Você está na página 1de 22

BAB I

PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Kandung empedu merupakan kantong berbentuk alpukat yang terletak
tepat dibawah lobus kanan hati. Empedu yang disekresi secara terus menerus oleh
hati masuk ke saluran empedu yang kecil dalam hati. Fungsi utam kandung
empedu adalah menyimpan dan memkatkan empedu. Kandung empedu
menyimpan sekitar 45 ml empedu. Empedu hait tidak dapat segera masuk ke
duodenum akan tetapi melewati duktus hepatikus, empedu masuk ke duktus
sistikus dan ke kantong empedu. Secara berkala kandung empedu mengosongkan
isinya ke dalam duodenum melalui kontraksi simultal lapisan ototnya dan
relaksasi sfinter oddi.
Rangsangan normal kontraksi dan pengosongan kandung empedu adalah
masuknya kimus asam dalam duodenum. Adanya lemak dalam makanan
merupakan rangsang terkuat untuk menimbulkan kontraksi.
Penyakit kandung empedu sendiri jarang terjadi, kecuali bila disertai
dengan adanya batu empedu. Batu empedu dalam kandung empedu tidak
menimbulkan keluhan penderita, kecuali bilamana batu tersebut masuk ke duktus
sistikus kholeduktus.
Dibawah ini akan di bahas mengenai penyakit kandung empedu yaitu
kholelityasis.

b. Pokok Bahasan
Pengertian cholelitiasis, etiologi, patofisiologi, manifestaasi klinik,
complikasi, study diagnosa, managemen medik, manajemen keperawatan.
Askep yang meliuti pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, evaluasi.

1
c. Tujuan
Dengan penulisan makalah ini diharapkan :
1. Mahasiswa mampu menjelaskan kembali apa yang di maksud dengan penyakit
kholelityasis, Etiologi, patofistologinya,manifestasi klinik, komplikasinya.
Mahasiswa mampu, melakukan asuhan keperawatan terhadap pasien dengan
kholelityasis.
d. Manfaat
1. Penulis semakin terlatih dalam membuat makalah dan asuhan keperawatan
2. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis khususnya tentang asuhan
keperawatan kolelitiasis

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian
Batu empedu merupakan endapan atau lebih komponen empedu :
kolesterol, bilirubin, garam empedu, kalsium, dan protein.
Kolesterol dan bilirubin tidak dapat larut dalam air. Batu empedu dapat terbentuk
dari bilirubin saja, kolesterol saja atau berupa batu campuran kolesterol. Batu
campuran ini mengandung kalsium.
Batu bilirubin murni biasanya kecil, majemuk, hitam dan di kaitkan dengan
kelainan hemolifik.
Batu kolesterol murni biasanya besar, soliter, bulat, dan oval, berwarna
kuning pucat.
Batu kolesterol campuran paling sering di temukan, majemuk, berwarna
cokelat tua.

B. Anatomi dan Fisiologi


Kandung empedu merupakan kantong berbentuk alpukat yang terletak tepat
dibawah lobus kanan hati. Kandung empedu mempunyai fundus, korpus,
infundibulum, dan kolum. Fundus bentuknya bulat, ujung nya buntu dari kandung
empedu. Korpus merupakan bagian terbesar dari kandung empedu. Kolum adalah
bagian yang sempit dari kandung empedu.
Empedu yang di sekresi secara terus menerus oleh hati masuk ke saluran
empedu yang kecil dalam hati. Saluran empedu yang kecil bersatu membentuk
dua saluran yang lebih besar yang keluar dari permukaan hati sebagai duktus
hepatikus komunis. Duktus hepatikus bergabung dengan duktus sistikus
membentuk duktus koledokus
Bagian bagian dari kandung empedu :
a. Fundus Vesikafelea
Bentuknya bulat, ujung buntu dari kandung empedu yang sedikit
memanjang di atas tepi hati, dan sebagian besar tersusun atas otot polos dan
jaringan elastik merupakan tempat penampungan empedu.

