Você está na página 1de 14

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN PTCA

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 5-A

1. Sondang Nainggolan 6. Welda Serevina


2. Sri Mariana Manullang 7. Windah Sitorus
3. Suryani Siburian 8. Yaaman Zega
4. Titi D Situmorang 9. Yolanda Harefa
5. Veronika Venti Juniarti 10. Yuslinar Manao

1
PROGRAM STUDI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SANTA ELISABETH MEDAN
TAHUN 2016/2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena pertolonganNya, makalah ini dapat
diselesaikan dan diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak. Tak lupa kelompok
mengucapkan terima kasih kepada bapak dosen Jagentar Pane S.kep., NS., M.kep dalam asuhan
keperawatan pada klien PTCA yang telah memberikan bimbingan sebaik-baiknya.

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu memenuhi tugas mata kuliah Sistem
Kardiovaskuler.

Penulis mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak agar makalah ini dapat
menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi pembaca. Oleh karena itu, saran dan kritikan dari
berbagai pihak sangat dibutuhkan.

Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak sebagaimana yang
diharapkan oleh Penulis.

Medan, 20 Maret 2017

Kelompok 5
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


PTCA adalah usaha untuk memperbaiki aliran darah arteri koroner dengan memecah plak
atau ateroma yang telah tertimbun dan mengganggu aliran darah ke jantung. Kateter dengan
ujung berbentuk balon dimasukkan ke arteri koroner yang mengalami gangguan dan
diletakkan diantara daerah aterosklerotik. Balon kemudian dikembangkan dan dikempiskan
dengan cepat untuk memecah plak. PTCA tersebut digunakan sebagai penyanggah agar
pembuluh darah terbuka sehingga aliran darah dan oksigen kembali lancer. PTCA dilakukakn
pada klien yang mempunyai lesi yang menyumbat minimal 70% lumen internal arteri
koroner besar, sehingga banyak daerah jantung yang berisiko mengalami iskemia (Muttaqin,
2009).
Penyempitan pembuluh darah terjadi akibat gaya hidup yang tidak sehat. Sering
mengkonsumsi makanan berlemak jenuh (berkolesterol tinggi), bergula tinggi, merokok, dan
jarang berolahraga adalah factor umum penyebab penyempitan pembuluh darah yang dapat
memicu serangan jantung. Seiring perkembangan teknologi dunia kedokteran, kini
penyempitan pembuluh darah yang dapat memicu serangan jantung dapat diatasi dengan
metode pemasangan PTCA pada pembuluh darah jantung yang mengalami penyempitan.
Berdasarkan American Heart Association, 427.000 bedah coronary artery bypass graft
(CABG) dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 2004. Angka tersebut membuat bedah
CABG menjadi operasi yang paling banyak dilakukan. Bedah CABG direkomendasikan pada
kelompok pasien tertentu dengan penyempitan dan oklusi arteri jantung (penyakit arteri
koroner). Operasi CABG membuat rute baru di sekitar arteri yang menyempit dan teroklusi
sehingga melancarkan aliran darah untuk mengantar oksigen dan nutrisi ke otot jantung.

1.2 Tujuan
1. mahasiswa mampu mengetahui apa pengertian PTCA
2. mahasiswa mampu mengetahui indikasi dan kontraindikasi PTCA
3. mahasiswa mampu mengetahui prosedur tindakan PTCA
4. mahasiswa mampu mengetahui komplikasi tindakan PTCA
5. mahasiswa mampu mengetahui Asuhan Keperawatan pada Klien PTCA

BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian PTCA

Banyak pengertian tentang angioplasti koroner transluminal perkutan atau biasa disingkat
dengan PTCA ( Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty) diungkapkan oleh berbagai
sumber antara lain :
a) Menurut Suzanne dan Brenda (2002) angioplasty koroner transluminal perkutan adalah
usaha untuk memperbaiki aliran darah arteri coroner dengan memecah plak atau ateroma
yang telah tertimbun dan mengganggu aliran darah ke jantung. Kateter dengan ujung
berbentuk balon dimasukkan ke arteri koroner yang mengalami gangguan dan diletakkan
diantara daerah aterosklerotik. Balon kemudian dikembangkan dan dikempiskan dengan
cepat untuk memecah plak.
b) Percutaneous Transluminal CoronaryAngioplasty (PTCA), atau Angioplasti Koroner,
adalah prosedur non-bedah dengan invasi minimal yang digunakan untuk membuka
pembuluh darah yang menyempit. Prosedur ini menggunakan kateter yang lentur dengan
balon di ujungnya yang dikembungkan pada tekanan tinggi didalam dinding arteri yang
menyempit. Tindakan ini akan merontokkan plak arteri dari pembuluh darah dan
memperbaiki aliran darah ke otot jantung. Prosedur ini bisa memperbaiki beberapa gejala
yang menyebabkan penyumbatan arteri, seperti nyeri dada atau sesak napas.
c) Tindakan "peniupan" atau "balonisasi" atau "Angioplasti" bertujuan untuk melebarkan
penyempitan pembuluh koroner dengan menggunakan kateter khusus yang ujungnya
mempunyai balon. Balon dimasukkan dan dikembangkan tepat ditempat penyempitan
pembuluh darah jantung. Untuk menyempurnakan hasil peniupan ini, kadang - kadang
diperlukan tindakan lain yang dilakukan dalam waktu yang sama, seperti pemasangan
ring atau cincin penyanggah (Stent), pengeboran kerak di dalam pembuluh darah
(Rotablation) atau pengerokan kerak pembuluh darah (DirectionalAtherectomy).
d) PTCA yaitu prosedur memasukkan kateter kedalam pembuluh darah melalui tusukan
kecil di kulit. Transluminal yaitu prosedur yang dilakukan di dalam pembuluh
darah.Coronary yaitu pembuluh darah arteri di jantung. Angioplasti yaitu teknik
membuka lumen pembuluh darah dengan menggunakan balon.

e) PTCA adalah suatu prosedur terapi untuk memperbaiki aliran darah ke miokard dengan
menempatkan balon kateter pada daerah penyempitan koroner dan mengembangkannya.
Diharapkan lumen tersebut akan lebih lebar dari semula sehingga terjadi perbaikan aliran
darah. Stent adalah alat yang ditanamkan pada pembuluh darah koroner secara mekanis.
PTCA dan stent adalah prosedur perkembangan lanjut dari PTCA dengan menambahkan
suatu alat di daerah stenosis pada koroner untuk mempertahankan pembukaan pembuluh
darah koroner secara mekanis. PCI adalah Percutaneus Coronary Intervention yaitu
istilah lain dari PTCA dengan pemasangan stent.

2.2 Indikasi PTCA


a. Penyakit jantung koroner
b. Angina tidak stabil.
c. Infark miokard dengan hemodinamik memburuk.
d. Kelainan Katub dengan CAD.
e. Primary PTCA pada IMA.

2.3 Kontraindikasi
Angioplasti koroner trasluminal perkutan jarang dilakukan pada :
1) Pasien dengan oklusi arteri koroner kiri utama yang tidak menunjukkan aliran
kolateral ke arteri sirkumflexa dan desendens anterior.
2) Yang mengalami stenosis di daerah arteria koroner kanan dan aorta.
3) Yang arteri koronernya menunjukkan aneurisma proksimal atau distal stenosis..
4) Fungsi ventrikel kirinya sudah tidak jelas.

