Você está na página 1de 6

Asesmen Ekonomi, Inflasi dan Perbankan

Perekonomian Jawa Timur menunjukkan perbaikan pada triwulan I 2014. Pertumbuhan ekonomi
pada triwulan ini tercatat sebesar 6,4% (yoy), meningkat 0,2% (yoy) dibandingkan triwulan IV
2013 (6,2%, yoy). Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional yang tercatat
sebesar 5,2% (yoy).

Inflasi Jatim pada triwulan I 2014 terkoreksi pada level 6,59% (yoy) turun dibandingkan periode
sebelumnya (7,59%) dan lebih rendah dibandingkan inflasi Nasional (7,32%). Perhitungan
inflasi pada tahun 2014 ini tidak lagi menggunakan Survei Biaya Hidup (SBH) tahun 2007
melainkan menggunakan SBH tahun 2012 dan dilakukan di 8 (delapan) Kabupaten/Kota di Jawa
Timur yaitu Surabaya, Malang, Kediri, Jember, Sumenep, Probolinggo, Madiun dan
Banyuwangi.

Kinerja perbankan di Jawa Timur baik Bank Umum maupun Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
masih menunjukkan perkembangan positif. Aset perbankan tetap tumbuh tinggi yaitu sebesar
16,2% (yoy) hingga mencapai Rp 430,97 triliun pada triwulan I 2014. Kredit tumbuh sebesar
23,18% (yoy) dari sebesar Rp 252,7 triliun pada triwulan I 2013 menjadi Rp 311,27 triliun pada
triwulan I 2014. Demikian pula dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencatat pertumbuhan
sebesar 13,25% (yoy) menjadi sebesar Rp 337,85 triliun pada periode laporan.

Prospek Ekonomi, Inflasi dan Perbankan Tw II 2014

Pada triwulan II 2014 tren perbaikan ekonomi Jatim diperkirakan masih terjadi. Pertumbuhan
ekonomi Jatim diperkirakan meningkat sebesar 0,2%, dari 6,4% menjadi 6,6%.

Mencermati perkembangan inflasi terkini dan tracking beberapa indikator harga, maka inflasi
kota Jawa Timur pada Tw II-2014 diperkirakan secara tahunan (yoy) berada di kisaran 6,3% s/d
6,5%.

Prospek Ekonomi dan Inflasi Tahun 2014

Secara keseluruhan diperkirakan pertumbuhan ekonomi Jatim tahun 2014 mencapai 6,4-6,8%
(yoy), cenderung meningkat dan lebih tinggi dibandingkan tahun 2013 yang mencapai 6,55%.

Tekanan inflasi pada akhir tahun 2014 diproyeksi mereda dibandingkan periode laporan atau
berada di kisaran proyeksi 5,1% - 5,3% (yoy).
Home Publikasi Kajian Ekonomi Regional Jawa Timur

Kajian Ekonomi Regional


Asesmen Ekonomi, Inflasi dan Perbankan
Perekonomian Jawa Timur (Jatim) menunjukkan perlambatan pada triwulan II 2014.
Pertumbuhan ekonomi pada triwulan ini tercatat sebesar 5,9% (yoy), melambat 0,5% (yoy)
dibandingkan triwulan I 2014 (6,4%, yoy) ).

Inflasi Jatim pada Tw II-2014 sebesar 6,66% (yoy) sedikit meningkat dibandingkan triwulan
sebelumnya (6,59%) dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional (6,70%). Perhitungan inflasi
pada tahun 2014 ini tidak lagi menggunakan Survei Biaya Hidup (SBH) tahun 2007 melainkan
menggunakan SBH tahun 2012 dan dilakukan di 8 (delapan) Kabupaten/Kota di Jawa Timur
yaitu Surabaya, Malang, Kediri, Jember, Sumenep, Probolinggo, Madiun dan Banyuwangi.

Aset perbankan tercatat sebesar Rp451,85 triliun atau tumbuh 16,32% (yoy), lebih tinggi
dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 15% (yoy). Kenaikan aset diimbangi dengan
pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai 16,62% (yoy) atau sebesar Rp356,39
triliun dan pertumbuhan kredit mencapai 19,18% atau sebesar Rp325,98 triliun.

Prospek Ekonomi, Inflasi dan Perbankan Tw-II 2014

Tren perbaikan ekonomi Jawa Timur diperkirakan terjadi pada triwulan III 2014. Perekonomian
Jawa Timur diperkirakan mampu berekspansi dari 5,94% (yoy) pada triwulan II 2014 menjadi
6,23% (yoy) pada triwulan III 2014.