3
b. Korpus Vesikafelea
Bentuknya terbesar dari kandung empedu dan ujungnya membentuk leher
dari kandung empedu
c. Leher Kandung Empedu
Merupakan leher dari kandung empedu yaitu saluran yang pertama
masuknya getah empedu ke badan kandung empedu lalu menjadi pekat berkumpul
dalam kandung empedu.
d. Duktus Sistikus
Panjangnya + 3 cm berjalan dari leher kandung empedu dan bersambung
dengan duktus hepatikus membentuk saluran empedu ke duodenum
e. Duktus Hepatikus
Saluran yang keluar dari leher
f. Duktus koledukus
Saluran yang membawa empedu ke duodenum
Pasokan darah ke kandung empedu adalah melalui arteri akan terbagi menjadi
arteria dan posterior secara khas merupakan cabang dari arteri hepatica kanan,
tetapi asal dari arteri sistika bervariasi.

4
C. Etilogi dan Patofisiologi
Etiologi batu empedu masih belum jelas diketahui dengan sempurna; akan
tetapi faktor predisposisi yang paling penting yaitu gangguan metabolisme yang
disebabkan oleh perubahan susunan empedu dan infeksi kandungan empedu.
Cholelitiasis terjadi keseimbangan yang mengatur kolesterol, garam-garam
empedu, kalsium dalam larutan terganggu, sehingga terjadi pengendapan dari
substansi-substansi tertentu.
Perubahan susunan empedu merupakan paling penting pada pembentukan batu
empedu. Penyelidikan membuktikan penderita penyakit batu kolesterol
mensekresi empedu yang sangat jenuh dalam kolesterol. Kolesterol yang
berlebihan mengendap dalam kandung empedu.
Statis empedu dalam kandungan empedu dapat mengakibatkan supersaturasi
dan perubahan komposisi kimia dari empedu dalam mobolitas.
Faktor hormonal, khususnya selama kehamilan, mungkin menyebabkan
gangguan kantung empedu, batu dapat tertahan dalam kantung empedu atau
berpindah ke saluran kistikatau saluran empedu. Batu ini dapat menyebabakan
nyeri ketika berjalan melalui saluran dan tersangkut sehingga menghasilkan
gangguan.
Infeksi bakteri dalam saluran empedu dapat berperan sebagai dalam
pembentukan batu, melalui peningkatan deskuamasi sel akan pembentukan
mukus. Mukus meningkatkan viskositas dan unsur seluler atau bakteri dapat
berperan penting sebagai pusat presipitasi.

D. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis terjadi dimana batu empedu menghalangi saluran
empedu, jika rintangan terjadi di duktus sitikus, empedu dapat terus mengalir
langsung ke duodenum dari lifer.

Manifestasi klinis Etiologi


Jaundice, warna urine - Tidak ada cairan empedu yang masuk ke dalam
gelap,gemetar (epilepsi) duodenum.
- Bilirubin dapat larut dalam urine.
Tidak adanya Urobilinogen - Bilirubin tidak mencapai saluran intestimen
dalam urine untuk di ubah menjadi urobilinogen

5
- Feces berwarna pekat - Sama dengan diatas, adanya endapan garam
- Gatal-gatal empedu didalam jaringan kulit.
- Kesalahan absorbsi atau - Tidak ada empedu di saluran intestimen untuk
absorbsi lemak yang emulsify fat; pengeluaran feces bersamaan
mudah larut dalam dengan asam lemak.
vitamin (A, D, E, K) - Hilangnya lemak yang dapat larut dalam vitamin
.
- Intoleransi terhadap - Tidak ada di dalam saluran intestimen
makanan berlemak
(anoreksia)
- Perdarahan - Menurunnya absorbsi vitamin K mengakibatkan
menurunnya produksi prothombin
- Steatorrhea (lemak lebih - Tidak adanya garam empedu diduodenum,
banyak di feses) mencegah fat-emulsion dan pencernaan.

Cholelityasis dapat menimbulkan gejala yang hebat atau tanpa gejala.


Beratnya gejala tergantung pada saluran mana yang terjadi penyumbatan,
spasm/kejang pada jaringan merupakan respon terhadap batu sebagai usaha untuk
memindahkan.
Kadang-kadang produksi dari batu empedu dapat menghasilkan nyeri yang hebat.
Nyeri yang hebat di sertai denga tachycardia, diaphoresis, dan preostiation
(lemah). Serangan nyeri ini terjadi pada skala 3-6 sesaat kemudian setelah
memakan makanan yang sukar di cerna atau di mana pasien mengambil posisi
berbaring.

