Você está na página 1de 10

Anamnesis

Pada anamnesis perlu diketahui adanya terjadi penurunan visus secara bertahap. Pada

glaukoma sudut terbuka tidak menunjukan gejala sampai pada perjalanan penyakit yang sudah lanjut.

Awalnya insidious, progresif lambat dan kehilangan lapangan pandang perifer kecil tidak dirasakan.

Ketika kehilangan lapangan pandang menjadi lebih jelas bagi pasien, kerusakan irreversible, ekstensi

saraf optikus biasanya sudah terjadi (Perdami, 2010).

Pada glaukoma sudut tertutup meliputi nyeri, pandangan halo (melihat halo disekitar benda),
pandangan kabur, mata merah dan perubahan bentuk mata. Nyeri okuler mungkin disebabkan oleh
peningkatan TIO cepat, efek samping akibat penggunaan obat. Terkadang bisa disertai mual, muntah.
Mata merah mungkin berhubungan dengan iritis akut, reaksi obat, glaucoma neovascular, hifema,
perdarahan subkonjunctiva atau tekana vena episklera yang emningkat. Pandangan terlihat ada halo
disebabkan oleh edema kornea yang disebabkan peningkatan tekana intraokuler dan dekompensasi
1 Pengkajian
1. Identifikasi Klien
Nama, umur, jenis kelamin, agama, alamat, pendidikan, pekerjaan, tgl MRS, diagnosa medis,
suku bangsa, status perkawinan.
2. Keluhan Utama
Terjadi tekanan intra okuler yang meningkat mendadak sangat tinggi, nyeri hebat di kepala,
mual muntah, penglihatan menurun, mata merah dan bengkak.
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Penyakit Sekarang
Hal ini meliputi keluhan utama mulai sebelum ada keluhan sampai terjadi nyeri hebat di
kepala, mual muntah, penglihatan menurun, mata merah dan bengkak.
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Pernah mengalami penyakit glaukoma sebelumnya atau tidak dan apakah terdapat
hubungan dengan penyakit yang diderita sebelumnya.
c. Riwayat Penyakit Keluarga
Dalam keluarga ditemukan beberapa anggota keluarga dalam garis vertikal atau
horisontal memiliki penyakit yang serupa.
4. Pola pola Fungsi Kesehatan
a. Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Persepsi klien dalam menilai / melihat dari pengetahuan klien tentang penyakit yang
diderita serta kemampuan klien dalam merawat diri dan juga adanya perubahan dalam
pemeliharaan kesehatan.
b. Pola nutrisi dan metabolik
Pada umumnya klien dengan glaukoma tidak mengalami perubahan. Pada pola nutrisi
dan metabolismenya. Walaupun begitu perlu dikaji pola makan dan komposisi, berapa
banyak / dalam porsi, jenis minum dan berapa banyak jumlahnya.
c. Pola eliminasi
Pada kasus ini pola eliminasinya tidak mengalami gangguan, akan tetapi tetap dikaji
konsestansi, banyaknya warna dan baunya.
d. Pola tidur dan istirahat
Pola tidur dan istirahat akan menurun, klien akan gelisah / sulit tidur karena nyeri /
sakit hebat menjalar sampai kepala.
e. Pola aktivitas
Dalam aktivitas klien jelas akan terganggu karena fungsi penglihatan klien mengalami
penurunan.
f. Pola persepsi konsep diri
Meliputi : Body image, self sistem, kekacauan identitas, rasa cemas terhadap
penyakitnya, dampak psikologis klien terjadi perubahan konsep diri.
g. Pola sensori dan kognitif
Pada klien ini akan menjadi / mengalami gangguan pada fungsi penglihatan dan pada
kongnitif tidak mengalami gangguan.
Penglihatan berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya/pelangi sekitar sinar, kehilangan
penglihatan perifer, fotofobia (glaucoma akut).
Perubahan kacamata/pengobatan tidak memperbaiki penglihatan.
Tanda : Papil menyempit dan merah/mata keras dengan kornea berawan.Peningkatan
air mata.
h. Pola hubungan dan peran
Bagimana peran klien dalam keluarga dimana meliputi hubungan klien dengan keluarga
dan orang lain, apakah mengalami perubahan karena penyakit yang dideritanya.
i. Pola reproduksi
Pada pola reproduksi tidak ada gangguan.
j. Pola penanggulangan stress
Biasanya klien akan merasa cemas terhadap keadaan dirinya dan fungsi penglihatannya
serta koping mekanis yang ditempuh klien bisa tidak efektif.
k. Pola tata nilai dan kepercayaan
Biasanya klien tidak mengalami gangguan.
5. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
Didapatkan pada klien saat pengkajian, keadaan, kesadarannya, serta pemeriksaan TTV.
b. Pemeriksaan Kepala dan Leher
Meliputi kebersihan mulut, rambut, klien menyeringai nyeri hebat pada kepala, mata
merah, edema kornea, mata terasa kabur.
c. Pemeriksaan Integumen
Meliputi warna kulit, turgor kulit.
d. Pemeriksaan Sistem Respirasi
Meliputi frekwensi pernafasan bentuk dada, pergerakan dada.
e. Pemeriksaan Kardiovaskular
Meliputi irama dan suara jantung.
f. Pemeriksaan Sistem Gastrointestinal
Pada klien dengan glaukoma ditandai dengan mual muntah.
g. Pemeriksaan Sistem Muskuluskeletal
Meliputi pergerakan ekstermitas.
h. Pemeriksaan Sistem Endokrin
Tidak ada yang mempengaruhi terjadinya glaukoma dalam sistem endokrin.
i. Pemeriksaan Genitouria
Tidak ada disuria, retesi urin, inkontinesia urine.
j. Pemeriksaan Sistem Pernafasan
Pada umumnya motorik dan sensori terjadi gangguan karena terbatasnya lapang
pandang.
6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Kartu mata Snellen/mesin Telebinokular (tes ketajaman penglihatan dan sentral
penglihatan) : Mungkin terganggu dengan kerusakan kornea, lensa, aquous atau vitreus
humor, kesalahan refraksi, atau penyakit syaraf atau penglihatan ke retina atau jalan
optik.
b. Lapang penglihatan : Penurunan mungkin disebabkan CSV, massa tumor pada
hipofisis/otak, karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma.
c. Pengukuran tonografi : Mengkaji intraokuler (TIO) (normal 12-25 mmHg)
d. Pengukuran gonioskopi :Membantu membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup
glaukoma.
e. Tes Provokatif :digunakan dalam menentukan tipe glaukoma jika TIO normal atau
hanya meningkat ringan.
f. Pemeriksaan oftalmoskopi:Mengkaji struktur internal okuler, mencatat atrofi
lempeng optik, papiledema, perdarahan retina, dan mikroaneurisma.
g. Darah lengkap, LED :Menunjukkan anemia sistemik/infeksi.
h. EKG, kolesterol serum, dan pemeriksaan lipid: Memastikan aterosklerosis.
i. Tes Toleransi Glukosa :menentukan adanya DM.
epitel kornea (Simmons, 2007).

