Você está na página 1de 5

MELALUI PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SERI DENGAN

PENERAPAN METODE PEMBERIAN TUGAS DAPAT MENINGKATKAN


KETRAMPILAN MENULIS PARAGRAF

Wulandari, S.Pd
SD Negeri Mengen 1 Tamanan Bondowoso
Email : wulancantik@yahoo.co.id

Abstrak : penelitian ini bertujuan ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa
melalui penggunaan media gambar seri dengan penerapan metode pemberian tugas,
dengan subjek siswa kelas IV. Setiap tahapan penelitian ini dilakukan dengan
partisipasi kolaborasi guru dan kepala sekolah. Hasil penelitian ini menunjukkan
peningkatan prestasi siswa dari siklus kesatu , kedua dan ketiga. Berdasarkan hasil
penelitian siklus kesatu , kedua dan ketiga menunjukkan bahwa terjadi proses
peningkatan keberhasilan dalam menulis paragraf dengan media gambar seri gambar
seri dan sesuai dengan yang diharapkan

Kata Kunci : gambar seri ; metode penugasan, menulis paragraf

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional ini


merumuskan secara tegas mengenai dasar, fungsi, dan tujuan pendidikan nasional.
Pasal 2 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional
menetapkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,
sedangkan fungsinya yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat, dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa.
Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2003
tentang sistem pendidikan nasional). Bertitik tolak dari dasar, fungsi dan tujuan
pendidikan nasional tersebut menjadi jelas bahwa manusia Indonesia yang hendak
dibentuk melalui proses pendidikan bukan sekedar manusia yang berilmu
pengetahuan semata tetapi sekaligus membentuk manusia Indonesia yang
berkepribadian sebagai warga negara Indonesia yang demokratis dan bertanggung
jawab.
Untuk memecahkan masalah di atas, maka salah satu upaya yang dapat
dilakukan guru dalam pembelajaran adalah melakukan variasi metode mengajar.
Variasi metode mengajar perlu digunakan dengan tujuan merangsang dan mendorong
minat belajar siswa. Tujuan akhir dari variasi metode ini adalah pencapaian prestasi
belajar yang maksimal sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan
dalam kurikulum.
Berdasarkan pengalaman mengajar, masih dijumpai banyak guru penerapan
Metodemengajar yang monoton, misalnya lebih sering penerapan Metodeceramah
yang diselingi dengan ceramah, dan diakhiri dengan metode tugas tanpa
mempertimbangkan proporsi waktu, sehingga hasil pembelajaran belum memuaskan
yang ditandai dengan rendahnya prestasi belajar siswa jangka panjang. Oleh karena
itu pembaharuan pendidikan harus dilakukan.
Pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas IV SDN Mengen 1 Kecamatan
Tamanan Bondowoso masih didominasi oleh pendidikan ekspositorik dan hanya
mengejar target yang berorientasi pada kriteria ketuntasan minimal ( KKM ),
sehingga dalam pembelajaran tersebut para siswa selalu diposisikan sebagai
pemerhati ceramah guru. Berdasarkan pengamatan, selama ini dalam melaksanakan
kegiatan pembelajaran guru terbiasa penerapan Metode Konvensional, dimana siswa
kurang terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Siswa cenderung hanya
mendengar dan menerima penjelasan dari guru tanpa diberi kasempatan untuk
mengutarakan pendapatnya secara lebih luas dan terbuka. Setelah itu, siswa diberi
tugas atau latihan yang sifatnya cenderung pada penilaian kognitif saja. Tugas atau
latihan tersebut juga tidak selalu dievaluasi, atau dibahas bersama siswa, sehingga
siswa tidak mengetahui hasil dari pembelajarannya tersebut. Kondisi seperti itu tidak
memberdayakan para siswa untuk mau dan mampu berbuat untuk memperkaya
belajarnya (learning to do) dengan meningkatkan interaksi dengan lingkungannya.
Sehingga tidak akan bisa membangun pemahaman dan pengetahuan terhadap dunia
sekitarnya (learning to know). Lebih jauh lagi mereka pun tidak memiliki
kesempatan untuk membangun pengetahuan dan kepercayaan dirinya (learning
tobe), maupun kemampuan berinteraksi dengan berbagai individu atau kelompok
yang beragam (learning to live together) di masyarakat (Depdiknas, 2004: 9-10).
Salah satu usaha yang tidak pernah guru tinggalkan, bagaimana memahami
kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi
keberhasilan kegiatan belajar-mengajar, metode pembelajaran merupakan cara atau
strategi yang digunakan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.
Menurut Djamarah dan Zain (2002:82) metode memiliki kedudukan sebagai alat
