Você está na página 1de 28

ANALISIS PENGARUH OLI MESIN YAMALUBE DAN CASTROL

TERHADAP KEAUSAN CAMSHAFT STANDAR YAMAHA

JUPITER Z

PROPOSAL PENELITIAN

DISUSUN OLEH:

NAMA : YOHANES BAYU KRISTIANTO

NIM : H1F114058

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN


FAKUTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2016

1
TERIMAKASIH KEPADA

REKTOR UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT


Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc
NIP. 19660331 199102 1 001

WAKIL REKTOR BIDANG UMUM


WAKIL REKTOR BIDANG AKADEMIK
DAN KEUANGAN
Dr. Ahmad Alim Bachri, SE., M.Si
Dr. Hj Aslamiah, M.Pd., Ph.D

WAKIL REKTOR BIDANG WAKIL REKTOR BIDANG


KEMAHASISWAAN DAN ALUMNI PERENCANAAN, KERJASAMA, DAN
Dr. Ir. Abrani Sulaiman, M.Sc HUMAS

DEKAN FAKULTAS TEKNIK


Dr-Ing. Yulian Firmana Arifin, S.T., M.T

WAKIL DEKAN I FAKULTAS TEKNIK WAKIL DEKAN II FAKULTAS TEKNIK


Dr. Chairul Irawan, ST., MT Maya Amalia, ST., M.Eng

WAKIL DEKAN III FAKULTAS TEKNIK


Nurhakim, ST., MT

KEPALA PRODI TEKNIK MESIN


Achmad Kusairi S, ST,. MT., MM

DOSEN PENGAMPUH
Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah Amd. Hyp, ST, M.Kes.

MAHASISWA : Yohanes Bayu Kristianto


NIM: H1F114058

2
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur hanya ku naikkan bagi-Mu ya Tuhan, atas penyertaan-Mu

sepanjang pelaksanaan peneitian ini dan nas pembimbing yang selalu menguatkan

anak Mu ini dari awal hingga terselesaikan proposal penelitian ini terambil dari

Pengkhotbah 3 : 11 : Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia

memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami

pekerjaan yang diakukan ALLAH dari awal sampai akhir.

Dalam pelaksanaan penyusunan proposal ini, penulis mendapat banyak

bantuan, bimbingan, dan arahan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu dalam

kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada

orang tua terkasih, rekan-rekan mahasiswa teknik mesin ULM, dosen teknik mesin

ULM.

Penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan

kesalahan, namun penulis sadar bahwa penulisan ini jauh dari kata sempurna. Oleh

karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar penelitian

ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat

bagi semua pembaca.

Penulis

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .........................................................................................i

UCAPAN TERIMAKASIH................................................................................ii

KATA PENGANTAR........................................................................................Iii

DAFTAR ISI....................................................................................................Iv

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................1

1.1. Latar belakang........................................................................................1

1.2. Perumusan masalah...............................................................................4

1.3. Batasan Masalah....................................................................................5

1.4. Tujuan Penelitian.....................................................................................5

1.5. Manfaat Penelitian..................................................................................5

BAB II DASAR TEORI....................................................................................6

2.1. Peneitian Pendahuluan...........................................................................6

a. Pengertian Keausan...........................................................................7

b. Camshaft............................................................................................7

c. Oli Mesin.............................................................................................8

d. Kekentalan / Viskositas Oli..................................................................10

2.2. Manufaktur..............................................................................................11

A. Keausan............................................................................................11

B. Oli......................................................................................................13

C. Pelumas mesin..................................................................................14

D. Fungsi Pelumas.................................................................................14

E. Standart Minyak Pelumas..................................................................15

F. Pengukuran.......................................................................................15

BAB III METODE PENEITIAN........................................................................16

4
3.1. Objek Penelitian......................................................................................16

3.2. Alat dan Bahan Peneitian........................................................................16

3.3. Teknik Pengumpulan Data......................................................................16

A. Diagram Alir Penelitian......................................................................17

3.4. Tempat dan Jadwal Penelitian.................................................................18

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................21

5
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kendaraan bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh

peralatan teknik untuk pergerakkannya, dan digunakan untuk transportasi darat.

Umumnya kendaraan bermotor menggunakan mesin pembakaran dalam, namun

motor listrik dan mesin jenis lain (misalnya kendaraan listrik hibrida dan hibrida

plug-in) juga dapat digunakan. Kendaraan bermotor memiliki roda, dan biasanya

berjalan di atas jalanan. Jenis-jenis kendaraan bermotor dapat bermacam-

macam, mulai dari mobil, bus, sepeda motor, kendaraan off-road, truk ringan,

sampai truk berat. Klasifikasi kendaraan bermotor ini bervariasi tergantung

masing-masing negara.ISO 3833:1977 adalah standar untuk tipe dan definisi

kendaraan darat.

