Você está na página 1de 12

A.

DEFINISI

Istilah diffabled merupakan akronim dari differently abled dan kata


bendanya adalah diffability yang merupakan akronim dari different ability
yang dipromosikan oleh orang-orang yang tidak menyukai istilah disabled
dan disability. Disamping lebih ramah, istilah difabel lebih egaliter dan
memiliki keberpihakan, karena different ability berarti memiliki kemampuan
yang berbeda. Istilah ini pertama kali diperkenalkan di Konferensi
Ketunanetraan Asia di Singapura pada tahun 1981 yang diselenggarakan oleh
International Federation of The Blind (IFB) dan World Council for the
Welfare of The Blind (WCWB), memperkenalkan istilah diffabled, yang
kemudian diindonesiakan menjadi difabel. Berdasarkan pengertian tersebut,
maka dapat disimpulkan bahwa difabel adalah suatu kemampuan yang berbeda
untuk melakukan suatu kegiatan dengan cara atau dalam batas-batas yang
dipandang normal bagi seorang manusia. (Soleh, 2014)

B. JENIS-JENIS DIFABEL
Terdapat beberapa jenis orang dengan difabel. Ini berarti bahwa setiap
penyandang difabel memiliki defenisi masing-masing yang mana ke semuanya
memerlukan bantuan untuk tumbuh dan berkembang secara baik. Jenis-jenis
penyandang difabel:
a. Disabilitas Mental. Kelainan mental ini terdiri dari:
1) Mental Tinggi. Sering dikenal dengan orang berbakat intelektual, dimana selain
memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata individu juga memiliki
kreativitas dan tanggung jawab terhadap tugas.

2) Mental Rendah. Kemampuan mental rendah atau kapasitas intelektual/IQ


(Intelligence Quotient) di bawah rata-rata dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu
anak lamban belajar (slow learnes) yaitu anak yang memiliki IQ (Intelligence
Quotient) antara 70-90. Sedangkan anak yang memiliki IQ (Intelligence Quotient)
di bawah 70 dikenal dengan anak berkebutuhan khusus.

1
3) Berkesulitan Belajar Spesifik. Berkesulitan belajar berkaitan dengan prestasi
belajar (achievment) yang diperoleh.

b. Disabilitas Fisik. Kelainan ini meliputi beberapa macam, yaitu:

1) Kelainan Tubuh (Tuna Daksa). Tunadaksa adalah individu yang mengalami


kerusakan di jaringan otak, jaringan sumsum tulang belakang, dan pada sistem
musculus skeletal.

2) Kelainan Indera Penglihatan (Tuna Netra). Tunanetra adalah orang yang


memiliki ketajaman penglihatan 20/200 atau kurang pada mata yang baik,
walaupun dengan memakai kacamata, atau yang daerah penglihatannya sempit
sedemikian kecil sehingga yang terbesar jarak sudutnya tidak lebih dari 20 derajat.

3) Kelainan Pendengaran (Tunarungu). Tunarungu adalah istilah umum yang


digunakan untuk menyebut kondisi seseorang yang mengalami gangguan dalam
indera pendengaran.

4) Kelainan Bicara (Tunawicara), adalah seseorang yang mengalami kesulitan


dalam mengungkapkan pikiran melalui bahasa verbal, sehingga sulit bahkan tidak
dapat di mengerti oleh orang lain. Kelainan bicara ini dapat di mengerti oleh
orang lain. Kelainan bicara ini dapat bersifat fungsional dimana kemungkinan
disebabkan karena ketunarunguan, dan organik yang memang disebabkan adanya
ketidaksempurnaan organ bicara maupun adanya gangguan pada organ motorik
yang berkaitan dengan bicara.

