Você está na página 1de 11

PT ABC

LAPORAN LABA RUGI


(Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2009)

Penjualan
Ekspor Rp720.000.000
Penjualan dalam negeri :
1. Penjualan tunai
2. Penjualan kredit Rp485.000.000
3. Penjualan kepada pemerintah Rp380.000.000
Rp375.000.000
Jumlah penjualan bersih Rp1.960.000.000
Harga pokok penjualan (Rp1.040.000.000)
Laba Kotor Usaha Rp920.000.000

Biaya Operasional
Gaji, upah, honorarium, bonus THR Rp437.500.000
Biaya asuransi
Biaya penyusutan Rp10.920.000
Biaya perjalanan Rp35.000.000
Biaya iklan dan promosi Rp17.500.000
Biaya listrik dan air Rp18.000.000
Biaya telepon Rp16.000.000
Cadangan penghapusan piutang Rp20.250.000
Kerugian piutang tak tertagih Rp20.000.000
Reparasi dan pemeliharaan kendaraan
Pemeliharaan bangunan Rp15.000.000
Pajak-pajak
Biaya lain-lain Rp17.000.000

Rp16.000.000
Rp40.100.000
Rp110.500.000
Jumlah Biaya Operasional (Rp773.770.000)
Penghasilah luar usaha
Bunga deposito Rp16.000.000
Bunga tabungan Rp15.000.000
Deviden dari saham 40% Rp55.000.000
Penghasilan sewa gudang Jalan Pelangi Rp65.000.000
Semarang
Jumlah penghasilan luar usaha Rp151.000.000
Laba Bersih Rp297.230.000

Dari pembukuan dan catatan-catatan dapat diketahui rincian dari laporan laba rugi tahun 2009
sebagai berikut :
1. Harga Pokok Penjualan
LIFO FIFO
Persediaan awal Rp110.000.000 Rp50.000.000
Pembelian Rp1.055.000.000 Rp1.055.000.000
Jumlah barang tersedia untuk Rp1.165.000.000 Rp1.105.000.000
dijual
Persediaan akhir Rp125.000.000 Rp125.000.000
Harga Pokok Penjualan Rp1.040.000.000 Rp980.000.000

2. Biaya Operasional
a) Dalam gaji, upah, honorium, bonus, dan THR, terdapat pemberian sembako kepada pegawai tetap
sebesar Rp18.180.000

b) Biaya asuransi sebesar Rp10.920.000, dengan rincian sebagai berikut :


- Asuransi kebakaran gedung kantor Rp2.200.000
- Asuransi pengangkutan Rp1.800.000
- Asuransi kebakaran gudang Jl. Permata SMG Rp2.200.000
- Asuransi kebakaran rumah dinas direktur Rp1.200.000
- Asuransi kebakaran gudang Jl. Pelangi SMG Rp2.400.000
- Asuransi jiwa keluarga direktur Rp600.000
- Asuransi tenaga kerja karyawan Rp520.000
Total biaya asuransi Rp10.920.000
c) Perhitungan biaya penyusutan

Jenis Aktiva Menurut Perusahaan Ketentuan Pajak

Aktiva kelompok 1 Rp20.000.000 Rp17.000.000


Aktiva kelompok 2 Rp10.000.000 Rp3.125.000

Aktiva bangunan Rp5.000.000 Rp4.500.000

Jumlah Rp35.000.000 Rp24.625.000


- Aktiva kelompok 1, berupa peralatan kantor dari bahan kayu (meja, kursi, danalmari). Dalam
perhitungan penyusutan ini terdapat beda waktu akibat perlakuan akuntansi dengan perpajakan
yang bersifat temporer. Artinya, secara keseluruan bahwa beban atau pendapatan menurut
akuntansi maupun perpajakan sebenarnya sama, tetapi berbeda alokasi penyusutan tiap tahunnya.
Dalam penyusutan aktiva kelompok I ini, fiskal menggunakan metode garis lurus yang mempunyai
masa manfaat 4 tahun.
Berikut perhitungannya :
Jenis aktiva : Peralatan kantor dari kayu (meja, kursi dan lemari)
Harga perolehan Rp68.000.000
Tarif penyusutan 25%
Penyusutan = Harga perolehan x Tarif penyusutan
= Rp68.000.000 x 25%
= Rp17.000.000

