Você está na página 1de 38

LUKA BAKAR dr.

Novia R Gunawan

Etiologi
Termal :

Api, air mendidih, dsb

Elektrik :

Sumber listrik sengatan listrik

Radiasi :

Sinar matahari, x ray, dsb

Kimiawi :

Bahan / zat korosif : alkohol > 70%, H2SO4, dsb

Derajat luka bakar


Luka bakar derajat I

Yg rusak hanya epidermis

Kulit tampak kering

Bula (-)

Nyeri (+)

Sembuh + 5 10 hari

Luka bakar derajat II

Yg rusak epidermis & dermis

Bula (+)

Hiperemis bila bula pecah

Sakit (+)

IIA: dangkal sembuh dalam + 10 14 hari

IIB: dalam sembuh dalam + 1 bulan atau lebih

Luka bakar derajat III

Yg rusak seluruh lapisan kulit sampai jaringan di bawanya


Bula (+/-)

Sakit (-)

Dasar luka putih, pucat,, kering dalam + 5 10 hari eschar (+)

karena koagulasi protein

Dalam + 10 14 hari eschar akan terlepas


Luas luka bakar (RULE OF 9)
Bayi & Anak-anak:
1 Tahun 5 Tahun

Kepala 18 % 14 %

Badan 36 % 36 %

Tangan 9%9% 9%9%

Kaki 14 % 14 % 16 % 16 %

Telapak tangan seluas 1 %

Pembagian luka bakar


Luka Bakar Berat (kritis)

LB derajat II >25 % (usia 10-50th), >20% (usia <10 / >50 th)

LB pada muka, tangan, kaki, atau perineum.

LB derajat III >10%

LB yang mengenai sendi-sendi utama

LB sirkumfernsial pada ekstrimitas

Disertai trauma jalan nafas, dan fraktur.

LB akibat listrik.

LB pada bayi & orang tua

Perlu segera dirujuk ke RS / ULB

Luka Bakar Sedang

LB derajat II 15-25 % (usia 10-50 th), 10-20% (usia <10 / >50th).

LB derajat III 2 10% .

Perlu dirawat di RS
Luka Bakar Ringan

LB derajat II < 15 % (usia 10-50 th), <10% (usia <10 / >50th)

LB derajat III < 2 % tanpa cidera lain

biasanya tidak perlu dirawat di RS

Prinsip-prinsip penanganan pertama luka bakar


Bersihkan dengan air mengalir.

Mengurangi rasa sakit.

Menjaga jalan nafas.

Mencegah infeksi.

Mencegah syok.

Penanganan
1. Pertolongan Pertama

Jauhkan dari sumber trauma

Segera dinginkan luka dg air dingin, yg terbaik dg S:20oC selama 15 menit

Tutup luka dengan kain bersih

Beri analgetik

Bebaskan jalan napas

Cegah infeksi

Bula jangan dipecahkan

Beri antitetanus

Cegah syok

Luka bakar luas syok

Luka bakar derajat II/III 40 % 4 jam kemudian syok

Luka bakar derajat II/III luas :


Fungsi usus terganggu diberi minum kembung sulit

bernapas

jangan diberi minum !!!

Luka bakar derajat II/III < 30 % :

Boleh minum

Beri elektrolit

Infus NaCl 0,9 % atau RL

2. Indikasi Rawat

Luka bakar derajat II > 15 %

Luka bakar mengenai muka, mata, telinga, tangan, kaki, genitalia, perineum,

dan kulit yang menutupi persendian

Luka bakar derajat III > 2 %

Ada komplikasi lain

Luka bakar derajat II > 10 % pada usia < 10 tahun dan > 50 tahun

Luka bakar listrik, petir, bahan kimia

Luka bakar akibat inhalasi panas

Terapi Cairan Luka Bakar


Formula Bexter / Parkland

8 jam pertama (4cc x KgBB x % luas luka bakar) RL

16 jam berikutnya (4cc x KgBB x % luas luka bakar) RL ditambah 500-

1000cc koloid.

Modifikasi untuk anak:

Replacement : 2cc/ KgBB/ % luas luka bakar


PENANGANAN GIGITAN ULAR BERBISA

Lokal:

perdarahan di bekas gigitan. rasa sakit yang menyengat. ekhimosis, edem

masif. vesikula, bulla sampai gangren.