6
E. Pathway

Perubahan
THWAY sekresi empedu Gangguan kontraksi kandung empedu, Infeksi bakteri dalam
spasme sfingter oddi, hormone kehamilan saluran empedu

Sekresi empedu jenuh kolestrol oleh hati


Unser sel/bakteri,
Stasis bilier mucus, meningkatkan
Endepan kolestrol dalam kandung empedu viskosita empedu

Supersaturasi progesif

Perubahan unsure kimia

pengendapan

Batu empedu

Obstruksi duktus sistikus Obstruksi duktus Kolesistitis akut Kolesistisis kronis

Distensi kandung Gangguan absorbs Penyerapan biliburin Kolik bilier Dyspepsia, intoleransi
empedu vitamin A, D, E, K indirek (terkonjugasi) lemak, nyeri ulu hati,
oleh darah flatulen

Gangguan
epigastrium : rasa
penuh, nyeri, samar Penyerapan biliburin Feses dempul
Urin gelap
kuadran kanan atas indirek (terkonjugasi)
oleh darah

Rupture kandung
empedu ikterus

peritonitis pruritus

Fundus kandung
empedu

7
F. Pemeriksaan Diagnostik Koleliatis
1. Pemeriksaan sinar X abdomen
2. Ultrasonografi
Pemeriksaan USG teelah menggantikan kolesistografi oral sebagai prosedur
diagnostik pilihan karena pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan cepat serta
akurat dan dapat digunakan pada penderita disfungsi hati dan ikterus.
3 Pemeriksaan pencitraan radionuklida atau koleskintografi. Dalam prosedur ini
preparat radioaktif disuntikkan secara intravena. Preparat ini kemudian
diambil oleh hepatosit dan dengan cepat disegresikan ke dalam sistem bilier.
Selanjutnya dilakukan pemindaian saluran empedu untuk mendapatkan
gambaran kandung empedu dan percabangan bilier.
4 Kolesistografi
Kolangiografi oral dapat dilakukan untuk mendeteksi batu empedu dan
mengkaji kemampuan kandung empedu untuk melakukan pengisian,
memekatan isinya, berkontraksi serta mengosongkan isinya. Media kontras
yang mengandung iodium yang diekskresikan oleh hati dan pekatkan dalam
kandung empedudiberikan kepada pasien. Kandung empedu yang normal akan
terisi oleh bahan radiopaque ini. Jika terdapat batu empedu, bayangan akan
tampak pada foto rontgen.
5 Pemeriksaan laboratorium:
a. Darah lengkap: leukositosis sedang(akut).
b. Bilirubin dan amilase serum: meningkat.
c. Enzim hati serum: AST(SGOT); ALT(SGPT); LDH agak meningkat; alkalin
fosfat dan 5- nukleotidase: ditandai dengan peningkatan okstruksi bilier.d.
Kadar protrombin: menurun bila obstruksi aliran empedu dalam usus
menurunkan absorpsi vitamin K.

g. Penatalaksanaan Kolelitiasis
1. Penatalaksanaan non bedah
a. Farmakologis
Untuk menghancurkan batu: ursodiol/actigal.

