Você está na página 1de 23

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Fraktur


2.1.1 Pengertian Fraktur

Fraktur adalah patah tulang atau terputusnya kontinuitas jaringan tulang


dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Smeltzer, 2002). Fraktur atau patah
tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang
umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Sjamsuhidayat, 2005). Fraktur cruris
adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya,
terjadi pada tulang tibia dan fibula.8,9

2.1.2 Klasifikasi Fraktur


Patah tulang dapat dibagi menurut ada tidaknya hubungan antara patah
tulang dengan dunia luar, yaitu patah tulang tertutup dan patah tulang terbuka
yang memungkinkan tulang dari luar dapat masuk ke dalam luka sampai ketulang
yang patah.8
1. Fraktur Terbuka
Fraktur terbuka (fraktur komplikata/kompleks) merupakan fraktur dengan
luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang.Patah tulang
terbuka dapat dibagi menjadi tiga derajat yang ditentukan oleh berat ringannya
patah tulang.8

Derajat patah tulang terbuka

Derajat Luka Fraktur


I Laserasi <2cm Sederhana, dislokasi fragmen
minimal
II Laserasi >2cm, kontuksi dislokasi fragmen jelas
otot disekitarnya
III Luka lebar, rusak hebat Kominutif, segmental, fragmen
atau hilangnya jaringan tulang ada yang hilang
disekitarnya

Klasifikasi fraktur terbuka menurut Gustillo:

Tipe I lukanya bersih dan panjangnya kurang dari 1 cm

Tipe II panjang luka lebih dari 1 cm dan tanpa kerusakan jaringan lunak
yang luas.

Tipe IIIa luka dengan kerusakan jaringan yang luas, biasanya lebih dari
10 cm dan mengenai periosteum. Fraktur tipe ini dapat disertai
kemungkinan komplikasi. contohnya: luka tembak.

Tipe IIIb luka dengan tulang yang periosteumnya terangkat

Tipe IIIc fraktur dengan gangguan vaskular dan memerlukan penanganan


terhadap vaskularnya agar vaskularisasi tungkai dapat normal kembali.

2. Fraktur Tertutup
Fraktur tertutup adalah fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit atau
kulit tidak ditembus oleh fragmen tulang.8

2.1.3 Patofisiologi

Jika satu tulang sudah patah, jaringan lunak sekitarnya juga rusak,
periosteum terpisah dari tulang, dan terjadi perdarahan yang cukup berat. Bekuan
darah terbentuk pada daerah tersebut. Bekuan akan membentuk jaringan granulasi
didalamnya dengan dengan sel-sel pembentuk tulang primitif (osteogenik)
berdiferensiasi menjadi chondroblast dan osteoblast. Chondroblast akan
mensekresi fosfat, yang merangsang deposisi kalsium.Terbentuk lapisan tebal
(callus) di sekitar lokasi fraktur.Lapisan ini terus menebal dan meluas, bertemu
dengan lapisan callus dari fragmen satunya, dan menyatu. Penyatuan dari kedua
fragmen (penyembuhan fraktur) terus berlanjut dengan terbentuknya trabekula
dan osteoblast yang melekat pada tulang dan meluas menyeberangi lokasi fraktur.
Penyatuan tulang provisional ini akan menjalani transformasi metaplastik untuk
menjadi lebih kuat dan lebih terorganisasi. Callus tulang akan mengalami
remodeling untuk mengambil bentuk tulang yang utuh seperti bentuk osteoblast
tulang baru dan osteoclast akan menyingkirkan bagian yang rusak dan tulang
sementara.6

2.1.4 Manifestasi klinis


Manifestasi klinis fraktur berupa nyeri, hilangnya fungsi, deformitas,
pemendekan ekstermitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan warna.
1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai
alamiah yang dirancang untum meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian yang tak dapat digunakan dan cenderung
bergerak secara alamiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap rigid seperti
normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai
menyebabkan deformitas (terliahat maupun teraba) ekstermitas yang bisa
diketahui dengan membandingkan ekstermitas yang normal. Ekstermitas tak
dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung pada
integritas tulang tempat melekatnya otot.
3. Pada fraktur tulang panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya
karena kontraksi otot yang melekat diatas dan bawah tempat fraktur. Fragmen
sering saling melengkapi satu sama lain sampai 2,5-5cm (1-2 inchi).
4. Saat ekstermitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang
dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan
lainnya. Uji kreptus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan yang lebih berat.
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagi akibat
trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa baru terjadi
setelah beberapa jam atau cedera.

