Você está na página 1de 12

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Katup jantung bekerja mengatur aliran darah dari jantung menuju arteri pulmonal dan
aorta dengan cara membuka dan menutup pada saat jantung berkontraksi dan berelaksasi
selama siklus jantung. Penyakit katup jantung merupakan penyakit jantung yang masih cukup
tinggi insidennya, terutama dinegara-negara berkembang seperti Indonesia.Namun akhir-
akhir ini, prevalensi penyakit katup jantung cenderung semakin menurun, sedangkan
penyakit jantung koroner cenderung meningkat.Berdasarkan penelitian yang ditemukan
diberbagai tempat di Indonesia, Penyakit katup jantung ini menduduki urutan ke-2 atau ke-3
sesudah penyakit jantung koroner dari seluruh jenis penyebab penyakit jantung (Manurung,
1999).
Sekitar 2/3 pasien regurgitasi aorta, penyebabnya adalah demam reumatik yang
menimbulkan penebalan, deformasi, dan pemendekan daun katup aorta.Hal ini
mengakibatkan pembukaan pada sistole dan penutupan saat diastole menjadi tidak
sempurna.Namun, kejadian demam rematik jarang menjadi regurgitasi aorta yang tersendiri.
Insufisiensi aorta mengenai sekitar 5:10.000 populasi.Insidens lebih tinggi pada pria
terutama pada yang berumur 30-60 tahun. Insufisiensi aorta biasanya disertai dengan
kelainan jantung lain, seperti VSD tipe membran (konoventrikuler atau tipe konal septal
(infundibuloventrikuler), kelainan katup aorta subvalvular, displasia daun katup tanpa fusi
komisura, dan hilangnya 2 atau 3 daun katup aorta. Resiko terjadinya kematian prematur,
komplikasi, dan kebutuhan akan pengobatan karena penyakit jantung kongenital sedikitnya
50% dari populasi penderita.

1.2 Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui pengertian insufisiensi aorta
2. Mahasiswa dapat mengetahui etiologi pada insufisiensi aorta
3. Mahasiswa dapat mengetahui patofisiologi pada insufisiensi aorta
4. Mahasiswa dapat mengetahui tanda dan gejala pada insufisiensi aorta
5. Mahasiswa dapat mengetahui pemeriksaan penunjang pada insufisiensi aorta
BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian

Insufisiensi aorta adalah gangguan fungsi katup aorta, disertai dengan penutupan tidak sempurna
yang menimbulkan regurgitasi aorta.Insufisiensi aorta menimbulkan refluks darah dari aorta ke
dalam ventrikel kiri sewaktu relaksasi ventrikel.Pada prinsip nya, jaringan perifer dan ventrikel
kiri bersaing untuk mendapaktkan darah yang keluar dari ventrikel selama sistolik. Besarnya
aliran darah ke depan atau run of ke ferifer terhadap aliran retrograde ke ventrikel tergantung
dari derajat penutupan katup, dan resistensi relative terhadap aliran darah antara perifer dan
ventrikel.

2.2 Etiologi

Penyebab insufisiensi atau regurgitasi darah dari aorta ke ventrikel kiri dapat terjadi dalam 2
macam kelainan artificial, yaitu dilatasi pangkal aorta dan penyakit katup arti fisial.Dilatasi
pangkal aorta dapat ditemukan pada penyakit kolagen, aortitis, sifilitika, dan diseksi aorta.
Penyakit katup artifikial dapat ditemukan pada penyakit jantung reumatik, endokarditis,
bakterialis, congenital aorta artifisia, defeksektum ventrikal, traumatic ruptur, aortic left
ventricular tunnel. Selain itu, insufisiensi aorta dapat juga disebabkan oleh sindrom marfan dan
mukopolisakaritdosis.

