Você está na página 1de 53

APLIKASI RELAKSASI BENSON UNTUK MENURUNKAN NYERI

PASCA BEDAH TRANSURETHRAL PROSTATIC RESECTION (TURP)


PADA TN. S di RUANG AYYUB 2 RS ROEMANI MUHAMMADIYAH
SEMARANG

Disusun oleh:

SITI FATIMATUZZAHROH
G3A016248

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) adalah kelenjar prostat yang
mengalami pembesaran yang dapat disebabkan karena faktor penuaan.
Kelenjar prostat yang mengalami pembesaran dapat menyumbat aliran urin
dan dapat menutupi orifisium uretra. BPH merupakan kasus terbanyak
dibagian urologi, keadaan ini ditandai dengan pembesaran kelenjar prostat
yang disebabkan oleh pertambahan jumlah sel, dengan keluhan sering miksi,
nocturia, kesulitan memulai dan mengakhiri miksi, dysuria dan retensi urin.
Penyakit ini banyak sekali terjadi pada laki-laki dewasa, di United States,
sekitar 14 juta laki-laki memiliki keluhan BPH. Insidensnya akan meningkat
sesuai dengan pertambahan usia, hanya beberapa persen menyerang usia
dibawah 40 tahun, tapi sekitar 88% mengenai usia diatas 80 tahun. Beberapa
hipotesis menyebutkan bahwa Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) erat
kaitannya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron.
Pada kasus Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) terdapat beberapa
tindakan yang dapat dilakukan, diantaranya melalui tindakan pembedahan
TURP (Transurethral Prostatic Resection) tindakan ini merupakan tindakan
yang dilakukan dengan transuretra menggunakan cairan ringan (pembilas).
Setelah dilakukan tindakan TURP pasien akan terpasang kateter threeway
yang berguna untuk mencegah pembekuan darah. Pada post TURP
(Transurethral Prostatic resection) akan rasa nyeri dan dapat menimbulkan
rasa tidak nyaman pada bagian kandung kemih, spasme kandung kemih yang
terus menerus, adanya perdarahan, infeksi, serta fertilitas.
Rasa nyeri yang ditimbulkan pada pasien post TURP (Transurethral
Prostatic Resection) biasanya dokter akan memberikan obat analgetik atau
obat nyeri sebagai pegobatan farmakologi, sebagai pengobatan non
farmakologi nya dapat diberikan terapi relaksasi benson. Relaksasi benson
merupakan pengembangan metode respon relaksasi dengan melibatkan faktor
keyakinan pasien yang dapat menciptakan suatu lingkungan internal sehingga

1
dapat membantu pasien mencapai kondisi kesehatan dan kesejahteraan yang
lebih tinggi (Datak dkk, 2008).

2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana konsep dasar tentang Benigna Prostat Hiperplasia (BPH)?
b. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan Benigna Prostat
Hiperplasia (BPH) dengan post TURP (Transurethral Prostatic
Resection)?
c. Bagaimana aplikasi relaksasi benson untuk mengurangi rasa nyeri pada
pasien post TURP (Transurethral Prostatic Reaction)?

3. Tujuan
Mahasiswa mampu mengaplikasikan Evidence Based Nursing Practice
Terapi relaksasi benson untuk menurunkan nyeri pasca bedah transurethral
prostatic resection (TURP).

2
BAB II
KONSEP DASAR

1. PENGERTIAN
Benigna Prostat Hiperplasia adalah kelenjar prostat mengalami,
memanjang keatas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin
dengan menutupi orifisium uretra (Brunner & suddarth, 2001).
Benigna Prostat Hiperplasi adalah penyakit yang disebabkan oleh penuaan
(Price, 2006).
BPH merupakakan pertumbuhan nodul-nodul fibroadenomatosa majemuk
dalam prostat, pertumbuhan tersebut dimulai dari bagian periuretral sebagai
proliferasi yang terbatas dan tumbuh dengan menekan kelenjar normal yang
tersisa, prostat tersebut mengelilingi uretra dan, dan pembesaran bagian
periuretral menyebabkan obstruksi leher kandung kemih dan uretra
parsprostatika yang menyebabkan aliran kemih dari kandung kemih (Price dan
Wilson, 2006).
Benigna Prostat Hiperplasi adalah kelenjar prostat bila mengalami
pembesaran, organ ini dapat menyumbat uretra pars prostatika dan
menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar dari buli-buli (Purnomo 2011).
Benigna Prostat Hiperplasi (BPH) adalah kelenjar prostat yang mengalami
pembesaran yang dapat disebabkan karena faktor penuaan. Kelenjar prostat
yang emngalami pembesaran dan memanjang keatas kedalam kandung kemih
akan menyumbat aliran urin dan menutupi orifisum uretra.

2. ETIOLOGI
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti etiologi/penyebab
terjadinya BPH, namun beberapa hipotesisi menyebutkan bahwa BPH erat
kaitanya dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses
menua. Terdapat perubahan mikroskopik pada prostat telah terjadi pada pria
usia 30-40 tahun. Bila perubahan mikroskopik ini berkembang, akan terjadi
perubahan patologik anatomi yang ada pada pria usia 50 tahun, dan angka

3
kejadiannya sekitar 50%, untuk usia 80 tahun angka kejadianya sekitar 80%,
dan usia 90 tahun
sekiatr 100% (Purnomo, 2011).
Etiologi yang belum jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang diduga
menjadi penyebab timbulnya Benigna Prosat, teori penyebab BPH menurut
Purnomo (2011) meliputi, Teori Dehidrotestosteron (DHT), teori hormon
(ketidakseimbangan antara estrogen dan testosteron), faktor interaksi stroma
dan epitel-epitel, teori berkurangnya kematian sel (apoptosis), teori sel stem.
1) Teori Dehidrotestosteron (DHT)
Dehidrotestosteron/ DHT adalah metabolit androgen yang sangat
penting pada pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat. Aksis hipofisis
testis dan reduksi testosteron menjadi dehidrotestosteron (DHT) dalam
sel prostad merupakan factor terjadinya penetrasi DHT kedalam inti sel
yang dapat menyebabkan inskripsi pada RNA, sehingga dapat
menyebabkan terjadinya sintesis protein yang menstimulasi
pertumbuhan sel prostat. Pada berbagai penelitian dikatakan bahwa
kadar DHT pada BPH tidak jauh berbeda dengan kadarnya pada
prostat normal, hanya saja pada BPH, aktivitas enzim 5alfa reduktase
dan jumlah reseptor androgen lebih banyak pada BPH. Hal ini
menyebabkan sel-sel prostat pada BPH lebih sensitive terhadap DHT
sehingga replikasi sel lebih banyak terjadi dibandingkan dengan
prostat normal.
2) Teori hormone ( ketidakseimbangan antara estrogen dan testosteron)
Pada usia yang semakin tua, terjadi penurunan kadar testosterone
sedangkan kadar estrogen relative tetap, sehingga terjadi perbandingan
antara kadar estrogen dan testosterone relative meningkat. Hormon
estrogen didalam prostat memiliki peranan dalam terjadinya poliferasi
sel-sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan jumlah reseptor
androgen, dan menurunkan jumlah kematian sel-sel prostat
(apoptosis). Meskipun rangsangan terbentuknya sel-sel baru akibat
rangsangan testosterone meningkat, tetapi sel-sel prostat telah ada

4
mempunyai umur yang lebih panjang sehingga masa prostat jadi lebih
besar.
3) Faktor interaksi Stroma dan epitel epitel
Diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat secara tidak
langsung dikontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator yang
disebut Growth factor. Setelah sel-sel stroma mendapatkan stimulasi
dari DHT dan estradiol, sel-sel stroma mensintesis suatu growth faktor
yang selanjutnya mempengaruhi sel-sel stroma itu sendiri intrakrin dan
autokrin, serta mempengaruhi sel-sel epitel parakrin. Stimulasi itu
menyebabkan terjadinya poliferasi sel-sel epitel maupun sel stroma.
Basic Fibroblast Growth Factor (bFGF) dapat menstimulasi sel stroma
dan ditemukan dengan konsentrasi yang lebih besar pada pasien
dengan pembesaran prostad jinak. bFGF dapat diakibatkan oleh adanya
mikrotrauma karena miksi, ejakulasi atau infeksi.
4) Teori berkurangnya kematian sel (apoptosis)
Progam kematian sel (apoptosis) pada sel prostat adalah
mekanisme fisiologik untuk mempertahankan homeostatis kelenjar
prostat. Pada apoptosis terjadi kondensasi dan fragmentasi sel, yang
selanjutnya sel-sel yang mengalami apoptosis akan difagositosis oleh
sel-sel di sekitarnya, kemudian didegradasi oleh enzim lisosom. Pada
jaringan normal, terdapat keseimbangan antara laju poliferasi sel
dengan kematian sel. Pada saat terjadi pertumbuhan prostat sampai
pada prostat dewasa, penambahan jumlah sel-sel prostat baru dengan
yang mati dalam keadaan seimbang. Berkurangnya jumlah sel-sel
prostat baru dengan prostat yang mengalami apoptosis menyebabkan
jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan menjadi meningkat, sehingga
terjadi pertambahan masa prostat.
5) Teori sel stem
Sel-sel yang telah apoptosis selalu dapat diganti dengan sel-sel
baru. Didalam kelenjar prostat istilah ini dikenal dengan suatu sel
stem, yaitu sel yang mempunyai kemampuan berpoliferasi sangat
ekstensif. Kehidupan sel ini sangat tergantung pada keberadaan

5
hormon androgen, sehingga jika hormon androgen kadarnya menurun,
akan terjadi apoptosis. Terjadinya poliferasi sel-sel BPH
dipostulasikan sebagai ketidaktepatan aktivitas sel stem sehingga
terjadi produksi yang berlebihan sel stroma maupun sel epitel.
Faktor lain adalah nikotin dan konitin ( produk pemecahan nikotin)
yang meningkatkan aktifitas enzim perusak androgen, sehingga
menyebabkan penurunan kadar testosteron. Begitu pula toksin
lingkungan (zat kimia yang banyak digunakan sebagai pestisida,
deterjen atau limbah pabrik) dapat merusak fungsi reproduksi pria.

