Você está na página 1de 37

ANGGARAN PENJUALAN

Permasalahan yg sering dihadapi:


1 Barang/Jasa yang akan di jual.
2 Biaya-biaya yang diperlukan agar dapat menjual Barang/Jasa
3 Berapa harga agar mendapatkan keutungan dan terjangkau pembeli

Konsep Anggaran Penjualan


1 Dasar-Dasar penyusunana Anggaran
a Menyusun tujuan perusahaan
b Menyusun strategi perusahaan
c Menyusun forecast perusahaan

2 Menyusun Anggaran Penjualan


a Anggaran promosi dan Advertensi
b Anggaran biaya-biaya penjualan
c Rencana pemasaran
Politik Harga Dalam Anggaran Penjualan

Contoh : Sebuah Perusahaan semula mengharapkan dapat menjual 5000 unit produknya dengan
bersifat biaya tetap dan Rp. 4000 biaya Variable. Tetapi akhir-akhir ini target tersebut tidak tercapa

Manajemen dihadapkan pada 3 Alternatif:


a. Mempertahankan seperti apa yang direncanakan.
b. Menaikan harga 10%, turunnya volume dengan 10%.
c. Menaikan volume 10% dengan menurunkan harga 10%.

Mempertahankan
Rencana
Unit 5000
Harga / Unit Rp 2
Penjualan Rp 10000

Biaya-Biaya
Biaya Tetap Rp 3000
Biaya Variable 0.8 Rp 4000
Total Biaya Rp 7000
Laba Rp 3000

Langkah Dalam Menyusun Rencana Penjualan


1 Penentuan Dasar-Dasar Anggaran
a.Penentuan relevant yang mempengaruhi penjualan
b.Penetuan tujuan umum dan khusus yang diinginkan.
c.Penentuan strategi pemasaran yang dipakai.

2 Penyusunan Rencana Penjualan


a.Analisa Ekonomi
b.Melakukan analisa industri
c.Analisa prestasi penjualan yg lalu
d.Analisa Penentuan Perstasi penjualan yang akan datang
dengan memperhatikan( BB,TK,Kap Prod. Modal)
e.Menyusun Forecast Penjualan
f.Menentukan jumlah penjualan yang dianggarakan
g.Menghitung rugi/laba yng mungkin dicapai.
h.Mengkomunikasikan rencana penjualan yg telah ditetapkan

Diagram Pendekatan Untuk Omzet Penjualan (Anggara

1
Forecast 5 Th. Permintaan
Industri

2 4
Sasaran Industri Gelas Rencana Penjualan J. Panjang

3 5
Posisi Pasar Perusahaan Ren Kap. Prod J. Panjang

Contoh Penyusunan Anggaran Perusahaan

(Kasus Pabrik Rokok " KENDI " Solo)


Data-data penjualan lima tahun terakhir 2013, 2012,2011,2010, dan 2009
Daerah Penjualan Rokok "Kendi"
a. Jawa Tengah
b. Jawa Timur
c. Jawa Barat/ DKI
d. Sumatra
e. Kalimantan
f. Sulawesi Utara
g. Bali

Volume Penjualan
Tahun
2009
2010
2011
2012
2013

Forecast ( Metode Moment )


Tahun Y ( Bal ) X
2009 335,691 -
2010 346,428 1
2011 351,965 2
2012 317,134 3
2013 381,648 4
1,732,866 10

Y = a +bX
Y = n.a + bX 1,732,866 =
XY = = a.X + bX2 3,528,352 =

3,465,732 =
3,528,352 =
62,620 =

Jadi= b= 6262 dan a= 334.049.2


Persamaan trend Y = 334.049.2 + 6.262 X
Volume penjualan tahun 2014
Y= 334.049.2 + 6.262 (5)
Y= 365.359.2 bal
dibulatkan =365.359 bal

Menurut perkiraan, perbandingan masing-masing jenis rokok ( 12, 10 , 3 batang) adalah:


Jenis Rokok Jumlah
@ 12 batang 21,922 bal
@ 10 batang 336,130 bal
@ 3 batang 7,307 bal
Jumlah 365,359 bal

