Você está na página 1de 12

3.

1 PENGERTIAN LIKUIDASI DAN PERBEDANNYA DENGAN DISOLUSI


Likuidasi adalah pembubaran perusahaan oleh likuidator dan sekaligus pemberesan dengan
cara melakukan penjualan harta perusahaan, penagihan piutang, pelunasan utang, dan penyelesaian
sisa harta atau utang di antara para pemilik.
Dalam hal syarat pembubaran perusahaan telah terpenuhi, maka proses likuidasi diawali
dengan ditunjuknya seorang atau lebih likuidator. Jika tidak ditentukan likuidator dalam proses
likuidasi tersebut maka direksi bertindak sebagai likuidator. Dalam praktiknya likuidator yang
ditunjuk bisa orang profesional yang ahli di bidangnya (dalam arti seseorang di luar struktur
manajemen perusahaan), namun banyak juga likuidator yang ditunjuk adalah direksi dari perusahaan
tersebut. Dalam melakukan tugasnya likuidator diberikan kewenangan luas termasuk membentuk tim
likuidator dan menunjuk konsultan-konsultan lainnya guna membantu proses likuidasi.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa likuidasi dilakukan dalam rangka pembubaran
badan hukum. Sedangkan kepailitan, tidak dilakukan dalam rangka pembubaran badan hukum, dan
tidak berakibat pada bubarnya badan hukum yang dipailitkan tersebut.
Masuknya sekutu baru atau pengunduran diri sekutu lama atau meninggalnya sekutu lama
akan mengakibatkan disolusi (pembubaran) persekutuan. Tetapi disolusi tidak selalu terjadi dengan
berhentinya operasi persekutuan atau berhentinya usaha dan akuntansi persekutuan. Disolusi
persekutuan menurut Undang-undang adalah perubahan pada hubungan sekutu ketika ada sekutu yang
tidak lagi terlibat dalam menjalankan usaha yang berbeda dengan penyelesaian (winding up) usaha
tersebut.
Disolusi persekutuan adalah berubahnya para hubungan sekutu yang menyebabkan
berhentinya persekutuan sebagai entitas hukum. Pada disolusi, entitas persekutuan bisa berjalan terus
jika ada perjanjian baru.
Ketika persekutuan secara hukum resmi disolusi, baik dengan masuknya sekutu baru atau
dengan pengunduran diri atau meninggalnya sekutu lama, suatu perjanjian persekutuan baru perlu
dibuat untuk kelanjutan usaha persekutuan.

3.2 PROSES LIKUIDASI

Proses Likuidasi ada 4 (Empat) tahapan, yaitu:

1. Tahap menghitung dan membagi laba atau rugi persekutuan sampai saat likuidasi (berupa
ratio pembagian laba). Pembagian laba dilakukan sesuai dengan metode pembagian laba.
Tahap ini hanya diperlukan apabila likuidasi tidak dilakukan pada awal atau akhir periode.
2. Meng-uangkan (menjual) semua aktiva selain kas. Tahap yang kedua ini disebut Realisasi.
Apabila nilai realisasi aktiva non-kasnya lebih kecil dibanding nilai bukunya maka kerugian
harus ditanggung semua sekutu dengan mengurangkan modalnya. Sebaliknya bila nilai
realisasi aktiva non-kasnya lebih besar dibanding nilai bukunya maka keuntungkan akan
menambah modal semua sekutu sesuai ratio pembagian labanya. Rugi-laba tersebut diakui
sebagai rugi laba realisasi.
3. Melunasi semua hutang persekutuan

Setelah penjualan aktiva non-kas (realisasi) maka hasilnya akan menambah kas, kemudian
kas ini sesuai Kitab Undang-Undang Hukum Perdata harus digunakan terlebih dahulu untuk:
a. Melunasi hutang kepada pihak ketiga (bukan sekutu). Hutang pihak ketiga harus
diprioritaskan untuk dilunasi terutama hutang pihak ketiga yang jumlahnya besar
terlebih dahulu
b. Melunasi hutang sekutu. Setelah semua utang kepada pihak ketiga dilunasi maka
menyusul pelunasan hutang sekutu yang biasanya bila hanya hutang pada seorang
sekutu maka dilakukan bersama-sama dengan pengembalian modal pada likuidasi
sederhana. Apabila hutang lebih dari satu sekutu maka dilakukan pelunasan dengan
prioritas sekutu yang modalnya lebih besar. Apabila terbukti modalnya tidak cukup
untuk melunasi hutang maka sekutu yang bersangkutan harus membayar hutang
dengan harta pribadi.

