Você está na página 1de 12

Ja'far Musaddad

2013 23
MAKALAH : MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN

*
Telaah ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang manusia, memberi gambaran
kontradiktif menyangkut keberadaannya. Disatu sisi manusia dalam al-Quran sering mendapat
pujian Tuhan. Seperti pernyataan terciptanya manusia dalam bentuk dan keadaan yang sebaik-
baiknya, kemudian penegasan tentang dimuliakannya makhluk ini dibanding dengan kebanyakan
makhluk-makhluk lain. Sedang di sisi lain sering pula manusia mendapat celaan Tuhan. Seperti
bahwa ia amat aniaya dan ingkar nikmat, dan sangat banyak membantah serta bersifat keluh
kesah lagi kikir[1].

Gambaran kontradiktif itu bukanlah berarti bahwa ayat-ayat yang berbicara perihal
manusia bertentangan satu sama lain, melainkan justru menandakan bahwa makhluk yang
bernama manusia itu unik, makhluk yang serba dimensi, dan makhluk yang berada di antara
predisposisi negatif dan positif[2]. Hal ini dapat difahami dengan mengkaji asal-usul
kejadiannya, proses penciptaannya dan keragaman terminologinya dalam al-Quran.

Asal-usul kejadian manusia.

Generasi manusia yang ada sampai sekarang, dalah berasal dari manusia pertama yang
bernama Adam dengan istrinya yang populer bernama Hawa[3]. Diantara ayat yang secara jelas
menyatakan bahwa Adam dan Hawa adalah ayah dan ibu generasi manusia setelahnya, adalah:

Hai anak-anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syetan, sebagaimana ia
telah mengeluarkan ibu-bapakmu dari surga (QS. Al-Araf : 27)

Adam sendiri diciptakan dari tanah sebagaimana diceritakan oleh Allah SWT dalam
beberapa firman-Nya yang salah satunya pada firman berikut:




Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah adalah semisal Adam. Allah menciptakan-Nya
dari tanah, kemudian berfirman kepadanya, Jadilah maka jadilah dia (QS. Ali Imran : 59)

Ayat ini secara explisit merupakan bantahan terhadap para pengagum Isa as yang
menilainya sebagai anak Tuhan, karena beliau tidak lahir melalui seorang ayah, melainkan
melalui kalimat Allah. Tetapi secara implisit menjelaskan kejadian Isa as yang semisal dengan
kejadian Adam as yaitu diciptakan dari tanah melalui proses yang mudah dan cepat sesuai
dengan kehendak Allah SWT. Kata kun pada ayat di atas tidaklah benar bila dijadikan dasar
bahwa Adam as diciptakan dalam sekejap tanpa proses sebagaimana yang difahami kebanyakan
orang. Karena disamping dalam hal mencipta Allah SWT, tidak memerlukan sesuatu apapun
untuk mewujudkan apa yang dikehendaki-Nya, termasuk tidak perlu mengucapkan kun. Juga
karena pada ayat yang lain Allah SWT melukiskan, bahwa Dia menciptakan Adam as dari tanah,
dan setelah Dia sempurnakan kejadiannya, Dia tiupkan ruh ciptaan-Nya.




Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya (Adam), dan telah meniupkan ke
dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud
(QS. al-Hijr :29)