2
C. PREVALENSI ANAK DENGAN DIFABILITAS
Riskesdas tahun 2010 dan 2013 melakukan pendataan anak umur 24-59
bulan yang menyandang cacat. Pada Riskesdas tahun 2010 dikumpulkan data
mengenai penyandang tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, tuna grahita, tuna
daksa, down syndrome, cerebral palsy dan lainnya. Sedangkan pada Riskesdas
tahun 2013 dikumpulkan data mengenai penyandang tuna netra, tuna wicara,
Down syndrome, tuna daksa (cacat anggota badan), bibir sumbing dan tuna rungu.
Hasil Susenas tahun 2012 maupun Riskesdas tahun 2013 mendapatkan bahwa
semakin tinggi tingkat pendidikan maka prevalensi disabilitas menurun.
(Mujaddid, 2014)

Gambar 1. menunjukkan kecenderungan persentase kecacatan pada anak usia 24-59


bulan. Persentase jenis kecacatan yang tertinggi adalah tunanetra (cacat penglihatan/buta)
sebesar 0,17% dan terendah adalah tunarungu sebesar 0,07%. Data ini menunjukkan
persentase anak tunawicara 2 kali lebih tinggi dibandingkan anak tunarungu. Persentase
anak tunanetra pada tahun 2013 meningkat hampir dua kali lipat bila dibandingkan
dengan tahun 2010.

Gambaran data tersebut belum menunjukkan besaran masalah yang


sesungguhnya, karena keberadaan anak dengan disabilitas dalam masyarakat
cenderung disembunyikan sehingga kehilangan kesempatan memperoleh hak-hak
dasar untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai potensi yang
dimiliki. Hal ini mendorong kita untuk melakukan berbagai upaya pendekatan
pelayanan kesehatan bagi anak dengan disabilitas, antara lain melalui program

3
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) yang diharapkan dapat meningkatkan status
kesehatan dan kemandirian anak sesuai potensi yang dimilikinya. Selain itu, perlu
ditingkatkan kesadaran masyarakat (community awareness) tentang hak-hak anak
dengan disabilitas, dan upaya pemberdayaan masyarakat/keluarga/orangtua untuk
mendukung pelayanan kesehatan bagi anak dengan disabilitas. (Mujaddid, 2014)

D. KONDISI ANAK DENGAN DIFABILITAS


Di banyak negara, respons terhadap situasi anak penyandang disabilitas
umumnya terbatas pada institusional, ditinggalkan atau ditelantarkan. Respon
semacam ini merupakan masalah, dan itu sudah mengakar dalam asumsi-asumsi
negatif atau paternalistik tentang ketidakmampuan, ketergantungan dan perbedaan
yang muncul karena ketidaktahuan. Yang dibutuhkan sekarang adalah komitmen
terhadap hak-hak anak ini dan masa depan mereka, dengan memprioritaskan anak
yang paling tidak beruntung sebagai masalah kesetaraan dan manfaat bagi semua.
(UNICEF, 2013)
Anak-anak penyandang disabilitas menghadapi berbagai bentuk pengucilan
dan itu mempengaruhi mereka dalam berbagai tingkatan tergantung dari jenis
disabilitas yang mereka alami, di mana mereka tinggal dan budaya serta kelas
sosial mereka. Gender juga merupakan sebuah faktor penting. Anak-anak
perempuan penyandang disa-bilitas juga kecil kemungkinan untuk mendapatkan
pendidikan, mendapatkan pelatihan kerja atau mendapatkan pekerjaan
dibandingkan dengan anak laki-laki dengan disabilitas atau anak perempuan tanpa
disabilitas. (UNICEF, 2013)
Anak-anak penyandang disabilitas seringkali dianggap rendah, dan ini
menyebabkan mereka menjadi lebih rentan. Diskriminasi karena disabilitas
berujung pada marginalisasi dari sumber daya dan pembuatan keputusan, dan
bahkan pada kematian anak. Pengucilan seringkali muncul dari invisibilitas. Tidak
banyak negara yang memiliki informasi yang bisa diandalkan tentang berapa
banyak warganya yang merupakan anak-anak penyandang disabilitas, disabilitas
macam apa yang mereka alami atau bagaimana disabilitas ini mempe-ngaruhi
kehidupan mereka. Dengan demikian, anak-anak yang dikucilkan tidak tahu dan
oleh sebab itu terputus dari pelayanan publik yang sebenarnya mereka berhak

4
untuk mendapatkannya. Pembatasan ini bisa memiliki efek yang panjang yang
membatasi akses mereka ada pekerjaan atau partisipasi mereka dalam masalah-
masalah kemasyarakatan di kemudian hari, misalnya. Tapi akses pada pelayanan
dan teknologi bisa memosisikan anak penyandang disabilitas untuk mengambil
tempat di dalam masyarakat dan memberikan kontribusinya. (UNICEF, 2013)
Kondisi kesehatan anak dengan disabilitas sangat kompleks, terdiri dari
berbagai jenis disabilitas dengan permasalahan yang cukup spesifik sehingga
memerlukan pendekatan secara khusus dalam penanganannya. Mereka merupakan
kelompok yang rentan dan rawan terhadap paparan penyakit maupun ancaman
kekerasan. (Mujaddid, 2014)