3. PATOFISIOLOGI
Hiperplasi prostat adalah pertumbuhan nodul-nodul fibroadenomatosa
majemuk dalam prostat, pertumbuhan tersebut dimulai dari bagian periuretral
sebagai proliferasi yang terbatas dan tumbuh dengan menekan kelenjar normal
yang tersisa. Jaringan hiperplastik terutama terdiri dari kelenjar dengan stroma
fibrosa dan otot polos yang jumlahnya berbeda-beda. Proses pembesaran
prostad terjadi secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluran kemih
juga terjadi secara perlahan-lahan. Pada tahap awal setelah terjadi pembesaran
prostad, resistensi pada leher buli-buli dan daerah prostad meningkat, serta
otot destrusor menebal dan merenggang sehingga timbul sakulasi atau
divertikel. Fase penebalan destrusor disebut fase kompensasi, keadaan
berlanjut, maka destrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami
dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi/terjadi dekompensasi
sehingga terjadi retensi urin. Pasien tidak bisa mengosongkan vesika urinaria
dengan sempurna, maka akan terjadi statis urin. Urin yang statis akan menjadi
alkalin dan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri ( Baradero, dkk
2007).
Menurut Purnomo 2011 pembesaran prostat menyebabkan penyempitan
lumen uretra prostatika dan menghambat aliran urine. Keadaan ini
menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal. Untuk mengeluarkan urine,
buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu. Kontraksi
yang terus menerus ini menyebabkan perubahan anatomik buli-buli berupa

6
hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divertikel
buli-buli. Perubahan struktur pada bulu-buli tersebut, oleh pasien disarankan
sebagai keluhkan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tract
symptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejala prostatismus.
Tekanan intravesikal yang tinggi diteruskan ke seluruh bagian bulibuli
tidak terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter
ini dapat menimbulkan aliran balik urine dari buli-buli ke ureter atau terjadi
refluks vesiko ureter. Keadaan keadaan ini jIka berlangsung terus akan
mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat jatuh ke
dalam gagal ginjal. Obstruksi yang diakibatkan oleh hiperplasia prostat
benigna tidak hanya disebabkan oleh adanya massa prostat yang menyumbat
uretra posterior, tetapi juga disebabkan oleh tonus otot polos yang pada stroma
prostat, kapsul prostat, dan otot polos pada leher buli-buli. Otot polos itu
dipersarafi oleh serabut simpatis yang berasal dari nervus pudendus.
Menurut Mansjoer tahun 2000 pembesaran prostat terjadi secara perlahan-
lahan sehingga perubahan pada saluran kemih juga terjadi secara perlahan-
lahan. Pada tahap awal setelah terjadi pembesaran prostat, resistensi pada
leher buli-buli dan daerah prostat meningkat, serta otot detrusor menebal dan
merenggang sehingga timbul sakulasi atau divertikel. Fase penebalan detrusor
ini disebut fase kompensasi. Apabila keadaan berlanjut, maka detrusor
menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi
untuk berkontraksi sehingga terjadi retensio urin yang selanjutnya dapat
menyebabkan hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.
Obstruksi urin yang berkembang secara perlahan-lahan dapat
mengakibatkan aliran urin tidak deras dan sesudah berkemih masih ada urin
yang menetes, kencing terputus-putus (intermiten), dengan adanya obstruksi
maka pasien mengalami kesulitan untuk memulai berkemih (hesitansi). Gejala
iritasi juga menyertai obstruksi urin. Vesika urinarianya mengalami iritasi dari
urin yang tertahan tertahan didalamnya sehingga pasien merasa bahwa vesika
urinarianya tidak menjadi kosong setelah berkemih yang mengakibatkan
interval disetiap berkemih lebih pendek (nokturia dan frekuensi), dengan

7
adanya gejala iritasi pasien mengalami perasaan ingin berkemih yang
mendesak/ urgensi dan nyeri saat berkemih /disuria ( Purnomo, 2011).

4. MANIFESTASI KLINIK
1. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah :
a. Obstruksi :
1) Hesistensi (harus menggunakan waktu lama bila mau miksi)
2) Pancaran waktu miksi lemah
3) Intermitten (miksi terputus)
4) Miksi tidak puas
5) Distensi abdomen
6) Volume urine menurun dan harus mengejan saat berkemih.
b. Iritasi : frekuensi sering, nokturia, disuria.
2. Gejala pada saluran kemih bagian atas Nyeri pinggang, demam (infeksi),
hidronefrosis.
3. Gejala di luar saluran kemih :
Keluhan pada penyakit hernia/hemoroid sering mengikuti penyakit
hipertropi prostat. Timbulnya kedua penyakit ini karena sering mengejan
pada saat miksi sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan intra
abdominal (Sjamsuhidayat, 2004).

Adapun gejala dan tanda yang tampak pada pasien dengan Benigna
Prostat Hipertroplasi:
a. Sering buang air kecil dan tidak sanggup menahan buang air kecil, sulit
mengeluarkan atau menghentikan urin. Mungkin juga urin yang keluar
hanya merupakan tetesan belaka.
b. Sering terbangun waktu tidur di malam hari, karena keinginan buang air
kecil yang berulang-ulang.
c. Pancaran atau lajunya urin lemah
d. Kandung kemih terasa penuh dan ingin buang iar kecil lagi
e. Pada beberapa kasus, timbul rasa nyeri berat pada perut akibat tertahannya
urin atau menahan buang air kecil (Alam, 2004). Gejala generalisata juga

8
mungkin tampak, termasuk keletihan, anoreksia, mual dan muntah, dan
rasa tidak nyaman pada epigastrik (Brunner & Suddarth, 2002).

Secara klinik derajat berat, dibagi menjadi 4 gradiasi, yaitu:


a. Derajat 1 : Apabila ditemukan keluhan prostatismus, pada DRE (digital
rectal examination) atau colok dubur ditemukan penonjolan prostat dan
sisa urine kurang dari 50 ml.
b. Derajat 2 : Ditemukan tanda dan gejala seperti pada derajat 1, prostat lebih
menonjol, batas atas masih teraba dan sisa urine lebih dari 50 ml tetapi
kurang dari 100 ml.
c. Derajat 3 : Seperti derajat 2, hanya batas atas prostat tidak teraba lagi dan
sisa urin lebih dari 100 ml.
d. Derajat 4 : Apabila sudah terjadi retensi total.

5. PENATALAKSANAAN
1. Observasi
Biasanya dilakukan pada pasien dengan keluhan ringan. Pasien
dianjurkan untuk mengurangi minum setelah makan malam yang ditujukan
agar tidak terjadi nokturia, menghindari obat-obat dekongestan
(parasimpatolitik), mengurangi minum kopi dan tidak diperbolehkan
minum alkohol agar tidak terlalu sering miksi. Pasien dianjurkan untuk
menghindari mengangkat barang yang berat agar perdarahan dapat
dicegah. Ajurkan pasien agar sering mengosongkan kandung kemih
(jangan menahan kencing terlalu lama) untuk menghindari distensi
kandung kemih dan hipertrofi kandung kemih. Secara periodik pasien
dianjurkan untuk melakukan control keluhan, pemeriksaan laboratorium,
sisa kencing dan pemeriksaan colok dubur (Purnomo, 2011). Pemeriksaan
derajat obstruksi prostat menurut Purnomo (2011) dapat diperkirakan
dengan mengukur residual urin dan pancaran urin:
a. Residual urin, yaitu jumlah sisa urin setelah miksi. Sisa urin dapat
diukur dengan cara melakukan kateterisasi setelah miksi atau
ditentukan dengan pemeriksaan USG setelah miksi.

9
b. Pancaran urin (flow rate), dapat dihitung dengan cara menghitung
jumlah urin dibagi dengan lamanya miksi berlangsung (ml/detik)
atau dengan alat urofometri yang menyajikan gambaran grafik
pancaran urin.
2. Terapi medikamentosa
Menurut Baradero dkk (2007) tujuan dari obat-obat yang diberikan
pada penderita BPH adalah :
a. Mengurangi pembesaran prostat dan membuat otot-otot berelaksasi
untuk mengurangi tekanan pada uretra
b. Mengurangi resistensi leher buli-buli dengan obat-obatan golongan
alfa blocker (penghambat alfa adrenergenik)
c. Mengurangi volum prostat dengan menentuan kadar hormone
testosterone/ dehidrotestosteron (DHT).
3. Terapi bedah
Pembedahan adalah tindakan pilihan, keputusan untuk dilakukan
pembedahan didasarkan pada beratnya obstruksi, adanya ISK, retensio
urin berulang, hematuri, tanda penurunan fungsi ginjal, ada batu saluran
kemih dan perubahan fisiologi pada prostat. Waktu penanganan untuk tiap
pasien bervariasi tergantung pada beratnya gejala dan komplikasi. Menurut
Smeltzer dan Bare (2002) intervensi bedah yang dapat dilakukan meliputi :
a. Pembedahan terbuka, beberapa teknik operasi prostatektomi terbuka
yang biasa digunakan adalah :
1) Prostatektomi suprapubic, adalah salah satu metode mengangkat
kelenjar melalui insisi abdomen. Insisi dibuat dikedalam kandung
kemih, dan kelenjar prostat diangat dari atas. Teknik demikian
dapat digunakan untuk kelenjar dengan segala ukuran, dan
komplikasi yang mungkin terjadi ialah pasien akan kehilangan
darah yang cukup banyak dibanding dengan metode lain, kerugian
lain yang dapat terjadi adalah insisi abdomen akan disertai bahaya
dari semua prosedur bedah abdomen mayor.
2) Prostatektomi perineal, adalah suatu tindakan dengan mengangkat
kelenjar melalui suatu insisi dalam perineum. Teknik ini lebih