2.3 Patofisiologi

Kelainan pada daun katup aorta menyebabkan darah mengalir dari ventrikel kiri pada saat
diastole sehingga terjadi kelebihan muapan cairan dalam rongga ventrikel tersebut, yang akan
berdilatasi dan mengalami hipertrofi. Volume yang berlebihan akan menyebabkan kelebihan
muatan cairan dalam atrium kiri dan kemudian dalam sistem pulmoner. Akhirnya, akan terjadi
gagal jantung kiri dan edema paru
Dilatasi pangkal aorta, penyakit katup atifisial, genetik

Kelainan pada daun katup aorta

Darah mengalir dari ventrikel kiri pada saat diastol

Kelebihan muatan cairan dalam rongga ventrikel tersebut

Dilatasi dan hipertrofi ventrikel kiri

Volume cairan yang berlebihan

Kelebihan muatan cairan dalam atrium kiri dan sistem pulmoner

Edema paru dan gagal jantung kiri

2.4 Tanda dan gejala

1. Gejala awal adalah batuk-batuk, rasa lelah, sesak nafas saat beraktivitas, palpitasi, angina dan
sinkop.

2. Kongesti paru, gagal jantung kiri serta dasar kuku yang tampak berdenyut.

3. Denyut nadi yang menonjol dan mengempis dengan cepat (Nadi biferiens), aritmia jantung
dan pelebaran tekanan nadi.
4. Mungkin juga terdapat angina dengan hipertrofi ventikel kiri dan tekanan diastolik rendah,
berturut- turut meningkatkan kebutuhan oksigen dan menurunkan suplai oksigen. Akan tetapi,
nyeri subsernum yang tidak berhubungan dengan iskemia miokardium juga sering terjadi.

5. Tanda berikut ini berkaitan dengan regurgitasi aorta kronis, pada auskultasi terdengar bising
diastolik, bising Austin flint yang khas atau bising diastolik yang kasar; systolic ejection clik
disebabkan oleh peningkatan volume ejeksi. Temuan hemodinamik, berupa pengisian dan
pengosongan denyut arteri yang cepat; tekanan nadi melebar disertai peningkatan tekanan
sistemik dan penurunan tekanan diastolik.

6. Teraba dan terlihat denyut apeks jantung pada penyakit yang kronis.

2.5 Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk menegakkan diagnosa insufisiensi aorta


adalah melalui pemeriksaan EKG, Rontgen dada, Ekokardiografi, dan Kateterisasi jantung.Pada
pemeriksaan EKG didapatkan kaki sinus kaki kardia, hipertrofi ventrikel kiri dan hipertrofi
atrium kiri pada penyakit berat.Pada pemeriksaan rotgen dada ditemukan adanya pembesaran
ventrikel kiri dan kongesti vena pulmoner.Ekokardiografi ditemukan adanya pembesaran
ventrikel kiri, perubahan katup mitral (tanda yang secara tidak langsung mengidentifikasikan
penyakit aorta), dan penebalan katup mitral. Pada keteterisasi jantung didapakan berupa
penurunan tekanan diastolik arteri, regurgitasi aorta, kelainan katup lain dan peningkatan tekanan
diastolik akhir ventrikel kiri.

