Você está na página 1de 37

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TN.

D
DENGAN DIABETES MELITUS DI RUANG MARWAH
RSI.SITI KHADIJAH
PALEMBANG

DI SUSUN OLEH :
SEPTI MONALISA
A.11.11.076

Tingkat IIB AKPER


Dosen Pembimbing : Ns.Alliyah, S.Kep

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN
PALEMBANG
2012
LAPORAN PENDAHULUAN

1.1 Definisi
Diabetes melitus adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan
kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia.(Brunner & Suddarth, Buku ajar keperawatan
medikal-bedah, Jakarta, EGC)

Diabetes melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan
metaboli akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi pada mata, ginjal,
saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan mikroskop
electron. (Soeparman, ilmu penyakit dalam, Jakarta, FKUI)

Diabetes Mellitus adalah sindrom yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara


tuntutan dan suplai insulin. Sindrom ini ditandai oleh hiperglikemia dan berkaitan dengan
abnormalitas, metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Abmormalitas metabolik ini
mengarah pada perkembangan bentuk spesifik komplikasi ginjal, okular, neurogenik dan
kardiovaskuler (Hotma Rumoharba, Skp, 1997).

Diabetes Mellitus merupakan suatu penyakit kronik yang kompleks yang melibatkan
kelainan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak dan berkembangnya komplikasi
makrovaskuler, mikrovaskuler dan neurologis. Diabetes Mellitus digolongkan sebagai penyakit
endokrin atau hormonal karena gambaran produksi atau penggunaan insulin (Barbara C. Long,
1996:4)
1.2 Patofisiologi
1.Diabetes Tipe I
Terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel ? pankreas
telah dihancurkan oleh proses autoimun. Glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat
disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia
postprandial (sesudah makan).

Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali
semua glukosa yang tersaring keluar akibatnya glukosa tersebut diekskresikan dalam urin
(glukosuria). Ekskresi ini akan disertai oleh pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan,
keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Pasien mengalami peningkatan dalam berkemih
(poliuria) dan rasa haus (polidipsi).

2. Diabetes Tipe II
Terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin, yaitu: resistensi insulin
dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada
permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut, terjadi suatu
rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel. Resistensi insulin pada diabetes tipe II
disertai dengan penurunan reaksi intrasel, dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk
menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan.

Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah
harus terdapat peningkatan insulin yang disekresikan. Pada penderita toleransi glukosa
terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan
dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun jika sel-sel ? tidak
mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin maka kadar glukosa akan meningkat
danterjadi diabetes tipe II.

Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas diabtes tipe II,
namun terdapat jumlah insulin yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi
badan keton. Oleh karena itu, ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe II. Meskipun
demikan, diabetes tipe II yang tidak terkontrol dapat menimbulkan masalah akut lainnya yang
dinamakan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketotik. Akibat intoleransi glukosa yang
berlangsung lambat dan progresif, maka awitan diabetes tipe II dapat berjalan tanpa terdeteksi,
gejalanya sering bersifat ringan dan dapat mencakup kelelahan, iritabilitas, poliuria, polidipsia,
luka pada kulit yang tidak sembuh-sembuh, infeksi dan pandangan yang kabur.

3. Diabetes Gestasional
Terjadi pada wanita yang tidak menderita diabetes sebelum kehamilannya. Hiperglikemia terjadi
selama kehamilan akibat sekresi hormone-hormon plasenta. Sesudah melahirkan bayi, kadar
glukosa darah pada wanita yang menderita diabetes gestasional akan kembali normal.
1.3 Patoflow
1.4 Etilogi

1. Diabetes Tipe I
Diabetes tipe I ditandai oleh penghancuran sel-sel beta pancreas. Kombinasi
factor genetik, imunologi dan mungkin pula lingkungan (misalnya, infeksi virus) diperkirakan
turut menimbulkan destruksi sel beta.

a. Faktor Genetik
penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri. Tetapi, mewarisi suatu
predisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadi diabetes tipe I. Kecenderungan genetik ini
ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA (Human leucocyte antigen) tertentu.
HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen transplantasi dan proses
imun lainnya.

b. Faktor Imunologi
pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu proses, suatu proses otoimun. Respons ini
merupakan respons abnormal dimana antigen terarah pada jaringan normal tumbuh dengan cara
bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing.

c. Faktor Lingkungan
penyelidikan juga sedang dilakukan terhadap kemungkinan faktor-faktor eksternal yang
dapat memicu destruksi sel beta. Sebagai contoh, hasil penyelidikan yang menyatakan bahwa
virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi sel beta.

2. Diabetes tipe II
Mekanisme yang tepat menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi
insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik diperkirakan memegang
peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Selain itu teradapat pula faktor-faktor resiko
tertentu yang berhubungan prosses terjadinya diabetes tipe II, faktor-faktor ini adalah :
1. usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia diatas 65 tahun)
2. obesitas
3. riwayat keluarga
4. kelompok etnik (di amerika serikat, golongan hispatik serta penduduk asli amerika tertentu
memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya diabetes tipe II dibandingkan dengan
golongan afro-amerika)

1.5 Manifestasi Klinis


Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada lansia umumnya tidak ada.
Osmotik diuresis akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang ginjal yang tinggi, dan dapat muncul
keluhan nokturia disertai gangguan tidur, atau bahkan inkontinensia urin. Perasaan haus pada pasien
DM lansia kurang dirasakan, akibatnya mereka tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi. Karena itu
tidak terjadi polidipsia atau baru terjadi pada stadium lanjut. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien
adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf.

