Você está na página 1de 53

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita egois, kita mempunyai pendapat namun
pendapat kita haruslah diterima oleh orang lain. Atau terkadang kita memaksakan
kehendak terhadap orang lain untuk mau melakukan hal yang sama dengan kita.
Untuk menghindari itu semua, kita harus mempunyai sikap toleransi, sikap tenggang
rasa, agar tidak terjadi rasa saling tidak suka antar sesama. Jika toleransi ada dalam
setiap diri kita, Insya Allah dalam bergaul di lingkungan baik sekolah maupun
masyarakat akan menjadi lebih baik.
Untuk itulah kami mengangkat tema toleransi dalam makalah ini. Semoga dapat
diterima dan dapat dijadikan inspirasi untuk berbuat lebih baik.
B. TUJUAN DAN MANFAAT
1. Tujuan
a. Menambahkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. ;
b. Agar lebih dapat meneladani sikap Rasulullah SAW. ;
c. Menambah wawasan ;
d. Agar mengetahui lebih dalam mengenai toleransi ;
e. Menerapkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari ;
f. Menghadirkan sikap toleransi dalam bergaul.
2. Manfaat
a. Menambah keilmuan tentang ajaran Islam ;
b. Dapat memahami materi toleransi ;
c. Hati menjadi tenang dengan adanya sikap toleransi ;
d. Lebih menghargai suatu hal apapun ;
e. Mempunyai pendirian kuat dengan tidak merendahkan orang lain ;

BAB II
TOLERANSI DALAM KEHIDUPAN
A. PENGERTIAN TOLERANSI
Toleransi adalah sikap tenggang rasa, menghargai, membiarkan, atau membolehkan
oran lain untuk berpendapat atau berpendirian yang berbeda dengan dirinya.
Toleransi bahasa Arabnya adalah tasamuh yang artinya sama-sama berlaku baik, lemah
lembut, dan saling pemaaf. Dalam pengertian umum, toleransi adalah sikap akhlak
terpuji dalam pergaulan.
B. TOLERANSI DALAM ISLAM
Toleransi dalam Islam bukan berarti bersikap sinkretis. Pemahaman yang sinkretis
dalam toleransi beragama merupakan kesalahan dalam memahami arti tasmuh yang
berarti menghargai, yang dapat mengakibat-kan pencampuran antar yang hak dan yang
batil (talbisu al-haq bi al-btil), karena sikap sinkretis adalah sikap yang menganggap
semua agama sama. Sementara sikap toleransi dalam Islam adalah sikap menghargai
dan menghormati keyakinan dan agama lain di luar Islam, bukan menyamakan atau
mensederajatkannya dengan keyakinan Islam itu sendiri.
Sikap toleransi dalam Islam yang berhubungan dengan akidah sangat jelas yaitu ketika
Allah SWT. memerintahkan kepada Rasulullah SAW. untuk mengajak para Ahl al-Kitab
untuk hanya menyembah dan tidak menye-kutukan Allah swt.
C. AYAT AL-QURAN & HADITS YANG MENJELASKAN TOLERANSI
1. Q. S. Al-Kafirun(109) : 1-6

Artinya :
1) Katakanlah (Muhammad), Wahai orang-orang kafir !
2) Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah,
3) dan kamu bukan penyembah apa yang kamu sembah,
4) dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5) dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah,
6) Untukmu agamau, dan untukku agamaku.
Asbabun nuzul
Salah satu riwayat menyebutkan bahwa sekelompok pemuka kafir Quraisy datang
menemui Rasulullah SAW.. Kedatangan mereka untuk mengajak Rasulullah bersekutu
dalam segala hal, termasuk dalam peribadahan. Mereka akan menyembah apa yang
beliau sembah, beliau pun diminta menyembah apa yang mereka sembah. Bahkan
mereka akan menganngkat beliau sebagai pemimpin. Dengan adanya peristiwa
tersebut, maka turunlah wahyu Allah SWT., yaitu Q.S. Al-Kafirun.
Pada ayat 2 dan 4, Rasulullah SAW. menegaskan bahwa beliau tidak akan pernah
menjadi penyembah apa yang disembah orang kafir, yaitu berhala. Dan pada ayat 3 dan
5 Rasulullah SAW., juga menegaskan bahwa orang kafir pun tidak akan pernah menjadi
penyembah apa yang beliau sembah, yaitu Allah SWT.
Pada ayat 6 Rasulullah SAW. menegaskan bahwa orang kafir tetap pada agamanya dan
beliau bersama kaum muslimin tetap pada agama tauhid. Dengan demikian, ayat 6 ini
sebagai landasan hukum adanya tasamuh dalam beragama.
Kandungan Surah
a. Kebenaran itu sumbernya dari Allah SWT. ;
b. Manusia diberi kebebasan memilih mau beriman atau kafir bagi orang yang beriman
dan beramal sholeh disediakan Surga dan bagi orang yang kafir disediakan neraka ;
c. Jika manusia memilih kafir dan melepaskan keimanan maka berarti mereka telah
melakukan kezhaliman.

2. Q. S. Al-Bayinah(98) : 1-8
Artinya :
1) Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa
mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti
yang nyata,
2) (yaitu) seorang rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran
yang suci (Al-Quran),
3) di dalamnya terdapat (isi) kitab-kitab yang lurus (benar),
4) Dan tidaklah terpecah-belah orang-orang Ahli Kitab melainkan setelah datang kepada
mereka bukti yang nyata.
5) Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya
semata-mata (menjalankan) agama, dan juga agar melaksnakan sholat dan
menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar),
6) Sungguh, orang-orang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan
masuk) ke neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu
adalah sejahat-jahat makhluk.
7) Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah
sebaik-baik makhluk.
8) Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga adn yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka
dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang
takut kepada Rabbnya.
Asbabun Nuzul
Sebenarnya, prinsip nabi-nabi terdahulu ialah sama dengan prinsip agama Islam yaitu
ketauhidan dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah
SWT.. Meskipun agama yang dibawa nabi terdahulu sama dengan Islam, tetapi
syariatnya berbeda-beda. Misalnya dalam menjalankan kewajiban dan tata cara
beribadah.
Surah Al-Bayinah yang berkaitan dengan toleransi adalah ayat 1-2 . Kedua ayat ini
menjelaskan sikap tegas yang dimiliki oleh orang-orang kafir dari golongan ahli kitab
(Yahudi dan Nasrani) dan orang-orang musyrik. Mereka menyatakan tidak akan
meninggalkan ajaran agama mereka sampai datang keterangan yang nyata. Keterangan
itu adalah nabi akhir zaman yang mereka dambakan akan memancarkan lembaran-
lembaran suci sebagai pedoman hidup. Mereka menganggap bahwa peribadatan yang
mereka lakukan saat itu benar sehingga mereka mempertahankannya. Dengan
demikian, sikap tegas mereka sebagai bukti dimilikinya fanatisme beragama.
Mereka sangat berharap nabi akhir zaman yang mereka tunggu-tunggu itu berasal dari
golongan mereka, yaitu bani Israil. Akan tetapi, Allah SWT. mengutus nabi yang terakhir
bukan dari golongan bani Israil, muncullah rasa iri pada diri mereka. Upaya untuk
membunuh Rasulullah SWT. dan menghancurkan umat Islam selalu mereka lakukan.
Hal ini akan berlangsung hingga akhir zaman.

3. Q. S. Al-Kahfi(18) : 29
Artinya :
Dan katakanlah (Muhammad), Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, barangsiapa
menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir)
biarlah dia kafir. Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang
gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum), mereka
akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah)
minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.
Kandungan Surah
a. Kebenaran itu sumbernya dari Allah SWT. ;
b. Manusia diberi kebebasan memilih mau beriman atau kafir bagi orang yang beriman
dan beramal sholeh disediakan Surga dan bagi orang yang kafir disediakan neraka ;
c. Jika manusia memilih kafir dan melepaskan keimanan maka berarti mereka telah
melakukan kezhaliman.

4. Q. S. Yunus(10) : 40-41

Artinya :
40) Dan diantara mereka ada orang-orang yang beriman kepadanya (Al-Quran), dan
diantaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Sedangkan Rabbmu
lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.
41) Dan jika mereka (tetap) mendustakanmu (Muhammad), maka katakanlah Bagiku
pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu tidak bertanggung jawab terhadap yang
aku kerjakan dan aku pun tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.
Kandungan surah
a. Ada golongan umat manusia yg beriman terhadap al-qur'an dan ada yg tdk beriman
kepada Al-Qur'an ;
b. Allah SWT. mengetahui sikap dan perilaku orang-orang yang beriman yang bertakwa
kepada Allah SWT. dan orang-orang yang tidak beriman yang berbuat durhaka kepada
Allah SWT. ;
c. Orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. harus yakin bahwa Tasul Allah SWT. yang
terakhir adalah Nabi Muhammad SAW. dan Al-Qur'an adalah kitab suci yg harus
dijadikan pedoman umat manusia sampai akhir zaman.

5. Hadits
Di dalam salah satu hadis Rasulullah saw., beliau bersabda :



.





[Telah menceritakan kepada kami Abdillah, telah menceritakan kepada saya Abi telah
menceritakan kepada saya Yazid berkata; telah mengabarkan kepada kami Muhammad
bin Ishaq dari Dawud bin Al Hushain dari Ikrimah dari Ibnu 'Abbas, ia berkata;
Ditanyakan kepada Rasulullah saw. "Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?"
maka beliau bersabda: "Al-Hanifiyyah As-Samhah (yang lurus lagi toleran)]"

D. TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA


1. Kaitan toleransi dengan persaudaraan sesama Muslim
Berkaitan dengan hubungan toleransi dengan persaudaraan sesama Muslim, dalam hal
ini Allah SWT. Berfirman :


[Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah
(perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah,
supaya kamu mendapat rahmat].
Dalam ayat ini, Allah menyatakan bahwa orang-orang mukmin bersaudara dan
memerintahkan untuk melakukan islah (mendamaikannya untuk perbaikan hubungan)
jika seandainya terjadi kesalahpahaman di antara mereka atau kelompok umat Islam.
Untuk mengembangkan sikap toleransi secara umum, terlebih dahulu dengan
mensikapi perbedaan (pendapat) yang (mungkin) terjadi pada keluarga dan saudara
sesama muslim. Sikap toleransi dimulai dengan cara membangun kebersamaan atau
keharmonisan dan menyadari adanya perbedaan dan menyadari bahwa semua adalah
bersaudara, maka akan timbul rasa kasih sayang, saling pengertian yang pada akhirnya
akan bermuara pada sikap toleran. Dalam konteks pengamalan agama, Al-Quran
secara tegas memerintahkan orang-orang mukmin untuk kembali kepada Allah SWT.
dan sunnah Rasulullah SAW..
2. Kaitan toleransi dengan muamalah antar umat beragama
Toleransi antar umat beragama dapat dimaknai sebagai suatu sikap untuk dapat hidup
bersama masyarakat penganut agama lain dengan memiliki kebebasan untuk
menjalankan prinsip-prinsip keagamaan (ibadah) masing-masing, tanpa adanya paksaan
dan tekanan, baik untuk beribadah maupun tidak beribadah dari satu pihak ke pihak
lain. Sebagai implementasinya dalam praktek kehidupan sosial dapat dimulai dari sikap
bertetangga, karena toleransi yang paling hakiki adalah sikap kebersamaan antara
penganut keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Sikap toleransi antar umat beragama bisa dimulai dari hidup bertetangga baik dengan
tetangga yang seiman dengan kita atau tidak. Sikap toleransi itu direfleksikan dengan
cara saling menghormati, saling memulia-kan dan saling tolong-menolong. Hal ini telah
dicontohkan oleh Rasulullah SAW. saat beliau dan para sahabat sedang berkumpul,
lewatlah rombongan orang Yahudi yang mengantar jenazah. Nabi Muhammad saw.
langsung berdiri memberikan penghormatan. Seorang sahabat berkata: Bukankah
mereka orang Yahudi, ya Rasul? Nabi saw.. menjawab Ya, tapi mereka manusia juga.
Hadis ini hendak menjelaskan bahwa, bahwa sisi akidah atau teologi bukanlah urusan
manusia, melainkan urusan Allah SWT. dan tidak ada kompromi serta sikap toleran di
dalamnya. Sedangkan urusan muamalah antar sesama tetap dipelihara dengan baik
dan harmonis.
Saat Umar bin Khattab ra. memegang amanah sebagai khalifah, ada sebuah kisah dari
banyak teladan beliau tentang toleransi, yaitu saat Islam berhasil membebaskan
Jerusalem dari penguasa Byzantium pada Februari 638 M. Tidak ada kekerasan yang
terjadi dalam penaklukan ini. Singkat cerita, penguasa Jerusalem saat itu, Patriarch
Sophorinus, menyerahkan kunci kota dengan begitu saja. Suatu ketika, khalifah Umar
dan Patriarch Sophorinus menginspeksi gereja tua bernama Holy Sepulchre. Saat tiba
waktu shalat, beliau ditawari Sophronius shalat di dalam gereja itu. Umar menolak
seraya berkata, Jika saya shalat di dalam, orang Islam sesudah saya akan menganggap
ini milik mereka hanya karena
saya pernah shalat di situ. Beliau kemudian mengambil batu dan melemparkannya
keluar gereja. Di tempat batu jatuh itulah beliau kemudian shalat. Umar kemudian
menjamin bahwa gereja itu tidak akan diambil atau dirusak sampai kapan pun dan tetap
terbuka untuk peribadatan umat Nasrani.
3. Tidak ada toleransi dalam akidah
Mengenai sistem keyakinan dan agama yang berbeda-beda, Al-Quran menegaskan:



[Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu
sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah
menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi
penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukku agamaku].
Latar belakang turunnya ayat ini (asbb an-nuzl), ketika kaum kafir Quraisy berusaha
membujuk Rasulullah saw., "Sekiranya engkau tidak keberatan mengikuti kami
(menyembah berhala) selama setahun, kami akan mengikuti agamamu selama setahun
pula." Setelah Rasulullah SAW. membacakan ayat ini kepada mereka maka berputus-
asalah kaum kafir Quraisy, sejak itu semakin keras sikap permusuhan mereka kepada
Rasulullah SAW.. Dua kali Allah swt. memperingatkan Rasulullah SAW. : "Aku tidak akan
menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak menyembah Tuhan yang aku
sembah." Artinya, umat Islam sama sekali tidak boleh melakukan peribadatan yang
diadakan oleh non-muslim, dalam bentuk apapun.
Ayat ini menegaskan, bahwa semua manusia menganut agama tunggal merupakan
suatu keniscayaan. Sebaliknya, tidak mungkin manusia meng-anut beberapa agama
dalam waktu yang sama atau mengamalkan ajaran dari berbagai agama secara
simultan. Oleh sebab itu, Al-Quran menegaskan bahwa umat Islam tetap berpegang
teguh pada sistem ke-Esaan Allah secara mutlak, sedangkan orang kafir pada ajaran
ketuhanan yang ditetapkannya sendiri.
Dalam kondisi sekarang, maka melakukan do'a bersama orang-orang non-muslim
(istighasah), menghadiri perayaan Natal, mengikuti upacara pernikahan mereka atau
mengikuti pemakaman mereka merupakan cakupan dari surah Al-Kafirun. Semua hal itu
tidak boleh diikuti umat Islam, karena berhubungan dengan akidah dan ibadah. Orang-
orang non-muslim juga tidak ada gunanya mengikuti peribadatan kaum muslimin,
karena sama sekali tidak ada nilainya dihadapan Allah SWT.
Dalam memahami toleransi, umat Islam tidak boleh salah kaprah. Toleransi terhadap
non-muslim hanya boleh dalam aspek muamalah (perdagangan, industri, kesehatan,
pendidikan, sosial, dan lain-lain), tetapi tidak dalam hal akidah dan ibadah. Islam
mengakui adanya perbedaan, tetapi tidak boleh dipaksakan agar sama sesuatu yang
jelas-jelas berbeda.
Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW. merupakan teladan yang baik dalam
implementasi toleransi beragama dengan merangkul semua etnis, dan apapun warna
kulit dan kebangsaannya. Kebersamaan merupakan salah satu prinsip yang
diutamakan, yang terkait dengan karakter moderasi dalam Islam, di mana Allah swt
berkeinginan mewujudkan masyarakat Islam yang moderat, sebagaimana firman-Nya :


[Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan
pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul
(Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu].
E. PENERAPAN TOLERANSI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
1. Tidak memaksakan keyakinan kepada orang lain kerena tidak dibenarkan oleh agama
dan akal sehat ;
2. Sabar dalam menghadapi sikap orang-orang yang mendustakan Islam, sebagaimana
rasul terdahulu ;
3. Bersahaja dalam melaksanakan dakwah, tidak mengikuti jalan pikiran objek dakwah ;
4. Bebas menjalin hubungan dengan non muslim selama tidak menyangkut masalah
akidah dan ibadah.

F. HIKMAH BERTOLERANSI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI


1. Menghargai kepada sesama ciptaan Allah SWT. ;
2. Menghindari terjadinya perpecahan ;
3. Memperkokoh silaturahmi dan menerima perbedaan ;
4. Tenggang rasa dan suka menolong kepada orang lain ;
5. Menciptakan kehidupan masyarakat yang aman dan damai ;

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan apa yang sudah dijelaskan pada pembahasan, maka dapat dikemukakan
beberapa kesimpulan, antara lain :
1. Toleransi adalah sikap memberikan kemudahan, berlapang dada, mendiamkan, dan
menghargai ;
2. Islam merupakan agama yang menjadikan sikap toleransi sebagai bagian yang
terpenting, sikap ini lebih banyak teraplikasi dalam wilayah interaksi sosial sebagaimana
yang ditunjukkan dari sikap Rasulullah SAW. terhadap non muslim pada zaman beliau
masih hidup ;
3. Sikap toleransi dalam beragama adalah menghargai keyakinan agama lain dengan tidak
bersikap sinkretis yaitu dengan menyamakan keyakinan agama lain dengan keyakinan
Islam itu sendiri, menjalankan keyakinan dan ibadah masing-masing ;
4. Sikap toleransi tidak dapat dipahami secara terpisah dari bingkai syariat, sebab jika
terjadi, maka akan menimbulkan kesalah pahaman makna yang berakibat tercampurnya
antara yang hak dan yang batil ;
5. Ajaran toleransi merupakan suatu yang melekat dalam prinsip-prinsip ajaran Islam
sebagaimana terdapat pada iman, islam, dam ihsan.
A. Pengertian Etos Kerja

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata etos artinya pandangan hidup dalam
suatu golongan secara khusus.[1] Sedangkan kata kerja, artinya perbuatan melakukan sesuatu
kegiatan yang bertujuan mendapatkan hasil.[2]
Menurut Franz Magnis dan Suseno berpendapat bahwa etos adalah semangat dan
sikap batin tetap seseorang atau sekelompok orang sejauh di dalamnya termuat tekanan moral
dan nilai-nilai moral tertentu.[3]
Menurut Clifford Geertz berpendapat bahwa etos adalah sebagai sikap yang mendasar
terhadap diri dan dunia yang dipancarkan hidup.[4]
Menurut Al-Ghazali dalam bukunya Ihya-u Ulumuddin, pengertian etos (khuluk)
adalah suatu sifat yang tetap pada jiwa, yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan
dengan mudah dengan tidak membutuhkan pemikiran.

Kamus Wikipedia menyebutkan bahwa etos berasal dari bahasa Yunani; akar katanya
adalah ethikos, yang berarti moral atau menunjukkan karakter moral. Dalam bahasa
Yunani kuno dan modern, etos punya arti sebagai Karakteristik, sikap, kepercayaan, dan
kebiasaan, yang bersifat khusus tentang seorang individu atau sekelompok manusia. Pada
Webster's New Word Dictionary, 3rd College Edition, etos didefinisikan sebagai
kecenderungan atau karakter, sikap, kebiasaan, serta keyakinan yang berbeda dari individu
atau kelompok. Bahkan dapat dikatakan bahwa etos pada dasarnya adalah tentang etika.
Bila ditelusuri lebih dalam, etos kerja adalah respon yang dilakukan oleh seseorang,
kelompok, atau masyarakat terhadap kehidupan sesuai dengan keyakinannya masing-masing.
Setiap keyakinan mempunyai sistem nilai dan setiap orang yang menerima keyakinan tertentu
berusaha untuk bertindak sesuai dengan keyakinannya. Bila pengertian etos kerja
didefinisikan, etos kerja adalah respon yang unik dari seseorang atau kelompok atau
masyarakat terhadap kehidupan, respon atau tindakan yang muncul dari keyakinan yang
diterima dan respon itu menjadi kebiasaan atau karakter pada diri seseorang atau kelompok
atau masyarakat. Dengan kata lain, etika kerja merupakan produk dari sistem kepercayaan
yang diterima seseorang kelompok atau masyarakat.
Etika tentu bukan hanya dimiliki bangsa tertentu. Masyarakat dan bangsa apapun
mempunyai etika, ini merupakan nilai-nilai universal. Nilai-nilai etika yang dikaitkan dengan
etos kerja seperti rajin, bekerja, keras, berdisplin tinggi, menahan diri, ulet, tekun dan nilai-
nilai etika lainnya bisa juga ditemukan pada masyarakat dan bangsa lain. Kerajinan, gotong
royong, saling membantu, bersikap sopan misalnya masih ditemukan dalam masyarakat kita.
Perbedaannya adalah bahwa pada bangsa tertentu nilai-nilai etis tertentu menonjol sedangkan
pada bangsa lain tidak.
Dalam perjalanan waktu, nilai-nilai etis tertentu, yang tadinya tidak menonjol atau
biasa-biasa saja bisa menjadi karakter yang menonjol pada masyarakat atau bangsa
tertentu. Muncullah etos kerja Miyamoto Musashi, etos kerja Jerman, etos kerja Barat, etos
kerja Korea Selatan dan etos kerja bangsa-bangsa maju lainnya. Bahkan prinsip yang sama
bisa ditemukan pada pada etos kerja yang berbeda sekalipun pengertian etos kerja relatif
sama. Sebut saja misalnya berdisplin, bekerja keras, berhemat, dan menabung; nilai-nilai ini
ditemukan dalam etos kerja Korea Selatan dan etos kerja Jerman atau etos kerja Barat.
B. Teks-teks hadis tentang etos kerja
Islam sangat mendorong orang-orang mukmin untuk bekerja keras, karena pada
hakikatnya kehidupan dunia ini merupakan kesempatan yang tidak akan pernah terulang
untuk berbuat kebajikan atau sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Ini sekaligus untuk
menguji orang-orang mukmin, siapakah diantara mereka yang paling baik dan tekun dalam
bekerja.[5] Allah swt berfirman;

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik
amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk ; 2)

Untuk menekankan perintah agar kita semua menggunakan kesempatan hidup ini
dengan giat bekerja dan beramal, Allah swt menegaskan bahwa tidak ada satu amal atau satu
pekerjaanpun yang terlewatkan untuk mendapatkan imbalan di hari akhir nanti, karena semua
amal dan pekerjaan kita akan disaksikan Allah swt, Rasulullah saw dan orang-orang mukmin
lainnya. Allah swt berfirman;

Dan Katakanlah; Bekerjalah kamu, maka Allah swt dan Rasulullah-Nya serta orang-orang mukmin
akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib
dan nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.(QS. At-Taubah; 105)

Disisi lain, Rasulullah saw sangat menekankan kepada seluruh umatnya, agar tidak
menjadi orang yang pemalas dan orang yang suka meminta-minta. Pekerjaan apapun, walau
tampak hina dimata banyak orang, jauh lebih baik dan mulia daripada harta yang ia peroleh
dengan meminta-minta. Dalam sebuah riwayat disebutkan;
(

)




,
Dari Hakim putra Hizam, ra., dari Rasulullah saw., beliau bersabda; Tangan yang di atas lebih baik
dari tangan yang di bawah, dahulukanlah orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-baiknya sedekah itu
ialah lebihnya kebutuhan sendiri. Dan barang siapa memelihara kehormatannya, maka Allah akan
memeliharanya. Dan barang siapa mencukupkan akan dirinya, maka Allah akan beri kecukupan padanya. (H.R
Bukhari).[6]

Hadis ini menjelaskan bahwa kita sebagai orang yang tangannya di atas hendaklah
lebih dahulu memulai atau mendahulukan pemberiannya kepada keluarga setelah itu barulah
kepada yang lain. Di samping itu didalam hadis itu dijelaskan bahwa Allah akan mencukupi
seseorang yang menuntut atau bertekad menjadikan dirinya berkecukupan tidak mau meminta
belas kasihan orang lain. Ungkapan ini dapat dipahami bahwa sangatlah bijak dan dianjurkan
bagi orang kaya atau yang berkecukupan agar memberi kepada yang miskin dengan
pemberian yang dapat menjadi modal usahanya untuk dia dapat menjadi orang yang
mempunyai usaha sehingga pada saatnya nanti ia tidak lagi menjadi orang yang meminta-
minta (mengharap belas kasihan orang).
Perbuatan suka memberi atau enggan meminta-minta dalam memenuhi kebutuhan
hidup, sangatlah dipuji oleh agama. Hal ini jelas dikatakan Nabi SAW dalam hadis di atas
bahwa Nabi mencela orang yang suka meminta-minta (mengemis) karena perbuatan tersebut
merendahkan martabat kehormatan manusia. Padahal Allah sendiri sudah memuliakan
manusia, seperti terungkap melalui firman-Nya :

Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkat mereka di daratan dan di
lautan. Kami berikan mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang
sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Q.S Al-Isra : 70).

Penjelasan ayat al-Quran di atas juga memotivasi manusia agar mencari nafkah
memenuhi kebutuhan hidup haruslah berusaha dengan bekerja dalam lapangan kehidupan
yang ia mampu kerjakan, baik itu berupa bertani, berdagang, bertukang, menjadi pelayan dan
sebagainya. Jangan sekali-kali mencari nafkah dari hasil meminta-minta sebagai pengemis
jalanan. Jadi hadi ini sangat erat hubungannya dengan hadis pokok bahasan pertama yang
menyatakan bahwa usaha terbaik dalam memenuhi kebutuhan hidup adalah usaha yang
dilakukan dengan tangan sendiri.
Demikiankah juga hadis ini memberi isyarat bahwa agama Islam menyuruh umatnya
bekerja untuk mendapatkan rezeki. Islam sangat menilai jelek dan rendah martabat perilaku
menjadi pengemis, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bekerja mencari kayu bakar kemudian
dijual adalah lebih baik daripada mengemis. Hal ini dinyatakan Nabi dalam salah satu
sabdanya, hadis dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah bersabda :
(




(

sesungguhnya bahwa seseorang di antara kamu yang bekerja mencari kayu bakar, diikatkan di
punggungnya kayu itu (guna memikulnya) adalah lebih baik daripada dia meminta-minta yang kemungkinan
diberi atau tidak diberi. (Hadis ini dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab al-Buyu).