Maka kata kun pada ayat di atas, disebutkan hanyalah sekedar untuk menggambarkan
kemudahan dan kecepatan wujud apa yang dikehendaki Allah SWT. Dan ayat tersebut, sama
sekali tidak menjelaskan apa yang terjadi dan proses apa yang dilalui antara penciptaan dari
tanah dengan penghembusan ruh ciptaan-Nya. Jika diibaratkan penciptaan dari tanah sama
dengan A, dan penghembusan ruh ciptaan-Nya sama dengan Z, maka antara A dan Z tidak
dijelaskan baik materi maupun waktunya.
Melalui ayat QS. Ali Imran : 59 pula, Allah SWT membantah keyakinan umat Nasrani yang
bersikeras mengatakan bahwa tidak mungkin Isa as lahir tanpa memiliki seorang ayah. Karena
Dzat yang mampu menciptakan Adam as tanpa seorang ayah dan seorang ibu, tentu saja lebih
mampu untuk menciptakan Isa as dengan hanya dari seorang ibu. Dr. G.C. Goeringer, Direktur
Kursus dan Profesor Kepala Embriologi Kedokteran di Departemen Biologi Sel Sekolah
Kedokteran Universitas Georgetown Washington D.C mengatakan bahwa sains modern saat ini
membuktikan bahwa banyak binatang dan makhluk hidup di dunia ini yang terlahir dan
berkembang biak tanpa proses pembuahan pihak laki-laki (pejantan) dari spesiesnya. Sebagai
contoh, seekor lebah jantan tidak lebih dari sekedar telur yang belum dibuahi, sedangkan telur
yang telah dibuahi (oleh pejantannya) berkembang menjadi lebah betina (ratu). Selain itu, lebah-
lebah jantan tercipta dari telur-telur ratu lebah yang tidak dibuahi oleh pejantannya. Ada banyak
sekali contoh yang demikian di dunia hewan. Selain itu, manusia saat ini memiliki sarana sains
untuk merangsang telur dari beberapa organisme sehingga telur-telur ini berkembang tanpa
pembuahan dari pejantannya. Lebih lanjut Goeringer menyatakan: Dalam beberapa contoh
pendekatan, telur-telur yang tidak dibuahi dari beberapa spesies amfibi dan mamalia tingkat
rendah dapat diaktifkan secara mekanik (seperti penusukan dengan sebuah jarum), secara fisik
(seperti kejutan panas), atau secara kimia dengan pencampuran dari beberapa substansi kimia
yang berbeda, dan berlanjut ke tahap perkembangan. Dalam beberapa spesies, tipe
perkembangan secara parthenogenetic seperti ini adalah alami.[4]
Selanjutnya kejadian generasi manusia setelah Adam as, penciptaannya diisyaratkan
dalam ayat :



Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan kamu yang telah menciptakan kamu dari diri
yang satu, dan menciptakan darinya pasangannya. Allah mengembang biakkan dari keduanya
laki-laki yang banyak dan perempuan (QS. an-Nisa : 1)

Para Mufassir terdahulu memahami kata nafsin wahidah (diri yang satu) pada ayat ini
dalam arti Adam as. Akan tetapi para Mufassir kontemporer seperti al-Qasimi, Syekh
Muhammad Abduh memaknainya dalam arti jenis manusia lelaki dan wanita. Sehingga ayat ini
kandungannya sama dengan firman Allah SWT :



Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling mengenal (QS. al-Hujurat : 13)

Maka kedua ayat di atas pada prinsipnya berbicara sama yaitu tentang asal kejadian
manusia dari seorang ayah dan ibu, yakni sperma ayah dan ovum ibu. Hanya tekanannya saja
yang berbeda. Jika ayat pertama dalam konteks menjelaskan banyak dan berkembang biaknya
manusia dari seorang ayah dan ibu, maka ayat kedua konteksnya adalah persamaan hakikat
kemanusian orang perorang, dimana setiap orang walau berbeda-beda ayah dan ibunya, tetapi
unsur dan proses kejadian mereka sama. Sehingga tidak dibenarkan seseorang menghina atau
merendahkan orang lain.

Dengan memaknai kata nafsin wahidah dalam arti diri (jenis) yang satu,
Thabathabai dalam tafsirnya menyatakan bahwa ayat tersebut juga memberi penegasan bahwa
pasangan (isteri Adam) yang ditunjuk kata zaujaha diciptakan dari jenis yang sama dengan
Adam yakni dari tanah dan hembusan ruh Ilahi. Menurutnya sedikitpun ayat itu tidak
mendukung faham yang beranggapan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam
sebagaimana yang difahami para Mufassir terdahulu.[5]

Akan halnya hadis riwayat Abi Hazm dari Abi Hurairah ra yang kerap digunakan untuk
memperkuat faham itu, selain tertolak kesahihannya sehingga tidak dapat digunakan hujjah
(argumentasi), juga sebagaimana mayoritas ulama kontemporer mengatakan - hadis tersebut
tidaklah tepat jika difahami dalam pengertian harfiah, melainkan harus difahami dalam
pengertian metafora. Maka konteksnya dalam rangka mengingatkan kepada kaum laki-laki agar
menghadapi perempuan dengan bijaksana, mengingat ada sifat dan kodrat bawaan mereka yang
berbeda. Tidak ada seorangpun yang mampu mengubah kodrat bawaan itu. Kalaupun ada yang
berusaha, maka akibatnya akan fatal seperti upaya meluruskan tulang rusuk yang bengkok.[6]

Walhasil makhluk yang bernama manusia, dari mulai manusia pertama Adam as dan
istrinya Hawa, juga Isa as, serta generasi manusia setelahnya berasal dari bahan baku yang sama
yaitu dari unsur tanah dan hembusan ruh Ilahi. Hanya model penciptaannya saja yang berbeda.
Penciptaan manusia sebagaimana disimpulkan Quraish Shihab terdiri dari empat model
penciptaan. Model pertama menciptakan dengan tanpa ayah dan ibu, yaitu Adam as. Kedua
menciptakan setelah disampingnya ada lelaki, yaitu isteri Adam as. Model ketiga menciptakan
hanya dengan ibu tanpa ada ayah, yaitu Isa as. Dan yang terakhir menciptakan melalui
pertemuan lelaki dan perempuan yaitu generasi manusia setelah Adam as.[7]

