Você está na página 1de 12

LBM 5

Keringat dan Bintil Kemerahan

Step 1
Milier : Ukuran vesikel atau papul yang kecil diameter 1-2 mm

Ukuran seperti kepala jarum pentul

Diskrit : vesikel berlesi multipel tetapi menyebar/tidak berkelompok

Step 2
1. Mengapa muncul bintil kemerahan berair di leher dan kening sisi atas ?
2. Mengapa bayi rewel jika cuaca panas dan banyak berkeringat ?
3. Apa diagnosis dari skenario diatas beserta diagnosis bandingnya ?
4. Apa gejala klinis dari diagnosis skenario diatas ?
5. Apa terapi dari diagnosis penyakit diatas ?
6. Bagaimana patogenesis penyakit tersebut ?
7. Apa etiologi penyakit pada skenario diatas ?
8. Apa klasifikasi dari kelainan skenario diatas ?
9. Apa faktor resiko dari diagnosis diatas ?
10. Apa saja kelainan adneksa ?

Step 3
1. Mengapa muncul bintil kemerahan berair di leher dan kening sisi atas ?
Karena pori pori keringat tertutup,sehingga terjadi retensi keringat.
Pori pori keringat tertutup karena bakteri yang menimbulkan pembengkakan dan
peradangan atau kelainan konginetal.
Jika keringat tidak keluar mengakibatkan kejang otot
Konginetal
karena bagian leher dan bagian kening sisi atas adalah tempat yang palng sering
berkeringat
2. Mengapa bayi rewel jika cuaca panas dan banyak berkeringat ?
Karena rasa gatel yang disebabkan oleh vesikel/ papul,jika panas vesikel dan papul
bertambah banyak sehingga akan merasa lebih gatal.
3. Apa etiologi penyakit pada skenario diatas ?
Karena pori pori keringat tertutup,sehingga terjadi retensi keringat.
Pori pori keringat tertutup karena bakteri yang menimbulkan pembengkakan dan
peradangan atau kelainan konginetal
4. Apa faktor resiko dari diagnosis diatas ?
- Bayi 2 bulan, anak-anak
- BBLR ( Berat Bayi Lahir Rendah )
- Obesitas
- Olahragawan / Atlet
- Radiasi UV
5. Bagaimana patogenesis penyakit tersebut ?
Belum diketahui.
Bakteri
Sumbatan keratin di kelenjar keringat.
Kadar garam yang terlalu tinggi pada kulit Spongiosis ( lubang karena garam yang
menumpuk, menyebabkan baketeri mudah masuk).
Adanya Staphyloccocus.
Kongenital
Karena pori porinya susah membuka / sempit,yang menyebabkan keringat tidak bisa keluar
sehingga menyebabkan papul atau vesikel
6. Apa gejala klinis dari diagnosis skenario diatas ?
- Jika saluran kelenjar keringat tersumbat makan menyebabkan terjadinya peradangan
yang selanjutnya akan timbul iritasi dan gatal-gatal
- Papul dan vesikel ukuran milier ( 1-2 mm ) ,multipel, diskrit, warna merah
7. Apa diagnosis dari skenario diatas beserta diagnosis bandingnya ?
Diagnosis
- Miliaria rubra : karena disertai gatal gatal dan inflamasi

