Você está na página 1de 26

IJTIHAD SUMBER DAN METODOLOGI HUKUM ISLAM

Oleh: Dandy Permana Putra dan Disa May Nabila

NIM.4316030013 NIM. 4316030014

ABSTRAK

Ijtihad sebagai prinsip gerak dalam struktur Islam memiliki signifikansi


tersendiri dalam khazanah Islam, baik dalam ranah historis maupun konteks
perdebatan metodologis. Dalam ranah historis, ijtihad menjadi sebuah perangkat
metodologis yang identik dengan proses pengambilan keputusan hukum (syariah
fiqh). Sementara dalam ranah metodologis, dalam usaha memberikan jawaban
atas suatu masalah ketika Al-Quran dan sunnah diam tidak memberi jawaban,
maka pengerahan pikiran dan intelegensi benar-benar diupayakan demi
menangkap maksud sesungguhnya yang diinginkan oleh teks dan maslahat.
Secara istilah ijtihad merupakan upaya untuk menggali suatu hukum yang
sudah ada pada zaman Rasulullah Saw. Hingga dalam perkembangannya, ijtihad
dilakukan oleh para sahabat, tabiin serta masa-masa selanjutnya hingga sekarang ini.
Meskipun pada periode tertentu apa yang kita kenal dengan masa taklid, ijtihad tidak
diperbolehkan, tetapi pada masa periode tertentu pula (kebangkitan atau pembaruan),
ijtihad mulai dibuka kembali. Karena tidak bisa dipungkiri, ijtihad adalah suatu
keharusan, untuk menanggapi tantangan kehidupan yang semakin kompleks. Tidak
semua hasil ijtihad merupakan pembaruan bagi ijtihad yang lama sebab ada kalanya
hasil ijtihad yang baru sama dengan hasil ijtihad yang lama. Bahkan sekalipun
berbeda hasil ijtihad baru tidak bisa mengubah status ijtihad yang lama. Hal itu
seiring dengan kaidah ijtihad yang tidak dapat dibatalkan dengan ijtihad pula.

1
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Islam sebagai agama yang berlaku abadi dan berlaku untuk seluruh umat
manusia mempunyai sumber yang lengkap pula. Sebagaimana diuraikan di awal
bahwa sumber ajaran islam adalah Al-Quran dan Sunnah yang sangat lengkap.
Seperti diketahui bahwa Al-Quran adalah merupakan sumber ajaran yang
bersifat pedoman pokok dan global, sedangkan penjelasannya banyak diterangkan
dan dilengkapi oleh Sunnah secarakomprehensif, memerlukan penelaahan dan
pengkajian ilmiah yang sungguh-sungguh serta berkesinambungan.
Dilihat dari fungsinya ijtihad berperan sebagai penyalur kretifitas pribadi
atau kelompok dalam merespon peristiwa yang dihadapi sesuai dengan
pengalaman mereka. Ijtihad juga berperan sebagai interpreter terhadap dalil-dalil
yang zhanni al-wurud atau zhanni ad-dalalah. Ijtihad diperlukan untuk
menumbuhkan ruh islam dan berperan sebagai penyalur kretifitas pribadi.[1]
Dalam ranah historis, ijtihad menjadi sebuah perangkat metodologis yang
[2]
indentik dengan proses pengambilan keputusan hukum. Sedangkan Ijtihad
dalam pendidikan harus tetap bersumber dari Al-quran dan sunnah yang di olah
oleh akal yang sehat dari para ahli pendidikan islam. Ijtihad tersebut haruslah
dalam hal-hal yang berhubungan langsung dengan kebutuhan hidup di suatu
tempat pada kondisi dan situasi tertentu. Teori-teori pendidikan baru hasil ijtihad
harus di kaitkan dengan ajaran Islam dan kebutuhan hidup.[3]

1. Paramitha-Dona, Ijtihad Sebagai Sumber Ajaran Islam


http://dokumen.tips/documents/ijtihad-sebagai-sumber-ajaran-islamdoc.html
2. Damanhuri, Ijtihad Hermeneutis (Yogyakarta, IRCiSoD, 2016) , hlm 11
3. Al-Jadyid, Ijtihad Sebagai Sumber Dan Metode Study Islam http://al-
jadiyd.blogspot.co.id/2013/11/ijtihad-sebagai-sumber-dan-metode-study.html

2
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian ijtihad?
2. Apakah sumber hukum ijtihad?
3. Bagaimanakah syarat-syarat seorang mujtahid ?
4. Apa sajakah metodologi ijtihad?
5. Apasajakah bentuk-bentuk Ijtihad?
6. Apa sajakah model ijtihad dalam khazanah islam?

C. Tujuan Penulisan
1. Memperluas wawasan tentang apa itu ijtihad.
2. Mengetahui apasaja sumber hukum ijtihad, syarat-syarat seorang mujtahid,
metodologi ijtihad, dan model-model ijtihad

D. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian kami adalah kepustakaan, karena yang dijadikan obyek
kajian adalah hasil karya tulis yang merupakan hasil pemikiran.