:
,





(


)
Dari Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah SAW telah bersabda : Orang mumin yang memiliki
keimanan yang kuat lebih Allah cintai daripada yang lemah imannya. Bahwa keimanan yang kuat itu akan
menerbitkan kebaikan dalam segala hal. Kejarlah (sukailah) pekerjaan yang bermanfaat dan mintalah
pertolongan kepada Allah. Janganlah lemah berkemauan untuk bekerja. Jika suatu hal yang jelek yang tidak
disenangi menimpa engkau janganlah engkau ucapkan : Seandainya aku kerjakan begitu, takkan jadi begini,
tetapi katakanlah (pandanglah) sesungguhnya yang demikian itu sudah ketentuan Allah. Dia berbuat apa yang
Dia kehendaki. Sesungguhnya ucapan seandainya itu adalah pembukaan pekerjaan setan. (Hadis dikeluarkan
Muslim).[7]

Hadits ini mengisyaratkan bahwa Nabi Muhammad SAW memerintahkan tentang tiga
hal, yaitu :
1. menguatkan keimanan
2. rakuslah untuk berbuat yang bermanfaat
3. mohon pertolongan kepada Allah. Di samping itu beliau melarang berbuat dua hal, yaitu :
a. lemah
b. menyesali apa yang telah menimpa diri dari sesuatu yang tidak disukai, sehingga mengatakan
: Seandainya aku lakukan begitu, tak akan terjadi begini.
Dalam hadits dinyatakan :
maksudnya bahwa keimanan yang kuat pada diri
seseorang akan menciptakan kebaikan dalam segala hal. Sebab dari iman yang sempurna
(benar dan kuat) akan mendorong seseorang berbuat yang baik, yang sudah tentu akan
berakibat yang baik bagi kehidupannnya. Oleh sebab itu al-Khuli dalam mensyarahkan hadis
ini berpendapat bahwa iman itu menjadi pengawal kebahagiaan di dunia dan di akhirat, bila
diikuti dengan perbuatan baik (amal saleh). Di dalam al-Quran Allah berfirman :


) 97 : )
Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman,
maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri
balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S an-Nahl : 97).
Keimanan yang kuat (istiqamah) membuat seseorang rajin dan bersungguh-sungguh
mencari kebahagiaan, baik itu untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya
keimanan yang lemah, tidak atau kurang menjadi penggerak terwujudnya perbuatan baik
pada diri seseorang, bahkan hawa nafsu yang menguasai dirinya, sehingga dirinya dengan
mudah untuk berbuat kefasikan, berbuat yang tidak baik. Dengan demikian maka akan
jauhlah kebahagiaan yang diharapkan manusia itu. Oleh sebab itu Rasulullah SAW
menyatakan dalam hadis ini bahwa orang mukmin yang kuat imannya lebih dicintai oleh
Allah daripada yang lemah imannya.
Ketika Islam sangat menekankan kerja, lalu pekerjaan apakah yang paling utama?
Terhadap pertanyaan itu ada sebuah hadist yang menyatakan bahwa;
Pekerjaan yang paling utama menurut Nabi Muhammad SAW adalah usaha seorang laki-laki
dengan tangannya sendiri dan semua jual beli yang bersih.

Rifaah bin RafiI berkata bahwa Nabi SAW, ditanya, Apa mata pencarian yang paling baik? Nabi
menjawab, Seseorang bekerja dengan tangannya dan tiap-tiap jual beli yang bersih. (Diriwayatkan oleh
Bazzar dan disahkan oleh Hakim)
Penjelasan Hadis
Islam senangtiasa mengajarkan kepada umatnya agar berusaha untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Tidak dibenarkan seorang muslim berpangku tangan saja atau berdoa
mengharap rezeki datang dari langit tanpa mengiringinya dengan usaha. Namun demikian,
tidak dibenarkan pula terlalu mengandalkan kemampuan diri sehingga melupakan
pertolongan Allah SWT. dan tidak mau berdoa kepada-Nya.[8]
Hadist di atas tidak secara jelas mengkategorikan jenis usahanya melainkan hanya
menyebutkan prinsip usaha yaitu yang dilakukan oleh tangannya sendiri dan jual beli yang
bersih. Jenis usaha yang disebutkan di akhir (perdagangan yang bersih) tidak banyak
menimbulkan interpretasi, karena telah jelas bahwa jual beli yang di maksud adalah jual beli
yang terhindar dari kebohongan dan sumpah palsu.
Dalam hadis ini Rasulullah SAW memerintahkan orang mumin agar rakus
(menyukai, mengerjakan) pekerjaan yang bermanfaat. Oleh sebab itu seseorang yang beriman
haruslah bersikap tidak akan membiarkan waktu atau kesempatan yang dimiliki yang ia dapat
menggunakan kesempatan itu berlalu tidak dimanfaatkan. Seorang mumin yang baik dan
bijak tentulah akan menggunakan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya, mengisinya
dengan pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat, seperti berusaha mencari rezeki, harta untuk
keperluan dan kebahagiaan hidup, mencari posisi dan kedudukan yang layak dalam
percaturan kehidupan ini, atau menunutut ilmu yang bermanfaat untuk bekal perjuangan
hidup, atau menggunakan kesempatan yang ada untuk beramal dan beribadah mendekatkan
diri kepada Allah SWT.
Sehubungan dengan ini Rasulullah SAW pernah memperingatkan dalam salah satu
sabdanya yang berarti : ada dua nikmat yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia,
yaitu nikmat kesehatan dan nikmat adanya kesempatan (H.R Bukhari dan Ibnu Abbas).
Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda :
) (
Di antara kebagusan perilaku keislaman seseorang adalah meninggalkan pekerjaan yang tidak berguna
baginya. (H.R Turmudzi dan Abu Hurairah).
Di dalam al-Quran surat Al-Ashr Allah SWT menyatakan bahwa manusia senantiasa
dalam kerugian, kecuali yang beriman dan beraktivitas yang positif serta saling mengingatkan
kejalan yang benar dan selalu bersabar (menghadapi tantangan dalam kehidupan ini).
Perintah Nabi SAW dalam hadis ini, yang ketiga adalah agar minta pertolongan
kepada Allah SWT sangat penting. Nabi mengingatkan kita tentang perintah ketiga ini,
disebabkan dalam kehidupan ini kita tidak akan luput dari kesulitan-kesulitan. Memang Allah
menciptakan kehidupan untuk menguji manusia menilai siapa yang paling baik amalnya. Hal
ini dinyatakan Allah SWT :

) 2 :
(
Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.
Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Q.S AL-Mulk : 3).
Oleh karena itu tidak dapat tidak manusia memperoleh pertolongan kepada Allah
SWT Yang Maha Pencipta dan Maha Kuasa. Dalam surat al-Fatihah, surat yang wajib dibaca
dalam setiap rakaat shalat, ada diikrarkan ungkapan mengisyaratkan bahwa kita sangat
memerlukan pertolongan Allah SWT.
C. Pandangan Ulama mengenai Hadits Etos Kerja

Al-Khuli dalam kitabnya al-Adab an-Nabawi mengemukakan bahwa dari berbagai


cara untuk memperoleh harta yang diutarakan di atas maka cara yanng lebih utama adalah
usaha yang dilakukan dengan tangan sendiri. Hal ini dinyatakan Nabi SAW dalam hadis yang
lain, dari Miqdam r.a yang diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Daud, Nasai dan perawi hadist
lainnya, bahwa Nabi SAW bersabda :

,


Tidaklah seseorang makan sesuap makanan lebih baik daripada ia makan dari hasil kerja tangannya
sendiri, dan sesungguhnya Nabi Daud a.s adalah makan dari hasil kerja tangannya sendiri.[9]
Seseorang berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara bekerja keras
menggunakan tangannya sendiri, memeras keringat dan energy dari badannya kemudian
memakan hasilnya, sudah tentu lebih baik dari makanan hasil dari yang baersumber
peninggalan warisan, pemberian atas kemurahan seseorang atau sedekah yang diberikan
kepadanya karena belas kasihan. Karena usaha seseorang mencari nafkah dengan memeras
tenaga, mencucurkan keringat itu akan berfaedah sehingga kalau ia makan apa yang
dimakannya menjadi terasa enak, dan makanan itu dicerna dengan cepat dan mudah oleh
pencernaan sehingga berguna bagi kesehatan tubuh. Demikianlah dijelaskan Al-Khuli dalam
mensyarahkan hadis ini.
Al-khuli dalam kitabnya al-Adab an-Nabawi juga menyatakan bahwa kurang
kemauan membawa akibat seseorang menjadi pemalas. Sifat lemah dalam kemauan dan
pemalas sangat tidak disukai Rasul. Hal ini dapat diketahui adanya doa yang diucapkan Nabi
SAW dengan ungkapan :

Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari lemah (kemauan) dan pemalas.
Ash-Shonani mengemukakan bahwa dengan ungkapan (yang terbaik) adalah artinya
yang paling halal dan paling berkat. Jadi secara nyata hadis ini menunjukkan bahwa usaha
yang paling halal dan berkat itu adalah usaha tangannya sendiri, kemudian baru usaha
perniagaan menunjukkan usaha dengan tangan sendiri itu lebih utama. Hal ini sejalan dengan
hadis Miqdam di atas. Walaupun demikian para ulama tetap berbeda pendapat tentang usaha
yang paling utama. Di antara tiga macam usaha yang bersifat pokok sebagaimana
dikemukakan al-Mawardi yaitu pertanian, perdagangan dan industri. Mazhab Syafii
berpendapat bahwa usaha yang terbaik itu adalah usaha pertanian karena usaha tersebut lebih
dekat kepada tawakkal. Dan karena pertanian itu membawa manfaat bukan hanya kepada
manusia secara umum, tetapi juga kepada binatang-binatang. Di samping itu usaha pertanian
termasuk kepada usaha yang dilakukann dominan dengan tangan.
Tentu saja tidak hanya dalam berjual beli yang harus diperhatikan kehalalan dan
kebersihannya sabagai standar utama dalam mencari rezeki karena bagaimanapun juga, Allah
Swt. akan memintai pertanggung jawaban kelak di akhirat.
Menurut Imam Al-Ghazali, manusia dalam hubungannya dengan dengan kehidupan
dunia dan akhirat terbagi kepada tiga golongan;
1. Orang-orang yang sukses atau menang, yakni mereka yang lebih menyibukkan dirinya untuk
kehidupan di akhirat daripada kehidupan dunia.
2. Orang-orang yang celaka, yakni mereka yang menyibukkan dirinya untuk kehidupan di
dunia daripada kehidupan di akhirat.
3. Orang-orang berada di antara keduanya, yakni mereka yang mau menyeimbangkan antara
kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat.
Al-Faqih Abu Laits Samarqandi, mengutip pendapat seorang ahli hikmah, Para
pedagang yang tidak memiliki ketiga sifat di bawah ini, akan menderita kerugian dunia dan
akhirat:
a. Mulutnya suci dari bohong, laghwu (main-main/bergurau) dan sumpah
b. Hatinya suci dari penipuan, khianat, dan iri.
c. Jiwanya selalu memelihara shalat jumat, shalat berjamaah, selalu menimba ilmu, dan
mengutamakan rido Allah swt daripada lainnya.

D. Kontektualisasi Etos Kerja dan Realisasinya Dalam Kehidupan

Bekerja adalah kewajiban setiap muslim. Sebab dengan bekeja setiap muslim dapat
mengaktualisasikan kemuslimannya sebagai manusia, makluk ciptaan Allah SWT yang
paling sempurna dan mulia di muka bumi.
Jika setiap muslim bekerja dengan baik , maka ia sudah melakukan ibadah kepadaNya
setiap pekejaan baik yang dilakukan muslim karena Allah, berarti ia sudah melakukan
kegiatan jihad fi sabilillah. Firman Allah swt dalam surat al-Jumuah;

Apabila sudah ditunaikan shalat,maka hendaklah kamu bertebaran di muka bumi dan carilah karunia
Allah dan ingatlah Allah sebanyak banyaknya supaya kamu beruntung (QS. al-Jumuah, 62 ).
Untuk menggapai keberuntungan hidup, tidaklah hanya cukup tenggelam dalam
masalah ibadah formal atau ritual saja. Tetepi hendaknya dimanifestasikan dalam ibadah
aktual. Tafsiran ayat bertebaran di muka bumi memberikan efek batin untuk menjadikan
diri kita sebagai sosok manusia yang memiliki achievement tinggi.
Bekerja adalah fitrah dan sekaligus merupakan salah satu identitas manusia, sehimgga
bekerja yang didasarkan pada prinsip- prinsip iman tauhid bukan hanya menunjukkan fitrah
seorang muslim, tetapi sekaligus meninggikan martabat dirirnya sebagai hamba Allah, yang
mengelola seluruh alam sebagai bentuk dari cara dirinya mensyukuri kenikmatan dari Allah.
Apabila bekerja itu sebagai fitrah manusia, maka jelaslah bahwa manusia yang
enggan bekerja, malas dan tidak mendayagunakan seluruh potensi diri untuk menyatakan
keimananan dalam bentuk amal kreatif, sesunguhnya dia itu melawan fitrah dirinya sendiri,
menurunkan derajat identitas sebagai manusia, untuk kemudian runtuh dalam kedudukan
yang lebih hina dari binatang.
Perbuatan suka memberi atau enggan meminta-minta dalam memenuhi kebutuhan
hidup, sangatlah dipuji oleh agama. Hal ini jelas dikatakan Nabi SAW dalam hadis di atas
bahwa Nabi mencela orang yang suka meminta-minta (mengemis) karena perbuatan tersebut
merendahkan martabat kehormatan manusia. Padahal Allah sendiri sudah memuliakan
manusia, seperti terungkap melalui firman-Nya yang sudah tercantum diatas.
Demikiankah juga hadis yang memberi isyarat bahwa agama Islam menyuruh
umatnya bekerja untuk mendapatkan rezeki. Islam sangat menilai jelek dan rendah martabat
perilaku menjadi pengemis, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bekerja mencari kayu bakar
kemudian dijual adalah lebih baik daripada mengemis.
Bekerja untuk mencari karunia Allah, menjebol kemiskinan meningkatkan taraf hidup
dan martabat serta harga diri adalah merupakan nilai ibadah yang esensial, karena Nabi
bersabda: kemiskinan itu sesungguhnya lebih mendekati kepada kekufuran.
Bekerja adalah segala aktifitas dinamis dan mempunyai tujuan untuk memenuhi
kebutuhan tertentu (jasmani dan rohani) dan didalam mencapai tujuanya tersebut dia
berupaya dengan penuh kesunguhan untuk mewujudkan prestasi yang optimal sebagai bukti
pengabdian dirinya kepada Allah. Jadi, etos kerja adalah dorongan, kehendak, atau prinsip
bekerja yang muncul dari jiwa individu untuk melakukan suatu kegiatan.
Dikatakan sebagai aktifitas dinamis, mempunyai makna bahwa seluruh kegiatan yang
dilakukan sebagai seorang muslim harus penuh dengan tantangan, tidak monoton, dan selalu
berupaya untuk mencari terobosan-terobosan baru (innovative) dan tidak merasa puas dalam
berbuat kebaikan.
Pokoknya harus tertanam dalam keyakinan kita bahwa bekerja itu adalah amanah
Allah, sehingga ada semacam sikap mental yang tegas pada diri pribadi muslim bahwa;
1. Karena bekerja adalah amanah, maka dia akan bekerja dengan kerinduan dan tujuan agar
pekerjaannya tersebut menghasilkan sesuatu yang optimal.
2. Ada semacam kebahagian dalam melaksanakan pekerjaan, karena dengan bekerja dia telah
melaksanakan amanah Allah.
3. Tumbuh kreativitas untuk mengembangkan dan memperkaya dan memperluas pekerjaanya.
4. Ada rasa malu hati apabila pekerjaanya tidak dia laksanakan dengan baik, karena hal ini
berarti sebuah pengkhianatan terhadap amanah Allah

B. Hakekat Etos Kerja dalam Islam

Ethos berasal dari bahasa Yunani yang berarti sikap, kepribadian, watak, karakter serta
keyakinan atas sesuatu.

Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat.
Ethos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh, budaya serta sistem nilai yang
diyakininya. Dari kata etos ini dikenal pula kata etika yang hamper mendekati pada
pengertian akhlak atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik buruk moral sehingga dalam
etos tersebut terkandung gairah atau semangat yang amat kuat untuk mengerjakan sesuati
secara optimal lebih baik dan bahkan berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang
sesempurna mungkin.

Dalam al-Quran dikenal kata itqon yang berarti proses pekerjaan yang sungguh-sungguh,
akurat dan sempurna. (An-Naml : 88). Etos kerja seorang muslim adalah semangat untuk
menapaki jalan lurus, dalam hal mengambil keputusan pun, para pemimpin harus memegang
amanah terutama para hakim. Hakim berlandaskan pada etos jalan lurus tersebut sebagaimana
Dawud ketika ia diminta untuk memutuskan perkara yang adil dan harus didasarkan pada
nilai-nilai kebenaran, maka berilah keputusan (hukumlah) di antara kami dengan adil dan
janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjuklah (pimpinlah) kami ke jalan yang
lurus (QS. Ash Shaad : 22)

Pengertian Kerja

Kerja dalam pengertian luas adalah semua bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam
hal materi maupun non-materi, intelektual atau fisik maupun hal-hal yang berkaitan dengan
masalah keduniawian atau keakhiratan. Kamus besar bahasa Indonesia susunan WJS
Poerdarminta mengemukakan bahwa kerja adalah perbuatan melakukan sesuatu. Pekerjaan
adalah sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah.

KH. Toto Tasmara mendefinisikan makan dan bekerja bagi seorang muslim adalah suatu
upaya sungguh-sungguh dengan mengerahkan seluruh asset dan zikirnya untuk
mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang menundukkan
dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik atau dengan
kata lain dapat juga dikatakan bahwa dengan bekerja manusia memanusiakan dirinya.

Lebih lanjut dikatakan bekerja adalah aktivitas dinamis dan mempunyai tujuan untuk
memenuhi kebutuhan tertentu (jasmani dan rohani) dan di dalam mencapai tujuannya tersebut
dia berupaya dengan penuh kesungguhan untuk mewujudkan prestasi yang optimal sebagai
bukti pengabdian dirinya kepada Allah SWT.

Di dalam kaitan ini, al-Quran banyak membicarakan tentang aqidah dan keimanan yang
diikuti oleh ayat-ayat tentang kerja, pada bagian lain ayat tentang kerja tersebut dikaitkan
dengan masalah kemaslahatan, terkadang dikaitkan juga dengan hukuman dan pahala di
dunia dan di akhirat. Al-Quran juga mendeskripsikan kerja sebagai suatu etika kerja positif
dan negatif. Di dalam al-Quran banyak kita temui ayat tentang kerja seluruhnya berjumlah
602 kata, bentuknya :

1) Kita temukan 22 kata amilu (bekerja) di antaranya di dalam surat al-Baqarah: 62, an-
Nahl: 97, dan al-Mukmin: 40.

2) Kata amal (perbuatan) kita temui sebanyak 17 kali, di antaranya surat Hud: 46, dan al-
Fathir: 10.

3) Kata waamiluu (mereka telah mengerjakan) kita temui sebanyak 73 kali, diantaranya surat
al-Ahqaf: 19 dan an-Nur: 55.

4) Kata Tamalun dan Yamalun seperti dalam surat al-Ahqaf: 90, Hud: 92.

5) Kita temukan sebanyak 330 kali kata amaaluhum, amaalun, amaluka, amaluhu,
amalikum, amalahum, aamul dan amullah. Diantaranya dalam surat Hud: 15, al-Kahf: 102,
Yunus: 41, Zumar: 65, Fathir: 8, dan at-Tur: 21.

6) Terdapat 27 kata yamal, amiluun, amilahu, tamal, amalu seperti dalam surat al-
Zalzalah: 7, Yasin: 35, dan al-Ahzab: 31.

7) Disamping itu, banyak sekali ayat-ayat yang mengandung anjuran dengan istilah seperti
shanaa, yasnaun, siru fil ardhi ibtaghu fadhillah, istabiqul khoirot, misalnya ayat-ayat
tentang perintah berulang-ulang dan sebagainya.

Di samping itu, al-Quran juga menyebutkan bahwa pekerjaan merupakan bagian dari iman,
pembukti bahwa adanya iman seseorang serta menjadi ukuran pahala hukuman, Allah SWT
berfirman:

barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan


amal yang saleh (Al-Kahfi: 110)

Ada juga ayat al-Quran yang menunjukkan pengertian kerja secara sempit misalnya firman
Allah SWT kepada Nabi Daud As.

Dan Telah kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara
kamu dalam peperanganmu (al-Anbiya: 80)
Dalam surah al-Jumuah ayat 10 Allah SWT menyatakan :

Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah
karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (al-Jumuah: 10)

Pengertian kerja dalam keterangan di atas, dalam Islam amatlah luas, mencakup seluruh
pengerahan potensi manusia. Adapun pengertian kerja secara khusus adalah setiap potensi
yang dikeluarkan manusia untuk memenuhi tuntutan hidupnya berupa makanan, pakaian,
tempat tinggal, dan peningkatan taraf hidup.

Inilah pengertian kerja yang bisa dipakai dalam dunia ketenaga-kerjaan dewasa ini,
sedangkan bekerja dalam lingkup pengertian ini adalah orang yang bekerja dengan menerima
upah baik bekerja harian, maupun bulanan dan sebagainya.

Pembatasan seperti ini didasarkan pada realitas yang ada di negara-negara komunis maupun
kapitalis yang mengklasifikasikan masyarakat menjadi kelompok buruh dan majikan, kondisi
semacam ini pada akhirnya melahirkan kelas buruh yang seringkali memunculkan konflik
antara kelompok buruh atau pun pergerakan yang menuntut adanya perbaikan situasi kerja,
pekerja termasuk hak mereka.

Konsep klasifikasi kerja yang sedemikian sempit ini sama sekali tidak dalam Islam, konsep
kerja yang diberikan Islam memiliki pengertian namun demikian jika menghendaki
penyempitan pengertian (dengan tidak memasukkan kategori pekerjaan-pekerjaan yang
berkaitan dengan ibadah dan aktivitas spiritual) maka pengertian kerja dapat ditarik pada
garis tengah, sehingga mencakup seluruh jenis pekerjaan yang memperoleh keuntungan
(upah), dalam pengertian ini tercakup pula para pegawai yang memperoleh gaji tetap dari
pemerintah, perusahaan swasta, dan lembaga lainnya.

Pada hakikatnya, pengertian kerja semacam ini telah muncul secara jelas, praktek muamalah
umat Islam sejak berabad-abad, dalam pengertian ini memperhatikan empat macam pekerja :

1) al-Hirafiyyin; mereka yang mempunyai lapangan kerja, seperti penjahit, tukang kayu, dan
para pemilik restoran. Dewasa ini pengertiannya menjadi lebih luas, seperti mereka yang
bekerja dalam jasa angkutan dan kuli.

2) al-Muwadzofin: mereka yang secara legal mendapatkan gaji tetap seperti para pegawai dari
suatu perusahaan dan pegawai negeri.

3) al-Kasbah: para pekerja yang menutupi kebutuhan makanan sehari-hari dengan cara jual
beli seperti pedagang keliling.

4) al-Muzarriun: para petani.

Pengertian tersebut tentunya berdasarkan teks hukum Islam, diantaranya hadis rasulullah
SAW dari Abdullah bin Umar bahwa Nabi SAW bersabda, berikanlah upah pekerja sebelum
kering keringat-keringatnya. (HR. Ibn Majah, Abu Hurairah, dan Thabrani).

Pendapat atau kaidah hukum yang menyatakan : Besar gaji disesuaikan dengan hasil kerja.
Pendapat atau kaidah tersebut menuntun kita dalam mengupah orang lain disesuaikan dengan
porsi kerja yang dilakukan seseorang, sehingga dapat memuaskan kedua belah pihak.
C. Etika Kerja dalam Islam

Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah mencintai salah seorang diantara kamu
yang melakukan pekerjaan dengan itqon (tekun, rapi dan teliti). (HR. al-Baihaki)

Dalam memilih seseorang ketika akan diserahkan tugas, rasulullah melakukannya dengan
selektif. Diantaranya dilihat dari segi keahlian, keutamaan (iman) dan kedalaman ilmunya.
Beliau senantiasa mengajak mereka agar itqon dalam bekerja.

Sebagaimana dalam awal tulisan ini dikatakan bahwa banyak ayat al-Quran menyatakan
kata-kata iman yang diikuti oleh amal saleh yang orientasinya kerja dengan muatan
ketaqwaan.

Penggunaan istilah perniagaan, pertanian, hutang untuk mengungkapkan secara ukhrawi


menunjukkan bagaimana kerja sebagai amal saleh diangkatkan oleh Islam pada kedudukan
terhormat.

Pandangan Islam tentang pekerjaan perlu kiranya diperjelas dengan usaha sedalam-dalamnya.
Sabda Nabi SAW yang amat terkenal bahwa nilai-nilai suatu bentuk kerja tergantung pada
niat pelakunya. Dalam sebuah hadits diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah
bersabda bahwa sesungguhnya (nilai) pekerjaan itu tergantung pada apa yang diniatkan.
(HR. Bukhari dan Muslim).

Tinggi rendahnya nilai kerja itu diperoleh seseorang tergantung dari tinggi rendahnya niat.
Niat juga merupakan dorongan batin bagi seseorang untuk mengerjakan atau tidak
mengerjakan sesuatu.

Nilai suatu pekerjaan tergantung kepada niat pelakunya yang tergambar pada firman Allah
SWT agar kita tidak membatalkan sedekah (amal kebajikan) dan menyebut-nyebutnya
sehingga mengakibatkan penerima merasa tersakiti hatinya.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu


dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang
menafkahkan hartanya Karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan
hari kemudian (al-Baqarah : 264)

Keterkaitan ayat-ayat di atas memberikan pengertian bahwa taqwa merupakan dasar utama
kerja, apapun bentuk dan jenis pekerjaan, maka taqwa merupakan petunjuknya. Memisahkan
antara taqwa dengan iman berarti mengucilkan Islam dan aspek kehidupan dan membiarkan
kerja berjalan pada wilayah kemashlahatannya sendiri. Bukan kaitannya dalam pembangunan
individu, kepatuhan kepada Allah SWT serta pengembangan umat manusia.

Perlu kiranya dijelaskan disini bahwa kerja mempunyai etika yang harus selalu diikut
sertakan didalamnya, oleh karenanya kerja merupakan bukti adanya iman dan barometer bagi
pahala dan siksa. Hendaknya setiap pekerjaan disampung mempunyai tujuan akhir berupa
upah atau imbalan, namun harus mempunyai tujuan utama, yaitu memperoleh keridhaan
Allah SWT. Prinsip inilah yang harus dipegang teguh oleh umat Islam sehingga hasil
pekerjaan mereka bermutu dan monumental sepanjang zaman.
Jika bekerja menuntut adanya sikap baik budi, jujur dan amanah, kesesuaian upah serta tidak
diperbolehkan menipu, merampas, mengabaikan sesuatu dan semena-mena, pekerjaan harus
mempunyai komitmen terhadap agamanya, memiliki motivasi untuk menjalankan seperti
bersungguh-sungguh dalam bekerja dan selalu memperbaiki muamalahnya. Disamping itu
mereka harus mengembangkan etika yang berhubungan dengan masalah kerja menjadi suatu
tradisi kerja didasarkan pada prinsip-prinsip Islam.