Pada DM lansia terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua, sehingga gambaran
klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. Keluhan yang
sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta
kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim.
Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah :
a. Katarak
b. Glaukoma
c. Retinopati
d. Gatal seluruh badan
e. Pruritus Vulvae
f. Infeksi bakteri kulit
g. Infeksi jamur di kulit
h. Dermatopati
i. Neuropati perifer
j. Neuropati viseral
k. Amiotropi
l. Ulkus Neurotropik
m. Penyakit ginjal
n. Penyakit pembuluh darah perifer
o. Penyakit koroner
p. Penyakit pembuluh darah otak
q. Hipertensi

1.6. Anatomi fisiologi Diabetes Melitus

1.7 Tanda dan gejala


Gejala sering baru timbul beberapa bulan atau beberapa tahun sesudah mengindap penyakit
ini. Gejala yang sering muncul adalah :
1. Sering buang air kecil terutama pada malam hari.
2. Gatal gatal terutama pada alat kelamin bagian luar.
3. Kesemutan dan kram.
4. Cepat merasa lapar dan kehausan.
5. Gairah sex menurun.
6. Cepat merasa lelah dan mengantuk.
7. BB menurun, nafsu makan bertambah.
8. Penglihatan kabur.
9. Mudah timbul abses dan kesembuhan yang lama.
10. Ibu melahirkan bayi lebih dari 4 kg.
11. Ibu sering mengalami keguguran atau melahirkan bayi mati.

1.8 Komplikasi
Komplikasi diabetes mellitus diklasifikasikan menjadi akut dan kronis. Yang termasuk
dalam komplikasi akut adalah hipoglikemia, diabetes ketoasidosis (DKA), danhyperglycemic
hyperosmolar nonketocic coma (HHNC). Yang termasuk dalam komplikasi kronis adalah
retinopati diabetic, nefropati diabetic, neuropati, dislipidemia, dan hipertensi.

Komplikasi akut
a. Diabetes ketoasidosis
Diabetes ketoasidosis adalah akibat yang berat dari deficit insulin yang berat pada jaringan
adipose, otot skeletal, dan hepar. Jaringan tersebut termasuk sangat sensitive terhadap
kekurangan insulin. DKA dapat dicetuskan oleh infeksi ( penyakit)

Komplikasi kronis
a. Retinopati diabetic
Lesi paling awal yang timbul adalah mikroaneurism pada pembuluh retina. Terdapat pula
bagian iskemik, yaitu retina akibat berkurangnya aliran darah retina. Respon terhadap iskemik
retina ini adalah pembentukan pembuluh darah baru, tetapi pembuluh darah tersebut sangat
rapuh sehingga mudah pecah dan dapat mengakibatkan perdarahan vitreous. Perdarahan ini bisa
mengakibatkan ablasio retina atau berulang yang mengakibatkan kebutaan permanen.
b. Nefropati diabetic
Lesi renal yang khas dari nefropati diabetic adalah glomerulosklerosis yang nodular yang
tersebar dikedua ginjal yang disebut sindrom Kommelstiel-Wilson. Glomeruloskleriosis nodular
dikaitkan dengan proteinuria, edema dan hipertensi. Lesi sindrom Kommelstiel-Wilson
ditemukan hanya pada DM.

c. Neuropati
Neuropati diabetic terjadi pada 60 70% individu DM. neuropati diabetic yang paling
sering ditemukan adalah neuropati perifer dan autonomic.

d. Displidemia
Lima puluh persen individu dengan DM mengalami dislipidemia.

e. Hipertensi
Hipertensi pada pasien dengan DM tipe 1 menunjukkan penyakit ginjal,
mikroalbuminuria, atau proteinuria. Pada pasien dengan DM tipe 2, hipertensi bisa menjadi
hipertensi esensial. Hipertensi harus secepat mungkin diketahuin dan ditangani karena bisa
memperberat retinopati, nepropati, dan penyakit makrovaskular.

f. Kaki diabetic
Ada tiga factor yang berperan dalam kaki diabetic yaitu neuropati, iskemia, dan sepsis.
Biasanya amputasi harus dilakukan. Hilanggnya sensori pada kaki mengakibatkan trauma dan
potensial untuk ulkus. Perubahan mikrovaskuler dan makrovaskuler dapat mengakibatkan
iskemia jaringan dan sepsis. Neuropati, iskemia, dan sepsis bisa menyebabkan gangrene dan
amputasi.

g. Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah keadaan dengan kadar glukosa darah di bawah 60 mg/dl, yang
merupakan komplikasi potensial terapi insulin atau obat hipoglikemik oral. Penyebab
hipoglikemia pada pasien sedang menerima pengobatan insulin eksogen atau hipoglikemik oral.
1.9 Pemeriksaan Diagnostik

- Glukosa darah sewaktu


- Kadar glukosa darah puasa
- Tes toleransi glukosa

Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan:
- Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
- Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
- Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr
karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl.

10. Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan
kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan
terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal.
Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes :

a. Diet
Suatu perencanaan makanan yang terdiri dari 10% lemak, 15% Protein, 75% Karbohidrat
kompleks direkomendasikan untuk mencegah diabetes. Kandungan rendah lemak dalam diet ini
tidak hanya mencegah arterosklerosis, tetapi juga meningkatkan aktivitas reseptor insulin.

b. Latihan
Latihan juga diperlukan untuk membantu mencegah diabetes. Pemeriksaan sebelum
latihan sebaiknya dilakukan untuk memastikan bahwa klien lansia secara fisik mampu mengikuti
program latihan kebugaran. Pengkajian pada tingkat aktivitas klien yang terbaru dan pilihan gaya
hidup dapat membantu menentukan jenis latihan yang mungkin paling berhasil. Berjalan atau
berenang, dua aktivitas dengan dampak rendah, merupakan permulaan yang sangat baik untuk
para pemula. Untuk lansia dengan NIDDM, olahraga dapat secara langsung meningkatkan fungsi
fisiologis dengan mengurangi kadar glukosa darah, meningkatkan stamina dan kesejahteraan
emosional, dan meningkatkan sirkulasi, serta membantu menurunkan berat badan.

c. Pemantauan
Pada pasien dengan diabetes, kadar glukosa darah harus selalu diperiksa secara rutin.
Selain itu, perubahan berat badan lansia juga harus dipantau untuk mengetahui terjadinya
obesitas yang dapat meningkatkan resiko DM pada lansia.

d. Terapi (jika diperlukan)


Sulfoniluria adalah kelompok obat yang paling sering diresepkan dan efektif hanya untuk
penanganan NIDDM. Pemberian insulin juga dapat dilakukan untuk mepertahankan kadar
glukosa darah dalam parameter yang telah ditentukan untuk membatasi komplikasi penyakit
yang membahayakan.

e. Pendidikan
- Diet yang harus dikomsumsi
- Latiha
- Penggunaan insulin
BAB II
KONSEP DASAR KEPERAWATAN DIABETES MELITUS

2.1 Pengkajian
a. Riwayat Kesehatan Keluarga
Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ?

b. Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya


Berapa lama klien menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi insulin jenis
apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien
untuk menanggulangi penyakitnya.

c. Aktivitas/ Istirahat :
Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun.

d. Sirkulasi
Adakah riwayat hipertensi,AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada
kaki yang penyembuhannya lama, takikardi, perubahan tekanan darah.

e. Integritas Ego
Stress, ansietas

f. Eliminasi
Perubahan pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare.

g. Makanan / Cairan
Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus, penggunaan
diuretik.
h. Neurosensori
Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia, gangguan
penglihatan.

i. Nyeri / Kenyamanan
Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat).

j. Pernapasan
Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak).

k. Keamanan
Kulit kering, gatal, ulkus kulit.

2.2 Diagnosa Keperawatan

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan:

1. diauresis osmotic (dari hiperglikemia).


2. kehilangan gastric berlebihan: diare, muntah.
3. masukan dibatasi: mual, kacau mental.

Kemungkinan data yang ditemukan:

1. peningkatan pengeluaran urine, urine encer.


2. kelemahan; haus; penurunan berat badan tiba-tiba.
3. kulit/membrane mukosa kering, tugor kulit buruk.
4. hipotensi, takikardia, pelambatan pengisian kapiler.

Hasil yang diharapkan:


Mendemontrasikan hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer dapat
diraba, tugor kulit dan pengisian kapiler baik, haluran urine tepat secara individu, dan kadar
elektrolit dalam batas normal.
INTERVENSI DAN RASIONAL
INTERVENSI RASIONAL

Mandiri
Dapatkan riwayat pasien/orang terdekat Membantu dalam memperkirakan kekurangan
sehubungan dengan lamanya/intensitas volume total. Tanda dan gejala mungkin sudah
dari gejala seperti muntah, pengeluaran ada pada beberapa waktu sebelumnya (beberapa
urine yang sangan berlebihan. jam sampai beberapa hari). Adanya proses
infeksi mengakibatkan demam dan keadaan
hipermetabilik yang meningkatkan kehilangan
air tidak kasatmata.

Hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh


Pantau tanda-tanda vital, catat adanya hipotensi dan takikardia. Perkiraan berat
perubahan TD ortostatik. ringannya hipovolemia dapat dibuat ketika
tekanan darah sistolik pasien turun lebih dari 10
mm Hg dari posisi berbaring keposisi
duduk/berdiri.
Catatan: Neuropati jantung dapat memutuskan
refleks-refleks yang secara normal meningkatkan
denyut jantung.

Paru-paru yang mengeluarkan asam karbonat


Pola nafas seperti adanya pernafasan
melalui pernafasan yang menghasilkan
kussmaul atau pernafasan yang berbau
kompensasi alkalosis respiratoris terhadap
keton.
keadaan ketoassidosis. Pernafasan yang berbau
aseton berhubungan dengan pemecahan asam
aseto-asetat dan harus berkurang bila ketosis
harus terkoreksi.
Frekuensi dan kualitas pernafasan otot Koreksi hiperglikemia dan asidosis akan
Bantu nafas dan adanya periode apnea menyebabkan pola dan frekuensi pernafasan
dan munculnya cianosis.
mendekati normal. Tetapi peningkatan kerja
pernafasan; pernafasan dangkal, pernafasan
cepat; dan munculnya sianosis mungkin
merupakan indikasi dari kelelahan pernafasan
dan/atau mungkin pasien itu kehilangan
kemampuannya untuk melakukan kompensasi
pada asidosis.

Meskipun demam, menggigil dan diaforesis


Suhu, warna kulit, atau kelembaban. merupakan hal umum terjadi pada proses
infeksi, demam dengan kulit kemerahan, kering
mungkin sebagai cerminan dari dehidrasi.

Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, tugor


Merupakan indicator dari tingkat dehidrasi, atau
kulit, dan membrane mukosa.
volume sirkulasi yang adekuat.

