Você está na página 1de 10

ARTI PENTING UUD NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 BAGI BANGSA

DAN NEGARA INDONESIA

Arti Penting UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bagi Bangsa dan Negara Indonesia

Setiap negara mempunyai UUD dengan tujuan yang diharapkan oleh masing-masing negara
tersebut. Konstitusi-konstitusi yang dimiliki oleh negara-negara di dunia ternyata amat beragam
bentuk dan susunannya. Ada yang menggunakan Mukadimah/Pembukaan ada pula yang tidak, dan
ada yang terdiri dari banyak pasal dan ada pula yang hanya terdiri dari beberapa pasal, kesemuanya
sangat tergantung dari maksud para pendiri negara masing-masing dalam mengatur kehidupan
ketatanegaraan.

Sebagai ketentuan yang mengatur kehidupan ketatanegaraan, undang-undang dasar merupakan


sumber utama hukum tata negara suatu negara. Oleh karena itu, konstitusi selalu memiliki corak
nasional dari masing-masing negara. Henk van Maarseveen dan Ger van der Tang (Sri Soemantri
M, 1998: 94-95) mengemukakan bahwa selain sebagai dokumen nasional, konstitusi juga sebagai
alat untuk membentuk sistem politik dan sistem hukum negaranya sendiri. Sedangkan Sri Sumantri
M (1998: 95) mengemukakan bahwa Undang-Undang Dasar sebagai konstitusi tertulis merupakan
sebuah dokumen formal yang berisi:
a. Hasil perjuangan politik bangsa di waktu yang lampau.
b. Tingkat-tingkat tertinggi perkembangan ketatanegaraan bangsa.
c. Pandangan tokoh-tokoh bangsa yang hendak diwujudkan, baik untuk waktu sekarang maupun
untuk masa yang akan datang.
d. Suatu keinginan dengan mana perkembangan kehidupan ketatanegaraan bangsa hendak dipimpin.

Meskipun setiap negara memiliki UUD yang isinya berbeda-beda, namun pada dasarnya setiap
UUD mengatur materi yang merupakan ciri yang harus dipenuhi bagi suatu konstitusi yang benar
sebagaimana dikemukakan oleh J.G. Steenbeek (Sri Soemantri M, 1998: 93), yaitu:
a. Adanya jaminan terhadap hak-hak asasi manusia dan warga negara.
b. Ditetapkannya susunan ketatanegaraan suatu negara yang bersifat fundamental.
c. Adanya pembagian dan pembatasan tugas-tugas ketatanegaraan yang bersifat fundamental.

Miriam Budiardjo (2001: 101) menyatakan bahwa setiap Undang-Undang Dasar memuat ketentuan-
ketentuan mengenai soal-soal sebagai berikut:
a. Organisasi negara, misalnya pembagian kekuasaan antara badan legislatif, eksekutif, dan
yudikatif dalam negara federal, pembagian kekuasaan antara pemerintah federal dan pemerintah
negara-negara bagian, prosedur menyelesaikan masalah pelanggaran yuridiksi oleh salah satu badan
pemerintah, dan sebagainya.
b. Hak-hak asasi manusia.
c. Prosedur mengubah Undang-Undang Dasar.
d. Ada kalanya memuat larangan untuk mengubah sifat tertentu dari Undang-Undang Dasar. Hal
ini biasanya terdapat jika para penyusun Undang-Undang Dasar ingin menghindari terulangnya
kembali hal-hal yang baru saja diatasi, misalnya munculnya seorang diktator atau kembalinya suatu
monarkhi.

Selain itu, dijumpai pula bahwa Undang-Undang Dasar sering memuat cita-cita rakyat dan asas-
asas ideologi negara yang oleh penyusun Undang-Undang Dasar untuk mengungkapkan cerminan
semangat dan spirit rakyat negara tersebut dan mewarnai seluruh naskah Undang-Undang Dasar itu.

Di negara-negara komunis, Undang-Undang Dasar mempunyai fungsi berganda. Di satu pihak


mencerminkan kemenangan-kemenangan yang telah dicapai dalam perjuangan ke arah tercapainya
masyarakat komunis dan merupakan pencatatan formal dan legal dari kemajuan yang telah dicapai.
Di pihak lain Undang-Undang Dasar memberikan rangka dan dasar hukum untuk perubahan
masyarakat yang dicita-citakan dalam perkembangan berikutnya (Miriam Budiardjo, 2001: 99).

