Você está na página 1de 13

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN HIV/AIDS
1. Pengertian HIV
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang menyerang sistem
kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis
dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut terutama
limfosit yang memiliki CD4 sebagai sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan
sel limfosit. Karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan
berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam mengatasi
infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai
CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang
terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD4 semakin lama akan semakin
menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol) (KPA, 2007).
HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang
menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bernama sel CD4 sehingga
dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Gejala-gejala timbul tergantung dari infeksi
oportunistik yang menyertainya. Infeksi oportunistik terjadi oleh karena menurunnya daya
tahan tubuh (kekebalan) yang disebabkan rusaknya sistem imun tubuh akibat infeksi HIV
tersebut.
HIV (Human Immuno Deficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan
tubuh manusia dan kemudian menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-
sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Virus ini dapat menginfeksi sel mamalia,
termasuk manusia dan menimbulkan kelainan patologi.
2. Pengertian AIDS
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang
merupakan dampak atau efek dari perkembang biakan virus HIV dalam tubuh makhluk
hidup. Sindrom AIDS timbul akibat melemah atau menghilangnya sistem kekebalan
tubuh karena sel CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV.
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome, yang berarti
kumpulan gejala atau sindroma akibat menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan
infeksi virus HIV. Tubuh manusia mempunyai kekebalan untuk melindungi diri dari
serangan luar seperti kuman, virus, dan penyakit. AIDS melemahkan atau merusak
sistem pertahanan tubuh ini, sehingga akhirnya berdatanganlah berbagai jenis penyakit
lain (Yatim, 2006).
AIDS dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh
menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV yang termasuk family
retroviradae. AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV (Zubari Djoerban &
Samsuridjal Djauzi, 2001)
AIDS adalah suatu penyakit retrovirus oportunitik, neoplasma sekunder dan
kelainan neurologik. AIDS adalah merupakan stadium akhir dari suatu kelainan
imunologik dan klinis kontinumyang dikenal sebagai spektrum infeksi HIV (Sylvia &
Wilson, 2005)
Pada 18 Desember 1992, CDC (Centers for Disease Control and Prevention) telah
menerbitkan suatu sistem klasifikasi untuk infeksi HIV dan mengembangkan definisi
AIDS di kalangan remaja dan dewasa di Amerika Syarikat. Mengikut standar klinis
untuk pemantauan secara immunologis pada pasien yang terinfeksi dengan HIV, sistem
klasifikasi tersebut meliputi pengukuran limfosit T CD4+ dalam kategorisasi kondisi
klinis yang berhubungan dengan HIV dan ini telah menggantikan sistem klasifikasi HIV
yang diterbitkan pada tahun 1986. Semua pengidap AIDS mempunyai limfosit T
CD4+/uL kurang dari 200 atau kurang 14 persen limfosit T CD4+ dari jumlah limfosit,
atau yang didiagnosa dengan tuberkulosis pulmoner, kanker servikal invasif, atau
pneumonia rekuren. Objektif dari pengembangan definisi AIDS ini adalah untuk
menunjukkan jumlah morbiditi pengidap AIDS dan pasien yang imunosupresi, dan juga
untuk memudahkan proses pelaporan kasus. Bermula dari tahun 1993, definisi AIDS ini
telah digunakan oleh semua negara untuk pelaporan kasus AIDS (CDC, 1993).

3.
B. TANDA DAN GEJALA HIV/AIDS
HIV menular melalui: Darah, cairan semen, cairan vagina, air susu ibu, air
liur/saliva, feses, air mata, air keringat, urine. Penularan dapat terjadi melalui : hubungan
seksual (tanpa kondom) dengan orang yang telah terinfeksi HIV, jarum suntik/tindik/tato
yang tidak steril dan dipakai secara bergantian, transfusi darah yang mengandung virus
HIV, ibu penderita HIV positif saat melahirkan atau melalui air susu ibu (ASI).
1. Tanda-Tanda Klinis
Tanda-tanda klinis berupa: Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan,
diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan, demam berkepanjangan lebih dari
1 bulan, penurunan kesadaran dan gangguan-gangguan neurologis, dimensia HIV
ensefalopati. Sedangkan gejala minor yaitu: Batuk menetap lebih dari 1 bulan,
dermatitis generalisata yang gatal, adanya Herpes zoster multisegmental dan
berulang, infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita.
Menurut KPA (2007) gejala klinis terdiri dari 2 gejala yaitu gejala mayor (umum
terjadi) dan gejala minor (tidak umum terjadi):
Gejala mayor:
a. Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
b. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
c. Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
d. Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis
e. Demensia/ HIV ensefalopati