Memberikan perkiraan kebutuhan akan caiaran


Pantau masukan dan pengeluaran, catat pengganti, fungsi ginjal, dan keefektifan dari
berat jenis urine. terapi yang diberikan.

Memberikan hasil pengkajian yang terbaik dari


status cairan yang sedang berlansung dan
Ukur berat badan setiap hari. selanjutnya dalam memberikan cairan
pengganti.

Pertahankan untuk memberikan ccairan Mempertahankan hidrasi/volume sirkulasi.


paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas
yang dapat ditoleransi jantung jika
pemasukan cairan melalui oral sudah
dapat diberikan
Tingkatkan lingkungan yang dapat Menghindari pemanasan yang berlebihan
menimbulkan rasa nyaman. Selimuti terhadap pasien lebih lanjut akan dapat
pasien dengan selimut tipis. meimbulkan kehilangan cairan.

Kaji adanya perubahan mental/sensori. Perubahan mental dapat berhubungan dengan


glukosa yang tinggi atau yang rendah
(hiperglikemia atau hipoglikemia), elektrolit
yang abnormal, asidosis, penurunan perfusi
serebral, dan berkembangnya hipoksia.
Penyebab yang tidak tertanggani, gangguan
kesadaran dapat menjadi predisposisi (pencetus)
aspirasi pada pasien.
Catat hal-hal yang dilaporkan seperti Kukurangan cairan dan elektrolit mengubah
mual, nyeri abdomen, muntah dan distensi motilitas lambung, yang sering akan
lambung.
menimbulkan muntah dan secara potensial akan
menimbulkan kekurangan volume caiarn atau
elektrolit.
Pemberian cairan untuk perbaikan yang cepat
Observasi adanya perasaan yang
meningkat, edema, peningkatan berat mungkin sangat potensi menimbulkan kelebihan
badan, nadi tidak teratur, dan adanya beban cairan dan GJK.
distensi pada vaskuler.

Kolaborasi

Berikan terapi cairan sesuai indikasi:

Normal salin atau setengah normal salin


Tipe dan jumlah dari cairan tergantung pada
dengan atau tanpa dektrosa.
derajat kekurangan cairan dan respons pasien
secara individu.

Albimin, plasma, atau dekstran. Plasma ekspandes (pengganti) kadang


dibutuhkan jika kekurangan tersebut
mengancam kehidupan atau tekanan darah
sudah tidak dapat kembali normal dengan
usaha-usaha dehidrasi yang telah dilakukan.

Pasang/pertahankan kateter urine tetap Memberikan pengukuran yang tepat/akurat


terpasang. terhadap pengukuran haluaran urine terutama
jika neuropati otonom menimbulkan gangguan
kantung kemih (retensi urine/ikontinensia).
Dapat dilepas jika pasien berada dalam keadaan
stabil untuk menurunkan risiko terjadi infeksi.
Patau pemeriksaan laboratorium seperti:
Mengkaji tingkat dehidrasi dan sering kali
- Hematokrit (Ht) meningkat akimbo hemokonsentrasi yang
terjadi setelah diuresis osmotic.

Peningkatan nilai dapat mencerminkan


- BUN/Kreatinin
kerusakan sel karena dehidrasi atau tanda
awitan kegagalan ginjal.

- Osmolalitas Darah Meningkat sehubungan dengan adanya


hiperglikemia dan dehidrasi.

Mungkin menurun yang dapat mencerminkan


- Natrium perpindahan cairan dari intrasel (diuresis
osmotic). Kadar natrium yang tinggi
mencerminkan kehilangan cairan/dehidrasi
berat atau reabsorpsi natrium dalam berespons
terhadap sekresi aldosteron.
-Kalium
Awalnya akan terjadi hiperglikemia dalam
berespons pada asidosis, namun selanjutnya
kalium ini akan hilang melalui urine.

Kalium harus ditambahkan pada IV (segera


Berikan kalium atau elktrolit yang lain
aliran urine adekuat) untuk mencegah
melalui IV dan/atau melalui oral sesuai
hipokalemia.
indikasi.
Diberikan dengan hhati-hati untuk membentu
Berikan bikarbonat jika Ph kurang dari
memperbaiki asidosis pada adanya hipotensi
7,0.
atau syok.
Pasang selang NG dan lakukan
Mendekompresi lambung dan dapat
pengisapan sesuai dengan indikasi.
menghilangkan muntah.
DIAGNOSA KEPERAWATAN

Nutrisi, perubahan; kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan:


1. ketidakcukupan insulin (penurunan ambilan dan penggunaan glukosa oleh jaringan
mengakibatkan peningkatan metabolisme protein/lemak).
2. penurunan masukan oral; anoreksia, mual, lambung penuh, nyeri abodomen, perubahan
kesadaran.
3. status hipermetabolisme pelepasan hormone stress (mis, epinefrin, kortisol, dan hormone
pertumbuhan), proses infeksius.
Kemungkinan data yang ditemukan:
1. melaporkan masukan makanan tidak adekuat, kurang minat pada makanan.
2. penurunan berat badan; kelemahan, kelelahan, tonus otot buruk.
3. diare.
Hasil yang diharapkan:
1. menunjukan tingkat energi biasa.
2. mendemontrasikan berat badan stabil atau pemanbahan kearah rentang biasanya/yang
diinginkan dengan nilai laboratorium yang normal.

