Você está na página 1de 13

ANAK BERKELAINAN AKADEMIK

I. ANAK BERBAKAT
A. Pengertian Anak Berbakat
United States Office of Education (USOE) mendefinisikan anak-anak
berbakat adalah mereka yang oleh orang-orang profesional diidentifikasikan
sebagai anak-anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mereka
memiliki kemampuan-kemampuan yang unggul.
Menurut Mo nks , anak berbakat adalah anak yang memiliki kemampuan
intelektual, kreativitas dan motivasi yang tinggi serta adanya dukungan dari faktor
lingkungan sosial. Konsep keberbakatan ini menunjukkan bahwa kompetensi
internal (intelektual, kreativitas dan motivasi) tidak akan terwujud bila lingkungan
(sekolah, keluarga dan teman sebaya) tak memberi kesempatan atau mendukung
untuk berkembang .

B. Klasifikasi Anak Berbakat


Anak berbakat dalam konteks ini adalah anak-anak yang mengalami
kelainan intelektual di atas rata-rata. Berkenaan dengan kemampuan intelektual
ini Cony Semiawan (1997:24) mengemukakan, bahwa diperkirakan satu persen
dari populasi total penduduk Indonesia yang rentangan IQ sekitar 137 keatas,
merupakan manusia berbakat tinggi (highly gifted), sedangkan mereka yang
rentangannya berkisar 120-137 yaitu mencakup rentangan 10 persen di bawah
yang satu persen itu disebut moderately gifted . Mereka semua memiliki talen
akademik (academic talented) atau keberbakatan intelektual.
Beberapa klasifikasi yang menonjol dari anak-anak berbakat umumnya
hanya dilihat dari tingkat inteligensinya, berdasarkan standar Stanford Binet ,
yang meliputi :
1. Kategori rata-rata tinggi ,dengan tingkat kapasitas intelktual (IQ) : 110-119
2. Kategori superior , dengan tingkat kapasitas intelektual (IQ) : 120-139
3. Kategori sangat superior ,dengan tingkat intelektual (IQ) : 140-169

1
C. Kebutuhan Pendidikan Anak Berbakat
1. Kebutuhan Pendidikan dari Segi Anak Berbakat itu Sendiri
Oleh karena potensi yang dimiliki anak berbakat sedemikian hebatnya
jika dibandingkan dengan anak biasa maka untuk mengembangkan
potensinya mereka membutuhkan hal-hal berikut ini :
a. Anak berbakat membutuhkan peluang untuk mencapai aktualisasi
potensinya melalui penggunaan fungsi otak yang efektif dan efisien .
b. Membutuhkan peluang untuk dapat berinteraksi dengan anak-anak
lainnya sehingga mereka tidak menjadimanusia yang memiliki
superioritas intelektual saja tetapi merupakan manusia yang
mempunyai tingkat penyesuaian yang tinggi pula.
c. Membutuhkan peluang untuk mengembangkan kreativitas dan
motivasi internal untuk belajar berprestasi karena usaha
pengembangan anak berbakat tidak semata-mata hanya pada aspek
kecerdasan saja .
2. Kebutuhan pendidikan yang Berkaitan dengan Kepentingan Masyarakat
Kehadiran anak berbakat dengan potensinya yang bermakna sangatlah
merugikan jika potensi yang dimiliki anak tersebut tidak diakomodasi
dan didorong untuk berkembang sehingga dapat berguna dalam
pengembangan bangsa dan negara. Oleh karena itu ,pendidikan anak
berbakat membutuhkan dukungan dari masyarakat, antara lain sebagai
berikut :
a. Membutuhkan kepedulian dari masyarakat terhadap pengembangan
potensi anak berbakat
b. Membutuhkan pengembangan SDM berbakat .
c. Anak berbakat membutuhkan keserasian antara kemampuannya
dengan pengalaman belajar .
d. Membutuhkan usaha untuk mewujudkan kemampuan anak berbakat
secara nyata (real) melalui latiahan yang sesuai dengan segi
keberbakatan anak berbakat itu sendiri

