Você está na página 1de 4

Tahap Pembuatan Estimasi Secara Detail

ESTIMASI DETAIL SECARA UMUM

Karena kegiatan estimasi merupakan salah satu proses utama dalam sebuah proyek guna
mengetahui berapa besar dana yang harus dikeluarkan dalam sebuah proyek dan merupakan dasar
membuat sistem pembiayaan, maka kegiatan estimasi harus dibuat secara detail.

Tujuan utama pembuatan estimasi secara detail adalah untuk pengadaan pekerjaan/proyek dan
sebagai dasar untuk evaluasi dan pengendalian proyek. Pada umumnya, sebagai langkah
pengendalian dalam proyek, dilakukan perbandingan "apa yang terjadi" dengan "apa yang
seharusnya terjadi". Dalam hal ini untuk melihat kemajuan sebuah proyek akan dibandingkan antara
biaya yang telah dikeluarkan dengan rencana anggaran yang ditetapkan.

Berikut ini merupakan tahapan dalam membangun estimasi secara rinci, yaitu :

Melakukan perhitungan volume berbagai material yang akan digunakan dalam pelaksanaan
proyek.

Proses pemberian nilai, dimana pada tahap ini estimator menghitung estimasi biaya
material, tenaga kerja, subkontrak, peralatan, dan lain-lain.

Tahap rekapitulasi, merupakan ringkasan estimasi sesuai urutan pekerjaan, berfungsi untuk
menghitung berbagai biaya overhead seperti pajak, asuransi dan jaminan. Tahap ini
merupakan gambaran umum dari hasil estimasi.

TAHAP-TAHAP PEMBUATAN ESTIMASI SECARA DETAIL

Tahap-tahap yang perlu dilakukan untuk membuat estimasi secara detail adalah :

Akuisisi Dokumen Kontrak

Kontraktor perlu memiliki dokumen kontrak penawaran.

Kaji Ulang Dokumen dan Keadaan Proyek

Dokumen yang ada perlu dikaji ulang untuk mengetahui tanggal penawaran, persyaratan
kesempatan yang sama untuk tenaga kerja, persyaratan standar, gaji, jadwal, alternatif, kontrak, dan
lainnya. Informasi umum mengenai proyek umumnya terdiri atas keadaan proyek, kunjungan ke
lapangan, kondisi internal (sumber daya), dan kondisi eksternal (kondisi luar yang dapat
mempengaruhi proyek).

Menghadiri Rapat Penjelasan

Rapat penjelasan merupakan kesempatan baik bagi kontraktor untuk meminta klarifikasi mengenai
hal-hal yang kurang jelas, atau alternatif - alternatif pekerjaan.
Menentukan Saat Membuat Penawaran

Keputusan untuk membuat (atau tidak) penawaran atas proyek didasarkan pada kenyataan-
kenyataan yang dikumpulkan oleh estimator, analisis resiko dan apakah proyek tersebut sesuai
dengan rencana strategis perusahaan.

Pertimbangan Strategi Penawaran

Teknik yang dipakai dalam strategi penawaran dapat terdiri atas metode konstruksi yang lebih baik,
pengetahuan atas saingan lain, pengetahuan akan kebutuhan pemilik proyek, keberhasilan dalam
proyek sejenis, dan pengalaman dalam membangun proyek berkualitas secara aman.

Permintaan Daftar Harga dari Para Penyalur Material dan Sub-Kontraktor

Hal ini diperlukan untuk mendapatkan harga yang akurat dari material dan pekerjaan yang disub-
kontrakkan.

Membangun Metode Konstruksi, Perencanaan, dan Penjadwalan.

Estimasi harus merefleksikan metode konstruksi mengingat masing-masing metode mempunyai


tingkat produktivitas dan persyaratan peralatan yang berbeda.