Sejak akhir abad ke-19, UUD dianggap sebagai jaminan paling efektif bila kekuasaan tidak akan
disalahgunakan dan hak-hak warga negara tidak dilanggar. Kemudian muncullah istilah
konstitusionalisme untuk menandakan suatu sistem asas-asas pokok yang menetapkan dan
membatasi kekuasaan dan hak bagi yang memerintah dan yang diperintah, karena mereka mem-
punyai pandangan bahwa seluruh aparatur serta aktivitas kenegaraannya harus ditujukan kepada
tercapainya masyarakat komunis. Oleh karena itu, Undang-Undang Dasarnya mempunyai fungsi
berganda sebagaimana dikemukakan di atas.

Dengan demikian arti penting UUD 1945 bagi bangsa Indonesia adalah sebagai landasan struktural
penyelenggaraan pemerintahan Negara Republik Indonesia. UUD 1945 mengatur penyelenggaraan
negara dan tugas serta wewenang badan-badan yang ada dalam penyelenggaraan negara Republik
Indonesia. Para pendiri negara Republik Indonesia telah sepakat, bahwa untuk mencegah terjadinya
penyalahgunaan kekuasaan, harus diadakan Undang-Undang Dasar atau konstitusi sebagai bagian
dari hukum dasar untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan.

PERAN TOKOH-TOKOH PERUMUS UUD 1945

Peran Tokoh - Tokoh Perumus UUD 1945

Semua tokoh yang menjadi anggota BPUPKI maupun PPKI tentu memiliki peran yang besar dalam
perumusan UUD 1945. Para tokoh itu merupakan putra terbaik bangsa yang mewakili kelompok
dan masyarakatnya pada waktu itu. Mereka menjadi wakil bangsa Indonesia yang memiliki
kemampuan dan visi ke depan untuk kebaikan bangsa.

Berikut ini contoh Peran Tokoh Perumus UUD 1945

Ir. Soekarno :

Sebagai anggota BPUPKI, sebagai ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ("PPKI"),
berperan dalam mengusulkan rumusan dasar negara Indonesia, yang diberi nama Pancasila. Selain
Muh Yamin, Ir Sukarno juga menyampaikan usul dasar negara. Usul ini disampaikan pada 1 Juni
1945 yang kemudian dikenal sebagai hari lahir Pancasila. Usul Sukarno sebenarnya tidak hanya
satu melainkan tiga buah usulan calon dasar negara yaitu lima prinsip, tiga prinsip, dan satu prinsip.
Sukarno pula-lah yang mengemukakan dan menggunakan istilah Pancasila (secara harfiah berarti
lima dasar) pada rumusannya ini atas saran seorang ahli bahasa (Muhammad Yamin) yang duduk di
sebelah Sukarno. Oleh karena itu rumusan Sukarno di atas disebut dengan Pancasila, Trisila, dan
Ekasila. Soekarno juga berperan sebagai ketua Penyelidik Usul-Usul/Perumus Dasar Negara atau
panitia sembilan yang berhasil merumuskan Piagam Jakarta, dan lainnya.

Drs. Mohammad Hatta

Sebagai anggota BUPKI, sebagai Ketua Panitia Perancang Keuangan dan Perekonomian, sebagai
anggota Penyelidik Usul-Usul/Perumus Dasar Negara atau penitia sembilan yang berhasil
merumuskan Piagam Jakarta, memberi usulan tentang wilayah Negara.

Dr. Rajiman Wediodiningrat

Sebagi ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)

Mr. Mohammad Yamin

Pada sesi pertama persidangan BPUPKI yang dilaksanakan pada 29 Mei 1 Juni 1945 beberapa
anggota BPUPKI diminta untuk menyampaikan usulan mengenai bahan-bahan konstitusi dan
rancangan blue print Negara Republik Indonesia yang akan didirikan. Pada tanggal 29 Mei 1945
Mr. Mohammad Yamin menyampaikan usul dasar negara dihadapan sidang pleno BPUPKI baik
dalam pidato maupun secara tertulis yang disampaikan kepada BPUPKI.