Sistemik:

lesu, berkeringat. haus, mual sampai muntah. kadang2 diare. rasa gatal dan

bebas sekitar mulut dan kulit kepala. febris, hipotensi.

Manifestasi hemorragis:

Klinis: hemoptisis dan perdarahan gusi. gross hematuria, hematemesis,

melena, dan perdarahan vagina.

Laboratoris: bleeding time & clothing time memanjang. kadar fibrinogen

menurun.

Pertolongan Pertama
Menghambat dan menghalangi bisa ular masuk ke sistemik

menetralisir dengan anti bias ular (SABU)

mengatasi efek local dan sistemik

Tindakan Berupa

proximal gigitan dibalut dengan tekanan 60 mmHg

istirahat total bagian yang digigit

dinginkan lokasi gigitan dengan suhu 15C

mencegah nyeri dan shock

Tindakan Pengobatan

kalau dapat identifikasi jenis ular

insisi Full Thickness sepanjang 5-7 cm sebanyak 2-3 buah melalui bekas

gigitan. Lakukan pengisapan secara mekanik. Hati-hati jenis bisa ular

hematotoksin (KI)

pemberian SABU

analgetik, sedative

fasiotomi bila ada kompartemen sindrom

resusitasi pernafasan

neostigmin sulfat 50100 Ugt tiap 30 min sampai 5 kali pemberian

kemudian tap off

pasang infuse

anti koagulan

hemodialisis bila terjadi gagal ginjal

transfuse

antibiotic

ATS dan toksoid

Indikasi Pemberian SABU


Gejala awal keracunan sistemik (+)

Segera setelah gigitan terjadi

pembengkakan hebat

Cara pemberian :

Drip intravena

PENANGANAN RABIES
Harus ditangani secepat mungkin

Cuci dg air mengalir & sabun / detergent selama 10-15 menit, walaupun

sebelum dirujuk sudah dicuci.

Beri antiseptic alcohol 70% / betadin / obat merah / dll.

Luka gigitan tidak dijahit, kecuali jahit situasi

Berikan vaksin Anti Rabies (VAR) sesuai dosis, yg disuntikkan IM, di

daerah deltoideus (dewasa), di daerah paha (anak).

Pertimbangkan pemberian serum/vaksin anti tetanus

Berikan AB & analgetik untuk penahan sakit

VAKSINASI DOSIS WAKTU PEMBERIAN

ANAK DEWASA

Dasar (VERORAB) 0.5 ml 0.5 ml 4 x pemberian , hari ke-0, 2x

pemberian sekaligus (deltoid

kanan&kiri), hari ke 7 dan 21

TERSENGAT LISTRIK
Matikan arus listrik, putuskan kontak kabelnya, atau matikan dari pusat

listrik. Jauhkan korban dari arus listrik.


Panggil bantuan.

Jika arus listrik tidak dapat diputuskanm gunakan benda nonkonduksi

seperti kayu, keset karet, dll utk menjauhkan korban dari sumber arus

listrik. Jangan gunakan benda basah.

Setelah korban aman, segera lakukan resusitasi BHD.

Jika korban terdapat luka bakar maka lepaskan pakaian, cuci dg air

mengalir, & berikan pertolongan pertama untuk luka bakar.

Jika korban terlihat pucat / pingsan / terdapat tanda2 shock, baringkan

dg kepala lebih rendah dari pada badan, & selimuti korban.

Temani korban sampai bantuan datang.

Jangan gerakkan leher & kepala korban, karena kemungkinan terdapat

trauma tulang belakang.

Keracunan pada Anak dr. Novia R Gunawan

DEFINISI
Racun (poison): zat kimia yg dapat merusak / membahayakan fungsi tubuh.

Natural / alami

Buatan manusia

Bisa (venom): zat yg dihasilkan oleh hewan, dikeluarkan oleh satu species

ke species lainnya.

Toxin: racun yg diproduksi oleh sel hidup organisme maupun

mikroorganisme.

Endotoxin

Exotoxin
Paparan racun: tertelannya / adanya kontak dg zat yg menghasilkan efek

beracun.

Keracunan: paparan racun yg menghasilkan bahaya bagi tubuh.

Apapun yg dapat termakan, minum, hirup, masuk ke dalam mata / kulit yg

dapat menyebabkan sakit / kematian.