motivasi ekstrinsik, sebagai strategi pengajaran, dan sebagai alat untuk mencapai
tujuan. Sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam KBM menurut Sardiman A.M (dalam
Djamarah dan Zain, 2002:83) metode berfungsi sebagai alat perangsang dari luar
yang dapat membangkitkan belajar seseorang, sebagai strategi pengajaran metode
berfungsi sebagai teknik penyajian pembelajaran agar anak didik dapat belajar secara
efektif dan efisien. Sedangkan sebagai alat mencapai tujuan metode berfungsi
sebagai alat penunjang kegiatan belajar-mengajar, sehingga dapat dijadikan sebagai
alat yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Dalam memilih metode mangajar guru tidak boleh memilih secara asal asalan.
Metode yang digunakan haruslah metode yang direncanakan berdasarkan
pertimbangan perbedaan individu di antara siswa, yang dapat memberi feedback dan
inisiatif murid untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Dapat dikatakan
berhasil tidaknya kegiatan pembelajaran, tergantung pada efektif tidaknya metode
mengajar yang dipergunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar.
Namun berdasarkan hasil pengamatan, dengan metode pembelajaran
konvensional yang selama ini diterapkan oleh seorang guru, hasil pembelajaran yang
diinginkan belum dapat tercapai secara optimal, karena siswa belum diberi
kesempatan secara luas untuk mengembangkan minat, bakat, dan kemampuannya.
Pembelajaran yang dilakukan terkesan monoton dan tidak menggairahkan siswa
untuk belajar lebih aktif lagi. Hal itu mengakibatkan siswa kurang berminat untuk
mengikuti dan melaksanakan proses belajar-mengajar, sehingga tujuan pembelajaran
yang diinginkan tidak dapat tercapai secara optimal.
Peneliti meyakini bahwa hal itu terjadi karena adanya kekurang tepatan
pemilihan metode dan kekurangtepatan penerapan metode pembelajarannya.
Penyajian pembelajaran yang dilakukan guru monoton saja. Bentuk kegiatan
ceramah, penugasan, dan mengerjakan LKS cenderung tidak dapat menyenangkan
siswa. Dan, hal itu banyak dilakukan oleh guru. Yang sebenarnya, hal itu perlu
dicarikan strategi yang tepat agar siswa tidak enggan, agar tidak malas dalam belajar
Bahasa Indonesia.
Sesuatu yang sangat kontras dengan hal tersebut adalah pembelajaran itu harus
menyenangkan siswa, tetapi ketika pembelajaran itu berkaitan dengan aktivitas di
dalam kelas, siswa merasa kecut hatinya, siswa takut dan tidak mampu berkreasi
dalam konteks pembelajaran yang mestinya dilakukan siswa. Akibatnya adalah
pembelajaran kurang berhasil, pembelajaran tidak menyenangkan atau bahkan
pembelajaran menjadi membosankan dan menakutkan siswa.
Jika demikian halnya maka harus dicarikan bentuk pembelajaran yang dapat
mengatasi problem tersebut. Pembelajaran dengan Metode Pemberian Tugas dalam
MendeskripsikanGambar peneliti anggap cocok untuk mengatasi masalah
pembelajaran ini. Tentunya pemodelan yang sesuai dengan kebutuhan siswa, sesuai
dengan situasi dan kondisi sekitar siswa. Guru harus memahami kehendak siswanya
dalam peningkatan berbagai ketrampilan dalam pembelajaran ini. Sejalan dengan hal
itu Nurhadi (2004 : 73) berpendapat bahwa guru dituntut menyesuaikan diri terhadap
gaya belajar siswa-siswinya.
Menyikapi kondisi tersebut peneliti berkeyakinan bahwa pembelajaran harus
dilaksanakan dengan penerapan Metodeyang menggunakan prinsip pakem, yakni
pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan. Metode pembelajaran
yang sejalan dengan prinsip pakem banyak macamnya. Salah satunya adalah
pembelajaran dengan Metode Pemberian Tugas dalam Mendeskripsikan Gambar.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti mengambil judul
Melalui penggunaan media gambar seri dengan penerapan metode pemberian tugas
dapat meningkatkan ketrampilan menulis paragraf siswa kelas IV SDN Mengen 1
Kecamatan Tamanan Tahun ajaran 2016 / 2017 Adapun alasan dari pemilihan
judul tersebut di atas adalah karena sepanjang pengetahuan peneliti, belum ada
peneliti lain yang melakukan penelitian mengenai penerapan metode Pemberian
Tugas dalam materi mendeskripsi Gambar Seri pada mata pelajaran Bahasa
Indonesia. Selain itu, proses pembelajaran Bahasa Indonesia yang berlangsung di
sekolah selama ini lebih berfokus pada guru, sehingga siswa memiliki
kecenderungan untuk bersikap pasif. Hal ini akan berdampak negatif terhadap hasil
belajar siswa. Dengan demikian penerapan metode pembelajaran Membaca Deskripsi
Gambar dapat digunakan sebagai solusi alternatif bagi masalah tersebut.