2
D. Jenis-jenis Layanan Bagi Anak-anak Berbakat
1. Komponen sebagai Persiapan Penentuan Jenis Layanan
Sebelum menentukan jenis layanan pendidikan bagi anak berbakat, kita
perlu memperhatikan beberapa hal yang penting, antara lain sebagai
berikut :
a. Pengidentifikasian anak berbakat
Karakteristik anak berbakat yang dikemukakan pada uraian
sebelumnya diharapkan dapat memperlancar usaha penemuan dan
penempatan anak berbakat. Hal tersebut sangat membantu dalam
menetapkan kebutuahan pendidikan anak berbakat .
Alatalat yang digunakan dalam identifikasi berfokus pada
bebrapa hal, seperti yang dikemukakan oleh Kirk (1986) yaitu
kelncaran (kemampuan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan
yang diberikan), kelenturan (kemapuan untuk memberikan berbagai
macam jawaban atau beralih dari satu macam respons ke respons
lain), dan kemurnian (kemampuan untuk memberikan respons yang
unik dan layak).
Selanjutnya Renzulli, dkk seperti dikutip Conny Semiawan
(1995) mengemukakan bahwa identifikasi anak berbakat harus
mewakili kawasan-kawasan kemapuan intelektual umum,komitmen
terhadap tugas dan kreativitas.
b. Tujuan umum pendidikan anak berbakat
Tujuan program pendidikan anak berbakat adalah:
1. Anak-anak berbakat harus menguasai system konseptual yang
penting ada pada tingkat kemampuan mereka dalam berbagai
bidang mata pelajaran.
2. Anak-anak berbakat harus mengembangkan keterampilan dan
strategi yang memungkinkan mereka menjadi mandiri, kreatif, dan
memenuhi kebutuhan dirinya.

3
3. Anak-anak berbakat harus mengembangkan suatu kesenangan dan
kegairahan tentang belajar yang akan membawa mereka melalui
kerja keras dan kerutinan yang merupakan bagian proses yang tidak
dapat dihindarkan (Samuel A. Kirk, 1986).
Kebutuhan pendidikan anak berbakat baik itu kepentingan individu
anak berbakat itu sendiri maupun untuk kepentingan masyarakat.
2. Komponen sebagai alternatif implementasi jenis layanan
Hal yang berkaitan dengan implementasi layanan pendidikan anak
berbakat yaitu ciri khas layanan yang sesuai dengan kebutuhan anak
berbakat.
(1) Adaptasi lingkungan belajar
Ada beberapa alasan dalam mengadaptasi lingkungan belajar yaitu:
a. Untuk memberikan kesempatan anak berbakat dalam berinteraksi
dengan teman seusianya dalam jangka waktu tertentu.
b. Untuk memudahkan guru dalam mengajar karena berkurangnya
keanekaragaman siswa.
c. Untuk menempatkan siswa berbakat dengan pengajar yang
mempunyai keahlian khusus dalam menangani anak berbakat.
(2) Adaptasi program
Adaptasi program dilakukan dalam beberapa cara, diantaranya
sebagai berikut:
a. Melalui percepatan/akselerasi siswa
Stanley mengemukakan ada beberapa cara percepatan yaitu:
1. Pemasukan sekolah pada usia dini
2. Pelompatan tingkat/kelas
3. Percepatan materi anak
4. Penempatan yang maju
5. Pemasukan ke perguruan tinggi yang lebih awal
b. Melalui pengayaan
Pengayaan isi (mata pelajaran) memberikan kesempatan pada
siswa untuk memberikan materi pada siswa untuk mempelajari

4
materi secara luas, seperti menggunakan ilustrasi khusus,
membuat contoh-contoh, memperkaya pandangan, dan
menemukan sesuatu.
c. Pencanggihan materi pelajaran
Materi pelajaran harus menantang anak berbakat untuk
menggunakan pemikiran atau yang tinggi agar mengerti ide, dan
memiliki abstraksi yang tinggi.
d. Pembaruhan
Pembaruhan isi pelajaran adalah pengenalan materi yang tak
biasanya tak akan muncul dalam kurikulum umum karena
keterbtasan waktu atau abstraknya sifat isi pelajaran.