4. Membagi sisa kas yang masih ada kepada para sekutu

Sisa kas dibagikan setelah hutang kepada pihak ketiga dan sekutu dilunasi. Tujuan
pembagian sisa kas ini adalah:

a. Untuk mengembalikan modal kepada para sekutu sebagai wujud pembagian hak
kepada sekutu. Pengembalian modal ini sebesar modal bersih (modal setelah
dikurangi laba-rugi realisasi dan hutang) masing-masing sekutu
b. Untuk melindungi kepentingan sekutu dikarenakan tanggung jawab sekutu tidak
terbatas maka apabila kas memungkinkan biasanya pembayaran utang kepada sekutu
dilakukan bersama-sama dengan pengembalian modal kepada sekutu.

3.3 PEMBAYARAN AMAN UNTUK SEKUTU

Berikut panduan yang dapat digunakan untuk membantu akuntan dalam menentukan pembayaran bertahap yang aman
kepada para sekutu :

1. Tidak mendistribusikan kas kepada para sekutu hingga seluruh kewajiban dan beban likuidasi
aktual maupun potensial telah dibayarkan atau telah dicadangkan seperlunya.
2. Antisipasilah kemungkinan yang terburuk, atau yang paling membatasi sebelum menentukan
jumlah uang tunai yang dapat diterima oleh masing-masing sekutu :
a. Asumsikan bahwa seluruh aset nonkas yang tersisa akan dihapuskan sebagai kerugian,
yaitu bahwa tidak ada lagi yang dapat direalisasikan dari penghapusan aset.
b. Asumsikan bahwa defisit timbul pada akun modal para sekutu akan disitribusikan kepada
sekutu yang tersisa, asumsi bahwa defisit tersebut tidak akan dihapuskan oleh kontribusi
modal tambahan para sekutu.
3. Setelah akuntan mengasumsikan kasus terburuk yang dapat terjadi, maka sisa saldo kredit
pada akun modal menunjukkan distribusi aset dan kas yang aman yang dapat didistribusikan
kepada masing-masing sekutu dalam jumlah yang terkait.

3.4 LIKUIDASI BERTAHAP

Likuidasi bertahap merupakan suatu likuidasi yang secara umum memerlukan beberapa bulan dalam penyelesaiannya
dan mencakup pembayaran secara periodik, cicilan atau bertahap, kepada para sekutunya selama masa likuidasi. Likuidasi
bertahap mencakup distribusi kas kepada para sekutu sebelum likuidasi aset sepenuhnya dilakukan.
ILLUSTRASI LIKUIDASI BERTAHAP

Adi, Bayu dan Citra memutuskan untuk melakukan likuidasi terhadap usaha mereka selama beberapa
periode waktu dan menerima distribusi kas yang tersedia secara bertahap selama proses likuidasi.
Ringkasan neraca saldo persekutuan ABC per tanggal 1 Mei 20X5, pada saat para sekutu memutuskan
untuk melikuidasi usaha adalah sebagai berikut, adapaun persentase pembagian laba dan rugi masing-
masing sekutu juga ditunjukkan

PERSEKUTUAN ABC
Neraca Saldo
1 Mei 20X5
Kas Rp10.000.000
Aset Nonkas 90.000.000
Liabilitas Rp42.000.000
Modal, Aldi (40%) 34.000.000
Modal, Bayu (40%) 10.000.000
Modal, Citra ( 20%) 14.000.000
Total 100.000.000 100.000.000

