Você está na página 1de 5

TUGAS SOSIOLOGI HUKUM

ALIRAN REALISME HUKUM

KELOMPOK 8

Karlin Permata S 15410349

Alvin Alexandri F 15410531

Fahrisa R 15410006

Muh. Bayoumi 15410391

Aditya Hardikara 15410390

Ronaldo Allen A G 15410452


Aliran Realisme Hukum
Latar Belakang Kemunculan

Aliran realisme muncul bermula dari adanya penolakan terhadap aliran positivisme. Gagasan
yang dilontarkan adalah pernyataan bahwa kalau positivisme hukum merupakan teori hukum yang benar
maka teori itu akan mencakup semua hukum, termasuk menangani kasus-kasus berat. Ternyata kasus-
kasus berat ini tidak diatur oleh aturan-aturan yang ada.

Tokoh-tokoh legal realism yang berasal dari kalangan praktisi hukum, yakni Holmes (1841-1935),
Jerome Frank (1859- 1957) dan seorang ahli ilmu sosial, Karl Nickerson Llewellyn (1893-1962), melihat
kenyataan bahwa tidak semua kasus yang ada di pengadilan, khususnya kasus-kasus berat diatur dalam
Undang-Undang. Sehingga pada kenyataannya hakim mempunyai peranan yang lebih bebas untuk
memilih dan menentukan serta lebih kreatif.

Didalam penerapan hukum dari pada sekadar mengambil didalam aturan-aturan yang dibuat
oleh penguasa (Undang-Undang). Dalam praktiknya ternyata faktor seperti temperamen psikologis
hakim, kelas sosial dan nilai-nilai yang ada pada hakim lebih berfungsi dalam pengambilan keputusan
hukum dari pada aturan-aturan yang tertulis.

Llewellyn sebagai salah satu tokoh pragmatic realisme hukum, menganalisa perkembangan
hukum di dalam kerangka hubungan antara pengetahuan-pengetahuan hukum dengan perubahan-
perubahan keadaan masyarakat. Hukum merupakan bagian dari kebudayaan yang antara lain mencakup
kebiasaan, sikap-sikap maupun cita-cita yang ditransmisikan dari suatu generasi tertentu ke generasi
berikutnya. Dengan kata lain, hukum merupakan bagian kebudayaan yang telah melembaga. Lembaga-
Lembaga tersebut telah terorganisir dan harapannya terwujud di dalam aturan-aturan eksplisit yang
wajib ditaati serta didukung oleh para ahli. Jadi yang namanya hukum itu bukan hanya yang tertulis
dalam Undang-Undang atau ketentuan dan peraturan tertulis, namun lebih besar ditentukan oleh hakim
di pengadilan yang pada umumnya didasarkan pada kenyataan di lapangan. Hakim punya otoritas untuk
menentukan hukum ketika menjatuhkan putusan di pengadilan, meskipun putusannya itu dalam
beberapa hal tidak selalu sama dengan apa yang tertulis dalam Undang-Undang atau aturan lainnya.

Sehubungan dengan itu moralitas hakim sangat menentukan kualitas hukum yang merupakan
hasil putusan pengadilan itu. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa suatu kasus
tidak dapat diadili karena belum ada hukum tertulis yang mengaturnya.

Tokoh

1. Jerome New Frank (September 10, 1889 - 13 Januari 1957) adalah seorang filsuf hukum Amerika
dan penulis yang memainkan peran utama dalam gerakan realisme hukum, ketua Komisi
Securities and Exchange, dan banding hakim federal Amerika Serikat Pengadilan Banding untuk
Sirkuit Kedua. Lahir di New York City, orang tua Frank yang Herman Frank dan Clara New Frank.
ayah Frank, juga seorang pengacara, pindah keluarga ke Chicago pada tahun 1896, sebelum
menerima gelar sarjana dari University of Chicago pada tahun 1909. Frank meraih gelar sarjana
hukum dari Universitas Chicago Law School pada tahun 1912.

Pada tahun 1930, Frank diterbitkan Hukum dan Pikiran Modern, yang mengusulkan bahwa
keputusan pengadilan termotivasi terutama oleh pengaruh faktor psikologis pada hakim
individu. Pada tahun 1930, Frank pindah ke New York City, di mana dia berlatih sampai tahun
1933, juga bekerja sebagai peneliti di Yale Law School pada tahun 1932, di mana ia berkolaborasi
dengan Karl Llewellyn, dan berseteru dengan idealis hukum Roscoe Pound.

