Você está na página 1de 8

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Definisi Abortus


Abortus adalah berakhirnya janin sebelum janin dapat hidup di dunia
luar, tanpa mempersoalkan penyebabnya. Bayi baru mungkin hidup di dunia
luar bila berat badannya telah mencapai lebih daripada 500 gram atau umur
kehamilan lebih daripada 20 minggu (Sastrawinata et al., 2005)
2.2. Jenis-Jenis Abortus
1. Abortus Spontan
Abortus spontan adalah penghentian kehamilan tanpa intervensi
medis dan mekanis sebelum janin mencapai viabilitas (usia kehamilan 22
minggu). Tahap-tahap abortus spontan meliputi :
a. Abortus Imminens (kehamilan dapat berlanjut)
b. Abortus Insipiens (kehamilan tidak akan berlanjut dan akan
berkembang menjadi abortus inkomplit / komplit)
c. Abortus Inkomplit (sebagian hasil konsepsi telah dikeluarkan)
d. Abortus Komplit (seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan)
2. Abortus Buatan
Abortus buatan adalah suatu proses dihentikannya kehamilan dengan
sengaja digugurkan (provokatus) sebelum janin mencapai viabilitas.
a. Abortus buatan menurut kaidah ilmu (abortus artificialis atau abortus
tarapheuticus). Indikasi abortus untuk kepentingan (keselamatan) ibu,
seperti penyakit jantung, hipertensi asensial, karsinoma serviks.
Keputusan ini ditentukan oleh tim ahli yang terdiri dari dokter ahli
kebidanan, penyakit dalam dan psikiatri atau psikolog.
b. Abortus buatan kriminal adalah pengguguran kehamilan tanpa alasan
medis yang sah atau orang yang tidak berwenang dan dilarang oleh
hukum.
(Sumber : Universitas Sumatra Utara. Abortus pdf)

2.3. Etiologi Abortus


Penyebab abortus merupakan gabungan dari beberapa faktor. Umumnya
abortus didahului oleh kematian janin. Faktor-faktor yang dapat
menyebabkan terjadinya abortus :
2.3.1. Faktor janin
Berdasarkan hasil studi sitogenetika yang dilakukan di seluruh
dunia sekitar 50% hingga 60% mempunyai kelainan kariotipe (kelainan

2
kromosom). Sehingga sering dijumpai pada abortus adalah gangguan
pertumbuhan zigot, embrio, janin atau plasenta. Kelainan tersebut
biasanya menyebabkan abortus pada trimester pertama, yakni:
a. Kelainan telur, telur kosong (blight ovum), kerusakan embrio, atau
kelainan kromosom (monosomi, trisomi atau poliploid)
b. Embrio dengan kelainan lokal
c. Abnormalitas pembentukan plasenta (hipoplasi trofoblas)
2.3.2. Faktor maternal
1. Infeksi. Infeksi maternal dapat membawa risiko bagi janin yang
sedang berkembang, terutama pada akhir trimester pertama atau awal
trimester ke dua. Tidak diketahui penyebab kematian janin secara
pasti, apakah janin yang menjadi terinfeksi ataukah toksin yang
dihasilkan oleh mikroorganisme penyebabnya.
a. Virus : rubella, sitomegalovirus, virus herpes, simpleks,
varicella zooster, vaccinia, campak, hepatitis,
polio, dan ensefalomielitis
b. Bakteri : Salmonella typhi
c. Parasit : Toxoplasma gondii, plasmodium
2. Penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan abortus :
a. Penyakit vaskular : hipertensi vaskular
b. Kelainan endokrin : abortus spontan dapat terjadi bila produksi
progesteron tidak mencukupi atau pada penyakit disfungsi tyroid,
defisiensi insulin.
3. Riwayat. Pada wanita hamil yang memiliki riwayat keguguran 3
kali berturut-turut, risiko untuk terjadinya abortus pada kehamilan
seterusnya adalah sebesar 50%. (Klein haus et al., 2006; Berek,
2007)
2.3.3. Faktor imunologis
Ketidak cocokan (inkompatibilitas) sistem HLA (Human
Leukocyte Antigen)
2.3.4. Trauma
Kasusnya jarang terjadi, umumnya abortus terjadi segera setelah
trauma tersebut, misalnya trauma akibat pembedahan :
a. Pengangkatan ovarium yang mengandung korpus luteum
graviditatum sebelum minggu ke-8
b. Pembedahan intraabdominal dan operasi pada uterus pada saat
hamil.
2.3.5. Kelainan uterus
Hipoplasia uterus, mioma (terutama mioma submukosa), serviks in-
kompeten atau retroflexio uteri gravidi incarcerata.
2.3.6. Faktor eksternal
1. Radiasi
Dosis 1-10 rad bagi janin pada kehamilan 9 minggu pertama
dapat merusak janin dan dosis yang lebih tinggi dapat menyebabkan
keguguran