Perkiraan Harga Jual Per bal


Rokok @ 12 batang = Rp 31,500
Rokok @ 10 batang = Rp 27,500
Rokok @ 3 batang = Rp 12,000
Pabrik Rokok " Kendi "
Anggaran Penjualan
Th 2014
Isi 12 batang Isi 10 batang
Unit Harga Unit
Daerah
Penjualan Per Unit Jumlah Penjualan
(bal) (Rp) (Rp) (bal)
Jawa Tengah 9,865 31,500 310,747,500 151,258
Jawa Timur 10,961 345,271,500 168,065
Jawa Barat/ DKI 154 4,851,000 2,353
Sumatra 197 6,205,500 3,025
Kalimantan 438 13,797,000 6,723
Sulawesi Utara 132 4,158,000 2,017
Bali 175 5,512,500 2,689
21,922 31,500 690,543,000 336,130

Catatan:
Distribusi masing-masing jenis rokok ke masing-masing daerah dianggap sama (sesuai daerahnya

Penjualan Tahun 2009-2013


(Dalam bal)
Tahun Kwartal I Kwartal II
2009 69,204 92,221
2010 91,844 77,765
2011 71,870 85,740
2012 61,739 90,949
2013 57,575 102,757
Jumlah 352,232 449,432
Rata-rata 70,446 89,886
Prosentase 20.33 25.94

Sehingga Tahun 2014 %


Kwartal 1 = 20.33 X 365,359
Kwartal 2 = 25.94 X 365,359
Kwartal 3 = 28.45 X 365,359
Kwartal 4 = 25.28 X 365,359
Jumlah

Estimasi jumlah penjualan masing-masing jenis rokok setiap kuartal : Rokok

Proyeksi Per Kwartal Penjualan Tahun 201


(Dalam bal)
Tahun Isi 12 Batang Isi 10 Batang

6% 92%
Kwartal I 4,455.89 4,456 68,323.71 68,324
Kwartal II 5,685.52 5,686 87,177.95 87,178
Kwartal III 6,237.53 6,238 95,642.18 95,642
Kwartal IV 5,542.59 5,543 84,986.44 84,986
Jumlah 21,922 - 336,130

Pabrik Rokok " Kendi "


Anggaran Penjualan (Kwartalan)
Th 2014
Isi 12 batang Isi 10 batang
Unit Harga Unit
Kwartal
Penjualan Per Unit Jumlah Penjualan
(bal) (Rp) (Rp) (bal)
Kwartal I 4,456 31,500 140,360,673 68,324

Kwartal II 5,686 179,093,830 87,178

Kwartal III 6,238 196,482,308 95,642

Kwartal IV 5,543 174,591,698 84,986

21,922 31,500 690,528,510 336,130


l 5000 unit produknya dengan Harga Rp, 2,- per Unit. Biaya yg ditanggung adalah Rp 3000,- yg
ni target tersebut tidak tercapai lagi .

Kenaikan Harga Kenaikan Vol


- 10% + 10%
4500 5500
Rp 2.2 Rp 1.8
Rp 9900 Rp 9900

Rp 3000 Rp 3000
Rp 3600 Rp 4400
Rp 6600 Rp 7400
Rp 3300 Rp 2500
Omzet Penjualan (Anggaran Pendapatan)

4
ualan J. Panjang
6
Rencana PenjualanPerush. Tahunan
5
od J. Panjang
7
Pesanan yg diterima

8
Kap. Persh. Terpasang
Penjualan
335,691 bal
346,428 bal
351,965 bal
317,134 bal
381,648 bal

XY X2
- -
346,428 1
703,930 4
951,402 9
1,526,592 16
3,528,352 30

5a +10b (1)
10a + 30 b (2)

10a + 20b (2)


10a + 30 b (1)
10 b

0 , 3 batang) adalah:
Persentase (%)
6
92
2
100

abrik Rokok " Kendi "