- Aktiva kelompok II, berupa peralatan kantor yang terdiri dari AC, dan komputer. Terdapat
perbedaan akibat perlakuan akuntansi dengan perpajakan yang bersifat temporer. Artinya, secara
keseluruan bahwa beban atau pendapatan menurut akuntansi maupun perpajakan sebenarnya sama,
tetapi berbeda alokasi penyusutan tiap tahunnya. Dalam penyusutan aktiva kelompok II ini, fiskal
menggunakan metode garis lurus yang mempunyai masa manfaat 8 tahun.
Berikut perhitungannya :
Jenis aktiva : Peralatan kantor (AC dan komputer)
Harga perolehan Rp25.000.000
Tarif penyusutan 12,5%
Penyusutan = Harga perolehan x Tarif penyusustan
= Rp25.000.000 x 12,5%
= Rp3.125.000

- Aktiva bangunan yaitu berupa bangunan permanen yaitu bangunan kantor perusahaan tersebut.
Terdapat perbedaan akibat perlakuan akuntansi dengan perpajakan pada aktiva ini yang bersifat
temporer. Artinya, secara keseluruan bahwa beban atau pendapatan menurut akuntansi maupun
perpajakan sebenarnya sama, tetapi berbeda alokasi penyusutan tiap tahunnya.
Dalam aktiva bangunan, penyusutan menggunakan metode saldo menurun.
Berikut perhitungannya :
Klasifikasi bangunan Tarif Penyusutan
Tidak permanen (10 tahun) 10%
Permanen (20 tahun) 5%

Jenis aktiva : Gedung kantor (permanen)


Harga perolehan Rp90.000.000
Tarif penyusutan 5%
Penyusutan = Harga perolehan x Tarif penyusustan
= Rp90.000.000 x 5%
= Rp4.500.000

d) Dalam biaya perjalanan, terdapat biaya perjalanan keluarga direktur sebesar Rp3.500.000

e) Perincian biaya iklan dan promosi sebagai berikut :


- Iklan usaha di Harian Suara Merdeka Rp4.000.000
- Iklan ucapan terima kasih Rp1.000.000
- Iklan ucapan berduka cita Rp2.000.000
- Honorarium penjaja barang Rp11.000.000
Total biaya iklan dan promosi Rp18.000.000

f) Kerugian piutang tak tertagih menurut ketentuan perpajakan sebesar Rp10.000.000

g) Rincian biaya listrik dan air sebagai berikut :


- Untuk kantor Rp7.000.000
- Untuk gudang Jl. Permata SMG Rp4.000.000
- Untuk gudang Jl. Pelangi SMG Rp3.000.000
- Untuk rumah dinas Direktur Rp2.000.000
Total biaya listrik dan air Rp16.000.000

h) Rincian biaya telepon sebagai berikut :


- Telepon kantor Rp6.000.000
- Telepon gudang Jl. Permata SMG Rp3.450.000
- Telepon gudang JL. Pelangi SMG Rp5.000.000
- Telepon rumah dinas Direktur Rp5.800.000
Total biaya telepon Rp20.250.000
i) Dalam biaya reparasi dan pemeliharaan kendaraan, terdapat biaya reparasi kendaraan milik
direktur sebesar Rp1.800.000
j) Perincian pemeliharaan bangunan sebagai berikut :
- Gedung kantor Rp6.000.000
- Gudang Jl. Permata SMG Rp5.000.000
- Gudang JL. Pelangi SMG Rp3.000.000
- Rumah dinas Direktur Rp2.000.000
Total biaya telepon Rp16.000.000

k) Rincian untuk biaya pajak sebagai berikut :