Diagnosis Banding

- Gigitan serangga
- Folikulitis : peradangan folikel rambut
8. Apa klasifikasi dari kelainan skenario diatas ?
- Miliaria kristalina : - vesikel tanpa radang
asimtomatik
Sembuh sendiri dengan scar halus
- Miliaria rubra : - papul merah, pedih dan gatal
Pada bagian yang terkena tekanan pakaian ( Ex : Celana dalam,Punggung
)
- Miliaria profunda : Papul putih, keras Tidak gatal dan tidak eritem
Terjadi setelah rubra
terjadi di daerah iklim tropik ( panas )
9. Apa terapi dari diagnosis penyakit diatas ?
Non medikamentosa
- Memakai pakaian tipis dan menyerap keringat
- Ventilasi yang baik
Medikamentosa
- Bedak salicil menthol
- Losio kalamin
- Diberi antibiotik jika timbul infeksi sekunder dan antihistamin ( CTM )
10. Apa saja kelainan adneksa ?
Adneksa : turunan kulit
Kelainan : - kelenjar : 1. Sebasea : acne, rosasea,dermatitis perioral
2. sudorifera : Apokrin : lebih besar , sekret kental, mulai berkembang saat
mengalami pubertas
Distribusi : axilla, pubis, labia minora, anus, pangkal paha
Ex : Bromhidrosis,kromhidrosis,hidraderitis supurativa
Ekrin : kecil ,dangkal dermis sekret encer, sudah ada sejak
bayi
Distribusi terbanyak : Kaki, Dahi, leher, punggung atas, telapak tangan, dada.
Ex : Miliaria, Hiperhidrosis, Anhidrosis, Dishidrosis
- Kuku :
- Rambut : Alopesia,

Step 4
Adneksia

Kelenjar kuku dan rambut

Sebasea sudorifera

Ekrin apokrin

Miliaria hiperhidrosis anhidrosis dishidrosis

m.Kristalina]

m.rubra

M.Profunda
ANGGA LIAN

MODUL 7

LBM 5

1. Mengapa muncul bintil kemerahan berair di leher dan kening sisi atas ?
2. Mengapa bayi rewel jika cuaca panas dan banyak berkeringat ?

Pada miliaria, lesinya terasa gatal, terutama dibagian tubuh yang tertutup pakaian

Sumber : Saripati Penyakit Kulit Edisi 2

Cuaca panas karena frekuensi retensi keringat banyak terjadi di saat berada dalam lingkungan panas dan
saat di lingkungan kelembaban tinggi.

Dan biasanya muncul vesikel-vesikel pada seluruh anggota badan jika hawa panas.

Bayi rewel akibat terjadinya sumbatan kelenjar ekrin di pori-pori keringat sehingga
menimbulkan peradangan yang mengakibatkan gelembung pada stratum spinosum.
Peradangan ini menimbulkan rasa sakit pada penderita.

(Sumber : http://www.derm-hokudai.jp/shimizu-dermatology/pdf/19-01.pdf)

3. Apa etiologi penyakit pada skenario diatas ?

Penyebab terjadinya miliariasis ini adalah udara yang panas dan lembab. (Vivian,

2010)

Sering terjadi pada cuaca yang panas dan kelembaban yang tinggi. Akibat

tertutupnya saluran kelenjar keringat terjadilah tekanan yang menyebabkan

pembengkakan saluran atau kelenjar itu sendiri, keringat yang menembus ke

jaringan sekitarnya menimbulkan perubahan-perubahan anatomis pada kulit berupa

papul atau vesikel. (Hassan, 1984)