Asuhan Keperawatan

Pengakajian

1. Keluahan umum
Pada vase awal adalah batuk, rasa lelah, sesak nafas saat beraktivitas, palpitasi, angina
dan sinkom
2. Riwayat Penyakit
a. Riwayat penyakit saat ini
Riwayat kehamilan ditanyakan sesuai dengan yang terdapat pada etiologi.
Riwayat tumbuh : Biasanya anak cenderung mengalami keterlambatan
pertumbuhan karena keletihan saat makan dan peningkatan kebutuhan kalori
sebagai akibat dari kondisi penyakit.
b. Riwayat penyakit dahulu
Mengkaji riwayat penyakit yang pernah diderita sebelumnya atau penyakit yang
berhubungan dengan penyakit yang saat ini dirasakan oleh klien.
c. Riwayat keluarga
Mengkaji riwayat penyakit yang pernah dialami oleh keluarga, serta bila ada anggota
yang meninggal, maka penyebab kematian juga ditanyakan.
3. Riwayat Psikososial atau Perkembangan
a. Kemungkinan mengalami masalah perkembangan
b. Mekanisme koping anak atau keluarga
c. Pengalaman hospitalisasi sebelumnya
4. Pemeriksaan fisik
a. Kongesti paru, gagal jantung kiri, serta dasar kuku yang tampak berdenyut (tanda
Quincke)
b. Denyut nadi yang menonjol dan mengepis dengan cepat (nadi biferiens), aritmia
jantung dan pelebaran tekan nadi.
c. Terdengar bising diastolic, bising Austin flint yang khas atau bising diastolic yang
kasar; systolic ejection click
d. Teraba dan terlihat denyut apeks jantung
5. Pengetahuan anak dan keluarga
a. Pemahaman tentang diagnose
b. Pengetahuan atau penerimaan terhadap proknosis
c. Regimen pengobatan
d. Rencana perawatan tidak lanjut
e. Kesiapan dan kemauan untuk belajar
6. Pemeriksaan fisik
a. B1 (respirasi)
Klien terlihat sesak nafas, pola nafas tidak teratur, frekuensi nafas melebihi normal
b. B2 (kardiovaskular)
Didapatkan adanya nyeri dada, palpitasi, terdengar bising diastolic, bising Austin flint
yang kahas atau bising diastolic yang kasar; systolic ejection click.Teraba dan terlihat
denyut apeks jantung.
c. B3 (persyarafan)
Kesadaran biasanya composmetis, istirahat tidur menurun, kaji adanya nyeri kepala
atau tidak.
d. B4 (genitorinaria)
Kaji kebersihan alat kelamin, bentuk alat kelamin, catat frekuensi dan keteraturan
berkemih, jumlah dan karakteristik urin, dan juga kaji penggunaan alat bantu
e. B5 (pencernaan)
Klien biasanya mengeluh tidak nafsu makan, berat badan turun.Kaji adanya bising
usus. Kaji kebersihan mulut
f. B6 (musculoskeletal dan integument)
Pengkajian terhadap aktivitas dengan gejala kelemahan, kelelahan, tidak dapat tidur,
pola hidup menetap.Tanda yang dapat dikenali adalah takikardia dan dispnea pada
saat aktivitas.Akral dingin, klien kesulitan melakukan tugas perawatan diri sendiri.
g. B7 (pengindraan)
Konjungtiva puct, ketajaman penglihatan kabur.Pada hidung, kaji adanya epistaksis,
ketajaman penciuman, dan secret.Pada telinga, kaji normal atau tidak, kesimetrisan,
dan ketajaman pendengaran. Bagaimana klien dapat merasakan rasa asin, pahit, asam,
manis. Normal atau tidak indra peraba klien.
h. B8 (endokrin)
Apakah ada pembesaran kelenjar parotis atau tiroid. Pengukuran volume haluaran
urin berhubungan dengan asupan cairan. Perawat perlu mengobservasi adanya
holiguria pada klien dengan infark miokardio akut karena merupakan tanda awal syok
kardiogenik.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Kasus