2. Sumber Data

Sumber data kami dapatkan dari dua macam, yaitu dari buku ijtihad
hermeneutis karya damanhuri dan browsing dari situs internet.

3. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data yang kami lakukan dalam penelitian ini adalah
dengan mencari dan mengumpulkan buku yang menjadi sumber bahan materi
kami dan menambahkannya dari situs internet. Setalah data terkumpul, maka
dilakukan penelaahan dalam hubungannya dengan materi yang sedang kami
diteliti, sehingga diperoleh informasi yang benar.

E. Sistematika Penulisan

3
Bab I adalah pendahuluan yang berisi Latar belakang, Rumusan masalah
,Tujuan Penulisan , Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan
Bab II adalah pembahasan yang mengemukakan tentang kumpulan
wawasan tentang ijtihad terdiri dari lima sub bab, yaitu: Pertama pengertian
ijtihad , kedua sumber hukum ijtihad, ketiga syarat-syarat mujtahid,keempat
metodologi ijtihad, dan kelima model-model ijtihad dalam khazanah islam
Bab III adalah penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

4
BAB II PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN IJTIHAD
Ijtihad secara harfiah (lugawi;etimologi) berasal dari kata Al Jahd yang
[4]
berarti usaha keras, tekun, atau sungguh-sungguh. Kata Al Jahd mempunyai
implikasi pada masalah-masalah yang didalamnya terdapat unsur memberatkan
atau menyulitkanh, dan tidak tepat jika digunakan pada masalah-masalah
berimplikasi ringan dan mudah. [5]
Al Jahd mengandung arti badzlu Al-wasi wa
Al-Thaqati mencurahkan kemampuan atau upaya sungguh-sungguh seperti yang
terdapat pada surat an-Nuur (24) ayat 53:






























Artinya :
Dan mereka bersumpah dengan nama Allah sekuat-kuat sumpah, jika
kamu suruh mereka berperang, pastilah mereka akan pergi. Katakanlah:
"Janganlah kamu bersumpah, (karena ketaatan yang diminta ialah) ketaatan
yang sudah dikenal. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.
Dari segi bahasa,Ijtihad ialah mengerjakan sesuatu dengan segala
kesungguhan. Perkataan ijtihad tidak digunakan kecuali untuk perbuatan yang
harus dilakukan dengan susah payah.

5
4. Muhammad Amin, Ijtihad Ibn Taimiyyah Dalam Bidang Fikih Islam (Jakarta:
INIS,1991), hlm 40.
5. Damanhuri, Ijtihad Hermeneutis (Yogyakarta, IRCiSoD, 2016) , hlm 22
Adapun ijtihad secara istilah cukup beragam dikemukakan oleh ulama
usul fiqh. Namun secara umum adalah aktivitas untuk memperoleh pengetahuan
(istinbath) hukum syara dari dalil terperinci dalam syariat.
Dengan kata lain, ijtihad adalah pengerahan segala kesanggupan seorang
faqih (pakar fiqih Islam) untuk memperoleh pengetahuan tentang hukum sesuatu
melalui dalil syara (agama).

Sedangkan pemgertian ijtihad menurut para ahli yaitu :

1. Yusuf Qardlawi adalah mencurahkan semua kemampuan dalam segala


perbuatan. Penggunaan kata ijtihad hanya terhadap masalah-masalah penting yang
memerlukan banyak perhatian dan tenaga.
2. Menurut Mayoritas Ulama Ushul ialah pengerahan segenap kesanggupan
oleh seorang ahli fiqh atau mujtahid untuk memperoleh pengertian tingkat zhann
mengenai sesuatu hukum syara, ini menunjukkan bahwa fungsi ijtihad yaitu
untuk mengeluarkan hukum syara amaliy statusnya zhaanny. Dengan demikian
Ijtihad tidak berlaku dibidang akidah dan akhlak.
3. Menurut Hanafi, Pengertian Ijtihad adalah mencurahkan tenaga (memeras
pikiran) untuk menemukan hukum agama (Syara) melalui salah satu dalil syara
dan dengan cara-cara tertentu.
4. Imamal-Gazali mengungkapkan, Pengertian Ijtihad merupakan upaya
maksimal seorang mujtahid dalam mendapatkan pengetahuan tentang hukum-
hukum syara.

B. SUMBER HUKUM IJTIHAD


1. Firman Allah dalam Surat An-Nisa' Ayat 59

Artinya :
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya),
dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya),
jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian
itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

2. Firman Allah dalam Surat an-Nisa:83

Artinya :
Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan
ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka
menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-
orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari
mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah
kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di
antaramu).

C. Firman Allah dalam Surat an-Nisa:105

8








Artinya :
Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan
membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang
telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang
yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.