Prof. Dr. R. Supomo

Supomo duduk sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Setelah BPUPKI dibubarkan dan dibentuk PPKI, Ia juga sebagai Ketua Panitia Kecil Perancang
Undang-Undang Dasar, dan lainnya

Mr.Ahmad Soebardjo

Beliau termasuk tokoh penting dalam sejarah perjuangan Indonesia dalam memproklamasikan
kemerdekaan. Terkenal sebagai konseptor naskah teks proklamasi dan pembukaan UUD
1945. Ia merupakan salah satu anggota panitia kecil atau panitia sembilan yang berhasil
merumuskan Piagam Jakarta dan juga sebagai anggota PPKI. Beliau juga merupakan konseptor
yang ikut menyumbangkan pikirannya dalam penyusunan naskah proklamasi kemerdekaan, yaitu
pada kalimat pertama yang berbunyi : Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan
kemerdekaan Indonesia.
PERUMUSAN DAN PENGESAHAN UUD 1945

Untuk memahami UUD mari kita pahami terlebih dahulu istlah Konstitusi. Konstitusi berasal dari
bahasa Prancis Constituere yang artinya membentuk. Pemakaian istilah konstitusi dimaksud
sebagai pembentukanApakan pencatatan formal dan legal dari kemajuan yang telah dicapai. Di
pihak lain Undang-Undang Dasar memberikan rangka dan dasar hukum untuk perubahan
masyarakat yang dicita-citakan dalam perkembangan berikutnya (Miriam Budiardjo, 2001: 99).

Sejak akhir abad ke-19, UUD dianggap sebagai jaminan paling efektif bila kekuasaan tidak akan
disalahgunakan dan hak-hak warga negara tidak dilanggar. Kemudian muncullah istilah
konstitusionalisme untuk menandakan suatu sistem asas-asas pokok yang menetapkan dan
membatasi kekuasaan dan hak bagi yang memerintah dan yang diperintah, karena mereka mem-
punyai pandangan bahwa seluruh aparatur serta aktivitas kenegaraannya harus ditujukan kepada
tercapainya masyarakat komunis. Oleh karena itu, Undang-Undang Dasarnya mempunyai fungsi
berganda sebagaimana dikemukakan di atas.

Dengan demikian arti penting UUD 1945 bagi bangsa Indonesia adalah sebagai landasan struktural
penyelenggaraan pemerintahan Negara Republik Indonesia. UUD 1945 mengatur penyelenggaraan
negara dan tugas serta wewenang badan-badan yang ada dalam penyelenggaraan negara Republik
Indonesia. Para pendiri negara Republik Indonesia telah sepakat, bahwa untuk mencegah terjadinya
penyalahgunaan kekuasaan, harus diadakan Undang-Undang Dasar atau konstitusi sebagai bagian
dari hukum dasar untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan.

C. Peran Tokoh Perumus UUD 1945

Semua tokoh yang menjadi anggota BPUPKI maupun PPKI tentu memiliki peran yang besar dalam
perumusan UUD 1945. Para tokoh itu merupakan putra terbaik bangsa yang mewakili kelompok
dan masyarakatnya pada waktu itu. Mereka menjadi wakil bangsa Indonesia yang memiliki
kemampuan dan visi ke depan untuk kebaikan bangsa.

Berikut ini contoh Peran Tokoh Perumus UUD 1945

Ir. Soekarno :

Sebagai anggota BPUPKI, sebagai ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ("PPKI"),
berperan dalam mengusulkan rumusan dasar negara Indonesia, yang diberi nama Pancasila. Selain
Muh Yamin, Ir Sukarno juga menyampaikan usul dasar negara. Usul ini disampaikan pada 1 Juni
1945 yang kemudian dikenal sebagai hari lahir Pancasila. Usul Sukarno sebenarnya tidak hanya
satu melainkan tiga buah usulan calon dasar negara yaitu lima prinsip, tiga prinsip, dan satu prinsip.
Sukarno pula-lah yang mengemukakan dan menggunakan istilah Pancasila (secara harfiah berarti
lima dasar) pada rumusannya ini atas saran seorang ahli bahasa (Muhammad Yamin) yang duduk di
sebelah Sukarno. Oleh karena itu rumusan Sukarno di atas disebut dengan Pancasila, Trisila, dan
Ekasila. Soekarno juga berperan sebagai ketua Penyelidik Usul-Usul/Perumus Dasar Negara atau
panitia sembilan yang berhasil merumuskan Piagam Jakarta, dan lainnya.
Drs. Mohammad Hatta

