Você está na página 1de 4

ANALISA KECELAKAAN

KECELAKAAN INDUSTRI

Judul : Empat Pekerja Tewas di PG Kebonagung

Sumber : http://radarmalang.co.id/ (13/09/2014/11:12)

Kronologi kejadian :

Pekerja yang bernama Harianto (33 tahun) masuk kedalam palung yang kedalaman 4meter, lebar
3 meter, dan panjang 9 meter.tujuan dia masuk kedalam palung tebu adalah untuk membersihkan
sisan( endapan gula tebu).Beberapa saat kemudian tubuh Harianto lemas dan pingsan.
Mengetahui Harianto pingsan didalam palung tebu, ketiga temannya yang bernama Pujianto(30
tahun),Mujiono(28 tahun),Armi Uspahadi(25 tahun) masuk kedalam palung tersebut. Ternyata ketiga
orang tersebut juga pingsan di dalam palung tersebut. Sementara mengetahui empat rekannya pingsan
didalam palung tebu, rekannya yang lain tidak berani menolong , dan segera melaporkan kejadian
tersebut kepada kepolisian. Sayangnya setelah petugas datang, empat korban tersebut sudah tidak
bernyawa. Tewasnya empat pekerja yang berasal dari CV DINATA tersebut disebabkan oleh gas beracun
yang berasal dari sisan tebu ungkap Gatot Prabowo, kepala seksi proses PG Kebonagung.

Analisa kecelakaan :

Penyebab kecelakaan :

1. Empat pekerja tewas karena menghirup gas beracun dari sisan tebu.
2. Tidak berfungsinya kipas angin yang berguna untuk mengangkat gas
yang berada didalam palung.
3. Kurangnya safety pada para pekerja yaitu tidak memakai ,masker pada
saat membersihkan palung tebu.

Akibat : Empat pekerja tewas.

Upaya :

1. Seharusnya PG kebonagung selalu memeriksa alat- alat pabrik agar dapat


berfungsi secara maksimal.
2. Seharusnya perusahaan CV DINATA memperhatikan safety bagi para
pekerjanya atau dengan kata lain perusahaan CV DINATA membekali
pentingnya safety bagi para pekerjanya.
3. Memberi peringatan penting di area palung tebu tersebut.
Empat Pekerja Tewas di PG Kebonagung

Posted on 29 Desember 2013 by Redaksi in Headline, Kanjuruhan

PAKISAJI- Kecelakaan kerja hingga merenggut empat nyawa terjadi di Pabrik Gula (PG)
Kebonagung pukul 10.30 pagi kemarin. Empat korban tewas itu adalah Pujianto, 30; Mujiono,
28; Harianto, 33; dan Armi Uspahadi, 25. Kesemuanya warga Desa Pesantren, Kecamatan
Pesantren, Kota Kediri. Mereka adalah pekerja CV Dinata Kediri yang sedang mengerjakan
proyek membersihkan 10 palung milik PG Kebonagung. Tewasnya empat pekerja itu diduga
kuat akibat menghirup gas beracun dari dalam palung (tandon gula). Sebab, keempat korban itu
ditemukan sudah tak bernyawa di dalam palung.

Dari data yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, pekerja pertama yang menjadi korban adalah
Harianto. Dia yang masuk pertama ke palung dengan kedalaman 4 meter, lebar 3 meter, dan
panjang 9 meter itu. Tujuannya membersihkan gula sisan (istilah endapan gula) yang menjadi
kerak di dalam palung. Nah, baru saja Harianto masuk ke dalam palung itu, tiba-tiba dia lemas
dan pingsan.

Mengetahui rekan kerjanya pingsan, Pujianto, Mujiono, dan Armi berniat untuk menolong
dengan cepat masuk ke dalam palung juga. Alih-alih bisa menolong Harianto, ketiganya justru
mengalami nasib serupa. Mereka juga lemas dan pingsan.
Sementara mengetahui empat pekerja pingsan di dalam palung, rekannya yang lain akhirnya tak
berani menolong. Sejumlah pekerja langsung melaporkan peristiwa itu ke polisi. Sayang ketika
petugas dari kepolisian, PMI Kabupaten Malang, dan tim SAR tiba di lokasi, empat korban
sudah tak bernyawa. Jasad korban langsung dilarikan ke RS Saiful Anwar Malang.