Berdasarkan UU No. 14 tahun 1992 yang dimaksud dengan peralatan

teknik dapat berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk

mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan

bermotor yang bersangkutan. Pengertian kata berada dalam ketentuan ini

adalah terpasang pada tempat sesuai dengan fungsinya. Penelitian Rahmanie

(2010), lebih menekankan pada pertimbangan konsumen sepeda motor yang

lebih memilih sepeda motor yang lebih irit bahan bakar, mengingat semakin

tingginya harga bahan bakar, oleh karena itu, peneliti menggunakan faktor

psikologis, factor lingkungan, dan bauran pemasaran dalam pengaruhnya

terhadap pembelian sepeda motor di kota Banjarmasin. Hasil dari penelitian ini

menyatakan bahwa variabel sikap adalah variabel yang paling dominan

pengaruhnya. Berdasarkan penelitian tersebut, sehingga peneliti memilih

1
2

variabel motivasi, persepsi, dan kepercayaan sebagai faktor psikologis yang

akan diukur pengaruhnya terhadap keputusan pembelian konsumen sepeda

motor Yamaha di Minahasa karena pada penelitian-penelitian terdahulu

menyimpulkan bahwa motivasi, persepsi, dan kepercayaan merupakan faktor-

faktor psikologis yang paling dominan dalam pengaruhnya terhadap keputusan

pembelian konsumen. Hasil penelitian Ramadhani (2011), menyimpulkan bahwa

persepsi mempunyai pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap

keputusan pembelian sepeda motor merek YAMAHA.

Perkembangan teknologi otomotif di Indonesia pada umumnya

berkembang sangat pesatnya, khususnya untuk sepeda motor dari tahun ke

tahun telah bermunculan kendaraan baru yang memiliki spesifikasi dan mesin

yang berbeda. Menurut hasil survei pada tahun 2011 Indonesia mencapai jumlah

68,8 juta kendaraan bermotor. Setiap mesin dari kendaraan bermotor pasti

memerlukan minyak pelumas untuk merawat kendaraannya supaya mesin dari

kendaraan tersebut tidak cepat rusak dan untuk mencegah pemborosan.

Pengguna kendaraan bermotor terkadang memilih oli mesin hanya berdasar

pada merk atau harga yang ditawarkan oleh produsen.Salah satu hal yang

penting untuk menentukan pilihan menggunakan oli adalah viskositas.Parameter

in biasanya sudah tercantum pada masing-masing kemasan oli dengan kode

SAE. Jika kekentalan oliyang digunakan kurang tepat, maka akan berakibat fatal

untuk kondisi mesin. (Teguh Febrianto,dkk 2003). Sistem pelumasan merupakan

salah satu sistem utama pada mesin, pelumasan terhadap mesin digunakan

untuk menghindari terjadinya gesekan langsung antara logam dalam mesin,

sehingga tingkat keausan logam dantingkat kerusakan mesin dapat dikurangi.

Perawatan secara berkala umur mesin menjadi lebih lama. Keadaan op-timum
3

pelumasan logam dapat dicapai jika permukaan logam yang bersentuhan dilapisi

secara sempurna oleh minyak pelumas, guna mendapatkan minyak pelumas

yang sempurna. Karakteristik dan jenis oli yang digunakan harus diperhatikan.

Faktor kekentalan dan viskositas, bahan dasar oli merupakan besaran yang

harus disesuaikan dengan klasifikasi mesin (Olson.,M et al,1993). Viskositas

merupakan ukuran kekentalan fluida yang menyatakan besar kecilnya gesekan

dalam fluida. Semakin besar viskositas fluida, maka semakin sulit suatu fluida

untuk mengalir dan juga menunjukkan semakin sulit suatu benda bergerak

didalam fluida tersebut. Didalam zat cair, viskositas dihasilkan oleh gaya kohesi

antara molekul zat cair sehingga menyebabkan adanya tegangan geser antara

molekul molekul yang bergerak . Zat cair ideal tidak memiliki kekentalan.

(Mutmainnah, dalam Eka Suci Ariyati 2010 ). Antoniuswijaya dalam M. Arisandi

menjelaskan tentang patokan untuk memperpanjang umur mesin maka

pergantian oli dilakukan secara teratur:

a. Dino oil (mineral) : antara 2000 km s/d 3000 km

b. Synthetic Based Oil (Semi Synthetic) : antara 3000 km s/d 5000 km

c. Fully-Synthetic Oil : antara 5000 km s/d 7000 km

Penggunaan oli lebih dari yang diatas tidaklah dilarang, dan menjadi

tanggung jawab diri masing-masing. Sedangkan untuk oli mineral digunakan

pada sistem kerja setandar harian, oli semi synthetic digunakan pada perputaran

mesin yang lebih berat, sedang full synthetic digunakan pada putaran mesin

yang tinggi extrim contohnya motar balap (Antoniuswijaya dalam M. Arisandi

2012).