2.1.5 Penanganan Fraktur


Ada empat konsep dasar yang harus dipertimbangkan untuk menangani
fraktur, yaitu:
1. Rekognisi, yaitu menyangkut diagnosis fraktur pada tempat
kecelakaan dan selanjutnya di rumah sakit dengan melakukan
pengkajian terhadap riwayat kecelakaan, derajat keparahan, jenis
kekuatan yang berperan pada pristiwa yang terjadi serta
menentukan kemungkinan adanya fraktur melalui pemeriksaan dan
keluhan dari klien
2. Reduksi fraktur (pengembalian posisi tulang ke posisi anatomis)
a. Reduksi terbuka. Dengan pembedahan, memasang alat fiksasi
interna (missal pen, kawat, sekrup, plat, paku dan batang
logam)
b. Reduksi tertutup. Ekstremitas dipertahankan dengan gip, traksi,
brace, bidai dan fiksator eksterna
3. Imobilisasi. Setelah direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi
atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar hingga
terjadi penyatuan. Metode imobilisasi dilakukan dengan fiksasi
eksterna dan interna
4. Mempertahankan dan mengembalikan fungsi:
a. Mempertahankan reduksi dan imobilisasi
b. Meninggikan daerah fraktur untuk meminimalkan
pembengkakan
c. Memantau status neuromuskuler
d. Mengontrol kecemasan dan nyeri
e. Latihan isometric dan setting otot
f. Kembali ke aktivitas semula secara bertahap

2.2. Anatomi Tulang Tibia dan Fibula


Tibia merupakan tulang medial tungkai bawah yang besar dan berfungsi
menyanggah berat badan. Tibia bersendi di atas dengan condylus femoris dan
caputfibulae, di bawah dengan talus dan ujung distal fibula. Tibia mempunyai
ujung atas yang melebar dan ujung bawah yang lebih kecil, serta sebuah corpus.
Pada ujung atas terdapat condyli lateralis dan medialis (kadang-kadang
disebutplateau tibia lateral dan medial), yang bersendi dengan condyli lateralis
dan medialis femoris, dan dipisahkan oleh menisci lateralis dan medialis.
Permukaan atas facies articulares condylorum tibiae terbagi atas area
intercondylus anterior dan posterior; di antara kedua area ini terdapat eminentia
intercondylus.1
Pada aspek lateral condylus lateralis terdapat facies articularis fibularis
circularis yang kecil, dan bersendi dengan caput fibulae. Pada aspek posterior
condylus medialis terdapat insertio m.semimembranosus.3
Corpus tibiae berbentuk segitiga pada potongan melintangnya, dan
mempunyai tiga margines dan tiga facies. Margines anterior dan medial, serta
facies medialis diantaranya terletak subkutan. Margo anterior menonjol dan
membentuk tulang kering. Pada pertemuan antara margo anterior dan ujung atas
tibia terdapat tuberositas, yang merupakan tempat lekat ligamentum patellae.
Margo anterior di bawah membulat, dan melanjutkan diri sebagai malleolus
medialis. Margo lateral atau margo interosseus memberikan tempat perlekatan
untuk membrane interossea. Facies posterior dan corpus tibiae menunjukkan linea
oblique, yang disebut linea musculi solei, untuk tempatnya m.soleus.3
Ujung bawah tibia sedikit melebar dan pada aspek inferiornya terdapat
permukaan sendi berbentuk pelana untuk os.talus. ujung bawah memanjang ke
bawah dan medial untuk membentuk malleolus medialis. Facies lateralis dari
malleolus medialis bersendi dengan talus. Pada facies lateral ujung bawah tibia
terdapat lekukan yang lebar dan kasar untuk bersendi dengan fibula. Musculi dan
ligamenta penting yang melekat pada tibia.3
Fibula Merupakan tulang yang panjang, langsing, terletak di sebelah
lateral tibia. Epiphysis proximalis membulat disebut capitulum fibulae. Ke arah
proximal meruncing menjadi apex. Pada capitulum terdapat dua dataran sendi
yang disebut facies articularis capitulli fibulae, untuk bersendi dengan tibia. Pada
corpus terdapat empat buah crista yaitu, crista lateralis, crista anterior, crista
medialis dan crista interosssea. Datarannya ada tiga buah yaitu facies lateralis,
facies medialis dan facies posterior. Pada bagian distal ke arah lateral membulat
menjadi maleolus lateralis.3