Universitas Sumatera Utara


Gejala minor:
a. Batuk menetap lebih dari 1 bulan
b. Dermatitis generalisata
c. Adanya herpes zoster multisegmental dan herpes zoster berulang
d. Kandidias orofaringeal
e. Herpes simpleks kronis progresif
f. Limfadenopati generalisata
g. Retinitis virus Sitomegalo

Menurut Mayo Foundation for Medical Education and Research (MFMER)


(2008), gejala klinis dari HIV/AIDS dibagi atas beberapa fase.
a. Fase awal

Pada awal infeksi, mungkin tidak akan ditemukan gejala dan tanda-tanda
infeksi. Tapi kadang-kadang ditemukan gejala mirip flu seperti demam, sakit kepala,
sakit tenggorokan, ruam dan pembengkakan kelenjar getah bening. Walaupun tidak
mempunyai gejala infeksi, penderita HIV/AIDS dapat menularkan virus kepada
orang lain.
b. Fase lanjut
Penderita akan tetap bebas dari gejala infeksi selama 8 atau 9 tahun atau lebih.
Tetapi seiring dengan perkembangan virus dan penghancuran sel imun tubuh,
penderita HIV/AIDS akan mulai memperlihatkan gejala yang kronis seperti
pembesaran kelenjar getah bening (sering merupakan gejala yang khas), diare, berat
badan menurun, demam, batuk dan pernafasan pendek.
c. Fase akhir

Selama fase akhir dari HIV, yang terjadi sekitar 10 tahun atau lebih setelah
terinfeksi, gejala yang lebih berat mulai timbul dan infeksi tersebut akan berakhir
pada penyakit yang disebut AIDS.
Beberapa penderita menampakkan gejala yang menyerupai mononucleosis
infeksiosa dalam waktu beberapa minggu setelah terinfeksi. Gejalanya berupa
demam, ruam-ruam, pembengkakan kelenjar getah bening dan rasa tidak enak badan
yang berlangsung selama 3-14 hari. Sebagian besar gejala akan menghilang,
meskipun kelenjar getah bening tetap membesar (Gunawan S., 1992).
Selama beberapa tahun, gejala lainnya tidak muncul. Tetapi sejumlah besar virus
segera akan ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh lainnya, sehingga penderita
bisa menularkan penyakitnya. Dalam waktu beberapa bulan setelah terinfeksi,
penderita bisa mengalami gejala-gejala yang ringn secara berulang yang belum
benar-benar menunjukkan suatu AIDS (Gunawan S., 1992).
Penderita bisa menunjukkan gejala-gejala infeksi HIV dalam waktu beberapa
tahun sebelum terjadinya infeksi atau tumor yang khas untuk AIDS. Gejala: -
pembengkakan kelenjar getah bening
- penurunan berat badan
- demam yang hilang-timbul
- perasaan tidak enak badan
- lelah
- diare berulang
- anemia
- thrush (infeksi jamur di mulut).
Secara definisi, AIDS dimulai dengan rendahnya jumlah limfosit CD4+ (kurang
dari 200 sel/mL darah) atau terjadinya infeksi oportunistik (infeksi oleh organisme
yang pada orang dengan sistem kekebalan yang baik tidak menimbulkan penyakit).
Juga bisa terjadi kanker, seperti sarkoma Kaposi dan limfoma non-Hodgkin.
Gejala-gejala dari AIDS berasal dari infeksi HIVnya sendiri serta infeksi
oportunistik dan kanker. Tetapi hanya sedikit penderita AIDS yang meninggal karena
efek langsung dari infeksi HIV. Biasanya kematian terjadi karena efek
Universitas Sumatera Utara
kumulatif dari berbagai infeksi oportunistik atau tumor. Organisme dan penyakit
yang dalam keadaan normal hanya menimbulkan pengaruh yang kecil terhadap
orang yang sehat, pada penderita AIDS bisa dengan segera menyebabkan kematian,
terutama jika jumlah limfosit CD4+ mencapai 50 sel/mL darah (Gunawan, 1992).
Beberapa infeksi oportunistik dan kanker merupakan ciri khas dari munculnya
AIDS:
1. Thrush. Pertumbuhan berlebihan jamur Candida di dalam mulut, vagina atau
kerongkongan, biasanya merupakan infeksi yang pertama muncul. Infeksi jamur
vagina berulang yang sulit diobati seringkali merupakan gejala dini HIV pada
wanita. Tapi infeksi seperti ini juga bisa terjadi pada wanita sehat akibat berbagai
faktor seperti pil KB, antibiotik dan perubahan hormonal.
2. Pneumonia pneumokistik. Pneumonia karena jamur Pneumocystis carinii
merupakan infeksi oportunistik yang sering berulang pada penderita AIDS. Infeksi
ini seringkali merupakan infeksi oportunistik serius yang pertama kali muncul dan
sebelum ditemukan cara pengobatan dan pencegahannya, merupakan penyebab
tersering dari kematian pada penderita infeksi HIV
3. Toksoplasmosis. Infeksi kronis oleh Toxoplasma sering terjadi sejak masa
kanak-kanak, tapi gejala hanya timbul pada sekelompok kecil penderita AIDS. Jika
terjadi pengaktivan kembali, maka Toxoplasma bisa menyebabkan infeksi hebat,
terutama di otak.
4. Tuberkulosis. Tuberkulosis pada penderita infeksi HIV, lebih sering terjadi
dan bersifat lebih mematikan. Mikobakterium jenis lain yaitu Mycobacterium avium,
merupakan penyebab dari timbulnya demam, penurunan berat badan dan diare pada
penderita tuberkulosa stadium lanjut. Tuberkulosis bisa diobati dan dicegah dengan
obat-obat anti tuberkulosa yang biasa digunakan.