Sebagai anggota BUPKI, sebagai Ketua Panitia Perancang Keuangan dan Perekonomian, sebagai
anggota Penyelidik Usul-Usul/Perumus Dasar Negara atau penitia sembilan yang berhasil
merumuskan Piagam Jakarta, memberi usulan tentang wilayah Negara.

Dr. Rajiman Wediodiningrat

Sebagi ketua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)

Mr. Mohammad Yamin

Pada sesi pertama persidangan BPUPKI yang dilaksanakan pada 29 Mei 1 Juni 1945 beberapa
anggota BPUPKI diminta untuk menyampaikan usulan mengenai bahan-bahan konstitusi dan
rancangan blue print Negara Republik Indonesia yang akan didirikan. Pada tanggal 29 Mei 1945
Mr. Mohammad Yamin menyampaikan usul dasar negara dihadapan sidang pleno BPUPKI baik
dalam pidato maupun secara tertulis yang disampaikan kepada BPUPKI.

Prof. Dr. R. Supomo

Supomo duduk sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia.
Setelah BPUPKI dibubarkan dan dibentuk PPKI, Ia juga sebagai Ketua Panitia Kecil Perancang
Undang-Undang Dasar, dan lainnya

Mr.Ahmad Soebardjo

Beliau termasuk tokoh penting dalam sejarah perjuangan Indonesia dalam memproklamasikan
kemerdekaan. Terkenal sebagai konseptor naskah teks proklamasi dan pembukaan UUD
1945. Ia merupakan salah satu anggota panitia kecil atau panitia sembilan yang berhasil
merumuskan Piagam Jakarta dan juga sebagai anggota PPKI. Beliau juga merupakan konseptor
yang ikut menyumbangkan pikirannya dalam penyusunan naskah proklamasi kemerdekaan, yaitu
pada kalimat pertama yang berbunyi : Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan
kemerdekaan Indonesia.

Silahkan Kamu gali peran masing-masing tokoh Perumus UUD 1945 seperti contoh diatas
berdasarkan uraian sejarah perumusan UUD 1945 yang dijelaskan di atas.
KEDUDUKAN PEMBUKAAN UUD 1945 DALAM NEGARA REPUBLIK INDONESIA
(NKRI)

Kedudukan Pembukaan UUD 1945 dalam Negara Republik Indonesia adalah sebagai berikut.

a. Pembukaan UUD 1945 sebagai pernyataan kemerdekaan yang terperinci Bangsa Indonesia pada
tanggal 17 Agustus 1945 telah menyatakan proklamasi kemerdekaannya yaitu dalam suatu Naskah
Proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno-Hatta atas nama seluruh bangsa Indonesia. Proklamasi
pada hakikatnya memiliki dua makna, yaitu suatu pernyataan tentang kemerdekaan bangsa
Indonesia dan tindakan-tindakan yang harus segera dilaksanakan berkaitan dengan proklamasi
tersebut, artinya mulai detik proklamasi tersebut bangsa Indonesia menyusun negara yang merdeka
yang memiliki kedaulatan sendiri untuk mewujudkan cita-cita bersama, yaitu masyarakat yang adil
dan makmur, material maupun spiritual. Dalam Pembukaan UUD 1945, baik pernyataan proklamasi
(pada alinea ke-3) maupun tindakan-tindakan tentang pembentukan Negara Republik Indonesia
terinci sejak alinea ke-3.

b. Pembukaan UUD 1945 memenuhi syarat adanya tertib hukum Indonesia Dalam alinea keempat
Pembukaan UUD 1945 ditemukan unsur-unsur yang menurut ilmu hukum merupakan syarat bagi
adanya suatu tertib hukum di Indonesia, yaitu suatu kebulatan dari keseluruhan peraturan-peraturan
hukum.