Ali Syariati[8] menafsirkan tanah - sebagai salah satu unsur kejadian manusia -
merupakan simbol kerendahan dan kenistaan, sedang unsur yang lain yaitu ruh Allah adalah
simbol kemuliaan dan kesucian tertinggi. Yusuf Qardawi - sebagaimana dikutip Jalaluddin
Rahmat[9] membahasakan manusia adalah gabungan kekuatan tanah dan hembusan ruh Ilahi
(baina qabdhat al-thin wa nafkhat al-ruh). Manusia adalah zat bidimensional (bersifat ganda)
terdiri atas sifat material (jasmani) dan sifat spiritual (ruhani). Sifat materialnya cenderung dan
menarik manusia ke arah kerendahan, dan sifat spiritualnya mengarahkan dirinya menaiki
puncak setinggi-tingginya. Satu hal yang menarik adalah kedua anasir yang bertentangan itu
harus selalu berada dalam keseimbangan. Tidak boleh seseorang mengurangi hak-hak tubuh
untuk memenuhi hak ruh. Begitu pula tidak boleh ia mengurangi hak-hak ruh untuk memenuhi
hak tubuh.

Fase penciptaan manusia.


Proses penciptaan manusia dijelaskan Allah SWT dalam beberapa firman-Nya melalui
berbagai fase atau tahapan. Salah satunya pada QS. Al-Muminun : 12-14 :

* *






Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh
(rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami
jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang
belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang
(berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
(QS. al-Muminun : 12-14)
Terdapat munasabah (keserasian) dalam penempatan rangkaian ayat ini yang
mengemukakan tujuh fase proses penciptaan manusia, setelah rangkaian ayat sebelumnya yang
menguraikan tujuh macam sifat orang-orang mukmin. Seakan-akan kedua rangkaian ayat ini
menyatakan kepada kita : Wahai manusia, engkau berhasil keluar dan berada di pentas bumi ini
setelah melalui tujuh fase, maka engkaupun perlu menghiasi diri dengan tujuh hal agar berhasil
pula dalam kehidupan sesudah kehidupan dunia ini.
Sungguh menakjubkan fase-fase penciptaan manusia yang dijelaskan secara detail oleh
rangkaian ayat di atas, karena ternyata fase-fase yang dijelaskannya terbukti sejalan dengan
penemuan ilmiah embriologi modern dewasa ini. Fase-fase itu adalah :

1. Sulalah min thin (saripati tanah).

Saripati tanah yang dimaksud sebagaimana pendapat Thahir Ibn Asyur adalah zat yang
diproduksi oleh alat pencernaan yang berasal dari bahan makanan (baik tumbuhan maupun
hewan) yang bersumber dari tanah, yang selanjutnya menjadi darah, kemudian berproses hingga
akhirnya menjadi sperma ketika terjadi hubungan sex.[10]
Pada ayat lain (QS. Al-Hajj : 5) fase ini disebutnya fase turab (tanah)[11]. Pada ayat inipun
yang dimaksud tanah adalah asal-usul sperma yaitu zat makanan yang berasal dari bahan
makanan yang bersumber dari tanah. Karena itu Sayyid Quthub mengomentari kata turab
dengan mengatakan :
Manusia adalah putri bumi ini. Dari tanahnya dia tumbuh berkembang, dari tanahnya dia
berbentuk, dan dari tanahnya pula dia hidup. Tidak terdapat satu unsurpun dalam jasmani
manusia yang tidak memiliki persamaan dengan unsur-unsur yang terdapat dalam bumi, kecuali
rahasia yang sangat halus itu yang ditiupkan Allah padanya dari ruh-Nya dan dengan ruh itu
itulah manusia berbeda dari unsur-unsur tanah itu, tetapi pada dasarnya manusia berasal dari
tanah. Makanan dan semua unsur jasmaninya berasal dari tanah[12]

2. Nuthfah (air mani).

Makna asal kata nuthfah dalam bahasa Arab berarti setetes yang dapat membasahi. Penggunaan
kata ini sejalan dengan penemuan ilmiah yang menginformasikan bahwa pancaran mani yang
menyembur dari alat kelamin pria yang mengandung sekitar dua ratus juta benih manusia, tetapi
yang berhasil bertemu dengan ovum wanita hanya satu. Itulah yang dimaksud dengan
nuthfah.[13]