II. MAKNA KESULITAN BELAJAR


Kesulitan belajar terdiri dari dua kata yaitu kesulitan dan belajar sebelum
dikemukan makna kesulitan belajar perlu dijelaskan pengertian belajar dan
kesulitan itu sendiri. Menurut para ahli dijelaskan dalam kurikulum nasional.
a. Hamilletal(1981) Kesulitan belajar adalah beragam bentuk kesulitan yang
menyatakan dalam aktipitas mendengarkan, bercakap-cakap, membaca,
menulis, menalar dan dalam berhitung. Gangguan tersebut berupa
gangguan intrinsik yang diduga karna adanya disfungsi sistem syaraf
pusat. Kesulitan belajar bisa terjadi dengan gangguan lain, misalnya
gangguan sensoris, hambatan sosial, emosional dan pengaruh lingkungan,
misalnya perbedaan budaya atau proses pembelajaran yang tidak sesuai.
b. ACCALD (Association Committee For Children And Adult Learning
Disabilities) dalam lovit (1989) Kesulitan belajar khusus adalah suatu
kondisi kronis yang diduga bersumber dari masalah neurologis, yang
mengganggu perkambangan kemampuan mengintegrasikan dan
kemampuan bahasa verbal dan non verbal. Individu berkesulitan belajar
memiliki intelegensi tergolong rata-rata atau diatas rata-rata dan memiliki
cukup kesempatan untuk belajar mereka tidak memiliki gangguan sistem
sensoris.

5
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar
merupakan gangguan dalam menyimak berbicara, membaca, menulis, dan
berhitung karena faktor internal individu itu sendiri, yaitu difungsi minimal otak,
kesulitan belajar bukan disebabkan oleh faktor eksternal berupa lingkungan,
sosial, budaya, fasilitas belajar dan lain-lain.
A. Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar seorang anak biasanya tampak jelas dari menurunnya
kinerja akademik atau belajarnya namun kesulitan belajar dapat diartikan juga
dapat dibuktikan dengan munculnya kelainan perilaku (misbehavior) anak seperti
kesukaan berteriak dalam kelas, mengusik teman, berkelahi, sering tidak masuk
sekolah, dan gemar membolos.
Ciri-ciri anak yang sulit memusatkan perhatian biasanya ceroboh, sulit
berkonsentrasi, seperti tidak mendengar bila diajak bicara, gagal menyelesaikan
tugas, sulit mengatur aktifitas, menghindari tugas yang memerlukan pemikiran,
kehilangan barang-barang, perhatian dan mudah teralihkan dan pelupa.
Sedangkan ciri-ciri dari hiperaktivitas adalah terus menerus bergerak
memainkan jari atau kaki saat duduk, sulit duduk diam dalam waktu lama,
berlarian atau memanjat secara berlebihan yang tidak sesuai dengan situasi, atau
bicara dengan berlebihan, impulsivitas dalam prilaku yang langsung menjawab
sebelum pertanyaan belum selesai diajukan, sulit menunggu giliran dan senang
menginterupsi atau mengganggu orang lain.
Gangguan pemusatan perhatian ini disebabkan oleh beberapa hal antara lain:
1. Adanya kelainan anatomis
2. Gangguan neourotrasmiter
3. Faktor genetik, seperti saudara kandung
4. Adanya kelainan fungsi inhibisi perilaku dan kontrol diri
5. Gangguan intergensi sensorik dan persepsi
6. Gaya hidup yang tidak sehat
7. Pola hidup yang kurang disiplin

B. Faktor Internal

6
Faktor internal adalah berasal dari dalam diri anak itu sendiri, faktor internal
sangat tergantung pada perkembangan fungsi dari otaknya, adapun faktor internal
tersebut adalah faktor jasmaniah dan faktor psikologis.
Faktor internal yang mempengaruhi hasil belajar seseoran adalah:
1. Daya ingat rendah
Daya ingat rendah sangat memengaruhi hasil belajar seorang anak yang
sudah belajar dengan keras namun mempunyai daya ingat di bawah rata-
rata, hasilnya akan kalah dengan anak yang mempunyai daya ingat yang
tinggi.
2. Tergantung nya alat-alat indra
Kita semua pasti tahu, kesehatan merupakan salah satu hal paling yang
menentukan aktivitas sehari-sehari. Begitu juga dengan belajar
bagaimana seorang dapat belajar dengan baik apabila kesehatan tubuh
nya tidak mendukung. Seorang yang cacat mata tentu akan merasa
kesulitan saat mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan dunia
penglihatan. Usia anak juga merupakan salah satu faktor yang dapat
menyebabkan gangguan belajar pada anak. Anak belum waktunya (umur
masih dibawah yang dipersyaratkan), misalnya anak 6 tahun dimasukan
dalam sekolah dasar berusia 7 tahun.
3. Jenis kelamin
Jenis kelamin juga mempengaruhi hasil belajar anak. Belajar yang
berhubungan dengan ilmu sosial dibandingkan ilmu pasti. Sedangkan
anak laki-laki lebih menyukai pelajaran yang langsung dengan praktik
seperti komputer, teknik otomotif dan lain lain.
4. Kebiasaan Belajar/Runtinitas
Seorang anak yang terbiasa belajar dengan kata lain tertentu juga akan
mengalami perbedaan dengan anak yang belajar setiap hari.
5. Tingkat Kecerdasan (Inteligensi)
Sebagai satu-satunya yang menentrukan kecerdasan seseorang, yang
mempengaruhi pada kesulitan belajar seseorang. Merupakan kemampuan
umum seseorang dalam menyesuaikan diri, belajar, atau berpikir abstrak.