Berikut adalah penjelasan mengenai kasus tersebut


1. Laporan kekayaan bersih pada sekutu pada tanggal 1 Mei 20X5 adalah sebagai berikut
Aldi Bayu Citra
Aset pribadi Rp150.000.000 Rp12.000.000 Rp42.000.000
Liabilitas pribadi (86.000.000) (16.000.000) (14.000.000)
Kekayaan bersih (defisit) Rp64.000.000 (Rp4.000.000) Rp28.000.000

2. Aset nonkas yang dijual adalah sebagai berikut


Tanggal Nilai Buku Proceed Kerugian
5/15/X5 Rp55.000.000 Rp45.000.000 Rp10.000.000
6/15/X5 30.000.000 15.000.000 15.000.000
7/15/X5 5.000.000 5.000.000

3. Kreditor akan dibayar sebesar Rp. 42.000.000 pada tanggal 20 Mei


4. Para sekutu bersepakat untuk mengelola cadangan kas sebesar Rp 10.000.000 selama proses
likuidasi yang digunakan untuk membayar beban likuidasi
5. Para sekutu bersepakat untuk mendistribusikan kas yang tersedia pada akhir setiap bulan yaitu
likuidasi bertahap akan dilakukan pada tanggal 31 Mei dan 30 Juni. Distribusi kas final
kepada para sekutu akan dilakukan pada tanggal 31 Juli 20X5, akhir proses likuidasi

Transaksi Selama Bulan Mei 20X5


Peristiwa yang terjadi selama bulan Mei 20X5 menghasilkan distribusi sebesar Rp5.000.000 kepada
para sekutu. Prosedur yang digunakan untuk menghasilkan jumlah ini adalah sebagai berikut :
1. Penjualan aset yang bernilai Rp55.000.000 menghasilkan kerugian sebesar Rp10.000.000
yang didistribusikan kepada ketiga sekutu berdasarkan rasio pembagian kerugian
2. Pembayaran sebesar Rp42.000.000 dilakukan kepada kreditor persekutuan atas liabilitas yang
diketahui
3. Kas yang tersedia didistribusikan pada tanggal 31 Mei 20X5

Transaksi Selama Bulan Juni 20X5


1. Aset nonkas sebesar Rp30.000.000 dijual pada tanggal 15 Juni dengan kerugian sebesar
Rp15.000.000. Kerugian tersebut didistribusikan ke para sekutu dengan rasio pembagian
kerugian yang menghasilkan saldo modal Bayu sebesar nol.
2. Pada tanggal 30 Juni 20X5, kas yang tersedia didistribusikan kepada para sekutu sebagai
pembayaran bertahap

Transaksi Selama Bulan Juli 20X5


1. Aset yang tersisa dijual pada nilai bukunya sebesar Rp5.000.000
2. Biaya likuidasi yang sebenarnya sebesar Rp7.500.000 dibayarkan dan dialokasikan kepada
para sekutu dengan rasio pembagian kerugian, menimbulkan defisit sebesar Rp3.000.000
dalam akun modal Bayu. Sisa sebesar Rp2.500.000 dari Rp10.000.000 yang dicadangkan
untuk biaya yang dikeluarkan untuk distribusi kepada para sekutu.
3. Oleh karena Bayu secara pribadi insolven dan tidak dapat memberikan kontribusi kepada
persekutuan, maka defisit sebesar Rp3.000.000 tersebut didistribusikan kepada Aldi dan Citra
dengan rasio pembagian kerugian. Perhatikan bahwa ini merupakan defisit aktual, bukan pro
forma defisit
4. Sisa kas sebesar Rp7.500.000 dibayarkan kepada Aldi dan Citra sampai sebatas saldo modal
mereka. Setelah distribusi akhir ini, semua saldo akun menjadi nol, yang mengindikasika
penyelesaian proses likuidasi.