INTERVENSI DAN RASIONAL

INTERVENSI RASIONAL

Mandiri
Timbang berat badan setiap hari atau Mengkaji pemasukan makanan yang
sesuai indikasi. adekuat (termasuk absorsi dan
ultilisasinya).

Tentukan program diet dan pola makan Mengidentifikasi kekurangan dan


pasien dan bandingkan dengan makanan penyimpangan dari kebutuhan terapeutik.
yang dapat dihabiskan pasien.

Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri Hiperglikemia dan gangguan


abdomen/perut kembung, mual dan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat
mutahan makanan yang belum sempat menurunkan motilitas/fungsi lambung
dicerna, pertahankan keadaan puasa (distensi atau ileus paralitik) yang akan
sesuai dengan indikasi. mempengaruhi pilihan intervensi.

Berikan makanan cair yang mengandung Pemberian makanan melalui oral lebih
zat makanan (nutrient) dan elektrolit baik jika pasien sadar dan fungsi
dengan segera jika pasien sudah dapat gastrointestinal baik.
mentoleransinya melalui oral. Selanjutnya
mengupayakan pemberian makanan yang
lebih padat sesuai dengan yang dapat
ditoleransi.

Identifikasi makanan yang Jika makan yang disukai pasien dapat


disukai/dikehendaki termasuk kebutuhan dimasukkan dalam perencanaan makan,
etnik/cultural. kerja sama ini dapat diupayakan setelah
pulang.

Libatkan keluarga pasien pada Meningkatkan rasa keterlibatannya;


perencanaan makan ini sesuai indikasi. memberikan informasi pada keluarga
untuk memahami kebutuhan nutrisi
pasien.

Observasi tanda-tanda hipoglikemia, Karena metabolisme karbohidrat mulai


seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit terjadi (gula darah akan berkurang, dan
lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, sementara tetap diberikan insulin maka
peka rangsang, cemas sakit kepala, hipoglikemi dapat terjadi). Jika pasien
pusing, sempoyongan. dalam keadaan koma, hipoglikemia
mungkin terjadi tanpa memperlihatkan
perubahan tingkat kesadaran. Ini secara
otensial dapat mengancam kehidupan
yang harus dikaji dan ditanggani secara
cepat melalui tindakan protocol yang
direncanakan.
Kolaborasi
Lakukan pemeriksaan gula darah dengan Analisa di tempat tidur terhadap gula
menggunakan finger stick darah lebih akurat (menunjukan keadaan
saat dilakukan pemerikasaan).

Pantau pemeriksaan labratorium, seperti Gula darah akan menurun perlahan


glukosa darah, aseton, pH dan HCO3. dengan penggantian cairan dan terapi
insulin terkontrol.

Berikan pengobatan insulin secara teratur Insulin regular memiliki awitan cepat dan
dengan metode IV secara intermiten atau karenanya dengan cepat memindahkan
secara kontinu. glukosa kedalam sel.

Berikan larutan glukosa, misalnya Larutan glukosa ditambahkan setelah


dekstrosa dan setengah salin normal. insulin dan cairan pembawa gula darah
kira-kira 250 mg/dl.

Lakukan konsultasi dengan ahli diet. Untuk perhitungan dan penyesuaian diet.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan:


1. penurunan produksi energi metabolic.
2. perubahan kimia darah: insifiensi insulin.
3. peningkatan kebutuhan energi: status hipometabolik/infeksi.
Kemungkinan data yang ditemukan:

1. kurang energi yang berlebihan.


2. ketidak mampuan mempertahankan rutinitas biasa.
3. penurunan kinerja.
4. keccendrungan untuk kecelakaan.
Hasil yang diharapkan:
1. mengungkapkan peningkatan energi.
2. menunjukan perbaikan kemampuan untuk bberpartisifasi dalam aktivitas yang
diinginkan.

INTERVENSI DAN RASIONAL

INTERVENSI RASIONAL
Mandiri
Diskusikan dengan pasien kebutuhan Pendidikan dapat memberikan motivasi
akan aktivitas. Buat jadwal perencanaan untuk meningkatkan tingkat aktivitas
dengan pasien dan identifikasi aktivitas meskipun pasien mungkin sangat lemah.
yang menimbulkan kelelahan.

Berikan aktivitas alternative dengan Mencegah kelelahan yang berlebihan.


periode istirahat yang cukup/tanpa
diganggu.

Pantau nadi, frekuensi pernafasan dan Mengindikasikan tingkat aktivitas yang


tekanan darah sebelum/sesudah dapat ditoleransi secara fisiologi.
melakukan aktivitas.

Diskusikan cara menghemat kalori Pasien akan dapat melakukan kegiatan


selama mandi, berpindah tempat dan dengan penurunan kebutuhan akan energi
sebagainya. pada setiap kegiatan.

Tingkatkan partisipasi pasien dalam Meningkatkan kepercayaan diri/harga


melakukan aktivitas sehari-hari sesuai diri yang positif sesuai tingkat aktivitas
dengan yang dapat ditoleransi. yang dapat ditoleransi pasien.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TN.D dengan DIABETES
MELITUS DI RUANG MARWAH RSI.SITI KHADIJAH PALEMBANG
TAHUN 2012

Tanggal Masuk : 16 juli 2012


Tanggal Pengkajian : 17 juli 2012

Identitas Klien
Nama : Tn. D
Umur : 55 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pendidikan : SMA
Agama : Islam
Pekerjaan : Pensiunan ABRI
Status Perkawinan : Kawin
Alamat : Jl. dr. Wahidin Sudirohusodo No.37 D
Dx Medis : DIABETES MELITUS

Penanggung Jawab
Nama : Tn. R
Umur : 30 tahun
Pendidikan : SH (Sarjana Hukum)
Pekerjaan : PNS
Status Perkawinan : Kawin
Alamat : Jl. dr. Wahidin Sudirohusodo No.37 D
Hubungan dengan klien : Anak kandung Tn. D
Pengakajian
Alasan utama dating kerumah sakit

- Klien mengeluh ada luka tapi tidak sembuh-sembuh

Riwayat penyakit klien

- Awalnya klien datang ke RS dengan luka yang tidak sembuh-sembuh selama 3 minggu
dikaki kirinya. Kemudian klien juga megeluh mudah lelah dan buang air kecil terus-
menerus. Kadang klien juga merasa sulit berjalan.