Universitas Sumatera Utara

5. Infeksi saluran pencernaan. Infeksi saluran pencernaan oleh parasit


Cryptosporidium sering ditemukan pada penderita AIDS. Parasit ini mungkin
didapat dari makanan atau air yang tercemar. Gejalanya berupa diare hebat, nyeri
perut dan penurunan berat badan.
6. Leukoensefalopati multifokal progresif. Leukoensefalopati multifokal
progresif merupakan suatu infeksi virus di otak yang bisa mempengaruhi fungsi
neurologis penderita. Gejala awal biasanya berupa hilangnya kekuatan lengan atau
tungkai dan hilangnya koordinasi atau keseimbangan. Dalam beberapa hari atau
minggu, penderita tidak mampu berjalan dan berdiri dan biasanya beberapa bulan
kemudian penderita akan meninggal.
7. Infeksi oleh sitomegalovirus. Infeksi ulangan cenderung terjadi pada stadium
lanjut dan seringkali menyerang retinamata, menyebabkan kebutaan. Pengobatan
dengan obat anti-virus bisa mengendalikan sitomegalovirus.
8. Sarkoma Kaposi. Sarkoma Kaposi adalah suatu tumor yang tidak nyeri,
berwarna merah sampai ungu, berupa bercak-bercak yang menonjol di kulit. Tumor
ini terutama sering ditemukan pada pria homoseksual.
9. Kanker. Bisa juga terjadi kanker kelenjar getah bening (limfoma) yang mula-
mula muncul di otak atau organ-organ dalam. Wanita penderita AIDS cenderung
terkena kanker serviks. Pria homoseksual juga mudah terkena kanker rectum
(Gunawan, 1992).