Gambar 1 Laporan realisasi dan likuidasi persekutuan


Gambar 2 skedul pembayaran aman kepada sekutu bulan mei

Gambar 3 skedul pembayaran aman kepada sekutu pada bulan juni

3.5 RENCANA DISTRIBUSI KAS


Pada awal likuidasi, adalah umum bagi para akuntan untuk menyusun rencana distribusi kas, yang
memberikan gambaran kepada para sekutu mengenai pembayaran kas bertahap yang akan diterima
oleh masing-masing pada saat telah tersedia kas dalam sekutu. Distribusi bertahap aktual ditentukan
dengan menggunakan laporan realisasi dan luikuidasi, yang dilengkapi dengan skedul pembayaran
aman kepada para sekutu sebagaimana yang ditunjukkan pada bagian akhir materi ini. Rencana
distribusi kas merupakan proyeksi pro forma penggunaan kas, apabila telah tersedia uang tunai.

KEMAMPUAN MENANGGUNG KERUGIAN

Konsep dasar rencana distribusi kas pada awal proses likuidasi adalah kemampuan menanggung
kerugian (loss absorption power-LAP). LAP seorang sekutu diartikan sebagai kerugian maksismum
yang dapat terjadi dalam persekutuan sebelum saldo akun modal dan pinjaman sekutu dilunasi.
Kemampuan menanggung kerugian merupakan fungsi dari dua elemen yaitu :

LAP = Saldo akun modal sekutu / bagian laba dan rugi sekutu

Sebagai contoh pada 1 Mei 20X5 Aldi memiliki saldo kredit akun modal sebesar Rp 34.000.000 dan
40% dari bagian laba dan rugi Persekutuan ABC. Lap Aldi adalah :

LAP = Rp34.000.000 / 0,40 = Rp 85.000.000

Ini berarti bahwa kerugian dalam penghapusan aset nonkas atau beban likuidasi tambahaan sebesar
Rp 85.000.000 akan menghapuskan saldo kredit dalam akun Modal Aldi dengan perhitungan sebegai
berikut :

Rp 85.000.000 x 0,40 = Rp 34.000.000

Ilustrasi Rencana Distribusi Kas

Ilustrasi berikut ini didasarkan pada contoh persekutuan ABC. Neraca saldo akun-akun neraca
Persekutuan ABC pada tanggal 1 Mei 20X5, yaitu hari saat para sekuti memutuskan melikuidasi
usaha, disajikan sebagai berikut :

Persekutuan ABC

Neraca Saldo

1 Mei 20X5

Kas Rp 10.000.000

Aset Nonkas 90.000.000

Kewajiban Rp 42.000.000

Modal, Aldi (40%) 34.000.000

Modal, Bayu (40%) 10.000.000

Modal, Citra (20%) 14.000.000

Total Rp 100.000.000 Rp 100.000.000


Pada sekutu meminta rencana distribusi kas per tanggal 1 Mei 20X5, untuk menentukan distribusi
pada saat kas tersedia selama proses selama proses likuidasi. Rencana seperti ini selalu memberikan
pembayaran kreditur eksternal sebelum distribusi dapat dilakukan kepada para sekutu.

Pengamatan penting dari contoh tersebut adalah sebagai berikut :