Anggaran Penjualan
Th 2014
Isi 10 batang Isi 3 batang
Harga Unit Harga
Jumlah (Rp)
Per Unit Jumlah Penjualan Per Unit Jumlah
(Rp) (Rp) (bal) (Rp) (Rp)
27,500 4,159,595,000 3,288 12,000 90,420,000 4,560,762,500
4,621,787,500 3,654 100,485,000 5,067,544,000
64,707,500 51 1,402,500 70,961,000
83,187,500 66 1,815,000 91,208,000
184,882,500 146 4,015,000 202,694,500
55,467,500 44 1,210,000 60,835,500
73,947,500 58 1,595,000 81,055,000
27,500 9,243,575,000 7,307 12,000 200,942,500 10,135,060,500

nggap sama (sesuai daerahnya)

jualan Tahun 2009-2013


(Dalam bal)
Kwartal III Kwartal IV Jumlah
93,590 80,676 335,691
98,202 78,617 346,428
100,235 94,120 351,965
86,286 78,160 317,134
114,755 106,561 381,648
493,068 438,134 1,732,866
98,614 87,627
28.45 25.28 100
= 74,265 bal
= 94,759 bal
= 103,959 bal
= 92,377 bal
365,359 bal

k setiap kuartal : Rokok isi 12 batang= 6%, Rokok isi 10 batang= 92%,Rokok isi 3 batang= 2

r Kwartal Penjualan Tahun 2014


(Dalam bal)
Isi 3 Batang Jumlah

2% 100 %
1,485.30 1,485 74,265
1,895.17 1,895 94,759
2,079.18 2,079 103,959
1,847.53 1,848 92,377
7,307 365,359

abrik Rokok " Kendi "


ran Penjualan (Kwartalan)
Th 2014
Isi 10 batang Isi 3 batang
Harga Unit Harga
Jumlah (Rp)
Per Unit Jumlah Penjualan Per Unit Jumlah
(Rp) (Rp) (bal) (Rp) (Rp)
27,500 1,878,902,132 1,485 12,000 40,845,699 2,060,108,503

2,397,393,601 1,895 52,117,252 2,628,604,684

2,630,159,998 2,079 57,177,391 2,883,819,697

2,337,126,969 1,848 50,807,108 2,562,525,776

27,500 9,243,582,700 7,307 12,000 200,947,450 10,135,058,660


9
Ren. Penjualan Kwartalan/Bulanan
okok isi 3 batang= 2%

Jumlah (Unit)

74,265

94,759

103,959

92,377

365,359
ANGGARAN BIAYA OVERHEAD PABRIK
DAN BIAYA OPERASI
Tujuan pengawasan biaya antara lain :
1 Proyeksi arus Kas Keluar
2 Pengawasan biaya.
Pada bagian ini juga dibicarakan biaya-biaya lain yaitu:
1 Biaya-biaya Pabrik (Sering disebut Overhead Pabrik)
2 Biaya-biaya Distribusi (Sering disebut penjualan)
3 Biaya-biaya administrasi
Sebelum merencanakan biaya perlu diketahui Sifat-sifat biaya. Pafda dasarnya ada 3 macam:
1 Biaya Tetap (Fixed Cost)
Yaitu biaya yang cenderung untuk bersifat constant secara total dari bulan ke bulan, tetapi
terpengaruh oleh volume kegiatan.
Biaya yang termaksuk kategori ini adalah:
-Gaji
-Asuransi
-Penyusutan
2 Biaya Variable (Variable Cost)
Yaitu biaya yang secara total berubah ubah, perubahan itu searah dan sebanding dengan
perubahan tingkat kegiatan.
Biaya yang termaksuk kategori ini adalah:
-Biaya bahan mentah langsung
-Biaya tenaga kerja langsung
-Tenaga pembangkit(power)
3 Biaya Semi Variable (Semi Variable Cost)
Yaitu biaya yang tidak bersifat variable, Biaya ini mengalami perubahan itu tidak searah
dan tidak sebanding dengan tingkat kegiatan.
Biaya yang termaksuk kategori ini adalah:
-Biaya tenaga kerja tak langsung
-Biaya Pemeliharaan
-Tenaga peralatan
-Biaya bahan mentah tak langsung
BIAYA OVERHEAD PABRIK : adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi
sangat komplek jenisnya, kecuali biaya untuk bahan mentah langsung dan tenaga kerja langsung.
Contoh: 1
Selama proses produksi dalam tahun 2007 pada bagian jasa/ pembantu akan timbul biaya
overhead sebesar Rp 1.000.000,00 Jasa yang disediakan, dipakai oleh berbagai bagaian lain
dengan proporsi : Bagian Produksi I : 40%
Bagian Produksi II : 30%
Bagian Produksi III : 30%
dengan berdasar proporsi pemakaian diatas maka biaya overhead (Rp 1.000.000,00) dapat
dialokasikan ke masing-masing bagian dengan perhitungan sebagai berikut:
Bagian Perhitungan alokasi biaya