D. Sabda Nabi Muhammad SAW

]6[

Artinya :

9
Dan dari Amr bin Ash bahwa ia pernah mendengar Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Jika seorang hakim bergegas memutus
perkara tentu ia melakukan ijtihad dan bila benar hasil ijtihadnya akan
mendapatkan dua pahala . Jika ia bergegas memutus perkara tentu ia melakukan
ijtihad dan ternyata hasilnya salah , maka ia mendapat satu pahala (HR. Asy-
Syafii dari Amr bin Ash)[7]

6. La Ode Ahmad, Domain Fikih Kebaikan Ijtihad


http://www.laodeahmad.com/2016/01/domain-fikih-dan-kebaikan-ijtihad.html
7. Abd Wafi Has, Ijtihad Sebagai Alat Pemecahan Masalah Umat Islam (2013)

C. SYARAT-SYARAT MUJTAHID
Orang-orang yang mampu berijtihad disebut mujtahid. Agar ijtihadnya
dapat di pertanggungjawabkan, seorang mujtahid harus memenuhi beberapa
persyaratan. Di bawah ini ada 3 ulama-ulama terkemuka yang berargument
mengenai pensyaratan terhadap sesorang mujtahid diantaranya adalah sebagai
berikut: [8]
A. Imam ghozali mensyaratkan terhadap seorang mujtahid ada dua hal,
diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Seorang mujtahid harus mengetahui tentang hukum-hukum syara, tidak


hanya itu, seorang mujtahid juga di tuntut untuk mendahulukan sesuatu yang
wajib di dahulukan dan mengakhirkan sesuatu yang wajib di akhirkan.
2. Seorang mujtahid harus adil dan juga harus menjauhi perbutan masiat yang
bisa menghilangkan sifat keadilan seorang mujtahid. Syarat ini bisa untuk menjadi
pegangan oleh para mujtahid, tapi kalau seorang mujtahid tidak adil maka hasil
ijtihadnya tidak syah atau tidak boleh untuk di jadikan sebuah pegangan oleh
orang awam.

10
B. Imam As-Syatiby : seorang yang ingin mencapai derajat mujtahid harus bisa
memenuhi dua syarat di bawah ini:
1. Bisa memahami tujuan syariat secara sempurna,
2. Bisa menggali suatu hukum atas dasar pemahaman seorang mujtahid.

C. Sayf al-Din al-Amidi seorang mujtahid harus memenuhi beberapa syarat di


antaranya adalah sebagai berikut:

1. Seorang mujtahid harus mukallaf, iman kepada allah SWT dan Rasulullah
SAW.
2. Seorang mujtahid harus bisa memahami dan mengerti tentang hukum
syariat islam serta dalil yang menunjukan pada keabsahan hukum syariat tersebut.

Selain dari pendapat 3 ulama terkemuka tersebut para ulama ushul fiqih
juga telah menetapkan syarat-syarat yang harus di penuhi oleh seorang mujtahid
sebelum melakukan ijtihad diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui Bahasa Arab dengan Baik.


2. Mempunyai pengetahuan yang Mendalam tentang Al-Quran.
3. Mempunyai Pengetahuan yang Memadai tentang As-Sunnah.
4. Mengetahui Letak dan Khilaf.
Pengetahuan tentang hal-hal yang telah di sepakati(ijma) dan hal-hal yang
masih di perselisihkan (khilaf) mutlak diperlukan bagib seorang mujtahid. Halz ini
di maksudkan agar seorang mujtahid tidak menetapkan hukum yang dengan ijma
para ulama sebelumnya, baik sahabat, tabiin maupun generasi setelah itu. Oleh
karena itu sebelum membahas suatu permasalahan, seorang mujtahid harus
melihat dulu status persoalan yang akan di bahas,apakah persoalan itu sudah
pernah muncul pada zaman dahulu apa belum , maka dapat di pastikan bahwa
belum ada ijma terhadap masalah tesebut.

5. Mengatahui Tujuan dari Syariat Islam.

11
Pengetahuan tentang tujuan syariat islam sangatlah di perlukan bagi
seoarang mujtahid, hal ini di sebabkan karena semua keputusan hukum harus
selaras dengan tujuan syariat islam yang secara garis besar adalah untuk memberi
rahmat kepada alam semesta, khususnya untuk kemaslahatan umat manusia. Oleh
karena itu hukum yang di tetapkan seoarang mutahid harus mampu memelihara
tiga tingkatan kemaslahatan manusia yaitu primer, skunder, dan tersier. Seperti
menghilangkan kesulitan dan mencegah kesempitan, serta memilih kemudahan
dan meninggalkan kesukaran. Jika kesukaran (masaqah) terpaksa di berlakukan
dalam tuntutan syariat islam, maka pada hakikatnya hal itu untuk menolak
datangnya masaqah yang lebih besar.
8. Maz Mujib, Syarat Syarat Mujtahid Dan Ijtihad Masa
Sekarang.http://tarbiyyah-blog.blogspot.co.id/2012/04/syarat-syarat-mujtahid-
dan-ijtihad-masa.ht
6. Memiliki Pemahaman dan Penalaran yang Benar.
Pemahaman dan penalaran yang benar merupakan modal dasar yang harus
di miliki oleh seorang mujtahid agar produk ijtihadnya bisa di pertanggung
jawabkan secara ilmiah di kalangan masyarakat.