Dapat berbentuk padat, cair, gas, atau aerosol.

unintentional poisonings.

intentional poisonings.

EPIDEMIOLOGI
Hampir 90% terjadi di rumah

Insidensi: 25% <5 tahun,

50% 5 30,

sisanya > 30 tahun

< 6 tahun unintentional

Dewasa intentional & unintentional.

+50% merupakan usaha bunuh diri

Anak-anak < 6 tahun:

Unintentional ingestions

Kesalahan medikasi

Paparan lingkungan

Gigitan / sengatan

CONTOH RACUN
Produk produk rumah tangga Sabun cuci

Sampo / sabun mandi Pewarna rambut


Pasta gigi Terpentin

Pembersih toilet Thinner cat

Pestisida

Tanaman Obat2an

Cat kayu (furnitur) obat yg diresepkan

Minyak tanah obat warung

Alkohol Gas & Uap

Rokok CO

Tipe Keracunan
Akut

Tidak sengaja tertelan oleh anak-anak

Percobaan bunuh diri oleh dewasa

Kronik

Paparan pestisida setiap hari pada penduduk di daerah pertanian

Paparan zat kimia setiap hari pada buruh pabrik

Pemeriksaan Klinis
Anamnesis:

riwayat tertelannya racun Where / how

Jika diketahui: zat, waktu, volume, efek segera

Adakah orang lain dg gejala yg sama

Botol / wadah obat yg erbuka, bau yg tidak biasa

Kegemaran anggota keluarga, paparan industri

Penyakit / pengobatan yg sedang dialami pasien

Pemeriksaan Fisik:

TTV (KU, TD, N, R, S)


Perhatikan pemeriksaan neuro

Pupil

Refleks & bentuk tubuh

Status mental

Bising usus

Membran mucosa & kelembaban /keadaan kulit

Bau bauan khas

Epistaksis, bekas jarum, bula / blister

Koma pastikan penyebab lain

Clinical pattern Poisons


Narcosis/sedative syndrome benzodiazepines, barbiturates,
coma, reduced consciousness, ethanol, tricyclics, phenothiazines,
purposeful response to pain, opiates, antihistamines, chloral
flaccidity, reduced reflexes hydrate

Anticholinergic syndrome
coma, hyperreflexia, twitching, anticholinergics, tricyclics,
agitation, hallucinations, seizures, phenothiazines, antihistamines
dilated pupils, tachycardia

Ventricular
tachycardia/hypotensive tricyclics, chloral hydrate, quinidine,
syndrome anticholinergics, antihistamines,
coma, hypotension, ventricular phenothiazines
tachycardia, ventricular
fibrillation

Sympathomimetic syndrome
seizures, hypertonia, theophylline, MAOI*, phencyclidine,
hyperreflexia, pyrexia, cocaine amphetamines (e.g.,
hypokalaemia, hyperglycaemia, amphetamine, methamphetamine, para-
metabolic acidosis methoxyamphetamine
3,4 methylenedioxyamphetamine
3,4-methylenedioxymethamphetamine)
Cholinergic syndrome
bradycardia, diaphoresis, organophosphates
bronchorrhoea, diarrhoea,
seizures, coma, pinpoint pupils

Pemeriksaan penunjang

Laboraturium

EKG

Rontgen

Penatalaksanaan
Prinsip Umum :

1.Perawatan suportif

2.Mencegah atau mengurangi absorpsi lebih lanjut

3.Meningkatkan pengeluaran racun

4.Pemberian antidotum spesifik

1. Perawatan suportif

Langkah ABC, resusitasi segera!!

2. Mencegah absorbsi racun lebih lanjut

DEKONTAMINASI

Mata dan Kulit :

Basuh dgn air mengalir / normal salin

Jangan beri antidotum kimia

Terinhalasi : Jauhkan dari sumber racun

Gigitan ular :

Pasang Tornikuet
Kompres dingin

Imobilisasi

Tertelan :

Pengosongan lambung(rangsang muntah, bilas lambung)

Activated charcoal

Katartik

Perangsangan muntah dan bilas lambung

Kontraindikasi :

Anak < 6 bulan

Keracunan zat korosif

Keracunan hidrokarbon

Tak sadar/refleks muntah(-)

Kejang

Indikasi :

Anak sadar dan kooperatif

Menelan racun < 4 jam

Racun sangat toksis, membahayakan

Preparat : sirup pekak, dosis 15 ml,

20-30(anak<1 th : 10 ml)