- PBB gedung kantor Rp3.000.000
- PBB rumah dinas direktur Rp1.300.000
- PBB gudang Jl. Permata SMG Rp1.900.000
- PBB gudang Jl. Pelangi SMG Rp2.400.000
- PKB kendaraan perusahaan Rp7.700.000
- PKB kendaraan milik direktur Rp2.600.000
- Pajak penghasilan pasal 22 Rp8.000.000
- Pajak penghasilan Pasal 23 Rp6.000.000
- Pajak penghasilan pasal 25 Rp7.200.000
Total biaya pajak Rp40.100.000
l) Perincian biaya lain-lain sebagai berikut :
- Honorarium teknisi komputer Rp30.000.000
- Hadiah kejuaraan motor Rp25.000.000
- Sumbangan untuk PMI Rp2.500.000
- Sumbangan untuk mahasiswa Rp3.000.000
KKN
- Biaya bunga Rp50.000.000
Total biaya lain-lain Rp110.500.000

Berdasarkan catatan- catatan diatas maka perlunya rekonsiliasi fiskal terhadap biaya-biaya yang
menurut ketentuan perpajakan tidak boleh dikurangkan dari laba fiskal sebagaimana yang
disajikan dalam tabel Rekonsiliasi Fiskal PT ABC tahun 2009 berikut ini.
Tabel 3.1
Rekonsiliasi Fiskal PT ABC
Periode 31 Desember 2009

Keterangan Laba Rugi Koreksi Positif Koreksi Laba Rugi


Komersial Negatif Fiskal
Penjualan
Penjualan bersih Rp1.960.000.000 Rp1.960.000.000
Harga pokok Rp1.040.000.000 Rp60.000.000 Rp980.000.000
penjualan (1)
Laba kotor Rp920.000.000 Rp980.000.000
Biaya Operasional
Gaji, upah, Rp437.500.000 Rp18.180.000 Rp419.320.000
bonus, THR (2)
Biaya asuransi Rp10.920.000 Rp4.200.000 Rp6.720.000
(3)
Biaya Rp35.000.000 Rp10.375.000 Rp24.625.000
penyusutan (4)
Biaya perjalanan Rp17.500.000 Rp3.500.000 Rp14.000.000
(5)
Biaya iklan dan Rp18.000.000 Rp3.000.000 Rp15.000.000
promosi (6)
Biaya listrik dan Rp16.000.000 Rp5.000.000 Rp11.000.000
air (7)
Biaya telepon Rp20.250.000 Rp10.800.000 Rp9.450.000
(8)
Cad. Piutang tak Rp20.000.000 Rp20.000.000 0
tertagih (9)
Kerugian piutang Rp15.000.000 Rp5.000.000 Rp10.000.000
tak tertagih (10)
Reparasi dan Rp17.000.000 Rp1.800.000 Rp15.200.000
pemeliharaan (11)
kendaraan
Pemeliharaan Rp16.000.000 Rp5.000.000 Rp11.000.000
bangunan (12)
Pajak-pajak Rp40.100.000 Rp28.000.000 Rp12.100.000
(13)
Biaya lain-lain Rp110.500.000 Rp3.000.000 Rp107.500.000
(14)
Jumlah biaya Rp773.770.000 Rp655.915.000

Penghasilan luar usaha


Bunga deposito Rp16.000.000 Rp16.000.000
(15)
Bunga tabungan Rp15.000.000 Rp15.000.000
Deviden Rp55.000.000 Rp55.000.000
Sewa gudang Jl. Rp65.000.000 Rp65.000.000 0
Pelangi (16)
Jumlah Rp151.000.000 Rp70.000.000
penghasilan luar
usaha
Laba bersih Rp297.230.000 Rp394.085.000
PKP Rp297.230.000 Rp394.085.000
PPh terutang* Rp41.612.200 Rp55.171.900
Sumber : data diolah (2010)

*PPh terutang (Laba Rugi Fiskal) = Penghasilan Kena Pajak x Tarif Pajak
= Rp394.085.000x 50% x 25%
= Rp55.171.900
Keterangan :
Tarif pajak ditentukan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang PPh atas
penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak yang memiliki peredaran bruto
tertentu.
Dalam kasus PT ABC peredaran bruto yang dimiliki perusahaan sebesar Rp383.710.000 (atau
sampai dengan Rp4.800.000.000) sehingga tarif yang digunakan 50% x 25%.