2.4 Prosedur Tindakan PTCA dan Stent


Sebelum dilakukan tindakan PTCA dan stent dilakukan pemeriksaan koroner angiografi
untuk mengidentifikasi letak dan prosentase sumbatan arteri koroner. Setelah pasien diletakkan
di meja khusus di ruang tindakan, dokter akan menyuntikkan anestesi lokal pada pangkal paha
dan menusukkan jarum dan seathintroduser dan kemudian memasukkan balon kateter melalui
arteri femorali shingga ke arteri koroner yang tersumbat. Kemudian balon dikembangkan
beberapa kali dengan tekanan tertentu, dengan selalu memonitor proses pelebaran sumbatan dan
keadaan pasiennya. Pengisian balon akan menekan plaque dinding arteri sekaligus membuka dan
melebarkan sumbatan. Pada pemasangan stent maka dilakukan pengembangan balon beberapa
kali didaerah sumbatan, kemudian stent ditanam atau dipasang untuk mempertahankann
pembukaan arteri koroner yang cenderung restenosis.
PTCA dilaksanakan di laboraotorium kateterisasi jantung. Lesi ditentukan lokasi, panjang
dan kalsifikasinya sebelum kawat penunjuk dimasukkan melalui arteri yang dituju.Kemudian
kateter berujung balon yang bisa dikembangkan dimasukkan melalui kawat penunjuk dan
dipasang sesuai letak lesi. Balon diisi dengan larutan kontras bertekanan selama kurang lebih 30
sampai 60 detik, kemudian akan memecah atau menekan lesi arteriosklerosik jika kateter
berujung balon telah dipasang pada posisi yang benar. Tunika media dan adventisia arteria
koroner juga ikut teregang. Pengembangan mungkin diperlukan sampai beberapa kali untuk
menghasilkan efek yang diinginkan. Biasanya ditentukan dengan peningkatan lebar lumen arteri
sebanyak 20 % atau lebih. Cara lain untukmengukur keberhasilan PTCA adalah bila stenosis
yang tersisa kurang dari 50% atau perbedaan tekanan darah dari sisi yang mengalami lesi ke sisi
yang lainnya kurang dari 20 mmHg dan tidak ada tanda klinis trauma arteri. (Suzanne dan
Brenda (2002).
Menurut Santoso T (1997) PTCA pada infark akut dapat dilaksanakan sebagai berikut.
a. Direct PTCA : PTCA dilaksanakan tanpa sebelumnya penderita diberi terapi
thrombolitik. Tujuannya untuk reperfusi dan menyelamatkan miokardium.
Keuntungannya adalah thrombolitik terkontraindikasi, terapi dapat lebih tepat karena
anatomi koroner diketahui, pembuluh darah dapat lebih baik dibuka, dapat meningkatkan
harapan hidup, dan mengurangi resiko perdarahan. Kerugiannya adalah biaya, fasilitas
dan tenaga ahliterbatas, keterlambatan pelaksanaan bila harus menyiapkan laboratorium
kateter, serta problem restenosis dan reklusi belum sepenuhnya diatasi.
b. Rescue (salvage) PTCA : dilaksanakan bila trombolisis gagal. Tujuannya untuk reperfusi
dan menyelamatkan miokardium.
c. Immediate PTCA :PTCA dilaksanakan setelah thrombolisis yang berhasil. Tujuannya
mencegah reoklusi, memepercepat penyembuhan miokardium.
d. Delayed PTCA : PTCA dilaksanakan 1-7 hari setelah thrombolisis. Tujuannya untuk
mencegah reoklusi dan mempercepat penyembuhan miokardium (Sentoso, 1997).

2.5 Komplikasi PTCA


Selama masa pemulihan dapat terjadi sobekan arteri, penyempitan arteri secara
mendadak, dan spasme arteri koroner. Komplikasi tersebut memerlukan penatalaksanaan bedah
darurat. Semua kandidat PTCA juga harus merupakan kandidat bedah pintas arteri koroner.
Kamar operasi jantung dan tim harus siap sedia selama PTCA.
1. Angina
2. Aritmia
3. Perdarahan
4. Spasme mendadak dari pembuluh darah koroner.
5. Hipotensi
6. Reoklusi
7. Iskemia tungkat
8. Infark miokard
9. Kematian

2.6 Pemantauan dan Evaluasi Pasca Tindakan


a. Pasien dipantau di ruang rawat intensif cardiovaskular.
b. Observasi tekanan darah dan nadi tiap jam selama 6 jam, lalu tiap 4 jam sampai pagi hari.
c. Heparin drill 1000 unit/jam diberikan minimal 12 jam sesuaikan nilai hasil ACT.
d. Periksa ACT tiap 4 jam setelah prosedur dan usahakan nilai ACT kurang dari 120 detik.
e. Perhatikan tanda-tanda perdarahan ditempat penusukan.
f. Perhatikan pulsasi nadi,khususnya sebelah distal tempat penusukan
g. Selesai prosedur dapat makan dan minum.

2.7 Implikasi Keperawatan Klien PTCA


Setelah dilakukan pemasangan PTCA, klien dianjurkan untuk rawat inap. Klien yang
tidak mengalami komplikasi dapat pulang satu hari setelahnya. Klien kembali ke unit dengan
kanula vaskuler perifer besar tetap terpasang. Klien dipantau dengan ketat akan adanya
pendarahan. Kanula baru dilepas bila hasil pemeriksaan bekuan darah kita telah kembali ke 1,5-2
kali harga normal laboratorium.