Salah satu parameter yang mempengaruhi adalah besarnya pasokan

udara pembakaran kedalam ruang bakar. Dimana pasokan ini diatur oleh
4

mekanisme camshaft melalui buka-tutup katup pemasukan dan katup

pembuangan. Peran dari camshaft sangatlah penting, diantaranya sebagai

menentukan waktu pembukaan katup, mengatur lamanya durasi pembukaan

katup, menentukan lamanya durasi overlap katup masuk dan katup buang, serta

merupakan komponen utama dari mekanisme valve-train. (Firman,Bambang

2016) . Menurut (viktor,khasani, 2008) permasalahan yang terjadi berupa laju

keausan tinggi dan umur pendek karena sering mengalami kegagalan yang

dimulai dari permukaan bidang kontak. Kenyataan dilapangan menunjukan

bahwa kehilangan fungsi / kegagalan komponen mesin disebabkan oleh

kerusakan pada permukaan berupa keausan , retak maupun korosi. Definisi

paling umum dari keausan yang telah dikenal sekitar 50 tahun lebih yaitu

hilangnya bahan dari suatu permukaan atau perpindahan bahan dari

permukaannya ke bagian yang lain atau bergeraknya bahan pada suatu

permukaan.

Penelitian ini ditujukan untuk mengkaji dampak pemakaian oli mesin

terhadap keausan camshaft . Sehingga peneliti mengambil judul analisis

pengaruh oli mesin yamalube dan castrol terhadap keausan camshaft standar

yamaha jupiter z.

1.2 . Perumusan Masalah

Adapun perumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai

berikut:

a. Apakah penggunaan oli yamalube dapat mengurangi tingkat keausan pada

camshaft

b. Apakah penggunaan oli Castrol dapat mengurangi tingkat keausan pada

camshaft
5

c. Apakah penggunaan oli mesin berbeda menghasilkan tingkat keausan

berbeda

1.3 . Batasan Masalah

Adapun batasan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Penelitian dilakukan diworkshop mesin

b. Menggunakan dua jenis oli (yamalube dan castrol)

c. Menggunakan camshaft yamaha Jupiter Z

d. Penelitian berfokus Meneliti keausan camshaft

e. Penelitian dilakukan selama enam bulan

1.4 . Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Untuk mengetahui tingkat keausan camshaft jika menggunakan oli yamalube

b. Untuk mengetahui tingkat keausan camshaft jika menggunakan oli Castrol

c. Untuk mengetahui perbandingan tingkat keausan dari dua macam oli yang

berbeda

1.5 . Manfaat penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Bagi peneliti menambah ilmu serta pengalaman untuk bekal dalam bidang

manufaktur.

b. Bagi Universitas Lambung Mangkurat hasil penelitian diharapkan dapat

berguna bagi universitas sebagai dokumen yang dapat digunakan lagi untuk

penelitian selanjutnya.

c. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat diterima industri sebagai tolak ukur

produk untuk dikembangkan dan kedepannya dapat menarik lebih banyak

konsumen.
BAB II

DASAR TEORI

2.1. Penelitian Pendahuluan

Motor bakar adalah salah satu mesin kalor yang bekerja mengubah

energi thermal menjadi energi mekanik. Energi thermal ini diperoleh dari hasil

pembakaran antara bahan bakar dan udara didalam ruang bakar. Gas hasil

proses pembakaran ini kemudian digunakan untuk mendorong piston yang

dihubungkan dengan poros engkol melalui perantaraan sebuah batang

penghubung (connecting rod), sehingga gerak translasi dari piston diubah

menjadi gerak rotasi pada poros engkol. Berdasarkan jumlah langkah tiap

siklusnya motor bakar dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu Motor Bakar 4

Langkah dan Motor Bakar 2 Langkah. Prinsip kerja motor bensin adalah mesin

yang bekerja memanfaatkan energi dari hasil gas panas hasil proses

pembakaran, dimana proses pembakaran terjadi di dalam silinder mesin itu

sendirisehingga gas pembakaran berfungsi sebagai fluida kerja menjadi tenaga

atau energi panas (Hidayat,2012:14). Menurut Wiranto Arismunandar

(Penggerak Mula Motor Bakar Torak, 1988) besar kecilnya torsi dipengaruhi oleh

daya yang dihasilkan.