Berdasarkan koreksi di atas terdapat keterangan sebagai berikut:


(1) Berdasarkan pasal 10 ayat 6 UU PPh no. 36 tahun 2008, menyatakan bahwa persediaan dan
pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok dinilai berdasarkan harga perolehan yang
dilakukan secara rata- rata atau dengan cara mendahulukan persediaan yang diperoleh pertama
(FIFO).
HPP pada kasus PT ABC dibawah ini menggunakan metode FIFO yaitu:
Persediaan awal Rp50.000.000
Pembelian Rp1.055.000.000
Barang tersedi dijual Rp1.105.000.000
Persediaan akhir Rp125.000.000
Harga pokok penjualan Rp980.000.000

(2) Pasal 4 ayat 3 huruf d UU no 36 tahun 2008 tentang yang dikecualikan dari obyek pajak,
menyatakan bahwa penggantian atau imbalan dalam bentuk natura atau kenikmatan berkenan
dengan pekerjaan atau jasa merupakan tambahan kemampuan ekonomis yang diterima bukan
dalam bentuk uang. Penggantian atau imbalan dalam bentuk natura seperti, beras gula dan
sebagainya dan imbalan dalam bentuk kenikmatan, seperti penggunaan mobil, rumah dan fasilitas
pengobatan bukan merupakan obyek pajak.
Sehingga dalam kasus PT ABC ini biaya pemberian sembako kepada karyawan tetap sebesar Rp.
18.180.000 bukan merupakan obyek pajak, oleh karena itu harus dikoreksi positif yang artinya
menambah penghasilan kena pajak perusahaan tersebut.
(3) Pasal 9 huruf d UU PPh, tentang penentuan besarnya penghasilan kena pajak bagi wajib pajak
dalam negeri dan bentuk usaha tetap.
Menyatakan bahwa premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi
dwiguna dan asuransi beasiswa, yang dibayar oleh wajib pajak orang pribadi, kecuali jika dibayar
oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi wajib pajak yang
bersangkutan, sehingga dalam kasus PT ABC ini biaya asuransi sebesar Rp 4.200.000 harus
dikoreksi positif yang artinya menambah penghasilan kena pajak
(
4) Pasal 9 ayat 2 UU PPh no.36 tahun 2008, tentang pengeluaran untuk mendapatkan, menagih dan
memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun tidak dibolehkan
untuk dibebankan sekaligus, melainkan dibebankan melalui penyusutan atau amortisasi dari tahun
ke tahun dalam bagian- bagian yang sama. Sehingga dalam kasus PT ABC ini penyusutan tersebut
harus dikoreksi positif yang artinya menambah penghasilan kena pajak
(5) Pasal 9 ayat 1 huruf b UU PPh no.36 tahun 2008, tentang penentuan besarnya penghasilan
kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan BUT yang tidak boleh dikurangkan.
Menyatakan bahwa biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang
saham, sekutu atau anggota tidak dapat dikurangkan dalam penentuan basarnya pajak terutang,
sehingga dalam kasus PT ABC ini biaya perjalanan keluarga direktur harus dikoreksi positif yang
artinya menambah besarnya penghasilan kena pajak.

(6) Pasal 9 ayat 1 huruf b UU PPh no.36 tahun 2008, tentang penentuan besarnya penghasilan
kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan BUT yang tidak boleh dikurangkan.
Menyatakan bahwa biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang
saham, sekutu atau anggota tidak dapat dikurangkan dalam penentuan basarnya pajak terutang,
sehingga dalam kasus PT ABC ini biaya iklan ucapan terima kasih dan iklan ucapan berduka cita
dari keluarga direktur harus dikoreksi positif yang artinya menambah besarnya penghasilan kena
pajak.
(7) Pasal 9 ayat 1 huruf b UU PPh no.36 tahun 2008, tentang penentuan besarnya penghasilan
kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan BUT yang tidak boleh dikurangkan.
Menyatakan bahwa biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang
saham, sekutu atau anggota tidak dapat dikurangkan dalam penentuan basarnya pajak terutang,
sehingga dalam kasus PT ABC ini biaya listrik dan air untuk rumah direktur dan gudang jalan
pelangi yang telah disewakan harus dikoreksi positif yang artinya menambah besarnya penghasilan
kena pajak