Bagian Produksi I : 40% X Rp 1000000


Bagian Produksi II : 30% X Rp 1000000
Bagian Produksi III : 30% X Rp 1000000
Contoh: 2
PT. Geronimo, Th 2004 diperkirakan biaya yg timbul sbb:
Bagian Produksi : Bagian Produksi I : Rp 12,000,000
Bagian Produksi II : Rp 20,000,000
Bagian Produksi III : Rp 10,000,000

Bag. Jasa/pembantu B.Jasa/Pembantu I : Rp 2,500,000


B.Jasa/Pembantu II : Rp 5,000,000

Jasa : Bagian Jasa/Pembatu digunakan oleh ketiga Bagian Produksi dengan proporsi sbb:
Bagian Bagian Jasa/Pembantu
I II
Bagian Produksi I : 50% 45%
Bagian Produksi II : 30% 30%
Bagian Produksi III : 20% 25%

Maka alokasi yang ada :


Keterangan Bagian Produksi
I II III
Bi. Overhead Pabrik 2004 12,000,000 20,000,000 10,000,000
Alokasi Bag. Jasa :
Bagian Jasa I : 1,250,000 750,000 500,000
Bagian Jasa II : 2,250,000 1,500,000 1,250,000
Jumlah B O P. 15,500,000 22,250,000 11,750,000

Permisalan :
Bagian Jasa/Pembantu terdiri dari : Bagian Pembangkit tenaga listrik
Bagian Reparasi.
Kejadian : Bagian Pembangkit tenaga listrik Butuh Bagian Reparasi
Bagian Reparasi Butuh Bagian Pembangkit Tenaga Listrik

Dalam hal ini dengan menggunakan metode Aljabar :

X = a1 + b1 Y dan Y = a2 +b2 X
dimana :
X= adalah jumlah BOP bagian Jasa X setelah menerima alokasi biaya dari bagian jasa Y
Y= adalah jumlah BOP bagian Jasa Y setelah menerima alokasi biaya dari bagian jasa X
a1 = adalah BOP bagian jasa X sebelum alokasi
a2 = adalah BOP bagian jasa Y sebelum alokasi
b1 = adalah prosentase pengunaan jasa bagian Y oleh bagian X
b2 = adalah prosentase pengunaan jasa bagian X oleh bagian Y

Contoh :
PT. Gentong, selama tahun 2004 akan timbul BOP sebagai berikut :

Bagian B O P (Rp)
Bagian B O P (Rp)
Bagian Produksi :
Bagian I 10,000,000
Bagian II 15,000,000

Bagian Jasa/Pembantu :
Bag. Jasa I (X) 5,000,000
Bag. Jasa II (Y) 4,000,000
Jasa Bagian Jasa/Pembantu selain dipakai oleh bagian produksi juga dipakai oleh bagian itu sendiri, diman
tukar-menukar jasa bagian Jasa I dan Bagian Jasa II. Proporsi sbb:
Bagian Pemakai Jasa
Bagian Produksi Bagian Jasa
I II I (X)
Bagian Jasa I ( X ) 50% 40%
Bagian Jasa II ( Y ) 55% 30% 15%

Dengan mengunakan metode Aljabar :


maka biaya tiap Jasa/Pembantu dinyatakan dengan persamaan -persamaan.
1 X = 5.000.000 + 0.15 Y
2 Y =4.000.000 + 0.10 X
Kedua persamaan diatas di Kombinasikan menjadi :
X = 5.000.000 + 0.15 ( 4.000.000 +0.10 X)
X = 5.000.000 + 600.000 + 0.015 X
X - 0.015 X = 5.600.000
0.985 X = 5.600.000
X = 5.685.279 ( pembulatan )