8
Efek samping: diare, bersifat hepatotoksik pada fetus sehingga kontra
indikasi pada ibu hamil
Mengurangi konten kolesterol dalam batu empedu: chenodiol/chenix
Untuk menurangi gatal-gatal: cholestyramine (Questran)
Menurunkan rasa nyeri: analgesik
Mengobati infeksi: antibiotik
b. Pengangkatan batu empedu tanpa pembedahan
Pelarutan batu empedu
Dengan menginfuskan suatu bahan pelarut (mono-oktanoin atau metil
tertierbutil eter/MTBE) ke dalam kandung empdu. Dapat diinfuskan
melalui selang atau kateter yang dipasang perkutan langsung ke dalam
kandung empedu, melalui selang atau drain yang dimasukkan melalui
saluran T tube untuk melarutkan batu yang belum dikeluarkan pada
saat pembedahan, melalui ERCP atau kateter bilier transnasal.
Pengangkatan non bedah
Sebuah kateter dan alat disertai jaringan yang terpasang padanya
disisipkan lewat saluran T tube atau lewat fistula yang terbentuk pada
saat insersi T tube, jaringan digunakan untuk memegang dan menarik
keluar batu yang terjepit dalam duktus koledokus.
Extracorpreal Shock-Wave Lithotripsy (ESWL)
Menggunakan gelombang kejut berulang (repeated shock waves) yang
diarahkan kepada batu empedu untuk memecah batu tersebut menjadi
sejumlah fragmen.
2. Pembedahan
a. Kolesistektomi
Dalam prosedur ini, kandung empedu diangkat setelah arteri dan duktus
sistikus diligasi. Sebuah drain (penrose) ditempatkan dalam kandung
empedu dan dibiarkan menjulur ke luar lewat luka operasi untuk
mengalirkan darah, cairan serosanguinus dan getah empedu ke dalam kasa
absorben.
b. Minikolesistektomi
Prosedur ini untuk mengeluarkan kandung empedu lewat luka insisi
selebar 4 cm.

9
c. Kolesistektomi laparaskopik
Dilakukan lewat luka insisi yang kecil atau luka tusukan melalui dinding
abdome pada umbilikus. Rongga abdomen ditiup dengan gas karbon
monoksida untuk membantu pemasangan endoskop.
d. Koledokostomi
Insisi dilakukan pada duktus koledokus untuk mengeluarkan batu. Setelah
batu dikeluarkan biasanya dipasang sebuah kateter ke dalam duktus
tersebut untuk drainase getah empedu sampai edema mereda. Kateter ini
dihubungkan dengan selang drainase gravitas.
3. Manajemen diet
a. Mengurangi pemasukan makanan selama fase akut.
b. Pemasangan NGT untuk mengurangi mual dan muntah.
c. Pembatasan diet lemak terutama pada pasien dengan obesitas.
h. Komplikasi

1.Biliary colic Batu empedu dapat bermigrasi dari tubuh kandung empedu ke
dalam leher (duktus sistikus), yang menyebabkan obstruksi. Gejala termasuk sakit
parah dan demam.

2.Peradangan kandung empedu (kolesistitis) saluran kandung empedu tersumbat


oleh batu empedu, menyebabkan infeksi dan peradangan kandung empedu. Gejala
termasuk sakit perut yang parah, mual dan muntah.

3. Jaundice jika saluran empedu menuju usus tersumbat oleh batu, empedu
terjebak memasuki aliran darah, bukan dari sistem pencernaan. Pigmen empedu
menyebabkan menguningnya kulit dan mata. Urin juga mungkin berubah oranye
atau coklat.

4. Pancreatitis peradangan pankreas, disebabkan oleh empedu diblokir turun


rendah saluran dekat pankreas.

5. Cholangitis peradangan saluran empedu, yang terjadi ketika sebuah saluran


empedu tersumbat oleh batu . Hal ini menyebabkan nyeri, demam, sakit kuning
dan kekakuan (gemetar).

10
i. Studi Diagnostik dan Penemuan
Ultrasonograpy
Merupakan tes diagnostik yang terbaik dan sangat bermanfaat untuk klien
dengan jaundice, karena tergantung pada fungsi lifer, sangat akurat untuk
mendeteksi batu 90 %-95%.
Cholecystogram oral
Memberikan gambaran dari batu (radiopaque)
IV cholangiogram menggambarkan batu empedu, jika batu empedu berpindah
ke sistem ductal dapat di gambarkan.
Percutaneous transhepatic cholangiograpy
Di gunakan untuk diagnosa jaundice dan lokasi batu di saluran empedu.
Empedu diambil pada waktu ERCP (kalimat untuk di identifikasi culture,
kemungkinan organisme terinfeksi).
Tes laboratorium.
Menunjukan ketidak normalnya liver, dan meningkatnya perhitungan blood
cell (WBC) hasil dari inflamasi tingginya bilirubin dalam urine menandakan
proses ppenyumbatan.
Normal dari saluran empedu tidak ada penyumbatan, tidak ada bilirubin di
daerah intestinal, tidak ditemukan urobilinogen, serum enzim, seperti :
alkaline phosphatase, SGOT LAST dan LDH, serum amilase akan bertambah
apabila pankreas tersangkut.