Gambar 2.1 Anatomi cruris.


Fraktur cruris merupakan akibat terbanyak dari kecelakaan lalu lintas. Hal
ini diakibatkan susunan anatomi cruris dimana permukaan medial tibia hanya
ditutupi jaringan subkutan, sehingga menyebabkan mudahnya terjadi fraktur
cruris terbuka yang menimbulkan masalah dalam pengobatan. Secara anatomi
terdapat 4 grup otot yang penting di cruris:
1. otot ekstensor
2. otot abductor
3. otot triceps surae
4. otot fleksor
Keempat grup oto tersebut membentuk 3 kompartemen:
1. Grup I :memebentuk kompartemen anterior (Fibularis/peroneus longus,
Extensor digitorum longus, Extensor hallicus longus, Tibialis anteriorus)
2. Grup II :membentuk kompartemen lateral (Fibularis brevis/longus)
3. Grup III+IV :membentuk kompartemen posterior yang terdiri dari
kompartemen superficial dan kompartemen dalam.

Arteri:
1. arteri tibialis anterior
2. arteri tibialis posterior
3. arteri peroneus

Gambar 2. 4 Vaskularisasi

Innervasi Ekstrimitas bawah:


1. n.tibialis anterior dan n.peroneus mempersarafi otot ekstensor dan
abductor
2. n.tibialis posterior dan n.poplitea untuk mempersarafi otot fleksor dan otot
triceps surae.

Gambar 2. 5 Inervasi

2.3.Fisiologi tulang
Tulang adalah suatu jaringan dan organ yang terstruktur dengan baik,
tulang terdiri atas daerah yang kompak pada bagian luar yang disebut dengan
korteks dan bagian dalam yang bersifat spongiosa berbentuk trabekula dan dilapisi
oleh periosteum pada bagian luamya sedangkan yang membatasi tulang dari
cavitas medullaris adalah endosteum.2
Tibia sendiri termasuk tulang panjang , dimana daerah batas disebut
diafisis dan daerah yang berdekatan dengan garis epifisis disebut metafisis.
Tulang tibia turut membentuk rangka badan, sebagai pengumpil dan tempat
melekat otot, berfungsi juga sebagai bagian dari tubuh untuk melindungi dan
mempertahankan alat-alat dalam, dan menjadi tempat deposit kalsium, fosfor,
magnesium dan garam.2

Gambar 2.2 Struktur selular jaringan tulang.