METODE
Agar proses pembelajaran dapat berlangsung efektif maka dalam proses belajar
mengajar guru seharusnya menggunakan strategi yang disebut strategi belajar-
mengajar. Menurut Gulo (2002:3), strategi belajar-mengajar adalah rencana dan cara-
cara membawakan pengajaran agar segala prinsip dasar dapat terlaksana dan segala
pengajaran dapat dicapai. Di mana cara membawakan pengajaran itu dapat diartikan
sebagai pola dan urutan umum perbuatan guru murid dalam kegiatan belajar-
mengajar, sedangkan pola dan urutan umum perbuatan guru murid itu merupakan
suatu kerangka umum kegiatan belajar mengajar yang tersusun dalam suatu
rangkaian bertahap menuju tujuan yang telah ditetapkan.
Dengan latar belakang di atas peneliti mencoba melakukan penelitian terhadap
prestasi belajar siswa melalui metode pemberian tugas (resitasi).
Sagala (2011:219) mendefinisikan metode resitasi sebagai suatu cara penyajian
bahan pelajaran di mana guru memberikan tugas tertentu agar peserta didik
melakukan kegiatan belajar, kemudian harus mempertanggungjawabkannya.
Pendapat yang sama dikemukakan oleh (Ismail,2008:21) bahwa metode resitasi
adalah suatu cara dalam proses pembelajaran bilamana guru memberi tugas tertentu
dan murid mengerjakannya, kemudian tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada
guru.Tugas yang dilaksanakan oleh siswa dapat dilakukan di dalam kelas, di halaman
sekolah, di laboratorium, di perpustakaan, di bengkel, di rumah siswa, atau di mana
saja asal tugas itu dapat dikerjakan. Tugas yang dapat diberikan kepada siswa ada
berbagai jenis. Karena itu, tugas sangat banyak macamnya, bergantung pada tujuan
yang akan dicapai; seperti tugas meneliti, tugas menyusun laporan (lisan/tulisan),
tugas motorik (pekerjaan motorik), tugas di laboratorium, dan lain-lain.
Agar pemberian tugas memberikan efek yang baik, maka guru dalam
memberikan tugas perlu memperhatikan, mengarahkan dan membimbing siswa
sehingga maksud dan tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan
efisien. Tugas yang diberikan guru dapat memperdalam bahan pelajaran dan dapat
pula mengecek bahan yang telah dipelajari.
Tugas akan merangsang siswa untuk aktif belajar baik secara individu maupun
kelompok.Adapun tujuan metode resitasi umumnya digunakan sebagai berikut.(1)
Agar pengetahuan yang telah diterima siswa lebih mantap. (2) Untuk mengaktifkan
siswa mempelajari sendiri suatu masalah dengan membaca sendiri, mengerjakan
soal-soal sendiri, mencoba sendiri.(3) Agar siswa lebih rajin.Munzier, dkk
(2002:178-179) mengemukakan bahwa penggunaan metode pemberian tugas atau
resitasi menempuh langkah-langkah sebagai berikut. (1) Guru dalam memberikan
tugas kepada pelajar hendaknya mempertimbangkan tujuan yang akan dicapai, jenis