Pada permesinan tidak lepas adanya kontak mekanik antara elemen

satu dengan elemen lainya. Kontak mekanik tersebut mengakibatkan terjadinya

keausan (wear), keausan ada yang memang diperlukan dan ada yang harus

dihindari. Keausan yang memang diperlukan misalnya proses grinding, cutting,

pembubutan dan lain lain, sedang keausan yang harus dihindari adalah kontak

mekanik pada elemen mesin yang digunakan untuk mentransmisikan daya,

misalnya motor bakar, mesin produksi, mesin konvensional, dan lain lain

6
7

(Darmanto, 2011). Modifikasi atau perubahan lain yang umum dilakukan

mekanik yaitu perubahan pada poros nok atau camshaft. Perubahan ini

dilakukan agar campuran bahan bakar dan udara dapat masuk lebih banyak dan

gas buang dapat keluar lebih cepat dari ruang bakar. Pengaturan pembukaan

dan penutupan katup atau timing valve pada kepala silinder dengan tepat akan

membuat daya mesin bertambah. Bentuk cam pada camshaft membuat katup

dapat membuka cukup lebar dalam waktu cukup lama (Wardan Suyanto, 1989 ).

Bahan noken as terbuat dati besi tuang yang dilapisi dengan chrom dan pada

permukaanya dilakukan proses pengerasan (hardening). Pengerasan bertujuan

untuk meningkatkan ketahanan terhadap keausan ketika bergesekan dengan

rocker arm, karena noken as harus mempunyai nilai ketahanan yang tinggi

terhadap gesekan.(supriyanto,2011)

A. Pengertian Keausan

Definisi paling umum dari keausan yang telah dikenal sekitar 50

tahun lebih yaitu hilangnya bahan dari suatu permukaan atau perpindahan

bahan dari permukaannya ke bagian yang lain atau bergeraknya bahan pada

suatu permukaan. Definisi lain tentang keausan yaitu sebagai hilangnya

bagian dari permukaan yang saling berinteraksi yang terjadi sebagai hasil

gerak relatif pada permukaan. Keausan yang terjadi pada suatu material

disebabkan oleh adanya beberapa mekanisme yang berbeda dan terbentuk

oleh beberapa parameter yang bervariasi meliputi bahan, lingkungan, kondisi

operasi, dan geometri permukaan benda yang terjadi keausan.

B. Camshaft

Fungsi dari camshaft ini adalah sebagai pengatur waktu

pembukaan dan penutupan katup masuk/hisap dan katup buang. Menurut


8

Des Hammill (How To Choose Camshaft And Time Them For Maximum

Power, 1998), ada beberapa bagian lobe pada individu camshaft yang harus

jelas dibedakan antara satu dengan yang lain, karena lobe dibagi menjadi

masing-masing bidang yang berbeda, yaitu : heel (tumit), nose (hidung),

base circle (lingkaran dasar), opening and closing ramps (titik waktu buka

dan tutup) dan flanks (sayap).

Gambar 2.1. Bagian-Bagian Camshaft

C. Oli Mesin

Oli mesin adalah cairan / fluida di dalam mesin yang berfungsi

untuk melindungi mesin saat bekerja, mendukung performa mesin dan

menghindari kerusakan mesin saat mesin dijalankan. Oli mesin ini

digolongkan menjadi 3 dilihat dari bahan pembuat dan proses pembuatan

yakni oli mineral, oli semi sintetis dan oli sintetis. Oli mesin memiliki fungsi

tersendiri pada mesin Mobil / Motor, berikut adalah fungsi oli mesin :

1. Sebagai pelumas mesin (lubricating)


9

Oli sebagai pelumas akan bekerja untuk meminimalisasi

gesekan-gesekan antar logam (komponen mesin) sehingga gerakan

mesin menjadi halus/ sedikit hambatan, oli juga akan mencegah gesekan

yang terlalu kasar antar komponen mesin yang bisa merusak bagian-

bagian mesin.

2. Sebagai pelindung mesin

Oli tidak hanya melindungi mesin dari gesekan antar komponen

dalam mesin akan tetapi juga melindungi mesin dari korosi (karat), fungsi

oli di sini mencegah reaksi oksidasi pada komponen-komponen mesin dan

menghilangkan reaksi kimiawi logam dengan panas saat pembakaran

yang bisa menyebabkan korosi komponen.

3. Sebagai pembersih

Kotoran dapat masuk melalui sela-sela ring dan terjadi sisa

pembakaran mesin yang menghasilkan kerak, kerak atau kotoran tersebut

akan dilarutkan oleh oli (pelarut kotoran) atau bercampur dengan oli yang

selanjutnya akan dibuang bersama oli saat pergantian oli mesin.

4. Sebagai pendingin mesin

Panas yang terjadi akibat pembakaran pada ruang bakar akan

merambat ke dalam mesin, selain itu panas akibat gesekan antar

komponen dalam mesin juga menambah suhu di dalam mesin. Oli sebagai

pendingin akan mengalir pada permukaan komponen-komponen dalam

mesin untuk selanjutnya membawa panas tersebut ke penampungan oli

untuk selanjutnya panas akan dibuang bersama udara yang mengaliri

tempat penampungan oli. Sebagai pendingin oli sangat berperan besar

dalam menjaga komponen mobil dalam performa yang baik, panas yang
10

terlalu tinggi (over heat) akan merusak komponen-komponen dalam mesin

yang secara kimiawi dapat merusak ikatan logam dan secara fisikawi

dapat menyebabkan pemuaian pada komponen mesin.