7
6. Minat
Minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Minat
timbul dalam diri seseorang untuk memperhatiakn, meneriama, dan
melakukan tanpa ada yang menyuruh sesuatu dinilai atau berguna bagi
dirinya.
7. Emosi (perasaan)
Emosi juga mempengaruhi hasil belajar seseorang. Emosi diartikan
sebagai tergugahnya perasaan yang disertai dengan perubahan-perubahan
dalam tubuh seperti otot menegang atau jantung bedebar dengan emosi,
seseorang dapat merasakan cinta, kasi sayang, cemburu, rasa takut, dan
semangat. Emosi itulah yang akan membantu mempecepat proses
pembelajaran.
Sebagai contoh, seorang anak tentu merasa terganggu belajarnya saat
suatu masalah terjadi, seperti ditinggal saudara kandungnya tersayang,
kehilangan sesuatu yang dicintainya, dan sebagainya. Tidak mungkin iya
dapat belajar dengan baik saat emosi (perasaannya) turut menyertainya.
8. Motivasi atau cita-cita
Motivasi memegang peranan penting dalam pencapaian suatu keberasilan
suatu hal. Motipasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang
yang disadari atau untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan
tertentu.
9. Sikap dan perilaku
Perilaku yang berpengaruh pada tingkat kecerdasan seseorang dapat
tumbuh dan berkembang secara optimal. Yang akan mengalami berbagai
macam hambatan dalam tumbuh kembangnya seperti gangguan
perkembangan fisik, atau interaksi sosial dengan lingkungannya.
10. Konsentrasi Belajar

8
Konsentrasi belajar juga dipengaruhi oleh daya pada anak yang sedang
belajar. Anak dengan konsentrasi tinggi untuk belajar akan tetap belajar
meskipun banyak faktor memengaruhi seperti kebisingan, acara lebih
menarik dan sebagainya.

11. Kemampuan Unjuk Hasil Belajar


Seseorang yang bias saja atau bahkan lebih rendah dari temannya juga
dapat menjadi faktor kesulitan belajar. Jika yang dilakukan maksimal
hasilnya minimal akan membuat seseorang menjadi down untuk belajar.
12. Rasa Percaya Diri
Rasa percaya diri merupakan modal belajar yang sangat penting
seseorang untuk merasa dirinya mampu mempelajari seseuatu
keyakinannya itu akan menentukan keberhasilan.
13. Kematangan atau Kesiapan
Kematangan bagi anak yang sedang belajar mengandung banyak sekali
kemungkinan untuk berkembang baik jasmani maupun rohani agar
mencapai pertumbuhan bentuk, ukuran maupun perimbangan bagian-
bagiannya.
Kematangan merupakan suatu tingkat atau fase dalam tumbuhan
seseorang, yang sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru.
Kesiapan atau kesedian untuk memberi response atau bereaksi dalam diri
seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan.
14. Kelelahan
Kelelahan yang dialami anak-anak dapat menyebabkan tidak bias belajar
secara optimal. Dalam hal sebenarnya memiliki semangat tinggi untuk
belajar, namun fisiknya loyo maka anak tidak dapat belajar sebagai
mestinya .

