Você está na página 1de 5

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Pemerintah telah mengatur tentang aturan yang bertujuan untuk menekan dampak
yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan atau usaha terhadap lingkungan. Aturan tersebut
adalah kewajiban membuat AMDAL bagi orang atau badan hukum yang bertanggung
jawab atas suatu rencana usaha dan atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Pera-
turan tentang kewajiban membuat AMDAL diatur dalam peraturan- peraturan berikut:

1. UU No. 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan;

2. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai


Dampak Lingkungan;

3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77 Tahun 1994 tentang


Badan Pengendalian Dampak Lingkungan;

4. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 98 Tahun 1996 tentang Pedoman


Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengendalian Dampak
Lingkungan Daerah.

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah suatu proses studi formal
yang dipergunakan untuk memperkirakan dampak terhadap lingkungan oleh adanya
atau oleh rencana kegiatan proyek yang bertujuan memastikan adanya masalah
dampak lingkungan yang perlu dianalisis pada tahap awal perencanaan dan
perancangan proyek sebagai bahan pertimbangan bagi pembuat keputusan.

AMDAL menurut PP No.27 Tahun 1999 adalah kajian mengenai dampak besar dan
penting untuk pengambilan keputusan suatu usaha dan/atau kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan
keputusan tentang penyeleng- garaan usaha dan/atau kegiatan.
Analisis dampak lingkungan ini merupakan analisis yang meliputi berbagai faktor yaitu
faktor fisik, kimia, biologi, sosial ekonomi dan sosial budaya yang dilakukan secara
integrasi dan menyeluruh sehingga dapat menghasilkan sebagai berikut:

1. dapat menunjukkan tempat pembangunan yang layak pada suatu wilayah


beserta pengaruhnya,

2. dapat digunakan sebagai masukan dengan pertimbangan yang lebih luas bagi
perencanaan dan pengambilan keputusan pembangunan sejak awal, dan

3. dapat digunakan sebagai arahan/pedoman bagi pelaksanaan rencana


kegiatan pembangunan termasuk rencana pengelolaan lingkungan dan
rencana pemantauan lingkungan.

1. Prosedur Operasional AMDAL

Penyelenggaraan AMDAL seharusnya dilakukan menurut ketentuan-ketentuan berikut


ini.

a . AMDAL harus merupakan bagian yang esensial dan terpadu dari kegiatan
perencanaan.

b. Sebagai pedoman untuk melakukan AMDAL diperlukan adanya tujuan dan


kebijaksanaan nasional yang jelas mengenai pengelolaan lingkungan.

c. Diperlukan adanya susunan organisasi yang jelas peranannya untuk proses


penyelenggaraan AMDAL, misalnya pengambilan keputusan, tim penilai, tenaga ahli,
pelaksana proyek, dan pihak masyarakat.

d. Diperlukan jadwal waktu yang pasti untuk proses penye- lenggaraannya.

e. AMDAL diselenggarakan untuk bidang-bidang multidisipliner yang disesuaikan


dengan kondisi lingkungan yang ada, misalnya untuk faktor-faktor kimia, fisika, biologi,
ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya.

f. Langkah paling awal dalam proses penyelenggaraan AMDAL adalah perlunya


dipersiapkan sumber-sumber data yang relevan serta tim ahli.
g. AMDAL merupakan studi alternatif tanpa disertai kegiatan fisik.

h. AMDAL harus mempunyai kerangka spatial yang luas.

i. Prediksi tingkat dampak yang dinyatakan dalam AMDAL harus mencakup prediksi
untuk jangka waktu menengah dan jangka panjang. Misalnya dalam proyek-proyek fisik
tiga jangka harus ada, yaitu:

selama konstruksi;

setelah proyek beroperasi;

setelah kegiatan proyek berakhir.

j. AMDAL juga melakukan perbandingan tingkat dampak antara keadaan setelah proyek
berjalan dengan keadaan apabila proyek itu tidak ada.

k. Dalam AMDAL harus mencakup faktor-faktor berikut.

Deskripsi dari kegiatan yang diusulkan akan dilaksanakan beserta berbagai


alternatifnya.

Prediksi besaran dari pengaruh positif maupun negatif terhadap lingkungan.

Identifikasi dari kepentingan manusia.

Daftar mengenai indikator lingkungan, termasuk metode yang digunakan


dalam skala besarannya.

Pendugaan terhadap besarnya tingkat dampak yang dinyatakan dengan


masing-masing indikator lingkungan.

Rekomendasi mengenai diterima atau ditolaknya AMDAL tersebut oleh pihak


berwenang.

Rekomendasi untuk prosedur pengawasan.


l. Dalam pelaksanaannya seharusnya digunakan metodologi AMDAL yang tepat,
pendekatan yang terlalu sulit dan terlalu sederhana sebaiknya dihindari.

2. Komponen-Komponen AMDAL

AMDAL terdiri atas lima komponen, yaitu sebagai berikut.

a . Studi Pra-Proyek

Studi pra-proyek dilakukan guna mengukur dan memper- kirakan perubahan keadaan
lingkungan. Pengukuran ini dilakukan bedasarkan pada data baik data fisik, kimia,
biologi, sosial ekonomi, dan sosial budaya.

b. Laporan Penilaian

Laporan penilaian adalah laporan yang disusun dari hasil studi pra-proyek yang berupa
kemungkinan yang akan terjadi jika proyek tersebut berjalan.

c. Pembuatan Keputusan

Proses pembuatan keputusan berdasarkan pada laporan penilaian serta hasil prediksi
pengaruh proyek terhadap lingkungan kelak. Namun kenyataan dalam pengambilan
keputusan ini sangat dipengaruhi oleh nuansa politik.

d. Persetujuan Proyek

Persetujuan proyek mengandung rekomendasi dari hasil analisis interaksi antara


proyek dengan lingkungan, contohnya adalah proyek dapat disetujui dengan
rekomendasi akan dilakukannya usaha-usaha untuk memperkecil pengaruh negatif
terhadap lingkungan.

e. Pemantauan Proyek

Pemantauan proyek dilakukan dalam kurun waktu 2-3 tahun, untuk memantau
sudahkah proyek tersebut berjalan sesuai dengan yang direkomendasikan dan disetujui
proyek.

3. Manfaat AMDAL
Manfaat AMDAL secara umum adalah menjamin suatu usaha atau kegiatan
pembangunan agar layak secara lingkungan. Layak secara lingkungan berarti kegiatan
tersebut sesuai dengan peruntuk- kannya sehingga dampak yang ditimbulkan dapat
ditekan.

a .Manfaat AMDAL khususnya bagi pemerintah di antaranya sebagai berikut.

Mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Menghindari konflik dengan masyarakat.

Menjaga agar pembangunan sesuai dengan prinsip pembangunan


berkelanjutan.

Perwujudan tanggung jawab pemerintah dalam pengelolaan lingkungan


hidup.

b. Manfaat AMDAL bagi pemrakarsa, di antaranya sebagai berikut.

Menjamin keberlangsungan usaha.

Menjadi referensi dalam peminjaman kredit.

Interaksi saling menguntungkan dengan masyarakat sekitar.

Sebagai bukti ketaatan hukum.

c. Manfaat AMDAL bagi masyarakat, antara lain sebagai berikut.

Mengetahui sejak dini dampak dari suatu kegiatan.

Melaksanakan kontrol.

Terlibat dalam proses pengambilan keputusan.