RANGSANG MEKANIK :

GASTRIC TUBE Normal Salin (NaCl, RL)


Katartik

Indikasi :

- Rangsang muntah/bilas lambung kontraindikasi

- Menelan preparat lepas lambat/tab. salut selaput

Kontraindikasi:
- Menelan zat korosif

- Bising usus (-)

- Disfungsi ginjal/ggn. elektrolit

- Neonatus/anak kecil

Preparat :

- Mg/Na-sulfat 250 mg/kgBB/dosis atau

- Mg. Sitrat 4 ml/kgBB/dosis, oral

- sorbitol / manitol

3. Meningkatkan pengeluaran racun:

EKSKRESI Rangsang diuresis

Peritoneal dialisis

Hemodialisis / hemoperfusi pilihan terakhir

Pengawasan pediatrik

nefrologis

4. Antidotum spesifik

Hanya sebagian kecil,

efek toksis serius

Dibatasi pada keracunan berat,

jenis racun telah diketahui

10% KASUS KERACUNAN


Perawatan lanjutan :

Antisipasi, identifikasi dan penanganan komplikasi

Pencegahan :

Penyimpanan obat / zat toksik yang aman

KERACUNAN INSEKTISIDA
ETIOLOGI

1. FOSFAT ORGANIK

malation, paration, Baygon

Gejala klinik :

Gejala SSP : sakit kepala, ataksia, kejang, koma

Tanda-tanda nikotinik : muscle twitching, tremor kelemahan otot dan

paralisis
Tanda-tanda muskarinik : salivasi, lakrimasi, urinasi, defekasi, kramp

gastroinestinal, emesis, (SLUDGE), berkeringat, miosis, bradikardia,

bronkorhea, bronkhospasme

Terapi:

Kegawatan: Perbaiki KU

Observasi 6-8 jam untuk menyingkirkan gejala lambat

Spesifik: Atropin sulfat 0,05-0,1 mg/kgBB, IV

diulang tiap 10 menit sampai terjadi atropinisasi

Pada keadaan berat ditambah dengan

Pralidoksim 25-50 mg/kgBB

dalam 250 ml NaCl fisiologis selama 30 menit,

diikuti infus kontinyu 10-15 mg/kgBB/jam

larutan 1-2%

Dekontaminasi:

Pre RS : arang aktif

RS : arang aktif dan katartik

2. CHLORINATED HYDROCARBON (DDT)

aldrin, endrin, DDT

Gejala klinik

Mual, muntah

Kebingungan, tremor, koma, kejang, depresi pernapasan

Komplikasi

Kejang berulang

Aritmia

kerusakan hati atau kerusakan ginjal

Terapi

Kegawatan : perbaiki KU dan atasi penyulit, observasi minimal 6-8 jam,

monitor EKG
Dekontaminasi :

Pre RS : arang aktif

RS : arang aktif, katartik, bilas lambung

Meningkatkan pengeluaran racun :

arang aktif ulang atau kolestiramin

KERACUNAN MINYAK TANAH


Etiologi : senyawa hidrokarbon gol. alifatik

Gejala klinik :

Gejala awal aspirasi : batuk, rasa tercekik, takikardi, takipne

Setelah 6 jam : grunting, PCH, retraksi, wheezing

Akibat tertelan : mual, muntah, diare, nyeri perut

Gejala SSP : somnolen, sakit kepala, kebingungan

Komplikasi

Pneumonia aspirasi, edema paru akuta, ARDS

Gangguan keseimbangan asam basa

Terapi

Perbaiki KU

Monitor dan pertahankan tanda vital

Penderita tanpa kelainan klinis maupun radiologis observasi

minimal 4 jam, apabila toraks foto ulangan normal

penderita boleh pulang

Apabila kelainan paru berat, rawat di PICU

KERACUNAN JENGKOL
Etiologi : asam jengkolat
Gejala klinik :

Sakit perut, muntah, nyeri supra pubis, disuria

Udara pernapasan dan urin berbau jengkol

Hematuria (mikro/makroskopik)

Oliguria atau anuria

Komplikasi

Gagal ginjal akut (GGA)