Riwayat Kesehatan Masa Lalu

- Saat kecil klien tidak pernah mengalami penyakit akut maupun kronis, kecuali sakit
kepala ringan. Klien tidak pernah dan tidak mengalami alergi terhadap berbagai makanan
dan minuman.

Riwayat Kesehatan Keluarga

- Klien mengatakan bahwa bapaknya meninggal pada usia 75 tahun karena penyakit DM
dan ibunya meninggal tanpa dikenali jenis penyakitnya (diduga faktor keturunan). Klien
juga mengatakan bahwa saudara sepupunya juga mengidap DM.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum:
Kelemahan diakibatkan kurangnya aktivitas karena pembatasan pergerakan, perubahan mood
terjadi karena merasa bosan di rumah bila tidak ada pekerjaan dan vital sign meliputi :

- Tekanan darah : 120/80 mmHg


- Nadi : 86x/menit
- Pernapasan : 18x/menit
- Suhu : 37 derajat celcius

Kulit :
Kulit sudah mulai keriput, kering, terdapat ulkus pada ekstremitas bawah, edema (-)
Kepala :
Simetris tegak lurus dengan garis tengah tubuh, tidak ada luka, kulit kepala bersih, rambut
beruban dan bentuk lurus.

Mata :
Ikterus (-), pupil isokhor kiri dan kanan, refleks cahaya (+), tanda-tanda anemis tidak dijumpai.

Telinga :
Bentuk simetris kiri dan kanan, pendengaran tidak terganggu dan tidak ada nyeri, serumen
sedikit, tidak mengganggu pendengaran dan tidak ditemukan cairan.

Hidung :
Bentuk simetris, fungsi penciuman baik, polip(-), tidak ditemukan darah/cairan keluar dari
hidung, tidak ada tanda-tanda peradangan.

Mulut dan tenggorokan :


Bibir agak kering, sianosis(-), lidah hiperemesis, dapat dijalurkan maksimal keluar dan bergerak
bebas, refleks menelan baik dan tonsil tidak infeksi.

Leher :
Tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid, dan leher dapat digerakkan dengan bebas.

Dada :
Bentuk dada simetris, klavikula menonjol dan sternum terlihat rata, tidak ada nyeri yang timbul.

Sistem pernapasan :
Tampak kekurangan oksigen, batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergantung adanya
infeksi/tidak).

Sistem kardiovaskuler :
Klien tidak mengalami takikardia dan tidak terjadi peningkatan tekanan darah.
Sistem gastrointestinal :
Tidak ditemukan kelainan, mual ada, selera makan meningkat, nyeri epigastrium tidak ada,
kadang diare, dan konstipasi jarang.

Sistem genitourinaria :
Nyeri saat miksi (-), urine berwarna pucat, dan kekuning-kuningan, tidak dijumpai partikel-
partikel darah atau lainnya.

Sistem muskuloskeletal :
Klien mempunyai postur tubuh yang tinggi dengan massa otot yang sudah menurun (kurus).

Sistem neurologi :
Komunikasi lancar dan jelas, orientasi orang, waktu dan tempat baik, gelisah.

Pengelompokan data
1. Data subjektif
- lemah
- sulit berjalan/bergerak
- penyembuhan yang lama (ulkus pada kaki)
- stress
- perubahan pola berkemih
- haus

2. Data objektif
- takikardia
- penurunan kekuatan otot
- ansietas, peka rangsang
- urine encer, pucat, kuning, poliuri
- poliphagi
- polidipsi
- TD : 120/80 mmHg
- nadi : 86 x/menit
- pernapasan : 18 x/menit
- suhu : 37 derajat celcius
- penurunan BB tiba-tiba

AKTIVITAS SEHARI-HARI
No Aktivitas Sebelum MRS Sesudah MRS
1. Pola nutrisi
Makan
- Frekuensi 3x sehari 2x sehari
- Jenis Nasi, lauk-pauk, sayur, dll BB
- Jumlah 1 porsi 1-3 sendok
- Masalah Tidak ada masalah Kurangnya nafsu makan
Minum
- Frekuensi 3-4 gelas sehari 3-4 gelas sehari
- Jensi Air putih Air putih
- Masalah Tidak ada masalah Tidak ada masalah
2. Pola eliminasi
BAB
- Frekuensi 1 x sehari 1 x sehari
- Konsistensi Lunak (normal) Lunak (normal)
- Masalah Tidak ada masalah Tidak ada masalah
3. Pola istirahat dan tidur
- Lama 9-10 jam/hari 9-10 jam/hari
- Masalah Tidak ada masalah Tidak ada masalah
4. BAK
- Frekuensi 6 x sehari 3x sehari
- Warna Bening Kuning
- Masalah Tidak ada masalah Tidak ada masalah
5. Personal hygiene
Mandi 1 x sehari
- Frekuensi 2 x sehari 1 x sehari
Gigi dan mulut
- Frekuensi 2 x sehari 1 x sehari

