Você está na página 1de 4

BAB.

IV

PEMERIKSAAN KHUSUS ATAU INVESTIGASI

1. Sumber Informasi Pemeriksaan Khusus.

Istilah Pemeriksaan khusus dahulu banyak dipakai oleh auditor Pemerintah. Pemeriksaan
khusus dilaksananan pada kegiatan atau kantor yang ada indikasi kecurangan atau korupsi.
Sumber informasi pemeriksaan khusus antara liin berasal dari :
Pengaduan masyarakat
Pengembangan temuan audit operasional yang ada indikasi terjadi kecurangan
atau korupsi
Pengembangan permasalahan yang dijumpai pada finasial audit yang ada indikasi
kecurangan atau ketidak beresan.atau korupsi

Pemeriksaan khusus ini relatif lebih sulit bila dibandingkan dengan audit finasial maupun audit
operasional. Keberhasilan investigasi sangat ditentukan kepandaian auditor untuk menyusun
prosedur audit karena prosedur audit tidak bisa ditetapkan sebelum mulai audit seperti pada
financial audit atau operasional audit. Prosedur audit yang telah ditetapkan, saat melakukan
audit sering dirubah, menyesuaikan dengan kondisi yang ditemui di lapangan.

2. Langkah-Langkah Yang Perlu Dilakukan Auditor


Untuk audit khusus auditor di samping perlu memperhatikan skeptik profesional yaitu tidak
boleh menganggap auditee (orang yang diaudit) orang yang tidak jujur dan tidak boleh
menganggap auditee tidak diragukan kejujurannya, juga azas praduga tak bersalah.

Langkah apa yang harus dilakukan auditor untuk masing-masing kasus berbeda. Misalnya
audit khusus terhadap kredit macet, terhadap pengadaan tanah, pelatihan yang diduga fiktif,
pengangkatan Kepala SD yang tidak sesuai ketentuan dan lain-lain. Dalam melakukan audit
tidak perlu tegang, biasa saja. Yang perlu dikenali pertama pada umumnya tata kerja kantor
atau bagian kantor yang diaudit .

3. Beberapa Contoh Audit Khusus


Dalam paragraf ini kemukakan beberapa contoh pelaksanaan audit khusus barang kali tehnik
tersebuat dapat menambah wawasan bagi auditor yang melaksanakan audit khusus.
a. Manipulasi Keuangan Koperasi
Ada pengaduan dan juga dari berita di koran sekitar tahun 1987 bahwa para anggota koperasi
di kantor PDK tidak dapat mengambil uang simpanannya karena koperasi tidak punya uang
sedangkan koperasi itu cukup besar karena anggotanya ratusan guru

Pertama-tama setelah diadakan pembicaraan secara baik-baik dengan pihak auditee, dia tidak
keberatan dilakukan audit, barangkali dia yakin auditor tidak akan mampu menguak modus
operandi manipulasinya.apalagi laporan keuangan koperasi telah diaudit oleh Akuntan Publik
dengan Pendapat wajar tanpa pengecualian.

Langkah pertama minta laporan keuangan auditan , karena modal koperasi dari simpanan
pokok, simpanan wajib serta simpanan suka rela cukup besar . Nilai pinjaman yang diberikan
kepada anggota yang jumlahnya sangat besar, hampir satu setengah miliard, demikian pula
simpanan suka rela dari anggota dan pihak III yang bunganya lebih tinggi dari bank, cukup
besar pula.
Ada informasi dari salah satu anggota koperasi bahwa ada nama-nama fiktif dalam daftar
saldo pinjaman yang diberikan yang dilampirkan dalam laporan auditan .. Umumnya saldo
simpanannya cukup besar. Setelah dijumlah saldo pinjaman yang diperkirakan fiktif
sekitar Rp.800.- juta Langkah selanjutnya auditor menetapkan prosedur audit untuk dapat
menjelaskan terjadinya saldo fiktif sekitar Rp. 800 juta.