Osteoblast merupakan satu jenis sel hasil diferensiasi sel masenkim yang
sangat penting dalam proses osteogenesis atau osifikasi. Sebagai sel, osteoblast
dapat memproduksi substansi organik intraseluler atau matriks, dimana kalsifikasi
terjadi kemudian hari. Jaringan yang tidak mengandung kalsium disebut osteoid
dan apabila kalsifikasi terjadi pada matriks maka jaringan disebut tulang. Sesaat
setelah osteoblast dikelilingi oleh substansi organik intraseluller, disebut osteosit
dimana keadaan ini terjadi dalam lakuna.2
Sel yang bersifat multinukleus, tidak ditutupi oleh permukaan tulang
dengan sifat dan fungsi reabsorbsi serta mengeluarkan tulang yang disebut
osteoclast. Kalsium hanya dapat dikeluarkan dari tulang melalui proses aktivitas
osteoclasis yang menghilangkan matriks organik dan kalsium bersamaan dan
disebut deosifikasi.2

2.4. Fraktur Tibia Fibula


Fraktur tibia dapat terjadi pada bagian proksimal (kondiler), diafisis atau
persendian pergelangan kaki.

2.4.1 Fraktur Kondiler Tibia

Mekanisme trauma
Fraktur kondiler tibia lebih sering mengenai kondiler lateralis daripada
medialis serta fraktur kedua kondiler. Banyak fraktur kondiler tibia terjadi akibat
kecelakaan antara mobil dan pejalan kaki di mana bemper mobil menabrak kaki
bagial lateral dengan gaya kearah medial (valgus). Ini menghasilkan fraktur
depresi atau fraktur split dari kondiler lateralis tibia apabila kondiler femur
didorong kearah tersebut. Kondiler medial memiliki kekuatan yang lebih
besar,jadi fraktur pada daerah ini biasanya terjadi akibat gaya dengan tenaga yang
lebih besar(varus). Jatuh dari ketinggian akan menimbulkan kompresi aksial
sehingga bisa menyebabkan fraktur pada proksimal tibia. Pada golongan lanjut
usia, pasien dengan osteoporosis lebih mudah terkena fraktur kondiler tibia
berbanding robekan ligamen atau meniscus setelah cedera keseleo di lutut.
Eminentia intrakondiler dapat fraktur bersama robekan ligamen krusiatum sebagai
akibat hiperekstensi atau gaya memutar.7
Klasifikasi
Klasifikasi yang sering dan meluas dipakai sekarang adalah klasifikasi
Schatzker.
I : Fraktur split kondiler lateral
II : Fraktur split/depresi lateral
III: Depresi kondiler lateral
IV: Fraktur split kondiler medial
V : Fraktur bikondiler
VI: Fraktur kominutif
Tipe IV-VI biasanya terjadi akibat trauma dengan tekanan yang kuat.
Fraktur tidak bergeser apabila depresi kurang dari 4 mm, sedangkan yang bergeser
apabila depresi melebihi 4 mm.

Gambar 2.3 Klasifikasi Schatzker.

Gambar 2.4. Fraktur kondiler tibia.


Gambar 2.5.Gambaran radiologis CT potongan coronal menunjukkan fraktur
kondiler tibia dengan depresi terpencil dari kondiler lateral tibia (Schatzker tipe 3)

Gambaran klinis
Pada anamnesis terdapat riwayat trauma pada lutut, pembengkakan dan
nyeri serta hemartrosis.Terdapat gangguan dalam pergerakan sendi lutut. Biasanya
pasien tidak dapat menahan beban. Sewaktu pemeriksaan, mereka merasakan
nyeri pada proksimal tibia dan gerakan flesi dan ekstensi yang terbatas.Dokter
perlu menentukan adanya penyebab cedera itu akibat tenaga yang kuat atau lemah
karena cedera neovaskular, ligamen sindroma kompartmen lebih sering terjadi
pada cedera akibat tenaga kuat. Pulsasi distal dan fungsi saraf peroneal perlu
diperiksa. Kulit perlu diperiksa secara seksama untuk mencari tanda-tanda abrasi
atau laserasi yang dapat menjadi tanda fraktur terbuka.
Penilaian stabilitas lutut adalah penting dalam mengevaluasi kondiler tibia.
Aspirasi dari hemartrosis pada lutut dan anestasi lokal mungkin diperlukan untuk
pemeriksaan yang akurat. Jika dibandingkan dengan bagian yang tidak cedera,
pelebaran sudut sendi pada lutut yang stabil mestilah tidak lebih dari 10 o dengan
stress varus atau valgus pada mana-mana titik dalam aksis gerakan dari ekstensi
penuh hingga fleksi 90o. Integritas ligamen crusiatum anterior perlu dinilai
melalui tes Lachman.
Fraktur kondiler sering disertai cedera jaringan lunak disekeliling lutut.
Robekan ligamen kollateral medial dan meniscus medial sering menyertai fraktur
kondiler lateral. Fraktur kondiler medial disertai robekan ligamen kollateral lateral
dan meniscus medial.Ligamen crusiatum anterior dapat cedera pada fraktur salah
satu kondiler. Fraktur kondiler tibia, terutama yang ekstensi frakturnya sampai ke
diafisis, dapat meyebabkan kepada sindroma kompartmen akut akibat perdarahan
dan edema.

