Você está na página 1de 4

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Penyakit HIV/AIDS telah menjadi pandemi yang mengkhawatirkan
masyarakat dunia, karena di samping belum ditemukan obat dan vaksin untuk
pencegahannya, penyakit ini juga juga memiliki window periode dan fase
asimtomatik (tanpa gejala) yang relatif panjang dalam perjalanan
penyakitnya. Hal tersebut di atas menyebabkan pola perkembangannya
seperti fenomena gunung es (iceberg phenomena).
Jumlah kasus HIV/AIDS dari tahun ke tahun di seluruh bagian dunia
terus meningkat meskipun berbagai upaya preventif terus dilaksanakan. Tidak
ada negara yang tidak terkena dampak penyakit ini.
Indonesia pertama kali mengetahui adanya kasus AIDS bulan April 1987
yaitu ketika seorang wisatawan Belanda meninggal di RSUP Sanglah di Bali
akibat infeksi sekunder pada paru-parunya. Infeksi HIV teridentifikasi pada
30-an tahun yang lalu, dan dalam kurun waktu itu pula HIV berkembang
dengan sangat cepatnya sekarang ini. UNAID dan WHO melaporkan jumlah
orang yang hidup dengan HIV/AIDS sampai akhir tahun 2000 sekitar 36,1
juta, dengan jumlah orang yang baru terinfeksi HIV 5,3 juta. Dan dengan
jumlah penderita AIDS yang meninggal sekitar 3 juta pada tahun 2000.
Sejak menjadi wabah epidemi, AIDS menjadi penyebab utama kematian
untuk 21,8 juta orang di seluruh dunia. HIV/AIDS menjadi penyebab utama
pada meningkatnya angka pesakitan dan angka kematian pada orang
kelompok umur produktif. Cukup mengejutkan memang perkembangan
jumlah orang yang terkena HIV/AIDS. Di akhir tahun 1999, UNAIDS
memperkirakan ada sekitar 1,63 juta manusia yang hidup dengan HIV/AIDS
di kawasan ASEAN. Sub Sahara Afrika masih menjadi wilayah dengan
prevalensi HIV yang tertinggi. Diperkirakan 7,5% di antara orang dewasa di
wilayah tersebut mengidap HIV. Prevalensi HIV di antara orang hamil usia
15-24 tahun juga tinggi.
Masyarakat memberikan sikap antipati dan memungkiri adanya AIDS
dari sejak pertama kasus AIDS muncul. Hal ini merupakan bentuk reaksi
sosial masyarakat karena kurangnya pemahaman terhadap perjalanan
penyakit ini, terutama tentang cara penularannya. Yang sangat ditakuti
masyarakat adalah kecepatan penularan penyakit ini, tingginya tingkat
fatalitasnya, dan belum adanya obat untuk HIV/AIDS. Di Indonesia terdapat
kelompok yang memang beresiko tinggi terhadap penularan HIV/AIDS yaitu
kelompok homoseks yang sering melakukan hubungan seks yang tidak aman
lewat anus dan berganti-ganti pasangan seks. Kelompok lain adalah para
pekarja seks komersial, dan pada pengguna NAPZA dengan suntikan. Dari
sejak semula kelompok-kelompok masyarakat ini sudah dianggap berperilaku
resiko tinggi, selain karena pengetahuan mereka masih sangat terbatas tentang
penyakit ini, kondisi kehidupan mereka juga sangat rentan dengan resiko
tertular HIV. Namun faktanya, HIV sudah mulai menyebar ke populasi
umum, bukan hanya terkonsentrasi pada kelompok yang beresiko tinggi saja.
Mulai dengan kejadian penularan ke ibu-ibu rumah tangga yang tertular dari
pasangannya dan berlanjut ke bayi-bayi yang lahir dari ibu yang positif HIV.
Kecenderungan positif yang terjadi dalam perilaku seksual kelompok
dewasa muda adalah meningkatnya penggunaan kondom, penundaan
hubungan seksual dan tidak berganti-ganti pasangan seksual. Penurunan
angka prevalensi di antara kelompok dewasa muda antara tahun 2000-2005
terjadi di Botswana, Burundi, Cote dIvoire, Kenya, Malawi, Rwanda,
Tanzania dan Zimbabwe.
Upaya penanggulan pandemi HIV/AIDS dalam kurun waktu 1990-2000
juga merupakan strategi global yang dicanangkan oleh WHO. Strateginya
mempertegas kembali tantangan untuk melawan HIV/AIDS secara global
melalui perawatan penderita, penanggulangan penyakit kelamin, perhatian
kepada kaum perempuan, dukungan lingkungan sosial untuk mencegah
penularan HIV, antisipasi dampak sosial ekonomi, pengembangan gerakan
masyarakat untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi.
Dan Indonesia pun mulai mengembangkan kebijakan nasional
penanggulangan AIDS nasional melalui Keppres 36/94 yang penjabarannya
dipertegas lagi dengan SK Menko Kesra no. 9 bulan Juni 1994. Fokus utama
strategi penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia lebih diarahkan untuk
meningkatkan ketahanan keluarga sesuai dengan norma-norma sosial budaya
masyarakat dan dilaksanakan secara multi sektoral mulai dari pusat sampaike
tingkat Provinsi dan Kabupaten.
Paket Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) tentang masalah
HIV/AIDS adalah salah satu cara yang terus dikembangkan secara spesifik di
Indonesia, terutama untuk kelompok-kelompok masyarakat yang beresiko
tinggi terhadap penularan HIV/AIDS. Respon pemerintah Indonesia terhadap
perkembangan masalah AIDS diawalai dengan pembentukan Komisi
Penanggulangan AIDS Nasional dan Daerah (KPAN dan KPAD). Namun, hal
ini nampaknya belum mencerminkan keseriusan pemerintah dalam
menangani kompleksitas permasalahan kesehatan masyarakat dan sosial ini.
Misalnya saja, pendanaan yang bersumber dari APBN dan APBD masih
sangat terbatas. Kita masih saja tergantung dari bantuan luar negeri dalam
bentuk hibah (grant) maupun pinjaman (loan). Dengan adanya situasi ini,
negara-negara donor lebih mengarahkan bantuan dananya untuk LSM.
Selama 1992-1995, banyak LSM AIDS didirikan di berbagai wilayah tanah
air.
Kasus AIDS terbanyak dilaporkan oleh DKI Jakarta disusul Papua.
Namun jumlah kumulatif kasus AIDS per 100.000 penduduk, terbanyak
dilaporkan Provinsi Papua baru disusul DKI Jakarta.
Meluasnya kasus HIV/AIDS akan menimbulkan dampak buruk terhadap
pembangunan nasional secara keseluruhan. Tidak hanya berpengaruh
terhadap bidang kesehatan, tetapi juga mempengaruhi bidang sosial ekonomi.
Apalagi penyakit ini paling banyak terjadi pada kelompok usia produktif.
Oleh karena itu, informasi tentang perkembangan kasus HIV/AIDS perlu
terus dilakukan agar didapatkan gambaran besaran masalah sebagai salah satu
pendukung dalam upaya pencegahan maupun upaya penanggulangan.
B.