E. KEBIJAKAN DAN STRATEGI


Pemerintah di seluruh dunia telah mengambil tanggung jawab untuk
memastikan bahwa seluruh anak melalui komitmen untuk menegakkan Konvensi
Hak Anak (KHA) dan Konvensi Hak Penyandang Disabilitas (KHPD), baik itu
penyandang disabilitas atau bukan, bisa menikmati hak-hak mereka tanpa
diskriminasi apa pun.Kedua konvensi itu menyatakan bahwa anak penyandang
disabilitas memiliki hak yang sama seperti anak-anak lainnya. (UNICEF, 2013)
Pada bidang pendidikan, integrasi bisa dicoba dengan merancang dan
melaksanakan bahwa seluruh anak bisa belajar dan bermain bersama. Ini berarti
memberikan akomodasi yang diperlukan untuk mengakses Braille, bahasa isyarat
dan kurikulum yang diadaptasi. Kemudian landaian (ramp) dan pintu masuk yang
lebar dapat meningkatkan akses dan keselamatan bagi seluruh anak, guru, orang
tua dan pengunjung, bukan hanya mereka yang menggunakan kursi roda.
(UNICEF, 2013)
Anak dengan disabilitas adalah bagian dari anak Indonesia yang mempunyai
hak yang sama dengan anak lainnya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang
berkualitas dalam rangka meningkatkan kesehatan dan optimalisasi kemampuan
mereka sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Upaya perlindungan bagi anak
dengan disabilitas adalah sama dengan anak lainnya, yaitu upaya pemenuhan
kebutuhan dasar anak agar mereka dapat hidup, tumbuh, dan berkembang secara
optimal serta berpartisipasi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Kebutuhan

5
dasar anak tersebut meliputi asah, asih dan asuh yang dapat diperoleh melalui
upaya di bidang kesehatan maupun pendidikan dan sosial. Oleh karena itu, perlu
dikembangkan suatu mekanisme agar anak dengan disabilitas terjamin dalam
mendapatkan akses pelayanan kesehatan dan terpenuhi kebutuhan pemeliharaan
kesehatan sesuai kondisinya. Kewajiban untuk memberikan kemudahan dalam
mendapatkan pelayanan kesehatan tidak hanya dibebankan kepada Pemerintah
saja, tetapi masyarakat yang berada di sekitar anak dengan disabilitas juga harus
ikut berpartisipasi dalam mendukung anak dengan disabilitas untuk mencapai
kondisi kesehatan dan kemandirian yang optimal. (Mujaddid, 2014)
Pembinaan kesehatan bagi anak dengan disabilitas merupakan bagian
integral dari program pembinaan kesehatan anak secara menyeluruh dengan
menggunakan pendekatan continuum of care untuk memenuhi kebutuhan
pelayanan kesehatan. Kebijakan program pembinaan kesehatan anak dengan
disabilitas diarahkan untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas
sesuai kebutuhannya di tingkat dasar maupun rujukan, yang dilakukan secara
komprehensif dengan melibatkan berbagai sektor terkait, organisasi profesi, LSM,
pihak swasta dan upaya pemberdayaan keluarga dan masyarakat. Arah kebijakan
pembinaan kesehatan anak dengan disabilitas difokuskan pada upaya untuk
meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup anak dalam rangka pemenuhan
hak-hak anak. (Mujaddid, 2014)
Strategi yang digunakan untuk pembinaan kesehatan anak dengan disabilitas
meliputi :
Meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan.

meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan bagi anak dengan


disabilitas di pelayanan dasar dan rujukan.

Meningkatkan kerjasama Lintas Program dan Lintas Sektor (LP/LS),


kelompok masyarakat peduli anak dengan disabilitas, serta organisasi
profesi terkait.

Meningkatkan upaya pembiayaan melalui BPJS, Jaminan Kesehatan


Daerah (Jamkesda), Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), sumber dana
lainnya.