Adapun hal-hal yang penting tentang etika kerja yang harus diperhatikan adalah sebagai
berikut :

1. Adanya keterkaitan individu terhadap Allah, kesadaran bahwa Allah melihat,


mengontrol dalam kondisi apapun dan akan menghisab seluruh amal perbuatan secara
adil kelak di akhirat. Kesadaran inilah yang menuntut individu untuk bersikap cermat
dan bersungguh-sungguh dalam bekerja, berusaha keras memperoleh keridhaan Allah
dan mempunyai hubungan baik dengan relasinya. Dalam sebuah hadis rasulullah
bersabda, sebaik-baiknya pekerjaan adalah usaha seorang pekerja yang dilakukannya
secara tulus. (HR Hambali)
2. Berusaha dengan cara yang halal dalam seluruh jenis pekerjaan. Firman Allah SWT :

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan
kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.
(al-Baqarah: 172)

1. Dilarang memaksakan seseorang, alat-alat produksi atau binatang dalam bekerja,


semua harus dipekerjakan secara professional dan wajar.
2. Islam tidak membolehkan pekerjaan yang mendurhakai Allah yang ada kaitannya
dengan minuman keras, riba dan hal-hal lain yang diharamkan Allah.
3. Professionalisme yaitu kemampuan untuk memahami dan melakukan pekerjaan sesuai
dengan prinsip-prinsip keahlian. Pekerja tidak cukup hanya memegang teguh sifat
amanah, kuat dan kreatif serta bertaqwa tetapi dia juga mengerti dan benar-benar
menguasai pekerjaannya. Tanpa professionalisme suatu pekerjaan akan mengalami
kerusakan dan kebangkrutan juga menyebabkan menurunnya produktivitas bahkan
sampai kepada kesemrautan manajemen serta kerusakan alat-alat produksi
4. Ayat Tentang Motivasi Kerja
5. Q.S. Ar-Rad:13:

6.
Artinya: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka
dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak
merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri
mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka
tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia,
(Q.S. Ar-Rad: 13).
7.
8. Maksud dari ayat tersebut adalah, Allah S.W.T menyuruh setiap individu agar lebih
mandiri menyikapi sesuatu yang berhubungan diri sendiri serta bersikap proaktif, yaitu sikap
yang ingin mengubah lingkungan, mengubah keadaan yang ada, atau membuat suasana
lebih kondusif. Dengan keterangan ayat tersebut maka jelaslah bahwa manusia mempunyai
keharusan untuk berusaha dan mampu mengubah kondisi sendiri dari kemunduran dan
keterbelakangan untuk menuju kepada kemajuan. Suatu prestasi kerja dan keberuntungan
tidak dapat diraih dengan mudah oleh seseorang, melainkan melalui usaha dan kerja keras
yang dibarengi idealisme dan optimisme yang tinggi. Bekerja keras bagi manusia merupakan
keharusan dan panggilan hidup manusia. Jika kita berusaha dengan baik serta diiringi dengan
hati yang ikhlas karena Allah S.W.T maka hal itu termasuk ibadah dan perbuatan yang
berpahala.
9.
10. Hadist Tentang Motivasi Kerja
11. Sebelum kita kupas hadist tentang motivasi kerja dalam islam secara mendetail perlu
kiranya kita untuk mengetahui fungsi kerja dalam islam, kita perlu memahami terlebi dahulu
fungsi dan kedudukan bekerja. Mencari nafkah dalam islam merupakan sebuah kewajiban.
Islam merupakan agama fitra yang sesuai dengan kebutuhan manusia, diantaranya
kebutuhan fisik. Dan, salah satau cara memenuhi kebutuhan fisik itu ialah bekerja.
Motivasi bekerja dalam islam itu adalah untuk mencari nafkah yang merupakan bagian dari
ibadah. Motivasi kerja dalam islam bukanlah mengejar hidup hedonis, bukan juga untuk
status, apalagi untuk mengejar kekayaan dengan segala cara. Tetapi untuk beribadah,
bekerja untuk mencari nafkah adalah hal yang istimewah dalam pandangan Islam. Adapun
hadits motivasi kerja dalam islam, ialah:
Artinya: "Sesungguhnya allah suka kepada hamba yang berkarya dan trampil (proffesional).
Barang siapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan
mujahid di jalan Allah Azza Wajallah. (Hr. Ahmad).
Luar biasa bukan ?, dikatakan dalam hadits diatas bahwa mencari nafkah adalah seperti
mujahid, artinya nilainya sangat besar. Allah suka kepada hambanya yang mau bersusah
paya mencari nafkah. Saya kira, ini lebih dari cukup sebagai motivasi kerja sebagai muslim.
Bahkan, kitapun berpeluang mendapatkan ampunan dari Allah.
12. Mencari rezeki yang halal dalam agama islam hukumnya wajib. Ini menandakan
bagaiamana penting mencari rezeki yang halal. Dengan demekian, motivasi kerja dalam
islam bukan hanya memenuhi nafkah semata tetapi sebagai kewajiban beribadah Allah
setelah ibadah fardu lainnya, adapun Hadistnya sebagai berikut:
"Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan fardhu (seperti shalat, puasa,
dll). (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

13. Alkisah, suatu ketika Nabi Muhammad berjumpa dengan Saad bin Muadz Al-
Anshari. Ketika itu Nabi Muhammad melihat tangan Saad melepuh, kulitnya
gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. Kenapa tanganmu?,
tanya Nabi kepada Saad.

Wahai Rasulullah, jawab Saad,


Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari
nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku. Seketika itu Nabi mengambil tangan
Saad dan menciumnya seraya berkata, Inilah tangan yang tidak akan pernah
disentuh api neraka.
Dalam kisah lain disebutkan bahwa ada seseorang yang berjalan melalui tempat Nabi
Muhammad. Orang tersebut sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para
sahabat kemudian bertanya, Wahai Rasulullah, andaikata bekerja semacam orang itu
dapat digolongkan jihad fi sabilillah, maka alangkah baiknya. Mendengar itu Nabi
pun menjawab, Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil,
itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orangtuanya yang
sudah lanjut usia, itu adalah fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya
sendiri agar tidak meminta-minta, itu juga fi sabilillah. (HR. Ath-Thabrani).
Kerja adalah perintah suci Allah kepada manusia. Meskipun akhirat lebih kekal
daripada dunia, namun Allah tidak memerintahkan hambanya meninggalkan kerja
untuk kebutuhan duniawi. Kerja adalah melakukan sesuatu untuk mencari nafkah
yang hakekatnya adalah manifestasi dari amal kebajikan.

Sebagai sebuah amal, maka NIAT dalam menjalankannya


akan menentukan penilaian. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad bersabda,
Sesungguhnya nilai amal itu ditentukan oleh niatnya. Amal seseorang akan dinilai
berdasar apa yang diniatkannya.
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (untuk
kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari
(kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah
telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. (QS.
Al-Qashash: 77).
Jadi budaya kerja yaitu nilai-nilai sosial atau suatu keseluruhan pola perilaku yang
berkaitan dengan akal dan budi manusia dalam melakukan suatu pekerjaan. Jadi setiap
individu yang bekerja harus memiliki budaya kerja yang baik. Budaya yang kerja
yang baik sangat diperluukan agar menjadi pekerja yang berbudi pekerti dan mengerti
nilai-nilai yang dijalaninya dan tidak membawa individu kepada penyimpangan. Jadi
itulah perlunya kita memahami budaya kerja yang baik.
Budaya kerja masing-masing individu akan menentukan terbentuknya budaya dimana
dia bekerja. Tentu saja hal ini juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti
kepemimpinan yang mengandung nilai-nilai agama karena selalu mendahulukan
pembinaan terhadap akhlakul karimah, sejak tahap awal perlu dimantapkan sebagai
manifestasi utama yang akan terekspresi dalam seremoni dan ritual yang substansinya
adalah substansi agamawi melalui budaya jujur, sabar, tidak mudah iri dan terpancing
untuk melakukan hal-hal yang dimurkai agama.
Para pemimpin akan menentukan bahwa bila tahap pertama upaya menyesuaikan diri
agar menghasilkan sukses dalam kerjasama yang harmonis.
Dalam agama Islam, manusia ditentukan untuk : Berusaha dengan sebaik-baiknya
agar tercapai suatu tujuan yang halal. Kita mencoba berusaha untuk menghasilkan
prestasi terbaiknya, apalagi bila penerimaan hasil dilakukan dengan adil dan objektif.
Melakukan pekerjaan dengan ikhlas adalah ajaran utama dalam Islam. Usaha yang
diupayakan hanya karena Allah semata. Bekerja dengan dilandasi keikhlasan, dapat
mencegah dari stres atau jenis emosi lain yang merugikan.
Umat dituntut untuk minta tolong pada Allah dan mengakui keterbatasan dirinya.
Allah lebih mencintai orang-orang yang selalu meminta daripada yang enggan
meminta, karena seolah-olah manusia itu berkecukupan. Dan Allah berfirman :
Berdoalah kepadaKu, niscaya akan keperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-
orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka jahanan
dalam keadaan hina dina (QS. 40:60). Rasullah SAW bersabda : Sesungguhnya
siapa saja yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan marah kepadanya
(HR. At-Tarmizi dan Abu Hurairoh).

Apabila manusia rajin bekerja dan berupaya, ia akan


menciptakan budaya kerja yang disiplin, berkemauan keras dan tidak cepat putus asa.
Selanjutnya diimbangi dengan terus menerus berdoa dan meminta tolong kepada
Allah, agar usahanya membuahkan hasil. Sifat ini akan membawa manusia ke
perilaku rendah hati, tidak takabur dan senantiasa menyadari baik kelemahan maupun
kekuatannya.
Demikian saudaraku semua, Agama Islam mengajarkan manusia untuk giat dalam
bekerja yang sesuai syariat yaitu mengedepankan kejujuran, kedisiplinan dan
keihklasan. Oleh sebab itu, marilah kita semua bekerja dengan giat ikhlas serta kerja
yang CERDAS (Smart Working) agar kita sukses dunia dan akhirat. Amin yra.

Bab 3 AKHLAK MAHMUDAH dan AKHLAK MADZMUMAH

A. Pengertian Akhlak Mahmudah


Akhlak mahmudah adalah segala tingkah laku yang terpuji, dapat disebut juga dengan
akhlak fadhilah (), akhlak yang utama.1[1]
B. Keutamaan Akhlak Mahmudah
Perbuatan yang baik merupakan akhlaq karimah yang wajib dikerjakan. Akhlaq
karimah berarti tingkah laku yang terpuji yang merupakan tanda kesempurnaan iman
seseorang kepada Allah. Akhlaq al karimah dilahirkan berdasarkan sifat-sifat yang
terpuji. Akhlak yang baik disebut juga dengan akhlak mahmudah. Pandangan al-
Ghazali tentang akhlak yang baik hampir senada dengan pendapat Plato yang
mengatakan, bahwa orang adalah orang yang dapat melihat kepada Tuhannya secara
terus-menerus. Al-Ghazali memandang orang yang dekat kepada Allah adalah orang
yang mendekati ajaran-ajaran Rasulullah yang memiliki akhlak sempurna.
Al-Ghazali menerangkan adanya empat pokok keutamaan akhlak yang baik, yaitu
sebagai berikut :
1. Mencari hikmah. Hikmah ialah keutamaan yang lebih baik.
2. Bersikap berani. Berani berarti sikap yang dapat mengendalikan kekuatan
amarahya dengan akal untuk maju.
3. Bersuci diri. Suci berarti mencapai fitrah, yaitu sifat yang dapat mengendalikan
syahwatnya dengan akal dan agama.
4. Berlaku adil. Adil sebagai misalnya, yaitu seseorang yang dapat membagi dan
memberi haknya sesuai dengan fitrahnya atau seseorang mampu menahan
kemarahannya dan nafsu syahwatnya untuk mendapatkan hikmah di balik peristiwa
yang terjadi.2[2]
C. Bentuk-Bentuk Akhlak Mahmudah (Akhlak Terpuji)
Rasulullah SAW. menganjurkan umatnya agar memiliki akhlak mahmudah (akhlak
terpuji). Allah SWT. menyukai sifat-sifat baik tersebut, diantaranya sebagai berikut :
1. Sifat Sabar
Menurut Drs. Moh. Amin dalam karangan bukunya yang berjudul 10 induk akhlak
terpuji, pengertian sabar adalah kekuatan jiwa seorang mukmin yang tenang dan yakin
akan rahmat Allah dan percaya kepada janji dan keadilan-Nya; jiwa yang takwa dan
kuat, mengalahkan dan menguasai nafsunya, serta takut akan kemurkaan Tuhan-Nya
sehingga dapat mengalahkan keinginannya.3[3] Kesabaran itu pahit dilaksanakan,
namun akibatnya lebih manis daripada madu. Ungkapan tersebut menunjukkan
hikmah kesabaran sebagai fadhilah. Kesabaran dibagi menjadi empat kategori berikut
ini:4[4]
a. Sabar menanggung beratnya melaksanakan kewajiban.
b. Sabar menanggung musibah atau cobaan.
c. Sabar menahan penganiayaan dari orang.
d. Sabar menanggung kemiskinan.
2. Sifat Benar atau Jujur (Shidiq)
Benar ialah memberitahukan (menyatakan) sesuatu yang sesuai dengan apa adanya,
artinya sesuai dengan kenyataan.
3. Sifat Amanah
Amanah menurut bahasa (etimologi) ialah kesetiaan, ketulusan hati, kepercayaan
(istiqamah) atau kejujuran.
4. Sifat Adil
Adil adalah tindakan memberi hak kepada yang mempunyai hak. Bila seseorang
mengambil haknya dengan cara yang benar atau memberikan hak orang lain tanpa
mengurangi haknya, itulah yang dinamakan tindakan adil.
5. Sifat Kasih Sayang
Pada dasarnya sifat kasih sayang (ar-rahmah) adalah fitrah yang dianugerahkan Allah
kepada makhluk-Nya.
6. Sifat Hemat
Hemat (al-iqtishad) ialah menggunakan segala sesuatu yang tersedia berupa harta
benda, waktu, dan tenaga menurut ukuran keperluan, mengambil jalan tengah, tidak
kurang dan tidak berlebihan.
7. Sifat Berani (Syajaah)
Berani adalah suatu sikap mental seseorang yang dapat menguasai jiwanya dan
berbuat menurut yang semestinya.
8. Bersifat Kuat (Al-Quwwah)
Kekuatan pribadi manusia dapat dibagi menjadi tiga bagian :
a. Kuat fisik, kuat jasmaniah yang meliputi anggota tubuh.
b. Kuat jiwa, bersemangat, inovatif dan inisiatif serta optimistik.
c. Kuat akal, pikiran, cerdas dan cepat mengambil keputusan yang tepat.
9. Sifat Malu (al-Haya)
Rangkaian dari sifat ini ialah malu terhadap Allah dan malu kepada diri sendiri di kala
melanggar peraturan-peraturan Allah.
10. Memelihara Kesucian Diri (al-Iffah)
Menjaga diri dari segala keburukan dan memelihara kehormatan hendaklah dilakukan
pada setiap waktu. Dengan penjagaan diri secara ketat, maka dapatlah diri
dipertahankan untuk selalu berada pada status khair an-nas (sebaik-baik manusia).
11. Menempati Janji
Janji ialah suatu ketetapan yang dibuat dan disepakati oleh seseorang untuk orang lain
atau dirinya sendiri untuk dilaksanakan sesuai dengan ketetapannya.

Selain 11 sifat diatas Drs. Moh. Amin juga menjelasakan bahwa ikhlas, syukur, khauf
(takut), taubat, tawakkal, zuhud (menghindari kesenangan dunia), dan dzikrul maut
(mengingat kematian) merupakan bagian dari akhlak terpuji. Jadi, semua niat atau
perbuatan yang mengingatkan kita kepada Allah merupakan bagian dari akhlak mulia
atau mahmudah.

