Você está na página 1de 3

AZAZ HUKUM INTERNATIONAL

Dalam pelaksanaan hukum internasional sebagai bagian dari hubungan internasional, dikenal
ada beberapa asas atau prinsip hukum antara lain:

1. PACTA SUNT SERVANDA, yaitu setiap perjanjian yang telah dibuat harus ditaati oleh
pihak-pihak yang mengadakannya.

2. EQUALITY RIGHTS, yaitu negara yang saling mengadakan hubungan itu berkedudukan
sama.

3. RECIPROSITAS (asas timbal-balik), yaitu tindakan suatu negara terhadap negara lain
dapat dibalas setimpal, baik tindakan yang bersifat negatif atau pun posistif.

4. COURTESY, yaitu asas saling menghormati dan saling menjaga kehormatan masing-
masing negera.

5. REBUS SIC STANTIBUS, yaitu asas yang dapat digunakan untuk memutuskan perjanjian
secara sepihak apabila terdapat perubahan yang mendasar/fundamental dalam keadaan yang
bertalian dengan perjanjian internasional yang telah disepakati.

6. Asas Teritorial, menurut asas ini, negara melaksanakan hukum bagi semua orang dan
semua barang yang ada di wilayahnya dan terhadap semua barang atau orang yang berada di
wilayah tersebut, berlaku hukum asing (internasional) sepenuhnya.

7. Asas Kebangsaan, asas ini didasarkan pada kekuasaan negara untuk warga negaranya,
menurut asa ini setiap negara di manapun juga dia berada tetap mendapatkan perlakuan
hukum dari negaranya. Asas ini mempunyai kekuatan ekstrateritorial, artinya hukum negera
tersebut tetap berlaku juga bagi warga negaranya, walaupun ia berada di negara asing.

8. Asas Kepentingan Umum, asas ini didasarkan pada wewenang negara untuk melindungi
dan mengatur kepentingan dalam kehidupan masyarakat, dalam hal ini negara dapat
menyesuaikan diri dengan semua keadaan dan peristiwa yang berkaitan dengan kepentingan
umum, jadi hukum tidak terikat pada batas-batas wilayah suatu negara.

Menurut Resolusi majelis Umum PBB No. 2625 tahun 1970, ada tujuh asas, yaitu :
1. Setiap negara tidak melakukan ancaman agresi terhadap keutuhan wilayah dan kemerdekaan
negara lain. Dalam asas ini ditekankan bahwa setiap negara tidak memberikan ancaman
dengan kekuatan militer dan tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan piagam
PBB.
2. Setiap negara harus menyelesaikan masalah internasional dengan cara damai, Dalam asas
ini setiap negara harus mencari solusi damai, menghendalikan diri dari tindakan yang dapat
membahayakan perdamaian internasional.
3. Tidak melakukan intervensi terhadap urusan dalam negeri negara lain. Asas ini menekankan
setiap negara memiliki hak untuk memilih sendiri keputusan politiknya, ekonomi, sosial dan
sistem budaya tanpa intervensi pihak lain.
4. Negara wajib menjalin kerjasama dengan negara lain berdasar pada piagam PBB, kerjasama
itu dimaksudkan untuk menciptakan perdamaian dan keamanan internasional di bidang Hak
asasi manusia, politik, ekonomi, social budaya, teknik, perdagangan.
5. Asas persaman hak dan penentuan nasib sendiri, kemerdekaan dan perwujudan kedaulatan
suatu negara ditentukan oleh rakyat.
6. Setiap negara harus dapat dipercaya dalam memenuhi kewajibannya, pemenuhan kewajiban
itu harus sesuai dengan ketentuan hukum internasional.
7. Asas persamaan kedaulatan dari negara, Setiap negara memiliki persamaan kedaulatan
secara umum sebagai berikut :
a. Memilki persamaan Yudisial (perlakuan hukum)
b. Memiliki hak penuh terhadap kedaulatan
c. Setiap negara menghormati kepribadian negara lain.
d. Teritorial dan kemerdekanan politik suatu negara adalah tidak dapat diganggu gugat.
e. Setiap negara bebas untuk membangun sistem politik, sosial, ekonomi dan sejarah
bangsanya.
f. Setiap negara wajib untuk hidup damai dengan negara lain.