j. Management Terapi
Manegement terapi untuk cholelitiasis yaitu :
Extracorporeal shock dengan methyl tertiary terbutyl etha (MTBE),
obat oral untuk menghancurkan batu, endoscopic sphinterotomy dan
pembedahan.
Pengobatan supportive diberikan sama dengan sholesistitis, obat ini di
gunakan seperlunya saja. Apabila batu disebabkan karena sumbatan,
pengobatan tambahan yang diberikan vitamin yang dapat larut, pemberian
garam empedu untu mempermudah pencernaan dan penyerapan vitamin serta
diit rendah garam.

11
ESWL biliary litotriptor menggunakan tinggi energi shock yaitu
gelombang yang menghancurkan batu empedu, dan pasien harus memiliki
fungsi kantung empedu yang baik.
Ultrasound sean, pertama yang harus dikerjakan adalah menentukan
letak batu dan untuk menetapkan secara langsung pada gelombang shock.
Gelombang shock secara langsung melewati abdomen dengan bantalan yang
berisikan air kemudian di letakkan di area tersebut di butuhkan waktu 1-2 ja
untuk menghancurkan batu setelah menghancurkan fregmen selesai, keadaan
saluran empedu kembali normal di dalam saluran intestinal.
Endoscopic sphincterotomy (papillotomy) berfungsi secara khusus
dalam melepaskan batu empedu kedalm saluran. Pada keadaan normal
endoscopic di masukkan ke dalam duodenum.
Sphincter oddi memperlebar insisi dari otot spinoter.
Pemasangan instilasi MTBE ke dalam kantung empedu melalui cateter
percutaneus, MTBE melarutkan batu-batu kolesterol sampai pada waktunya,
asam empedu juga di gunakan untuk melarutkan batu kolesterol.
Prosedur pilihan lainnya adalah cholecystectomy, ini merupakan
prosedur yang aman dengan efek yang minim.
Intervensi yang berkaitan dengan pembedahan
- Intervensi pembedahan dengan cholelityasis adalah menunjukan frequently
dan terdiri dari beberapa prosedur, sebagian besar melaui insisi sebelah kanan
subscotal.
T tube di masukkan ke dalam saluran empedu selama pembedahan di mana
biasanya saluran empedu exporasi merupakan bagian dari prosedur
pembedahan, memastikan patiency dari saluran sampai menghasilkan udema
dan trauma untuk memeriksa cairan yang telah hilang.
- Prosedur pembedahan lainnya adalah endosyopic cholecystectomy
(laparoscopic laser cholecystectomy), dalam kantung empedu siap melepaskan
satu sampai empat kebocoran kecil pada abdomen. 1 cm bocoran mencapai
agak ke atas dari umbilikus dan memompa rongga perut 3-4 l karbondioksida
untuk memperbaiki jarak penglihatan, laparoscope dengan kamera gandeng di
masukkan dalam abdomen.

12
Prosedur pembedahan kantung empedu.
Nama Deskripsi
- Cholecystectomy - pembersihan kantung empedu
- Cholecysteostomy (biasanya - irisan kedalam kantung empedu biasanya untuk
keadaan emergenci) pembersihan batu-batu.
- Cholecocholithotomy - irisan kedalam kantung empedu biasanya untuk
pembersihan batu-batu
- Cholecystogastrostomy - anastomosis antara perut dan kantung empedu.
- Cholecystoduodenostomy - anastomosis antara kantung empedu dan
duodenum untuk menggantikan gangguan pada
akhir distal dari saluran empedu biasa.
- Endoscopic - pembersihan kantung empedu lewat
penggunaan laparoscopi pemotongan sinar laser.