Langkah ke 1
Biasanya praktek yang diduga terjadi korupsi dilakukan dengan manipulasi angsuran
pengembalian pinjaman. Angsuran pengembalian pinjaman dipotong dari gaji para guru yang
tersebar di 2 kabupaten. Dari hasil audit sejak berdirinya koperasi kira-kira 2 tahun yang lalu
sampai saat audit pengembalian melalui potongan gaji dari masing masing bendaharawan di
kecamatan , ternyata uang dari bendaharawan kecamatan tidak disetor seluruhnya kas
koperasi yaitu lebih kecil sebesar Rp. 250,- juta, dengan demikian masih ada kekurangan yang
harus dijelaskan sebesar Rp. 550 juta (Rp.800 250,-.juta )
Langkah ke 2
Dari prosedur pembukuan bukti pengeluaran kas untuk pinjaman yang diberikan dibuku secara
gabungan misalnya sepuluh bukti untuk pinjaman yang diberikan dalam satu hari direkap dan
jumlah rekapan dibuku dalam buku kas dalam satu transaksi. Yang mengerjakan buku kas
adalah bendahara koperasi sendiri, demikian pula yang menyiapkan bukti kas dan merekap
bukti kas . Auditor melakukan pemeriksaan sampling dengan menghitung ulang terhadap rekap
sepuluh bukti pemberian pinjaman tersebut. Setelah dijumlah ulang ternyata jumlahnya tidak
sebesar yang hasil rekapan yang dibuku dalam buku kas, misalnya jumlahnya hanya Rp. 5 juta
dibuku dalam buku kas sebesar Rp. 6 juta atau lebih. Setelah seluruh bukti pengeluaran kas
untuk pinjamam yang diberikan dijumlah ulang selama kurang lebih dua tahun terdapat
kelebihan pembukuan pengeluaran kas sebesar Rp. 200,- juta, dengan demikian saldo
pinjaman yang diberikan yang fiktif yang masih perlu dijelaskan tinggal Rp. 350,- juta (550
200 juta).
Langkah ke 3
Dalam neraca koperasi terdapat pembayaran uang muka sebesar Rp. 150,- setelah dikonfirmasi
ternyata rekanan tidak pernah menerima pembayaran uang muka, dengan demikian masih ada
sisa yang belum dapat dijelaskan sebesar Rp. 200,- (Rp. 350 150).
Langkah ke 4
Auditor mencari lagi prosedur audit apa untuk bisa menjelaskan sisa pinjaman fiktif
sebesar Rp.200,- juta tersebut Beritik tolak bahwa yang menyiapkan bukti kas dan yang
membukukan dalam buku kas adalah bendahara sendiri, auditor mencurigai kebenaran
pengerjaan buku kas. Buku Kas yang digunakan adalah buku kas tabelaris. Auditor meneliti
penjumlahan buku kas dan pemindahan saldo dari halaman ke halaman berikutnya. Ternyata
dijumpai pemindahan saldo / jumlah yang tidak sesuai dengan halaman sebelumnya. yang
dilakukan dengan menambah jumlah pengeluaran kolom pinjaman yang diberikan berkisar
antara Rp. 10.- s / d Rp. 30,- juta. Selama kurang lebih 2 tahun kelebihan penjumlahan kas
hampir sebesar Rp. 200,- juta. Dengan demikian sudah dapat dijelaskan jumlah uang yang
menguap.
Langkah ke 5
Salah satu anggota koperasi menginformasikan pula bahwa banyak simpanan suka rela yang
fiktif terutama atas nama pengurus koperasi dan orang dekat bendahara.Salah satu cirinya
saldonya relative besar.
Selelah dilakukan audit, modus operandinya dilakukan sebagai berikut.
Seolah-olah pada satu hari ada simpanan yang masuk misalnya Rp. 30,- juta (simpanan fiktif
dari salah satu pengurus) dan pada hari yang sama ada pengeluaran untuk uang muka fiktif atau
pinjaman yang diberikan (fiktif) misalnya Rp. 29 juta Selanjutnya dapat diketahui nama-
nama simpanan yang fiktif. Lumayan para pengurus koperasi dan orang dekat bendahara tanpa
setor uang, langsung mempunyai simpanan yang jumlahnya cukup besar , sewaktu-waktu
dapat ditarik atau setidak-tidaknya setiap bulan dapat menerima bunga.