2. Oliver Wendell Holmes Jr. (8 Maret 1841 - 6 Maret 1935) adalah seorang ahli hukum Amerika
yang menjabat sebagai Associate Mahkamah Agung Amerika Serikat pada 1902-1932, dan
sebagai Pejabat Kepala Kehakiman Amerika Serikat sejak Januari- Februari 1930. Dia adalah salah
satu hakim hukum umum Amerika yang paling berpengaruh, dihormati selama masa hidupnya di
Britania Raya serta Amerika Serikat. Holmes pensiun dari Mahkamah pada usia 90 tahun,
membuatnya Keadilan tertua dalam sejarah Mahkamah Agung. Dia juga menjabat sebagai Hakim
Asosiasi dan sebagai Chief Justice di Massachusetts Yudisial Mahkamah Agung, dan Weld
Profesor Hukum di Harvard Law School, di mana dia adalah alumnus.

Holmes dalam tulisan-tulisannya meyatakan bahwa keputusan hakim yang sadar atau tidak sadar
berorientasi hasil, dan mencerminkan adat istiadat yang berkembang dalam masyarakat. Holmes
berpendapat bahwa peraturan hukum tidak disimpulkan melalui logika formal melainkan muncul
dari suatu proses aktif dari dalam diri manusia. Ia menjelajahi teori-teori ini pada tahun 1881
lewat bukunya The Common Law. Filosofinya mewakili keberangkatan dari yurisprudensi yang
berlaku dari waktu: formalisme hukum, yang menyatakan bahwa hukum adalah suatu sistem
tertib aturan yang keputusan dalam kasus-kasus tertentu bisa disimpulkan. Holmes berusaha
untuk sadar menemukan kembali hukum-untuk umum memodernisasi sebagai alat untuk
menyesuaikan diri dengan perubahan sifat kehidupan modern, sebagai hakim dari masa lalu
telah melakukan lebih atau kurang sadar.

3. Karl Llewellyn lahir pada 22 Mei 1893, di Seattle, namun dibesarkan di Brooklyn. Dia menempuh
pendidikan di Yale College dan Yale Law School, di mana ia menjabat sebagai pimpinan redaksi di
Yale Law Journal.

Llewellyn bergabung dengan Columbia Law School pada tahun 1925 hingga 1951, Ia diangkat
sebagai profesor dari University of Chicago Law School. Sementara di Columbia, Llewellyn
menjadi salah satu sarjana hukum utama dari zamannya. Dia adalah seorang pendukung utama
dari realisme hukum. Dia juga menjabat sebagai konseptor utama dari Uniform Commercial
Code (UCC).

Pandangan Pokok

Ahli-ahli pemikir dari aliran ini menaruh perhatian yang sangat besar terhadap keadilan
walaupun mereka berpendapat bahwa secara ilmiah tak dapat ditentukan apa yang dinamakan hukum
yang adil. Pokok-pokok pikiran dari aliran ini banyak dikemukakan oleh Justice Holmes dalam hasil
karyanya yang berjudul The Path of The Law. Di dalam buku tersebut , Holmes antara lain menyatakan,
bahwa kewajiban hukum hanyalah merupakan suatu dugaan bahwa apabila seseorang berbuat atau
tidak berbuat , maka dia akan menderita sesuai dengan keputusan suatu pengadilan.

Konsep Holmes tentang proses keadilan bahwa hakim-hakim tidak hanya menemukan hukum
akan tetapi dapat membentuk hukum. Hakim harus selalu milih, menentukan prinsip-prinsip mana yang
dipakai dan pihak-pihak mana yang akan menang.
Holmes membuat rumusan tentang: Hukum sebagai mekanisme pengadilan social, factor politis
dan kepentingan dalam hukum (termasuk hukum dan lapisan-lapisan social), hubungan antara kenyataan
hukum dengan hukum yang tertulis, hukum dan kebijaksanaan umum, segi perikemanusiaan dari hukum,
studi tentang keputusan-keputusan pengadilan dan pola-pola perilakunya

Karl Llewellyn mengembangkan teori tentang hubungan antara peraturan-peraturan hukum


dengan perubahan-perubahan social yang terjadi di masyarakat. Di dalam teorinya itu Llewellyn
menekankan pada fungsi hukum. Tugas pokok dari pengadilan adalah menetapkan fakta dan rekonstruksi
dari kejadian-kejadian yang telah lampau yang menyebabkan terjadinya perselisihan.