Inflasi IHK pada triwulan III 2014, diperkirakan berada di kisaran 4,3% s/d 4,6% (yoy).
Mencermati perkembangan inflasi terkini dan tracking beberapa indikator harga, maka inflasi
kota Jawa Timur pada Tw III-2014 diperkirakan secara tahunan (yoy) berada di kisaran 4,3% s/d
4,6%.

Pertumbuhan kredit perbankan pada triwulan III 2014 diperkirakan masih tetap tinggi.
Diperkirakan pada triwulan III 2014 kinerja industri perbankan di Jawa Timur akan tetap
menunjukkan peningkatan. Struktur dan pondasi sistem perbankan yang cukup baik diyakini
masih dapat terjaga terutama ditopang oleh peningkatan fungsi intermediasi oleh perbankan.
Adanya keterbatasan likuiditas dari Dana PihakKetigadiperkirakan akan mendorong peningkatan
suku bunga kredit dan DPK. Namun demikian, dengan penerapan strategi pengembangan usaha
yang tepat serta efisiensi biaya perbankan di Jawa Timur diharapkan mampu terus meningkatkan
kinerjanya.

Prospek Ekonomi, Inflasi 2014

Secara keseluruhan diperkirakan pertumbuhan ekonomi Jatim tahun 2014 mencapai 6,0-6,4%
(yoy), cenderung melambat dibandingkan tahun 2013 yang mencapai 6,55%. Pertumbuhan ini
diyakini masih yang tertinggi dibandingkan provinsi lainnya di Pulau Jawa.

Tekanan inflasi pada akhir tahun 2014 diproyeksi mereda dibandingkan periode laporan atau
berada di kisaran proyeksi 5,1% - 5,4% (yoy). Dari sisi permintaan, adanya hari raya keagamaan
pada Tw II-2014 dan Tw IV-2014 akan menjadi pendorong utama inflasi yang bersifat seasonal.
Sementara dari sisi penawaran, telah berakhirnya musim panen raya dan dimulainya musim
tanam serta potensi badai El Nino pada tahun 2014 diproyeksi akan sedikit mengurangi
kecukupan pasokan di masyarakat.

Asesmen Perkembangan Makro Ekonomi

Perekonomian Jawa Timur (Jatim) relatif stabil pada triwulan III 2014. Pertumbuhan ekonomi
pada triwulan ini tercatat sebesar 5,91% (yoy), cenderung stabil dibandingkan dengan triwulan
sebelumnya yang mencapai 5,90% (yoy).

Dari sisi permintaan, pertumbuhan periode ini didorong peningkatan konsumsi pemerintah dan
investasi. Peningkatan konsumsi pemerintah dipengaruhi pencairan gaji ke-13 serta perbaikan
infrastruktur menjelang hari raya idul fitri yang turut mendorong peningkatan investasi.
Peningkatan investasi juga didorong pencapaian jumlah proyek dan nilai investasi PMDN yang
mencapai titik tertinggi pada triwulan ini. Komponen lainnya berupa konsumsi rumah tangga
terlihat melambat dipengaruhi oleh penurunan daya beli masyarakat. Begitu juga dengan ekspor
impor yang menunjukkan tren perlambatan sejalan dengan penurunan kinerja sektor industri
pengolahan serta turunnya permintaan dari beberapa negara tujuan ekspor.

Dari sisi penawaran, pertumbuhan positif terjadi pada sektor Pertanian; Bangunan, Keuangan,
Persewaan dan Jasa Perusahaan; serta sektor Jasa-Jasa. Sektor pertanian merupakan sumber
pertumbuhan ekonomi paling tinggi pada triwulan III 2014, tumbuh 5,46% (yoy), lebih tinggi
dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai 0,26% (yoy). Pertumbuhan di sektor
ini disebabkan karena peningkatan kinerja di sub sektor tanaman bahan makanan (tabama) dan
peternakan. Di sisi lain, perlambatan di sektor Industri Pengolahan seiring dengan masih
rendahnya kapasitas produksi di triwulan ini.

Asesmen Inflasi

Inflasi Jatim pada triwulan III 2014 sebesar 4,13% (yoy) turun dibandingkan triwulan
sebelumnya (6,66%) dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional (4,53%). Rendahnya inflasi
periode ini karena telah hilangnya dampak base year IHK dari kenaikan bahan bakar minyak
(BBM) pada tahun 2013 lalu.

Penyumbang utama inflasi berasal dari kelompok core inflation (2,74% - yoy), disusul oleh
administered price (1,14%) dan terendah volatile food (0,24%). Tekanan inflasi terbesar
bersumber dari administered price (6,48% - yoy), disusul oleh core inflation (4,43%) dan
terendah volatile food (1,37%). Tingginya inflasi kelompok administered price disebabkan oleh
kenaikan harga bahan bakar rumah tangga (LPG 12kg) dan penyesuaian tarip listrik. Sedangkan
dimulainya tahun ajaran baru khususnya untuk akademi/perguruan tinggi menjadi pendorong
utama inflasi kelompok core inflation. Inflasi kelompok volatile food triwulan ini tercatat
terendah selama 5 (lima) tahun terakhir karena berlanjutnya koreksi harga sub kelompok bumbu-
bumbuan dan kembali normalnya konsumsi masyarakat.