ANALISA DATA

Nama pasien : Tn. D Dx Medis : DIABETES MELITUS


Jenis kelamin : laki-laki No. Med record : 011032
No Kamar bed : Ruang Marwah Hari/ tgl : 17 juli 2012
No. Data senjang Etiologi Masalah Paraf
1. DS : Gangguan metebolisme KH Kekurangan
- Lemah volume cairan.
- Klien merasa Penggunaan glukosa
haus
DO : Hiperglikemi
- Penurunan BB
tiba-tiba Glikosuria

Diuresis osmotik menurun

Volume sirkulasi

Kekurangan volume cairan

2. DS : Gangguan metabolisme KH Nutrisi kurang


- Klien merasa dari kebutuhan
lemah Lipolisis meningkat
DO :
- Penurunan BB Ketosis
- Tonus otot
buruk Mual muntah

Nutrisi kurang dari kebutuhan

3. DS : Angiopati Infeksi
- Klien
mengeluh Mikroangiopati
lemah
DO : Perubahan kulit
- Adanya luka
yang tidak Ulserasi
sembuh-
sembuh. Infeksi

Diagnosa keperawatan
1. kekurangan volume cairan berhubungan dengan :
- diuresis osmotik ( dari hiperglikemia )
- kehilangan gastric berlebihan : muntah
- masukan dibatasi : mual, kacau mental
Ditandai dengan :

- Peningkatan haluaran urine, urine encer


- Kelemahan, haus, penurunan BB tiba-tiba
- Kulit/membran mukosa kering, turgor kulit buruk
- Hipotensi, takikardia, pelambatan pengisian kapiler
Hasil yang diharapkan/criteria evaluasi :

Diharapkan pasien akan :

- Mendemonstrasikan hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer dapat
diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urine tepat secara individu dan
kadar elektrolit dalam batas normal.

INTERVENSI KEPERAWATAN
Tanggal Jam No Tujuan / NOC Intervensi / Nic Rasional
dx
16 juli 12.00 1. Setelah dilakukan Pain manajemen Mengetahui
2012 tindakan keperawatan a. kaji tingkat nyeri : subyektifitas klien
selama 6 hari klien dapat kualitas, frekuensi, terhadap nyeri untuk
pain control dan prepitalisasi, durasi, dan menentukan tindakan
mengidentifikasi tingkat lokasi. selanjutnya.
nyeri. b. berikan posisi yang Menurunkan
Dengan criteria hasil : nyaman. ketegangan.
a. penampilan rileks c. berikan lingkungan yang Menurunkan
b. klien menyatakan tenang. stimulasi, dapat
nyeri berkurang d. monitor respon verbal menurunkan
c. skala nyeri 0-2 dan non verbal nyeri. ketagangan,
e. monitor vital sign. mengetahui tingkat
f. kaji factor penyebab. nyeri untuk
g. berikan support emosi. menentukan
h. lakukan touch terapi. intervensi nyeri.
i. lakukan teknik distraksi Mempengaruhi TTV,
dan relaksasi. intervensi
disesuaikan dengan
penyebab
Emosi berpengaruh
terhadap nyeri, klien
merasa berpengaruh
terhadap nyeri, klien
merasa diperhatikan
mengalihkan
perhatian untuk
mengurangi nyeri.
16 juli 12.30 2 Setelah dilakukan Wound care Mengetahui keadaan
2012 tindakan keperawatan a. catat karekteristik luka : luka.
selama 6 hari wound tentukan ukuran dan Mengetahui isi luka.
healing meningkat : kedalaman luka, dan Mengurangi
dengan criteria luka klasifikasi pengaruh ulcers. transmisi.
mengecil dalam ukuran b. catat karekteristik cairan Mikroorganisme.
dan peningkatan secret yang keluar. Membersihkan luka.
granulasi jaringan. c. bersihkan dengan cairan Menghilangkan sel-
anti bacteri. sel yang mati.
d. bilas dengan cairan Menutup luka.
Nacl 0,9 % Melindungi luka.
e. lakukan nekrotomi Menjaga keseterilan.
f. dressing dengan kasa Mengetahui kondisi
steril sesuai kebutuhan. pembalutan.
g. lakukan pembalutan Mengamati secara
h. pertahankan tehnik seksama.
dressing steril ketika Perkembangan luka.
melakukan perawatan luka. Mencegah terjadinya
i. amati setiap perubahan nyeri tekan.
pada balutan.
j. bandingkan dan catat
setiap adanya perubahan
pada luka.
16 juli 13.00 3 Setelah dilakukan Manajemen nutrisi :
2012 tindakan keperawatan a. tanyakan pada pasien Mengetahui apa yang
selama 6 hari status apakah memiliki energy terjadi
nutrisi meningkat, makanan. Kelemahan pasien
Dengan criteria : b. kerja sama dengan ahli dalam makanan.
a. intake makan dan gizi dalam menentukan Mengetahui makanan
minuman adekuat. jumlah kalori, protein dan apa saja dan
b. intake nutrisi adekuat. lemak secara tepat sesuai kandungan yang
c. BB normal dengan kebutuhan pasien. seperti apa yang
c. anjurkan masukan kalori dibutuhkan oleh
sesuai dengan kebutuhan. pasien.
d. ajari pasien tentang diet Menjaga
yang benar berdasarkan keseimbangan dalam
kebutuhan tubuh. tubuh sehingga selalu
e. timbang berat badan homeostatis.
secara teratur Meningkatkan peran
f. anjurkan penambahan pasien untuk
intake protein, zat besi dan mengatur dietnya.
vitamin c yang sesuai. Mengetahui berat
g. pastikan bahwa diet badan ideal atau
mengandung makanan tidak.
berserat tinggi untuk Meningkatkan daya
mencegah sembelit. tahan tubuh.
h. berikan makanan Memperlancar
berprotein tinggi, kalori kebutuhan eliminasi
tinggi dan makanan bergizi daripada pasien
yang sesuai. menambah sumber
i. pastikan kemampuan energy menjaga
pasien untuk memenuhi intake makanan yang
kebutuhan gizinya. adekuat.
IMPLEMENTASI
1. Diagnosa Kep.1
Tanggal jam Implementasi Evaluasi Paraf