Hidronefrosis

Asidosis metabolik

Terapi

Ringan : Banyak minum

Na Bikarbonat 1 mg/kgBB/hari / 1 - 2 gr/hari oral

Berat : . Tangani sebagai GGA

. Retensi urin : kateterisasi

. Oliguria : infus Dekstrose 5 % + NaCl 0,9% 3:1

. Anuria : Dekstrose 5%

. Na Bikarbonat 2 - 5 mEq/kgBB, dalam 4-6 jam

. Diuretika

. Bila perlu peritoneal dialisis

KERACUNAN SINGKONG
Etiologi : asam sianida (HCN)

Gejala klinik :

Timbul beberapa jam setelah makan singkong

Sakit kepala, mual, sesak napas, sianosis

Berat : kejang, koma, kolaps kardiovaskular

Komplikasi: Asidosis metabolik, Sekuele neurologik


Terapi

Kegawatan: Perbaiki KU, Monitor tanda-tanda vital & EKG

Spesifik: Na Nitrit 3% 0,3 ml/kgBB, IV pelan-pelan

Na Tiosulfat 25% 1 ml/kgBB, IV

Dekontaminasi : Pre RS : arang aktif

RS : bilas lambung, arang aktif, katartik

KERACUNAN TEMPE BONGKREK


Etiologi : Terkontaminasinya tempe bongkrek oleh

Klostridium botulinum dan/atau Bakterium

kokovenans sehingga gliserin diubah

menjadi racun toksoflavin

Gejala klinik: Timbul 18 -36 jam setelah makan bongkrek

Gejala awal : sakit tenggorokan, bibir kering,

keluhan gastrointestinal

Gejal lanjut : diplopia, ptosis, disatria,

kelemahan saraf kranialis lain dan

paralisis desendens yang progresif,

henti napas

Dilatasi pupil, refleks cahaya negatif/normal

EMG : konduksi normal, potensial aksi motor menurun

Diagnosis banding

Myastenia gavis

Guillain Barre Syndrome

Terapi

Kegawatan : Perbaiki KU

Observasi ketat tanda-tanda kelemahan


otot pernapasan

Spesifik : Antitoksin botulisme

Guainidin hidroklorid 15-35 mg/kgBB/hari

(menghilangkan blokade neuromuskular)

Dekontaminasi :

Pre RS : perangsangan muntah

RS : bilas lambung, arang aktif, katartik

Basic Life Support (BLS)


Resusitasi Jantung Paru (RJP) dr. Novia R Gunawan

Bantuan Hidup Dasar


Tindakan pertolongan medis sederhana yg dilakukan pada pasien yg

mengalami henti jantung sebelum diberikan tindakan pertolongan medis

lanjutan

Tujuan: memberikan bantuan sirkulasi & pernafasan yg adekuat sampai keadaan

henti jantung teratasi / pasien dinyatakan meninggal

Henti nafas: berhantinya pernafasan spontan karena gangguan jalan nafas

(parsial / total / gangguan pusat pernafasan)

Henti jantung: berhentinya sirkulasi peredaran darah karena kegagalan jantung

untuk melakukan kontraksi efektif

Penyebab henti nafas:

1. Sumbatan jalan nafas tumor

Benda asing (termasuk darah) 2. Gangguan paru

Muntahan Infeksi

Edema laring / bronkus Aspirasi

Spasme laring / bronkus Edema paru


Kontusio paru 5. Fibrilasi ventrikel

Penekanan paru Iskemia miokard

3. Gangguan neuromuskular Infark miokard

GBS Tersengat listrik

Sklerosis Gangguan elektrolit

Kiposoliosis Konsumsi obat2an

Miastenia gravis Sekunder

Penyebab henti jantung: Sebab henti jantung pada anak:

Primer 1. Kegawatan nafas yg tidak

1. Gagal jantung dikelola dg benar

2. Tamponade jantung 2. Akibat penyakit / trauma

3. Miokarditis 3. Gangguan irama jantung primer

4. Kardiomiopati hipertrofi jarang pada <8 tahun


Kapan menghentikan RJP
1. Kejadian henti jantung tidak disaksikan oleh penolong

2. Penderita terpapar bahan beracun / mengalami overdosis obat yg

menghambat SSP

3. Penolong keletihan, bantuan tak kunjung datang, kondisi korban semakin

memburuk

Komplikasi yg mungkin terjadi saat melakukan BHD:

Aspirasi regurgitasi

Fraktur costae-sternum

Pneumothorax, hematothorax, kontusio paru


Laserasi hati / limpa

Konsep ABC

Airway. Bebaskan jalan napas. C


Breathing. Pernapasan spontan & adekuat.