C. Faktor Eksternal

9
a. Faktor eksternal adalah dipengaruhi oleh kondisi lingkungan disekitar
anak. Faktor eksternal ini meliputi tiga hal:
1. Factor keluarga
Keluarga adalah lingkungan pertama yang paling berpengaruh pada
kehidupan anak sebelum kondisi disekitar anak (masyarakat dan
sekolah). Hampir 75% waktu anak habis didalam keluarga karena
itulah keluarga yang pertama kali mencetak bagaimana kepribadian
anak.
Dalam lingkungan keluarga yang dapat mempenharuhi tingkat
kecerdasa atau hasil belajar pada anak antara lain.
1. Cara mendidik anak
2. Relasi antar anggota keluarga
3. Suasana rumah
4. Keadaan ekonomi keluarga
5. Pengertian orang tua
6. Latar belakang kebudayaan
2. Faktor sekolah
Sekolah merupakan tempat belajar anak setelah keluarga dan
masyarakat sekitar. Factor lingkungan sekolah mempengaruhi
kesulitan belajar anak antara lain.
1. Guru
2. Metode mengajar
3. Instrument atau fasilitas
4. Kurikulum sekolah
5. Relasi guru dengan anak
6. Relasi antar anak
7. Disiplin sekolah
8. Pelajaran dan waktu
9. Standar belajar
10. Kebijakan penilaiaan
11. Keadaan gedung

10
12. Tugas rumah
3. Faktor masyarakat
Selain dalam keluarga dan sekolah, anak juga berintegrasi dengan
lingkungan masyarakat. Faktor lingkungan masyarakat yang dapat
mempengaruhi hasil belajar anak antara lain.
1. Kegiatan anak dalam masyarakat
2. Teman bergaul
3. Bentuk kehidupan dalam masyarakat
4. Faktor Pendekatan Belajar
Faktor pendekatan belajar merupakan jenis upaya belajar siswa yang
meliputi strategi dan metode yang digunakan anak untuk melakukan
kegiatan belajar. Faktor pendekatan belajar menurut penelitian yang
dilakukan oleh Bignis (1991) juga ikut memengaruhi hasil belajar
siswa. Ada tiga bentuk dasar pendekatan belajar siswa:
1. Pendekatan achieving (pencapaian prestasi tinggi)
2. Pendekatan surface (permukaan atau bersifat lahiriah)
3. Pendekatan deep (mendalam)

D. Gangguan Belajar Pada Anak


Sebagai orang tua wajar jika merasa cemas saat mendapatkan anaknya
mengalami gangguan belajar. Banyak sekali macam gangguan belajar pada anak
antara lain.
1. Learning disorder (kekacauan belajar)
2. Distractability (gangguan belajar learning disorder)
3. Learning disabilities (ketidakmampuan)
4. Learning disfunction
5. Under achiver (mengacuh pada anak-anak yang memiliki tingkat
potensi intelektual yang normal.
6. Slow learner ( lamban belajar)
7. Gangguan bahasa
8. Retardasi mental

11
9. Gangguan pendengaran
10. Gangguan tingkah laku
11. Hiperaktivitas
12. Gangguan depresi

E. Perbedaan Individual
Anak-anak disekolah pada umumnya memiliki karakteristik individu yang
berbeda baik dari segi fisik, mental, intelektual, atau pun social emosional.
Perbedaan individu inilah yng menyebabkan ketidaksamaan seseorang
dalam berfikir, berperasaan maupun bertindan oleh karena itu wajar jika mereka
juga akan mengalami persoalan mengajar yang berbeda setiap individu mereka
juga akan mengalami berbagai jenis kesulitan belajar yang berbeda pula, sesuai
dengan karakteristik dan potensinya masing-masing.
Kesulitan belajar siswa ditunjukkkan oleh hambatan-hambatan tertentu
untuk mencapai hasil belajar. Hal ini dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun
fisiologis sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang
dicapainya.
Berikut berbagai dampak yang mungkin menyertai kesulitan belajar.
a. Pertumbuhan dan perkembangan anak terhambat
b. Interaksi anak dengan lingkungan terganggu
c. Anak menjadi frustasi
d. Anak menjadi pemalu, rendah diri, tegang, berperilaku nakal, agresif,
ingklusif, atau bahkan menyendiri, menarik diri dari menutupi kekurangan
dirinya.
e. Sulit berintegrasi dengan teman-teman sebaya
f. Orang tua merasa marah, kecewa, putus asa, merasa bersalah dengan
keadaan tersebut.
g. Ketidak harmonisan dalam keluarga
h. Anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian yang menyebabkan
kemampuan perseptualnya (motoriknya) menjadi terhambat.

12
i. Mengalami kesulitan belajar, seringkali menuding diri sebagai anak yang
bodoh, lambat, berbeda, aneh dan terbelakang.

13