D. Pengertian Akhlak Madzmumah


Akhlak madzmumah ialah perangai buruk yang tercermin dari tutur kata, tingkah laku
dan sikap yang tidak baik.5[5] Akhlak buruk adalah suatu sifat tercela dan dilarang
oleh norma-norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.6[6] Apabila seseorang
melaksanakannya niscaya akan mendapatkan nilai dosa dari Allah, karena perbuatan
tersebut merupakan perbuatan yang tercela di hadapan Allah.
E. Akibat dari Akhlak Madzmumah
Melakukan perbuatan yang tecela dapat merugikan diri sendiri, keluarga dan
lingkungan sekitarnya. Contoh dari akibat perbuatan tercela adalah sebagai
berikut:7[7]
1. Jika seseorang suka mencaci, maka suatu ketika ia akan dicaci orang pula.
2. Jika seseorang suka berdusta, suatu saat jika ia berkata benar, orang lain akan
tetap tidak percaya, dan ia juga akan dibohongi orang lain.
3. Hatinya tidak pernah tentram dan bahagia karena kesalahan dan
keserakahannyatakut terbongkar oleh orang lain.
4. Apa yang dicita-citakan tidak akan terkabul, kecuali hanya kejahatan yang
mengikuti dirinya.
F. Bentuk-Bentuk Akhlak Madzmumah (Akhlak Tercela)
1. Sifat Dengki
Dengki menurut bahasa (etimologi) berarti menaruh perasaan marah (benci, tidak
suka) karena sesuatu yang sangat baik berupa keberuntungan jatuh pada orang lain.
Dengki ialah rasa benci dalam hati terhadap kenikmatan orang lain dan disertai
maksud agar nikmat itu hilang atau berpindah kepadanya.8[8]
Adapun tanda-tanda orang yang memiliki sifat dengki adalah:9[9]
a. Tidak senang melihat orang lain mendapatkan kesenangan
b. Suka mengumpat, mencela, menghina dan memfitnah orang lain.
c. Ucapannya selalu membuat hati orang lain sakit
d. Memiliki sifat sombong

2. Sifat Iri Hati


Kata iri menurut etimologi artinya merasa kurang senang melihat kelebihan atau
kesuksesan orang lain, kurang senang melihat orang lain beruntung. tidak rela apabila
orang lain mendapatkan nikmat dan kebahagiaan.10[10]
3. Sifat Angkuh (Sombong)
Sombong adalah sikap menganggap dirinya lebih daripada yang lain sehingga ia
berusaha menutupi dan tidak mau mengakui kekurangan dirinya, selalu merasa lebih
besar, lebih kaya, lebih pintar, lebih dihormati, lebih mulia, dan lebih beruntung
daripada orang lain.11[11]
14. Dalam QS........menjelaskan bahwasanya, kesombonganah yang mendorong manusia
untuk bertengkar dan bersitegang, yang pada gilirannya menimbulkan penghalang
yang sangat besar bagi panggilan kebenaran. Oleh karena itu, nash-nash mengatakan
bahwa kesombongan merupakan salah satu aib dan kerusakan yang mengancam
keutuhan pribadi manusia.12[12]
15. 4. Sifat Riya
16. Riya ialah amal yang dikerjakan dengan niat tidak ikhlas dan variasinya bisa
bermacam-macam. Riya adalah beramal kebaikan karena didasarkan ingin mendapat
pujian orang lain, agar dipercaya orang lain, agar dicintai orang lain, karena ingin
dilihat oleh orang lain.13[13]
17. G. Cara untuk menumbuhkan akhlak terpuji
18. Dalam mewujudkan akhlak yang mulia sebagaimana sifat-sifat terpuji yang telah
dijelaskan diatas, menurut Buya Hamka ada beberapa kewajiban yang harus
ditunaikan antara lain:
19. a. Membersihkan hati serta mensucikan hubungan dengan Allah SWT
20. b. Memperhatikan seluruh perintah dan larangan agama
21. c. Belajar melawan kehendak diri dan menaklukkannya kepada kehendak Allah
22. d. Menegakkan persaudaraan di dalam islam
23. Menjadikan Nabi Muhammad sebagai suri tauladan dalam setiap bertingkah laku
24. I. SUUDZON
25. A.PENGERTIAN SUUDZON
26. 1.Menurut bahasa
27. Suuudzan berasal dari bahasa Arab,yaitu as-suuu dan adz-
dzonn.as-suuu artinya semua yang buruk,atau Semua yang menjadikan
manusia takut, baik dari urusan dunia maupun urusan akhirat.sedangkan
adz-dzonn artinya ragu,menyangka,tahu yang tidak yakin atau yakin.
28. 2.menurut istilah
29. Suudzon menurut istilah ialah prasangka yang menjadikan
seseorang mensifati orang lain dengan sifat yang tidak disukainya tanpa
dalil.
30.
31. B.SU,UDZAN DALAM PANDANGAN ISLAM
32. a. Haram
33. 1. Suudzon kepada Allah. Allah berfirman: Dan jika kamu menuruti
kebanyakan orang- orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan
menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti
persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap
Allah) (QS 6: 116)
34. 2. Suudzon kepada Rasul
35. 3. Suudzon kepada orang-orang Mukmin yang dikenal dengan
kebaikannya. Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah
kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah
berdosa. (49: 12)
36. b. Wajib.
37. 1. Wajib suudzon kepada orang kafir yang terang-terangan dengan
kekufurannya dan permusuhannya kepada Allah, Rasulullah dan orang-
orang Mukmin yang shaleh. Allah berfirman:
38. Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan
orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan
terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap
kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. mereka menyenangkan
hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. dan kebanyakan
mereka adalah orang-orang yang fasik (Tidak menepati perjanjian). (QS
9: 8)
39. 2. Suudzon kepada orang Muslim yang dikenal terang-terangan
berbuat maksiat, menghalangi jalan Allah dan tidak komitmen terhadap
Islam.
40. C.CARA MENGHILANGKAN SUUDZAN
41. 1.Paksakan untuk husnudzan minimal 72 kali dalam sehari
42. Husnudzan adalah kebiasaan baik,dan kebiasaan baik akan
menghilangkan kebiasaan buruk.
43. 2.Tinggalkan asupan negatif
44. Agar kebiasaan su-udzan berangsur hilang,maka tinggalkan asupan
negatif kepada diri kita ,misalnya televisi.karna berita dan informasi di
televisi 99% adalah kebohongan,dan 1% meragukan.selain itu kita juga
harus meninggalkan gibah,gosip,dan berita buruk.karena hal itu akan
membuat pikiran atau prasangka kita menjadi buruk.
45. 3.merubah kata-kata yang diucapkan
46. Misalnya:- BERAT menjadi TIDAK RINGA
47. -SUSAH menjadi TIDAK MUDAH
48. 4.ubah kata-kata berenergi rendah ke energi tinggi
49. Misalnya: Lumayan Bagus hebat Luarbiasa Dahsyat
50. 5.Bertanya pada diri sendiri
51. Misalnya: saya ingin dikenang sabagai apa?
52. Jawab: saya ingin dikenang sebagai ahli ibadah.
53. Dengan begitu kita tidak akan suudzan kepada diri kita dan juga
kepada Alloh.
54. 6.Dzikir kepada Alloh(dimana pun,kapan pun dan dalam komdisi apa
pun)
55. 7.Menikmati sholat kita(khusu)
56. ll.HUSNUDZAN
57.
58. A.PENGERTIAN HUSNUDZON
59. Husnuzan secara bahasa berarti berbaik sangka lawan katanya
adalah suuzan yang berarti berburuk sangka . Husnuzan adalah cara
pandang seseorang yang membuatnya melihat segala sesuatu secara
positif, seorang yang memiliki sikap husnuzan akan mepertimbangkan
segala sesuatu dengan pikiran jernih, pikiran dan hatinya bersih dari
prasangka yang belum tentu kebenaranya.
60.
61. B. MACAM-MACAM HUSNUZAN
62. 1. Husnuzan Kepada Alloh
63. Salah satu sifat terpuji yang harus tertanam pada diri kita adalah sifat
husnuzan kepada Allah, sikap ini ditunjukan dengan selalu berbaik
sangka atas segala kehendak allah terhadap kita selaku hamba-Nya.karen
kita tahu apa rancana kita tapi kita tidak tahu apa yang Alloh rencanakan
kepada kita,dan rencana Alloh itu salalubaik.
64. Kita harus selalu berpikir optimis,dan yakin bahwa rahmat dan
karunia yang diberikan Alloh kepada kita tidak akan pernah putus.
Sebagaimana Firman Allah Swt :
65.
66.

67. Dan rahnat ku meliputi segala sesuatu (Q.S.Al-Araf : 156)
68.
69. sebab semua yang diberikan oleh Alloh, baik berupa kenikmatan maupun
cobaan tentu mengandung banyak hikmah dan kebaikan. Hal ini
ditegaskan oleh Allah dalam sebuah Hadits Qudis yang artinya :
70. Selalu menuruti sangkaan hamba ku terhadap diriku jika ia berprasangka
baik maka akan mendapatkan kebaikan dan jika ia berprasangka buruk
maka akan mendapatkan leburukan (H.R.at-Tabrani dan Ibnu Hiban).
71.
72. 2. Husnuzan terhadap Diri Sendiri
73. Perilaku husnuzan terhadap diri sendiri artinya adalah berperasangka
baik terhadap kemampuan yang dimilki oleh diri kita sendiri. Dengan
kata lain, senantiasa percaya diri dan tidak merasa rendah diri di hadapan
orang lain. Orang yang memiliki sikap husnuzan terhadap diri sendiri
akan senantiasa memiliki semangat yang tinggi untuk meraih sukses
dalam setiap langkahnya. Sebab ia telah mengenali dengan baik
kemempuan yang dimilikinya, sekaligus menerima kelemahan yang ada
pada dirinya, sehingga ia dapat menetahui kapan ia harus maju dan tampil
di depan dan kapan harus menahan diri karena tidak punya kemampuan
di bidang itu.
74. 3. Husnuzan terhadap Sesama Manusia
75. Husnuzan terhadap sesama manusia artinya adalah berprasangka
baik terhadap sesama. Semua orang dipandang baik sebelum terbukti
kesalahan atau kekeliruannya, sehingga tidak menimbulkan kekacauan
dalam pergaulan.
76. C.DAMPAK HUSNUDZAN
77. 1.Untuk pribadi
78. - Selalu bersyukur atas nikmat Alloh yang diberikan.
79. - Selalu bersabar atas cobaan yang datang.
80. - Selalu melihat sisi positif dari peristiwa yang terjadi.
81. - Bisa mengenal hakikat kebenaran.
82. - Bisa mengundang keberuntungan.
83. 2.Sosial
84. - Akan timbul saling mempercayai diantara sesama.
85. - Akan timbul saling mendukung diantara sesama.
86. - Terciptanya keterbukaan.
87. - Akan timbul perporma baik.
88. BAB II

89. PEMBAHASAN

90. 2.1 ADIL

91. A.Pengertian Adil


92. Adil adalah memberikan hak kepada orang yang berhak menerimanya tanpa ada

pengurangan, dan meletakkan segala urusan pada tempat yang sebenarnya tanpa ada

aniaya, dan mengucapkan kalimat yang benar tanpa ada yang ditakuti kecuali

terhadap Allah swt saja. Adil sering diartikan sebagai sikap moderat, obyektif

terhadap orang lain dalam memberikan hukum, sering diartikan pula dengan

persamaandan keseimbangan dalam memberikan hak orang lain, tanpa ada yang

dilebihkan atau dikurangi. Ada 2 dalil tentang keadilan yaitu Dalil AqliAdil

berdasarkan akal pikiran, kita tahu bahwa tanpa keadilan di dunia, segala sesuatunya

tidak akan seimbang sehingga dapat menjadi masalah besar. Sedangan Dalil Naqli

Q.S. An-Nahl [16] : 90 berbunyi :

1. Mereka yang bersikap adil akan mendapat keamanan di dunia dan akhirat.

93. 2. Apabila orang adil yang berkuasa, maka keadilan akan memelihara kekuasaannya.

94. 3. Mendapat keridhaan dari Allah SWT.

95. 4. Mereka yang bersikap adil tidak akan menzalimi sesama manusia.

96. 5. Mereka yang bersikap adil akan mendapatkan posisi yang tinggi di dunia maupun

akhirat.

97. 6. Keadilan merupakan jalan menuju surga.

98.

99. B. AL-QURAN DAN HADIST TENTANG PERILAKU ADIL

100.

101. :

102. :


103.


104.
.

105.
106.

107. Dari Abdillah bin Amr bin Ash Radhiyallahu Taala anhu berkata:

Bersabda Rasulullah Shalallahualaihi wassalam: Sesungguhnya mereka-mereka

yang berbuat adil di sisi Allah Taala, kelak mereka akan berada di atas mimbar

dari cahaya, dari tangan kanan Allah ArRahman Azza wa Jalla. Dan kedua

tangan Allah Taala adalah kanan. Mereka adalah orang-orang yang adil dalam

menghukumi sesuatu bahkan terhadap keluarga mereka sendiri, juga terhadap

orang-orang yang mereka pimpin. (Dikeluarkan oleh Imam Muslim

Rahimahullahu)

108.

109.

Artinya:

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar

dan adil. Tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah

yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui

110.

111.

112. Artinya:
113. (Muhammad) berkata: "Ya Tuhanku, berilah keputusan dengan adil. Dan

Tuhan kami ialah Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Yang dimohonkan

pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu katakan."

114.

115.

116.

117. Artinya :

118. Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang

selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan

janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu

untuk berlaku tidak adil . Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada

takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa

yang kamu kerjakan

119.

120.
121.

122. Artinya:

123. Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-

isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah

kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang

lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri

(dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha

Penyayang

124.

125.

126.

127. Artinya :

128. Dan apabila kalian takut tidak bisa berbuat adil kepada anak-anak

perempuan yang yatim (untuk kalian jadikan istri), maka nikahilah perempuan-

perempuan (lain) yang kalian senangi, dua atau tiga atau empat. Bila kalian takut

tidak bisa berbuat adil, maka nikahilah satu perempuan saja atau budak-budak

kalian. Yang demikian itu lebih membuat kalian tidak berbuat zhalim

129.
130.

131.

132. Artinya :

Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan)

Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan

didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka

dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan

133.

134.

135. Artinya:

136. Dan kamu (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat berlingkar di

sekeliling `Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan di antara

hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan: Segala puji bagi Allah, Tuhan

semesta alam.