c. Pembukaan UUD 1945 sebagai pokok kaidah negara yang fundamental Di dalam suatu tertib
hukum terdapat urut-urutan susunan yang bersifat hirarkis, dimana UUD (pasal-pasalnya) bukanlah
merupakan suatu tertib hukum yang tertinggi. Di atasnya masih ada dasar-dasar pokok dari UUD
ataupun hukum dasar yang tidak tertulis yang pada hakikatnya terpisah dari UUD atau hukum dasar
yang tidak tertulis itu yang dinamakan Pokok Kaidah yang Fundamental. Berdasarkan unsur-unsur
yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 maka menurut ilmu hukum tatanegara, Pembukaan
UUD 1945 pada hakikatnya telah memenuhi syarat sebagai Pokok Kaidah Negara yang
Fundamental (Staatsfundamentalnorm).

d. Pembukaan UUD 1945 merupakan sumber semangat bagi UUD 1945 Pembukaan UUD 1945,
yang terkandung di dalamnya pokok-pokok pikiran yang inti sarinya adalah Pancasila, pada
hakikatnya merupakan sumber semangat bagi para penyelenggara negara, para pemimpin
pemerintahan, para penyelenggara partai serta golongan fungsional, dan seluruh alat perlengkapan
negara lainnya.

e. Pembukaan UUD 1945 Mempunyai Kedudukan Kuat dan Tetap Sebagai pokok kaidah negara
yang fundamental, Pembukaan UUD 1945 memiliki hakikat kedudukan hukum yang kuat, bahkan
secara yuridis tidak dapat diubah oleh siapapun, terlekat pada kelangsungan hidup negara.
Pembukaan UUD 1945 sebagai dasar, rangka dan suasana bagi kehidupan negara dan tertib hukum
Indonesia Dalam pengertian ini, isi yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 bilamana dirinci
secara sistematis merupakan suatu kesatuan yang bertingkat dan berfungsi sebagai dasar, rangka,
dan suasana bagi negara dan tertib hukum Indonesia. Pembukaan UUD 1945 terdiri atas empat
alinea atau bagian yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Alinea Pertama

Alinea pertama : Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab
itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan
dan perikeadilan

Makna yang terkandung dalam Alinea pertama ini adalah menunjukkan keteguhan dan kuatnya
pendirian bangsa Indonesia menghadapai masalah kemerdekaan melawan penjajah.

Alinea ini mengungkapkan suatu dalil obyektif, yaitu bahwa penjajahan tidak sesuai dengan
perikemanusiaan dan perikeadilan, dan oleh karenanya harus ditentang dan dihapuskan agar semua
bangsa di dunia ini dapat menjalankan hak kemerdekaannya sebagai hak asasinya. Disitulah letak
moral luhur dari pernyataan kemerdekaan Indonesia.
Selain mengungkapkan dalil obyektif, alinea ini juga mengandung suatu pernyataan subyektif, yaitu
aspirasi bangsa Indonesia sendiri untuk membebaskan diri dari penjajahan. Dalil tersebut di atas
meletakkan tugas kewajiban bangsa/pemerintah Indonesia untuk senantiasa berjuang melawan
setiap bentuk penjajahan dan mendukung kemerdekaaan setiap bangsa.

Alasan bangsa Indonesia menentang penjajahan ialah karena penjajahan itu bertentangan dengan
perikemanusiaan dan perikeadilan. Ini berarti setiap hal atau sifat yang bertentangan atau tidak
sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan juga harus secara sadar ditentang oleh bangsa
Indonesia. Pendirian tersebut itulah yang melandasi dan mengendalikan politik luar negeri kita.

2. Alinea Kedua

Alinea kedua : Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat
yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang
kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur
Alinea ini mengandung makna:

1. Bahwa kemerdekaan Indonesia bukan pemberian atau hadiah dari Negara lain tetapi merupakan
hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri;

2. Bahwa kemerdekaan tersebut bukan merupakan tujuan akhir (baru mencapai pintu
gerbang) tetapi masih harus diisi dengan mewujudkan negara yang merdeka, bersatu, berdaulat,
adil, dan makmur.