3. Alaqah (segumpal darah).

Segumpal darah adalah salah satu arti kata alaqah dari dua arti lainnya yaitu sesuatu yang
melayang dan lintah. Seorang ilmuwan terkenal dalam bidang anatomi dan embriologi Prof.
Keith Moore menyatakan bahwa alaqah sebagai sesuatu yang melayang sesuai dengan apa
yang bisa dilihat pada pengikatan embrio - selama fase ini - pada rahim ibu. Dan alaqah
diartikan segumpal darah atau gumpalan darah yang membeku karena embrio selama fase ini
berkembang melalui saat-saat internal yang diketahui seperti pembentukan darah di pembuluh
tertutup sampai dengan putaran metabolis lengkap melalui plasenta (ari-ari). Selama fase ini
darah ditangkap di dalam pembuluh tertutup sehingga embrio memperoleh penampakan sebagai
gumpalan darah beku. Sedang alaqah diartikan lintah oleh karena embrio selama fase alaqah
memperoleh penampakan yang sangat mirip dengan lintah. Prof. Keith Moore menguji dengan
membandingkan lintah air yang masih segar dengan embrio pada fase ini dan beliau menemukan
kesamaan diantara keduanya. Ketiga deskripsi tersebut secara ajaib diberikan hanya oleh sebuah
kata dalam ayat al-Quran yaitu kata alaqah.[14]

4. Mudghah (segumpal daging).

Mudhghah berasal dari kata madhagha yang berarti mengunyah. Pada fase ini embrio disebut
mudhghah karena bentuknya masih dalam kadar yang kecil seukuran dengan sesuatu yang
dikunyah.

5. Idzam (tulang atau kerangka).

Pada fase ini embrio mengalami perkembangan dari bentuk sebelumnya yang hanya berupa
segumpal daging hingga berbalut kerangka atau tulang.

6. Kisa al-idzam bil-lahm (penutupan tulang dengan daging atau otot).


Pengungkapan fase ini dengan kisa yang berarti membungkus, dan lahm (daging) diibaratkan
pakaian yang membungkus tulang, selaras dengan kemajuan yang dicapai embriologi yang
menyatakan bahwa sel-sel tulang tercipta sebelum sel-sel daging, dan bahwa tidak terdeteksi
adanya satu sel daging sebelum terlihat sel tulang[15].

7. Insya (mewujudkan makhluk lain).

Fase ini mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang dianugerahkan kepada manusia yang
menjadikannya berbeda dengan makhluk-makhluk lain. Sesuatu itu adalah ruh ciptaannya yang
menjadikan manusia memiliki potensi yang sangat besar sehingga dapat melanjutkan evolusinya
hingga mencapai kesempurnaan makhluk.
Terminologi manusia.
Di dalam al-Quran terdapat tiga istilah kunci (key term) yang meskipun mengacu pada
makna pokok manusia, tetapi memiliki makna signifikan yang berbeda-beda. Ketiga istilah kunci
itu adalah Basyar, Insan, dan al-Nas. Agar terhindak dari kerancuan semantik, perlu difahami
dalam konteks apa manusia disebut basyar, dan dalam konteks apa manusia disebut insan, serta
dalam konteks apa pula manusia disebut al-nas.

1. Basyar.

Kata basyar disebut dalam al-Quran 35 kali dikaitkan dengan manusia dan 25 kali
dihubungkan dengan nabi-rasul. Kata basyar pada keseluruhan ayat tersebut memberikan
referensi kepada manusia sebagai makhluk biologis. Salah satunya pada surah Yusuf : 31 :


Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepadanya (keelokan rupanya) dan
mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia
(basyar). Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia
(QS.Yusuf : 31)
Ayat ini menceritakan wanita-wanita pembesar Mesir yang diundang Zulaikha dalam
suatu pertemuan yang takjub ketika melihat ketampanan Yusuf as. Konteks ayat ini tidak
memandang Yusuf as dari segi moralitas atau intelektualitasnya, melainkan pada perawakannya
yang tampan dan penampilannya yang mempesona yang tidak lain adalah masalah biologis.
Pada ayat lain juga manusia disebut dengan kata basyar dalam konteks sebagai makhluk
biologis yaitu pada ayat yang menceritakan jawaban Maryam (perawan) kepada malaikat yang
datang padanya membawa pesan Tuhan bahwa ia akan dikaruniai seorang anak :