Y = 4.000.000 + 0.10 X
Y = 4.000.000 + 0.10 ( 5.685.279 )
Y = 4.000.000 + 568.527
Y = 4.568.528 (pembulatan )
Artinya :
1 BOP Jasa I setelah mendapat alokasi BOP Jasa II, adalah Rp 5.685.279,-
2 BOP Jasa II setelah mendapat alokasi BOP Jasa I, adalah Rp 4.568.528,-

Bagian Jasa : BOP Asli Menerima Memberi


Bagian Jasa I ( X ) 5,000,000 685,279 568,527
Bagian Jasa II ( Y ) 4,000,000 568,527 685,279

Kedua BOP netto dari Dept Jasa I dan II ini kemudian dibebankan kepada Departemen Produksi I dan II de

Bagian
Produksi I
(1) BOP Langsung Rp 10,000,000
(2) BOP Tak langsung
a. Dept Jasa I (X) : 50/90 X BOP Nett 2,842,640 # 40/90 X BOP Netto =
b. Dept Jasa II (Y) : 55/85 XBOP Nett 2,512,690 # 30/85 X BOP Netto =
Jumlah Biaya 15,355,330
bulan, tetapi

ding dengan

ak searah

angsung.
Alokasi Biaya Overhead
Bag. Jasa / Pembantu
Rp 400000
Rp 300000
Rp 300000
Rp 1000000
12,000,000
20,000,000
10,000,000

2,500,000
5,000,000

Bagian Jasa/Pembantu
III I II
10,000,000 2,500,000 5,000,000
(-) (-)
500,000 2,500,000
1,250,000 5,000,000
11,750,000 - -

dari bagian jasa Y.


dari bagian jasa X.
an itu sendiri, dimana

sa
Bagian Jasa/Pembantu
I (X) II (Y)
10%
15%

Memberi BOP Netto


568,527 5,116,752
685,279 3,883,248
9,000,000
Produksi I dan II dengan proporsi Sbb:

Bagian
Produksi II
Rp. 15,000,000

P Netto = 2,274,112
P Netto = 1,370,558
18,644,670
Contoh 1
Rencana Penjualan selam 1tahun(2013) pada PT"MX"
Bulan 1 2 3 4 5 6
Penjualan 10,500 12,200 13,300 11,900 11,500 9,800
(unit)

Perd. Awal = 2900 Persediaan Akhir = 1800


range Produksi tidak lebih 15% dan tidak kurang 15% dari rata-rata
Persediaan max 2500 min 1900

Produksi Stabil
Rencana Penjualan selam 1tahun(2013) pada PT"MX"
Bulan 1 2 3 4 5 6
Penjualan 10,500 12,200 13,300 11,900 11,500 9,800
P. Akhir 3,700 2,850 900 300 100 1,600
Brg Yg Ada 14,200 15,050 14,200 12,200 11,600 11,400
P/ Awal 2,900 3,700 2,850 900 300 100
Produksi 11300 11350 11350 11300 11300 11300

Persediaan Stabil
Rencana Penjualan selam 1tahun(2013) pada PT"MX"
Bulan 1 2 3 4 5 6
Penjualan 10,500 12,200 13,300 11,900 11,500 9,800
P. Akhir 2,800 2,700 2,600 2,500 2,400 2,300
Brg Yg Ada 13,300 14,900 15,900 14,400 13,900 12,100
P/ Awal 2,900 2,800 2,700 2,600 2,500 2,400
Produksi 10,400 12,100 13,200 11,800 11,400 9,700
Produksi Rata2= 11308.333 Produksi Max
11,316 Produksi Min