7. Memiliki pengetahuan tentang Ushul Fiqih.


Penguasaan secara mendalam tantang ushul fiqih merupakan kewajiban
setiap mujtahid. Hal ini di sebabkan karena kajian ushul fiqih antara lain memuat
bahasan mengenai metode ijtihad yang harus di kuasai oleh siapa saja yang ingin
beristimbat hukum.

8. Mengetahui tentang Manusia dan Lingkungan Sekitarnya.


Seorang mujtahid di haruskan untuk mengetahui kehidupan manusia dan
lingkungan sekitarnya, hal ini di sebabkan karena seseorang tidak mungkin
memutuskan suatu hukum tanpa di pengaruhi oleh obyek hukum baik individu
maupun masyarakat.

9. Niat dan Itiqad yang benar.

12
Seorang mujtahid harus niat ikhlas dengan mencari ridho allah SWT, hal
ini di sebabkan karena seorang mujtahid yang mempunyai niat tidak ikhlas
sekalipun daya pikirnya tinggi, maka peluang untuk membelokan jalan pikirannya
sangat besar sehingga berakibat kesalahan produk ijtihadnya.

D. BENTUK IJTIHAD

1. Ijtihad Fardi
Yaitu Setiap ijtihad yang dilakukan oleh perorangan atau beberapa orang
tak ada keterangan bahwa semua mujtahid lainnya menyetujuinya dalam suatu
perkara.
Ijtihad semacam inilah yang pernah dibenarkan oleh rasul kepada Muaz
ketika menggutus beliau untuk menjadi qadhi di yaman dan sesuai pula yang
pernah dilakukan Umar bin khatap kepada Abu Musa Al-Asyary, kepada
Syuraikh dimana beliau (Umar) dengan tegas mengatakan kepada Syuraikh yang
artinya:

Apa-apa yang belum jelas bagimu didalam as-sunah maka berijtihadlah


padanya dengan menggunakan daya pikiranmu.

Dan kata Umar kepada Abu Musa Al-Asyary yang artinya:

Kenalilah penyerupaan-penyerupaandan tamsilan-tamsilan dan qiyaskanlah


segala urusan sesudah itu.

2. Ijtihad Jamii
Yaitu setiap Ijtiihad yang dilakukan oleh para mujtahid untuk menyatukan
pendapat-pendapatnya dalam suatu masalah .Terdapat korelasi diantara keduanya
bahawa tidak mungkin akan terjadinya Ijtihad Jamai apabila tidak dilakukan
terlebih dahulu ijtihad yang bersifat Fardi. Karena Ijtihad JamaI itu adalah suatu
metode ijtihad yang dilakukan untuk menyatukan semua pendapat yang dihasilkan

13
dari ijtihad Fardi tersebut, dan mencari titik temu dari semua perbezaan tersebut
[9]
sebagaimana yang diutarakan diatas. Ijtihad semacam ini yang dimaksud oleh
hadist Ali pada waktu beliau menanyakan kepada rasul tentang urusan yang
menimpa masyarakat tidak diketemukan hukumnya dalam Al-Quran dan sunah.
Ketika itu nabi bersabda yang artinya :

Kumpulkanlah untuk menghadapi masalah itu orang-orang yang berilmu dari


masing-masing orang mumin dan jadikanlah hal ini masalah yang
dimusyawarahkan diantara kamu dan janganlah kamu memutuskan hal itu
dengan pendapat orang seorang. (HR. Ibnu Abd barr)
9. Ahmad Zamani, Ijtihad Fardi dan Jamai
http://guruselangor.blogspot.co.id/2013/05/setiap-manusia-perlukan-sesuatu-
untuk.html
Disamping itu Umar juga pernah berkata kepada Syuraikh yang artinya :
Dan bermusyawarahlah (bertukar pikiran) dengan orang-orang sholeh.
Diriwayatkan oleh Maimun bin Mihran bahwasanya Abu bakar dan Umar
apabila keduanya menghadapi sesuatu hal yang tidak ada hukumnya didalam Al-
Quran dan sunah maka keduanya mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat dan
menanyakan pendapat-pendapat mereka. Apabila mereka telah menyepakati
sesuatu pendapat merekapun menyelesaikan hal itu dengan pendapat itu.

E. METODOLOGI IJTIHAD
1. Istihsan
Istihsan menurut bahasa berarti menganggap baik atau mencari yang baik.
Menurut ulama ushul fiqh, ialah meninggalkan hukum yang telah ditetapkan pada
suatu peristiwa atau kejadian yang ditetapkan berdasar dalil syara', menuju
(menetapkan) hukum lain dari peristiwa atau kejadian itu juga, karena ada suatu
dalil syara' yang mengharuskan untuk meninggalkannya. Dalil yang terakhir
disebut sandaran istihsan. Mujtahid yang dikenal banyak memakai ishtihsan
dalam meng-istinbath-kan hukum adalah Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi).