Aliran realisme hukum dengan buah pikirannya mengembangkan pokok-pokok pikiran yang
sangat berguna bagi penelitian-penelitian yang bersifat interdisipiner, terutama dalam penelitian-
penelitian yang memerlukan kerja antara ilmu hukum dengan ilmu-ilmu social.

Llewellyn beranggapan bahwa hukum dapt dianalisis dari perspektif kelembagaan, sehingga
dapat dipahami baik oleh para ahli hukum maupun para ahli sosiologi. Suatu lembaga hukum dapat
dianalisa dengan cara mengamati interaksinya, kaidah-kaidahnya maupun standar-standarnya. Dia
mendiskripsikan fungsi lembaga hukum dalam kerangka pekerjaan-pekerjaan hukum. Pekerjaan-
pekerjaan hukum tersebut menurut Llewellyn mencakup:

1. Menyelesaikan kasus-kasus sengketa


2. Penyaluran perilaku, kebiasan dan harapan-harapan, untuk mencegah atau mengurangi
timbulnya sengeketa
3. Menyalurkan kembali perilaku, membentuk kebiasaan baru serta harapan-harapan yang
sesuai dengan kondisi-kondisi kehidupan pribadi maupun kelompok yang berubah tanpa
menimbulkan sengketa baru
4. Mengadakan alokasi kekuasaan dan mengaturnya dalam kasus darurat, keraguan atau
pembaharuan

Karl Llewellyn mengemukakan pokok-pokok pendekatan hukum sebagai berikut: bahwa


hendaknya konsepsi hukum menyinggung hukum yang berubah-ubah dan hukum yang diciptakan oleh
pengadilan. Hukum adalah alat untuk mencapai tujuan-tujuan social.

Legal Realism (Holmes, Llewellyn, Frank)

Hukum sebagai mekanisme pengendalian social


Faktor-faktor politisi dan kepentingan dalam hukum (termasuk hukum dan lapisan-lapisan social)
Hubungan antara kenyataan hukum dengan hukum yang tertulis
Hukum dan kebijaksanaan-kebijaksanaan umum
Segi perikemanusiaan dari hukum
Studi tentang keputusan-keputusan pengadilan dan pola-pola perilakunya
Mempelajari proses hukum atau beraksinya hukum

Contoh Kasus
Harga BBM dikendalikan Pemerintah (Register No. 002/PUU-I/2003)

Pembacaan putusan atas judicial review Undang-Undang No. 22 Tahun 2001 tentang Migas bisa jadi
sidang yang paling banyak menyedot perhatian masyarakat. Apalagi, putusan dibacakan dua hari setelah
terjadi kenaikan harga BBM Pertamax dan elpiji. Ruang siding MK penuh, meluber hingga ke tangga di
bagian luar. Sementara di depan gedung ratusan hingga ribuan massa berdemo sehingga Jalan Medan
Merdeka Barat ditutup kecuali untuk satu jalur. Jalur busway terpaksa dibuka untuk bus reguler.

Tetapi di dalam sidang, hakim telah membacakan sebuah putusan mulus karena disetujui secara bulat
kesembilan hakim konstitusi. Meski tidak mengabulkan seluruh permohonan APHI, PBHI, Yayasan 324,
SNB dan Serikat Pekerja Karyawan Pertamina itu, MK telah mengembalikan konsep penanganan minyak
dan gas bumi ke dalam kerangka pasal 33 UUD 1945.

Selain merevisi sebagian isi pasal 12 ayat (3) dan pasal 22 ayat (1) UU Migas, MK juga mencabut kekuatan
mengikat pasal 28 ayat (2) dan ayat (3). Masalahnya, pasal yang disebut terakhir adalah pasal
penyerahan penentuan harga BBM kepada mekanisme pasar. MK berpendapat campur
tangan'pemerintah dalam kebijakan penentuan harga haruslah menjadi kewenangan yang diutamakan
untuk cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak. Pemerintah masih dapat
menentukan harga berdasarkan harga pasar.