Pemeriksaan fisik
Dilakukan pemeriksaan oftalmik lengkap termasuk pemeriksaan visus, lapangan pandang,

tekanan intraokular, funduskopi, pemeriksaan sudut mata, dan lain-lain.

Tonometri digunakan untuk mengukur tekanan intraokuler. Ada beberapa macam tonometri

yaitu Tonometri indentasi (schiotz), Tonometri aplanasi (goldman), Tonometri non-kontak (air

puff) dan Tonometri digital (kanski, 2007).

Gonioskopi digunakan untuk memeriksa drainase sudut mata. Dengan gonioskopi dapat

dinilai lebar dan sempitnya sudut bilik mata depan, dilakukan dengan cara membius mata

dengan obat-obat tetes anasthesi dan menempatkan contact lens khusus yang tebal dengan

kaca-kaca di dalamnya dan diletakkan pada mata. Kaca-kaca tersebut memungkinkan dokter
untuk melihat bagian dalam mata dari arah-arah yang berlainan. Dari sinilah dapat ditentukan

apakah sudut mata terbuka atau menyempit. Gonioskopi juga dapat digunakan untuk melihat

kelainan-kelainan pada pembuluh darah yang memungkinkan untuk menggangu aliran humor

aqueous keluar dari mata (kanski, 2007).

Funduskopi digunakan untuk mengevaluasi semua kerusakan diskus optikus. Pemeriksaan

funduskopi menggunakan ophthalmoskop dilakukan untuk memeriksa diskus optikus pada

belakang mata, kerusakan pada saraf optik yang disebut cupping of the disc, apakah papil

saraf optik menunjukan penggaungan dan atrofi, sehingga cup disk ratio membesar (Normal