14
Istihsan berbeda dengan qiyas. Pada qiyas ada dua peristiwa atau kejadian.
Peristiwa atau kejadian pertama belum ditetapkan hukumnya karena tidak ada
nash yang dapat dijadikan dasarnya. Untuk menetapkan hukumnya dicari
peristiwa atau kejadian yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasarkan
nash dan mempunyai persamaan 'illat dengan peristiwa pertama. Berdasarkan
persamaan 'illat itu ditetapkanlah hukum peristiwa pertama sama dengan hukum
peristiwa kedua. Sedang pada istihsan hanya ada satu peristiwa atau kejadian.
Mula-mula peristiwa atau kejadian itu telah ditetapkan hukumnya berdasar nash.
Kemudian ditemukan nash yang lain yang mengharuskan untuk meninggalkan
hukum dari peristiwa atau kejadian yang telah ditetapkan itu, pindah kepada
hukum lain, sekalipun dalil pertama dianggap kuat, tetapi kepentingan
menghendaki perpindahan hukum itu. Dengan perkataan lain bahwa pada qiyas
yang dicari seorang mujtahid ialah persamaan 'illat dari dua peristiwa atau
kejadian, sedang pada istihsan yang dicari ialah dalil mana yang paling tepat
digunakan untuk menetapkan hukum dari satu peristiwa.

2. al-Maslahatul Mursalah
Al-mashlahatul mursalah adalah suatu kemaslahatan yang tidak
disinggung oleh syara' dan tidak pula terdapat dalil-dalil yang menyuruh untuk
mengerjakan atau meninggalkannya, sedang jika dikerjakan akan mendatangkan
kebaikan yang besar atau kemaslahatan. Mashlahat mursalah disebut juga
mashlahat yang mutlak karena tidak ada dalil yang mengakui kesahan atau
kebatalannya. Jadi pembentuk hukum dengan cara mashlahat mursalah semata-
mata untuk mewujudkan kemaslahatan manusia dengan arti untuk mendatangkan
manfaat dan menolak kemudharatan dan kerusakan bagi manusia. Mujtahid yang
dikenal banyak menggunakan metode al-maslahah al-mursalah adalah Imam
Hanbali dan Imam Malik.

3. Istishhab
'Istishhab menurut bahasa berarti "mencari sesuatu yang ada
hubungannya." Menurut istilah ulama ushul fiqh, ialah tetap berpegang kepada

15
hukum yang telah ada dari suatu peristiwa atau kejadian sampai ada dalil yang
mengubah hukum tersebut. Atau dengan perkataan lain, ialah menyatakan
tetapnya hukum pada masa yang lalu hingga ada dalil yang mengubah ketetapan
hukum itu.
Menurut Ibnu Qayyim, istishhab ialah menyatakan tetap berlakunya
hukum yang telah ada dari suatu peristiwa, atau menyatakan belum adanya hukum
suatu peristiwa yang belum pernah ditetapkan hukumnya. Sedang menurut asy-
Syathibi, istishhab ialah segala ketetapan yang telah ditetapkan pada masa lampau
dan dinyatakan tetap berlaku hukumnya pada masa sekarang.
Dari pengertian istishhab yang dikemukakan Ibnu Qayyim di atas, dipahami
bahwa istishhab itu terbagai kepada dua macam;
i. Segala hukum yang telah ditetapkan pada masa lalu, dinyatakan tetap berlaku
pada masa sekarang, kecuali kalau ada yang mengubahnya. Berdasarkan
pengertian ini, istishhab merupakan salah satu produk hukum.
ii. Menetapkan segala hukum yang ada pada masa sekarang, berdasarkan
ketetapan hukum pada masa yang lalu. Berdasarkan pengertian ini, istishhab
merupakan proses penetapan hukum.

F. MODEL-MODEL IJTIHAD DALAM KHAZANAH ISLAM

Model ijtihad yang pernah ada bisa dieksplorasi dan digunakan sebagai
suatu proses berkelanjutan dalam upaya menetapkan suatu keputusan hukum
islam, baik pada masa awal sejarah islam maupun hingga sekarang

A. Ijtihad Rasionalis-Individualis
Ijtihad, atau usaha intelektual yang bersifat individual, merupakan
kekuatan penting dalam mengartikulasikan dan menafsirkan hokum Islam, atau
syariat. Ijtihad merupakan term teknis didalam hukum islam, didalam makana
yang terbatas, digunakan untuk metode penalaran dengan analogi.
Ahmad Hasan juga menegaskan bahwa ijtihad atau proses pemikiran serta
penafsiran ulang hokum secara independen pada priode awal digunakan dengan

16
pengertian yang lebih sempit dan khusus dibandingkan yang digunakan pada masa
Asy-SyafiI dan sesudahnya . Ijtihad mengandung arti pertimbangan bijaksana
yang adil atau pendapat seorang ahli.