tugas yang jelas dan tepat sehingga pelajar mengerti apa yang ditugaskan
kepadanya.(2) Pada waktu pelajar melaksanakan tugasnya, guru hendaknya memberi
bimbingan dan pengawasan, mendorong agar pelajar mau mengerjakan tugasnya,
mengusahakan agar tugas itu dikerjakan oleh pelajar sendiri, serta meminta kepada
pelajar untuk mencatat hasil-hasil secara sistematis.(3) Guru meminta laporan tugas
dari pelajar,baik secara lisan maupun dalam bentuk tulisan, mengadakan tanya jawab
atau menyelenggarakan diskusi kelas, menilai hasil pekerjaan pelajar, baik dengan
tes maupun non tes atau pun cara lainnya.Sagala, (2011:219) metode
resitasi/pemberian tugas mempunyai beberapa kebaikan atau kelebihan sebagai
berikut. (1) Pengetahuan yang diperoleh murid dari hasil belajar, hasil percobaan
atau hasil penyelidikan yang banyak berhubungan dengan minat atau bakat yang
berguna untuk mereka akan lebih meresap, tahan lama dan lebih otentik.(2) Siswa
berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif,
bertanggung jawab dan berdiri sendiri.(3) Tugas dapat lebih meyakinkantentang apa
yang dipelajari dari guru, lebih memperdalam, memperkaya atau memperluas
wawasan tentang apa yang dipelajari.(4) Tugas dapat membina kebiasaan siswa
untuk mencari dan mengolah sendiri informasi dan komunikasi.(5) Dapat membuat
siswa bergairah dalam belajar dilakukan dengan berbagai variasi sehingga tidak
membosankan.
Sedangkan metode konvensional dalam proses belajar mengajar, umumnya sering
digunakan metode ceramah yang kemudian disertai latihan soal atau metode drill
(Kuartolo, 2007). Guru dalam hal ini berupaya mentransmisikan informasi tekstual
berupa konsep-konsep dan prinsip-prinsip kepada para siswa. Peran siswa dalam
pendekatan ini adalah memperoleh informasi melalui aktivitas mendengarkan dan
membaca buku, melakukan percobaan di laboratorium yang masih berpusat pada
guru (laboratorium konvensional) serta latihan soal secara drill. OMalley & Pierce
(dalam Santyasa, 2004) menyebutkan bahwa belajar dalam metode konvensional
adalah bersifat linier dan deterministik. Para siswa hanya belajar seperangkat
keterampilan dasar yang bersifat umum, sebagai bekal untuk mempelajari
keterampilan-keterampilan yang lebih kompleks dan kemudian menerapkan
informasi yang telah diterima tersebut. Oleh karena itu, penting untuk dilakukan
penelitian yang mengambil judul penelitian ini Melalui penggunaan media gambar
seri dengan penerapan metode pemberian tugas dapat meningkatkan ketrampilan
menulis paragraf siswa kelas IV SDN Mengen 1 Kecamatan Tamanan Tahun ajaran
2016 / 2017 pada semester genap tahun pelajaran 2016/2017 SD di desa Mengen
Kecamatan Tamanan Kabupaten Bondowoso