17 juli 13.10 Pain manajemen Pukul 14.10 :


2012 1. mengkaji tingkat nyeri : kualitas, Jam 13.00
frekuensi, presipitasi, durasi dan S : klien mengatakan masih
lokasi. terasa nyeri saat ulkus
dirawat, skala nyeri 5-6.
13.15 2. memberikan posisi yang nyaman.
O : ekspresi wajah masih
13.15 3. memberikan lingkungan yang terasa kesakitan,
13.30 tenang. nadi : 88 x/menit.

13.35 4. memonitor respon verbal dan non A : masalah belum teratasi.


verbal nyeri.
P : lanjutkan monitoring
13.35 5. memonitor vital sign. nyeri kelola terapi sesuai
program ajarkan teknik non
13.45 6. mengkaji faktor penyebab. farmakologi.

13.50 7. memberikan support emosi.

14.05 8. melakukan touch terapi.

14.15 9. melakukan teknik distraksi dan


relaksasi.

Wound care Pukul 14.20


17 juli 13.17 1. mencatat karakteristik luka : S : pasien mengatakan lebih
2012 Tentukan ukuran dan kedalaman nyaman setelah dilakukan
luka, dan klasifikasi pengaruh ulcers. perawatan luka.

13.20 2. mencatat karakteristik cairan O : luka pasien bersih


secret yang keluar.
A : masalah belum teratasi
13.25 3. membersihkan dengan cairan anti
bakteri. P : lanjutkan intervensi

13.30 4. membilas dengan cairan Nacl 1. membersihkan luka


0,9% dengan cairan anti bakteri.

13.31 5. melakukan nekrotomi 2. membilas dengan Nacl

13.33 6. melakukan pembalutan 3. mendresing luka dengan


kasa steril
13.35 7. mendressing dengan kasa steril
sesuai kebutuhan. 4. mengamati perubahan
kondisi balutan.
13.38 8. melakukan pembalutan

13.00 9. mempertahankan tehnik dressing


steril ketika melakukan perawatan
luka.

14.00 10. mengamati setiap perubahan


pada balutan.

14.03 11. membandingkan dan catat setiap


adanya perubahan pada luka.

15.05 12. memberikan posisi terhindar dari


tekanan.

Manajemen nutrisi Pukul 12.15 :


17 juli 15.08 1. menanyakan pada pasien apakah S : pasien mengatakan sudah
2012 memiliki alergi makanan. mengikuti instruksi nutrisi
yang dianjurkan perawat.
15.10 2. menentukan kerja sama dengan
ahli gizi dalam menentukan jumlah O : pasien tampak sudah
kalori, protein dan lemak secara memanajemen kebutuhan
tepat sesuai dengan kebutuhan nutrisinya, berat badan tetap.
pasien.
A : masalah belum teratasi.
15.20 3. menganjurkan masukan kalori
sesuai dengan kebutuhan P : lanjutkan intervensi

15.25 4. mengajari pasien tentang diet yang 1. mengajari pasien tentang


benar berdasarkan kebutuhan tubuh. pola diet.

15.35 5. menimbang berat badan secara 2. menganjurkan


teratur. penambahan intake
makanan.
15.45 6. menganjurkan penambahan
vitamin c, intake protein, dan zat 3. memastikan diet makanan
besi. yang mengandung serat
karena mengurangi resiko
15.50 7. memastikan bahwa diet sembelit.
mengandung makanan berserat
tinggi untuk mencegah sembelit. 4. memberikan makan yang
berprotein tinggi, kalori
16.00 8. memberikan makanan berprotein tinggi, dan bergizi.
tinggi, kalori tinggi dan makanan
bergizi yang sesuai. 5. memastikan pasien untuk
memenuhi kebutuhan
9. memastikan kemampuan pasien gizinya.
untuk memenuhi kebutuhan gizinya.
DAFTAR PUSTAKA

1. Dongoes Marliynn, E; Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, EGC, Jakarta,


1994.
2. Don, R, Powell, Ph.D., Buku Pintar Kesehatan 365 Tips Hidup Sehat,
Delapratasa Publishing, Malang, 2003.
3. Hotman Rumoharjo, S.Kp., Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Endokrin, EGC, Jakarta, 1999.
4. J.C.E. Underwood, Patologi Umum dan Sistemik, EGC, Jakarta, 1999.
5. L. J. Carpenito, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Edisi 2, EGC,
Jakarta, 1999.
6. Robert K., Murray, Biokimia Harper, Edisi 24, EGC, Jakarta, 1996.
7. Sylvia, A. Price, Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Edisi 7,
EGC, Jakarta, 1995.