Persyaratan Jaminan, Asuransi, dan Biayanya

Estimator perlu memasukkan biaya asuransi dan jaminan dalam penawaran. Dalam spesifikasi
ditetapkan jenis asuransi dan jaminan yang diinginkan pemilik proyek. Estimator juga perlu
menambahkan surat kuasa dari perusahaan penanggung jawab dalam jaminan penawaran.

Mempersiapkan Penelaahan atas Spesifikasi

Estimator perlu melakukan penelaahan atas spesifikasi sebelum menelaah kuantitas hal yang perlu
diperhatikan adalah :

1. Pelayanan yang disediakan kontraktor seperti kantor lapangan untuk arsitek dan penyedia
telepon.

2. Daftar nama arsitek dan penyedia telepon.

3. Persyaratan material dengan kinerja khusus.

4. Persyaratan tahap konstruksi khusus dari pemilik.

Mempersiapkan Penelaahan atas Kuantitas

Estimator perlu mempelajari ukuran dan karakteristik fisik material, dampaknya terhadap tenaga
kerja, dan jenis peralatan yang diperlukan untuk pemakaian material terpilih.
Penelaahan Kuantitas Material yang Urut dan Konsisten

Estimator umumnya mengurutkan berdasarkan porsi terbesar dari pekerjaan sehingga didapatkan
gambaran umum tentang suatu proyek, serta perlu konsisten dalam penelaahan :

1. Nomor harus ditulis dalam urutan yang sama.

2. Beri tanda cek untuk bagian dalam gambar yang telah ditelaah.

3. Konsisten terhadap dimensi.

4. Hindari menskalakan gambar.

Satuan Pengukuran

Satuan pengukuran dipakai untuk menghitung kuantitas, harus dapat menunjukkan penilaian yang
tepat.

Mengukur Perhitungan

Kalkulasi dari estimasi harus akurat dan efisien. Estimator harus mempunyai pengetahuan yang luas
mengenai matematika dasar. Hal ini mencakup aljabar, geometri, trogonometri, konversi angka dan
hukum-hukum matematika.

Beberapa hal mengenai kalkulasi yang perlu diperhatikan :

1. Perhitungan awal perlu dibuat atas ukuran bangunan keseluruhan. Perhitungan berdasarkan
batas-batas bangunan, tinggi bangunan total, dan luas bangunan total perlu dilakukan untuk
membantu penentuan keputusan apakah penawaran akan dilakukan atau tidak.

2. Perhitungan dedukatif dapat mengurangi waktu dan energi. Luas dinding dapat dihitung
dengan menjumlahkan luas-luas bagian-bagian elemen solid atau dengan menghitung
dinding secara keseluruhan, kemudian dikurangi luas void (pintu dan jendela).

3. Konversi angka-angka perlu dilakukan jika untuk satu jenis material terdapat lebih dari satu
dimensi satuan dan perbedaan penulisan angka. Estimator perlu membuat konversi dan
memakai pecahan desimal untuk memudahkan.

4. Pembulatan angka umumnya sebesar dua desimal di belakang koma.

5. Menentukan jumlah material yang akan terbuang perlu dilakukan di akhir estimasi.
Estimator perlu melakukan perhitungan ini karena : a) Ukuran material yang tersedia tidak
sesuai dengan yang diperlukan (misal jika diperlukan 10 balok kayu dengan panjang 4 meter
sementara ukuran standar 5 m, maka akan tersisa 10 balok kayu dengan panjang 1 m),
b) Tempat pemasangan yang berbeda-beda (misal beton yang digunakan untuk fondasi
akan lebih banyak terbuang dibanding beton untuk dinding disebabkan oleh ketidak-stabilan
tanah untuk fondasi), c) Peralatan atau prosedur penempatan material menyebabkan
material terbuang. d) Prosedur manajemen material yang kurang baik(seperti pekerjaan
ulang, kesalahan pembelian).
SUMBER REFERENSI :

Wulfram I. Ervianto. 2007. Cara Tepat Menghitung Biaya Bangunan. Yogyakarta : CV. ANDI OFFSET