Asesmen Perbankan
Aset perbankan tercatat sebesar Rp474,85 triliun atau tumbuh 14,24% (yoy), lebih rendah
dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 16,38% (yoy). Demikian pula dengan
pertumbuhan kredit yang melambat cukup signifikan dari 19,30% (yoy) pada triwulan II 2014
menjadi 14,36% (yoy) pada triwulan III 2014. Sementara itu Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh
stabil dari sebesar 16,65% (yoy) pada Triwulan II 2014 menjadi 16,95% (yoy) pada Triwulan III
2014 dengan nominal Rp 377,37 triliun. Pertumbuhan DPK yang lebih tinggi dibandingkan
dengan pertumbuhan kredit mendorong perbaikan risiko likuiditas dari 91,54% (triwulan II
2014) menjadi 88,72% (triwulan III 2014). Perbaikan likuiditas dimaksud didukung oleh
penurunan risiko kredit atau Non Performance Loan (NPL) dari 2,17% pada triwulan II 2014
menjadi 2,15% pada triwulan III 2014.

Sementara penyaluran kredit berdasarkan lokasi proyek yang menunjukkan jumlah seluruh dana
perbankan yang masuk ke Jawa Timur mencapai angka Rp387,48 triliun. Kondisi ini
menandakan adanya aliran dana bersih yang masuk (net inflow) ke Jawa Timur mencapai
Rp52,68 triliun, setelah memperhitungkan jumlah kredit yang disalurkan oleh kantor bank yang
berdomisili di Jawa Timur sebesar Rp334,81 triliun. Angka net inflow Rp52,68 triliun ini, lebih
tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya Rp44,51 triliun.

Asesmen Perkembangan Makro Ekonomi

Perekonomian Jawa Timur pada triwulan IV 2014 tumbuh sebesar 6,0% (yoy), meningkat
dibandingkan triwulan sebelumnya (5,9% yoy) dan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan
ekonomi nasional yang sebesar 5,0% (yoy). Sementara secara kumulatif pertumbuhan ekonomi
Jawa Timur pada tahun 2014 mencapai 5,9%, lebih rendah dibandingkan tahun 2013 (6,1%,
yoy), namun masih tetap tumbuh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,0%.

Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi triwulan ini didorong peningkatan kinerja ekspor
dalam negeri yang tumbuh sebesar 8,9% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan III 2014
sebesar -9,2% (yoy). Hal ini sekaligus mengkonfirmasi posisi Jawa Timur sebagai hub
perdagangan yang menghubungkan bagian timur dan barat Indonesia. Sementara itu,
pertumbuhan konsumsi baik swasta maupun pemerintah menunjukkan perlambatan. Perlambatan
konsumsi swasta dipengaruhi oleh pelemahan daya beli masyarakat sebagai dampak kenaikan
BBM sejak 18 November 2014. Sementara perlambatan konsumsi pemerintah didorong adanya
program efisiensi di lingkungan instansi pemerintah. Kinerja ekspor luar negeri juga masih
lemah sejalan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi negara mitra dagang khususnya
Jepang dan Tiongkok.

Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2014 ditopang oleh peningkatan kinerja
sektor industri pengolahan dan sektor konstruksi. Sektor industri pengolahan tumbuh 9,2% (yoy),
lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (5,7%, yoy), begitu pula dengan sektor
konstruksi yang tumbuh dari 4,1% (yoy) menjadi 5,8% (yoy). Di sisi lain, perlambatan kinerja
masih terjadi di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebagai dampak pergeseran masa
tanam, sehingga pada triwulan IV 2014 sektor ini belum memasuki musim panen. Kinerja sektor
perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor turut melambat seiring dengan
pelemahan ekonomi negara tujuan ekspor serta pelemahan daya beli masyarakat pasca kenaikan
BBM.
Asesmen Inflasi

Inflasi Jatim pada triwulan IV 2014 sebesar 7,77% (yoy) meningkat dibandingkan triwulan
sebelumnya (4,13%), namun masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional (8,36%).
Tingginya inflasi terutama dipicu oleh kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada tanggal
18 November 2014, dampak lanjutan kenaikan bahan bakar rumah tangga (LPG 12 kg) dan
penyesuaian tarif listrik tahap ke-3. Disamping itu, tingginya permintaan menjelang Natal dan
Tahun Baru, meningkatnya harga emas sebagai salah satu instrumen investasi yang dinilai aman
(safe haven) ditengah kondisi perekonomian global yang masih kurang kondusif, serta minimnya
produksi pertanian karena belum memasuki musim panen juga mendorong peningkatan inflasi.