10
praktis dan sangat berguna untuk biopsy terbuka. Pada periode
pasca operasi luka bedah mudah terkontaminasi karena insisi
dilakukan dekat dengan rectum. Komplikasi yang mungkin terjadi
dari tindakan ini adalah inkontinensia, impotensi dan cedera
rectal.
3) Prostatektomi retropubik, adalah tindakan lain yang dapat
dilakukan, dengan cara insisi abdomen rendah mendekati kelenjar
prostat, yaitu antara arkus pubis dan kandung kemih tanpa
memasuki kandung kemih. Teknik ini sangat tepat untuk kelenjar
prostat yang terletak tinggi dalam pubis. Meskipun jumlah darah
yang hilang lebih dapat dikontrol dan letak pembedahan lebih
mudah dilihat, akan tetapi infeksi dapat terjadi diruang retropubik
(Smeltzer dan Bare, 2002).
b. Pembedahan endourologi, pembedahan endourologi transurethral
dapat dilakukan dengan memakai tenaga elektrik diantaranya:
1) Transurethral Prostatic Resection (TURP), Merupakan tindakan
operasi yang paling banyak dilakukan, reseksi kelenjar prostat
dilakukan dengan transuretra menggunakan cairan irigan
(pembilas) agar daerah yang akan dioperasi tidak tertutup darah.
Indikasi TURP ialah gejala-gejala sedang sampai berat, volume
prostat kurang dari 90 gr.Tindakan ini dilaksanakan apabila
pembesaran prostat terjadi dalam lobus medial yang langsung
mengelilingi uretra. Setelah TURP yang memakai kateter
threeway. Irigasi kandung kemih secara terus menerus
dilaksanakan untuk mencegah pembekuan darah. Manfaat
pembedahan TURP antara lain tidak meninggalkan atau bekas
sayatan serta waktu operasi dan waktu tinggal dirumah sakit lebih
singkat.Komplikasi TURP adalah rasa tidak enak pada kandung
kemih, spasme kandung kemih yang terus menerus, adanya
perdarahan, infeksi, fertilitas (Baradero dkk, 2007).
2) Transurethral Incision of the Prostate (TUIP), adalah prosedur lain
dalam menangani BPH. Tindakan ini dilakukan apabila volume

11
prostat tidak terlalu besar atau prostat fibrotic. Indikasi dari
penggunan TUIP adalah keluhan sedang atau berat, dengan
volume prostat normal/kecil (30 gram atau kurang). Teknik yang
dilakukan adalah dengan memasukan instrument kedalam uretra.
Satu atau dua buah insisi dibuat pada prostat dan kapsul prostat
untuk mengurangi tekanan prostat pada uretra dan mengurangi
konstriksi uretral. Komplikasi dari TUIP adalah pasien bisa
mengalami ejakulasi retrograde (0-37%) (Smeltzer dan Bare,
2002).
3) Terapi invasive minimal, menurut Purnomo (2011) terapai
invasive minimal dilakukan pada pasien dengan resiko tinggi
terhadap tindakan pembedahan. Terapi invasive minimal
diantaranya Transurethral Microvawe Thermotherapy (TUMT),
Transuretral Ballon Dilatation (TUBD), Transuretral Needle
Ablation/Ablasi jarum Transuretra (TUNA), Pemasangan stent
uretra atau prostatcatt.
a. Transurethral Microvawe Thermotherapy (TUMT), jenis
pengobatan ini hanya dapat dilakukan di beberapa rumah
sakit besar. Dilakukan dengan cara pemanasan prostat
menggunakan gelombang mikro yang disalurkan ke kelenjar
prostat melalui transducer yang diletakkan di uretra pars
prostatika, yang diharapkan jaringan prostat menjadi lembek.
b. Transuretral Ballon Dilatation (TUBD), pada tehnik ini
dilakukan dilatasi (pelebaran) saluran kemih yang berada di
prostat dengan menggunakan balon yang dimasukkan melalui
kateter. Teknik ini efektif pada pasien dengan prostat kecil,
kurang dari 40 cm3. Meskipun dapat menghasilkan perbaika
gejala sumbatan, namun efek ini hanya sementar, sehingga
cara ini sekarang jarang digunakan.
c. Transuretral Needle Ablation (TUNA), pada teknik ini
memakai energy dari frekuensi radio yang menimbulkan
panas mencapai 100 derajat selsius, sehingga menyebabkan

12
nekrosis jaringan prostat. Pasien yang menjalani TUNA
sering kali mengeluh hematuri, disuria, dan kadang-kadang
terjadi retensi urine (Purnomo, 2011).
d. Pemasangan stent uretra atau prostatcatth yang dipasang pada
uretra prostatika untuk mengatasi obstruksi karena
pembesaran prostat, selain itu supaya uretra prostatika selalu
terbuka, sehingga urin leluasa melewati lumen uretra
prostatika. Pemasangan alat ini ditujukan bagi pasien yang
tidak mungkin menjalani operasi karena resiko pembedahan
yang cukup tinggi.

6. PENGKAJIAN FOKUS
Pengkajian fokus keperawatan yang perlu diperhatikan pada penderita
BPH merujuk pada teori menurut Smeltzer dan Bare (2002), Tucker dan
Canobbio (2008) ada berbagai macam, meliputi :
a. Demografi
Kebanyakan menyerang pada pria berusia diatas 50 tahun. Ras kulit hitam
memiliki resiko lebih besar dibanding dengan ras kulit putih. Status social
ekonomi memili peranan penting dalam terbentuknya fasilitas kesehatan
yang baik. Pekerjaan memiliki pengaruh terserang penyakit ini, orang yang
pekerjaanya mengangkat barang-barang berat memiliki resiko lebih
tinggi..
b. Riwayat penyakit sekarang
Pada pasien BPH keluhan keluhan yang ada adalah frekuensi , nokturia,
urgensi, disuria, pancaran melemah, rasa tidak puas sehabis miksi,
hesistensi ( sulit memulai miksi), intermiten (kencing terputus-putus), dan
waktu miksi memanjang dan akhirnya menjadi retensi urine.
c. Riwayat penyakit dahulu
Kaji apakah memilki riwayat infeksi saluran kemih (ISK), adakah riwayat
mengalami kanker prostat. Apakah pasien pernah menjalani pembedahan
prostat / hernia sebelumnya.

13
d. Riwayat kesehatan keluarga
Kaji adanya keturunan dari salah satu anggota keluarga yang menderita
penyakit BPH.
e. Pola kesehatan fungsional
1. Eliminasi
Pola eliminasi kaji tentang pola berkemih, termasuk frekuensinya, ragu
ragu, menetes, jumlah pasien harus bangun pada malam hari untuk
berkemih (nokturia), kekuatan system perkemihan. Tanyakan pada
pasien apakah mengedan untuk mulai atau mempertahankan aliran
kemih. Pasien ditanya tentang defikasi, apakah ada kesulitan seperti
konstipasi akibat dari prostrusi prostat kedalam rectum.
2. Pola nutrisi dan metabolism
Kaji frekuensi makan, jenis makanan, makanan pantangan, jumlah
minum tiap hari, jenis minuman, kesulitan menelan atau keadaan yang
mengganggu nutrisi seperti anoreksia, mual, muntah, penurunan BB.
3. Pola tidur dan istirahat
Kaji lama tidur pasien, adanya waktu tidur yang berkurang karena
frekuensi miksi yang sering pada malam hari ( nokturia ).
4. Nyeri/kenyamanan
Nyeri supra pubis, panggul atau punggung, tajam, kuat, nyeri
punggung bawah
5. Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Pasien ditanya tentang kebiasaan merokok, penggunaan obatobatan,
penggunaan alkhohol.
6. Pola aktifitas
Tanyakan pada pasien aktifitasnya sehari hari, aktifitas penggunaan
waktu senggang, kebiasaan berolah raga. Pekerjaan mengangkat beban
berat. Apakah ada perubahan sebelum sakit dan selama sakit. Pada
umumnya aktifitas sebelum operasi tidak mengalami gangguan,
dimana pasien masih mampu memenuhi kebutuhan sehari hari
sendiri.

14
7. Seksualitas
Kaji apakah ada masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan
seksual akibat adanya penurunan kekuatan ejakulasi dikarenakan oleh
pembesaran dan nyeri tekan pada prostat.
8. Pola persepsi dan konsep diri
Meliputi informasi tentang perasaan atau emosi yang dialami atau
dirasakan pasien sebelum pembedahan dan sesudah pembedahan
pasien biasa cemas karena kurangnya pengetahuan terhadap perawatan
luka operasi.
f. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Purnomo (2011) dan Baradero dkk (2007) pemeriksaan
penunjang yang dapat dilakukan pada penderita BPH meliputi :
1) Laboratorium
a. Analisi urin dan pemeriksaan mikroskopik urin penting dilakukan
untuk melihat adanya sel leukosit, bakteri dan infeksi.
Pemeriksaan kultur urin berguna untuk menegtahui kuman
penyebab infeksi dan sensitivitas kuman terhadap beberapa
antimikroba.
b. Pemeriksaan faal ginjal, untuk mengetahui kemungkinan adanya
penyulit yang menegenai saluran kemih bagian atas. Elektrolit,
kadar ureum dan kreatinin darah merupakan informasi dasar dari
fungsi ginjal dan status metabolik.
c. Pemeriksaan prostate specific antigen (PSA) dilakukan sebagai
dasar penentuan perlunya biopsy atau sebagai deteksi dini
keganasan. Bila nilai PSA <4ng/ml tidak perlu dilakukan biopsy.
Sedangkan bila nilai PSA 4-10 ng/ml, hitunglah prostate specific
antigen density (PSAD) lebih besar sama dengan 0,15 maka
sebaiknya dilakukan biopsy prostat, demikian pula bila nilai PSA
> 10 ng/ml.
2) Radiologis/pencitraan
Menurut Purnomo (2011) pemeriksaan radiologis bertujuan untuk
memperkirakan volume BPH, menentukan derajat disfungsi bulibuli