Harianto, wakil pimpinan PG Kebonagung menyatakan bahwa pengerjaan pembersihan gula


sisan di palung itu memang ditenderkan setiap tahunnya. Pembersihan ini dilakukan setelah masa
giling habis. Dan tahun 2013 ini, CV Dinata Kediri yang dapat proyek tersebut. Tender itu
dilakukan pada awal Desember. Dan sejak 25 Desember lalu, CV Dinata memulai proyek itu
dengan melibatkan 38 pekerja. Diperkirakan untuk membersihkan 10 palung di PG Kebonagung,
dibutuhkan 10 hari. Menurut dia, di pabriknya itu ada 210 ton gula sisan tersebar di 10 palung.
Hingga kemarin, CV Dinata sudah mengambil sekitar 70 ton gula sisan. Sesuai SOP (prosedur
standar), setiap tahun memang kita tenderkan bagi perusahaan-perusahaan untuk membersihkan
gula sisan hasil endapan gilingan per tahun, ujar Harianto.

Terkait tanggung jawab adanya empat pekerja yang tewas itu, Harianto menjelaskan jika seluruh
biaya proses evakuasi korban dan pemulangan jenazah ditanggung oleh PG Keboagung. Namun,
untuk tanggung jawab yang lain, imbuh Harianto, PG Kebonagung akan berkomunikasi dulu
dengan CV Dinata.

Sementara Gatot Prabowo, kepala seksi proses PG Kebonagung menambahkan, endapan gula
sisan memang bisa menimbulkan gas beracun. Biasanya PG Kebonagung menggunakan kipas
angin yang diarahkan ke endapan gula untuk mengangkat gas yang ditimbulkan sebelum
dibersihkan. Selain itu, para pekerja pembersih juga dibekali dengan masker untuk mencegah
kontak langsung dengan gas beracun itu. Namun kemarin, selain tidak ada kipas angin, semua
pekerja juga tak menggunakan masker. Sehingga, kecelakaan itu terjadi. Secara alami, memang
endapan dari gula sisan bisa terjadi fermentasi sehingga bisa menimbulkan gas etanol, terang
Gatot.

Sebenarnya, ungkap Gatot, CV Dinata sudah tiga kali menjalin kerjasama membersihkan gula
sisan hasil penggilingan PG Kebonagung. Dia yakin, seluruh pekerja sudah cukup pengalaman
dan memahami prosedur yang dilakukan sebelum membersihkan gula sisan yang menjadi bahan
baku kecap tersebut.

Sementara Kapolsek Pakisaji AKP Amung Sri W. telah meminta pihak RSSA melakukan visum
luar. Dari situ, kepolisian bisa memiliki data untuk mengungkap kasus tersebut. Selain meminta
dilakukan visum luar, polisi akan memeriksa seluruh pegawai dari CV Dinata. Seluruh yang
akan diperiksa berjumlah sekitar 30 pegawai. Pegawai yang bekerja sebenarnya ada 38, karena
4 pulang dan 4 sudah meninggal, kita besok (hari ini) akan meminta keterangan dari 30 pegawai
itu, imbuh AKP Amung.

Karena proses penyelidikan tersebut, kini kondisi pabrik telah disterilisasi oleh polisi. Seluruh
aktivitas pembersihan terhadap gula sisan dihentikan untuk sementara.

Menurut pengakuan Sugiono, 25, korban selamat ketika ditemui di RSSA kemarin, pada saat
teman-temannya pingsan, dia sempat masuk ke palung. Maksudnya ingin menyelamatkan
adiknya, Harianto, yang sudah tergeletak. Dia sempat menarik tangan lelaki lajang itu. Tetapi
tarikannya lepas karena tangan Sugiono basah terkena air gula. Sugiono tak mampu lagi
menolong karena dirinya sesak napas menghirup gas yang menyengat. Saya tidak kuat menarik
tangan adikku. Saya sendiri selamat karena ditarik teman-teman, ujarnya.

Menurut dia, memang ada kebocoran gas di palung. Dari palung itulah gas beracun keluar.

Hal sedana diungkapkan oleh Marsih (40), korban selamat lainnya. Menurutnya, ada yang tidak
beres dengan palung itu. Karena saat dia masuk ke palung itu, langsung terhirup gas menyengat
ke hidungnya. Padahal, empat hari sebelumnya, pada saat nangani palung yang lain tidak terjadi
apa-apa. Dari tanggal 24 Desember kami di sana (PG Kebonagung) tidak terjadi apa-apa. Kok
baru di palung kedua terjadi bencana ini, sesalnya.(cw3/cw4/c1/abm)

http://radarmalang.co.id/empat-pekerja-tewas-di-pg-kebonagung-1362.htm