Você está na página 1de 3

2.

1 Ameloblastoma

2.1.1 Definisi

Ameloblastoma yang memiliki nama lain adamantinoma merupakan neoplasma

odontogenik yang berasal dari sisa epitel dental lamina. Berdasarkan klasifikasi WHO

(1992), ameloblastoma merupakan tumor jinak yang berasal dari epitel odontogenik.

Ameloblastoma bersifat unisentrik, non-fungsional, pertumbuhannya pelan namun

berinvasi lokal, dan memiliki tingkat rekurensi yang tinggi setelah perawatan. Rekurensi

dapat terjadi karena ameloblastoma memiliki sel satelit yang dapat berinvasi.

Ameloblastoma berasal dari sisa sel organ enamel (Hertwig's sheat, epitel rest of

Mallassez), gangguan pertumbuhan organ enamel, epitel dinding kista odontogenik

terutama kista dentigerous dan sel epitel basal permukaan rongga mulut. Ameloblastoma

umumnya terjadi pada usia 20-50 tahun dan ditemukan bahwa 80% kasus ameloblastoma

terjadi di daerah mandibula dibanding maksila. 60% terjadi di regio molar dan ramus, 15%

di regio premolar dan 10% di regio simpisis, serta 20% pada maksila.

2.1.2 Etiologi

Ameloblastoma adalah suatu tumor epitelial odontogenik yang berasal dari jaringan

pembentuk gigi, bersifat lokal dan invasif serta destruktif. Tumor odontogenik ini paling

banyak ditemukan dibandingkan tumor lain. Ameloblastoma bisa berasal dari sisa dental

lamina atau sisa epitel dari kista dentigerous, sedangkan ameloblastoma periferal dapat bisa

berkembang dari permukaan epitelium gingiva. Ameloblastoma dapat menyebabkan

deformitas daerah oral dan fasial yang cukup signifikan dengan tingkat rekurensi yang

tinggi bila tidak ditangani dengan sempurna.


Ameloblastoma menyebar dengan membentuk psudopods pada sumsum tulang

tanpa resorpsi tulang trabekular yang nyata. Sebagai hasilnya, margin tumor tidak terlihat

jelas pada radiograf atau selama pembedahan dan tumor sering rekuren setelah

pembedahan yang inadekuat. Rekurensi ameloblastoma umumnya timbul bertahun-tahun

setelah pembedahan pertama. Terdapat kemungkinan perubahan keganasan jika tidak

dirawat dengan adekuat.

Tumor ini mempunyai kecenderungan untuk kambuh apabila tindakan operasi tidak

memadai. Sifat yang mudah kambuh dan penyebarannya yang ekspansif dan infiltratif ini

memberikan kesan malignancy dan oleh karena sifat penyebarannya maupun

kekambuhannya lokal maka tumor ini sering sebagai locally malignancy.

Etiologi ameloblastoma sampai saat ini belum diketahui dengan jelas, tetapi

beberapa ahli mengatakan bahwa ameloblastoma dapat terjadi setelah pencabutan gigi,

pengangkatan kista dan atau iritasi lokal dalam rongga mulut. Patogenesis dari tumor ini,

melihat adanya hubungan dengan jaringan pembentuk gigi atau sel-sel yang

berkemampuan untuk membentuk gigi tetapi suatu rangsangan yang memulai terjadinya

proliferasi sel-sel tumor atau pembentuk ameloblastoma belum diketahui.

Ameloblastoma dapat merupakan turunan dari:

a. Sisa-sisa epitel Malassez

b. Sisa selubung Hertwig yang terkandung pada ligament periodontal gigi yang erupsi

c. Epitelium dari kista odontogenik - 17% nya berhubungan dengan gigi impaksi dan kista

dentigerous

d. Gangguan perkembangan organ enamel, dapat karena trauma atau cedera kimia in

utero
e. Sel-sel basal dari surface epithelium, sebagai hasil invaginasi sel basal epitel ke tulang

rahang yang sedang berkembang

f. Epitelium heterotopik, epithelium dari bagian tubuh lain (seperti kelenjar pituitari) yang

bermigrasi ke rahang.

2.1.3 Patofisiologi

Tumor ini bersifat infiltratif, tumbuh lambat, tidak berkapsul, berdiferensiasi baik.

Lebih dari 75% terjadi di rahang bawah, khususnya regio molar dan sisanya terjadi akibat

adanya kista folikular. Tumor ini muncul setelah terjadi mutasi-mutasi pada sel normal

yang disebabkan oleh zat-zat karsinogen tadi. Karsinogenesisnya terbagi menjadi 3 tahap:

1. Tahap pertama merupakan Inisiaasi yatu kontak pertama sel normal dengan zat

Karsinogen yang memancing sel normal tersebut menjadi ganas.

2. Tahap kedua yaitu Promosi, sel yang terpancing tersebut membentuk klon melalui

pembelahan(poliferasi).

3. Tahap terakhir yaitu Progresi, sel yang telah mengalami poliferasi mendapatkan satu

atau lebih karakteristik neoplasma ganas.