Persediaan Kombinasi Persediaan Max


Rencana Penjualan selam 1tahun(2013) pada PT"MX" Persediaan Min
Bulan 1 2 3 4 5 6
Penjualan 10,500 12,200 13,300 11,900 11,500 9,800
P. Akhir 2,500 2,500 2,500 2,500 ### 2,500
Brg Yg Ada 13,000 14,700 15,800 14,400 14,000 12,300
P/ Awal 2,900 2,500 2,500 2,500 2,500 2,500
Produksi 10,100 12,200 13,300 11,900 11,500 9,800
Persediaan Kombinasi Persediaan Max
Rencana Penjualan selam 1tahun(2013) pada PT"MX" Persediaan Min
Bulan 1 2 3 4 5 6
Penjualan 10,500 12,200 13,300 11,900 11,500 9,800
P. Akhir 3,500 3,400 3,300 3,200 3,100 3,000
Brg Yg Ada 14,000 15,600 16,600 15,100 14,600 12,800
P/ Awal 2,900 3,500 3,400 3,300 3,200 3,100
Produksi 11,100 12,100 13,200 11,800 11,400 9,700

Persediaan Kombinasi Persediaan Max


Rencana Penjualan selam 1tahun(2013) pada PT"MX" Persediaan Min
Bulan 1 2 3 4 5 6
Penjualan 10,500 12,200 13,300 11,900 11,450 9,950
P. Akhir 1,800 1,800 1,300 1,800 ### 1,800
Brg Yg Ada 12,300 14,000 14,600 13,700 13,250 11,750
P/ Awal 2,900 1,800 1,800 1,300 1,800 1,800
Produksi 9,400 12,200 12,800 12,400 11,450 9,950
7 8 9 10 11 12 Total
9,900 10,500 10,900 12,200 11,900 12,200 136,800

dari rata-rata 136,800


1800
138,600
2900
135,700
11308
2827
14135 135600
8481 Kurang (100)
dibagi 2 ( bulan 2 dan 3)

7 8 9 10 11 12 Total
9,900 10,500 10,900 12,200 11,900 12,200 136,800
3,000 3,800 4,200 3,300 2,700 1,800 1,800
12,900 14,300 15,100 15,500 14,600 14,000 138,600
1,600 3,000 3,800 4,200 3,300 2,700 2,900
11300 11300 11300 11300 11300 11300 135,700

awal 2900
akir 1800 selisih 1100 dibagi 11 bulan= 100
7 8 9 10 11 12 Total
9,900 10,500 10,900 12,200 11,900 12,200 136,800
2,200 2,100 2,000 1,900 1,800 1,800 1,800
12,100 12,600 12,900 14,100 13,700 14,000 163,900
2,300 2,200 2,100 2,000 1,900 1,800 2,900
9,800 10,400 10,800 12,100 11,800 12,200 135,700
roduksi Max 14,145 dibulatkan 14150
roduksi Min 8,487 dibulatkan 8500

ersediaan Max 3,900


ersediaan Min 1,500
7 8 9 10 11 12 Total
9,900 10,500 10,900 12,200 11,900 12,200 136,800
2,500 2,500 ### 2,500 2,500 1,800 1,800
12,400 13,000 13,400 14,700 14,400 14,000 166,100
2,500 2,500 2,500 2,500 2,500 2,500 2,900
9,900 10,500 10,900 12,200 11,900 11,500 135,700
ersediaan Max 3,900
ersediaan Min 1,500
7 8 9 10 11 12 Total
9,900 10,500 10,900 12,200 11,900 12,200 136,800
2,700 2,700 ### 2,700 2,700 1,800 1,800
12,600 13,200 13,600 14,900 14,600 14,000 171,600
3,000 2,700 2,700 2,700 2,700 2,700 2,900
9,600 10,500 10,900 12,200 11,900 11,300 135,700

ersediaan Max 3,900


ersediaan Min 1,500
7 8 9 10 11 12 Total
9,900 10,500 10,900 12,200 11,900 12,200 136,900
1,800 1,800 ### 1,800 1,800 1,800 1,800
11,700 12,300 12,700 14,000 13,700 14,000 158,000
1,800 1,800 1,800 1,800 1,800 1,800 2,900
9,900 10,500 10,900 12,200 11,900 12,200 135,800
2,400
1200 2,700
2,400
1200 2,700

2,400
1200 2,700
Perhitungan Harga Pokok Produksi
HPP dapat dihitung bila diketahui sbb:
1 Volume Produksi
2 Biaya Bahan Mentah untuk masing-masing Bahan
3 Biaya TKL untuk masing-masing Barang ( dari anggaran Tenaga Kerja )
4 BOP masing-masing bagian Produksi dan Jasa pembantu
5 Satuan Kegiatan masing-masing bagian produksi dan jasa pembantu
6 Angka-angka standar pada bagian produksi dan jasa pembantu.
Contoh soal:
PT. Kotak , memproduksi 2 macam barang "A dan B", dari budget produksi diperol
Rencana produksi sbb: Angka Standar Bagian Produksi
Barang Unit Produksi Barang
A 7000 A
B 4000 B

Terdapat 2 bagian produksi " I dan II" , serta I Bagian jasa/pembantu(Reparasi).