B. Ijtihad Tekstualis-Skriptualis
Baru pada periode Asy-Syafii, terutama pada masa kodifikasi, pengertian
baru ijtihad telah mengalami modifikasi dan rumusan metodologi yang lebih
sistematis disertai prasyarat yang ketat . Perumusan ini pada akhirnya
mempengaruhi cara pandang dan penerapan ijtihad pada masa sesudahnya.
Model ijtihad yang digunakan oleh Asy-SyafiI ini, terutama seperti yang
ia jelaskan dalam kitab Ar-Risalah, adalah dengan mengedepankan proses analogi
deduktif atau dengan cara qiyas, yaitu penetapan suatu hukum didasarkan pada
kemiripan antara kasus asal dan kasus cabang, kemudian diambil suatu inferensi.
Dengan demikian, peran teks sumber sebagai pembentuk makna hukum sangat
penting dalam penentuan hokum selanjutnya.
Ijtihad model ini dapat kita jumpai pada periode imam-imam mazhab.
Walau terjadi konflik metodologis antarkubu.
Untuk mempertegas model ijtihad tekstualis-skriptualis ini, dapat dilihat
lebih seksama pada urutan sumber hokum mulai dari Imam Abu Hanifah hingga
Imam Abu Daud azh-Zhahiri Ataupun, cara berijtihad dari masing-masing tokoh
tersebut.

Cara berijtihad Imam Malik, seperti yang dikutip Thaha jabir Fayadl al-
Ulwani, dapat diringkas sebagai berikut:
Mengambil dari al-Quran
Menggunakan zhahir al-Quran, yaitu lafal yang umum
Menggunakan dalil al-Quran, yaitu mafhum al-muwafaqah
Menggunakan mahfum al-Quran, yaitu mahfum mukhalafah
Menggunakan tanbij al-Quran, yaitu memperhatikan illah.

C. Ijtihad Transformatif Humanitis

17
Setelah abad ke-18, orientasi baru pemikiran ijtihad mengalami pergeseran
paradigma yang cukup signifinikan. Hal ini ditandai dengan tuntutan modernitas
yang melanda masyarakat Islam. Sebagai respons terhadap modernitas itu, para
pemikir Islam modern merumuskan gagasan pembaharuan pemikiran islam dan
cara pandang baru terhadap dunia. Munculnya respons ini tidak bisa lepas dari
nilai-nilai yang dibawa modernitas, yang dalam banyak hal mulai menggeser
tradisi kehidupan sebelumnya.

Perlunya pemikiran yang transformatif tersebut tercermin dari berbagai


usaha yang dilakukan oleh para pembaharu abad ke -18 dan seterusnya.

G. IJTIHAD YANG DILAKUKAN OLEH PARA SAHABAT NABI

Betapa pentingnya ijtihad dalam kehidupan umat Islam, menjadikan


Rasulullah SAW harus mengajari dan menyiapkan para sahabatnya untuk menjadi
seorang mujtahid. Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW mengajarkan cara
berijtihad kepada Umar ibn al-Khaththab. Ketika itu Umar datang kepada
Rasulullah SAW menanyakan tentang perihal hukum puasanya setelah dia
mencium istrinya.

Rasulullah SAW bertanya: Apa pendapatmu jika kamu berkumur dengan air
sedang kamu dalam keadaan berpuasa? Maka aku berkata: Tidak mengapa hal
yang demikian. Maka Rasulullah bersabda: Maka untuk apa ada pertanyaan?
(HR. ahmad)

Dalam hadits ini Rasulullah SAW tidak langsung menjawab pertanyaan


yang diajukan Umar. Beliau mencoba untuk mengajarkan kepada Umar salah satu
cara berijtihad yaitu menganalogikan hukum berkumur ketika berpuasa dengan
hukum mencium istri ketika dalam keadaaan berpuasa.

Sahabat Berijtihad di Zaman Nabi SAW

18
Di saat wahyu masih turun. Di saat Rasulullah SAW masih hidup.
Ternyata dalam beberapa keadaan, ijtihad dibutuhkan untuk menyelesaikan
permasalahan yang terjadi. Bahkan di zaman Rasulullah SAW para sahabat juga
sudah berijtihad.

Salah satu contoh ijtihad sahabat di zaman Nabi SAW adalah yang
dilakukan oleh Amr ibn Ash sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Abu
Dawud dalam Sunannya.

Amr ibn Ash menuturkan: Saya bermimpi pada saat malam yang sangat
dingin ketika perang Dzat as-Salasil kemudian saya terbangun. Ketika saya mandi
saya akan mati, sehingga saya bertayammum. Kemudian saya shalat shubuh
dengan para sahabat. Maka mereka melaporkan hal itu kepada Rasulullah SAW.
Beliau SAW bertanya:

Wahai Amr, kamu shalat dengan para sahabatmu sedangkan kamu dalam
keadaan junub?

Amr ibn Ash berkata: Maka saya ceritakan kepada beliau sebab yang
menghalangiku untuk mandi. Kemudian saya katakan: Saya mendengar Allah
SAW berfirman:













Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha
Penyayang kepadamu. (QS. an-Nisa: 29)

Amr ibn Ash berkata: Maka Rasulullah SAW tertawa dan tidak berkata apapun.