15
dan volume residu urin serta untuk mencari kelainan patologi lain,
baik yang berhubungan maupun tidak berhubungan dengan BPH.
a. Foto polos abdomen, untuk mengetahui kemungkinan adanya batu
opak di saluran kemih, adanya batu/kalkulosa prostat, dan adanya
bayangan buli-buli yang penuh dengan urin sebagai tanda adanya
retensi urin. Dapat juga dilihat lesi osteoblastik sebagai tanda
metastasis dari keganasan prostat, serta osteoporosis akibat
kegagalan ginjal.
b. Pemeriksaan Pielografi intravena ( IVP ), untuk mengetahui
kemungkinan adanya kelainan pada ginjal maupun ureter yang
berupa hidroureter atau hidronefrosis dan memperkirakan
besarnya kelenjar prostat yang ditunjukkan dengan adanya
indentasi prostat (pendesakan buli-buli oleh kelenjar prostat) atau
ureter dibagian distal yang berbentuk seperti mata kail (hooked
fish)/gambaran ureter berbelok-belok di vesika, penyulit yang
terjadi pada buli-buli yaitu adanya trabekulasi, divertikel atau
sakulasi buli-buli.
c. Pemeriksaan USG transektal, untuk mengetahui besar kelenjar
prostat, memeriksa masa ginjal, menentukan jumlah residual
urine, menentukan volum buli-buli, mengukur sisa urin dan batu
ginjal, divertikulum atau tumor buli-buli, dan mencari kelainan
yang mungkin ada dalam buli-buli

16
7. PATHWAYS KEPERAWATAN Perubahan usia

Ketidakseimbangan produksi hornon estrogen dan progesteron

Kadar testosterone Kadar esterogen

Mempengaruhi RNA Hyperplasia sel


dalam inti sel stoma pada jaringan

Poliferasi sel prostat BPH

Perubahan
disfungsi
Pre operasi Post operasi Resiko impotensi
seksual

Obstruksi saluran kemih yang bermuara ke


Insisi Pemasangan Kerusakan jaringan
vesika urinaria
prostatektomi kateter threeway periuretral

Penebalan otot destrusor Terputusnya


Bekuan darah Kerusakan integritas
kontinuitas jaringan
Dekompensasi otot destrusor jaringan

Spasme urin
Akumulasi urin di vesika Penurunan pertahanan Resiko perdarahan
tubuh
Retensi urin
Sukar berkemih Peregangan vesika urinaria Penumpukan urin yang Resiko infeksi
melebihi kapasitas lama di vesika urinaria
Retensi urin
Spasme otot spiner Pertumbuhan
mikroorganisme

Nyeri akut
17
8. FOKUS INTERVENSI
Pra operasi
1. Retensi urin akut/kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik,
pembesaran prostat, dekompensasi otot destrusor, ketidakmampuan
kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat.
Tujuan : Tidak terjadi retensi urine
Kriteria hasil : Pasien menunjukkan residu pasca berkemih kurang dari
50 ml, dengan tidak adanya tetesan atau kelebihan cairan.
Intervensi :
a. Dorong pasien untuk berkemih tiap 2-4 jam atau bila tiba-tiba
dirasakan
Rasional : meminimalkan retensi urin distensi berlebihan pada
kandung kemih.
b. Observasi aliran urin, perhatikan ukuran dan kekuatan.
Rasional : berguna untuk mengevaluasi obstruksi dan pilihan
c. Awasi dan catat waktu tiap berkemih dan jumlah tiap berkemih,
perhatikan penurunan haluaran urin dan perubahan berat jenis.
Rasional : retensi urine meningkatkan tekanan dalam saluran
perkemihan atas, yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal. Adanya
defisit aliran darah keginjal menganggu kemampuanya untuk
memfilter dan mengkonsentrasi substansi.
d. Lakukan perkusi/palpasi suprapubic
Rasional : distensi kandung kemih dapat dirasakan diarea suprapubic
e. Dorong masukan cairan sampai 3000 ml sehari
Rasional : peningkatan aliran cairan mempertahankan perfusi ginjal
dan membersihkan ginjal dan kandung kemih dari pertumbuhan
bakteri
f. Kaji tanda-tanda vital, pertahankan pemasukan dan pengeluaran yang
akurat

18
Rasional : kehilangan fungsi ginjal mengakibatkan penuruna eliminasi
cairan dan akumulasi sisa toksik, dapat berlanjut kepenuruan ginjal
total
g. Lakukan rendam duduk sesuai indikasi
Rasional : meningkatkan relaksasi otot, penuruan edema, dan dapat
meningkatkan upaya berkemih.
h. Kolaborasi pemberian obat
Rasional: untuk melancarkan pengeluaran urine.
2. Nyeri akut berhubungan dengan peregangan dari terminal saraf, distensi
kandung kemih, infeksi urinaria, efek mengejan saat miksi sekunder dari
pembesaran prostat dan obstruksi uretra.
Tujuan : nyeri hilang, terkontrol
Kriteria hasil : pasien melaporkan nyeri hilang dan terkontrol pasien
tampak rileks, mampu untuk tidur dan istirahat dengan tepat.
Intervensi :
a. Kaji tipe nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0-10) lamanya.
Rasional : memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan
pilihan/keefektifan intervensi
b. Pertahankan tirah baring bila diindikasikan
Rasional : tirah baring mungkin diperlukan pada awal selama fase
retensi akut. Namun ambulasi dini dapat memperbaiki pola berkemih
normal dan menghilangkan nyeri kolik
c. Berikan tindakan kenyamanan, distraksi selama nyeri akut seperti,
pijatan punggung : membantu pasien melakukan posisi yang nyaman:
mendorong penggunaan relaksasi/latihan nafas dalam: aktivitas
terapeutik.
Rasional : meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian
dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
d. Dorong menggunakan rendam duduk, gunakan sabun hangat untuk
perineum

19
Rasional : meningkatkan relaksasi otot
e. Kolaborasi pemberian obat pereda nyeri ( analgetik)
Rasional : menurunkan adanya nyeri, dan kaji 30 menit kemudian
untuk mengetahui keefektivitasnya.
Post operasi
1. Retensi urin berhubungan dengan obstruksi mekanik: bekuan darah,
edema, trauma, prosedur bedah, tekanan dan iritasi kateter.
Tujuan : Pasien berkemih dengan jumlah normal tanpa retensi
Kriteria Hasil : Menunjukkan perilaku yang meningkatkan kontrol
kandung kemih/urinaria, pasien mempertahankan keseimbangan cairan :
asupan sebanding dengan pengeluaran.
Intervensi :
a. Kaji haluaran urine dan system drainase, khususnya selama irigasi
berlangsung
Rasional : retensi dapat terjadi karena edema area bedah, bekuan darah
dan spasme kandung kemih.
b. Bantu pasien memilih posisi normal untuk berkemih
Rasional : mendorong pasase urine dan menngkatkan rasa normalitas.
c. Perhatikan waktu, jumlah berkemih dan ukuran aliran setelah kateter
dilepas.
Rasional : kateter biasa lepas 2-5 hari setelah bedah, tetapi berkemih
dapat berlanjut sehingga menjadi masalah untuk beberapa waktu
karena edema uretral dan kehilangan tonus.
d. Dorong pemasukan cairan 3000 ml sesuai toleransi, batasi cairan pada
malam hari setelah kateter dilepas
Rasional : mempertahankan hidrasi adekuat dan perfusi ginjal untuk
aliran urine penjadwalan masukan cairan menurunkan kebutuhan
berkemih/gangguan tidur selama malam hari.
e. Pertahankan irigasi kandung kemih continue (continous bladder
irrigation)/CBI sesuai indikasi pada periode pascaoperasi

20
Rasional : mencuci kandung kemih dari bekuan darah dan debris untuk
mempertahankan patensi kateter.
2. Nyeri akut berhubungan dengan spasmus kandung kemih dan insisi
sekunder pada pembedahan, dan pemasangan kateter.
Tujuan : Nyeri berkurang atau hilang.
Kriteria Hasil :
1. Pasien mengatakan nyeri berkurang
2. Ekspresi wajah pasien tenang
3. Pasien akan menunjukkan ketrampilan relaksasi.
4. Pasien akan tidur / istirahat dengan tepat.
5. Tanda tanda vital dalam batas normal.
Intervensi :
a. Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0-10)
Rasional : nyeri tajam, intermitten dengan dorongan berkemih sekitar
kateter menunjukkan spasme kandung kemih.
b. Jelaskan pada pasien tentang gejala dini spasmus kandung kemih.
Rasional : Klien dapat mendeteksi gajala dini spasmus kandung
kemih.
c. Pertahankan patensi kateter dan system drainase. Pertahankan selang
bebas dari lekukan dan bekuan
Rasional : mempertahankan fungsi kateter dan drainase system.
Menurunkan resiko distensi/spasme kandung kemih
d. Berikan informasi yang akurat tentang kateter, drainase, dan spasme
kandung kemih
Rasional : menghilangkan ansietas dan meningkatkan kerjasama.
e. Kolaborasi pemberian antispasmodic
3. Resiko perdarahan berhubungan dengan insisi area bedah vaskuler
(tindakan pembedahan) , reseksi bladder, kelainan profil darah
Tujuan : Tidak terjadi perdarahan
Kriteria Hasil :

21
1. Pasien tidak menunjukkan tanda tanda perdarahan
2. Tanda tanda vital dalam batas normal
3. Urine lancar lewat kateter
Intervensi :
a. Jelaskan pada pasien tentang sebab terjadi perdarahan setelah
pembedahan dan tanda tanda perdarahan .
Rasional : Menurunkan kecemasan pasien dan mengetahui tanda
tanda perdarahan.
b. Irigasi aliran kateter jika terdeteksi gumpalan dalm saluran kateter .
Rasional : Gumpalan dapat menyumbat kateter, menyebabkan
peregangan dan perdarahan kandung kemih
c. Sediakan diet makanan tinggi serat dan memberi obat untuk
memudahkan defekasi .
Rasional : Dengan peningkatan tekanan pada fosa prostatic yang akan
mengendapkan perdarahan
d. Mencegah pemakaian termometer rektal, pemeriksaan rektal atau
huknah, untuk sekurang kurangnya satu minggu .
Rasional : Dapat menimbulkan perdarahan prostat
e. Pantau traksi kateter: catat waktu traksi di pasang dan kapan traksi
dilepas .
Rasional : Traksi kateter menyebabkan pengembangan balon ke sisi
fosa prostatik, menurunkan perdarahan. Umumnya dilepas 3 6 jam
setelah pembedahan
f. Observasi tanda tanda vital tiap 4 jam, masukan dan haluaran Warna
urine
Rasional : Deteksi awal terhadap komplikasi, dengan intervensi yang
tepat mencegah kerusakan jaringan yang permanen.
4. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif: alat selama
pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering
Tujuan : Pasien tidak menunjukkan tanda tanda infeksi