4. Apa faktor resiko dari diagnosis diatas ?


5. Bagaimana patogenesis penyakit tersebut ?

Faktor utama yang berperan bagi perkembangan miliaria adalah kondisi panas tinggi
dan kelembaban yang menyebabkan berkeringat berlebihan. Occlusion kulit karena pakaian,
perban, atau lembaran plastik (dalam pengaturan percobaan) selanjutnya dapat
berkontribusi untuk pengumpulan keringat pada permukaan kulit dan pengeluaran cairan
atau keringat berlebih (overhydration) dari lapisan corneum. Pada orang yang rentan,
termasuk bayi, yang relatif belum matang kelenjar ekrinnya, pengeluaran cairan atau
keringat (overhydration) dari stratum corneum dianggap cukup untuk menyebabkan
penyumbatan sementara dari acrosyringium.
Jika kondisi lembab dan panas bertahan, individu terus memproduksi keringat
berlebihan, tetapi dia tidak dapat mengeluarkan keringat ke permukaan kulit karena
penyumbatan duktus. Sumbatan ini menyebabkan kebocoran keringat dalam perjalanannya
ke permukaan kulit, baik di dalam dermis atau epidermis, dengan anhidrosis relatif.
Ketika titik kebocoran di lapisan corneum atau hanya di bawahnya, seperti dalam
Miliaria crystallina, akan ada sedikit peradangan yang menyertai, dan lesi tidak menunjukkan
gejala. Sebaliknya, pada Miliaria rubra, kebocoran keringat ke lapisan subcorneal
menghasilkan vesikula spongiotic dan sel inflamasi kronis periductal yang menginfiltrasi di
papiler dermis dan epidermis bawah. Pada Miliaria profunda, keluarnya keringat ke dermis
papiler menghasilkan suatu substansial, menginfiltrasi limfositik periductal dan spongiosis
dari duktus intra-epidermis.
Bakteri seperti Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus aureus, diperkirakan
memainkan peran dalam patogenesis miliaria. Pasien dengan Miliaria memiliki 3 kali lebih
banyak bakteri per satuan luas kulit dibandingkan subyek kontrol sehat. Agen antimikroba
efektif dalam menekan Miliaria akibat eksperimental. Periodic Acid-Schiff positif bahan tahan
diastase telah ditemukan di sumbatan intraductal yang konsisten dengan substansi
polisakarida ekstraselular stafilokokal (EPS). Dalam pengaturan percobaan, hanya
Staphylococcus epidermidis yang menghasilkan EPS yang dapat menginduksi miliaria.
Pada akhir tahap Miliaria, hyperkeratosis dan parakeratosis dari acrosyringium
(bagian paling atas dari saluran/duktus kelenjar keringat) dapat diamati. Sebuah sumbatan
hyperkeratotic mungkin muncul untuk menghalangi saluran ekrin, tetapi sekarang ini diyakini
menjadi perubahan akhir dan bukan penyebab yang mempercepat terjadinya penyumbatan
keringat.

Patofisiologi terjadinya milliariasis diawali dengan tersumbatnya pori-pori kelenjar

keringat, sehingga pengeluaran keringat tertahan. Tertahannya pengeluaran keringat

ditandai dengan adanya vesikel miliar di muara kelenjar keringat lalu disusul dengan

timbulnya radang dan edema akibat perspirasi yang tidak dapat keluar kemudian diabsorpsi

oleh stratum korneum. (Vivian, 2010)


Milliariasis sering terjadi pada bayi prematur karena proses diferensiasi sel epidermal

dan apendiks yang belum sempurna. Kasus milliariasis terjadi pada 40-50% bayi baru lahir.

Muncul pada usia 2-3 bulan pertama dan akan menghilang dengan sendirinya pada 3-4

minggu kemudian. Terkadang kasus ini menetap untuk beberapa lama dan dapat menyebar

ke daerah sekitarnya. (Vivian, 2010)

6. Apa gejala klinis dari diagnosis skenario diatas ?

Miliaria kristalina
Vesikel tanpa tanda radang (1-2mm) pd badan yang tertutup pakaian
stlah berkeringat.
Tidak ada keluhan
Sembuh sendiri dengan sisik yang halus
Histopatologik gelembung Intra/subkorneal
Penatalaksanaan hindari panas, ventilasi yang baik, pakaian tipis
dan menyerap keringat.

Miliaria rubra
Pada badan yang terkena tekanan atau gesekan pakaian
Terdpt papul merah atau papul vesikular ekstrafolikular (gatal &
pedih)
Terjadi pd org yg tdk biasa daerah tropik
Histopatologik gelembung pd stratum spinosum peradangan pd
kulit dan perifer kulit di epidermis.
Terapi:
pakaian tipis dan menyerap keringat
bedak salicil 2% dibubuhi menthol - 2 %
Losio faberi, dpt ditambahkan mentholum atau camphora (agar ada
efek antipruritus (anti gatal)).

Miliaria profunda
Terjadi di daerah tropik
Timbul setelah miliaria rubra
Papul putih, keras (1-3mm)
Trdpt pd badan & ekstremitas
Tidak gatal dan tidak eritema
Histopatologik saluran kelenjar keringat pecah pada dermis bagian
atas dengan atau tanpa infiltrasi sel radang.
Penatalaksanaan : hindari panas & kelembaban > , usahakan regulasi
tubuh yang baik, pakaian yang tipis, dapat diberi losio calamin.
Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Ed ke-4 FKUI.