Universitas Sumatera Utara


2.1.9. Stadium Infeksi
WHO
Stadium I
Tanpa gejala; Pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh yang
menetap. Tingkat aktivitas 1: tanpa gejala, aktivitas normal.
Stadium II
Kehilangan berat badan, kurang dari 10%; Gejala pada mukosa dan kulit yang
ringan (dermatitis seboroik, infeksi jamur pada kuku, perlukaan pada mukosa mulut
yang sering kambuh, radang pada sudut bibir); Herpes zoster terjadi dalam 5 tahun
terakhir; ISPA (infeksi saluran nafas bagian atas) yang berulang, misalnya sinusitis
karena infeksi bakteri. Tingkat aktivitas 2: dengan gejala, aktivitas normal.
Stadium III
Penurunan berat badan lebih dari 10%; Diare kronik yang tidak diketahui
penyebabnya lebih dari 1 bulan; Demam berkepanjangan yang tidak diketahui
penyebabnya lebih dari 1 bulan; Candidiasis pada mulut; Bercak putih pada mulut
berambut; TB paru dalam 1 tahun terakhir; Infeksi bakteri yang berat, misalnya:
pneumonia, bisul pada otot. Tingkat aktivitas 3: terbaring di tempat tidur, kurang
dari 15 hari dalam satu bulan terakhir.
Stadium IV
Kehilangan berat badan lebih dari 10% ditambah salah satu dari : diare kronik
yang tidak diketahui penyebabnya lebih dari 1 bulan. Kelemahan kronik dan demam
berkepanjangan yang tidak diketahui penyebabnya lebih dari 1 bulan.
Pneumocystis carinii pneumonia (PCP).
Toksoplasmosis pada otak.
Kriptosporidiosis dengan diare lebih dari 1 bulan.
Kriptokokosis di luar paru.
Sitomegalovirus pada organ selain hati, limpa dan kelenjar getah bening.
Infeksi virus Herpes simpleks pada kulit atau mukosa lebih dari 1 bulan atau
dalam rongga perut tanpa memperhatikan lamanya.

Universitas Sumatera Utara

PML(progressivemultifocalencephalopathy) atau infeksi virus dalam otak.


Setiap infeksi jamur yang menyeluruh,
misalnya:histoplasmosis,kokidioidomikosis.
Candidiasis pada kerongkongan, tenggorokan, saluran paru dan paru.
Mikobakteriosis tidak spesifik yang menyeluruh.
Septikemia salmonela bukan tifoid.
TB di luar paru.
Limfoma.
Kaposis sarkoma.
Ensefalopati HIV sesuai definisi CDC.

Tingkat aktivitas 4: terbaring di tempat tidur, lebih dari 15 hari dalam 1 bulan
terakhir ( WHO, 2006 ).
2.
C. PENYEBAB AIDS
Etiologi AIDS ialah HIV (Human Immunodeficiency Virus), suatu nama yang
berdasarkan konvensi telah diterima pada tahun 1986. Sebelumnya virus tersebut
dinamai
Penyebab AIDS adalah HIV yang melekat dan memasuki limfosit T helper CD4+. Virus
tersebut menginfeksi limfosit CD4+ dan sel-sel imunologis lainnya dan orang itu
mengalami destruksi sel CD4+ secara bertahap. Sel-sel yang mengulang dan
memperkuat respon imunologis, diperlukan untuk mempertahankan kesehatan yang baik,
dab bila sel-sel tersebut berkurang dan rusak, maka fungsi imun akan mulai terganggu.
HIV dapat pula menginfeksi makrofag, sel-sel yang dipakai virus untuk melewati sawar
darah otak masuk kedalam otak. Fungsi limfosit B juga mulai terpengaruh dengan
meningkatnya produksi imunoglobulin total yang berhubungan dengan penurunan
prooduksi antibodi spesifik . dengan memburuknya sistem imun secara progresif tubuh
menjadi semakin rentan terhadap infeksi oportunistik dan juga berkurang
kemampuannya dalam memperlambat replikasi HIV.
Virus ini akan ditularkan hanya melalui kontak langsung dengan darah atau produk darah
dan cairan tubuh seperti cairan serebrospinalis, cairan pleura, air susu, semen, saliva, air
mata, urine, dan sekresi serviks. (3)

Penyebab penyakit HIV/AIDS adalah Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang
menyebabkan penurunan daya kekebalan tubuh.HIV termasuk genus retrovirus dan
tergolong ke dalam family lentivirus. Infeksi dari family lentivirus ini khas ditandai
dengan sifat latennya yang lama, masa inkubasi yang lama, replikasi virus yang
persisten dan keterlibatan dari susunan saraf pusat (SSP). Sedangkan ciri khas untuk
jenis retrovirus yaitu : dikelilingi oleh membran lipid, mempunyai kemampuan variasi
genetik yang tinggi, mempunyai cara yang unik untuk replikasi serta dapat menginfeksi
seluruh jenis vertebra.