Untuk dapat mentutaskan investigasi cukup sulit karena modus operandi cukup pintar, Namun
sepanjang auditor memahami resiko bawaan, resiko pengendalian serta memahami pembukuan
/ akuntansi dan memilih prosedur audit yang tepat, auditor dapat menyelesaikan tugas tersebut
dengan baik.

b. Pelatihan Fiktif
Sekitar tahun 1987auditor memeriksa proyek di propinsi yang kegiatannya mengadakan
pelatihan, sedang pelatihannya diadakan di dua kabupaten yang jaraknya cukup jauh dari ibu
kota Propinsi. Dari hasil pemeriksaan dokumen pelatihan (jumlah pelatihan sebanyak 11
angkatan) beberapa pelatihan tanda tangan peserta misalnya tanda tangan absen peserta
pelatihan kelihatan berbeda / tidak sama dengan tanda tangan waktu ia menerima uang saku.
Tarikan tanda tangan para peserta pelatihan kelihatan sama.Di samping itu ada yang
menginformasikan terdapat pelatihan yang fiktif.

Karena laporan audit segera dikompulir maka laporan auditan (laporan operasional audit)
disusun lebih dulu namun dalam laporan tersebut dikemukakan akan diadakan pemeriksaan
lebih lanjut (dilakukan investigasi).Pihak penyelenggara pelatihan terutama yang ada di
kabupaten mempersilahkan dilakukan investigasi, namun tidak sanggup mengantar ke desa
barang kali karena tidak ada biaya dan lokasi desa tempat para peserta jauh dari kabupaten
sekitar 100 150 km.