<0.5), Cupping (ekskavasi) mencapai tepi diskus optikus (mula-mula bagian temporal dan

kemudian melingkari seluruh papil), Vasa-vasa tergeser ke nasal (nasalisasi), Vasa-vasa retina

menekuk seperti terputus antara tepi cupping dan bingkai papil (fenomena bayonet), Lamina

kribrosa tampak jelas di dasar ekskavasi atau kawah tadi, terjadi atrofi koroid peripapil (halo

glaukomatosa), Papil makin memucat (atrofi papil total glaukomatosa) sehingga C/D=1,

artinya bahwa bingkai telah hilang sama sekali dan aksonnya habis . Penilaian klinis diskus

optikus dapat dilakukan dengan oftalmoskopi langsung atau dengan pemeriksaan

menggunakan lensa 70 dioptri, lensa Hruby atau lensa kontak kornea khusus yang memberi

gambaran tiga dimensi (Kanski, 2007)


Gambar 2.8 saraf optik normal (kiri), penggaungan saraf optik pada glaukoma akibat

peningkatan TIO (kanan) (Khurana, 2007)

Gambar 2.9 Terlihat cup-disk ratio membesar (Hitching, 2000)

Gambar 2.10 Lamina Cibrosa (Hitching, 2000)


Gambar 2.11 Nasalisasi pada papil nervus optik (Hitching, 2000)

Gambar 2.12 Bayonet sign (Hitching, 2000)

Pemeriksaan Glaukoma

Untuk menentukan seseorang menderita glaukoma maka dokter akan melakukan beberapa
pemeriksaan. Berbagai alat diagnostik tambahan untuk menentukan ada atau tidak adanya
glaukoma pada seseorang dan berat atau ringannya glaukoma yang diderita, serta dini atau
lanjut glaukoma yang sedang diderita seseorang.

Pemeriksaan tekanan bola mata

Tonometri merupakan pemeriksaan untuk menentukan tekanan bola mata seseorang


berdasarkan fungsinya dimana tekanan bola mata merupakan keadaan mempertahankan mata
bulat sehingga tekanan bola mata yang normal tidak akan memberikan kerusakan saraf optik
atau yang terlihat sebagai kerusakan dalam bentuk kerusakan glaukoma pada papil saraf
optik. Batas tekanan bola mata tidak sama pada setiap individu, karena dapat saja tekanan
ukuran tertentu memberikan kerusakan pada papil saraf optik pada orang tertentu. Untuk hal
demikian yang dapat kita temukan kemungkinan tekanan tertentu memberikan kerusakan.
Dengan tonometer Schiotz tekanan bola mata penderita diukur.

Dikenal 4 bentuk cara pengukuran tekanan bola mata:

1. Palpasi, kurang tepat karena tergantung faktor subjektif.

2. Identasi tonometri, dengan memberi beban pada permukaan kornea.

3. Aplanasi tonometri, mendatarkan permukaan kecil kornea.

4. Tonometri udara (air tonometri), kurang tepat karena dipergunakan di ruang


terbuka.

Pada keadaan normal tekanan bola mata tidak akan mengakibatkan kerusakan pada papil
saraf optik. Reaksi mata tidak sama pada setiap orang, sehingga tidaklah sama tekanan
normal pada setiap orang. Tujuan pemeriksaan dengan tonometer atau tonometri untuk
mengetahui tekanan bola mata seseorang. Tonometer yang ditaruh pada permukaan mata atau
kornea akan menekan bola mata ke dalam. Tekanan ke dalam ini akan mendapatkan
perlawanan tekanan dari dalam bola mata melalui kornea.

Pemeriksaan kelainan papil saraf optik

Oftalmoskopi. pemeriksaan ke dalam mata dengan memakai alat yang dinamakan


oftalmoskop. Dengan oftalmoskop dapat diiihat saraf optik didalam mata dan akan dapat
ditentukan apakah tekanan bola mata telah mengganggu saraf optik. Saraf optik dapat dilihat
secara langsung. Warna serta bentuk dari mangok saraf optik pun dapat menggambarkan ada
atau tidak ada kerusakan akibat glaukoma.

Kelainan pada pemeriksaan oftalmoskopi dapat terlihat :

Kelainan papil saraf optik

- Saraf optik pucat atau atrofi

- Saraf optik bergaung

Kelainan serabut retina, serat yang pucat atau atrofi akan berwarria hijau

Tanda lainnya seperti perdarahan peripapilar


Pemeriksaan Sudut Bilik Mata

Gonioskopi adalah suatu cara untuk melihat langsung keadaan patologik sudut bilik mata,
juga untuk melihat hal-hal yang terdapat pada sudut bilik mata seperti benda asing. Dengan
gonioskopi dapat ditentukan klasifikasi glaukoma penderita apakah glaukoma sudut terbuka
atau glaukoma sudut tertutup, dan malahan dapat menerangkan penyebab suatu glaukoma
sekunder. Pada gonioskopi dipergunakan goniolens dengan suatu sistem prisma dan
penyinaran yang dapat menunjukkan keadaan sudut bilik mata. Dapat dinilai besar atan
terbukanya sudut:

Derajat 0, bila tidak terlihat struktur sudut dan terdapat kontak, kornea dengan iris,
disebut sudut tertutup.