D. PENATALAKSANAAN
Pada pasien dengan HIV/AIDS, bisa ditemukan beberapa diagnosis keperawatan
dengan masalah kolaboratif, antara lain :
1. Resiko komplikasi/infeksi sekunder
2. Wasting syndrome, sarkoma kaposi, dan limfoma
3. Meningitis, infeksi oportunistik (misalnya Kandidiasis, Sitomegalovirus, Herpes,
Pneumocystis carinii pneumonia)
Diagnosis Keperawatan
Menurut NANDA (North American Nursing Diagnosis) Internasional Taksonomi II,
diagnosis keperawatan yang kemungkinan ditemukan pada pasien dengan
HIV/AIDS antara lain :
1. Intoleransi aktivitas. Hal ini berhubungan dengan kelemahan, kelelahan, efek
samping pengobatan, demam, mal nutrisi, dan gangguan pertukaran gas
(sekunder terhadap infeksi paru atau keganasan).
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif. Hal ini berhubungan dengan penurunan energi,
kelelahan, infeksi respirasi, sekresi trakeobronkial, keganasan paru dan
pneumotoraks.
3. Kecemasan
4. Gangguan gambaran diri
5. Ketegangan peran pemberi perawatan
6. Konfusi
7. Koping keluarga
8. Koping tidak efektif
9. Diare
10. Kurangnya aktivitas pengalihan
11. Kelelahan
12. Takut
13. Volume cairan berkurang
14. Disfungsional
Terdapat tanda-tanda lain pada penderita HIV/AIDS, yakni memiliki respon
spesifik yaitu :
1. Respon Biologis
Secara imunologis, sel T yang terdiri atas limfosit T-helper, disebut limfosit
CD4+ akan mengalami perubahan baik secara kualitas maupun kuantitas.
HIV menyerang CD4+ baik secara langsung maupun tidak langsung.
Virus HIV yang telah berhasil masuk ke dalam tubuh pasien, juga
menginfeksi berbagai macam sel, terutama monosit, makrofag, sel-sel
mikroglia di otak, sel-sel hobfour plasenta, sel-sel dendrit pada kelenjar
limfe, sel-sel epitel pada usus, dan sel Langerhans di kulit. Efek infeksi pada
sel mikroglia di otak adalah enselophati dan pada sel epitel usus adalah diare
yang kronis.
Gejala klinis yang ditimbulkan akibat infeksi tersebut biasanya baru disadari
pasien setelah beberapa waktu lamanya tidak mengalami kesembuhan.
Pasien yang terinfeksi virus HIV dapat tidak memperlihatkan tanda dan
gejala selama bertahun-tahun. Sepanjang perjalanan penyakit tersebut sel
CD4+ mengalami penurunan jumlahnya dari 1000/L sebelum terinfeksi
menjadi sekitar 200-300/L setelah terinfeksi selama 2-10 tahun. (Nursalam
& Dian Kurniawati, 2007, hal. 14)

2. Respon Adaptif Psikologis-Spiritual


a. Respon Adaptif Psikologis (Penerimaan Diri)
Pengalaman mengalami suatu penyakit akan membangkitkan berbagai
perasaan dan reaksi stress, frustasi, kecemasan, kemarahan,
penyangkalan, rasa malu, berduka dan ketidakpastian dengan adaptasi
penyakit.