19
Dari hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW membenarkan
ijtihad yang dilakukan oleh Amr ibn Ash. Namun ada juga riwayat dimana
Rasulullah SAW menolak ijtihad yang dilakukan oleh sahabatnya.

Dalam sunannya Imam Abu Dawud meriwayatkan bahwa ada salah


seorang sahabat yang mengalami luka di zaman Rasulullah SAW. Kemudian dia
bermimpi dan disuruh oleh para sahabatnya untuk mandi, kemudian dia
meninggal. Berita tersebut sampai kepada Rasulullah SAW, kemudian beliau
bersabda:

Mereka telah membunuhnya, semoga Allah menghukum mereka, bukankah


obatnya tidak tahu adalah bertanya? (HR. Abu Dawud)

Dari hadits Nabi SAW di atas kita ketahui bahwa Rasulullah SAW
mengingkari ijtihad yang dilakukan oleh mereka yang menyuruh sahabat tadi
untuk mendi janabah sedang dia dalam keadaan luka parah. Maka pelajaran
penting dari kisah di atas adalah bahwa yang berhak untuk berijtihad adalah
orang-orang yang sudah terpenuhi syarat-syarat untuk menjadi seorang mujtahid,
bukan sembarang orang berhak untuk berijtihad.

Rasulullah SAW Juga Berijtihad

Tidak hanya para sahabat Nabi SAW yang berijtihad, bahkan Rasulullah
SAW sendiri dalam beberapa keadaan juga berijtihad ketika wahyu tidak kunjung
turun. Sedangkan beliau dituntut untuk menyelesaikan sebuah permasalahan
dengan segera. Maka disinilah Rasulullah SAW berijtihad.

Rasulullah SAW adalah seorang yang mashum, artinya Allah SWT


menjaga Rasulullah SAW dari perbuatan salah. Namun hal itu berlaku ketika
menyangkut urusan dasar-dasar syariah. Maka jika ijtihad Rasulullah SAW
kurang tepat dalam masalah dasar-dasar syariah, Allah SWT langsung
menurunkan wahyu untuk menjelaskan kekurang tepatan ijtihad Rasulullah SAW.

20
Salah satu contoh ijtihad Rasulullah SAW yang kurang tepat adalah terkait
masalah tawanan perang Badar. Rasulullah SAW meminta pendapat para
sahabatnya untuk menyelesaikan masalah ini. Ada yang mengusulkan untuk
dibunuh. Ini adalah pendapat Umar ibn al-Khaththab. Mayoritas mengusulkan
agar tidak dibunuh dan mengambil tebusan dari mereka. dan inilah yang dipilih
oleh Rasulullah SAW. Lantas untuk menunjukkan kekurang tepatan ijtihad
Rasulullah SAW, Allah SWT menurunkan ayat:

Tidak pantas bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat


melumpuhkan musuhnya di muka bumi. kamu menghendaki harta benda
duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). dan Allah
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Anfal: 67)

Ketika ijtihad Rasulullah SAW tidak berkaitan dengan dasar-dasar


syariah, maka Allah SWT tidak menurunkan wahyu untuk menunjukkan
kekurang tepatan ijtihad beliau. Dan ini tidak terkait dengan kemashuman
Rasullullah SAW, karena tidak berkaitan dengan dasar-dasar syariah. Salah satu

21
contoh dalam hal ini adalah ijtihad beliau terkait penempatan posisi perang ketika
perang Badar. Contoh yang lain yaitu terkait penyerbukan pohon kurma.

Semua Yang Berasal dari Nabi SAW adalah Wahyu

Dalam sebuah ayat, Allah SWT menjelaskan bahwa semua yang berasal
dari Rasulullah SAW adalah wahyu. Allah SWT berfirman:











Dan Tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS.
an-Najm: 3-4)

Ayat di atas menjelaskan semua yang berasal dari Nabi SAW adalah
wahyu. Sedangkan dalam beberapa kasus, Rasulullah SAW kurang tepat dalam
berijtihad. Lalu bagaimana cara untuk menggabungkan kedua hal yang saling
bertolak belakang di atas?

Syaikh Manna al-Qaththan dalam kitab Mabahits Fii Ulumil


Quran menjelaskan bahwa hadits Nabi SAW terbagi menjadi dua. Yang pertama
adalah Hadits Tauqifi. Hadits ini secara isi Rasulullah SAW dapatkan dari wahyu
yang berasal dari Allah SWT. Maka tidak akan ada kemungkinan salah dalam
hadits jenis ini.

Yang kedua adalah Hadits Taufiqi. Hadits jenis ini merupakan


hasil isthinbath Rasulullah SAW dari ayat-ayat al-Quran dengan pemahaman
beliau melalui proses taammul (perenungan) dan ijtihad. Jika hasil ijtihadnya
benar maka akan Allah SWT tetapkan. Namun jika terjadi kekurang tepatan maka
Allah SWT akan menurunkan wahyu untuk membenarkannya.