7. Apa diagnosis dari skenario diatas beserta diagnosis bandingnya ?


Milliaria : Kelainan kulit akibat retensi keringat, ditandai dengan adanya vesikel milier.
Miliaria, karena pada miliaria terdapat vesikel umumnya gatal terutama bila bagian tubuh
tertutup pakaian.

Miliaria adalah kelainan kulit akibat retensi keringat, ditandai dengan adanya vesikel milier.
Miliaria memiliki sinonim dengan biang keringat, keirngat buntet, liken tropikus, prickle
heat.
Miliaria ada 3 jenis yaitu miliaria kristalina, miliaria rubra, dan miliaria profunda.

1.Seringkali mirip prurigo, tetapi prurigo bersifat kronik (berlangsung


lebih dr 6 minggu) residif (bersifat kumat -kumatan, mudah kambuh).

#prurigo adalah penyakit kulit yang ditandatu dengan gangguan kulit


berupa papula dan nodul (ukurannya bervariasi), hiperpigmentasi
terutama di bagian ekstremitas. Penyeb ab belum diketahui namun
berdasarkan fakta rasa gatal muncul terutama ketika penderita stress
atau ketegangan emosional. Frekuensi terbanyak banyak dijumpai pada
orang dewasa dan usia lanjut.

2.Gigitan serangga : urtikaria papular, biasanya jelas karena gigitan


serangga.

3.Folikulitis : pustule miliar dengan nyeri, suhu tubuh naik.


#Folikulitis adalah peradangan pada selubung akar rambut (folikel).
Penyebabnya adalah infeksi oleh bakteri stafilokokus.

Folikulitis bisa terjadi di bagian kulit manapun, biasanya merupakan akibat dari kerusakan folikel rambut karena:
- bergesekan dengan pakaian
- penyumbatan folikel rambut
- pencukuran.

Pada kulit yang terkena akan timbul ruam, kemerahan dan rasa gatal.
Di sekitar folikel rambut tampak beruntus-beruntus kecil berisi cairan yang bisa pecah lalu mengering dan membentuk keropeng.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya.


Untuk memastikan bahwa penyebabnya adalah stafilokokus, bisa dilakukan pembiakan contoh jaringan yang terinfeksi di laboratorium.

Kompres hangat bisa mempercepat pengempesan folikulitis.


Untuk mengendalikan infeksi, bisa diberikan antibiotik (salep maupun kapsul).

http://www.docstoc.com/docs/59860215

8. Apa klasifikasi dari kelainan skenario diatas ?


1. Miliaria Kristalina
-pada penyakit ini terlihat vesikel berukuran 1-2 mm, terutama pada badan setelah
banyak berkeringat,misalnya karena hawa panas.
-vesikel bergerombol tanpa tanda radang pada bagian badan yang tertutup
pakaian.
-umumnya tidak memberi keluhan dan sembuh dengan sisik yg halus.
-Pada gambaran histopatologik terlihat gelembung intra/subkorneal.
-Pengobatan tdk diperlukan,cukup dengan menghindari panas yg berlebihan,
megusahakan ventilasi yang baik, pakaian tipis, dan menyerap keringat.
2. Miliaria Rubra
-Penyakit ini lebih berat dari pada miliaria kritalina,terdapat pada badan dan
tempat-tempat tekanan atau gesekan pakaian.
-Terlihat papul merah atau papul vesikular ekstrafolikuler yang sangat gatal dan
pedih.
-Terdapat pada orang yang tidak biasa pada daerah tropik.
-Gambaran Histopatologik gelembung terjadi pada stratum spinosum sehingga
menyebabkan peradangan pada kulit dan perifer kulit di epidermis.
3. Miliaria Profunda
-Bentuk ini agak jarang kecuali di daerah tropis.
-Kelainan ini biasanya timbul setelah miliaria rubra, ditandai dengan papul
putih,keras, berukuran 1-3 mm. Terutama terdapat di badan dan ekstremitas.
-Karena letak retensi keringat lebih dalam, maka secara klinis lebih banyak berupa
papul dari pada vesikel. Tidak gatal dan tidak terdapat eritema.
-Gambaran Histopatologik tampak saluran kelenjar keringat yang pecah pada
dermis, bagian atas dengan atau tanpa infiltrasi sel radang.