22
Kriteria Hasil :
1. Pasien tidak mengalami infeksi.
2. Dapat mencapai waktu penyembuhan.
3. Tanda tanda vital dalam batas normal dan
4. tidak ada tanda tanda syok.
Intervensi :
a. Pertahankan sistem kateter steril, berikan perawatan kateter dengan
steril.
Rasional : Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi.
b. Anjurkan intake cairan yang cukup ( 2500 3000 ) sehingga dapat
menurunkan potensial infeksi.
Rasional : Meningkatkan output urine sehingga resiko terjadi ISK
dikurangi dan mempertahankan fungsi ginjal.
c. Pertahankan posisi urinebag dibawah
Rasional : Menghindari refleks balik urine yang dapat memasukkan
bakteri ke kandung kemih.
d. Observasi tanda tanda vital, laporkan tanda tanda shock dan
demam.
Rasional : Mencegah sebelum terjadi shock.
e. Observasi urine: warna, jumlah, bau.
Rasional : Mengidentifikasi adanya infeksi.
f. Kolaborasi dengan dokter untuk memberi obat antibiotic
Rasional :Untuk mencegah infeksi dan membantu proses
penyembuhan.
5. Resiko terhadap disfungsi seksual berhubungan dengan ketakutan impoten
akibat dari pembedahan.
Tujuan : Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat
dapat diatasi.

23
Kriteria Hasil : Menyatakan pemahaman situasional individu,
menunjukan pemecahan masalah dan menunjukkan rentang yang tepat
tentang perasaan dan penurunan rasa takut.
Intervensi :
a. Dampingi pasien dan bina hubungan saling percaya
Rasional : Menunjukka perhatian dan keinginan untuk membantu
b. Berikan informasi yang tepat tentang harapan kembalinya fungsi
seksual
Rasional : impotensi fisiologis terjadi bila syaraf perineal dipotong
selama prosedur radikal.
c. Diskusikan ejakulasi retrograde bila pendekatan
transurethral/suprapubik digunakan
Rasional : cairan seminal mengalir kedalam kandung kemih dan
disekresikan melalui urine, hal ini tidak mempengaruhi fungsi seksual
tetapi akan menurunkan kesuburan dan menyebabkan urine keruh
d. Anjurkan pasien untuk latihan perineal dan interupsi/continue aliran
urin
Rasional : meningkatkan peningkatan control otot kontinensia urin
dan fungsi seksual.

24
BAB III
RESUME ASKEP

A. IDENTITAS
1. Identitas pasien
Nama : Tn. S
Tempat, Tanggal lahir : 15 Oktober 1955/ 61 thn
Jenis kelamin : Laki-laki
Pendidikan terakhir : SD
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pekerjaan : Swasta
Alamat : Ngampel Kulon
2. Identitas penanggung jawab
Nama : Tn. SK
Alamat : Nagmpel Kulon
Hubungan dengan klien : Anak
3. Diagnosa medik
a. Pada tanggal 4 Juli 2017 didiagnosa BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).
b. Pada tanggal 5 Juli 2017 didiagnosa BPH (Benigna Prostat Hiperplasia).

B. STATUS KESEHATAN
1. Status kesehatan saat ini
a. Keluhan utama:
Nyeri saat buang air kecil, dan susah untuk buang air kecil.
b. Lamanya keluhan:
5 hari yang lalu.
c. Timbulnya keluhan:
Mendadak.

25
d. Faktor yang memberat:
Faktor usia.
2. Status kesehatan masa lalu
a. Penyakit yang pernah dialami:
Tn. S belum pernah mengalami sakit seperti ini sebelumnya.

C. PENGKAJIAN POLA FUNGSI DAN PEMERIKSAAN FISIK


1. Persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Tn. S jika mengalami keluhan sakit segera memeriksaan diri ke puskesmas.
Selama ini Tn. S tidak melakukan diit khusus kcuai selama perawatan di RS
Roemani Muhammadiyah Semarang, diit yang dilakukan adalah diit TETP
(tinggi energi tinggi protein) dengan jenis makanan lunak. Tn. S tidak
mengkonsumsi alkohol dan tidak merokok. Tn. S juga tidak mempunyai
kegiatan olahraga yang khusus, olahraga yang biasa dilakukan hanya berjalan-
jalan biasa di sekitar rumah.
2. Nutrisi, cairan dan metabolic
a. Gejala (subyektif)
1. Diit TETP (tinggi energi tinggi protein) dengan jenis makanan lunak.
2. Makan terakhir tanggal 7 Juli 2017 jam 06.00 pagi.
3. Nafsu makan baik, sudah tidak mual pasca operasi dan mulai makan
sedikit-sedikit.
4. Muntah tidak ada.
5. Nyeri uluh hati tidak ada.
6. Alergi makanan tidak ada.
7. Tidak ada masalah mengunyah atau masalah menelan.
8. Tidak ada keluhan demam, suhu 36,5o C.
9. Pola minum baik, serta dibantu dengan cairan infus yang masuk.
10. Tidak ada penurunan berart badan selama 6 bulan terakhir.
b. Tanda (obyektif)
1. Suhu 36,5o C, tidak ada diaphoresis.

26
2. BB 45 kg; TB 160 cm.
3. Tidak ada edema.
4. Tidak ada acites.
5. Tidak ada pembesaran vena jugularis.
6. Tidak ada hernia dan masa.
7. Tidak ada halitosis.
8. Kondisi gigi lengkap, mukosa bibir tidak kering dan tidak pucat.
3. Pernafasan, aktifitas, dan latihan
a. Gejala (subyektif)
1. Tidak dyspnea.
2. Tidak sesak, dan tidak menggunakan alat bantu pernafasan.
b. Tanda (obyektif)
1. RR 20x/menit, simetris antara dada kanan dan dada kiri.
2. Tidak ada cuping hidung dan tidak ada otot bantu pernafasan.
3. Tidak batuk.
4. Suara nafas vesikuler.
4. Aktifitas kebersihan diri dan latihan
a. Gejala (subyektif)
1. Kegiatan dalam pekerjaan dalam kategori berat.
2. Mampu merubah posisi secara mandiri, serta mampu melakukan
aktifitas perawatan diri secara mandiri.
3. Aktifitas toileting (BAB/BAK) mampu dilakukan secara mandiri tanpa
bantuan orang lain, kecuali selama di rumah sakit perlu dibantu untuk
pergi ke kamar mandi.
4. Tidak ada keluhan sesak nafas setelah melakukan aktifitas apapun.
5. Tidak mudah merasa kelelahan dan tidak ada toleransi aktifitas secara
khusus.
b. Tanda (obyektif)
1. Tidak mempunyai status mental yang buruk, mampu melakukan
interaksi sosial dengan baik.

27
2. Kondisi umum baik, tidak tampak lemah, dengan kerapian penampilan
cukup rapi.
3. Kekuatan otot baik dengan skor 5 5 postur tubuh proporsional
5 5
(tidak membungkuk), tidak ada deformitas.
4. Tidak bau badan serta tidak bau mulut, kondisi kulit kepala bersih
dengan warna rambut putih, kebersihan kuku baik dengan kondisi
kuku bersih serta kuku pendek.
5. Istirahat
a. Gejala (subyektif)
1. Kebiasaan tidur selama 8 jam, dan selama di rumah sakit tidak
mengeluh susah tidur.
2. Tidak memiliki masalah insomnia, setiap kali bangun tidur merasa
segar.
b. Tanda (obyektif)
1. Tidak tampak mengantuk, mata tidak sayu dan merah, tidak sering
menguap dan tidak mengalami kurang konsentrasi.
6. Sirkulasi
a. Gejala (subyektif)
1. Tidak mempunyai riwayat hipertensi dan masalah jantung.
2. Tidak emmpunyai riwayat edema kaki.
3. Tidak mempunyai riwayat penyembuhan yang lama.
4. Tidak ada rasa kesemutan.
5. Tidak ada palpitasi dan tidak ada keluhan nyeri dada.
b. Tanda (obyektif)
1. Tekanan darah 117/67 mmHg.
2. Nadi 80 x/menit.
3. Bunyi jantung regular dan kuat.
4. Warna ekstremitas tidak kebiruan dan tanda homon (-).
5. Tidak ada varises dan phlebitis.

28
6. Membrane mukosa tidak sianosis, konjungtiva tidak anemis.
7. Eliminasi
a. Gejala (subyektif)
1. Frekuensi BAB 1x dalam sehari.
2. Tidak terpasang colostomy atau alat bantu tertentu untuk BAB.
3. Tidak mengalami konstipasi dan tidak mengalami diare.
4. Tidak menggunakan laksatif.
5. BAB terakhit tanggal 6 juli 2017.
6. Tidak mempunyai riwayat haemoroid.
7. Tidak mempunyai riwayat inkontinensia alvi.
8. Terpasang kateter sejak tanggal 7 juli 2017.
9. Tidak menggunakan diuretic.
10. Rasa nyeri saat BAK ada.
11. Terdapat kesulitan saat BAK.
b. Tanda (obyektif)
1. Abdomen:
Inspeksi :perut tidak membuncit.
Auskultasi :bising usus 15 x/menit, tidak terdengar bunyi
abnormal.
Perkusi :suara timpani, dan tidak kembung.
Palpasi :terdapat nyeri tekan, tidak terdapat distensi kandung
kemih.
2. Pola eliminasi
Konsistensi lunak tidak keras.
Terdapat retensi urin.
Jumlah urin pada tanggal 7 Juli 2017 jam 20.00 sebanyak 700 cc
dengan warna kemerahan.
8. Neurosensory dan kognitif
a. Gejala (subyektif)
1. Adanya nyeri

29
P : tetap terasa nyeri meskipun dibuat tidur.
Q : hilang timbul.
R : di bagian post bedah dan perut bagian bawah.
S :6
T : setelah dilakukan pembedahan.
2. Tidak ada rasa ingin pingsan.
3. Tidak ada nyeri kepala.
4. Tidak ada rasa kebas, kelemahan, dan kesemutan.
5. Terdapat penurunan penglihatan, dan tidak merasa telinga nya
berdenggung.
6. Tidak mengalami epistakasis.
b. Tanda (obyektif)
1. Kesadaran composmentis.
2. GCS: E4,M5,V6
3. Terorientasi waktu, tempat, dan orang.
4. Tidak mengalami gangguan persepsi sensori.
5. Tidak mengalami delusi.
6. Memori saat ini dan masa lalu cukup baik.
7. Tidak menggunakan alat bantu pendengaran dan penglihatan.
9. Keamanan
a. Gejala (subyektif)
1. Tidak memiliki alergi baik alergi obat maupun makanan tertentu.
2. Tidak mempunyai riwayat penyakit hubungan seksual, tidak
mempunyai riwayat transfusi darah.
3. Tidak memiliki kerusakan penglihatan maupun pendengaran.
4. Tidak ada riwayat cedera.
5. Tidak ada riwayat kejang.
b. Tanda (obyektif)
1. Suhu 36,5oC, tidak ada diaforesis.
2. Tidak ada jaringan parut.