6
Meningkatkan upaya pemberdayaan masyarakat, sekolah, dan keluarga
dalam penjaringan/deteksi dini, perawatan dan pemeliharaan kesehatan
anak dengan disabilitas.

Meningkatkan manajemen program.

Meningkatkan sistem informasi, pencatatan, dan pelaporan terkait program


anak dengan disabilitas. (Mujaddid, 2014)

Program kesehatan bagi ADD (Anak dengan Disabilitas) merupakan salah


satu program inovasi yang dikembangkan sejak lahirnya Direktorat Bina
Kesehatan Anak pada tahun 2006, searah dengan amanah Undang-Undang Nomor
23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan khususnya Undang-Undang
Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 133 dan 139 terkait dengan upaya
kesehatan bagi penyandang cacat. Pengembangan program yang dilakukan bagi
ADD melalui dua pendekatan yaitu melalui program UKS di SLB dan melalui
pembinaan kesehatan ADD di tingkat keluarga. (Mujaddid, 2014)
Target pembinaan SLB oleh Puskesmas adalah Puskesmas yang melakukan
satu atau lebih pelayanan kesehatan melalui UKS di SLB, antara lain penyuluhan
tentang kesehatan anak, penyuluhan tentang kesehatan lingkungan, penjaringan
kesehatan, pemberantasan sarang nyamuk, imunisasi, pengobatan, dan upaya
lainnya. (Mujaddid, 2014)
Pada tahun 2013, pembinaan kesehatan anak di SLB sudah dilakukan di 22
provinsi (DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta,
Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Barat,
Lampung, Riau, Kalimantan Selatan, Banten, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara
Barat, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, Gorontalo, Kalimantan Barat, Jambi,
Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau) yang dalam pelaksanaan program
UKS mengacu pada buku Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak di SLB bagi
Petugas Kesehatan. Jumlah puskesmas yang membina SLB melalui program UKS
di 22 provinsi tersebut maupun secara nasional telah tercapai 100% dari target
jumlah puskesmas yang telah ditetapkan. (Mujaddid, 2014)
Program-program rehabilitasi berbasis masyarakat (RBM) yang mencoba
memastikan bahwa penyandang disabilitas memiliki akses yang sama pada

7
pelayanan dan kesempatan terkait kesehatan, pendidikan, dan penghidupan adalah
contoh dari sebuah intervensi yang dirancang dan dijalankan oleh masyarakat
setempat dengan partisipasi aktif dari anak dan orang dewasa penyandang
disabilitas. Sebuah lingkungan yang bisa diakses adalah penting jika anak-anak
penyandang disabilitas akan menikmati hak-hak mereka untuk berpartisipasi di
masyarakat dan untuk mendapatkan kesempatan mewujudkan seluruh potensi
mereka. Jadi, misalnya, anak penyandang disabilitas perlu akses pada seluruh
sekolah untuk mendapatkan manfaat maksimum dari pendidikan. Anak-anak yang
mendapatkan pendidikan bersama dengan rekan-rekan mereka punya kesempatan
lebih banyak untuk menjadi anggota masyarakat yang produktif dan menjadi
terintegrasi dalam kehidupan masyarakat mereka. (UNICEF, 2013)
Tergantung dari jenis disabilitas, seorang anak mungkin membutuhkan alat
bantu (misalnya, prosthesis) atau pelayanan (seperti penerjemah bahasa tanda)
untuk bisa berfungsi secara penuh dalam berbagai aspek kehidupan. Namun
menurut WHO, di negara-negara berpenghasilan rendah hanya 5-15% orang yang
memerlukan teknologi alat bantu yang bisa mendapatkannya. Biaya dari teknologi
yang seperti itu bisa menjadi penghalang, terutama untuk anak-anak, yang harus
mengganti atau menyesuaikan peralatan mereka setelah mereka tumbuh dewasa.
Akses pada teknologi alat bantu itu dan dukungan khusus lainnya yang diperlukan
anak untuk memudahkan interaksi dan partisipasi mereka haruslah gratis dan
tersedia untuk semuanya. (UNICEF,2013)