Ilmu Penyakit kulit dan kelamin, edisi keenam cetakan kedua, 2011

9. Apa terapi dari diagnosis penyakit diatas ?


1. Miliaria Kristalina
-Tdk diperlukan cukup dengan menghindari panas yg berlebihan
-mengusahakan ventilasi yg baik,pakaian tipis dan menyerap keringat.

2. Miliaria Rubra
-Pakain yang tipis dan yang dapat menyerap keringat,
-dapat diberikan bedak salisil 2 % dibubuhi mentol -2%
-Loti Faberi yg ditambah menthol atau Champora.
3. Miliaria profunda

-Menghindari panas dan kelembapan yang berlebihan

-mengusahakan regulasi suhu yg baik, dan pakain yg tipis.diberika lotio kalamin. Dg atau
tanpe menthol 0,25% dapat pula resorsin 3% dlm alkohol.

Ilmu Penyakit kulit dan kelamin, edisi keenam cetakan kedua, 2011

a. Umum :
Jangan minum alkohol atau makan yang pedas
Pakaian harus tipis dan menyerap keringat
Dianjurkan bekerja dalam ruangan yang ventilasi nya baik
b. Khusus :
Sistemik : dapat diberikan antibiotik jika terdapat infeksi sekunder, dan
antihistain sebagai antipruritus
Topikal : bedak kocok yang bersifat mendinginkan mengandung bahan
antipruritus seperti beda salisil 2% atau lotio kummerfeldi. Juga dapat
diberikan antibiotik topikal seperti krim kloramfenikol