2.8 Pemeriksaan Penunjang


1. pemeriksaan EKG
2. laboratorium darah
3. pemeriksaan dengan echocardiograf
4. pemeriksaan photo thorax
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
Pengkajian prabedah
a. Pengkajian fisik
- Sistem pernafasan
Gerakan dada, suara nafas, frekuensi nafas
- Sistem kardiovaskular
Frekuensi dan irama jantung, suara jantung, tekanan darah, denyut nadi perifer.
- Sistem pencernaan.
Status nutrisi dan cairan, berat dan tinggi badan.
- Sistem perkemihan
Haluaran urine, berat jenis urine, dan osmolaritas, edema perifer.
- Sistem muskoloskeletal
Tingkat aktivitas klien, kekuatan otot.
- Sistem integumen
Warna kulit, turgor, suhu, keutuhan.
- Ketidaknyamannan
Sifat, jenis, lokasi, durasi,
b. Pengkajian psikologis
Observasi emosi klien, tingkat kecemasan klien.
c. Pemeriksaan penunjang
- EKG : untuk mengetahui disaritmia.
- Sinar X dada
- Hasil laboratorium: darah lengkap, koagulasi, elektrolit, ureum, kreatinin, BUN.
- Kateterisasi.
- ECHO.

Pengkajian intrabedah.

a. Sistem pernafasan
Observasi gerakan dada, suara nafas, frekuensi nafas.
b. Sistem kardiovaskuler.
Observasi tekanan darah, nadi perifer, irama jantung.
c. Sistem neurologi
Observasi tingkat kesadaran klien.
d. Sistem pencernaan
Observasi status cairan dan elektrolit.
e. Sistem perkemihan.
Observasi haluaran urine.
f. Sistem muskoloskeletal
Observasi aktivitas klien, posisi intraoperatif.
g. Sistem integumen.
Warna kulit, turgor, suhu dan kelembapan.

Pengkajian pascabedah.

a. Status respirasi
Biasanya penderita dari kamar operasi masih belum sadar dan di berikan sedasi sebelum
dipindahkan ke ICU. Ketika tiba di ICU segera di pasang respirator dan dilihat slang dan
ukuran yang di pakai (melalui mulut dan hidung), gerakan dada, suara nafas, penentuan
ventilator (frekuensi, volume tidal, konsentrasi oksigen, tekanan positif akhir ekspirasi,
kecepatan nafas, tekanan ventilator, saturasi oksigen arteri (SaO2), CO2 akhir tidal, pipa
drainase rongga dada, gas darah arteri, volume tidal dan curah semenit, frekuensi nafas,
FIO2, PEEP, dan karakteristik aspirat, jika warna kehijauan, kental atau berbusa
kemerahan sebagai tanda edema paru dan jika perlu di buat kultur.
b. Sistem kardiovaskuler.
Frekuensi dan irama jantung, suara jantung, tekanan darah arteri, tekanan vena sentral
(CVP), tekanan arteri paru, tekanan baji arteri paru, tekanan atrium kiri (LAP), bentuk
gelombang dan pipa tekanan darah invasif, curah jantung dan indeks, tahanan pembuluh
darah sistemik dan paru, saturasi oksigen arteri paru (SVO2) bila ada, drainase rongga
dada, dan status serta fungsi pacemaker.

c. Sistem neurologi.
Kesadaran di pantau sejak klien mulai bangun atau masih diberikan obat sedatif
pelumpuh otot.
d. Sistem pencernaan.
Observasi status cairan, asupan nutrisi.
e. Sistem perkemihan.
Observasi produk urine setiap jam dan perubahan warna yang terjadi akibat hemolisis dan
lain-lain..
f. Nyeri.
Kaji sifat, jenis, lokasi, durasi, ketidaknyamanan, respons terhadap analgetika.
g. Pengkajian komplikasi.
Klien terus menerus dikaji mengenai adanya indikasi ancaman komplikasi, meliputi :
- Penurunan curah jantung.
- Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
- Gangguan pertukaran gas.
- Gangguan peredaran darah otak.