3. Alinea Ketiga

Alinea ketiga : Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh
keinginan yang luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia
menyatakan dengan ini kemerdekaannya
Alinea ini memuat motivasi spiritual yang luhur dan mengilhami Proklamasi Kemerdekaan serta
menunjukkan pula ketaqwaan bangsa Indonesia kepada Tuhan Yang Maha Esa. Inti dari alinea ini
adalah pengakuan bahwa Kemerdekaan yang diperoleh bangsa Indonesia bukan semata-mata
hasil perjuangan bangsa Indonesia, tetapi juga berkat rahmat Allah Tuhan Yang Maha Esa. Hal
tersebut berarti bahwa bangsa Indonesia mendambakan kehidupan yang berkeseimbangan material
dan spiritual serta keseimbangan kebidupan di dunia dan di akhirat.

Keyakinan dan tekad yang kuat untuk memperoleh kemerdekaan dan keyakinan akan kekuasaaan
Tuhan, menjadi kekuatan yang menggerakkan bangsa Indonesia. Persenjataan yang sederhana dan
tradisional tidak menjadi halangan untuk berani melawan penjajah yang memiliki senjata lebih
modern. Para pejuang bangsa yakin bahwa Tuhan akan memberikan bantuan kepada umatnya yang
berjuang melawan kebenaran.

Banyak peristiwa sejarah dalam perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah, memperoleh
kemenangan walaupun dengan segala keterbatasan senjata, organisasi dan sumber daya manusia.
Hal ini menunjukkan bahwa tekad yang kuat dan keyakinan pada kekuasaaan Tuhan, dapat menjadi
faktor pendorong dan penentu keberhasilan sesuatu. Alinea ketiga pembukaan mempertegas
pengakuan dan kepercayaan bangsa Indonesia terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Manusia
merupakan mahluk Tuhan yang terdiri atas jasmani dan rohani. Manusia bukanlah mesin yang tidak
memiliki jiwa. Berbeda dengan pandangan yang beranggapan bahwa manusia hanya bersifat fisik
belaka.Ini menegaskan prinsip keseimbangan dalam kehidupan secara material dan spiritual,
kehidupan dunia dan akhirat, jasmani dan rohani.

Alinea ketiga Pembukaan UUD 1945 juga menegaskan motivasi bangsa Indonesia untuk
menyatakan kemerdekaannya serta pengakuan akan peran rakyat dalam perjuangan mencapai
kemerdekaan. Kalimat yang menyatakan bahwa rakyat Indonesia menyatakan dengan ini
kemerdekaannya secara implisit melenyapkan segala kesangsian dukungan rakyat terhadap
kemerdekaan. Sehingga esensinya adalah bahwa kekuasaan tertinggi bagi bangsa dan negara
Indonesia adalah terletak pada rakyat atau yang disebut kedaulatan rakyat.

4. Alinea keempat

Alinea keempat : Kemudian daripada itu untuk membentuk susunan pemerintahan negara
Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan
untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, maka
disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara
Indonesia yang terbentuk dalam susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat
dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab,
persatuan Indonesia, dan 13

kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, serta
dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Isi alinea keempat ini sangat jelas menegaskan tentang tujuan Negara, pembentukaan UUD, bentuk
Negara, system pemerintahan dan dasar negara

a. Tujuan negara Indonesia yaitu :

1) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia

2) memajukan kesejahteraan umum

3) mencerdasarkan kehidupan bangsa

4) ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial.

b. UUD yang digunakan atau dibentuk UUD 1945

c. Susunan dan bentuk negara, yaitu republik kesatuan

c. Sistem pemerintahan negara Indonesia adalah berkedaulatan rakyat (demokrasi)

d. Dasar negara indonesia yaitu Pancasila

ISI MATERI SIDANG BPUPKI

Panitia Kecil yang dibentuk BPUPKI dalam sidang kedua

1. Jelaskan 3 (tiga) Panitia Kecil yang dibentuk BPUPKI dalam sidang kedua !
Jawaban :
a. Panitia Perancang Undang-Undang Dasar yang diketuai oleh Ir. Soekarno
b. Panitia Pembelaan Tanah Air yang diketuai oleh Raden Abikusno
Tjokrosoejoso
c. Panitia Ekonomi dan Keuangan yang diketuai oleh Drs. Mohammad Hatta