137.

138. C. CONTOH PERILAKU ADIL

139. a. Bertindak bijaksana dalam memutuskan antara orang orang yang

berselisih.
140. b. Tidak mengurangi timbangan dan takaran.

141. c. Bekerja secara optimal untuk mengatur berjalannya tata kelola

pemerintahan yang baik, sehingga semua rakyat mendapat keadilan dan tidak

dikurangi haknya.

142. d. Belajar secara maksimal dan sungguh-sungguh agar semua potensi yang

telah diciptakan oleh Allah dalam diri kita dapat berkembang dengan baik

143. e. Tolong-menolong dan bekerjasama dalam kebaikan.

144.

145. D.Manfaat Bersikap Adil.

146. a. Orang yang bersikap adil akan menyadari bahwa setiap orang harus

mempertanggung jawabkan senua perbuatannya, setiap orang tidak akan menanggung

perbuatan dosa orang lain dan setiap orang akan memperoleh hak yang sesuai dengan

apa yang telah diusahakannnya.

147.

148. E.Cara Untuk Membiasakan Diri dalam Berperlaku Adil

149.

150. a) Menyadari pentingnya keadilan dalam kehidupan manusia, baik yang

menyangkut konsep keteraturan dan keseimbangan alam semesta maupun yang

berkaitan langsung dengan kemasalahatan kehidupan manusia.

151. b) Memahami nilai-nilai positif yang terkandung dalam prinsip keadilan,

seperti kedamaian dan kenyamanan hidup serta hilangnya kebencian dan permusuhan

di antara sesame manusia.

152. c) Berusaha mempraktikan perilaku keadilan untuk diri sendiri, seperti

belajar maksimal sebagai sebuah keadilan terhadap potensi dan bakat yang diberikan

Tuhan untuk ditumbuhkembangkan secara optimal.


153. d) Berusaha mempraktikan keadilan kepada orang lain, misalnya dengan

bersikap adalah ketika menimbang dan menakar sesuatu/ bersikap seimbang ketika

menilai teman atau rang lain.

154.

155. Cara supaya adil yaitu mempunyai iman yang kukuh dan bertakwa kepada

Allah SWT, menguasai ilmu syariat dan ilmu Aqidah, melaksanakan amanah dengan

penuh tanggung jawab, ikhlas dan bertakwa kepada Allah SWT, memiliki pribadi

yang mulai (tidak mementingkan diri sendiri, memiliki belas kasihan, bijak/tegas dan

berani mengambil resiko).

Bahaya jika tidak adil yaitu tidak adanya keseimbangan dalam kehidupan dunia, dapat

menimbulkan perselisihan di berbagai pihak kehidupan bermasyarakat dan bernegara,

adanya pihak yang tidak mendapatkan haknya / terjadi pelanggaran HAM dimana-

mana.

156.

157. 2.2 RIDHA

158. A.Pengertian Ridha

159. Kata Ridho berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata rodiya yang berarti

senang, suka, rela. Ridho merupakan sifat yang terpuji yang harus dimiliki oleh

manusia. Banyak ayat Al- Quran yang menjelaskan bahwa Allah SWT ridho

terhadap kebaikan hambanya. Ridha menurut kamus al-Munawwir artinya senang,

suka, rela. Dan bisa diartikan Ridho/rela adalah nuansa hati kita dalam merespon

semua pemberian-NYA yang setiap saat selalu ita rasakan. Pengertian ridha juga ialah

menerima dengan senang segala apa yang diberikan oleh Allah s.w.t. baik berupa

peraturan (hukum) ataupun qada atau sesuatu ketentuan dari Allah SWT. Jadi ridho

adalah perilaku terpuji menerima dengan senang apa yang telah diberikan Allah
kepadanya, berupa ketentuan yang diberikan kepada manusia. Ada 2 dalil tentang

keridhaan yaitu Dalil AqliMenurut akal pikiran, tanpa adanya ridha, manusia tidak

akan bisamenerima segala ketentuan-ketentuan Allah yang telah ditetapkanbaginya,

sehingga segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini tidak akan berjalan dengan

baik.

160.

Q.s At-Taubah Ayat ke 96

161.

)96(


.162

163.

164. Artinya:

165. Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi

jika sekiranya kamu ridha kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak ridha kepada

orang-orang yang fasik itu. (9: 96)

166.

167. Sikap rida merupakan sikap yg terpuji. Kata rida artinya dapat disamakan dg

rela atau ikhlas, tulus hati, suci, murni. Pengertian ikhlas menurut istilah adalah

mengerjakan sesuatu perbuatan yg baik dg niat hanxa karena Allah Swt. dan hanya

mengrarapkan ridha-Nya. Sikap ikhlas senantiasa harus kita lakukan dalam kehidupan

sehari-hari.

168.

169. B.Macam-Macam Sikap Ridha

170. 1. Rida kepada Allah Swt.


171. Rida kepada Allah Swt. berarti menerima dg sepenuh hati bahwa Allah Swt.

adalah tuhan sekalian alam yg harus kita sembah dan tidak menyekutukan-Nya.

2. Rida kepada agama Allah Swt.

172. Rida terhadap agama Allah Swt. berarti menerima dg sepenuh hati agama

Allah Swt. yg berisi aturan-aturan yg harus kita laksanakan dengan sepenuh hati dan

larangan-larangan yang harus kita tinggalkan dengan penuh keikhlasan.Sikap ikhlas

berhubungan dg niat seseorang ketika mengerjakan suatu, pekerjaan. Ikhlas atau

tidaknya seseorang berniat melakukan sesuatu pekerjaan sangat ditentukan oleh

niatnya. Apabila seseorang berniat melakukan sesuatu karena Allah Swt. dan

mengharapkan rida-Nya, maka hatinya berarti ikhlas. Sebaliknya apabila niatnya

bukan karena Allah dg mengharap pujian, sanjungan dan imbalan Berarti hatinya

tidak ikhlas.

3.Ridha terhadap perintah dan larangan Allah

173. Artinya ridha untuk mentaati Allah dan Rasulnya. Pada hakekatnya seseorang

yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, dapat diartikan sebagai pernyataan

ridha terhadap semua nilai dan syariah Islam.

174.

Ayat Al -Qur'an tentang Ridho dalam beribadah

175.

)6(


.176

177. Dan tidak ada suatu binatang melata[709] pun di bumi melainkan Allah-lah

yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat

penyimpanannya[710]. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh

mahfuzh).(Q.S.Hud :6)
178. [709]. Yang dimaksud binatang melata di sini ialah segenap makhluk Allah

yang bernyawa.

[710]. Menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan tempat berdiam di sini

ialah dunia dan tempat penyimpanan ialah akhirat. Dan menurut sebagian ahli tafsir

yang lain maksud tempat berdiam ialah tulang sulbi dan tempat penyimpanan ialah

rahim

179. .

180.



.181

)273(


182.

183. (Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan

Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka

mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka

dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak.

Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka

sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.(Q.S.Al-Baqarah : 273)

184.


)67( .185

186.

187. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak

berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah

antara yang demikian. (Q.S.Al-Furqon :67)

188.


)57( ) 56(

.189
190. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka

mengabdi kepada-Ku.

191. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak

menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. (Q.S.Ad-Dzaariyaat : 56-57)

192.

193.

194.




.195




.196

197.

198. R.a; dari nabi SAW beliau bersabda :Bukanlah yang kaya itu bukan yang kaya

materinya,akan tetapi yang disebut kaya itu adalah kaya hati. (H.R.Bukhari,Muslim)

199. 4. Ridha terhadap taqdir Allah.

200. Ada dua sikap utama bagi seseorang ketika dia tertimpa sesuatu yang tidak

diinginkan yaitu ridha dan sabar. Ridha merupakan keutamaan yang dianjurkan,

sedangkan sabar adalah keharusan dan kemestian yang perlu dilakukan oleh seorang

muslim.

201. Perbedaan antara sabar dan ridha adalah sabar merupakan perilaku menahan

nafsu dan mengekangnya dari kebencian, sekalipun menyakitkan dan mengharap akan

segera berlalunya musibah. Sedangkan ridha adalah kelapangan jiwa dalam menerima

taqdir Allah swt. Dan menjadikan ridha sendiri sebagai penawarnya. Sebab didalam

hatinya selalu tertanam sangkaan baik (Husnuzan) terhadap sang Khaliq bagi orang

yang ridha ujian adalah pembangkit semangat untuk semakin dekat kepada Allah, dan

semakin mengasyikkan dirinya untuk bermusyahadah kepada Allah.

202. 5.Ridha terhadap perintah orang tua.


203. Ridha terhadap perintah orang tua merupakan salah satu bentuk ketaatan kita

kepada Allah swt. karena keridhaan Allah tergantung pada keridhaan orang tua,

sebagaiman perintah Allah dalam Q.S. Luqman (31) ayat 14. Bahkan Rasulullah

bersabda : Keridhaan Allah tergantung keridhaan orang tua, dan murka Allah

tergantung murka orang tua. Begitulah tingginya nilai ridha orang tua dalam

kehidupan kita, sehingga untuk mendapatkan keridhaan dari Allah, mempersyaratkan

adanya keridhaan orang tua. Ingatlah kisah Juraij, walaupun beliau ahli ibadah, ia

mendapat murka Allah karena ibunya tersinggung ketika ia tidak menghiraukan

panggilan ibunya.

204. 6. Ridha terhadap peraturan dan undang-undang Negara

205. Mentaati peraturan yang belaku merupakan bagian dari ajaran Islam dan

merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah swt. karena dengan demikian

akan menjamin keteraturan dan ketertiban sosial. sebagaimana firman Allah yang

terdapat dalam Q.S. an-Nisa:59. Ulil Amri artinya orang-orang yang diberi

kewenangan, seperti ulama dan umara (Ulama dan pemerintah). Ulama dengan fatwa

dan nasehatnya sedangkan umara dengan peraturan dan perundang-undangan yang

berlaku.

206. Termasuk dalam ridha terhadap peraturan dan undang-undang negara adalah

ridha terhadap peraturan sekolah, karena dengan sikap demikian, berarti membantu

diri sendiri, orang tua, guru dan sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan. Dengan

demikian mempersiapkan diri menjadi kader bangsa yang tangguh.

207. C. Contoh perilaku ridha

208. a) Menjalankan dan beribadah kepada Allah Swt.

209. b) Sabar dalam menghadapi cobaan.

210. c) Selalu berharap kepada Allah Swt.


211. d) Contoh Perilaku Dalam Kehidupan Sehari-Hari (Dikutip dari kisah para

sahabat Rasulullah saw). Pada suatu hari Ali bin Abi Thalib r.a melihat Ady bin

Hatim bermuram durja, maka Ali bertanya ; Mengapa engkau tampak bersedih hati

?. Ady menjawab ; Bagaimana aku tidak bersedih hati, dua orang anakku terbunuh

dan mataku tercongkel dalam pertempuran. Ali terdiam haru, kemudian berkata,

Wahai Ady, barang siapa ridha terhadap takdir Allah SWT maka takdir itu tetap

berlaku atasnya dan dia mendapatkan pahala-Nya, dan barang siapa tidak ridha

terhadap takdir-Nya maka hal itupun tetap berlaku atasnya, dan terhapus amalnya.

212. D.Manfaat menjalakan sifat Ridha dalam kehidupan sehari-hari.

Manfaat suatu keridhaan yaitu Dengan ridho umat manusia akan

213. menimbulkan rasa optimis yang kuat dalam menjalani dan menatap

kehidupan di masa depan dengan mengambil hikmah dari kehidupan masa lampau,

orang yang berhati ridho atas keputusan-keputusan Allah SWT,

214. hatinya menjadi lapang,

215. dan jauh dari sifat iri hati, dengki hasat dan bahkan tamak/rakus,

216. ridho akan menumbuhkan sikap husnuz zann, terhadap ketentuan-ketentuan

Allah, sehingga manusia tetap teguh iman dan amal shalehahnya,

217. dengan ridho setiap kesulitan yang kita hadapi akan ada jalan keluarnya, di

tiap satu kesulitan ada dua kemudahan, dengan ridha akan menumbuhkan rasa cinta

kasih terhadap sesama makhluk Allah SWT, dan akan lebih dekat dengan Allah SWT.

218. Cara supaya Ridha :1. Bersikap tawakkal dan sabar dalam menghadapi cobaan

yang diberikan oleh Allah swt.2. Menerima dengan ikhlas cobaan yang diberikan dan

tetap berusaha untuk menjadi yang lebih baik serta mengambil hikmah dan cobaan

tersebut. 3. Percaya kepada takdir Allah swt. Sedangkan bahaya jika tidak ridha akan

menimbulkan segala perbuatannya tidak di Ridhai oleh Allah swt, mudah terjadi
perselisihan antara manusia, manusia tidak akan bisa menerima segala ketentuan-

ketentuan Allah swt.

219.

220. 2.3 AMAL SALEH

221. A.Pengertian Amal Saleh

222. Pengertian Amal Saleh artinya perbuatan yang baik. Beramal shaleh artinya

melakukan hal-hal positif secara kreatif. Amal diartikan sebuah proses. Amal saleh

diartikan sebuah proses yang baik sehingga menghasilkan sesuatu yang baik.

Memperbanyak amal saleh berarti banyak jalan/cara yang baik (halal) untuk

memperoleh sesuatu yang baik. Ada 2 dalil yaituDalil aqliberdasarkan logika, tanpa

adanya amal-amalan shaleh, manusia akan terus-menerus berbuat kejahatan, yang

akhirnya membuat dunia binasa dan di penuhi oleh orang-orang yang berbuat

kerusakan. Sedangkan Dalil NaqliQ.S. Al-ARaf *7] : 42 Artinya : Dan orang-orang

yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami tidak akan membebani seseorang

melainkan menurut kesanggupannya. Mereka itulah penghuni-penghuni surga;

mereka kekal di dalamnya.

223. Q.s An-nahl Ayat 97-102: Dorongan untuk beramal saleh, keutamaan

membaca Al Quran dan mentadabburi maknanya, waspada terhadap was-was

setan dan penjelasan hikmah dari diturunkannya Al Quran.

224.