Diagnosa Keperawatan Post PTCA

1. Risiko penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan preload


NOC : setelah melakukan tindakan perawatan selama 3 X 24 jam diharapkan klien
menunjukan curah jantung adekuat, dengen kriteria hasil :
a. Tekanan darah dalam batas normal
b. Toleransi terhadap aktifitas
c. Nadi perifer kuat
d. Tidak ada distensi vena jugularis

NIC :
a. Evaluasi adanya nyeri dada (intensitas, lokasi,radiasi, durasi, dn faktor pencetus
nyeri).
b. Observasi ttv
c. Catat adanya tanda dan gejala penurunan curah jantung.
d. Instrusikan klien dan keluarga untuk pembatasan aktifitas
e. Anjurkan klien untuk menggurangi stress

2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik ditandai dengan perubahan pada
parameter fisiologis
NOC: setelah melakukan tindakan keperawatan selama 3X24 jam klien dapat
menggontrol nyeri, dengan criteria hasil :
1. Kontrol nyeri :
a. Mengenali kapan nyeri terjadi
b. Melaporkan gejala yang tidak terkontrol pada professional kesehatan
c. Mengenali apa yang terkait dengan gejala nyeri
d. Melaporkan nyeri yang terkontrol

NIC:
1. manajemen nyeri :
a. Kaji nyeri secera komprehensif
b. Berikan analgetik sesuai instruksi
c. Evaluasi efektifitas tindakan mengontrol nyeri yang telah digunakan
d. Tingkatkan tidur atau istirahat yang cukup

3. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi ditandai dengan kurang


pengetahuan
NOC : setelah melakukan tindakan perawatan selama 3X24 jam diharapkan klien dapat
memenuhi criteria hasil :
1. Manajemen Diri :
a. Patuhi pengobatan yang direkomendasikan
b. Menyeimbangkan aktivitas dan tidur
c. Monitor perubahan pada penyakit
d. Menggunakan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan

NIC :

1. Pendidikan Kesehatan :
a. Tentukan pengetahuan kesehatan dan gaya hidup perilaku saat ini pada individu dan
keluarga
b. Bantu individu dan keluarga untuk memperjelas keyakina dan nilai-nilai kesehatan
c. Tekankan manfaat kesehatan yang positif
d. Libatkan invidu dan keluarga dalam perencanaan gaya hidup sehat
Tindakan Perawat Post PTCA
1) Menjelaskan dan meminta pasien untuk memberitahu akan adanya tanda-tanda/gejala
bengkak dan perdarahan pada daerah puncti.
2) Menjelaskan bahwa kaki tempat tusukan tidak boleh ditekuk selama 12 jam.
3) Cek tanda-tanda vital setiap 15 menit sampai 12 jam berikutnya sampai stabil.
4) Cek area tusukan blooding atau tidak sesudah tusukan dicabut berikan bantal pasir
selama 46 jam.
5) Ada pulsasi atau tidak pada daerah distal.
6) Minum banyak 23 liter selama 6 8 jam I, makan sesuai diet.
Post Tindakan pada Arteri Radialis
1) Pasien bedrest selama 2 2,5 jam
2) Perhatikan tekanan fiksasi
3) Instruksikan pergelangan tangan jangan ditekuk selama } 2 3 jam
4) Cek pulse radial
Post Tindakan pada Arteri Brachialis
1) Pasien bedrest selama 3 4 jam
2) Perhatikan tekanan verban jangan terlalu ketat
3) Instruksikan tangan jangan dibengkokkan selama 3 jam
4) Cek pulse radialis dan ulnaris
Post Tindakan pada Percutan Arteri Femoralis
1) Pasien bedrest selama 6 12 jam
2) Letakkan bantal pasir di atas tempat punchis selama 4 6 jam
3) Instruksikan untuk tidak membengkokkan kaki yang dipuncti selama 12
jam

DAFTAR PUSTAKA

Aspiani, Reni Yuli. (2014). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Kardiovaskular. EGC :
Jakarta
Mutataqin, Arif. (2009). Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular.
Salemba Medika : Jakarta
Kamitsuru, Shigemi & Herdman, T.Heather.(2015). Nanda International Inc. Diagnosis
Keperawatan: Defenisi & Klasifikasi 2015-2017. EGC : Jakarta
Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.
EGC : Jakarta