Pemeriksaan radiologik
Dengan foto rontgen posisi AP dan lateral dapat diketahui jenis fraktur,
tapi kadang-kadang diperlukan pula foto oblik. Apabila pada foto polos tidak
dapat dilihat dengan jelas, CT atau tomografi dengan proyeksi AP dan lateral
sering diperlukan. Untuk melihat tanda Fat(marrow)-fluid(blood) interface sign
(hemarthrosis) dilakukan cross table lateral view.
Gambaran fraktur:
Tipe fraktur: split, depresi
Lokasi: medial, lateral
Jumlah fragmen
Pergeseran fragmen
Derajat depresi
Gambar 2.6 (A) Fraktur kondiler tibia dengan split dan terpisah di lateral. (B)
Fraktur kondiler tibia direduksi dengan menggunakan buttress plate dan screw
untuk mengembalikan kongruensi sendi.

Pengobatan
1. Konservatif
Pada fraktur yang tidak bergeser dimana depresi kurang dari 4 mm dapat
dilakukan beberapa pilihan pengobatan, antara lain verban elastik, traksi, atau
gips sirkuler. Prinsip pengobatan adalah mencegah bertambahnya depresi,
tidak menahan beban dan segera mobilisasi pada sendi lutut agar tidak segera
terjadi kekakuan sendi.
2. Operatif
Depresi yang lebih dari 4 mm dilakukan operasi dengan mengangkat
bagian depresi dan ditopang dengan bone graft.Pada fraktur split dapat
dilakukan pemasangan screw atau kombinasi screw dan plate untuk menahan
bagian fragmen terhadap tibia.
Komplikasi
1. Genu valgum; terjadi oleh karena depresi yang tidak direduksi dengan baik
2. Kekakuan lutut; terjadi karena tidak dilakukan latihan yang lebih awal
3. Osteoartritis; terjadi karena adanya kerusakan pada permukaan sendi sehingga
bersifat irrreguler yang menyebabkan inkonkruensi sendi lutut.
4. Malunion
5. Cedera ligamen dan meniskus (misal: ligamen medial kollateral)
6. Cedera saraf peroneal.

2.4.2 Fraktur Diafisis Tibia


Mekanisme trauma
Fraktur diafisis tibia terjadi karena adanya trauma angulasi yang akan
menimbulkan fraktur tipe transversal atau oblik pendek, sedangkan trauma rotasi
akan menimbulkan fraktur tipe spiral. Fraktur tibia biasanya terjadi pada batas
antara 1/3 bagian tengah dan 1/3 bagian distal. Tungkai bawah bagian depan
sangat sedikit ditutupi otot sehingga fraktur pada daerah tibia sering bersifat
terbuka. Penyebab utama terjadinya fraktur adalah kecelakaan lalu lintas.

Gambar 2.7. Fraktur diafisis tibia.