3
2. Obat-obatan
Obat-obatan antagonis asam folat, antikoagulan, dan lain-lain.
Sebaiknya tidak menggunakan sebelum 16 minggu, kecuali telah
dibuktikan bahwa obat tersebut tidak membahayakan janin atau
untuk pengobatan penyakit ibu yang parah
3. Bahan-bahan kimia lainnya, seperti bahan yang mengandung arsen d
an benzen
(Sumber : Sulaeman, Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi.2005)

2.4. Diagnosis Kegawatdaruratan pada Kehamilan Muda

Kemungkinan abortus pada wanita usia reproduktif yang mengalami


terlambat haid (terlambat dengan jangka waktu lebih dari satu bulan sejak
waktu haid terakhirnya) dan mempunyai satu atau lebih tanda berikut ini :
perdarahan, kaku perut, pengeluaran sebagian produk konsepsi, serviks yang
berdilatasi atau uterus yang lebih kecil dari seharusnya.

Pengkajian dan Diagnosis Perdarahan pada Kehamilan Muda

Perdarahan Serviks Uterus Gejala/tanda Diagnosis


Kram perut bawah,
Sesuai
Uterus lunak, Abortus
Tertutup dengan usia
Amenore, PP test + Imminens
Bercak gestasi
hingga
Sedikit/tanpa nyeri
sedang Lebih kecil
Tertutup/ perut bawah Abortus
dari usia
terbuka Riwayat akspulsi Komplit
gestasi
hasil konsepsi
Kram atau nyeri
perut bawah
Sesuai usia Abortus
Belum terjadi
Sedang kehamilan Insipiens
ekspulsi hasil
hingga konsepsi
Terbuka
masif /
Kram atau nyeri
banyak
perut bawah Abortus
Ekspulsi sebagian Inkomplit
hasil konsepsi

4
(Sumber : Saifuddin, Panduan Prakstis Pelayanan Maternal dan Neonatal.2006)

2.5. Penatalaksanaan Asuhan Kegawatdaruratan

Jika dicuragai suatu abortus tidak aman terjadi, periksalah adanya


tanda-tanda infeksi atau adanya perlukaan uterus, vagina dan usus.
Dan lakukan irigasi vagina untuk mengeluarkan tumbuh-tumbuhan,
obat-obat lokal atau bahan lainnya.
1. Abortus Imminens
a. Tidak perlu pengobatan khusus atau tirah baring total
b. Jangan melakukan aktivitas fisik berlebihan atau hubungan seksual
c. Jika perdarahan :
a) Berhenti : lakukan asuhan antenatal seperti biasa. Lakukan penilaian
jika perdarahan terjadi lagi
b) Terus berlangsung : nilai kondisi janin (uji kehamilan/USG). Lakukan
konfirmasi kemungkinan adanya penyebab lain. Perdarahan berlanjut,
khususnya jika ditemui uterus yang lebih besar dari yang diharapkan,
mungkin menunjukan kehamilan ganda atau mola.

