Você está na página 1de 2

A.

Sejarah munculnya istilah masyarakat madani

Konsep masyarakat madani berawal dari pendapat Datuk Sri Anwar Ibrahim saat beliau
berceramah dalam acara festival Istiqlal tanggal 26 September 1995. Seorang ahli sejarah dan
peradapan islam ,Prof. Syed Muhammad Naquib Al-atas menawarkan bahwa terminology
masyarakat madani tersebut adalah terjemahan dari bahasa arab mujtamamadani , dan
masarakat madani dapat disamakan dengan civility atau civilation. Jadi masyarakat madani
adalah masyarakat yang menjunjung tinggi nila-nilai peradaban.
Sedangkan Seligman mendefinsikan civil society sebagai seperangkat gagasan etis yang
berada dalam berbagai tatanan sosial, yang berusaha menyelamatkan berbagai pertentangan
antara individu dengan masyrakat, maupun antara masyarakat dengan Negara.
Lalu menurut J.J Rousseou, mengungkapkan bahwa istilah societies civile digunakan
untuk memahami sebuah Negara yang salah satu fungsinya adalah menjamin hak milik,
kehidupan, pliralitas, dan kebebasan.
Karakteristik masyarakat madani anatara lain :
Masyarakat yang beriman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
Masyarakat demokratis yang menghargai perbedaan pendapat, serta mendahulukan
kepentingan kelompok atau golongan daripada kepentingan pribadi.
Masyarakat yang menghargai hak-hak asasi manusia.
Masyarakat yang tertib dan sadar akan hukum .
Masyarakat yang kreatif, mandarin dan percaya diri.
Masyarakat yang memiliki semangat kompetitif dalam suasana kooperatif.

B. Masyarakat madani dalam pandangan islam

Masyarakat madani mengandung 3 hal, yaitu agama peradaban , dan perkotaan. Artinya agama
merupakan sumbernya, peradaban sebagai prosesnya, serta masyarakat kota adalah hasilnya.

Secara etimologi, istilah madani berasal dari bahasa arab madinah yang berarti kota dan juga bisa
diartikan masyarakat peradaban. Sedangkan secara terminologis, masyarakat madani adalah yang
masyarakat muslim dikota Madinah yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW lalu dilanjutkan oleh
Khulafaur Rasidin.

Nabi Muhammad mengatur Negara dengan cara yang pertama , membangun insfrastuktur, dengan
masjid sebagai symbol utamanya. Kedua, menciptkan kohesi sosial, cntoh anatara Quraisy dan Yastrib,
serta Muhajirin dan Ashar. Ketiga, menciptakan kesepakatan untuk hidup berdampingan dengan
kelompok lain, melalui Piagam Madinah. Keemapat, merancang system Negara dengan konsep jihad fii
sabilillah yang artinya berjuang di jalan Allah. Selama pemerintahan tersebut, telah menghasilkan
masyarakat yang kuat dan solid .
Dengan demikian masyarakat madinah pada saat kepemimpinan Nabi seenarnya identic dengan civil
society karena secara sosio-kultural mengandung subtansi peradaban.