D. Kekentalan / Viskositas Oli

Viskositas (kekentalan) berasal dari perkataan Viscous (Soedojo,

1986). Suatu bahan apabila dipanaskan sebelum menjadi cair terlebih dulu

menjadi viscous yaitu menjadi lunak dan dapat mengalir pelan-pelan.

Viskositas dapat dianggap sebagai gerakan di bagian dalam (internal) suatu

fluida (Sears & Zemansky, 1982). Kekentaan oli berkaitan dengan

kemampuan bekerja oli pada suhu yang ekstrim. oli yang baik adalah oli

yang mempunyai kekentalan stabil / memiliki daya tahan terhadap suhu

rendah (dingin) dan suhu tinggi (panas), kemampuan ini akan sangat

mendukung ke 4 oli diatas.

Tingkat daya tahan oli terhadap suhu ini dinyatakan dalam Society

of Automotive Engineers (SAE), misalnya pada kemasan tertulis SAE 5W-40

ini berarti tanda 5W (Winter) bahwa pada suhu rendah (dingin) oli akan tetap

memiliki kekentalan 5 dan pada suhu tinggi (panas) oli akan berada pada

tingkat kekentalan 40, begitu pula dengan kode 15W-50 maka pada suhu

terendah oli akan memiliki derajat kekentalan sebesar 15 dan pada suhu

tertinggi oli memiliki tingkat kekentalan 50. Semakin kecil jarak kekentalan oli

maka semakin baik kualitas oli tersebut misalnya SAE 5W-30 akan lebih baik

dari kode SAE 5W-40. Semakin rendah suhu udara di luar (tempat yang

dingin) maka dibutuhkan oli yang lebih encer atau dengan kode 5W, seperti

negara dingin perancis biasanya memakai oli dengan kode 5W. Semakin

panas cuaca/ suhu udara di luar maka dibutuhkan oli dengan tingkat
11

kekentalan yang lebih tinggi, seperti Indonesia akan lebih baik untuk

menggunakan kode SAE 15W-30.

Pemakaian kekentalan yang tidak sesuai dengan suhu suatu

negara akan menyebabkan oli tidak bisa bekerja, misalnya Indonesia

menggunakan kode SAE 5W-40 maka oli akan sangat encer sehingga tidak

mampu melakukan tugas lumbrikasi dengan baik, begitu pula sebaliknya jika

pada negara dengan cuaca ekstrim dingin menggunakan kode SAE 15W

maka oli akan sangat kental pada saat udara dingin sehingga oli tidak dapat

mengalir pada ruang-ruang antar komponen mesin. Untuk mengukur besaran

viskositas diperlukan satuan ukuran. Dalam sistem standar internasiaonal

satuan viskositas ditetapkan sebagai viskositas kinematik dengan satuan

ukuran mm2/s atau cm2/s. 1 cm2/s = 100 mm2/s, 1 cm2/s = 1 St (Stokes)

(Young, 2002).

2.2. Manufaktur

A. Keausan

Keausan umumnya didefinisikan sebagai kehilangan material

secara progresif atau pemindahan sejumlah material dari suatu permukaan

sebagai suatu hasil pergerakan relatif antara permukaan tersebut dan

permukaan lainnya. Keausan telah menjadi perhatian praktis sejak lama,

tetapi hingga beberapa saat lamanya masih belum mendapatkan penjelasan

ilmiah yang besar sebagaimana halnya pada mekanisme kerusakan akibat

pembebanan tarik, impak, puntir atau fatigue. Hal ini disebabkan masih lebih

mudah untuk mengganti komponen/part suatu sistem dibandingkan

melakukan disain komponen dengan ketahanan/umur pakai (life) yang lama.

Menurut (Isranuri) Kekerasan suatu material sangatlah mempengaruhi


12

ketahanan aus suatu material. Dan laju keausan dipengaruhi oleh

pembebanan dan kecepatan sliding dimana aluminium yang diuji keausan

menggunakan metode pin on disk test pada putaran disk masing-masing 60

rpm, 90 rpm, 120 rpm, 150 rpm dan 180 rpm memperlihatkan kenaikan laju

keausan seiring dengan peningkatan putaran untuk setiap sampel yang diuji

dengan keausan maksimum bahan Aluminium 0,361 mm3/s. Laju keausan

tertinggi untuk bahan paduan Al-Si 3,76% sebesar 0,351 mm3/s pada

putaran 180 rpm (Isranuri,I.et al,2011). Keausan bukan merupakan sifat

dasar material, melainkan response material terhadap sistem luar (kontak

permukaan), berikut adalah macam-macam keausan:

1. Keausan Adhesive

Keausan adhesive terjadi bila kontak permukaan dari dua

material atau lebih mengakibatkan adanya perlekatan satu sama lain dan

pada akhirnya terjadi pelepasan/pengoyakan salah satu material.