Menurut KHPD, anak-anak penyandang disabilitas dan keluarga mereka


punya hak untuk mendapatkan standar kehidupan yang memadai dan juga berhak
untuk mendapatkan pelayanan dukungan yang disubsidi atau gratis dan akses pada
bantuan kelompok. Perlindungan sosial untuk anak penyandang disabilitas dan
keluarga mereka sangatlah penting karena keluarga ini seringkali menghadapi
biaya hidup yang lebih tinggi dan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan
pemasukan. Di samping biaya medis, rehabilitasi dan biaya langsung lainnya,
keluarga juga menghadapi biaya kesempatan, karena orang tua dan anggota
keluarga seringkali harus berhenti bekerja atau mengurangi jam kerjanya untuk
merawat anak penyandang disabilitas. (UNICEF, 2013)

8
Pembinaan kesehatan ADD di tingkat keluarga dikembangkan, mengingat
sebagian besar ADD berada di masyarakat sehingga perlu untuk meningkatkan
kesadaran masyarakat (community awareness) tentang hak-hak anak dengan
disabilitas dan upaya pemberdayaan masyarakat/keluarga/orangtua, agar dapat
melakukan pengasuhan yang benar apabila memiliki anak dengan disabilitas.
Sedangkan dalam rangka menyediakan akses layanan kesehatan bagi anak dengan
disabilitas, maka strategi yang tepat untuk memberikan pelayanan kesehatan
melalui pelayanan kesehatan tingkat dasar di Puskesmas, rujukan di rumah sakit
dan memperkuat upaya pemberdayaan masyarakat melalui peningkatan peran
orang tua dari anak dengan disabilitas. Program yang dilakukan mencakup upaya
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif melalui pelayanan kesehatan sejak di
tingkat Puskesmas dan rujukan di rumah sakit. (Mujaddid, 2014)
Diharapkan program ini dapat menumbuhkan kemandirian
orangtua/keluarga untuk mampu membimbing dan melatih anak tentang aktivitas
hidup sehari-hari seperti toilet training, kebersihan diri termasuk menyikat gigi
sendiri, memperhatikan tumbuh kembang anak dengan memberikan asupan gizi
yang memadai, mengenal tanda-tanda penyakit dan upaya pencegahannya, serta
memberikan latihan sederhana bagi anak agar dapat mencapai kemampuan
optimal sesuai potensi yang dimiliki. (Mujaddid, 2014)
Pembinaan pelayanan kesehatan anak dengan disabilitas (penyandang cacat)
saat ini difokuskan pada pembinaan UKS di SLB, sedangkan bagi anak dengan
disabilitas yang berada di masyarakat yang belum banyak terjangkau pembinaan,
perlu ditingkatkan pengetahuan dan kemampuan petugas kesehatan agar dapat
membantu keluarga dan masyarakat mampu secara mandiri mengasuh, membina
dan memberi kesempatan kepada anak dengan disabilitas untuk dapat hidup layak,
bermartabat dan dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya. (Mujaddid,
2014)

Mengingat sebagian besar anak dengan disabilitas berada di masyarakat,


maka perlu ditingkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat terutama
orang tua dan keluarga dalam penanganan anak dengan disabilitas dan
peningkatan kemampuan petugas dalam memfasilitasi orang tua dalam
peningkatan pengetahuan dan keterampilan penanganan dan perawatan anak

9
dengan disabilitas. Pada tahun 2014 Direktorat Bina Kesehatan Anak telah
menyusun draft buku Pedoman Penanganan Kesehatan Anak dengan Disabilitas
bagi Keluarga dan Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak dengan Disabilitas bagi
Petugas Kesehatan. Kedua draft buku saat ini dalam tahap editing dan design
setelah dilakukan uji coba di 5 provinsi, yaitu Sulawesi Selatan, Bali, Jawa
Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Barat. Semoga dengan
meningkatnya pengetahuan masyarakat akan berdampak pada peningkatan status
kesehatan dan kemandirian anak dengan disabilitas sehingga dapat meringankan
beban orang tua, keluarga, masyarakat dan negara. (Mujaddid, 2014)