Tidak perlu terapi hormonal (estrogen atau progestin) atau


tokolitik (seperti salbutamol atau indometasin) karena obat-obat
ini tidak dapat mencegah abortus
2. Abortus Insipiens
Jika usia kehamilan kurang dari 16 minggu, lakukan evakuasi uterus
dengan Aspirasi Vakum Manual (AVM). Jika evakuasi tidak dapat segera
dilakukan :
a. Berikan ergometrin 0,2 mg I.M (dapat diulang setelah 15 menit jika
perlu) ATAU misoprostol 400 mcg peroral (dapat diulang sesudah 4 jam
jika perlu)
b. Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus
Jika usia kehamilan lebih dari 16 minggu :
1. Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi, kemudian evakuasi sisa-sisa
hasil konsepsi
2. Jika perlu, lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan I.V.
(garam fisiologik atau larutan Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes
permenit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi.

3. Abortus Inkomplit
Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan

5
a. Jika perdarahan tidak seberapa banyak dan kehamilan kurang dari 16
minggu, evakuasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam
ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks.
Jika perdarahan berhenti, berikan ergometrin 0,2 mg I.M. atau
misoprostol 400 mcg per oral.
b. Jika perdarahan banyak dan terus berlangsung dan usia kehamilan kurang
dari 16 minggu evakuasi sisa hasil konsepsi dengan :
a) Aspirasi Vakum Manual (AVM). Evakuasi dengan Kuret tajam
sebaiknya hanya dilakukan jika AVM Tidak tersedia.
b) Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera, beri ergometrin 0,2 mg
I.M. (dapat diulang setelah 15 menit jika perlu) ATAU misoprostol
400 mcg peroral (dapat diulang sesudah 4 jam jika perlu)
c. Jika kehamilan lebih dari 16 minggu :
1. Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan I.V. (garam
fisioliogik atau Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes /menit
sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi
2. Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg pervaginan setiap 4 jam
sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800mcg)
3. Evakuasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus

4. AbortusPastikan
Komplituntuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan
a. Tidak perlu evakuasi lagi
b. Observasi untuk melihat adanya perdarahan banyak
c. Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah enanganan
d. Apabila terdapat anemia sedang, berikan tablet sulfas surosus 600
mg/hari selama 2 minggu, jika anemia berat berikan transfusi darah
e. Konseling Asuhan Pasca keguguran dan pemantauan lanjut

2.6. Pemantauan Pasca Abortus


Sebelum ibu diperbolehkan pulang, diberitahu bahwa abortus spontan
merupakan hal yang biasa terjadi dan terjadi paling sedikit 15 % (1 dari 7
kehamilan) dari seluruh kehamilan yang diketahui secara klinis. Berilah
keyakinan akan keberhasilan untuk kehamilan berikut kecuali jika terdapat
sepsis atau adanya penyebab abortus yang dapat mempunyai efek samping
pada kehamilan berikut (jarang terjadi).
Beberapa wanita mungkin ingin hamil langsung setelah suatu abortus
inkomplit. Ibu sebaiknya diminta untuk menunda kehamilan berikut sampai ia
benar-benar pulih. Untuk ibu dengan riwayat abortu tidak aman, konseling

6
merupakan hal yang penting. Jika kehamilan tersebut merupakan kehamilan
yang tidak diinginkan, beberapa metode kontrasepsi dapat segera dimulai
(dalam waktu 7 hari) dengan syarat :
1. Tidak terdapat komplikasi berat yang membutuhkan penanganan lebih
lanjut
2. Ibu mendapatkan konseling dan bantuan secukupnya dalam memilih
metode kontrasepsi yang paling sesuai.
Juga kenali pelayanan kesehatan reproduksi lainnya yang dibutuhkan oleh
ibu. Sebagai contoh beberapa wanita mungkin membutuhkan :
1. Jika pasien pernah diimunisasi, berikan booster tetanus toksoid 0,5 ml.
Jika dinding vagina atau kanalis servikalias tampak luka atau
terkontaminasi
2. Jika riwayat imunisasi tidak jelas, berikan serum anti tetanus (ATS) 1.500
unit I.M. diikuti dengan tetanus toksoid 0,5 ml setelah 4 minggu
3. Penatalaksanaan untuk penyakit menular seksual
4. Penapisan kanker serviks.
(Sumber : Saifuddin, Panduan Prakstis Pelayanan Maternal dan Neonatal.2006)

