Você está na página 1de 4

2.

Teori Utiity (Kemanafaatan) Jeremy Bentham

Teori utility/ kemanfaatan ini yaitu Jeremy Bentham

yang terkenal dengan teori utilitisnya (kegunaan)

berpendapat bahwa hukum itu harus memberikan

kemanfaatan yang sebesar-besarnya bagi

masyarakat luas. Jadi hukum itu bisa saja

mengorbankan kepentingan individu/perorangan

asalkan kepentingan masyarakat luas terpenuhi.

Misalnya, sebuah rumah dan tanahnya terletak

ditengah-tengah pertemuan 2 jalan. Jika rumah ini

dipindahkan ke lokasi lain, jalanan bisa tersambung

dan bisa dilalui yang berakibat kemanfaatan

masyarakat luas terpenuhi, tetapi disisi lain si

pemilik rumah merasa dirugikan/dikorbankan karena

rumah dan tanahnya dipindahkan ke lokasi lain yang

tidak stategis

3. Kepastian Hukum (Yuridis Formal) Van Kan

Yang menganut pertama kali teori ini adalah Kan

Van dengan mengatakan bahwa hukum itu bertujuan

untuk menjaga kepentingan tiap manusia/orang

sehingga tidak dapat diganggu. Jadi meskipun

aturan atau pelaksana hukum terasa tidak adil dan

tidak memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi


masyarakat banyak tidak menjadi masalah asalkan

kepastian hukum terwujud, contohnya:

1) Dalam pasal 330 dan 1330 KUHPerdata

- Dalam pasal 330 KUHPerdata dikatakan: Belum

cukup umur (belum dewasa) apabila belum genap

21 tahun dan belum kawin.

- Dalam pasal 1330 KUHPerdata juga dinyatakan

antara lain: Yang dianggap tidak cakap untuk

melakukan perbuatan hukum adalah orang yang

belum dewasa.

Apabila pasal 330 dan 1330 KUHperdata

dihubungkan maka orang yang berumur 21 tahun

(belum menikah) tidak dapat melakukan perbuatan

hukum (membuat perjanjian). Jika ia melakukan

perjanjian tertentu maka hal itu dianggap cacat dan

dapat dibatalkan oleh hukum

Dengan adanya teks hukum seperti ini, maka

perjanjian yang dibuat oleh anak dibawah umur

dianggap tidak sah, tetapi orang yang sudah

berumur 90 tahun yang sudah pikun dan tuli

menurut hukum itu sah.

Dari kedua contoh aturan tersebut maka tercipta

kepastian hukum bahwa yang bisa membuat


perjanjian adalah orang yang telah berumur 21

tahun tersebut.

Disini timbul pertanyaan: Bagaimana jika perjanjian

itu dibuat oleh seorang mahasiswa yang berumur 20

tahun yang sudah memahami tentang perjanjian?

Aturan tersebut terasa tidak membei keadilan bagi

anak yang berumur 20 tahun, tetapi tercapai

kepastian hukum bahwa orang yang telah berumur

21 tahun keatas sudah tidak dapat diganggu gugat

bila mengadakan perjanjian

2) Undang-Undang No 1 tahun1974 pasal 7 (1)

dikatakan bahwa batas minimal usia untuk kawin

laki-laki/ perempuan = 19/ 16 tahun. Bila ingin

kawin dibawah umtu tersebut harus minta

dispensasi pengadilan.

Batasan usia tersebut memberi kepastian kapan

seseorang bisa kawin, padahal terasa tidak adil dan

juga tidak ada manfaatnya bagi orang banyak.

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, bahwa ada 3

aliran yang bisa dicapai oleh tujuan hukum. Menurut

Gustav Radbruch, idealnya setiap aturan hukum

yang mengatur suatu perbuatan harus mencapai

atau meweujudkan ke-3 aliran tersebut. Tetapi


terkadang dalam kasus tertentu, sering terjadi

bentrok antara ke 3 aliran tersebut. Kadang terjadi

bentrok antara nilai keadilan dengan kemanfaatan

atau bentrok antara niai keadilan dengan kepastian

hukum. Untuk itu, menurut Gustav Radbruch bila

terjadi bentrokan harus dipakai skala prioritas, yaitu

pertama memprioritaskan keadilan, baru kepastian

lalu kemanfaatan.