Você está na página 1de 5

Ameloblastoma

a. Definisi
Ameloblastoma ialah tumor yang berasal dari jaringan
organ enamel yang tidak menjalani diferensiasi
membentuk enamel. Hal ini telah dijelaskan sangat tepat
oleh Robinson bahwa tumor ini biasanya unisentrik,
nonfungsional, pertumbuhannya bersifat intermiten,
secara anatomis jinak dan secara klinis bersifat persisten.
Ameloblastoma adalah tumor yang berasal dari epitelial
odontogenik. Ameloblastoma biasanya pertumbuhannnya
lambat, secara lokal invasif dan sebagian besar tumor ini
bersifat jinak.

b. Etiologi
ameloblastoma dengan asal yang bervariasi, walaupun
stimulus yang menimbulkan proses tersebut belum
diketahui. Selanjutnya, tumor tersebut kemungkinan
terbentuk dari :
1. Sisa sel sel dari organ enamel, baik itu sisa lamina
dental, sisa-sisa epitel Mallasez atau sisa-sisa
pembungkus Hertwig yang terkandung dalam ligamen
periondontal gigi yang akan erupsi.
2. Epitelium dari kista odontogenik terutam kista
dentigerous
3. Gangguan perkembangan organ enamel
4. Sel-sel basal dari epitelium permukaan rahang
5. Epitelium Heterotropik pada bagian-bagian lain dari
tubuh, khususnya kelenjar pituitary.
Stankey dan Diehl (1965) yang mengulas 641 kasus
ameloblastoma, menemukan bahwa108 kasus dari tumor-
tumor inidihubungkan dengan gigi impaksi dan suatu
kista folikular ( dentigerous).
c. Faktor resiko
Beberapa faktor risiko yang berpengaruh terhadap
kejadian metastasis pada kasus ameloblastoma
diantaranya adalah operasi berulang,tumor yang
rekurens, primary tumor yang besar, lokasi tumor di
mandibular,radioterapi, dan kemoterapi

d. Patogenesis
Patogenesis dari tumor ini, melihat adanya hubungan
dengan jaringan pembentuk gigi atau sel-sel yang
berkemampuan untuk membentuk gigi tetapi suatu
rangsangan yang memulai terjadinya proliferasi sel-sel
tumor atau pembentuk ameloblastoma belum diketahui.
Shafer dkk (1983) mengemukakan kemungkinan
ameloblastoma berasal dari sumber-sumber ; sisa sel
organ enamel, gangguan pertumbuhan organ enamel,
epitel dinding kista odontogenik terutama kista
dentigerous dan sel epitel basal permukaan rongga mulut.
Ameloblastoma terjadi karena kesalahan aktivitas sel
pada saat proses odontogenesis
e. Manifestasi klinis
o Terjadi pada semua umur terutama umur 35-45
tahun.
o Dapat terjadi pada maksila maupun mendibula
terutama pada daerah molar mandibula.
o Tumbuh lambat.
o Dislokasi gigi-gigi di sekitar tumor.
o Impaksi.
o Asimtomatik, oleh karena itu biasanya
ditemukan pada pemeriksaan radiografi rutin
atau setelah tampak adanya pembesaran
rahang.
o Krepitasi.
o Kadang timbul seperti kista odontogen.
o Konsistensi padat kenyal.
o Batasnya jelas atau tegas.
o Ekspansi ke arah lingual dan bukal.
o Ditemukan setelah beberapa tahun.
o Pembengkakan berbagai variasi sehingga
menyebabkan deformitas wajah.
o Mukosa ; warna sama dengan jaringan
sekitar.
o Jarang menunjukkan keluhan, oleh karena itu
tumor tersebut jarang terdiagnosa dini,
umumnya diketahui pada tahun ke 4 6

f. Diagnosis
Pemeriksaan fisik
1. Pembengkakan dengan berbagai ukuran yang
bervariasi sehingga dapat meyebabkan deformitas wajah.
2. Konsistensi bervariasi ada yang keras dan kadang ada
bagian yang lunak
3. Terjadi ekspansi tulang ke arah bukal dan lingual
4. Tumor ini meluas ke segala arah mendesak dan
merusak tulak sekitarnya
5.Terdapat tanda egg shell cracking atau pingpong ball
phonemona bila massa tumor telah mendesak korteks
tulang dan tulangnya menipis
6. Tidak terdapat nyeri dan parasestesi, hanya pada
beberapa penderita dengan benjolan disertai rasa nyeri.
7. Berkurangnya sensilibitas daerah distribusi n.mentalis
kadang-kadang terdapat ulserasi oleh karena penekanan
gigi apabilah tumor sudah mencapai ukuran besar.
8. Biasanya berisi cairan berwarna merah kecoklatan
9. Gigi geligi pada daerah tumor berubah letak dan
goyang.
Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan radiologis gambaran
ameloblastoma muncul sebagai gambaran
radiolusensi yang multiokular atau uniokular.
2. Pemeriksaan patologi
Kandungan tumor ini dapat keras atau lunak,
tetapi biasanya ada suatu cairan mucoid
berwarna kopi atau kekuning-kuningan.
Kolesterin jarang dijumpai. Secara
makroskopis ada dua tipe yaitu tipe solid
(padat) dan tipe kistik.
3. X-ray kepala, yang menghasilkan satu-
dimensi gambar dan leher untuk membantu
mencari daerah yang tidak normal pada
rahang.
4. CT scan (computed tomography scan)
CT scan, yang menghasilkan gambar dua dimensi
dari kepala dan leher yang dapat mengungkapkan
apakah ameloblastoma telah invaded tisu atau
organ lain.
5. MRI (magnetic resonance imaging)
MRI Scan, yang menggunakan magnet dan
gelombang radio untuk membuat gambar 3
dimensi yang dapat mengungkapkan abnormalitas
kecil di kepala dan leher. Dokter juga
menggunakan MRI Scan untuk menentukan
apakah ameloblastoma telah menyebar ke rongga
mata atau sinuses.
6. Tumor marker (penanda tumor)

g. Komplikasi
Amelostoma dapat bermetastasis ke paru paru dan secara
agresif dapat menginvasi jaringan regional di sekitarnya
seperti bermetastasis ke broncopulmonary,nodus limfe
dan organ lainnya. Komplikasi lainnyadestruksi dan
deformitas tulang rahang dan rekurensi.
h. Prognosis
Prognosis Tingkat rekurensi ameloblastoma berkisar
antara 55-90% bila tidak ditangani secara adekuat.
Dalam penelitian juga diketahui bahwa tidak ada
perbedaan kejadian rekurensi antara pasien usia muda
dengan dewasa yang menjalani terapi enukleasi, hal ini
tampaknya tidak sesuai dengan keyakinan selama ini
yang menyatakan bahwa ameloblastoma pada anak-anak
lebih tidak agresif dibandingkan pada orang dewasa

Ernawati MG. Hubungan Gigi Impaksi Dengan


Ameloblastoma. KPPIKG X. FKG UI. Jakarta, oktober
2008: 29-32.
Harahap S. Gigi Impaksi, Hubungannya dengan Kista
dan Ameloblastoma. Dentika Dental Journal. Vol 6. No
1. FKG USU. Medan, 2011 : 212 6