2. Jelaskan keanggotaan Panitia


Perancang UUD !
Jawaban :
Panitia Perancang Undang-Undang Dasar, yang diketuai oleh Ir.Soekarno, membahas pembentukan
lagi panitia kecil
di bawahnya, yang tugasnya adalah
khusus merancang isi dari Undang-
Undang Dasar, yang beranggotakan 7 orang yaitu sebagai berikut :
Prof. Mr. Dr. Soepomo (ketua panitia kecil)
Mr. KRMT Wongsonegoro (anggota)
Mr. Raden Achmad Soebardjo
Djojoadisoerjo (anggota)
Mr. Alexander Andries Maramis
(anggota)
Mr. Raden Panji Singgih (anggota)
Haji Agus Salim (anggota)
Dr. Soekiman Wirjosandjojo
(anggota)
3. Jelaskan hubungan antara Panitia Perancang Undang-Undang Dasar dengan Panitia Kecil
Perancang Undang-Undang Dasar
Jawaban :
Pada tanggal 13 Juli 1945 sidang panitia Perancang Undang-Undang Dasar, yang diketuai oleh Ir.
Soekarno, membahas hasil kerja panitia kecil di bawahnya, yang
tugasnya adalah khusus merancang isi dari Undang-Undang Dasar

4. Jelaskan isi materi pembahasan sidang BPUPKI sesuai dengan tanggal sidang !
Jawaban :
a. Pada tanggal 28 Mei 1945, diadakan upacara pelantikan dan sekaligus seremonial pembukaan
masa persidangan BPUPKI yang pertama di gedung "Chuo Sangi In",
b. Sidang tanggal 29 Mei 1945, Mr. Prof. Mohammad Yamin, S.H. berpidato mengemukakan
gagasan mengenai rumusan lima asas dasar negara Republik Indonesia, yaitu: 1. Peri Kebangsaan;
2. Peri Kemanusiaan; 3. Peri Ketuhanan; 4.
Peri Kerakyatan; dan 5. Kesejahteraan Rakyat.
c. Sidang tanggal 31 Mei 1945, Prof. Mr. Dr. Soepomo berpidato mengemukakan gagasan
mengenai rumusan lima prinsip dasar negara Republik Indonesia, yang beliau namakan "Dasar
Negara Indonesia
Merdeka", yaitu: 1. Persatuan; 2.
Kekeluargaan; 3. Mufakat dan Demokrasi;4. Musyawarah; dan 5. Keadilan Sosial.
d. Sidang tanggal 1 Juni 1945, Ir.
Soekarno berpidato mengemukakan gagasan mengenai rumusan lima sila dasar negara Republik
Indonesia, yang beliau namakan "Pancasila", yaitu: 1.
Kebangsaan Indonesia; 2. Internasionalisme dan Peri Kemanusiaan; 3. Mufakat atau Demokrasi;
4.Kesejahteraan Sosial; dan 5. Ketuhanan Yang Maha Esa.
e. Pada tanggal 11 Juli 1945, sidang panitia Perancang Undang-Undang Dasar, yang diketuai oleh
Ir. Soekarno, membahas pembentukan lagi panitia kecil di bawahnya, yang tugasnya adalah
khusus merancang isi dari Undang-
Undang Dasar, yang beranggotakan 7 orang
f. Pada tanggal 13 Juli 1945, sidang
panitia Perancang Undang-Undang Dasar, yang diketuai oleh Ir. Soekarno, membahas hasil kerja
panitia kecil di bawahnya, yang tugasnya adalah khusus merancang isi dari Undang-Undang Dasar,
yang beranggotakan 7 orang tersebut.
g. Pada tanggal 14 Juli 1945, sidang pleno BPUPKI menerima laporan panitia Perancang Undang-
Undang Dasar, yang dibacakan oleh ketua panitianya sendiri, Ir. Soekarno. Dalam laporan tersebut
membahas mengenai rancangan Undang-Undang Dasar yang di dalamnya tercantum tiga masalah
pokok.
a. Pernyataan tentang Indonesia Merdeka
b. Pembukaan Undang-Undang Dasar
c. Batang tubuh Undang-Undang Dasar
yang kemudian dinamakan sebagai
"Undang-Undang Dasar 1945",