Pengobatan
Pengobatan yang sering di gunakan adalah Analgecic, anticholinergics (anti
plasmodeis), vitamin yang larut dalam lemak dan garam empedu.
- Narcotic analgesic untuk nyeri ; memperidine hydrochloride (elemerol) jika
analgesic narkotik di butuhkan untuk mengurangi kejang pada pembulu yang
terkena racun di gunakan morphine sulfate.
- Amylnitrite and Nitroglyserin mungkin digunakan untuk relax otot halus
pada giliary tract.
Jika nitroglyserin diberikan perawat harus mengobservasikan efek samingnya
neusea, vomiting, kulit dan hypotension (status NPO dan NGT)
- Anticholinergics such, atropino dan antispasmodics lainnya digunakan
untuk relax pada otot halus dan kerusakan pembuluh darah.
- Papaverine digunakan efektif untuk merelaksasikan otot halus observasi
keperawatan untuk efek samping dari obat dan skala nyeri harus diperhatikan.
Jika pasien kronik cholelythiasis atau bekas obstruksi biliary, fat soluble
vitamin (A,D,E danK) mungkin diberikan :
Cairan intravena untuk menggantikan cairan dan elektrolit.
Antibiotik, jika terjadi infeksi
Vitamin K jika jaundice dan prothrombine time didahulukan.

13
Pertimbangan:
Modifikasi pengaturan diit pada klien dengan cholelytiasis adalah diit
rendah garam. Jika obesitas merupakan masalah, pengurangan/diit kalori adalah
indikasinya. Diit rendah garam mencegah kelebihan stimulus dari batu empedu.
Hindari pemasukan makanan yang dihasilkan oleh perusahaan susu, cream,
mentega, keju susu dan makanan gorengan seperti:kue kering, kacang-kacangan.
Beberapa klien memiliki masalah jika mereka makan dalam porsi besar dalam
frekuensi sering.
Setelah pembedahan Gallblader, pasien diberikan NPO selama 24-28 hari
diit bermanfaat jika aliran empedu berkurang atau jika pasien kegemukan.

14
BAB III

ASKEP TEORITIS
A. Pengkajian
1. Identitas Klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan,
pekerjaan, tanggal masuk, tanggal pengkajian, nomor register, diagnosa medik,
alamat, semua data mengenai identitaas klien tersebut untuk menentukan
tindakan selanjutnya.
2. Identitas Penanggung Jawab
Identitas penanggung jawab ini sangat perlu untuk memudahkan dan jadi
penanggung jawab klien selama perawatan, data yang terkumpul meliputi
nama, umur, pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien dan alamat.
3. Keluhan Utama
Merupakan keluhan yang paling utama yang dirasakan oleh klien saat
pengkajian. Biasanya keluhan utama yang klien rasakan adalah nyeri abdomen
pada kuadran kanan atas.
4. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Merupakan pengembangan diri dari keluhan utama melalui metode
PQRST, paliatif atau provokatif (P) yaitu focus utama keluhan klien,
quality atau kualitas (Q) yaitu bagaimana nyeri/gatal dirasakan oleh klien,
regional (R) yaitu nyeri/gatal menjalar kemana, Safety (S) yaitu posisi
yang bagaimana yang dapat mengurangi nyeri/gatal atau klien merasa
nyaman dan Time (T) yaitu sejak kapan klien merasakan nyeri/gatal
tersebut.
b. Riwayat Kesehatan Dahulu
Kaji apakah klien pernah dirawat atau diobati sebelumnya dengan
penyakit yang sama.

c. Riwayat Kesehatan Keluarga


Kaji pola makan kebiasaan keluarga yang kurang baik seperti
menyimpan dan menyiapkan makanan, pola diet, pola sanitasi yang
kurang (cuci tangan) dan pola memasak makanan.