1. Kemapuan menanggung kerugian masing-masing sekutu dihitung ketika saldo modal sebelum
likuidasi dibagi dengan persentase pembagian rugi para sekutu Aldi memiliki LAP tertinggi
(Rp 85.000.000). citra memiliki angka tertinggi berikut (Rp 70.000.000) dan Bayu memiliki
angka terendah (Rp 25.000.000). LAP masing-masing sekutu merupakan jumlah kerugian
yang akan menghapus secara total saldo kredit modal netonya. Aldi adalah sekutu yang
paling tidak rentan untuk mengalami kerugian dan Bayu adalah yang paling rentan terhadap
kerugian.
2. Sekutu yang paling tidak rentan akan menjadi yang pertama untuk menerima pembayaran
tunai setelah pembayaran kepada para kreditur. Aldi akan menjadi satu-satunya skutu yang
menerima kas hingga LAP menurun ke tingkat sekutu tertingg berikutnya, yaitu Citra. Untuk
menurunkan LAP Aldi sebesar Rp 15.000.000 membutuhkan pembayaran sebesar Rp
6.000.000(Rp15.000.000x0,40) kepada Aldi. Setelah pembayaran sebesar Rp 6.000.000
kepada Aldi, kemampuan menanggung kerugian yang baru akan sama dengan Citra, yang
dihitung dengan saldo modal Aldi yang tersisa sebesar Rp 28.000.000 dibagi dengan
persentase pembagian laba dan rugi sebesar 40% (Rp 28.000.000x0,40=Rp70.000.000).
3. LAP Aldi dan Citra sekarang akan seimbang dan mereka menerima distribusi kas hingga LAP
masing-masing menurun ke tingkat berikutnya, yaitu sebesar Rp 25.000.000 sebagai LAP
Bayu. Mengalikan LAP Rp 45.000.000(Rp70.000.000-Rp 25.000.000) dengan rasio
pembagian rugi kedua sekutu menunjukkan berapa banyak kas berikutnya yang tersedia agar
dapat dibayar dengan aman kepada masing-masing sekutu. Aldi dan Citra akan menerima
distribusi kas sesuai dengan rasio pembagian ruginya. Dengan tersedianya kas sebesar Rp
27.000.000, maka yang akan didistribukasikan kepada Aldi dan Citra masing-masing adalah
menurut rasio 40 : 60 untuk Citra.
4. Akhirnya pada saat ketiga sekutu tersebut memiliki LAP yang sama, maka sisa kas yang
tersedia akan didistribusikan menurut rasio pembagian rugi masing-masing sekutu.

Persekutuan ABC
Rencana Distribusi Kas
I Mei 20X5
Kemampuan menanggung kerugian Akun modal
Aldi Bayu Citra Aldi Bayu Citra
Persentase pembagian 40% 40% 20%
rugi
Saldo akun modal (14.000.000)
dan pinjaman
sebelum likuidasi, 1
Mei 20X5
Kemampuan (34.000.000) (10.000.000)
menanggung
kerugian (LAP)
(Akun modal/rasio
rugi)
Penurunan LAP (85.000.000) (25.000.000) 70.000.000)
tertinggi menjadi
sebesar LAP tertinggi
berikutnya
Menurunkan Aldi 15.000.000 6.000.000
sebesar Rp
15.000.000 (distribusi
kas Rp
15.000.000x0,40= Rp
6.000.000)
Penurunan LAP (70.000.000) (25.000.000) (70.000.000) (28.000.000) (10.000.000) (14.000.000)
tertinggi menjadi
sebesar LAP tertinggi
berikutnya
Menurunkan Aldi 45.000.000 18.000.000
sebesar Rp
45.000.000(distribusi
kas : Rp
45.000.000x0,40= Rp
18.000.000)
Menurunkan citra 45.000.000 9.000.000
sebesar Rp
45.000.000 (distribusi
kas : Rp
45.000.000x0,20= Rp
9.000.000)
Pelunasan LAP (25.000.000) (25.000.000) (25.000.000) (10.000.000) (10.000.000) (5.000.000)
dengan
mendistribusikan kas
sesuai denga
persentase pembagian
laba dan rugi
40% 40% 20%
Ringkasan Rencana Distribusi Kas
Langkah 1 : pertama sebesar Rp 42.000.000 kepada kreditur eksternal
Langkah 2 : berikutnya sebesar Rp 10.000.000 untuk beban likuidasi
Langkah 3 : berikutnya sebesar Rp 6.000.000 untuk Aldi 6.000.000
Langkah 4 : berikutnya sebesar Rp 45.000.000 untuk Aldi dan Citra 18.000.000 9.000.000
sesuai dengan rasio pembagian laba dan rugi masing-masing sekutu
Langkah 5 : distribusi tambahan sesuai dengan rasio laba dan rugi 40% 40% 20%
masing-masing sekutu

Ringkasan rencana distribusi kas diatas ditunjukkan kepada msing-masing sekutu. Dari ringkasan
ini, para sekutu mampu menentukan jumlah relatif yang kan diterima masing-masing apabila telah
tersedia kas pada persekutuan.