Maryam berkata: Tuhanku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak padahal aku tidak
pernah disentuh manusia (basyar) (QS.Ali Imran : 47)
Maryam berkata demikian sebab dia tahu bahwa yang dapat menyentuh (hubungan
seksual) itu hanya manusia dalam arti makhluk biologis, dan anak adalah buah dari hubungan
seksual antara laki-laki dan perempuan . Nalar Maryam tidak menerima, bagaimana mungkin dia
akan punya anak padahal dia tidak pernah berhubungan dengan laki-laki.
Penolakan orang-orang kafir untuk beriman, juga karena pandangan mereka terhadap
seorang rasul yang hanya pada sisi biologisnya saja. Yakni sebagai manusia yang sama seperti
mereka yang makan, minum, jalan-jalan di pasar, dan melakukan aktifitas lainnya[16]. Mereka
tidak mempertimbangkan aspek lain dari seorang rasul seperti kapasitas, moralitas, kredibilitas
kepribadiannya, dan akseptabilitas di mata umatnya. Karena itu Allah SWT menyuruh
Rasulullah saw untuk menegaskan bahwa secara biologis ia memang seperti manusia biasa,
tetapi memiliki perbedaan dari yang lain yaitu penunjukan langsung dari Tuhan untuk
menyampaikan risalah-Nya. Dan dari sisi inilah Rasulullah menjadi manusia luar biasa.

Katakanlah (Muhammad kepada mereka bahwa) aku ini manusia biasa (basyar) seperti kamu.
Hanya saja aku diberi wahyu (QS.Al-Kahfi : 110)[17]
Beberapa ayat di atas dengan jelas menegaskan bahwa konsep basyar selalu
dihubungkan dengan sifat-sifat ketubuhan (biologis) manusia yang mempunyai bentuk/ postur
tubuh, mengalami pertumbuhan dan perkembangan jasmani, makan, minum, melakukan
hubungan seksual, bercinta, berjalan-jalan di pasar, dan lain-lain. Dengan kata lain, basyar
dipakai untuk menunjuk dimensi alamiah yang menjadi ciri pokok manusia pada umumnya.

2. Al-Insan.

Kata al-insan disebut sebanyak 65 kali dalam al-Quran. Hampir semua ayat yang
menyebut manusia dengan kata insan, konteksnya selalu menampilkan manusia sebagai makhluk
istimewa, secara moral maupun spiritual. Keistimewaan itu tidak dimiliki oleh makhluk lain.
Jalaludin Rahmat memberi penjabaran al-insan secara luas pada tiga kategori. Pertama, al-insan
dihubungkan dengan keistimewaan manusia sebagai khalifah dan pemikul amanah. Kedua, al-
insan dikaitkan dengan predisposisi negatif yang inheren dan laten pada diri manusia. Ketiga, al-
insan disebut dalam hubungannya dengan proses penciptaan manusia. Kecuali kategori ketiga,
semua konteks al-insan menunjuk pada sifat-sifat psikologis atau spiritual.
Kategori pertama dapat difahami melalui empat penjelasan sebagai berikut :
1. Manusia dipandang sebagai makhluk unggulan atau puncak penciptaan Tuhan. Keunggulannya
terletak pada wujud kejadiannya sebagai makhluk yang diciptakan dengan sebaik-baik
penciptaan[18]. Manusia juga disebut sebagai makhluk yang dipilih Tuhan[19] untuk
mengemban tugas kekhalifahan di muka bumi.[20]
2. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dipercaya Tuhan untuk mengemban amanah[21],
suatu beban sekaligus tanggung jawabnya sebagai makhluk yang dipercaya dan diberi mandat
untuk mengelola bumi. Menurut Fazlurrahman amanah yang dimaksud terkait dengan fungsi
kreatif manusia untuk menemukan hukum alam, menguasainya (dalam bahasa al-Quran
mengetahui nama-nama semua benda), dan kemudian menggunakannya dengan insiatif moral
untuk menciptakan tatanan dunia yang lebih baik[22]. Sedangkan menurut Thabathabai amanah
dimaknai sebagai predisposisi positif (istidad) untuk beriman dan mentaati Allah. Dengan kata
lain manusia didisposisikan sebagai pemikul al-wilayah al-Ilahiyah[23]. Amanah inilah yang
dalam ayat-ayat lain disebut sebagai perjanjian primordial atau perenial. Secara metaforis
perjanjian itu digambarkan dalam QS. Al-Araf : 172 :



Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belulang) anak cucu Adam
keturunan mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman) :
Bukankah Aku ini Tuhanmu?. Kami bersaksi
(QS.al-Araf : 172)
3. Merupakan konsekuensi dari tugas berat sebagai khalifah dan pemikul amanah, manusia dibekali
dengan akal kreatif yang melahirkan nalar kreatif sehingga manusia memiliki kemampuan untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan[24]. Karena itu berkali-kali kata al-insan dihubungkan
dengan perintah melakukan nadzar (pengamatan, perenungan, pemikiran, analisa) dalam rangka
menunjukkan kualitas pemikiran rasional dan kesadaran khusus yang dimilikinya[25].
Tugas kekhalifahan dan amanah juga membawa konsekuensi bahwa al-insan dibebani atau
dihubungkan dengan konsep tanggung jawab[26] untuk melakukan yang terbaik. Manusia
diwasiatkan agar berbuat baik[27] karena setiap amal perbuatannya dicatat dengan cermat dan
mendapat balasan setimpal[28]. Dan dalam rangka ini, manusia diingatkan dengan sejumlah
tantangan karena insanlah yang dimusuhi syetan[29] dan ditentukan nasibnya di hari kiamat[30].
4. Dalam mengabdi kepada Allah manusia (al-insan) sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan
kondisi psikologisnya. Jika ditimpa musibah ia selalu menyebut nama Allah. Sebaliknya jika
mendapat keberuntungan dan kesuksesan hidup cenderung sombong, takabbur, dan musyrik.[31]
Kategori kedua al-insan dikaitkan dengan predisposisi negatif pada dirinya, dijelaskan
dalam al-Quran bahwa manusia itu cenderung berbuat zalim dan kufur, tergesa-gesa, bakhil,
bodoh, banyak membantah dan suka berdebat tentang hal-hal yang sepele sekalipun, resah
gelisah dan enggan membantu orang lain, ditakdirkan untuk bersusah payah dan menderita,
ingkar dan enggan berterima kasih kepada Tuhan, suka berbuat dosa dan meragukan hari
akhirat[32].
Sifat-sifat manusia pada pada kategori kedua ini bila dihubungkan dengan sifat-sifat
manusia pada kategori pertama, memberi kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk yang
paradoksal, yang berjuang mengatasi konflik dan kekuatan yang saling bertentangan ; tarik
menarik antara mengikuti fitrah (memikul amanah dan menjadi khalifah) dan mengikuti nafsu
negatif dan merusak. Kedua kekuatan itu digambarkan dalam asal usul kejadian manusia yang
dalam bahasa Yusuf Qardawi baina qabdhat al-tin wa nafkhat al-ruh.

3. Al-Nas.

Konsep al-Nas mengacu pada manusia sebagi makhluk sosial. Manusia dalam arti al-nas
paling banyak disebut al-Quran yaitu sebanyak 240 kali. Salah satunya adalah :



Wahai manusia sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal mengenal
(QS.al-Hujurat : 13)
Menariknya dalam mengungkapkan manusia sebagai makhluk sosial, al-Quran tidak
pernah melakukan generalisasi, melainkan ditunjukkan dengan dua model pengungkapan :

1. Dengan menunjukkan kelompok-kelompok sosial dengan disertai karakteristik masing-


masing yang berbeda satu sama lain. Ayat-ayatnya biasanya menggunakan ungkapan wa
min al-nas (dan diantara manusia). Jika diperhatikan ayat-ayat yang menggunakan
ungkapan ini ditemukan petunjuk bahwa ada kelompok manusia (tidak seluruhnya) yang
mengaku beriman padahal sesungguhnya tidak beriman[33], ada sebagian manusia
mengambil sesembahan selain Allah[34]. Juga didapat informasi bahwa manusia secara
sosial cenderung memikirkan kehidupan dunia[35], berdebat dengan Allah tanpa ilmu,
petunjuk dan kitab Allah[36], yang menyembah Allah dengan iman yang lemah[37].
2. Dengan mengelompokkan manusia berdasarkan mayoritas yang umumnya menggunakan
ungkapan aktsaran-nas (sebagian besar manusia). Memperhatikan ungkapan ini
ditemukan petunjuk dari al-Quran bahwa sebagian besar (mayoritas) manusia mempunyai
kualitas rendah, dari sisi ilmu maupun iman. Hal ini dapat dilihat dari ayat-ayatnya yang
menyatakan bahwa kebanyakan manusia tidak berilmu, tidak bersyukur, tidak beriman,
fasiq, melalaikan ayat-ayat Allah, kufur, dan harus menanggung azab. Kesimpulan itu
dipertegas dengan ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa sangat sedikit kelompok
manusia yang beriman, yang berilmu dan dapat mengambil pelajaran, yang mau
bersyukur atas nikmat Allah.