15
5. Pemeriksaan fisik
a) Aktifitas/Istirahat
Gejala : Kelemahan
Tanda : Gelisah
b) Sirkulasi
Tanda : Takikardia, berkeringat
c) Eliminasi
Gejala : Perubahan warna urine dan feses
Tanda : Distensi abdomen.
d) Makanan / Cairan
Gejala : Anoreksia,mual.
Tanda : adanya penurunan berat badan.
e) Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Nyeri abdomen atas, dapat menyebar kepunggung atau bahu
kanan. Kolik epigastrium tengah sehubungan dengan makan.
Tanda : Nyeri lepas, otot tegang atau kaku biala kuadran kanan atas
ditekan; tanda murphy positif.
f) Keamanan
Tanda : Ikterik, dengan kulit berkeringat dan gtal
(Pruiritus).Kecenderungan perdarahan (kekurangan vitamin K).
g) Penyuluhan/Pembelejaran
Gejala : Kecenderungan keluarga untuk terjadi batu empedu. Adanya
kehamilan/melahirkan ; riwayat DM, penyakit inflamasi usus, diskrasias
darah.Pertimbangan : DRG menunjukan rerata lama dirawat: 3,4
hari.Rencana pemulangan:Memerlukan dukungan dalam perubahan
diet/penurunan berat badan.
6. Pemeriksaan Diagnostik
Ultrasonografi digunakan untuk mengkonfirmasi diagnosis kolelitiasis dan
membedakan antara obstruktif dan non obstruktif ikterus (Ignatavicius,
1991).
Pemeriksaan diagnostik tambahan menurut LeMone, 2000, yaitu:
Darah lengkap : Menunjukkan WBC (sel darah putih) tinggi akibat infeksi
dan peradangan
Kadar bilirubin serum diukur untuk memastikan obstruksi adanya dalam
sistem saluran empedu

16
X-ray perut, yang disebut plat datar, dilakukan untuk batu yang
divisualisasikan ke layar monitor.
Kolesistogram oral dilakukan dalam situasi darurat.
Gallbladder nonacute scan, juga disebut HIDA scan, dilakukan melalui
teknik kedokteran nuklir untuk menilai kolesistitis akut

B. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut b.d agen injuri fisik (obstruksi,proses pembedahan).
2) Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d
ketidakmampuan untuk ingesti dan absorpsi.
3) Resiko defisit volume cairan b.d kehilangan cairan berlebihan
(mual,muntah,drainase selan yang berlebihan)
C. Intervensi Keperawatan
Dx 1 :
Nyeri akut b.d agen injuri fisik (obstruksi,proses pembedahan).
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri berkurang
Kriteria hasil :
Melaporkan nyeri berkurang
Menunjukkan keterampilan relaksasi mempertahankan ekspresi yang rileks.
Intervensi :
1) Observasi dan catat lokasi, beratnya (skala0-10) dan karakter nyeri
(menetap, hilang timbul, kolik).
Rasional:
Membantu membedakan penyebab nyeri dan memberikan
informasi tentang kemajuan/perbaikan penyakit, terjadinya
komplikasi, dan keefektifan intervensi
2) Dorong menggunakan teknik relaksasi, contoh bimbingan imajinasi,
visualisasi, latihan napas dalam.
Rasional:
Meningkatkan istirahat, memusatkan kembali perhatian, dapat
meningkatkan koping.
3) Tingkatkan tirah baring, biarkan pasien melakukan posisi yang nyaman.
Rasional:

17
Tirah baring pada posisi fowler rendah menurunkan tekanan intraabdomen.
DX II :
Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d
ketidakmampuan untuk ingesti dan absorpsi
INTERVENSI
1. Pertahankan masukan dan haluaran akurat,perhatikan haluaran kurang
dari masukan, peningkatan berat jenis urine.Kaji membrane mukosa/kulit,
nadi perifer, dan pengisian kapiler.
Rasional :
Memberikan informasi tentang status cairan/volume sirkulasi dan kebutuhan
penggantian
2. Awasi tanda/gejala peningkatan/berlanjutnya mual/muntah, kram
abdomen, kelemahan, kejang ringan, kecepatan jantung tak teratur,
parestesia, hipoaktif atau tak adanya bising usus, depresi pernapasan.
Rasional:
Muntah berkepanjangn, aspirasi gaster, dan pembatasan pemasukan oral
dapat menimbulkan deficit natrium, kalium dan klorida.
DX III :
Resiko defisit volume cairan b.d kehilangan cairan berlebihan
(mual,muntah,drainase selan yang berlebihan)

INTERVENSI
1. Kaji distensi abdomen, sering bertahak, berhati-hati,menolak bergerak.
Rasional:
Tanda non-verbal ketidaknyamanan berhubungan dengan gangguan
pencernaan, nyeri gas.
2. Perkirakan/hitung pemasukan kalori juga komentar tentang napsu makan
sampai minimal.
Rasional :
Mengidentifikasi kekurangan/kebutuhan nutrisi. Berfokus pada masalah
membuat suasana negative dan mempengaruhi masukan.
3. Berikan suasana menyenangkan pada saat makan, hilangkan rangsangan
berbau.