Diatas menunjukkan akun saldo modal masing-masing sekutu dalam persekutuan ABC selama
periode likuidasi bertahap tanggal 1 Mei 20X5 hingga 31 Juli 20x5. Pembayaran secara bertahap
kepada sekutu dihitung dalam laporan realisasi dan likuidasi persekutuan dengan menggunakan
skedul distribusi aman kepada para sekutu. Dan diatas menunjukkan bahwa distribusi aktual kas
yang tersedia telah sesuai dengan rencana distribusi kas yang telah dipersiapkan pada awal proses
likuidasi.

PERSEKUTUAN ABC
SALDO AKUN MODAL
1 MEI 20X5 SAMPAI DENGAN 31 JULI 20X5
SALDO MODAL
ALDI BAYU CITRA
40% 40% 20%
Saldo modal, 31 Mei, sebelum distribusi (34.000.000) (10.000.000) (14.000.000)
Kerugian bulan Mei sebesar Rp 10.000.000 4.000.000 4.000.000 2.000.000
atas penghapusan aset
(30.000.000) (6.000.000) (12.000.000)
Distribusi kas yang tersedia sebesar Rp 3.000.000
3.000.000 untuk para sekutu tanggal 31
Mei Rp 3.000.000 pertama (dari
Rp6.000.000 prioritas Aldi)
(27.000.000) (6.000.000) (12.000.000)
Kerugian bulan Juni sebesar Rp 15.000.000 6.000.000 6.000.000 3.000.000
atas penghapusan aset
(21.000.000) 0 9.000.000
Distribusi kas yang tersedia sebesar Rp 3.000.000
15.000.000 untuk para sekutu tanggal 30
Juni Rp 3.000.000 berikutnya (untuk
menyelesaikan Rp 6.000.000 prioritas
untuk Aldi)
Sisa Rp 12.000.000 40/60 untuk Aldi 8.000.000
Sisa Rp 12.000.000 20/60 untuk Citra 4.000.000
10.000.000 0 (5.000.000)
Biaya likuidasi 3.000.000 3.000.000 1.500.000
(7.000.000) 3.000.000 (3.500.000)
Biaya defisit aktual Bayu 2.000.000 (3.000.000) 1.000.000
(5.000.000) 0 (2.500.000)
Pembayaran final Rp 7.500.000 ke para 5.000.000
sekutu pada 31 Juli 20X5 40/60 untuk Aldi
Pembayaran final Rp 7.500.000 ke para 2.500.000
sekutu pada 31 Juli 20X5 20/60 untuk Citra
Saldo pascalikuidasi, 31 Juli 0 0 0
Catatan : dalam kurung berarti jumlah kredit

3.6 SEKUTU DAN PERSEKUTUAN YANG TIDAK SANGGUP MELAKUKAN


PEMBAYARAN

Order distribusi ini ditetapkan dalam Pasal 40b UU Persekutuan. Mengenai sekutu yang tidak
sanggup melakukan pembayaran. Pasal 40i UU tersebut mmberikan urutan berikut ini untuk
melakukan klaim terhadap harta terpisah tetapi sekutu yang pailit :

a. Saldo yang terutang kepada kreditor terpisah


b. Saldo yang terutang kepada kreditor persekutuan
c. Saldo yang terutang kpada sekutu melalui kontribusi

Urutan prioritas ini memiliki implikasi penting untuk likuidasi persekutuan yang tidak sanggup
melakukan pembayaran (aktiva persekutuab < kewajiban persekutuan) dan untuk likuidasi
persekutuan yang sanggup melakukan pembayaran (aktiva sekutu e kewajiban persekutuab) namun
ada satu sekutu atau lebih yang tidak sanggup melakukan pembayaran (harta pribado<utang pribadi).
Kreditor persekutuan harus terlebih dahulu mencari pemenuhan klaim mereka atas harta persekutuan,
dan kreditor dari sekutu sendiri harus terlebih dahulu mencari pemenuhan klaim mereka atas harta
pribadi.