30
3. Kulit kemerahan.
4. Tidak ada luka.
5. Tidak ada ekimosis dan tanda pendarahan lainnya.
6. Terpasang alat invasive kondisi baik.
7. Tidak ada gangguan keseimbangan.
10. Seksual dan reproduksi
a. Gejala (subyektif)
1. Tidak mempunyai gangguan hubungan seksual.
2. Mengalami pembesaran prostat.
b. Tanda (obyektif)
Memiliki testis 2, dan tidak terdapat lesi.
11. Persepsi diri, konsep diri, dan mekanisme koping
a. Gejala (subyektif)
1. Dalam mengambil keputusan dibantu oleh keluarga.
2. Dalam memecahkan masalah dengan cara membicarakan dengan
keluarga.
3. Tidak merasa cemas dan takut.
4. Tidak merasa tidak berdaya.
5. Tidak mengalami keputusasaan.
b. Tanda (obyektif)
1. Status emosional cukup tenang.
12. Interaksi sosial
a. Gejala (subyektif)
1. Orang terdekat adalah anak dan istri.
2. Dalam menghadapi masalah Tn. S meminta bantuan kepada keluarga.
3. Tidak ada kesulitan dalam berhubungan dengan keluarga.
4. Tidak mengalami kesulitan dalam berhubungan dengan tenaga
kesehatan maupun dengan pasien lainnya.
b. Tanda (obyektif)
1. Kemampuan bicara baik dan jelas.

31
2. Tidak menggunakan alat bantu bicara.
3. Tidak mempunyai perilaku menarik diri.
13. Pola nilai kepercayaan dan spiritual
a. Gejala (subyektif)
1. Sumber kekuatan diri sendiri, keluarga, dan Allah.
2. Tidak ada perasaan menyalahkan tuhan.
3. Tn. S melakukan ibadah sholat 5 waktu, dan mengaji dirumah, selama
dirawat di rumah sakit hnaya melakukan kegiatan agama sholat 5
waktu di atas tempat tidur.
4. Tidak ada keyakinan/kebudayaan tertentu yang dianut Tn. S, serta
tidak ada pertentangan nilai. Keyakinan/kebudayaan terhadap
pengobatan yang dijalani Tn. S.
b. Tanda (obyektif)
1. Tidak ada perilaku menarik diri, tidak mudah marah, tidak mudah
tersinggung, dan tidak mudah menangis.
2. Tidak menolak program pengobatan yang akan diberikan.
3. Tidak berhenti melakukan aktivitas agama.
4. Tidak emnunjukkan sikap permusuhan dengan tenaga kesehatan.

D. DATA PENUNJANG
1. Laboratorium
Tanggal 5 juli 2017; jam: 14.20
1. Hematologi
- Darah lengkap:
Hemoglobin 14,9 g/dL
Lekosit 6100 mm3
Hematocrit 43,0 %
Trombosit 197000 mm3
Eritrosit 4,53 juta/uL

32
- Index eritrosit:
MCV 95,0 fl
MCH 32,8 pg
MCHC 34,5 g/dL
RDW 11,5 %
MPV 7,7 fl
- Hitung jenis:
Eosinophil 2,4 %
Basophil 03 %
Neutrophil 48,5 %
Limfosit 46,4 %
Monosit 2,4 %
2. Koagulasi
Waktu perdarahan 110 menit
Waktu pembekuan 315 menit
3. Imunologi
HBsAg negative
4. Kimia klinik
Glukosa sewaktu 140 mg/dL
Ureum 31 mg/dL
Creatinine 1,1 mg/dL
5. Elektrolit
Kalium 3,3 mEq/L
Tanggal 5 juli 2017; jam: 16.37
1. Urine
- Urine lengkap:
- Makroskopis:
Warna kuning
Kekeruhan jernih

33
Urobilinogen negtive
Bilirubin negative
Keton negative
Blood positive 1+
Protein negative
Nitrit negative
Lekosit negative
Reduksi negative
Berat jenis 1,010
PH/reaksi 6,0
- Mikroskopis:
Epitel 2,3 /LPK
Lekosit 0-2 /LPB
Eritrosit 3-5 /LPB
Kristal negative /LPB
Bakteri positif
Lain-lain yeast positif
Silinder negative /IPK
Tanggal 7 juli 2017; jam: 06.29
1. Elektrolit
Natrium 142 mEq/ L
2. USG (abdomen)
Simpel cyst ginjal kiri ukuran 2,7 cm.
Prostat membesar, volume sekitar 39 cm3 disertai abberant prostat.
Tak tampak kelainan lainnya pada organ intrabdomen diatas secara
sonografi.
3. EKG
NS (norml synus)
4. Obat-obatan
Ceftriaxone 1gr/ 12 jam

34
Mikasin 1 gr/ 24 jam
Keren 1 gr/ 12 jam
Asam tranexamat 500 gr/ 8 jam
5. Diit
TETP (tinggi energy tinggi protein) dengan jenis makanan lunak.

E. ANALISA DATA
No Data Subyektif & Data Obyektif Masalah Etiologi
1. DS: Nyeri akut Efek dari proses
Tn. S merasa nyeri pada bagian pembedahan
post pembedahan.
DO:
Pengkajian nyeri:
P: nyeri tetap ada meski dibuat
tidur.
Q: nyeri hilang timbul.
R: dibagian post bedah dan perut
bagian bawah
S: 6
T: nyeri dimulai dari post
pembedahan.
2. DS:- Resiko infeksi Prosedur invasive
DO:
Pasien terpasang kateter
Pasien post operasi TURP
3. DS: Retensi urin Perubahan pola eliminasi
Pasien mengatakan nyeri pada urin
perut bagian bawah.
DO:

35
Pasien terpasang kateter

F. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik.
2. Retensi urin berhubungan dengan sumbatan saluran perkemihan.
3. Resiko infeksi faktor resiko prosedur invasive.

G. PERENCANAAN
No
Tanggal/Jam Tujuan & Kriteria Hasil (NOC) Rencana (NIC)
Dx
1 7 Juli 2017 Setelah dilakukan tindakan selama 1. Mengkaji tingkat nyeri pasien.
(17.00) 1x24 jam nyeri berkurang, dnegan 2. Mengajarkan pasien
kriteria hasil: mengurangi rasa nyeri.
1. Nyeri berkurang menjadi 4 3. Memonitor TTV.
2. Pasien merasa tenang 4. Kolaborasi dengan tim medis
3. Pasien dapat istirahat lainnya untuk pemberian
analgetik.
2 7 Juli 2017 Setelah dilakukan tindakan selama 1. Kaji pengeluaran urin.
(17.00) 2x24 jam tidak terjadi retensi urin, 2. Mencatat jumlah cairan intake
dengan kriteria hasil: dan output.
1. BAK normal tanpa retensi 3. Mencatat warna urin.
2. Kateter bersih dan lancar
3. Warna urin normal
3 7 Juli 2017 Setelah dilakukan tindakan 2x24 1. Memonitor TTV.
(17.00) jam tidak terjadi resiko infeksi, 2. Mempertahankan system
dengan kriteria hasil: katerisasi steril.
1. Tidak ada tanda-tanda infeksi 3. Menganjurkan pasien untuk
2. Keadaan post pembedahan baik banyak minum.
4. Kolaborasi dengan tenaga

36
kesehatan untuk pemberian
antibakteri.

H. CATATAN KEPERAWATAN (IMPLEMENTASI)


No
Tanggal/Jam Tindakan KEperawatan Respon Pasien Hasil Paraf
Dx
1 8 Juli 2017 Melakukan pengkajian nyeri S:

(08.00) P: nyeri tetap ada meski
dibuat tidur.
Q: nyeri hilang timbul.
R: dibagian post bedah dan
perut bagian bawah
S: 6
T: nyeri dimulai dari post
pembedahan.
O: pasien kooperatif saat
dilakukan pengkajian.
2,3 8 juli 2017 Mencatat intake dan output S: pasien mengatakan sudah

(10.00) cairan minum sebanyak 2 gelas
sedang air putih.
O: pasien terpasang infus
dan sudah habis 1 botol RL,
pasien terpasang kateter
dengan dengan warna urine
jernih dengan jumlah 600
cc.
Menganjurkan pasien untuk S: pasien mengatakan sudah

minum air putih yang banyak minum sebanyak 2 gelas
sedang air putih.