Derajat 1, bila tidak terlihat 1/2 bagian trabekulum sebelah belakang, dan garis
Schwalbe terlihat disebut sudut sangat sempit. Sudut sangat sempit sangat mungkin menjadi
sudut tertutup

Derajat 2, bila sebagian kanal Schlemm terlihat disebut sudut sempit sedang kelainan
ini mempunyai kemampuan untuk tertutup

Derajat 3, bila bagian belakang kanal Schlemm masih terlihat termasuk skleral spur,
disebut sudut terbuka. Pada keadaan ini tidak akan terjadi sudut tertutup.

Derajat 4. bila badan siliar terlihat, disebut sudut terbuka.

d. Pemeriksaan Lapangan Pandang

Pemeriksaan lapangan pandang secara teratur penting untuk diagnosis dan tindak
lanjut glaukoma. Penurunan lapangan pandang akibat glaukoma itu sendiri tidak spesifik,
karena gangguan ini terjadi akibat defek berkas serat saraf yang dapat dijumpai pada semua
penyakit saraf optikus, tetapi pola kelainan lapangan pandang, sifat progresivitasnya, dan
hubungannya dengan kelainan-kelainan diskus optikus adalah khas untuk penyakit ini.
Gangguan lapangan pandang akibat glaukoma terutama mengenai 30 derajat lapangan
pandang bagian tengah. Perubahan paling dini adalah semakin nyatanya bintik buta. Berbagai
cara untuk memeriksa lapangan pandang pada glaukoma adalah layar singgung, perimeter
Goldmann, Friedmann field analyzer, dan perimeter otomatis.

e. Tes Provokasi

Tes provokasi : dilakukan pada keadaan yang meragukan.


A. Untuk glaukoma sudut terbuka

1. Tes minum air : penderita disuruh berpuasa, tanpa pengobatan selama 24 jam.
Kemudian disuruh minum 1 L air dalam 5 menit. Lalu tekanan intraokuler diukur
setiap 15 menit selama 1,5 jam. Kenaikan tensi 8 mmHg atau lebih, dianggap
mengidap glaukoma.

2. Pressure congestion test : Pasang tensimeter pada ketinggian 50 - 60 mmHg, selama l


menit. Kemudian ukur tensi intraokulernya. Kenaikan 9 mmHg atau lebih
mencurigakan, sedang bila lebih dari 11 mm Hg pasti patologis.

3. Kombinasi tes air minum dengan pressure congestion test : Setengah jam setelah tes
minum air dilakukan pressure congestion test. Kenaikan 11 mmHg mencurigakan,
sedangkan kenaikan 39 mmHg atau lebih pasti patologis.

4. Tes Steroid : diteteskan larutan dexamethasone 3 - 4 dd gt 1, selama 2 minggu.


Kenaikan tensi intraokuler 8 mmHg menunjukkan glaukoma.

B. Untuk glaukoma sudut tertutup.

1. Tes kamar gelap : orang sakit duduk ditempat gelap selama 1 jam, tak boleh tertidur.
Ditempat gelap ini terjadi midriasis, yang mengganggu aliran cairan bilik mata
ketrabekulum. Kenaikan tekanan lebih dari 10 mmHg pasti patologis, sedang
kenaikan 8 mmHg mencurigakan.

2. Tes membaca : Penderita disuruh membaca huruf kecil pada jarak dekat selama 45
menit. Kenaikan tensi 10 - 15 mmHg patologis.

3. Tes midriasis : Dengan meneteskan midriatika seperti kokain 2%, homatropin 1% atau
neosynephrine 10%. Tensi diukur setiap 1/4 jam selama 1 jam. Kenaikan 5 mmHg
mencurigakan sedangkan 7 mmHg atau lebih pasti patologis. Karena tes ini
mengandung bahaya timbulnya glaukoma akut, sekarang sudah banyak ditinggalkan.

4. Tes bersujud (prone position test) : Penderita disuruh bersujud selama 1 jam.
Kenaikan tensi 8 - 10 mm Hg menandakan mungkin ada sudut yang tertutup, yang
perlu disusul dengan gonioskopi. Dengan bersujud, lensa letaknya lebih kedepan
mendorong iris kedepan, menyebabkan sudut bilik depan menjadi sempit.
(Kepaniteraan Ilmu Penyakit Mata Rsau Dr. Esnawan Antariksa Halim
Perdanakusuma 2013)