2. Keausan Abrasif

Keausan abrasi terjadi bila suatu partikel keras (asperity) dari

material tertentu meluncur pada permukaan material lain yang lebih lunak

sehingga terjadi penetrasi atau pemotongan material yang lebih lunak.

Tingkat keausan pada mekanisme ini ditentukan oleh derajat kebebasan

(degree of freedom) partikel keras atau sperity tersebut. Sebagai contoh

partikel pasir silica akan menghasilkan keausan yang lebih tinggi ketika

diikat pada suatu permukaan seperti pada kertas amplas, dibandingkan

bila partikel tersebut berada di dalam sistem slury. Pada kasus pertama

partikel tersebut kemungkinan akan tertarik sepanjang permukaan dan


13

mengakibatkan pengoyakan sementara pada kasus terakhir partikel

tersebut mungkin hanya berputar (rolling) tanpa efek abrasi.

3. Keausan Lelah

Keausan lelah merupakan mekanisme yang relatif berbeda

dibandingkan dua mekanisme sebelumnya, yaitu dalam hal interaksi

permukaan. Baik keausan adhesive maupun abrasif melibatkan hanya

satu interaksi sementara pada keausan lelah dibutuhkan interaksi multi.

Permukaan yang mengalami beban berulang akan mengarah pada

pembentukan retak-retak mikro. Retak-retak tersebut pada akhirnya

menyatu dan menghasilkan pengelupasan material. Tingkat keausan

sangat tergantung pada tingkat pembebanan.

4. Keausan Oksidasi ( keausan korosif)

Pada prinsipnya mekanisme ini dimulai dengan adanya

perubahan kimiawi material di bagian permukaan oleh faktor lingkungan.

Kontak dengan lingkungan ini akan menghasilkan pembentukan lapisan

pada permukaan dengan sifat yang berbeda dengan material induk.

Sebagai konsekuensinya, material pada lapisan permukaan akan

mengalami keausan yang berbeda Hal ini selanjutnya mengarah kepada

perpatahan interface antara lapisan permukaan dan material induk dan

akhirnya seluruh lapisan permukaan itu akan tercabut.

B. Oli

Oli biasanya diperoleh dari pengolahan minyak bumi yang

dilakukan melalui proses destilasi bertingkat berdasarkan titik didihnya.

Menurut Environmental Protection Agency (EPAs), proses pembuatan oli

melalui beberapa tahap, yaitu:


14

1. Distilasi.

2. Deasphalting untuk menghilangkan kandungan aspal dalam minyak.

3. Hidrogenasi untuk menaikkan viskositas dan kualitas.

4. Pencampuran katalis untuk menghilangkan lilin dan menaikkan

temperature pelumas paraffin .

5. Clay or Hydrogen finishing untuk meningkatkan warna, stabilitas dan

kualitas oli pelumas (Wahyu Purwo Raharjo, 2010).

C. Pelumas Mesin (Engine Oil)

Beberapa sifat penting yang sangat dibutuhkan agar minyak lumas

dapat berfungsi dengan baik adalah:

1. Low volatility atau tidak mudah menguap, terutama pada kondisi operasi.

Volatilitas suatu minyak lumas penting sekali dalam pemilihan jenis

pelumas dasar sesuai dengan pemakaian.

2. Fluiditas atau sifat mengalir dalam daerah suhu operasi.

3. Stabilitas selama periode pemakaian. Sebagian sifat ini ditentukan oleh

adiktif.

4. Kompatibilitas atau kecocokan dengan bahan lain dalam sistem (Sukirno,

2010).

D. Fungsi Pelumas

Fungsi utama suatu pelumas adalah untuk mengendalikan friksi

dan keausan. Namun pelumas juga melakukan beberapa fungsi lain yang

bervariasi tergantung di mana pelumas tersebut diaplikasikan, misalkan saja:

1. Pencegahan Korosi

Peranan pelumas dalam rangka mencegah korosi, pelumas

berfungsi sebagai preservative. Pada saat mesin bekerja pelumas melapisi


15

bagian mesin dengan lapisan pelindung yang mengandung adiktif untuk

menetralkan bahan korosif. Kemampuan pelumas untuk mengendalikan

korosi tergantung pada ketebalan lapisan fluida dan komposisi kimianya.

2. Pengurangan Panas

Salah satu fungsi pelumas yang lain adalah sebagai pendingin,

dimana pelumas tersebut mampu menghilangkan panas yang dihasilkan baik

dari gesekan atau sumber lain seperti pembakaran atau kontak dengan zat

tinggi. Perubahan suhu dan oksidatif material akan menurunkan efisiensi

pelumas (Sukirno, 2010).