BAB III
SOAP KEGAWATDARURATAN KEHAMILAN MUDA

Hari/Tanggal : Senin/28 April 2014

7
Waktu pengkajian : Pukul 09.00 WIB
Tempat Pengkajian : PKM Melati
Pengkaji : Bd. N

A. Data Subjektif
1. Identitas
Istri Suami
Nama : Ny. C Tn.B
Usia : 20 tahun 26 tahun
Suku : Sunda Sunda
Agama : Islam Islam
Pendidikan : SMP SMA
Pekerjaan : IRT Buruh
Alamat : Kp.Iwul 02/01 Kp.Iwul 02/01

2. Keluhan Umum
Ibu mengeluh keluar darah sedang dari kemaluan dan nyeri pada perut
bagian bawah sejak kemarin. Ibu mengaku telat haid 2 bulan yang lalu,
pernah melaksanakan pp test sendiri dengan hasil positif, sudah pernah
periksa ke tenaga kesehatan satu kali. Kemarin sempat terpeleset di kamar
mandi dan jatuh terduduk.

3. Riwayat Kehamilan Sekarang


Ini adalah kehamilan pertama, hari pertama haid terakhir tanggal 20 Januari
2014, taksiran perslinan tanggal 27 Oktober 2014. Mengaku baru ssatu kali
periksa kehamilan.

4. Riwayat Kesehatan Ibu dan Keluarga


Ibu merasa dirinya dan keluarganya tidak ada yang mempunyai penyakit
jantung, tidak mengalami demam tinggi sejak 3 bulan lalu. Ibu tidak
mengalami cacar 3 bulan terakhir ini Tidak ada keturunan kembar baik dari
keluarganya maupun dari suaminya. Dan ibu tidak memiliki hewan
peliharaan apapun.

5. Riwayat Psikososial
Ini adalah pernikahan pertamanya, sudah menikah selama 1 tahun. Ibu
menikah pada saat usia 19 tahun dan suami usia 25 tahun. Suami dan
keluarga senang jika dirinya hamil karena sangat mengharapkan. Pengambil

8
keputusan di keluarga adalah suami, tidak ada budaya atau pantangan yang
membahayakan kehamilan.

6. Pola Kegiatan Sehari-hari


a. Nutrisi : - Makan 3 kali sehari menu, nasi, lauk
pauk, buah, habis setengah porsi, kadang
mual.
- Minum 5 gelas sehari.
b. Eliminasi : BAK 7 kali sehari BAB 1 kali sehari
c. Kebiasaan Hidup Sehat : Ibu tidak merokok, mengkonsumsi alkohol
maupun obat terlarang, tetapi suaminya
merokok.
d. Istirahat : Tidur malam 8 jam sehari, tidak tidur
siang.
e. Kegiatan : Hubungan seksual terakhir 3 hari lalu.
f. Personal Hygiene : Mandi 2 kali sehari.
g. Beban Kerja : Melakukan pekerjaan rumah kadang
dibantu oleh suami.
B. Data Objektif
1. Keadaan Umum&Emosi : Sedang
2. Tanda-tanda Vital : TD = 100/70 mmHg N = 90 xmenit
P = 24 x/menit S = 37,6 0C

3. Mata : Konjungtiva tampak pucat dan sklera putih


4. Mulut : Bibir dan gusi tampak pucat
5. Abdomen : Tidak ada luka bekas operasi, TFU 3 jari di
atas simpisis.
6. Genitalia
Inspeksi : Tampak pengeluaran darah sedang pervaginam
Inspekulo : Serviks terbuka
7. Pemeriksaan Penunjang : HB = 10 gr %

C. Analisa
G1P0A0 , 14 minggu, dengan abortus insipien.
D. Penatalaksanaan
1. Memberitahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan
2. Memberitahu ibu untuk bersabar dan berdoa
3. Melakukan penanganan awal dengan memberikan pemasangan infus RL
500ml
4. Mempersiapkan persiapan rujukan.