22
BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari materi diatas, dapat disimpulkan beberapa hal yaitu:

23
1. Ijtihad merupakan sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa
dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk
memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis
dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang.

2. Hasil dari ijtihad haruslah benar, tidak boleh menyimpang. Karena jika
menyimpang maka akan merugikan kalangan orang banyak.

B. SARAN

Setelah mempelajari tentang materi Ijtihad Sumber Dan Metodologi


Hukum Islam ini, ada baiknya para mahasiswa lebih memperdalam lagi
pengetahuan dalam ilmu agama Islam. Dengan begitu, jika suatu saat didalam
lingkungan masyarakat menemukan permasalahan yang perlu di ijtihadkan atau
setidaknya ditemukan jalan keluarnya, yang perlu di pikirkan secara matang
tentang kebenarannya akan lebih mudah menganalisisnya karna sudah mempunyai
bekal yang banyak dalam ilmu agama. Karena jika suatu hal di ijtihadkan, maka
hasil dari ijtihadnya tersebut, hasil dari pemikiran matangnya akan suatu
permasalahan, tidak boleh salah atau menyimpang dari ajaran Islam. Disamping
itu, jika hal yang di ijtihadkan benar, sesuai dengan ajaran Islam maka kita juga
akan mendapatkan kebaikan dari Allah Swt.

DAFTAR PUSTAKA

Damanhuri, Ijtihad Hermeneutis (Yogyakarta, IRCiSoD, 2016)


Muhammad Amin, Ijtihad Ibn Taimiyyah Dalam Bidang Fikih Islam (Jakarta:
INIS,1991)

24
Abd Wafi Has, Ijtihad Sebagai Alat Pemecahan Masalah Umat Islam (2013)

Paramitha-Dona, Ijtihad Sebagai Sumber Ajaran Islam diakses dari


http://dokumen.tips/documents/ijtihad-sebagai-sumber-ajaran-
islamdoc.html. Diupload pada tanggal 8 Oktober 2016 pukul 08:44WIB

Al-Jadyid, Ijtihad Sebagai Sumber Dan Metode Study Islam diakses dari
http://al-jadiyd.blogspot.co.id/2013/11/ijtihad-sebagai-sumber-dan-
metode-study.html. Diupload pada tanggal 8 Oktober 2016 pukul 09:05
WIB

Imami Diyah, Ijtihad dan Metodologi Hukum Islam diakses dari


http://amalilmukita.blogspot.co.id/p/makalah-ijtihad-dan-metodologi.html.
Diupload pada tanggal 9 Oktober 2016 pukul 15:09 WIB

Maz Mujib, Syarat Syarat Mujtahid Dan Ijtihad Masa Sekarang diakses dari
http://tarbiyyah-blog.blogspot.co.id/2012/04/syarat-syarat-mujtahid-dan-
ijtihad-masa.html. diupload pada tanggal 9 Oktober 2016 pukul 15:30
WIB

La Ode Ahmad, Domain Fikih dan Kebaikan Ijtihad diakses dari


http://www.laodeahmad.com/2016/01/domain-fikih-dan-kebaikan-
ijtihad.html. Diupload pada tanggal 12 Oktober 2016 pukul 20:44

http://rahmadhani032.blogspot.co.id/2013/05/contoh-ijtihad-fardhi-dan-
jamai.html. Diupload pada tanggal 12 Oktober 2016 pukul 21:11

Husnul Azmi R., Pengertian Ijtihad Dalam Ushul Fiqih diakses dari
http://azmyalmarbawy.blogspot.co.id/2013/11/pengertian-ijtihad-dalam-
ushul-fiqih.html. Diupload pada tanggal 13 Oktober 2016 pukul 17:59

BIOGRAFI PENULIS

25
Dandy Permana Putra, lahir di Jakarta Tanggal 12 Oktober 1998,
lulusan jurusan multimedia di SMK
Bonavita Tangerang pada tahun 2016 ,
dan melanjutkan jenjang pendidikannya
di Politeknik Negeri Jakarta jurusan
Teknik Elektro. Dandy, begitu Ia biasa
disapa, mempunyai hobi menonton film
dan mendengarkan musik. Dandy
melanjutkan pendidikan dari jurusannya
di SMK dengan menjadi Engineer
melalui program studi Broadband
Multimedia.

Disa May Nabila, lahir di Jakarta 1 Mei 1998,


tepatnya di Slipi, Jakarta Barat. Disa, begitu
Ia disapa, kini sedang menduduki bangku
kuliah di Politeknik Negeri Jakarta, Depok di
Jurusan Elektro. Tiga tahun menghabiskan
waktu SMA-nya di SMAN 91 Jakarta Timur.
Sebelumnya Ia menduduki bangku SMP di
SMPN 51, Pondok Bambu,Jakarta Timur dan
menempuh SD di SDN Jatibening VIII,
Bekasi, Jawa Barat. Perempuan yang sejak
kecil bercita-cita menjadi arsitek ini, kini
telah merubah pikirannya menjadi Engineer di Politeknik Negeri Jakarta

26