Ny. K 34 tahun datang ke poliklinik RSCM dengan keluhan merasakan debar jantung bertambah
kuat dan terasa nyeri pada dada dengan skala 6. Pasien mengatakan tidak dapat beraktifitas
karena merasakan perasaan lelah dan lemah.Denyutan arteri dapat jelas terlihat atau teraba di
prekordium. Denyutan arteri leher juga jelas terlihat kemudian diikuti dispnue saat beraktivitas
berat dan mudah letih sesak napas terutama pada malam hari TD: 140/100 nadi: 110x/mnt suhu:
37 RR:20x/mnt BB: 49/142 IMT: 24,74 (Normal). Dari hasil Radiogram dada di dapatkan
pembesaran ventrikel kiri, dilatasi aorta proksimal direncanakan untuk dilakukan pembedahan
yang akhirnya akan menentukan terapi apa yang akan diberikan pada pasien selanjutnya.
No Diagnosa NOC NIC
1 Penurunan curah jantung Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji TTV
b/d peningkatan beban keperawatan selama 3x24 2. Ubah posisi klien setiap 2 jam
kerja ventrikuler d/d klien jam diharapkan: 3. Anjurkan banyak istirahat
merasakan debar jantung - Klien tidak merasa debar 4. Kolaborasi dengan tenaga
bertambah kuat, tidak jantung kesehatan lain (dokter)
dapat beraktivitas karena - Klien tidak merasa lelah 5. Pantau frekuensi jantung dan
merasakan perasaan lelah dan lemah saat beraktivitas, irama
dan lemah, denyutan arteri - TD: 120/90 nadi: 80x/mnt 1. Mengidentifikasi TTV klien
leher klien juga jelas 2. Untuk menemukan posisi
terlihat TD: 140/100 nadi: kenyamanan klien
110x/mnt suhu:37 3. Untuk mengurangi aktivitas
RR:20x/mnt klien
4. Untuk pemberian oksigen
5. Untuk mengetahui perubahan
frekuensi dan irama jantung
2 Pola napas tidak efektif b/d Setelah dilakukan tindakan 1. kaji TTV klien
deformitas dinding dada keperawatan 3x24 jam 2. ajarkan kepada pasien dan
ditandai dengan klien diharapkan : keluarga tentang tehnik relaksasi
mengatakan dispnu saat - pola napas klien efektif 3. berikan posisi yang nyaman
latihan dan mudah letih dengan pada klien
sesak napas terutama pada - KH: klien tidak sesak 4. kolaborasi dengan tenaga
malam hari, denyutan napas lagi, kesehatan lain
arteri leher klien juga jelas - TD:120/90, nadi:90x/mnt 1. mengidentifikasi TTV klien
terlihat TD: 140/100 nadi: suhu:37 RR:20x/mnt 2. untuk meningkatkan pola napas
110x/mnt suhu:37 klien
RR:20x/mnt. 3. untuk mengoptimalkan
pernapasan klien
4. untuk pemberian oksigen
mengidentifikasi
3 Nyeri b/d agen cedera Setelah dilakukan tindakan 1. kaji TTV klien
biologis d/d klien keperawatan 3x24 jam 2. kaji nyeri secara komprehensif
mengatakan debar jantung diharapkan : 3. ajarkan penggunaan tehnik
bertambah kuat dan terasa - nyeri klien nonfarmakologi (relaksasi,
nyeri pada dada dengan berkurangdengan masase)
skala 6, denyutan arteri - KH: klien mengatakan 4. kolaborasi dengan tenaga
klien dapat jelas terlihat nyeri berkurang, skala 4 kesehatan lain (dokter) pemberian
atau teraba di prekordium, - TD: 120/90 nadi:90x/mnt analgetik 1. TTV klien
TD: 140/100 nadi: suhu:37 RR:20x/mnt 2. mengidentifikasi nyeri sehingga
110x/mnt suhu:37 dapat menentukan tindakan yang
RR:20x/mnt tepat
3. mengalihkan fokus klien
terhadap nyeri sehingga nyeri
berkurang
4. untuk mengurangi nyeri klien
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN KELAINAN KATUP JANTUNG

(INSUFISIENSI AORTA)

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 5-A

1.Sondang Nainggolan. 6. Welda servina.

2.Sri Mariana Manullang. 7. Winda sitorus.

3.Suryani Siburian. 8. Yaaman zega.

4.Titi D Situmorang. 9. Yolanda harefa.

5.Veronika Venti Juniarti. 10. Yuslinar manao.

PROGRAM STUDI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SANTA ELISABETH MEDAN
TAHUN 2016/2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena pertolonganNya, makalah ini dapat
diselesaikan dan diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak. Tak lupa kelompok
mengucapkan terima kasih kepada Sr. Imelda Derang S.kep., NS., M.kep dalam asuhan
keperawatan pada klien kelainan katup jantung dengan penyakit insufisiensi aorta yang telah
memberikan bimbingan sebaik-baiknya.

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu memenuhi tugas mata kuliah Sistem
Kardiovaskuler.

Penulis mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak agar makalah ini dapat
menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi pembaca.Oleh karena itu, saran dan kritikan dari
berbagai pihak sangat dibutuhkan.

Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak sebagaimana yang
diharapkan oleh Penulis.

Medan, 21 Maret 2017

Kelompok 5
DAFTAR PUSTAKA

Aspiani, Reni Yuli. (2014). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Kardiovaskular. EGC :
Jakarta
Mutataqin, Arif. (2009). Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular.
Salemba Medika : Jakarta
Kamitsuru, Shigemi & Herdman, T.Heather.(2015). Nanda International Inc. Diagnosis
Keperawatan: Defenisi & Klasifikasi 2015-2017. EGC : Jakarta
Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.
EGC : Jakarta