18
Rasional :
Untuk meningkatkan napsu makan/menurunkan mual
D. Implementasi Keperawatan
Implementasi adalah fase ketika perawat melakukan proses asuhan
keperawatan yang sesuai dengan tujuan yang spesifik.
E. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah fase akhir proses keperawatan. Evaluasi dapat dilakukan
dengan menggunakan pendekatan SOAP.
S : respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan
O : Respon Objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah
dilaksanakan
A : analisa ulang atas data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan apakah
masalah masih tetap atau muncul masalah baru atau ada data yang kontradiksi
dengan masalah yang ada.
P : Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa respon klien

19
BAB IV

PENUTUP
A. Kesimpulan
Batu Empedu(kolelitiasis) adalah adanya batu yang terdapat pada kandung
empedu.
Kolelitiasis adalah batu empedu yang terletak pada saluran empedu yang
disebabkan oleh faktor metabolik antara lain terdapat garam-garam empedu,
pigmen empedu dan kolestrol, serta timbulnya peradangan pada kandung empedu
( Barbara C. Long, 1996 )
Kolelitiatis (kalkulus/kalkuli,batu empedu) biasanya terbentuk dalam
kantung empedu dari unsur-unsur padat yang membentuk cairan empedu, batu
empedu memilki ukuran, bentuk dan komposisi yang sangat bervariasi. Batu
empedu tidak lazim dijumpai pada anak-anak dan dewasa muda tetapi
insidensnya semakin sering pada individu berusia diatas 40 tahun.
Sesudah itu, insidens kolelitiasis semakin meningkat hingga suatu tingkat
yang diperkirakan bahwa pada usia 75 tahun satu dari 3 orang akan memiliki batu
empedu (Brunner, 2003).
B. Saran
Peran perawat dalam penanganan kolelitiasis mencegah terjadinya
kolelitiasis adalah dengan memberikan asuhan keperawatan yang tepat. Asuhan
keperawatan yang tepat untuk klien kolelitiasis harus dilakukan untuk
meminimalisir terjadinya komplikasi serius yang dapat terjadi seiring dengan
kejadian kolelitiasis

20
DAFTAR PUSTAKA

Woods, L.P, 1991. Medical Surgical Nursing, fourth edition, Mosby, St. Louis.

Hadi, S, 1981. Gastro Enterologi, Penerbitan alumni, Bandung.

Silvia A, 1995. Pathofisiologi, EGC, Jakarta.

Suratun . , Surianah, 2016. Asuhan keperawatan klien gangguan sistem


gastrointestinal, Trans info media, Jakarta.

21
DAFTAR ISI
BAB I.........................................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.....................................................................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................................................1
B. Pokok Bahasan.............................................................................................................................1
C. Tujuan...........................................................................................................................................2
D. Manfaat.........................................................................................................................................2
BAB II........................................................................................................................................................3
PEMBAHASAN........................................................................................................................................3
A. Pengertian.....................................................................................................................................3
B. Anatomi dan Fisiologi..................................................................................................................3
C. Etilogi dan Patofisiologi...............................................................................................................4
D. Manifestasi Klinis.........................................................................................................................5
E. Pathway........................................................................................................................................7
F. Pemeriksaan Diagnostik Koleliatis...............................................................................................8
G. Penatalaksanaan Kolelitiasis.........................................................................................................8
H. Komplikasi..................................................................................................................................10
I. Studi Diagnostik dan Penemuan.................................................................................................10
J. Management Terapi....................................................................................................................11
BAB III....................................................................................................................................................15
ASKEP TEORITIS..................................................................................................................................15
A. Pengkajian..................................................................................................................................15
B. Diagnosa Keperawatan...............................................................................................................17
C. Intervensi Keperawatan..............................................................................................................17
D. Implementasi Keperawatan........................................................................................................19
E. Evaluasi Keperawatan................................................................................................................19
BAB IV....................................................................................................................................................20
PENUTUP...............................................................................................................................................20
A. Kesimpulan.................................................................................................................................20
B. Saran...........................................................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................................21

22