Você está na página 1de 5

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Exercise therapy (Terapi latihan).

Terapi latihan adalah salah satu modalitas fisioterapi dengan menggunakan gerak tubuh
baik secara aktif maupun pasif untuk pemeliharaan dan perbaikan kekuatan, ketahanan
dan kemampuan kardiovaskuler, mobilitas dan fleksibilitas, stabilitas, rileksasi,
koordinasi, keseimbangan dan kemampuan fungsional. Teknik terapi latihan ini
merupakan teknik fisioterapi yang paling sering dipergunakan terutama pada keadaan
kronis. Pada penggunaannya, jenis, frekuensi, intensitas dan durasi latihan ditentukan
berdasarkan pemeriksaan fisik. Jenis latihan yang dapat dilakukan berupa latihan
isometric, isotonic, aerobik maupun latihan akuatik. Jenis jenis latihan ini biasanya
bertujuan untuk memperbaiki jangkauan gerak, meningkatkan kekuatan, koordinasi,
ketahanan, keseimbangan dan postur. Latihan dapat dilakukan secara aktif dimana
penderita mengontrol sendiri gerakannya tanpa bantuan orang lain ataupun pasif dimana
gerakan dilakukan berdasarkan bantuan dari ahli fisioterapi. Terapi latihan dapat
dilakukan pada fase rehabilitasi berbagai jenis kelainan seperti stroke, penggantian sendi
maupun penuaan. Terapi ini dimaksudkan untuk mengembalikan fungsi sekaligus
memberi penguatan dan pemeliharaan gerak agar bisa kembali normal atau setidaknya
mendekati kondisi normal. Kepada anak, akan diberikan latihan memegang maupun
menggerakkan tangan dan kakinya. Setelah mampu, akan dilanjutkan dengan latihan
mobilisasi, dimulai dengan berdiri, melangkah, berjalan, lari kecil, dan seterusnya.

Pada kasus patah kaki, contohnya, akan dilakukan fisioterapi secara bertahap, kapan si
anak harus sedikit menapak sampai bisa menapak penuh.

Latihan-latihan yang diberikan bertujuan mempertahankan kekuatan otot-otot dan


kemampuan fungsionalnya dengan mempertahankan sendi-sendinya agar tak menjadi
kaku. Hal ini perlu dilakukan karena kaki patah yang dipasangi gips umumnya akan
mengalami pengecilan otot, sehingga kekuatannya pun berkurang. Lewat terapi yang
dilakukan sambil bermain akan kelihatan bagian mana yang mengalami penurunan fungsi.

B. Tujuan
Secara keselutuhan, terapi latihan (exercise therapy)
merupakan aktivitas fisik yang sistematis dan bertujuan untuk :

Memperbaiki atau mencegah gangguan fungsi tubuh


Memperbaiki kecacatan
Mencegah atau mengurangi faktor resiko gangguan kesehatan
Mengoptimalkan status kesehatan dan kebugaran
Mengembangkan, memperbaiki, menjaga kekuatan otot, daya tahan otot dan
kebugaran kardiovaskuler, mobilitas dan fleksibilitas sendi, stabilitas sendi, relaksasi
otot , koordinasi dan keseimbangan.

Terapi latihan dirancang untuk menyesuaikan kebutuhan individual setiap penderita


dengan tujuan utama mengoptimalkan fungsi tubuh. Fungsi tubuh dalam hal ini berkaitan
dengan beberapa parameter seperti keseimbangan, kebugaran kardiorespirasi, koordinasi,
fleksibilitas, mobilitas, kontrol motorik, kontrol neuromuskular, kontrol postural dan
stabilitas.

C. Teknik teknik dalam terapi latihan

a) GERAKAN PASIF ( PASSIVE MOVEMENT )

1. Relaxed Pasive Movement ( RPM )

Merupakan gerakan yang murni berasal dari luar atau terapis tanpa disertai gerakan
dan tanpa diikuti kerja otot dari bagian anggota tubuh pasien. Gerakan ini bertujuan
untuk melatih otot secara pasif, oleh karena gerakan berasal dari luar atau terapis
sehingga dengan gerak relaxed passive movement ini diharapkan otot yang dilatih
menjadi rilek maka menyebabkan efek pengurangan atau penurunan nyeri akibat incisi
serta mencegah terjadinya keterbatasan gerak serta menjaga elastisitas otot.
Efek dan kegunaan RPM :

Mencegah proses perlengketan jaringan untuk memelihara kebebasan gerak sendi.


Mendidik kembali pola gerakan dengan stimulasi pada propioceptor.
Memelihara ekstensibilitas otot dan mencegah pemendekan otot.
Memeperbaiki/memperlancar sirkulasi darah/limfe.
Rileksasi.