Persekutuan Yang Sanggup Melakukan Pembayaran- Satu Sekutu Atau Lebih Secara Pribadi
Tidak Sanggup Melakukan Pembayaran
Dalam likuidasi persekutuan yang sanggup melakukan pembayaran, kreditor persekutuan
berhak memperoleh klaim mereka atas harta persekutuan dalam jumlah penuh. Persekutuan harus
berhati-hati untuk tidak mendistribusikan harta perskeutuan kepada sekutu yang tidak sanggup
membayar, melebihi saldo modalnya, yang menyebabkan saldo denit. Distribusi ini membuat harta itu
menjadi harta pribadi, dan kreditor pribadinya memiliki klaim atas harta tersebut, dimana klaimnya
lebih diprioritaskan daripada klaim kreditor persekutuan.

Jika distribusi yang demikian tidak terjadi, kreditor pribadi hanya memiliki klaim atas aktiva
persekutuan sebatas ekuitas sekutu yang tidak sanggup membayar tersebut. Jika sekutu yang tidak
sanggup membayar memiliki saldo debit yang sama (yaitu aktiva persekutu = kewajiban persekutuan
= 0), kreditor pribadi dari sekutu yang tidak sanggup membayar memiliki klaim atas harta pribadi
sekutu yang sanggup membayar sebatas saldo modal debit tersebut.

Walaupun persekutuan sanggup melakukan pembayaran, sekutu perseorangan bisa saja


memiliki saldo debit pada akun modalnya pada saat pembubaran atau mungkin mereka berakhir
dengan saldo debit sebagai akibat kerugian dan biaya yang terjadi selama proses likuidasi. Sekutu
yang demikian memiliki kewajiban kepada sekutu yang memiliki ekuitas dalam persekutuan sebesar
jumlah saldo debit tersebut. Namun, jika seorang sekutu dengan saldo modal debit secara pribadi
tidak sanggup membayar (harta pribadi < utang pribadi), harta pribadi sekutu tersebut dalam jumlah
penuh akan diberikan kepada kreditor pribadinya (Urutan I) menurut UU dan jumlah yang terutang
kepada sekutu melalui kontribusi (Urutan III) tidak akan termasuk dalam distribusi harta pribadi
sekutu tersebut. Akan tetapi, di beberapa negara bagian, hukum umum atau hukum kepailitan
memungkinkan para sekutu memperoleh bagian dlaam harta pribadi milik sekutu yang tidak sanggup
membayar yang akun modalnya bersaldo debit.

Sebagai ilustrasi West, York dan Zeff adalah sekutu yang membagi hasil usahanya masing-
masing sebesar 30%,30% dan 40%. West sendiri tidak mampu membayar, memiliki harta pribadi
senilai $50.000 dan utang pribadi $100.000. saldo akun persekutuan setelah seluruh kewajiban
persekutuan dilunasi adalah sebagai berikut (dalam ribuan) :

Kasus A Kasus B Kasus C


Kas $60 DR - -
Modal West (30%) 18 KR $18 KR $21 KR
Modal York (30%) 18 KR 27 DR 9 KR
Modal Zeff (40%) 24 KR 9 KR 12 KR
Dalam kasus A, ekuitas West sebesar $18.000tidak boleh dibayarkan langsung kepada West
karena kreditor pribadinya memiliki klaim terlebih dahulu atas ekuitasnya sebesar $18.000 atas aktiva
persekutuan.

Dalam kasus B, kreditor pribadi West memiliki hak klaim atas harta pribadi York sebatas
$18.000 yang merupakan utang York kepada West dan Zeff juga memiliki hak klaim terhadap York
sebesar $9.000.