Bagian Produksi "I" dilalui barang "A" dan Bagian Produksi "II" dilalui barang
Bagian Satuan Kegiatan
Produksi I Unit Barang "A"
Produksi II Jam Mesin Langsung (DMH) Direct Machine Hour
Reparasi Jam Reparasi Langsung (DRH) Direct Repair Hour
Angka Standar Bag. Reparasi
Bagian yang DRH
menggunakan jasa
Produksi I 0,20 DRH per unit A
Produksi II 0,07 DRH per DMH
BOP (Biaya Overhead Pabrik)

Bagian BOP
Produksi I Rp 26,000
Produksi II Rp 16,000
Reparasi Rp 6,000
Dari angka BB yang diperoleh data tentang
rencana BB untuk masing-masing jenis barang
sbb:

Barang Biaya BB
A Rp 70,000
B Rp. 60,000
Dari data tsb. Untuk menghitung HPP

Barang Perhitungan Satuan Kegiatan


Produksi I Dari Anggaran Produksi Unit A
Produksi II Barang A 7000 X 4 DMH
28000
Barang B 4000 X 3 DMH DMH
12000
Reparasi Bagian I 7000 X 0,20
1400
Bagian II 40000 X 0,07 DRH
2800

Jadi Tingkat kegiatan masing-masing bagian adalah :


Bagian I = 7000 unit barang A
Bagian II = 40000 DMH
Bagian Reparasi = 4200 DRH

Bagian Pro
Keterangan
I
BOP bagian Produksi, pengalokasian BOP bagian Rp
Reparasi (dengan dasar DRH) :
Bagian Produksi : I
1400
X Rp 6000
4200
Bagian Produksi : II
2800
X Rp 6000
4200
Jumlah BOP yang akan dialokasikan
ke Barang A dan B
Tingkat Kegiatan:
Bagian Produksi 1 : (dalam Unit A)
Bagian Produksi II: (dalam DMH)
Tarif BOP, Bagian Produksi ( Per Unit A) Rp
Tarif BOP, Bagian Produksi II (Per DMH)

Keterangan:
Rp. 28000 dan Rp. 20000
= Rp 4,- Per unit
7000 unit 40000DMH

Setelah diketahui tarif BOP bagi masing-masing bagian produksi, maka dapat dihitu
"A dan B" sebagai berikut:
Barang " A " (7000 unit)
Keterangan
Total (Rp)
Per Unit (Rp)
Biaya B. Baku Langsung 70000 10
Biaya Tenaga Kerja Langsung 35000 5
BOP Barang "A"
Bagian I
7000 X Rp 4
= Rp 28.000
Bagian II
7000 XRp 4 DMH X Rp. 0,5
= 14.000 42000 6

Barang B
Bagian II
= 4.000 X 3DMH X Rp 0,5

Jumlah 147,000.00 21
enaga Kerja )

pembantu

dget produksi diperoleh data


ar Bagian Produksi II sbb:
DMH Direct Machine Hour
4
3

mbantu(Reparasi).
dilalui barang "A dan B".

ct Machine Hour
ct Repair Hour

Anggaran TKL

Biaya TKL
Barang
A Rp 35,000
B Rp. 14,000
Satuan Kegiatan Tingkat Kegiatan
7000

40000

4200

Bagian Produksi
I II
26,000 Rp 16,000

2,000

4,000

28,000 20,000

7,000
(DMH) 40,000
4
Rp 0,5

= Rp 0,5 Per DMH

ksi, maka dapat dihitung HPP barang


Barang " B" (4000 unit)
Per Unit
Total (Rp)
(Rp)
60000 15
14000 3.5

6000 1.5

80000 20