(8) Pasal 9 ayat 1 huruf b UU PPh no.36 tahun 2008, tentang penentuan besarnya penghasilan
kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan BUT yang tidak boleh dikurangkan.
Menyatakan bahwa biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang
saham, sekutu atau anggota tidak dapat dikurangkan dalam penentuan basarnya pajak terutang,
sehingga dalam kasus PT ABC ini biaya telepon rumah direktur dan gudang jalan pelangi yang
telah disewakan harus dikoreksi positif yang artinya menambah besarnya penghasilan kena pajak.

(9) Pasal 9 ayat 1 UU PPh no. 36 tahun 2008, tentang pengecualian pembentukan atau pemupukan
dana cadangan. Menyatakan bahwa untuk menentukan besarnya penghasilan kena pajak bagi
wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan pembentukan atau
pemupukan dana cadangan. Sehingga dalam kasus PT ABC ini cadangan piutang tak tertagih harus
dikoreksi positif yang artinya menambah penghasilan kena pajak pada perusahaan ini.
(10) Pasal 6 ayat 1 huruf h UU PPh No. 36 tahun 2008, tentang piutang yang dengan nyata- nyata
tidak dapat ditagih.
Menyatakan bahwa piutang yang nyata- nyata tidak dapat ditagih dengan syarat:
Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial
Telah diserahkan perkara penagihan kepada pengadilan negeri atau instasi pemerintah yang
menangani piutang negara, atau adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang antara
kreditur dan debitur yang bersangkutan.
Sehingga dalam kasus PT ABC ini kerugian piutang tak tertagih diakui sebagai biaya dan harus
dikoreksi positif yang artinya menambah penghasilan kena pajak.

( 11) Pasal 9 ayat 1 huruf b UU PPh no.36 tahun 2008, tentang penentuan besarnya penghasilan
kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan BUT yang tidak boleh dikurangkan.
Menyatakan bahwa biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang
saham, sekutu atau anggota tidak dapat dikurangkan dalam penentuan basarnya pajak terutang,
sehingga dalam kasus PT ABC ini biaya reparasi kendaraan direktur harus dikoreksi positif yang
artinya menambah besarnya penghasilan kena pajak.

( 12) Pasal 6 ayat 1 huruf a UU PPh no.36 tahun 2008, tentang biaya yang secara langsung atau tidak
berhubungan dengan kegiatan usaha.
Menyatakan bahwa pengeluaran pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan yang bukan merupakan obyek pajak tidak boleh dibebankan sebagai biaya, sehingga
dalam kasus PT ABC ini biaya reparasi rumah direktur dan gudang jalan pelangi harus dikoreksi
positif yang artinya menambah penghasilan kena pajak.

(13) Pasal 9 (1) h UU PPh no.36 tahun 2008 tentang biaya- biaya yang tidak boleh dikurangkan
dalam menentukan penghasilan kena pajak. Menyatakan bahwa pajak penghasilan tidak dapat
dikurangkan dalam biaya tersebut, sehingga harus dikoreksi positif yang artinya menambah
penghasilan kena pajak.
(14) Pasal 9 (1)UU PPh no.36 tahun 2008 tentang biaya- biaya yang tidak boleh dikurangkan
dalam menentukan penghasilan kena pajak. Menyatakan bahwa pada prinsipnya biaya yang boleh
dikurangkan dari penghasilan bruto adalah biaya yang mempunyai hubungan langsung dan tidak
langsung dengan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan
yang merupakan obyek pajak yang pembebanannya dapat dilakukan dalam tahun pengeluaran atau
selama masa manfaat dari pengeluaran tersebut, sehingga dalam kasus PT ABC ini macam- macam
biaya yang diperinci tersebut terdapat biaya yang tidak mempunyai hubungan langsung sebesar
Rp. 3.000.000 harus dikoreksi positif yang artinya menambah penghasilan kena pajak.