Dalam kasus C, akun modal West berada pada posisi saldo debit dan dia tidak mampu
membayar. Menurut ketentuan dalam UU, York dan Zeff tidak dipernolehkan memiliki bagian dalam
harta pribadi West. Jadi, mereka harus membagi kerugian $21.000 dari West dengan menggunakan
rasio bagi hasil mereka berdua 3 :7 dan 4:7.

Persekutuan Yang Tidak Sanggup Melakukan Pembayaran

Ketika suatu persekutuan tidak sanggup melakukan pembayaran dana yang tersedia setelah
aktiva bukan kas diubah menjadi kas tidka cukup untuk membayar kreditor persekutuan. Kreditor
persekutuan akan memperoleh sebagian pengembalian dari aktiva persekutuan (Urutan I) dan akan
mendatangi sekutu perorangan untuk menggunakan kemampuan pribadi mereka untuk memenuhi
klaim yang tersisa (Urutan II).

Walaupun kreditor pribadi memiliki klaim yang prioritasnya lebih tinggi (Urutan I) atas harta
pribadi, kreditor persekutuan dapat memperoleh pengajuan atas klaim mereka dari harta pribadi
sekutu manapun yang secara pribadi mampu membayar. Sekutu diharuskan menyumbangkan jumlah
yang diperlukan untuk melunasi kewajiban persekutuan UU Persekutuan secara khusus menyatakan
bahwa seorang sekutu harus mengkontibusikan bagiannya untuk melunasi kewajiban, dan juga bagian
relatifnya atas kewajiban skutu yang tidak sanggup membayar atau yang tidak nosa atau tidak akan
memberikan kontribusinya atas kewajiban tersebut. Seorang sekutu yang membayar lebih dari
bagiannya dalam kewajiban persekutuan tentunya memiliki klaim terhadap sekutu yang saldo modal
debit.

Rose, Faye dan Kate adalah sekutu yang membagi labanya sama besar. Persekutuan mereka
sedang dalam proses likuidasi. Setelah seluruh aktiva dikonversi menjadi kas dan seluruh dana yang
tersedia digunakan untuk melunasi kewajiban persekutuan, saldo akun-akun berikut masih tersisa
dalam pembukuan persekutuan (saldo dalam ribuan).

Kewajiban $ 90 KR

Modal Rose (1/3) 30 DR

Modal Faye (1/3) 30 DR


Modal Kate(1/3) 30DR

Mempertimbangkan bahwa seluruh sekutu meiliki sumber daya pribadi setidaknya $30.000,
masing-masing sekutu harus menyetor $30.000 ke persekutuan untuk melunasi kewajiban persekutuan
eluruhnya. Namun, kreditor bisa memperoleh kekuranga $90.000 tersebut sepenuhnya dari salah satu
sekutu yang mana saja. Misalnya kreditor bisa saja memperoleh $90.000 dari Rose, dimana hal ini
akan menyebabkan saldo persekutuan akan menjadi sebagai berikut (saldo dalam ribuan).:

Modal Rose (1/3) 60 DR

Modal Faye (1/3) 30 DR

Modal Kate(1/3) 30DR

Jika Faye dan Kate masing-masing dapat menyetorkan $30.000 kepada persekutuan,
kenyataan bahwa kreditor memintanya dari Rose bukanlah suatu masalah besar. Namun, jika kreditor
meminta dari Rose karena Kate secara pribadi tidak sanggup membayar, dan harta pribadi neto Faye
hanya $35.000, situasi ini akan sangat berbeda. Dalam keadaan demikian, Rose dan Faye membagi
sama besar kerugian $30.000 akibat ketidak mampuan Kate, dimana setelah itu Rose akan memiliki
saldo modal kredit $45.000 dan Faye akan memiliki saldo modal debit $45.000. harta pribadi Faye
hanya ada $35.000, sehingga Rose menagih $35.000 tersebut dari Faye, dan sisa saldo debit sebesar
$10.000 pada akun modal Faye akan dihapuskan sebagai kerugian bagi Rose.