E. Standar Minyak Pelumas

Standarisasi minyak pelumas untuk mesin kendaraan bermotor

pertama kali dilakukan oleh Society of Automotive Engineers (SAE) pada

tahun 1911 dengan kode SAE J300. Minyak pelumas dikelompokkan

berdasarkan tingkat kekentalannya. Dalam kemasan atau kaleng pelumas,

biasanya dapat ditemukan kode angka yang menunjukkan tingkat

kekentalannya, seperti: SAE 40, SAE 90, dsb. Semakin tinggi angkanya

semakin kental minyak pelumas tersebut. Ada juga kode angka multi grade

seperti SAE 10W-50, yang dapat diartikan bahwa pelumas memiliki tingkat

kekentalan sama dengan SAE 10 pada suhu udara dingin (W=Winter) dan

SAE 50 pada suhu udara panas (Wijaya, R. Indra, 2005).

F. Pengukuran

Pengukuran kebulatan poros dilakukan dengan cara meletakkan

pada blok-V dan kemudian memutarnya dengan menempelkan sensor jam

ukur di atasnya. Cara tersebut merupakan cara klasik untuk mengetahui

kebulatan. (Rochim, 2001)


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 . Objek Penelitian

Objek penelitian adalah camshaft standar Yamaha Jupiter z.

3.2 . Alat dan Bahan penelitian

Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini ialah:

Alat :

a. V-Block

b. Dial Gauge (dial indicator)

c. Camshaft standar

d. Mesin Jupiter z

e. Timer (stopwatch)

Bahan :

a. Oli yamalube

b. Oli Castrol

c. Bensin

3.3 . Teknik Pengumpulan data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data

adalah data yang diperoleh dari pengamatan langsung dilapangan.

16
17

A. Diagram Alir Penelitian

Mulai

Studi Literatur

Menentukan
Parameter Pengujian

Pengunaan Oli Pengunaan Oli


Castrol Yamalube

Proses Kerja Mesin


Motor Yamaha Jupiter Z

Pengambilan Data

Analisa Data Keausan

Kesimpula

SELESAI
18

Dari diagram alir diatas, prosedur penelitian sebagai berikut:

1. Memulai penelitian

2. Melihat studi literatur

3. Menyiapkan alat dan bahan serta mesin Yamaha Jupiter

4. Oli Castrol dimasukan kedalam blok mesin .

5. Mesin Yamaha dijalankan seharian dengan durasi selama 6 jam sehari dan

dilakukan selama 2 bulan.

6. Mesin didinginkan

7. Pengambilan data keausan setiap 1 bulan dengan mengunakan v-block dan

dial indikator

8. Hasil data yang telah didapat dianalisa untuk melihat adanya keausan pada

camshaft.

9. Oli yamalube dimasukan kedalam blok mesin.

10. Ulangi langkah 5, 6, 7, 8,

11. Hasil dari kedua oli dianalisa kembali dan dibandingkan tingkat keausan

yang terjadi pada camshaft

12. Menyimpulkan hasil penggunaan oli terbaik untuk mengurangi tingkat

keausan pada bagian dalam mesin

13. Selesai

3.4 . Tempat dan Jadwal penelitian

a. Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di Workshop Teknik Mesin, Fakultas Teknik

Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru, Kalimantan Selatan.


19

b. Jadwal Penelitian

Rencana Bulan

Kegiatan Juni Juli Agustus September Oktober Desembe Januari Februar

r i
Studi Literature

Pengumpulan

Data
Menyusun

Laporan
Seminar

Proposal
Seminar Hasil

Sidang

Akhir
Dalam peneitian ini peneliti menyusun jadwal sabagai berikut:

Dari tabel diatas dapat disimpulkan Jadwal penelitian sebagai berikut:

a. Studi literatur

b. Pengumpulan data dilakukan selama lebih kurang 4 bulan terhitung dari

pertama penelitian dilaksanakan, data yang diperoleh dari keausan objek

penelitian saat menggunakan oli mesin Castrol dan yamalube .

c. Menyusun laporan dilakukan selama 4 bulan dan disetujui ,

d. Seminar proposal ditargetkan pada bulan berikutnya setelah laporan

disetujui.
20

e. Seminar Hasil ditargetkan pada bulan berikutnya setelah seminar proposal

disetujui selesai.

f. Sidang akhir akan dilakasanakan setelah seminar hasil disetujui dan selesai.
21

DAFTAR PUSTAKA

Anonym, 2016, Kendaraan Bermotor, Wikipedia

(Diakses tanggal : 3 oktober 2016).

Ansmunandar Wiranto. 1988. Penggerak Mula Motor Bakar Torak.Bandung : ITB

Heisler Heins. 1995. Advanced Engine Tecnology. London : Edward

Arnold.