( )

( )

( )

( )

( )

225. Terjemah Surat An Nahl Ayat 97-102


226. 97. Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan

dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang

baik[1] dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah

mereka kerjakan[2].

227. 98. Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al Quran[3],

mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk[4].

228. 99. Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman

dan bertawakkal kepada Tuhannya[5].

229. 100. Pengaruhnya hanyalah terhadap orang yang menjadikannya

pemimpin[6] dan terhadap orang yang mempersekutukannya dengan Allah.

230. 101. [7]Dan apabila Kami mengganti suatu ayat dengan ayat yang lain[8],

padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata,

Sesungguhnya engkau (Muhammad) hanya mengada-ada saja. Sebenarnya

kebanyakan mereka tidak mengetahui[9].

231.

232. 102. Katakanlah, Rohulkudus (Jibril)[10] menurunkan Al Quran itu dari

Tuhanmu dengan benar[11], untuk meneguhkan (hati) orang yang telah beriman[12],

dan menjadi petunjuk[13] serta kabar gembira[14] bagi orang yang berserah diri

(kepada Allah).

233. B.Yang termasuk perbuatan amal saleh diantaranya :

234. 1). Amal Jariyah : pekerjaan yang mendatangkan pahala karena memberikan

manfaat kepada orang lain, seperti membangun tempat ibadah.

235. 2). Amar Maruf : menyeru atau mengajak orang untuk berbuat kebaikan,

baik secara lisan maupun dengan memberikan contoh tauladan dalam bentuk

perbuatan langsung.Firman Allah SWT yang artinya : dan hendaklah ada di antara
kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang

ma'ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang

beruntung. (QS Ali-Imran ; 104)

236. 3). Berbakti kepada orang tua

237. Keharusan berbakti kepada orng tua yang diajarkan dalam Islam

sangatlah rasional, mengingat sedemikian besar jasa ibu dan bapak dalam merawt

dan menjaga anak-anak sejak dari kandungan hingga dewasa. Sesuai dengan firman

Allah yang artinya : Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan

menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan

sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai

berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan

kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan

ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia (QS. Al-Israa 23 )

238. 3. Amal saleh kepada Allah seperti:

239. 1). Memulai sesuatau perbuatan baik dengan Basmalah dan mengahirinya

dnegan Hamdalah

240. 2). Brniatlah dengan ikhlas karena Allah setiap perbuatan baik yang hendak

kita lakukan dan jangan lupa berfikir dengan matang dan benar

241. 3). Disiplindalam bribadah dan beramal shaleh serta berdasarkan ilmu

242. 4). Selalu berzdikir dan berdoa kepada Allah setelah berusaha dan berikhtiar

243. 5). brtawakal dan bersabar serta bersyukur kepada Allah

244. 4. Amal shaleh terhadap diri sendiri misalnya :

245. 1). Beribadah dan beramal shaleh kepada Allah

246. 2). Tidak membiarkan diri jatuh kedalam dosa, kebinasaan, kehancuran

seperti judi, zina, mencuri, narkoba, merokok, merampok dan lain-lain


247. 3). Saling membantu dan mengurangi penderitaan orang lain karena Allah

248. 4). Menjauhkan sikap tercela seperti : buruk sangka, iri, dengki, kikir, boros,

adu domba dalam bergaul sesama manusia.

249. 5). Menjauhkan sikap malas belajar, malas bekerja, pesimis, penakut,

tergesa-gesa dan sikap atau sifat yang jelek lainnya

250. 5. Berikut perbuatan amal saleh yang perlu kita tingkatkan untuk

memajukan umat Islam saat ini

251. 1.) Disiplin dalam belajar,

252. Tugas seorang pelajar adalah belajar dengan ttekun. Dalam hal ini para pelajar

dituntut untuk bekerja keras, dalam membaca dan menelaah pelajaran. Orang yang

senang membaca akan memperoleh ilmu pengetahuan yang banyak. Belajar

hendaknya dijauhkan dari hal-hal yang kurang baik (negatif), seperti permainan, video

game, kenakalan remaja atau hal-hal lain yang kurang baik bagi seorang pelajar.

Sebab pelajar yang sudh mengenal pergaulan diluar rumah yang negatif akan

berakibat fatal. Mereka akan mengabaikan pelajaran di sekolah.

253. Dalam hal ini orang tua mempuyai pranan yang sangat penting . Mereka harus

dapat mengarahkan anak-anaknya agar gemar mambaca hal-hal yang positif dan

melarang membaca yang berbau negatif, seperti bacaab pornografi dan lainnya. Orang

tua harus mempunyai sikap wspad di dlam mengawsi putra putrinya yang msih duduk

di bangku sekolah. Karena pada masa sekarang banyak pelajar yang tidak

menghiraukan dirinya sebagai pelajar, sebab mereka sudah mengenal dunia diluar

sekolah. Oleh sebab itu pemerintah menghimbau agar para pelajar jangan mudah

tekena pengaruh arus diluar sekolah seperti, narkoba, minuman keras, pergaulan

bebas. Seorang pelajar harus tekun belajar demi masa depan bangsa dan negaranya.

254. 2). Disiplin dalam bekerja


255. Disiplin dalam bekerja adalah modal dasar untuk memperoleh hasil yang

memuaskan. Seorang muslim harus disiplin dalam bekerja, giat berusaha, tidak

mengandalkan orang lain, atau bermalas-malasan sambil menentukan uluran tangan

orng lain. Rasulullah SAW, memberikan contoh, sebaik-baiknya penghasilan adalah

usaha sendiri dan penghidupan yang bersumber dari penghasilan itu. Oleh karena itu

hendaklah rajin dan disiplin dalam bekerja, agar mendapat kesejahtaraan dan

kebahagiaan hidup dengan tidak lupa mengingat Allah swt.

256. Maksud disiplin dalam bekerja adalah menggunakan waktu dengan sebaik-

baiknya. Misalnya, seorang bekerja di perusahaan maka ia harus mentaati semua

peraturan sehingga menghasilkan sesuatu yang lebih banyak. Atau kita berusaha

ssendiri dengan kerja keras dan penggunan waktunya diatur. Dengan demikian akan

menghasilkan sesuatu yang lebih banyak. Sebaliknya seseorang yang kurang disiplin

dalam bekerja maka akan merugikan diri sendiri dan merugikan perusahaan.

257. Seseorang yang giat bekerja mempunyai tujuan atau angan-angan, seakan-

akan hidup selama-lamanya. Jadi setiap hari ia mendapatkan kepuasan dengan

keberhasilan usaha atau pekerjaannya.

258. 3). Disiplin dalam berlalulintas

259. Untuk mencapai ketertiban di jalan raya, semua pengguna jalan hendaknya,

mempunyai kesadaran untuk mentaati peraturan lalulintas, dalam bentuk rambu-

rambu lalu lintas. Untuk menghidari kecelakaan hendaknya jangan kebut-kebutan,

jangan emosi, jangan ceroboh, taati rambu-rambu. Begitu juga dalam melengkapi

surat-surat kendaran. Seperti SIM, STNK,

260. Hubungannya dengan lalulintas pemerintah mengeluarkan undang-undang lalu

lintas dan angkutan jalan No 22 tahun 2009, adalah untuk menertibkan para pemakai
jalan di Indonesia yang makin hari makin bertambah, baik jumlah kendaraan, angka

pelanggaran, maupun angka kecelakaan.

261. 4). Disiplin dalam beribadah.

262. Manusia sebagai makhluk Allah yang paling tinggi derajatnya dengan diberi

akal untukl berfikir hingga dpat membedakan antara ang benar dengan yang salah,

bahkan untuk mengelola alm semesta. Maka sudah sepantasnyalah manusia

mendekatkan diri kepada Allah, atau bersyukur dengan meningkatkan ibadahnya

kepada Allah.

263. Manusia mengemban amanat yang paling besar yaitu amanat aibadah dan

amanat sebagai khalifah. Amanat ibadah artinya manusia wajib menyembah serta

tunduk dan patuh hanya kepada Allah swt, sebagaimana Firman-Nya yang artinya :

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan

ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya

mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama

yang lurus. (QS. Al-Bayyinah ; 5 )

264. Dengan demikian secara akal maupun wahyu, manusia wajib berhubungan

kepada Allah utnuk mengabdikan dirinya dengan mendisiplinkan ibadh, seperti

mengerjakan shalat, menunaikan zakat dan ibadah yang lainnya.

265. 5. Disiplin dalam masyarakat

266. Hidup bermasyarakat adalah fitrah manusia. Dilihat dari latar belakang

budaya, setiap mnusia memiliki latar belakang yang berbeda. Karnanya setiap

manusia memiliki watak dan ingkah laku yang berbeda, naum dengan bemasyarakat

mereka tentu memiliki norma-norma dan nilai-nilaikemasyarakatan serta peraturan

yang disepakati bersama, yang harus dihormati dan dihargai. Asebagai bangsa
Indonesia yang religius dan berfalsafah Pancasila, tentunya kita harus mentaati dan

mematuhi nilai-nilai dan norma-norma serta adat yang berlaku pada masyarakat kita.

267. Sesuai dengan naluri kemanusiaan, setiap anggota masyarakat ingin lebih

mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Sekiranya tidak ada aturan

yang mengikat dalam kemasyarakatan sesuai dengan ketentuan yang telah digariskan

oleh agama, niscaya kehidupan masyarakat akan kacau balau, karena setiap pribadi

dan kelompok akan membanggakan diri pribadi dan kelompoknya masing-masing.

268. Berdsarkan kenyataan ini agama Islam menegaskan bahwa manusia yang

paling berkualitas disisi Allah, bukanlah karena keturunan atau kekayaan, akan tetapi

berdasarkan ketakwaannya. Ketakwaan merupakan perwujudan dari kedisiplinan yang

tinggi dalam mematuhi perintah Allah. Ketakwaan adalah harta pusaka yang tidak

dapat diwariskan melalui garis keturunan.

269. Agama Islam mengibaratkan anggota masyarakat itu bagaikan satu bangunan

didalamnya terdapat komponen yang satu sama lain mempunyai fungsi berbeda-beda.

Manakala salah satu komponen itu rusak maka seluruh bangunan itu akan rusak atau

binasa. Hadits Nabi menegaskan yang artinya : Seorang mukmin dengan mukmin yang

lainnya bagaikan bangunan yang sebagian dari mereka memperkuat bagian lainnya.

Kemudian beliau menelusupkan jari-jari yang sebelah ke jari-jari tangan sebelah

lainnya. ( HR. Bukhori Muslim dan Turmudzi)

270. 6. Disiplin dalam penggunaan waktu

271. Dalam menggunakan waktu perlu diperhatikan dengan saksama, waktu yang

sudah berlalu tidak mungkin akan kembali lagi. Demikian pentinganya arti wakti

sehingga berbagai bangsa di dunia mempunyai ungkapan yang menyatakan waktu

adalah uang . Peribahasa arab menyatakan: waktu adalah bagaikan pedang dan
waktu adalah emas. Kita orang Indonesia menyatakan sesal dahulu pendapatan, sesal

kemudian tidak berguna.

272. Seandainya seorang siswa yang pada waktu belajar di rumah masih terus

bermain-main dan pada waktu tidur ia gunakan untuk begadang semalam suntuk,

tentu hidupnya menjadi tidak teraur. Karena ia tidak pandai menggunakan waktu

dengan tepat. Oleh karena itu, hargailah waktu dengan cara berdisiplin dlam

merencanakan, mengatur dan menggunakan waktu yang Allah karuniakan kepada kita

tanpa dipungut biaya.

273.

274. C.Manfaat Amal Shaleh

275. Manfaat-manfaat dari amal saleh adalah orang yang melakukan amal shaleh

akan lebih dekat oleh Allah SWT, orang yang melakukan amal shaleh akan teguh

imannya, terciptanya ketenangan dan kenyamanan sehingga kebersamaan di antara

kita dalam menjalani hidup dapat terwujud, akan meningkatkan keimanan kepada

Allah SWT. Cara Supaya berAmal Saleh : 1. Menolong sesama hidup dan tidak

mengharapkan suatu imbalan dalam melakukan suatu perbuatan. 2. Dalam

pelaksanaan amal shaleh , harus dilandasi dengan sikap ikhlas dan rela berkorban. 3.

Suci dalam pikiran, perbuatan dan perkataan.

276. D.Bahaya Apabila tidak Melakukan Perilaku Amal Shaleh

277. Bahaya jika tidak beramal saleh adalah orang-orang selalu ragu dalam

mensikapi masalah ketentuan rizki, orang mempunyai teman untuk mencurahkan

rahasia dan mengadukan permasalahannya kepadanya, namun teman mereka itu tidak

dapat menyimpan rahasia dan tidak mau saling menolong, sibuk mengurus kesalahan

orang lain (istighalu bi uyubil khalqi). Mencari-cari dan membuka aib atau kesalahan

orang lain termasuk akhlak tercela yang merusak amal saleh yang telah diperbuat.
278. Keras hati (qaswatul qulub). Kondisi keras hati akan menimpa seorang

mukmin jika dirinya tidak dapat menghindar sifat-sifat buruk seperti riya, takabur dan

hasud. Termasuk keras hati adalah tidak mau menerima kebenaran dan nasihat baik.

Cinta dunia (hubbud dunya), yakni menjadikan harta dan kedudukan atau hal duniawi

lainnya seperti pujian dan popularitassebagai tujuan, bukan sarana. Tidak punya rasa

malu (qillatul haya) sehingga merasa ringan dan tanpa beban saja ia melanggar aturan

Allah (maksiat). Setiap mukmin pasti punya rasa malu, karena malu memang

sebagian dari iman (hadis), utamanya malu kepada Allah SWT. Rasa malu akan

mendorong perbuatan baik. Sebaliknya, ketiadaan rasa malu akan mendorong orang

berbuat sekehendak hati tanpa mengindahkan syariat-Nya. Panjang angan-angan

(thulul amal), yakni sibuk berangan-angan, berkhayal, tanpa usaha nyata. Berbuat

aniaya (zhalim), yakni perbuatan yang mendatangkan kerusakan bagi diri sendiri dan

orang lain, tidak proporsional, dan melanggar aturan. Berbuat dosa termasuk aniaya,

yakni aniaya terhadap diri sendiri.