b. Respon Psikologis terhadap penyakit


Kubler Ross (1974) menguaraikan lima tahap reaksi emosi seseorang
terhadap penyakit, yaitu :
1) Pengingkaran (denial)
2) Kemarahan (anger)
3) Sikap tawar menawar (bergaining)
4) Depresi
5) Penerimaan dan partisipasi

c. Respon adaptif spiritual


1) Harapan yang realiatis
2) Tabah dan sabar
3) Pandai mengambil hikmah
d. Respon adaptif sosial
1) Stigma sosial
2) Diskriminasi
3) Terjadi dalam waktu yang lama
3. D
Intervensi Keperawatan Pasien Terinfeksi HIV (PHIV)
Prinsip asuhan keperawatan PHIV untuk mengubah perilaku ketika dalam masa perawatan
dan dalam rangka meningkatkan respon imunitas PHIV melalui pemenuhan kebutuhan fisik,
psikologis, sosial dan spiritual.
1. Memfasilitasi energi koping
a. Potensi diri
b. Teknik kognitif
c. Teknik perilaku
2. Dukungan sosial
a. Dukungan emosional
b. Dukungan informasi
c. Dukungan material
Asuhan keperawatan respon biologis (aspek fisik)
1. Universal precauntions
Prinsip-prinsipnya meliputi :
a. Menghindari kontak langsung dengan cairan tubuh
b. Mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan tindakan
c. Dekontaminasi cairan tubuh pasien
d. Memakai alat kedokteran sekali pakai atau mensterilisasi semua alat kedokteran
yang dipakai (tercemar)
e. Memelihara tempat pelayanan kesehatan
f. Membuang limbah yang tercemar berbagai cairan tubuh secara benar dan aman
Pemberian ARV
Penggunaan obat ARV kombinasi:
1. Manfaatnya penggunaan obat dalam bentuk kombinasi :
a. Memperoleh khasiat yang lebih lama untuk memperkecil kemungkinan terjadinya
resistensi
b. Meningkatkan efektivitas dan lebih menekan aktivitas virus. Bila timbul efek
samping bisa diganti dengan obat lainnya dan bila virus mulai resisten terhadap
oabt yang sedang digunakan bisa memakai kombinasi lain.

2. Efektivitas
a. Lebih efektif dan menurunkan viral load lebih tinggi bila dibandingkan dengan
penggunaan satu obat saja
b. Kemungkinan terjadi resistensi virus kecil, namun apabila pasien lupa minum obat
ini akan menimbulkan resistensi
c. Kemungkinan efek samping lebih kecil
3. Waktu penggunaan ARV
Menurut WHO (2002), penggunaan ARV bisa dimulai pada orang dewasa dengan
kriteria sebagai berikut:
a. Bila pemeriksaan CD4 bisa dilakukan:
1) Pasien stadium IV, tanpa memperhatikan hasil tes CD4
2) Pasien stadium I, II, III dengan hasil perhitungan limfost total <200/L
b. Bila pemeriksaan CD4 tidak dapat dilakukan:
1) Pasien stadium IV, tanpa memperhatikan hasil hitung limfosit total
2) Pasien stadium I, II, III dengan hasil perhitungan limfosit total <1000-1200/
c. Limfosit total <1000-1200 dapat diganti dengan CD4 dan dijumpai tanda-tanda
HIV. Hal ini kurang penting pada pasien tanpa gejala (Stadium I menurut WHO)
dan hendaknya jangan dilakukan pengobatan terlebih dahulu karena belum ada
petunjuk tentang beratnya penyakit.
4. Cara memilih obat
a. Hasil pemeriksaan CD4, viral load dan kemampuan pasien mengingat penggunaan
obatnya
b. Kebanyakan orang lebih mudah mengingat obat yang diminum sewaktu makan
c.
5. Efek samping obat
a. Efek jangka pendek : mual, muntah, diare, sakit kepala, lesu dan susah tidur.
b. Efek jangka pangjang belum diketahui pasti
c. Efek pada wanita : lebih berat daripada efek pada laki-laki. Cara mengatasinya
dengan penggunaan dosis yang lebih kecil.
6. Kepatuhan minum obat
a. Mencegah resistensi dan menekan virus terus menerus
b. Kiat penting :
1) Minum obat pada waktu yang sama setiap hari
2) Harus tersedia obat dimanapun pasien berada
3) Bawa obat kemanapun pasien pergi
4) Pergunakan peralatan
E.