Klasifikasi fraktur
Klasifikasi dari fraktur diafisis tibia bermanfaat untuk kepentingan para
dokter yang menggunakannya untuk memperkirakan kemungkinan penyembuhan
dari fraktur dalam menjalankan penatalaksanaannya.
Orthopaedic Trauma Association (OTA) membagi fraktur diafisis tibia
berdasarkan pemeriksaan radiografi, terbagi 3 grup, yaitu: simple, wedge dan
kompleks. Masingmasing grup terbagi lagi menjadi 3 yaitu:
A. Tipe simple, terbagi 3: spiral, oblik, tranversal.
B. Tipe wedge, terbagi 3: spiral, bending, dan fragmen.
C. Tipe kompleks, terbagi 3: spiral, segmen, dan iregular.

Gambar 2.8. Klasifikasi fraktur diafisis tibia mengikut Orthopaedic Trauma


Association (OTA).

Sistem klasifikasi yang sering digunakan pada fraktur terbuka adalah


sistem Gustilo sebagai berikut:
Tipe I: lukanya bersih dan panjangnya kurang dari 1 cm.
Tipe II: panjang luka lebih dari 1 cm dan tanpa kerusakan jaringan lunak yang
luas.
Tipe IIIa: luka dengan kerusakan jaringan yang luas, biasanya lebih dari 10
cm dan mengenai periosteum. Fraktur tipe ini dapat disertai kemungkinan
komplikasi, contohnya: luka tembak.
Tipe IIIb: luka dengan tulang yang periosteumnya terangkat.
Tipe IIIc: fraktur dengan gangguan vaskular dan memerlukan penanganan
terhadap vaskularnya agar vaskularisasi tungkai dapat normal kembali.

Gambar 2.9 (A)Fraktur OTA tipe B.Ini adalah fraktur terbuka Gustilo tipe IIIb.
(B) Fraktur ini dipasang dengan locked intramedullary nail. Foto lateral
menunjukkan OTA tipe II dengan hilangnya tulang. Fraktur tidak menyatu, dan
pertukaran nailing dilakukan 5 bulan setelah kecederaan.(C) 4 bulan setelah
pertukanran nailing, fraktur menyatu dan area yang hilang tulang telah terisi tanpa
bone grafting.

Gambaran klinis
Ditemukan gejala fraktur berupa pembengkakan, nyeri dan sering
ditemukan deformitas misalnya penonjolan tulang keluar kulit. Sindroma
kompartemen bisa muncul di awal cedera maupun kemudian. Sehingga perlu
pemeriksaan serial dan perhatian pada ekstremitas yang mengalami
cidera.Sindroma kompartemen terdiri dari: pain, pallor, paralysis, paresthesia,
pulselessness.

Pemeriksaan radiologis
Foto rontgen harus mencakup bagian distal dari femur dan ankle. Dengan
pemeriksaan radiologis, dapat ditentukan lokalisasi fraktur, jenis fraktur, sama ada
transversal, spiral oblik atau rotasi/angulasi. Dapat ditentukan apakah fraktur pada
tibia dan fibula atau tibia saja atau fibula saja. Juga dapat ditentukan apakah
fraktur bersifat segmental. Foto yang digunakan adalah foto polos AP dan lateral.
CT tidak diperlukan.

Gambar 2.10. Fraktur diafisis tibia dan fibula dengan pergeseran lateral 100%.
(i)

Gambar 2.11. (A) Fraktur stress pada seorang atlit muda.(B) Perhatikan
sklerosis and pelebaran cortical berikut penyembuhan tulang.