2. Forced Passive Movement ( FPM )

Adalah gerakan yang terjadi oleh karena kekuatan dari luar tanpa diikuti kerja otot
tubuh itu sendiri tetapi pada akhirnya gerakan diberikan penekanan. Forced passive
movement merupakan teknik latihan yang pada dasarnya adalah latihan passif
sehingga perlu diperhatikan ketentuan melakukan passive movement sebelum
melakukan latihan yaitu :
1) Bagian yang tidak digerakan harus di suport dengan baik.
2) Bagian yang akan digerakan harus di pegang dengan benar .
3) Gerakan yang terjadi dapat dari distal ke proksimal atau sebaliknya.
4) Pegangan pada bagian kulit yang tertarik harus memudahkan mencegah tarikan
yang berlebihan.
5) Pegangan harus dekat dengan sendi untuk memberikan gerakan yang
memungkinkan.
6) Gerakan yang terjadi pada sendi memungkinkan memberikan slight traksi dan
tekanan harus mempunyai pengaruh dorongan pada jarak ekstremitas.
7) Gerakan harus halus dan teratur, pengulangan gerakan diberikan dengan selang
waktu (tempo).
8) Pengubahan pegangan harus dilakkukan dengan halus dan posisi pengaturan
tangan atau pegangan seminimal mungkin yang diperlukan

Sebelum memberikan latihan forced passive movement pasien diberikan penyinaran


infra merah sebagai persiapan latihan.

Efek dan kegunaan :


Membebaskan perlengketan jaringan, mencegah pemendekan struktur sekitar sendi ,
menjaga elastisitas jaringan, mencegah kontraktur dan mengurangi nyeri.

b) GERAKAN AKTIF ( ACTIVE MOVEMENT )

1. Free Active Movement


Free active movement merupakan bagian dari active movement yang dihasilkan oleh
kontraksi otot yang melawan gaya gravitasi pada bagian tubuh yang bergerak, tanpa
adanya bantuan atau tenaga dari luar, dengan tujuan sebagai mobilisasi, rileksasi dan
sebagai persiapan untuk latihan selanjutnya.
Klasifikasi :
a. Lokal exercise
Ditujukan untuk mendapatkan efek lokal mobilisasi sendi tertentu atau penguatan
grup otot tertentu.
b. General exercise
Ditujukan untuk meningkatkan kebugaran, melibatkan banyak sendi dan grup-
grup otot efek yang luas.

Sifat latihan :
a. Subyektive exercise
Gerakan dilakukan dalam LGS penuh ( Full ROM ) dan meliputi satu atau banyak
sendi.
Perhatian penderita dipusatkan untuk terselenggaranya gerakan yang baik dan
ketepatan penyelenggaraan gerakan.
b. Obyektive exercise
Latihan tidak ditujukan pada pembentukan gerakkan, tetapi pada suatu obyek
tertentu.

Keuntungan :

Bisa dilakukan sendiri oleh penderita.


Akan menimbulkan kepercayaan diri si penderita, bahwa sudah bisa bergerak.

Kerugian :

Bila kekuatan otot tak seimbang akan menyebabkan suatu gerakan yang tidak
terkoordinir dengan baik

2. Assisted Active Movement

Yaitu bentuk latihan dimana gerakan yang terjadi akibat kontraksi otot yang
bersangkutan dan mendapat bantuan dari luar. Apabila kerja otot tidak cukup kuat
untuk melakukan suatu gerakan maka diperlukan kekuatan dari luar. Kekuatan tersebut
harus diberikan dengan arah yang sesuai dengan kerja otot.

Efek dan kegunaan :

Memberikan stimulasi tentang gerakan yang disadari.


Memberikan stimulasi terhadap ingatan ( memory ) dengan cara pasien melihat
gerakan yang bersangkutan.
Mengembalikan kepercayaan penderita.
Meningkatkan/mempertahankan lingkup gerak sendi (LGS).
Meningkatkan kekuatan otot.

3. Resisted Active Movement

Resisted active movement merupakan bagian dari active movement di mana terjadi
kontraksi otot secara statik maupun dinamik dengan diberikan tahanan dari luar,
dengan tujuan meningkatkan kekuatan otot dan meningkatkan daya tahan otot.
Tahanan dari luar bisa manual atau mekanik.

Tahanan manual adalah tahanan yang kekuatannya berasal dari terapis dengan
besarnya tahanan disesuaikan dengan kemampuan pasien dan besarnya beban tahanan
yang diberikan tidak dapat diukur secara kuantitatif, sedangkan tahanan mekanik
adalah tahanan dengan besar beban menggunakan peralatan mekanik, dimana jumlah
besarnya tahanan dapat diukur secara kuantitatif. Pemberian tahanan mekanik dapat
menggunakan quadriceps setting exercise dengan alat quadriceps banch, dimana
penentuan besarnya tahanan beban dan pengulangan ditentukan dengan menggunakan
tes submaksimal. Tes submaksimal yaitu tes untuk memperkirakan kekuatan maksimal,
dengan menggunakan Diagram Holten.

Ada pun teknik-teknik dalam terapi latihan lainnya :

RANGE OF MOTION (ROM)

Adalah latihan gerakan sendi yang memungkinkan terjadinya kontraksi dan pergerakan
otot, dimana klien menggerakan masing-masing persendiannya sesuai gerakan normal
baik secara aktif ataupun pasif (Potter and Perry, 2006).

Bobath

Terapi ini pertama kali diperkenalkan oleh Bertha Bobath. Terapi ini dikenal nama NDT
(Neuro Developmental Treatment). Dasar pengobatan bobath ialah perkembangan
motoris yang normal, dimana righting reaction dan keseimbangan merupakan faktor yang
sangat penting. Prinsip pengobatannya ialah fasilitasi, inhibisi dan stimulasi.