Pada bulan berikutnya pada waktu auditor ditugaskan memeriksa proyek lain yang lokasinya
dekat dengan lokasi / desa para pemuda peserta pelatihan maka auditor memanfaatkan
kesempatan tersebut .
Langkah yang ambil auditor sebagai berikut :
Langkah ke 1
Auditor lebih dulu menyiapkan Surat keterangan dari Kepala Desa atau Lurah yang
menyatakan memang benar ada nama-nama pemuda yang menjadi peserta pelatihan
yang berasal dari desa yang bersangkutan (satu desa rata-rata 6 pemuda) yang dikutip dari
dokumen pelatihan.
Langkah ke 2
Auditor mendatangi kantor Kepala Desa pada sore hari. Pada mulanya ngobrol, auditor memuji
keberhasilan pertanian di desa tersebut sambil rokokan. Selanjutnya auditor bilang, bahwa desa
bapak beruntung karena para pemuda telah diikut sertakan pelatihan.di ibu kota kecamatan
sesuai daftar yang disiapkan . Kepala Desa langsung menjawab bahwa tidak ada pemuda dari
desanya yang ikut pelatihan. Auditor menyebut nama pemuda sesuai dokumen
pelatihan, Kepala Desa tidak kenal bahkan dia mengatakan dari desa tersebut tidak ada nama-
nama pemuda yang kami sebutkan. Bapak Kepala Desa bersedia menandatangani blanko yang
sudah disiapkan auditor dan menyatakan nama-nama pemuda tersebut tidak ada ( nama fiktif )
kemudian distempel desa. Desanya cukup banyak dan lokasinya cukup jauh , sepertinya tidak
mungkin auditor dapat mendatangi semua desa yang pemudanya ikut pelatihan karena dalam
satu kabupaten kira-kira seluruhnya 20 desa. Auditor hanya mendatangi 5 desa dari lima
angkatan yang hasilnya sama dengan desa yang pertama, yaitu bahwa di desa tersebut tidak
ada pemuda yang ikut pelatihan.
Langkah ke 3
Dengan bermodalkan 5 lembar bukti pernyataan Kepala Desa bahwa nama-nama pemuda yang
ikut pelatihan fiktif, auditor dengan membawa tas yang isinya antara lain fotocopy dan blanko
kosong 30 lembar di mana yang telah di tanda tangani Kepala Desa cuma 5 desa, 3 lembar
ditaruh di atas dan 2 lembar ditaruh di bawah. Selanjutnya auditor mendatangi penyelenggara
pelatihan yang ada di kabupaten. Setelah diadakan pembicaraan dengan baik-baik kami
menunjukkan bahwa tanda tangan absen peserta agak berbeda dengan tanda tangan penerimaan
uang saku maupun uang transport. Di kabupaten tersebut dilaksanakan 6 angkatan pelatihan
yang diikuti 35 s/ d 40 pemuda tiap angkatan dan semua nama peserta nya telah kami copy dari
dokumen pelatihan. Mula-mula Panitia tidak mengakui bahwa tanda tangan peserta
meragukan, namun setelah kami tunjukkan pernyataan dari Kepala Desa (diambil dari
tumpukan paling atas) bahwa nama peserta pelatihan fiktif, penyelenggara pelatihan tidak bisa
menjawab. Untuk angkatan lain dia tahu bahwa auditor mengambil blanko dari tumpukan yang
paling bawah. Auditor terpaksa berbohong bahwa telah mendatangi seluruh desa dan telah
memperoleh pernyataan dari kepala Desa bahwa nama peserta pelatihan tersebut fiktif.
Sebetulnya dari tanda tangan peserta, kelihatan sekali tanda tangannya diduga dipalsu, namun
akuntan tidak boleh mengatakan tanda tangan palsu karena bukan keahliannya. Akhirnya dia
mengakui dari 6 angkatan pelatihan, 4 di antaranya fiktif. Dilihat dari nilai rupiah kerugian
negara tidak terlalu besar, namun yang jelas akibat terhadap tujuan program sangat besar.

Komentar.
Dilihat perkembangannya kegiatan usaha bermula dalam bentuk perseorangan kemudian
berkembang menjadi firma. CV , PT keluarga ( tidak go public ) dan yang terakhir berbentuk
PT yang go publik. Pada bentuk usaha PT yang go public pemilik sudah tidak bisa lagi
mencampuri perusahaan. Namun pemilik masih dapat menunjuk dewan komisaris dengan
dibantu Komite Audit untuk mengawasi jalannya perusahaan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa betuk usaha yang paling tepat bagi pemilik modal dalam
menanamkan uangnya adalah dengan membeli saham PT yang go public.Berbeda dengan
koperasi, yang modalnya berupa setoran dari para anggota. Pengurus koperasi kadang-kadang
diangkat bukan karena keahliannya, melainkan karena kedudukannya. Maka sebaiknya
Pengurus koperasi dipilih orang cocok dengan keahliannya, dan jujur dalam segala hal, jangan
sampai menjadikan koperasi sebagai alat untuk kepentingan pribadi misalnya menjadi
leveransir koperasi.

Apa yang kami kemukakan contoh koperasi di atas adalah terjadi pada koperasi Guru SD. di
mana banyak guru yang menabung dengan dipotong gajinya untuk kepentingan tertentu masa
yang akan datang misalnya untuk khitanan anaknya.

Pada waktu itu ada berita di Koran local yang memberitakan seorang Ibu
Guru dari desa menangis dkantor koperasi, karena ia akan mengambil
uang tabungan dan bunganya selama kurang lebih 2 tahun untuk
mengkhitankan anaknya , ternyata pada koperasi tidak ada uang karena
uangnya dikorupsi oleh para pengurusnya.