Circulation. Nadi definitif. D A


Defibrilasi
B
Penilaian Respon

Apakah penderita memberi respon terhadap rangsangan dg memanggil

sambil menepuk / menggoyangkan penderita sambil memperhatikan adanya

tana trauma atau tidak

Mengaktifkan Sist Gawat darurat

Bila pasien tidak memberikan respon, segera telepom / hubungi UGD RS

dan ambil AED bila tersedia

Circulation (Kompresi Jantung)


Penilaian nadi pada arteri karotis (dewasa), arteri brakhialis / arteri

femoralis (bayi), tidak lebih dari 10 detik

Kompresi dada pada perpotogan antara sternal line dg intermammary line.

Frekuensi min 100x/menit selama 2 menit

Pada dewasa & anak, kedalaman kompresi min 5 cm

Kompresi pada bayi kedalaman min 4 cm

Berikan kesempatan dada mengembang kembali secara sempurna

Min interupsi
Hindari pemberian napas bantuan berlebihan

Kompresi pada anak umur 1 8 tahun

Letakkan tumit tangan pada setengah bawah sternum, hindarkan jari pada

tulang iga anak

Menekan sternum sedalam 4 cm kemudian lepaskan dg rasio menekan

melepas adl dg kecepatan min 100x/menit

Setelah 30x kompresi, buka jalan napas, berikan 2x napas buatan sampai

dada terangkat untuk 1 penolong

Kompresi : nafas buatan dg rasio 15 : 2 untuk 2 penolong

Kompresi pada bayi

Letakkan 2 jari satu tangan pada setengah bawah sternum, lebar 1 jari

berada di bawah garis intermammari

Menekan sternum sedalam 2,5 cm kemudian angkat tanpa melepas jari dari

sternum, dg kecepatan min 100x/menit

Setelah 30x kompresi, buka jalan napas & berikan 2 kali napas buatan

sampai dada terangkat untuk 1 penolong

Kompresi : nafas buatan dg rasio 15 : 2 untuk 2 penolong


AIRWAY (Tatalaksana Jalan Nafas)
a. Tidak ada dugaan trauma leher & tulang belakang
BREATHING (Penilaian napas & pemberian napas bantuan)
Tujuan: mempertahankan oksigenisasi yg adekuat

Berikan napas bantuan dalam waktu 1 detik

Napas bantuan sampai dada mengembang

Bantuan napas sesuai dg kompresi dg perbandingan 2x bantuan napas

setelah 30x kompresi

Dg pemasangan ETT bantuan napas menjadi 8x/menit

DEFIBRILASI
Untuk mengubah irama jantung pada kasus henti jantung

Terapi untuk fibrilasi ventrikel

Fibrilasi ventrikel asistol segera

AED / defibrilator

Tidak diindikasikan untuk irama asistol / PEA


Cara pemberian Oksigen

Cara pemberian bantuan napas


Posisi mantap
Jika bayi / anak sudah kembali dalam sirkulasi spontan, maka baringkan ke

dalam posisi mantap

Gendong bayi di lengan penolong sambil menopang perut & dada bayi dg

kepala terletak lebih rendah untuk mencegah tersedak / aspirasi

Usahakan tidak memblok mulut & hidung bayi

Monitor & rekam tanda vital, kadar respons, denyut nadi, pernapasan

sampai pertolongan medis datang


Secondary survey

A: Patenkan & bersihkan jalan nafas

B: Pertahankan nafas adekuat, SaO2 94%

C: TD, N, akral, CRT

D: diferential diagnosis pemeriksaan lab. & rontgen

pindahkan penderita ke ruang ICU!!