Sumber : Saripati Penyakit Kulit Edisi 2

10. Apa saja kelainan adneksa ?


a. Kelainan Rambut
Alopesia : kebotakan
Alopesia universalls : kenotakan yang mengeani seluruh rambut yang ada
pada kulit
Alopesia totalis : kebotakan yang mengenai seluruh rambut kepala
Alopesia renata : kebotakan yang terjadi setempat-setempat dan berabtas
tegas, umumnya terdapat pada kulit kepala, tetapi dapat juga mengenai
daerah berambut lainnya
Alopesia areata : ditandai dengan adanya bercak dengan kerontokan
ramnut pada kulit kepala, alis, janggut, dan bulu mata
Alopesia androgenika (Male Pattern Alopecia) : terjadi pada umur akhir
dua puluhan atau awal tiga puluha, rambut rontok secara bertahap
dimulai dari bagian verteks dan frontal. Garis rambut anterior menjadi
mundur dan dahi menjadi lebar, puncak kepala botak.
Alopesia prematur : sering terjadi pada laki-laki umur dua puluhan, sering
disertai oleh dermatitis seboroik yang berat.
Alopesia androgenika pada wanita
Alopesia liminaris : kerontokan rambut disekeliling tepi kulit kepala yang
berambut karena mengikat rambut terlalu erat dan alat pengering
rambut
Trikotiloma : alopesi neurosis rambut ditarik terlalu keras sehingga
putus
Alopesia kerana faktor fisis : karena radiasi berlebihan
Alopesi karena sisir panas
Alopesia traksi
Ofiais
Alopesia perinevi
Alopesia sifilatika
Alopesia seboroik
Alopesia musinosa
Alopesia musinosa
Alopesia akibat radang
Efluvium : kerontokan rambut
Difus
Eflivium telogen : kerontokan rambut yang terlalu cepat dan
terlalu banyak pada folikel rambut yang normal
Eflivium telogen pascapartum : ditemukan 2-5 bulan
setelah melahirkan
Eflivium telogen pascanatal ; pada bayi sejak lahir berumur
4 bulan dan akan tumbuh kembali pada umur 6 bulan
Eflivium telogen psikis : kerontokan rambut secara tiba-
tiba terjadi setelah syok psikis
Eflivium telogen pascafebris acute
Eflivium anagen : terjadi setelah kemoterapi untuk kersinoma
Kelainan batang rambut
Alopesia androenik pada wanita
Setempat (fokal)
Karena infeksi
Karena trauma
Kerusakan batang rambut
Anoplesia androgenik pada pria
Kelainan bentuk dan warna rambut
Trikoreksis nodosa : terlihat bintik-bintik putih (penyakit mutiara)
Monilektris : terdapat bagian yang melebar dan bagian yang lebih tipis
seperti kumparan yang diselingi segmen-segmen yang atrofi
Trikoptilosis : ujung-ujung rambut terbelah secara memenjang
Trikolasia : rambut mudah patah
Pili anulati : rambut berwarna gelap dan pucat berselang-seling
Pili torti : batang rambut terlihat menipis dan menebal berwarna pucat
dan tua
Trikoreksis invaginata
Kinking hair
Trikonodis
Kanitis
Kalainan kelebatan rambut
Hipertrikosis
Hirsutisme
Hipotrikosis dan atrikosis kongenital
b. Kelianan Kuku
Dermatitis yang menyebabkan kelainan kuku
Paronikia : pembengkakan jaringan yang nyeri dan dapat mengeluarkan
pus, jika sudah konik, maka terdapat celah horizontal pada adasar kuku.
Onikomikosis
Liken planus kuku
Kuku psoriasis : gejala berupa adanya pits, terowongna, dan cekungan
treansversal leukenika dengan permukaan yang kasar atau licin
Penyakit darier
Penyakit kuku
Hippocratic (clubbed) fingers : kuku menggembung dan membentuk
konveks dalam arah transversal dan longitudinal seperti gelas arloji
Shell nail sindrom : kuku menyerupai clubbed nail tetapi dasar kuku atrofi.
Koilonika : spoon nails
Onikauksis : kuku menebal tanpa kelainan bentuk
Onikrogifosis : kuku berubah bentuk dan menebal seperti cakar
Anonikia : tidak tumbuhnya kuku
Onikoatrofi : kuku menjaid tipis dan lebih kecil disebabkan karena
gangguan vaskuler
Onikolisis : terpisahnya kuku dari dasarnya terutama bagian distal atau
lateral
Pakionikia : adanya penebalan lempeng kuku
Beaus lines : adanya terowongan transversal dimulai dari lunula dan
berjalan kearah distal sesuai pertumbuhan kuku
Onikoreksis : kuku yang rapuh dan mudah pecah
Hapalonikia : kuku yang melunak dapat disebabkan oleh defek pada
matriks sehingga kuku tipis, lunak dan mudah sobek
Nail patella elbow syndrome : ditandai oleh tidak adanya atau hipoplasia
petela pada kuku, penebalan skapula dan hiperekstensi sendi
Median nail dystrophy : adanya celah longitudinal pada tengah-tengah
kuku karena trauma
Hang nail : adanya epokium yang tumbuh berlebih dan berbelah sehingga
timbul fisura pada pinggir kuku lateral, memberi rasa nyeri
Onikofagia : sering menggigit kuku, gejala psikis

Onikopilomania : gejala neurosis, penderita merobek kuku
Perubahan warna pada kuku
Green nails : terjadi pada kuku yang mengalami onikolisis dan paronikia
yang berat akibat infeksi kuma Pseusomonas aeruginosa yang
menghasilkan pigmen berwarna hijau
Black nails : dapat disebabkan karena melanogenesis yang berlebihan
Brown nails : disebabkan karena obat anti malaria dan juga oleh fenoftalin
Blue nails : pada penyakit wilson dan penderita argiria
Yellow nails : pertumbuhan kuku yang lamabt, kuku cembung dan tebal,
adanya edema pada kuku
Kuku berwarna putih
Warna putih yang berbatas
Warna putih yang menyeluruh

Sumber : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI Edisi 6