37
O: pasien terpasang infus
RL dan sudah habis 1 botol.
1 8 Juli 2017 Mengajarkan pasien teknik S: pasien mengatakan cukup

(08.00) relaksasi benson untuk nyaman, mulai berkurang
mengurangi rasa nyeri rasa nyeri.
O: pasien serta keluarga
kooperatif saat diajarkan
teknik relaksasi ebnson,
pasien mampu mengikuti
teknik relaksasi benson
dengan baik.
2,3 8 Juli 2017 Memonitor TTV S: -

(11.00) O:
TD: 132/77 mmHg
N: 80 x/menit
Suhu: 36,6oC
Menganjurkan pasien untuk S: pasien mengatakan sudah

mengkonsumsi banyak minum minum sebanyak 2 gelas
sedang air putih, dan 1 gelas
the.
O: pasien terpasang infus
RL dan sudah habis 1 botol.
1,3 8 Juli 2017 Memberikan obat analgetik S: pasien mengatakan nyeri

(14.00) saat obat dimasukkan
melalui IV.
O: obat ceftriaxone 1 gr
telah masuk via IV.
Memberikan obat antibakteri S: pasien mengatakan nyeri

saat obat dimasukkan

38
melalui IV.
O: obat mikasin 1 gr telah
masuk via IV.
1 9 Juli 2017 Mengajarkan pasien teknik S: pasien mengatakan cukup

(08.00) relaksasi benson untuk nyaman, mulai berkurang
mengurangi rasa nyeri rasa nyeri.
O: pasien serta keluarga
kooperatif saat diajarkan
teknik relaksasi ebnson,
pasien mampu mengikuti
teknik relaksasi benson
dengan baik.

I. CATATAN PERKEMBANGAN (EVALUASI)


No
Tanggal/Jam Respon Perkembangan Paraf
Dx
1 9 Juli 2017 S: pasien mengatakan perut bagian bawah dan bagian post

(13.00) pembedahan tidak terasa nyeri, dan nyeri di bagian perut
bawah mulai berkurang, dengan skala nyeri 4
O: tidak ada nyeri tekan pada perut, pasien tampak rileks dan
tenang.
A: masalah teratasi.
P: pertahankan intervensi.
2 9 Juli 2017 S: pasien mengatakan terkadang masih nyeri saat ingin

(13.00) berkemih, nyeri di bagian perut bawah mulai berkurang.
O: pasien terpasang kateter.
A: masalah teratasi sebagian.
P: pertahankan intervensi.
3 9 Juli 2017 S: pasien mengatakan badannya tidak panas, pada bagian

39
(13.00) post pembedahan tidak mengalami kemerahan.
O: suhu badan 36,6oC, tidak ada tanda-tanda infeksi pada
bagian post pembedahan.
A: masalah teratasi.
P: pertahankan intervensi.

40
BAB IV
APLIKASI JURNAL EVIDENCE BASED NURSING RISET

A. Identitas klien
Nama : Tn. S
Tempat, Tanggal lahir : 15 Oktober 1955/ 61 thn
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Ngampel Kulon

B. Data Fokus Pasien


No Data Subyektif & Data Obyektif Masalah Etiologi
1. DS: Nyeri akut Efek dari proses
Tn. S merasa nyeri pada bagian pembedahan
post pembedahan.
DO:
Pengkajian nyeri:
P: nyeri tetap muncul meski
dibuat tidur.
Q: nyeri hilang timbul.
R: dibagian post bedah dan perut
bagian bawah
S: 6
T: terasa nyeri semenjak post
operasi.

C. Diagnosa Keperawatan yang Berhubungan Dengan Jurnal Evidence Based


Nursing Riset yang Diaplikasikan
Diagnosa yang berhubungan dengan evidence based nursing riset adalah
diagnosa keperawatan Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik.

41
D. Evidence Based Nursing Practice yang Diterapkan Pada Pasien
Didalam evidence based nursing practice yang diterapkan untuk diagnosa
keperawatan nyeri akut adalah penerapan evidence based nursing riset
Penurunan Nyeri Pasca Bedah Pasien TUR Prostat Melalui Relaksasi Benson.

42
E. Analisa Sintesa Justifikasi
Post operasi BPH

Pemasangan kateter Insisi prostatektomi Kerusakan jaringan


threeway pariental

Terputusnya kontinuitas Kerusakan integritas


Bekuan darah jaringan jaringan

Spasme urin Pertahanan tubuh Resiko perdarahan

Retensi urin Resiko infeksi

Nyeri akut

Terapi farmakologis Terapi non farmakologis

Pemberian obat analgetik Relaksasi Benson

Penggunaan kombinasi teknik pernafasan


dengan keyakinan pasien

Terhadap konsumsi O2

Tubuh menjadi rileks

Hipotalamus mengaktifkan Conticothropin Relaxing


Factor (CRF)
Menghambat
impuls nyeri di CRF akan merangsang kelenjar dibawah otak
postsinap

Nyeri endorphin Produksi Propoid Melanocoithin

Mempengaruhi impuls saraf Produksi enkephalin

Terjadi penekanan & pelepasan


neurotransmitter di persinap
43
F. Landasan Teori Terkait Penerapan-Penerapan Evidence Based Nursing
Practice
Nyeri merupakan pengalaman sensasi dan emosi yang tidak
menyenangkan, keadaan yang memperlihatkan ketidaknyamanan secara subjektif
atau individual, menyakitkan tubuh dan kapan pun individu mengatakannya
adalah nyata. Reseptor nyeri terletak pada semua saraf bebas yang terletak pada
kulit, tulang, persendian, dinding arteri, membran yang mengelilingi otak, dan
usus (Solehati & Kokasih, 2015). Nosiseptor (reseptor nyeri) akan aktif bila
dirangsang oleh rangsangan kimia, mekanis dan suhu. Bila sel-sel tersebut
mengalami kerusakan maka zat-zat tersebut akan keluar merangsang reseptor
nyeri sedangkan pada mekanik umumnya karena spasme otot dan kontraksi otot.
Spasme otot akan menyebabkan penekanan pada pembuluh darah sehingga terjadi
iskemia pada jaringan, sedangkan pada kontraksi otot terjadi ketidakseimbangan
antara kebutuhan nutrisi dan suplai nutrisi sehingga jaringan kekurangan nutrisi
dan oksitosin yang mengakibatkan terjadinya mekanisme anaerob dan
menghasilkan zat besi sisa, yaitu asam laktat yang berlebihan kemudian asam
laktat tersebut merangsang serabut rasa nyeri. Salah satu penatalaksanaan yang
dapat dilakukan untuk meringankan atau menghilangkan rasa nyeri adalah terapi
Benson (Solehati & Kokasih, 2015).
Terapi Benson merupakan teknik relaksasi pernafasan dengan melibatkan
keyakinan yang mengakibatkan penurunan terhadap konsumsi oksigen oleh tubuh
dan otot-otot tubuh menjadi rileks sehingga menimbulkan perasaan tenang dan
nyaman. Apabila O2 dalam otak tercukupi maka manusiadalam kondisi
seimbang. Kondisi ini akan menimbulkan keadaan rileks secara umum pada
manusia. Perasaan rileks akan diteruskan ke hipotalamus untuk menghasilkan
conticothropin releaxing factor (CRF). CRF akan merangsang kelenjar dibawah
otak untuk meningkatkan produksi proopiod melanocorthin (POMC) sehingga
produksi enkephalin oleh medulla adrenal meningkat. Kelenjar dibawah otak juga
menghasilkan endorphine sebagai neurotransmitter (Yusliana, 2015).

44
Pada penelitian yang dilakukan oleh Wallace, Benson, dan Wilson (1971)
diperoleh hasil, bahwa dengan meditasi dan relaksasi terjadi penurunan konsumsi
oksigen, output CO2, ventilasi selular, frekuensi napas, dan kadar laktat sebagai
indikasi penurunan tingkat stress, selain itu ditemukan bahwa PO2 atau
konsentrasi oksigen dalam darah tetap konstan, bahkan meningkat sedikit. Benson
(2000) mengatakan, bahwa jika individu mulai merasa cemas, maka akan
merangsang saraf simpatis sehingga akan memperburuk gejala-gejala kecemasan
sebelumnya. Kemudian, daur kecemasan dan nyeri dimulai lagi dengan dampak
negatif semakin besar terhadap pikiran dan tubuh (Solehati & Kokasih, 2015).
Terapi Benson merupakan teknik relaksasi pernafasan dengan melibatkan
keyakinan yang mengakibatkan penurunan terhadap konsumsi oksigen oleh tubuh
dan otot-otot tubuh menjadi rileks sehingga menimbulkan perasaan tenang dan
nyaman. Apabila O2 dalam otak tercukupi maka manusiadalam kondisi
seimbang. Kondisi ini akan menimbulkan keadaan rileks secara umum pada
manusia. Perasaan rileks akan diteruskan ke hipotalamus untuk menghasilkan
conticothropin releaxing factor (CRF). CRF akan merangsang kelenjar dibawah
otak untuk meningkatkan produksi proopiod melanocorthin (POMC) sehingga
produksi enkephalin oleh medulla adrenal meningkat. Kelenjar dibawah otak juga
menghasilkan endorphine sebagai neurotransmitter (Yusliana, 2015).
Endorphine muncul dengan cara memisahkan diri dari deyoxyribo nucleid
acid (DNA) yaitu substansi yang mengatur kehidupan sel dan memberikan
perintah bagi sel untuk tumbuh atau berhenti tumbuh. Pada permukaan sel
terutama sel saraf terdapat area yang menerima endorphine. Ketika endorphine
terpisah dari DNA, endorphine membuat kehidupan dalam situasi normal menjadi
tidak terasa menyakitkan. Endorphine mempengaruhi impuls nyeri dengan cara
menekan pelepasan neurotransmitter di presinap atau menghambat impuls nyeri
dipostsinap sehingga rangsangan nyeri tidak dapat mencapai kesadaran dan
sensorik nyeri tidak dialami (Solehati & Kokasih, 2015).