Penyumbang utama inflasi pada akhir tahun 2014 berasal dari kelompok core inflation (3,51%-
yoy) disusul oleh administered price (3,11%) dan terendah volatile food (1,15%). Sementara itu,
tekanan inflasi terbesar bersumber dari administered price (17,03%-yoy), disusul oleh volatile
food (6,46%) dan terendah core inflation (5,59%). Tingginya sumbangan inflasi kelompok core
inflation karena besarnya bobot perhitungan kelompok ini pada basket inflasi yang mencapai
64,00%, disusul oleh kelompok administered price (18,29%) dan volatile food (17,71%). Selain
itu, tekanan dari sisi domestik seperti kenaikan harga barang tradable sebagai dampak lanjutan
kenaikan harga BBM dan LPG 12 kg, pembebanan PPN BM dan meningkatnya harga bahan
baku impor juga turut memicu meningkatnya inflasi inti.

Asesmen Perbankan

Aset perbankan tercatat sebesar Rp 485,19 triliun atau tumbuh 12,99% (yoy), namun lebih
rendah dibandingkan triwulan sebelumnya (14,25% yoy). Demikian pula dengan pertumbuhan
kredit yang turut melambat dari 14,37% (yoy) pada triwulan III 2014 menjadi 13,26% (yoy) pada
triwulan IV 2014. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga masih menunjukkan perlambatan dari sebesar
16,97% (yoy) pada triwulan III 2014 menjadi 14,31% (yoy) pada triwulan IV 2014 dengan
nominal Rp 389,53 triliun. Pertumbuhan DPK yang lebih rendah dibandingkan dengan
pertumbuhan kredit mendorong kenaikan LDR dari 88,72% (triwulan III 2014) menjadi 90,41%
(triwulan IV 2014). Namun demikian, kinerja positif perbankan didukung oleh penurunan risiko
kredit atau Non Performance Loan (NPL) dari 2,15% pada triwulan III 2014 menjadi 1,89% pada
triwulan IV 2014. Penyaluran kredit berdasarkan lokasi proyek yang menunjukkan jumlah
seluruh dana perbankan yang masuk ke Jawa Timur mencapai angka Rp 403,12 triliun.
Sedangkan jumlah kredit yang disalurkan oleh kantor bank yang berdomisili di Jawa Timur
sebesar Rp 352,17 triliun.

Penyaluran kredit korporasi pada triwulan IV 2014 sebesar 13,70% (yoy) melambat
dibandingkan triwulan sebelumnya (15,32%, yoy) serta triwulan yang sama pada tahun 2013
(34,34%, yoy). Sektor yang mengalami perlambatan cukup signifikan diantaranya sektor
Pertambangan, sektor Listrik, Gas dan Air serta sektor jasa-jasa dunia usaha. Sektor utama Jawa
Timur juga menunjukkan kinerja kredit yang melambat. Kredit sektor perdagangan besar dan
eceran melambat dari 21,12% (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi 14,48% (yoy). Begitu
pula dengan kredit sektor pertanian, kehutanan dan perikanan melambat dari 55,83% (yoy)
menjadi 43,42% (yoy). Namun demikian, kredit sektor industri pengolahan masih mampu
tumbuh 15,29% (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (13,59%, yoy). Stabilitas
sistem keuangan sektor korporasi dapat dikategorikan aman karena NPL di semua sektor masih
terjaga dibawah ambang batas 5%.

Sementara dari sisi kredit sektor rumah tangga, meskipun sedikit meningkat dari posisi triwulan
sebelumnya (12,30%), pertumbuhan kredit triwulan IV 2014 yang sebesar 12,70% tercatat
melambat dibandingkan posisi tahun sebelumnya (19,1%). Melambatnya penyaluran kredit
rumah tangga ini disebabkan oleh tren peningkatan suku bunga kredit konsumsi di tahun 2014.
KPR tumbuh 12,71% lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (12,32%) namun lebih
rendah dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya (27,09%). Begitu pula dengan KPA
yang meningkat dari 9,78% menjadi 10,08%, namun lebih rendah dibandingkan triwulan IV
2013 (17,02%). Kondisi yang berbeda terjadi pada KKB yang meningkat pada triwulan IV 2014
dari 14,97% menjadi 17,91% dan lebih tinggi dibandingkan pencapaian periode yang sama tahun
sebelumnya (17,02%). Kondisi ini dipengaruhi oleh munculnya mobil murah yang membanjiri
pasar otomotif sepanjang tahun 2014.