Demikian banyaknya penyebutan kata al-nas dalam al-Quran jika dikaitkan dengan al-
Quran sebagai petunjuk menunjukkan bahwa sebagian besar bimbingan Tuhan diperuntukkan
bagi manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai contoh adalah masalah perkawinan. Dalam al-
Quran Tuhan tidak mengatur tata cara hubungan seksual, karena sebagai makhluk biologis
semua manusia betapapun primitifnya bisa melakukannya. Justru yang dipandang perlu untuk
diatur Tuhan adalah hubungan sosial pasca perkawinan meliputi hak, kewajiban, tanggung jawab
suami istri dalam rumah tangga dan hubungan yang terjadi setelah berkeluarga mencakup
pendidikan anak, kekerabatan, warisan dan masalah yang berkaitan dengan kekayaan. Perlunya
pengaturan karena pada aspek-aspek sosial manusia sering kelewat batas dan tak terkendali.
Peran dan tanggung jawab manusia.
Dengan berbagai macam kedudukannya baik sebagai makhluk biologis, makhluk
istimewa (bernalar, pembawa amanah, bertanggung jawab), dan makhluk sosial, manusia diberi
dua peran sekaligus dituntut bertanggung jawab dalam menjalankan perannya yaitu sebagai
khalifatullah dan sebagai abdullah. Peran sebagai khalifatullah digambarkan QS. Al-Baqarah :
30


Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan khalifah di muka bumi
(QS.al-Baqarah : 30)
sedang peran sebagai abdullah dinyatakan dalam QS. Al-Dzariyat : 56


Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepada-Ku
(QS.al-Dzariyat : 56)
Yang penting untuk dicatat adalah peran manusia sebagai khalifatullah dan sebagai
abdullah tidak bisa lepas dari realitas kedudukan manusia sebagai makhluk biologis, makhluk
istimewa dan makhluk sosial[38]. Diantara contohnaya adalah : Manusia diperintahkan untuk
mengerjakan shalat dan hukum shalat adalah berdiri. Tetapi pada saat manusia mengalami sakit
parah diperbolehkan melaksanakan shalat dengan duduk atau berbaring. Artinya manusia diberi
dispensasi karena masalah sakit adalah persoalan biologis manusia. Contoh lain dalam keadaan
perjalanan jauh seseorang boleh men-jama dan meng-qashar shalat. Begitupun wanita
menyusui, orang yang lanjut usia diperbolehkan untuk tidak berpuasa, dan lain sebagainya. Hal
yang sama berlaku pada kedudukan manusia sebagai makhluk sosial. Contohnya nabi
Muhammad saw yang biasanya shalat khusyu dan zikirnya panjang, berulangkali mempercepat
shalatnya gara-gara ada tamu yang menunggu. Nabi juga mengingatkan para imam tidak
memperpanjang shalat dengan pertimbangan sosial pada makmumnya.
Wallahu alam.
*) Mahasiswa Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Daftar Pustaka :
1. Al-Quranul Karim
2. Membumikan al-Quran, Quraish Shihab, Mizan : 1994
3. Teologi Pendidikan, Mohammad Irfan-Mastuki HS, Friska Agung Insani : 2003
4. Horison Manusia, Mahmoud Rajabi, Al-Huda : 2006
5. http:/kajian-agama,blogspot.com/
6. Al-Mizan fi Tafsir al-Quran, Muhammad Husein Thabathabai, al-Hauza al-Ilmiyah : tt.
7. Sosiologi Islam, terjemahan dari On the Sociology of Islam, Ali Syariati, Ananda I : 1982
8. Islam Alternatif, Jalaluddin Rahmat, Mizan : 1991
9. at-Tahrir wat-Tanwir, Thahir Ibn Asyur
10. Tafsir fi Dzilalil-Quran, Sayyid Quthub,
11. Tafsir al-Misbah, Quraish Shihab, Lentera Hati : 2002
12. The Quranic Concept of God, The Universe and Man, Fazlurrahman, Mizan : 1990
13. Al-Mizan fi Tafsir al-Quran, Muhammad Husein Thabathabai, al-Hauza al-Ilmiyah
14. Dinamika Kehidupan Religius, Muhammad Tholchah Hasan, Listafariska : 2003