Ringkasan umum Bantuan Hidup Dasar


Komponen Dewasa Anak Bayi

Pengenalan awal Tidak sadarkan diri

Tidak ada nafas / Tidak bernafas / gasping

bernafas tidak

normal

Tidak teraba nadi dalam 10 detik (hanya dilakukan oleh

tenaga kesehatan)

Urutan BHD CAB CAB CAB

Frekuensi Minimal 100 x/menit

kompresi

Kedalaman Min 5 cm (2 inchi) Min 1/3 diameter Min 1/3 diameter

kompresi AP dada (+ 5 cm) AP dada (+ 4 cm)

Recoil dinding Recoil sempurna dinding dada setelah setiap kompresi

dada

Interupsi Interupsi minimal, tidak lebih dari 10 detik

kompresi
Jalan nafas Head tilt, chin lift

(untuk kecurigaan trauma leher, lakukan jaw thrust hanya

oleh tenaga kes)

Kompresi 30 : 2 (1 atau 2 30 : 2 (1 penolong) 30 : 2 (1 penolong)

penolong) 15 : 2 (2 penolong) 15 : 2 (2 penolong)

Ventilasi Jika penolong tidak terlatih, kompresi saja.

Pada penolong terlatih tanpa alat bantu jalan nafas lanjutan

berikan 2x nafas buatan setelah 30 kompresi. Bila terpasang

alat bantu napas lanjutan berikan napas setiap 6 detik

Defibrilasi Pasang & tempel AED sesegera mungkin. Minimalisir interupsi

kompresi.

Sumbatan jalan nafas karena benda asing

Penderita sadar
1. Back blows

Posisi kepla mengarah ke bawah

Penolong berlutut / duduk, dapat menopang bayi & lebih aman

Bayi: topang kepala dg ibu jari di 1 sisi rahang & rahang lain menggunakan 1

atau 2 jari dari tangan yg sama.

Untuk anak 1 tahun: kepala tidak perlu ditopang.

Lakukan 5 hentakan secara kuat dg telapak tangan di tengah punggung.

Tujuan tindakan adalah untuk mengupayakan sumbatan terlepas setelah 1

hentakan

Bila gagal, lakukan chest trust pada bayi & abdominal thrust pada anak 1

tahun
2. Chest trust

Posisikan bayi dg kepala di bawah & posisi terlentang. Lebih aman bila

penderita diletakkan di lengan yg bebas di punggung bayi & menopang

ubun2 dg tangan

Topang bayi pada lengan dg menggunakan bantuan paha penolong

Lakukan chest trust pada bagian bawah sternum (sekitar 1 jari ddi atas

xypoid)

Lakukan secara menghentak sebanyak 5 kali. Bila gagal, tindakan diulang

kembali dari awal

3. Abdominal thrust

Untuk anak 1 tahun. Berdiri / berlutut di belakang penderita. Letakkan

lengan penolong di bawah tangan penderita & mengelilingi pinggangnya


Kepalkan tangan penolong & letakkan antara umbilicus & xyphoid

Raih kepalan tsb dg tangan lain & hentakkan ke arah atas belakang

Lakukan sampai 5 kali, bila benda asing tidak berhasil maka tindakan

diulang lagi

Karena resiko trauma, setelah dilakukan abdominal thrust, harus diperiksa

ke dokter
Penderita tidak sadaar

Penanganan sama seperti pada BHD. Periksa posisi benda asing setiap kali mulut

pasien terbuka. Bila memungkinkan, keluarkan..

Penyelamatan korban tenggelam

Segera selamtkan dg menggunakan kapal, perahu, dll

Perlakukan sebagai trauma / cedera tulang belakang & imobilisasi thorax.

Perhatikan keselamatan penolong!

Trauma syaraf tulang belakang biasanya pada penyelam air dangkal. Dapat

menyebabkan fraktur tulang leher & paralisis

Posisikan leher secara netral (tanpa flexi / extensi)

Posisi badan supinasi (untuk memudahkan peminndahan / transport)

Segera bantuan nafas dg posisi kepala jaw thrust


Nafas buatan dari mulut mulut, mulut hidung. Dengan alat / barier yg

memperhatikan perlindungan pada penolong

Cara pemberian nafas buatan sam dengan konsep BHD

Tidak perlu dilakukan heimlich manuver (kecuali curiga ada sumbatan

benda asing)

Konsep kritis tata laksana BHD penderita tenggelam

1. Jika memungkinkan, gunakan perahu / alat mengapung untuk

menyelamatkan dari air. Segera berikan bantuan nafas secepatnya

2. Perlakukan kepala pada posisi netral, cegah leher bergerak, pindahkan

korban dg menggunakan papan jika memungkinkan. Jangan lakukan

kompresi di dalam air

3. Rujuk semua korban tenggelam ke RS untuk mendapatkan pertolongan

segera