Pengobatan
1. Konservatif
Pengobatan standar dengan cara konservatif berupa reduksi fraktur dengan
manipulasi tertutup dengan pembiusan umum. Pemasangan gips sirkuler untuk
immobilisasi, dipasang sampai diatas lutut.
Prinsip reposisi adalah fraktur tertutup, ada kontak 70% atau lebih, tidak
ada angulasi dan tidak ada rotasi. Apabila ada angulasi, dapat dilakukan
koreksi setelah 3 minggu (union secara fibrosa). Pada fraktur oblik atau spiral,
imobilisasi dengan gips biasanya sulit dipertahankan, sehingga mungkin
diperlukan tindakan operasi.
Cast bracing adalah teknik pemasangan gips sirkuler dengan tumpuan
pada tendo patella (gips Sarmiento) yang biasanya dipergunakan setelah
pembengkakan mereda atau terjadi union secara fibrosa.
2. Operatif
Terapi operatif dilakukan pada fraktur terbuka, kegagalan dalam terapi
konservatif, fraktur tidak stabil dan adanya nonunion.Metode pengobatan
operatif adalah sama ada pemasangan plate dan screw, atau nail intrameduler,
atau pemasangan screw semata-mata atau pemasangan fiksasi eksterna.
Indikasi pemasangan fiksasi eksterna pada fraktur tibia:
Fraktur tibia terbuka grade II dan III terutama apabila terdapat
kerusakan jaringan yang hebat atau hilangnya fragmen tulang
Pseudoartrosis yang mengalami infeksi (infected pseudoarthrosis)

Gambar 2.12. (A) Fraktur OTA tipe A. Ini adalah fraktur bifokal, di mana terdapat
fraktur bimaleolus pergelangan kaki selain fraktur diafisis; 5% dari fraktur tibia
adalah bifokal, dan kombinasi dari pergelangan kaki dan fraktur diafisis yang
paling biasa terjadi. (B) Fraktur diafisis ditangani dengan pemasangan locked
intramedullary nail, dan fraktur pergelangan kaki ditangani dengan teknik AO
konvensional.

Komplikasi
Di antara komplikasi yang dapat terjadi pada fraktur diafisis tibia
adalah infeksi, delayed union atau nonunion, malunion, kerusakan pembuluh
darah (sindroma kompartmen anterior), trauma saraf terutama pada vervus
peroneal komunis dan gangguan pergerakan sendi pergelangan kaki. Gangguan
pergerakan sendi ini biasanya disebabkan adanya adhesi pada otot-otot tungkai
bawah.

BAB 3
KESIMPULAN

Fraktur tulang panjang yang paling sering terjadi adalah fraktur pada tibia.
Pada fraktur tibia, dapat terjadi fraktur pada bagian kondiler, diafisis dan
pergelangan kaki. Fraktur pada tibia termasuk luka kompleks, sehingga tentunya
penanganannya juga tidak sederhana.Sebagai dokter umum, anamnesis dan
pemeriksaan fisik yang lengkap diperlukan jika terjadi fraktur. Selain itu,
pemeriksaan radiologis juga penting. Penatalaksanaan dari fraktur tergantung dari
kondisi frakturnya, bisa dengan operatif maupun non operatif.

DAFTAR PUSTAKA
1. Torsten B. Moeller MD, Emil Reif MD. Pocket atlas of radiographic
anatomy. Second edition. New York: Thieme; 2000. p. 164-7.
2. Arthur C. Guyton, John E. Hall. Textbook of medical physiology.11th ed.
Philadelphia, Pennsylvania: Elsevier Inc; 2006. p. 982-3
3. Bucholz RW, Heckman JD, Court-Brown C, et al., eds. Rockwood and
Green. Fractures in adults. 6th ed. Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins; 2006. p. 2081-93.
4. Jon C. Thompson. Netters concise orthopaedic anatomy. 2nd edition.
Philadelphia: Saunders; 2010. p. 293-4.
5. Borut Marincek, Robert F. Dondelinger . Emergency radiology imaging and
intervention . 1st Edition. Verlag Berlin Heidelberg : Springer; 2007. p.278.
6. Berquist, Thomas H. Musculoskeletal imaging companion. 2nd Edition.
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2007. p. 222-3.
7. Robert R. Simon, Scott C. Sherman, Steven J. Koenigsknecht. Emergency
orthopedics: the extremities. 5th Edition. United States: The McGraw-Hill
Companies; 2006.
8. Sjamsuhidayat R., dan Jong W.D.. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.
2005.
9. Smeltzer, Brenda G. Bare.. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
& Suddarth. Edisi 8. Volume 3. Jakarta: EGC. 2002.