMERIKSAAN BAGIAN DALAM.

Pemeriksaan bagian dalam dilakukan secara berkala yaitu 7 tahun sekali untuk transformator
biasa dan 13 tahun sekali untuk transformator yang diisi nitrogen ( Nitrogen Seal Type ).
Pemeriksaan dapat dibagi menjadi tiga tahapan tergantung sejauh mana akan diadakan
pemeriksaan.

1. Menguras minyak sampai batas winding tetap terendam minyak.

2. Menguras semua minyak dalam tangki dan memeriksa bagian dalam transformator.
3. Mengangkat bagian dalam (inner) dari transformator.

3.5.5.1. PEMERIKSAAN WINDING.

Periksalah dengan seksama apakah terlihat adanya cacat, perubahan bentuk atau retak pecah
pada material isolasi. Periksalah apakah bagian dari penahan coil ada yg kendur.

Endapan yang terjadi pada dasar tangki dan pada winding harus dibersihkan dengan
menggunakan minyak.

3.5.5.2. PEMERIKSAAN CORE.

Periksalah apakah core tidak terjadi karat, bekas discharge/hangus, perubahan bentuk, dan
keadaan abnormal lainnya termasuk konstruksi penahan,ipenjepit, juga apakah sistem
grounding dalam kondisi baik.

3.5.5.3. PEMERIKSAAN LEAD WIRE DAN PENAHANNYA.

Periksalah apakah tidak terjadi cacat, kendur atau bagian-bagian yang hampir putus, terutama
pada material isolasinya dimana sudah rapuh, apabila transformator berumur cukup tua.

3.5.5.4. PEMERIKSAAN TAP CHANGER.

Periksalah dengan seksama apakah pada tap changer tidak ada bekas discharge/hangus, atau
karat.

Periksa juga pada kontak-kontaknya apakah mekanisme masih berjalan dengan baik,
sehingga tidak terjadi loss contact yang akan berakibat terjadinya discharge.

3.5.5.6. PEMERIKSAAN GARDU/LINGKUNGAN.

Karena tegangan tinggi cenderung menghisap debu maka debu sering menempel khususnya
pada bushing tegangan tingginya. Hal ini sepele tapi perlu untuk memperoleh perhatian
khusus, karena debu tersebut dapat mengakibatkan turunnya tahanan isolasi pada bushing
sehingga lebih mempermudah discharge.

Bersihkan debu-debu tersebut pada saat transformator tidak bekerja (listrik padam). Untuk
lebih amannya lepas tegangan incoming transformator (sisi primer) dengan melepas fuse Cut
Out atau melalui Circuit Breaker pada panel incoming transformator. Perhatikan pula
kemungkinan tumbuhnya tanaman di dalam gardu listrik.

Untuk menjaga agar temperatur transformator tidak terlalu panas, maka suhu ruangan
disekitar transformator ditempatkan harus dijaga sekitar 30 C. Kenaikan suhu ruangan akan
menyebabkan kenaikan suhu transformator, untuk menanggulangi hal tersebut dapat
ditambahkan fan untuk menghisap udara panas dari ruangan keluar (dengan EXHAUST
FAN).

3.6. PEMBEBANAN TRANSFORMATOR TERENDAM MINYAK


Berdasarkan IEC 76 transformator yang dirancang dengan syarat pelayanan antara lain bahwa
untuk transformator yang berpendingin udara maka suhu udara tidak boleh melampaui :

30 C rata-rata harian

20 C rata-rata tahunan

Selain itu suhu udara tidak boleh melampaui 40 C dan lebih rendah dari -25 C (pasangan
luar) atau -5 C (pasangan dalam).

Transformator tersebut dapat dibebani 100% selama 24 jam selama terus menerus.

Menurut SPLN 17 1979 suhu rata-rata tahunan di Indonesia antara 24 C sampai 27 C


untuk musim penghujan dan kemarau dan di beberapa daerah di Indonesia suhu rata-rata
tahunan pada musim kemarau 30 C.

Dengan demikian jelaslah bahwa bila sebuah transformator dioperasikan dengan beban penuh
secara kontinue dan tidak terputus, maka transformator ini akan mengalami Kenaikan Susut
Umur, dengan kata lain mengalami umur yang lebih pendek.

Maka perlu untuk memperhatikan pembebanannya sehingga tidak melampaui batas


pemburukan isolasi yang layak karena efek termis dan dicapai umur kerja transformator
selama 20 tahun (7300 hari) sesuai dengan Publikasi IEC 354 (1972) sehingga transformator
akan mempunyai susut umur normal (normal loss of life) 0.0137 0 per hari.

Berdasarkan hal tersebut diatas maka diperlukan pedoman pembebanan transformator sesuai
dengan keadaan Indonesia.

Standart yang mengatur pembebanan transformator minyak adalah SPLN 17-1979.

Bilamana beban lebih yang sebenarnya mempunyai dua atau lebih periode beban lebih yang
dipisahkan oleh periode periode beban rendah, maka waktu pembebanan beban lebih t,
dapat diambil sebagai penjumlahan waktu waktu pembebanan lebih. Keadaan beban lebih
yang selang-seling ini tidak seberat bila dibandingkan dengan beban lebih tunggal untuk
waktu total t yang sama.

JADWAL BERKALA PEMERIKSAAN/PEMELIHARAAN TRANSFORMATOR

No Item Pemeriksaan Mingguan Bulanan Tahunan 7 Tahunan


1 Noise XXX

2 Suhu / temperature XXX

3 Fisik Transformator XXX

4 Bushing, Packing & valve XXX


5 Oil Level XXX

6 Teg tembus Oil Trafo - XXXX

7 Breather/Silica gel (jika ada) -

8 Gardu/Lingkungan Trafo - XXX