45
BAB V
PEMBAHASAN

A. Justifikasi Pemilihan Tindakan Berdasarkan Evidence Based Nursing


Practice
Pemilihan evidence based nursing practice terhadap diagnosa yang
diangkat pada asuhan keperawatan post TURP (Transurethral Prostatic
Resection) pada pasien Tn. S di ruang ayyub 2 RS Roemani Muhammadiyah
Semarang adalah penggunaan terapi relaksasi benson untuk mengurangi rasa
nyeri post TURP. Penggunaan terapi relaksasi benson diangkat sebagai terapi non
farmakologis berbasis evidence based karena keluhan utama saat pengkajian pada
Tn. S didapatkan bahwa Tn. S mengeluh nyeri dibagian post pembedahan, dan
masih terasa nyeri saat ingin BAK meski telah dilakukan pembedahan.
Nyeri yang dirasakan oleh Tn. S merupakan hal wajar yang dirasakan
pada setiap pasien yang melakukan tindakan TURP, karena tindakan ini
menimbulkan luka bedah yang akan mengeluarkan mediator nyeri dan
menimbulkan nyeri pasca bedah. Untuk mengurangi rasa nyeri ini dokter akan
memberikan obat analgetik untuk mengurangi rasa nyeri. Pemberian obat
analgetik yang diberikan ini merupakan terapi farmakologis untuk mengurangi
rasa nyeri, namun sebagai perawat kita dapat memberikan intervensi keperawatan
untuk mengurangi rasa nyeri melalui terapi non farmakologis salah satunya
menggunakan terapi relaksai benson untuk mengurangi rasa nyeri post TURP.
Teknik relaksasi benson ini merupakan teknik relaksai yang hampir sama
dengan teknik relaksasi nafas dalam untuk mengurangi rasa nyeri, namun bedanya
dalam terapi relaksasi benson yang dikombinasikan dengan faktor keyakinan
pasien untuk mengurangi rasa nyeri. Pemilihan terapi ini juga didukung oleh
faktor pasien post TURP merupakn pria lanjut usia yang memiliki pemahaman
spiritual yang cukup baik, sehingga teknik relaksasi ini bisa dilakukan atau
diterapkan dengan mudah untuk mengurangi rasa nyeri post TURP.

46
B. Mekanisme Penerapan Evidance Based Nursing Practice Pada Kasus
Terapi relaksasi benson ini dapat dilakukan 30 menit setelah makan dan
pemberian obat analgetik kepada pasien melalui prosedur, dibawah ini:
1. Sebelum dilakukan terapi besnon lakukan terlebih dahulu pengukuran nyeri
menggunakan Numeric rating Scale.
2. Usahakan situasi ruangan atau lingkungan relatif tenang.
3. Ambil posisi tidur yang terlentang atau bisa duduk pada kursi, yang dirasakan
paling nyaman.
4. Pejamkan mata dengan pelan tidak perlu dipaksakan sehingga tidak ada
ketegangan otot sekitar mata.
5. Kendurkan otot otot serileks mungkin, mulai dari kaki, betis, paha, perut
dan lanjutkan kesemua otot tubuh. Lemaskan kepala, leher dan pundak
dengan memutar kepala dan mengangkat pundak perlahan lahan, tangan dan
lengan, diulurkan, kemudian kendorkan dan biarkan terkulai wajar di sisi
badan. Usahakan agar tetap rileks.
6. Mulai lah bernafas yang lambat dan wajar, dan ucapkan dalam hati frase atau
kata sesuai keyakinan anda. Sebagi contoh anda menggunkan frase yaa allah.
Pada saat mengambil nafas seratu dengan mengucapkan Allah dalam hati.
Sambil terus melakukan nomor 5 ini, lemasakn seluruh tubuh disertai dengan
sikap pasrah kepada Allah. Sikap ini menggambarkan sikap pasif yang
diperlukan dalam relaksasi, dari sikap pasif akan muncul efek relaksasi yaitu
ketenangan. Kata atau kaliamat yang di ucapkan dapat diubah dan disesuaikan
dengan keyakinan klien.
7. Teruskan selama 15 menit, anda diperbolehkan membuka mata untuk melihat
waktu tetapi jangan menggunakan alarm. Bila sudah selesai, tetap berbaring
dengan tenang beberapa menit, mula mula mata terpejam dan sesudah itu
mata dibuka.
8. Latihan ini dilakukan 1x dalam sehari.
9. Setelah dilakukan terapi dilakukan pengukuran skala nyeri dengan
menggunakan Numeric rating Scale.

47
C. Hasil yang Dicapai
Setelah dilakukan terapi ini, Tn. S mengatakan bahwa nyeri nya berkurang
dari skala 6 menjadi skala 4. Hal ini sejalan dengan beberapa teori yang
mengatakan bahwa relaksasi benson dapat mengurangi rasa nyeri. Penerapan
terapi benson yang dipilih sebagai evidence based nursing practice untuk
mengurangi rasa nyeri mampu mengurangi skala nyeri Tn S dari skala nyeri 6
menjadi skala nyeri 4 juga dipengaruhi oleh konsumsi obat analgetik yaitu obat
keren 1 gr/12 jam yang diberikan 30 menit sebelum dilakukan terapi relaksasi
benson.
Terapi relaksasi benson ini merupakan teknik nonfarmakologis yang
merupakan teknik kombinasi antara metode relaksasi yang melibatkan faktor
keyakinan dengan menggunakan kalimat yang sesuai dengan keyakinan individu.
Suatu keyakinan yang muncul dari setiap individu ini mampu menghambat impuls
noxius pada system control descending dan dapat meningkatkan control terhadap
nyeri (Datak, 2008).
Relaksasi benson ini merupakan teknik yang berfokus kepada kalimat
tertentu yang diucapkan berulang kali dengan ritme teratur yang disertai sikap
pasrah. Hal ini dapat menimbulkan ketenangan kepada indivisu tertentu yang
melakukan teknik relaksasi benson (Datak, 2008).
Terapi relaksasi benson ini telah dibuktikan dengan beberapa penenlitan ,
seperti diantaranya penelitian yang dilakukan Yusliana (2015) yang berjudul
Efektivitas relaksasi benson terhadap penurunan nyeri pada ibu post partum
section caesarea dalam hasil penelitian menunjukkan terdapat penurunan nyeri
pada kelompok eksperimen yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok
kontrol. Penelitian yang dilakukan Rasubala (2017) yang berjudul Pengaruh
teknik relaksasi benson terhadap skala nyeri pada pasien post operasi di RSUP.
Prof. DR. R. D Kandou dan RS TK.II R. W. Mongosidi Manado didapatkan
hasil terdapat penurunan skala nyeri pada pasien post operasi apendiksitis.
Didalam penelitian yang dilakukan Datak (2008) dengan judul Penurunan nyeri

48
pasca bedah pasien TUR prostat melalui relaksai benson didapatkan hasil bahwa
terjadi penurunan nyeri pada pasien pasca bedah TUR prostat.
Sehingga peneliti menyimpulkan bahwa teknik relaksasi benson dapat
menurunkan skala nyeri pada pasien post TURP dari hasil pengaplikasian dan
beberapa hasil penelitian yang telah dipaparkan diatas.

D. Kelebihan dan Kekurangan Atau Hambatan yang Ditemui Selama Aplikasi


Kelebihan dari teknik relaksasi benson dapat dilakukan tanpa menggangu
aktivitas lainnya, dan mudah dilakukan bagi semua orang.
Kelemahan dari pengaplikasian evidence based nursing practice adalah
menciptakan suasana tenang di ruangan saat akan dilakukan pengaplikasian.

49
BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hasil pengaplikasian evidence based terapi relaksasi benson untuk
menerankan rasa nyeri post TURP dapat diaplikasikan sebagai terapi
nonfarmakologis untuk menurunkan rasa nyeri, dan dapat diterapkan menurunkan
rasa nyeri lainnya bukan hanya untuk menurunkan nyeri pada post pembedahan
saja.

B. Saran
1. Bagi mahasiswa
Digunakan untuk menambah ilmu dan pengalaman untuk diterapakan di
lapangan saat bertemu langsung dengan pasien dengankeluhan nyeri.
2. Bagi perawat ruangan
Bagi perawat ruangan dapat diaplikasikan sebagai terapi nonfarmakologis
untuk menurunkan rasa nyeri.

50
DAFTAR PUSTAKA

Alam, N. (2004). Obstetrics and Gynecology. Philadelphia: Mosby.


Baradero, M., Dayfrit, W. (20070. Seri Asuhan keperawatan pasien Gangguan Sistem
Reproduksi & Seksualitas. Jakarta: EGC.
Brunner & Suddarth. (2001). Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Vol 3. Jakarta:
EGC.
. (2002). Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Vol 3. Jakarta:
EGC.
Buecheck, M. G; Butcher, K. H; Dochterman, M. J. (2004). Nursing Intervention
Classification (NIC). Fifth Edition. Mosby.
Datak, G., Yeti, K., Haryati, S. T. (2008). Penurunan Nyeri Pasca Bedah Pasien TUR
Prostat Melalui Relaksasi Benson. Jurnal Keperawatan Vol 12 No 3 hal 173-
178.
Moorhead, S; Johnson, M; Maas, L. M; Swanson, E. (2004). Nursing Outcomes
Classification (NOC). Fourth Edition. Mosby.

NANDA. (2015). Diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-2017. Edisi


10. Jakarta: EGC.

Price, A. S., Wilson, M. L. (2006). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit. Edisi 6. Jakarta: EGC.
Purnomo, B. B. (2011). Dasar-Dasar Urologi. Edisi 3. Jakarta: Sagung Seto.
Rasubala. F. G., Kumaat, T. L., Mulyadi. (2017). Pengaruh Teknik Relaksasi benson
Terhadap Skala Nyeri Pada Pasien Post operasi di RSUP. Prof. Dr. R. D
Kadou dan RS TK II R. W Mangisidi Manado. E-Journal Keperawatan Vol 5 No
1.
Sjamsuhidayat, R., Brenda, B. (2004). Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.
Smeltzer, S. C., Bare, B. (2002). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Solehati, T., Eli, C. K. (2015). Konsep dan Aplikasi Relaksasi Dalam Keperawatan
Maternitas. Bandung: Refika Aditama.
Yusliana, dkk. (2015). Efektivitas Relaksasi benson Terhadap Penurunan Nyeri Pada
Ibu Post Partum Section Caersarea. Diperoleh dari
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=385031&val=6447&title=
EFEKTIVITAS%20RELAKSASI%20BENSON%20TERHADAP%20PENUR
UNAN%20NYERI%20PADA%20IBU%20POSTPARTUMSECTIO%20CAE
SAREA. 16 Juli 2017.

52