( 15) Berdasarkan pasal 4 ayat (2) huruf a UU PPh No. 36 tahun 2008, tentang penghasilan yang
bersifat final yaitu berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat utang
negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang
pribadi.
Bunga deposito yang didapat oleh PT ABC merupakan penghasilan yang bersifat final, maka harus
dikoreksi negatif yang artinya akan mengurangi penghasilan kena pajak PT ABC.

( 16) Penghasilan dari sewa gudang Jl. Pelangi yang didapat oleh PT ABC merupakan penghasilan
yang tidak termasuk objek pajak, maka harus dikoreksi negatif yang artinya akan mengurangi
penghasilan kena pajak PT ABC.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan
Berdasarkan perbedaan antara laporan keuangan komersial dengan laporan keuangan fiskal pada
laporan laba rugi PT ABC semarang tahun 2009, maka penulis mengambil kesimpulan sebagai
berikut :
1. Terdapat dua unsur penting ketika melakukan rekonsiliasi fiskal yaitu koreksi positif dan koreksi
negatif. Koreksi positif terjadi apabila pengakuan beban atau biaya pada laporan keuangan
komersial lebih besar dari beban atau biaya pada laporan keuangan fiskal. Dalam kasus laporan
keuangan PT ABC tahun 2009 ini rekening- rekening yang mengalami koreksi positif antara lain:
Harga pokok penjualan
Gaji, upah, honorarium, THR dan bonus
Biaya asuransi
Biaya penyusutan
Biaya perjalanan
Biaya iklan dan promosi
Biaya listrik dan air
Biaya telepon
Cadangan piutang tak tertagih
Reparasi dan pemeliharaan kendaraan
Pemeliharaan bangunan
Pajak-pajak
Biaya lain-lain
Koreksi negatif terjadi karena adanya pendapatan yang tidak boleh ditambahkan dengan
penghasilan lainnya, dan adanya biaya yang menurut perhitungan komersial lebih kecil
dibandingkan menurut perhitungan fiskal. Rekening- rekening yang mengalami koreksi negatif
bagi PT ABC antara lain:
Bunga deposito
Pendapatan sewa gudang Jalan Pelangi
2. Konsep beda waktu dan beda tetap. Beda waktu adalah perbedaan perlakuan akuntansi dan
perpajakan yang bersifat temporer artinya secara keseluruan beban atau pendapatan akuntansi
maupun perpajakan sebenarnya sama tetapi alokasi tiap tahunnya yang berbeda. Dalam kasus PT
ABC ini yang merupakan beda sementara antara lain penyusutan dan penilaian persediaan.
Sedangkan beda tetap adalah perbedaan yang menurut akuntansi boleh dibiayakan namun tidak
dapat diakui menurut fiskal, antara lain: natura, biaya-biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan
pemegang saham atau direktur, bunga deposito, penghasilan sewa

4.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan yang disampaikan oleh penulis maka penulis mencoba untuk
memberikan saran yang mungkin dapat diperhatikan bagi pihak yang berkepentingan dalam
melaksanakan koreksi fiskal.
1. Perusahaan dalam penghitungan harga pokok penjualan hendaknya memperhatikan aspek
perpajakan sehingga selisih pada nilai persediaan akhir antara metode yang dipakai perusahaan
dengan metode yang digunakan dalam pajak tidak terjadi selisih yang besar.
2. Perusahaan terlebih dahulu perlu melihat komponen- komponen apa saja yang berbeda, contohnya
pada beban pajak penghasilan seharusnya pajak penghasilan karyawan dimasukan sebagai
tunjangan yang diberikan perusahaan sehingga perusahaan dapat membiayakan pengeluaran itu.