Tidak akan banyak perubahan dalam kehidupan anak dengan disabilitas


kalau tidak ada perubahan sikap. Ketidaktahuan tentang sifat dan penyebab
pelemahan, invisibilitas anak itu sendiri, peremehan yang serius tentang potensi
dan kapasitas mereka, dan rintangan lainnya terhadap kesempatan dan perlakukan
yang sama semuanya menyatu untuk membuat anak penyandang disabilitas tetap
diam dan terpinggirkan. Pentingnya melibatkan anak penyandang disabilitas tidak
perlu dilebih-lebihkan. Prasangka bisa dikurangi melalui interaksi, sebagaimana
ditunjukkan oleh kegiatan-kegiatan yang menggabungkan anak penyandang
disabilitas dengan yang bukan penyandang disabilitas. Partisipasi dalam kegiatan-
kegiatan sosial dapat membantu mempromosikan pandangan yang positif tentang
disabilitas. (UNICEF, 2013)

UNICEF, bekerja sama dengan Washington Group on Disability Statistics


dan sejumlah pemangku kepentingan, mengadakan konsultasi untuk
meningkatkan metodologi yang digunakan untuk mengukur disabilitas anak dalam
Multiple Indicator Cluster Surveys dan usaha pengumpulan data lainnya, guna
menghasilkan angka-angka yang bisa diperbandingkan secara nasional dan
meningkatkan harmonisasi data tentang fungsi anak dan disabilitas secara
internasional. (UNICEF, 2013)

Perangkat penapisan yang sedang dikembangkan mencakup anak usia antara


2-17 tahun dan menggunakan skala pemeringkatan untuk menilai ucapan dan
bahasa, pendengaran, penglihatan, pembelajaran (perkembangan kognisi dan
intelektual), mobilitas dan ketrampilan motoris, emosi, dan perilaku; ini juga

10
mencakup aspek-aspek kemampuan anak untuk berpartisipasi dalam sejumlah
aktivitas dan interaksi sosial. Juga sedang dikembangkan sebuah metodologi
menyeluruh yang standar untuk penilaian yang lebih mendalam tentang disabilitas
pada anak, dengan protokol pengumpulan data, perangkat penilaian dan sebuah
kerangka analisis. (UNICEF, 2013)

Mengingat bahwa spesialis mungkin tidak banyak di beberapa daerah,


sebuah toolkit sedang dirancang untuk memungkinkan guru, pekerja masyarakat
dan profesional terlatih lainnya untuk melaksanakan metodologi baru. Ini akan
memperkuat kapasitas lokal untuk mengidentifikasi dan menilai anak penyandang
disabilitas yang berisiko terhadap pengucilan sosial dan berkurangnya partisipasi.
(UNICEF, 2013)

F. PENUTUP
Pembinaan program perlindungan kesehatan bagi anak dengan disabilitas
perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak untuk mengurangi dan mencegah
dampak kesehatan dan psikososial yang dapat berakibat pada kondisi yang lebih
parah dan menimbulkan beban bagi keluarga, masyarakat, dan negara.
Mengoordinasikan pelayanan di seluruh sektor guna menangani sejumlah
tantangan yang dihadapi anak dan remaja penyandang disabilitas dan keluarga
mereka. Melibatkan anak dan remaja penyandang disabilitas dalam membuat
keputusan-keputusan yang memberikan pengaruh pada mereka tidak hanya
sebagai penerima manfaat tapi sebagai agen perubahan.
Puskesmas sebagai pemberi pelayanan kesehatan terdepan diharapkan dapat
melakukan pembinaan melalui pelayanan kesehatan secara komprehensif,
berkesinambungan dan berkualitas bagi anak dengan disabilitas. Hal ini tidak
dapat dilakukan sendiri oleh sektor kesehatan, tetapi memerlukan pendekatan
multisektoral dan multidisipliner. Oleh karena itu, kerjasama dengan semua unsur
terkait dalam pelaksanaannya sangat diperlukan.

11
DAFTAR PUSTAKA

Mujaddid. 2014. Kesehatan Anak dengan Disabilitas dalam Buletin data dan
informasi kesehatan edisi situasi penyandang disabilitas. Kementrian kesehatan
RI: Jakarta

Soleh Akhmad. 2014. Aksesibilitas Penyandang Disabilitas Perguruan Tinggi


(Studi kasus empat perguruan tinggi negri di daerah istimewa yogyakarta).
UIN sunan kalijaga. Yogyakarta

UNICEF. 2013. KEADAAN ANAK DI DUNIA : ANAK PENYANDANG


DISABILITAS. United Nations Childrens Fund: New York

12