Arie Wedhasmara, Jasmo Ari Wibowo, 2010, Sistem Pendukung Keputusan

Pemilihan Pembelian Kendaraan Bermotor Dengan Metode Saw, Jurnal

Sistem Informasi (Jsi), Vol. 2, No. 2, Oktober 2010,

Darmawangsa Firman Iffah Dan Sudarmanta Bambang, 2016, Jurnal Teknik Its Vol.

5, No. 1, Analisis Pengaruh Penambahan Durasi Camshaft Terhadap

Unjuk Kerja Dan Emisi Gas Buang Pada Engine Sinjai 650 Cc

Darmanto, 2011, Mengenal Pelumas Pada Mesin,Jurnal Momentum,Vol.7, hal. 5

10 , Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim, Semarang

Eka Suci Ariyanti, 2010, Otomatisai Pengukuran Koefisien Viskositas Zat Cair

Menggunakan Gelombang Ultrasonik, Fakultas Sain dan Teknologi

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Untuk patokan

M.arisandi, Darmanto, T.Priangkoso 2012, Analisa Pengaruh Bahan Dasar Pelumas

Terhadap Viskostas Pelumas dan Konsumsi Bahan Bakar, Momentum,

Vol. 8, No. 1, April 2012 : 56- 61

Hasto Sunarno, Stefan Raharjo Nugroho, Jurusan Fisika, 2012 Identifikasi Fisis

Viskositas Oli Mesin Kendaraan Bermotor terhadap Fungsi Suhu dengan

Menggunakan Laser Helium Neon, Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)

Hidayat, Wahyu, 2012,Motor Bensin Modern, Jakarta: Rineka Cipta


22

Isranuri,I., Jamil, Suprianto, 2011, Pengaruh Putaran Terhadap Laju Keausan Al-Si

Alloy Menggunakan Metode Pin On Disk Test, Jurnal Dinamis, Volume II,

No.8.

Khasani Dan Viktor Malau, 2008, Karakterisasi Laju Keausan Dan Kekasaran Dari

Pack Carburizing Pada Baja Karbon Aisi 1020, Media Teknik No.3 Tahun

XXX Edisi Agustus 2008, Issn 0216-3012

M. Olson, Reuben and J. Wright, Steven. 1993. Dasar-dasar Mekanika Fluida

Teknik.Edisi Kelima. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka U

Machrani Rinandha Bilondatu, 2013, Motivasi, Persepsi, Dan Kepercayaan

Pengaruhnya Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Pada Sepeda

Motor Yamaha Di Minahasa, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, Jurusan

Manajemen Universitas Sam Ratulangi Manado

Rochim Taufiq, Spesifikasi, Metrologi dan Kontrol Kualitas Geometrik, Modul 3 & 4,

Lab. Metrologi Industri, Departemen Teknik Mesin FTI - ITB, Bandung,

2001

Sears dan Zemansky, 1982, , Fisika Universitas, Penerbit Bina Cipta, Bandung.

Silvya L. Mandey, William Putra Imbar, dkk, 2014, Bauran Pemasaran Jasa

Terhadap Keputusan Pembelian Motor Yamaha Pada Pt. Hasjrat Abadi

Manado, Falkutas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan Manajemen Universitas

Sam Ratulangi Manado

Sri Nanda Cahya Ningsih, 071810201081; 2013; 28 halaman; Jurusan Fisika,

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember.

Sukirno. 2010. Kuliah Teknologi Pelumas 3. Departemen Teknik Kimia Fakultas

Teknik Universitas Indonesia


23

Supriyanto, zaini abdillah, 2011, tinjauan ketahanan aus hasil modifikasi noken as

pada motor balap, jurnal teknik vol1 no2

Suyanto Wardan. 1989. Teori Motor Bensin. Jakarta : Depdikbud.

Teguh Febrianto, 2012, Rancang Bangun Alat Uji Kelayakan Pelumas Kendaraan

Bermotor Berbasis Mikrokontroler, Fakultas Matematika Dan Ilmu

Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang

Wahyu Purwo Raharjo. 2010. The Use of Oil With Petroleum Blanded as Fuel In

Burner Atomizing. Jurusan Teknik Mesin. Universitas Sebelas Maret

Surakarta

Wijaya, R. Indra. 2005. Perencanaan dan Pembuatan Alat Ukur Viskositas Oli Mesin

pada Kendaraan Bermotor Berbasis Teknologi Field Progmable Gate

Array (FPGA) Xilinx b XC4010-XL. Pusat Penelitian Elektronika dan

Telekomunikasi-LIPI.

Wildhan Zulkarnaen, keausan material teknik, Scribd,

(Diakses tanggal : 5 oktober 2016)

Young, H. D. 2002. Fisika untuk Universitas Jilid I. Erlangga. Jakarta