[1]Membumikan al-Quran, Quraish Shihab, Mizan : 1994 , hal. 233


[2]Teologi Pendidikan, Mohammad Irfan-Mastuki HS, Friska Agung Insani : 2003, hal. 55
[3]Horison Manusia, Mahmoud Rajabi, Al-Huda : 2006, hal. 91
[4]http:/kajian-agama,blogspot.com/
[5]Al-Mizan fi Tafsir al-Quran, Muhammad Husein Thabathabai, al-Hauza al-Ilmiyah : tt.
[6] Redaksi hadis tersebut berbunyi : Saling berwasiatlah untuk bebuat baik kepada
perempuan. Karena mereka itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan sesungguhnya bagian tulang
rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Kalau engkau berupaya meluruskannya dia
akan patah, dan kalau engkau membiarkannya dia tetap bengkok. (Shahih Bukhari 1 : 2680
dan Musnad Ahmad 2 : 496)

[7] Tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab, Lentera Hati : 2000, Vol. 2 Hal. 102.
[8] Sosiologi Islam, terjemahan dari On the Sociology of Islam, Ali Syariati, Ananda I : 1982
[9] Islam Alternatif, Jalaluddin Rahmat, Mizan : 1991
[10] at-Tahrir wat-Tanwir, Thahir Ibn Asyur
[11] Bunyi ayat tersebut : Hai manusia seandainya kamu dalam keraguan tentang kebangkitan
maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah
[12] Tafsir fi Dzilalil-Quran, Sayyid Quthub,
[13] Tafsir al-Misbah, Quraish Shihab, Lentera Hati : 2002, vol 9 hal. 13 dan 167
[14] http :/kajian-agama, blogspot.com/
[15] Tafsir fi Dzilalil Quran, Sayyid Quthub,
[16] Lihat QS. Al-Ahzab : 33, QS. Al-Furqan : 7 dan 20.
[17] Lihat juga QS. Fusshilat : 6

18 QS. At-Tin : 4
[19] QS. Thaha : 122
[20] QS. Al-Baqarah : 30. Lihat juga QS. Al-Anam : 165
[21] QS. Al-Ahzab : 72
[22] The Quranic Concept of God, The Universe and Man, Fazlurrahman, Mizan : 1990
[23] Al-Mizan fi Tafsir al-Quran, Muhammad Husein Thabathabai, al-Hauza al-Ilmiyah : tt.
[24] QS. Al-Alaq : 4-5
[25] Lihat QS. An-Naziat : 35 (nadzar pada perbuatannya), QS. Abasa : 24-36 (nadzar pada
proses terbentuknya makanan), QS. At-Thariq : 5 (nadzar pada proses penciptaannya)
[26] QS. Al-Qiyamah : 3 dan 36, QS. Qaaf : 16
[27] QS. Al-Ankabut : 8, Q S. Luqman : 14, QS. Al-Ahqaf : 15
[28] QS. An-Najm : 39
[29] QS. Al-Isra : 53
[30] QS. Al-Qiyamah : 10
[31] QS. Yunus : 12, QS. Hud : 9
[32] QS. Ibrahim : 34, QS. Al-Isra : 11, QS. Al-Isra : 100, QS. Al-Ahzab : 72, QS. An-Nahl : 4,
QS.al-Maarij : 19, QS. Al-Insyiqaq : 6, QS. Al-Adiyat : 6, QS. Al-Alaq : 6, QS. Maryam : 66
[33] QS. Al-Baqarah : 8
[34] QS. Al-Baqarah : 165
[35] QS. Al-Baqarah : 200
[36] QS. Luqman : 20, QS. Al-Hajj : 3,8
[37] QS. Al-Hajj : 11, QS. Al-Ankabut : 10
[38] Dinamika Kehidupan Religius, Muhammad Tholchah Hasan, Listafariska : 2003

jafar musaddad 9:13


Twitter Facebook
Pinterest


:( Atom)


2013 (12)
o ( 12)
MAKALAH : EARLY CHILDHOOD EDUCATION Antara Kenisca...
MUDZAKARAH : REINTERPRETASI MUSTAHIQ ZAKAT 2
MUDZAKARAH : REINTERPRETASI MUSTAHIQ ZAKAT 1
MUDZAKARAH : KOTROVERSI TAHLIL 2
MUDZAKARAH : KONTROFERSI TAHLIL 1
MAKALAH : MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN
KHUTBAH IDUL ADHA : MAKNA QURBAN DAN TAKBIR DALAM
...
SPIRIT TAUHID ADALAH PEMBEBASAN DIRI DARI SEGALA ...
RAHASIA DIBALIK EMPAT PULUH MALAM : Al-Baqarah-51
PELAJARAN DARI PENYELAMATAN BANI ISRAIL : Al-Baqar...
SYAFAAT DI HARI KIAMAT : Al-Baqarah-48
PRESTASI BUKAN PRETISE : Al-Baqarah-48 Oleh : Ja'f...

jafar musaddad

Blogger. : .
v

Você também pode gostar