SUBJEK HUKUM INTERNASIONAL

Subjek hukum adalah pihak yang dapat dibebani hak dan kewajiban yang diatur oleh
hukum. Sedanglan subjek hukum internasional yang dimaksud adalah orang, badan, atau lebaga
yang dianggap mampu melakukan tindaka hukum.
Subjek hukum internasional merupakan pihak yang dapat di bebani hak dan kewajiban,
serta dalam hubungan internasional. Subjek hukum internasional meliputi negara, tahta suci,
Palang Merah Internasional, individu, serta pemberontak dan pihak dalam sengketa.

1. Negara
Negara adadalah subjek hukum internasional dalam arti klasik, yaitu sejak lahirnya hukum
internasional. Sampai saat ini masih ada anggapan bahwa hukum internasional pada
hakikatnya adalah hukum antar negara. Negara yang dimaksud disini adalah negara
merdeka, berdaulat, dan tidak merupakan bagian dari suatu negara. Negara yang berdauat
artinya negara yang mempunyai pemerintahan sendiri secara penuh, yaitu kekuasaan penuh
terhadap warga negara dalam lingkungan kewenangan negara tersebut.
2. Tahta suci
Tahta suci merupakan salah satu subjek hukum internasional yang telah ada sejak dahulu
disamping negara. Tahta suci disini adalah gereja Katolik Roma yang diwakili oleh Paus di
Vatikan. Hal ini merupakan peninggalan sejarah ketika Paus bukan hanya merupakan kepala
gereja Roma, tetapi juga memiliki kekuasaan duniawi. Tahta suci merupakan suatu subjek
yang sejajar kedudukannya dalam negara. Hal ini terjadi sejak diadakannya perjanjian
antara Italia dengan Tahta Suci di Vatikan tanggal 11 Juli 1929.
3. Palang merah internasional
Organisasi ini menjadi subjek hukum yang terbatas dan lahir karena sejarah. Palang merah
internasional kedudukannya diperkuat dalam perjanjian. Pada saat ini palang merah
internasional secara umum diakui sebagai organisasi internasonal yang memiliki kedudukan
sebagai subjek hukum internasional tersendiri.
4. Organisasi internasional
Organisasi Internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Buruh
Internasional (ILO), mempunyai hak dan kewaiban yang ditetapkan dalam konvensi-
konvensi internasional yang merupakan semacam anggaran dasarnya. Artinya, kedudukan
organisasi internasional sebagai subyek hukum internasional tidak diragukan lagi, walaupun
pada mulanya belum adanya kepastian mengenai hal ini.
5. Perusahaan multinasional
Perusahaan multinasional memang merupakan fenomena baru dalam hukum dan hubungan
internasional. Eksistensinya dewasa ini, memang merupakan suatu fakta yang tidak bisa
disangkal lagi. Di beberapa tempat, negara-negara dan organisasi perusahaan-perusahaan
multinasional. Hubungan ini kemudian melahirkan hak-hak dan kewajiban internasional,
yang tentu saja berpengaruh terhadap eksistensinya, struktur, substansi, dan ruang lingkup
hukum internasional itu sendiri.
6. Individu
Individu dalam melakukan tindakan atau kegiatan akan memperoleh penilaian positif atau
negatif sesuai dengan kehendak demi kehidupan masyarakat dunia. Individu telah lama
dianggap sebagai subjek hukum internasional. Hal ini antara lain terdapat dalam Perjanjian
Versailes (1919) dan perjanjian antara Jerman dengan Polandia (1922). Selain perjanjian
tersebut, pengakuan individu sebagai subjek hukum terdapat dalam Keputusan Mahkamah
Internasional Permanen yang menyangkut pegawai kerja api Danzig, serta keputusan
organisasi regional dan transional seperti PBB, ILO dan masyarakat Eropa.
7. Pemberontak dan pihak dalam sengketa
Menurut hukum perang, pemberontak dapat memperoleh kedudukan dan hak sebagai pihak
yang bersengketa (beligerent) dalam beberapa keadaan tertentu. Hak-hak tersebut meliputi
hak untuk menentukan nasibnya sendiri, memilih sistem, serta menguasai sumber kekayaan
alam diwilayahnya.