Você está na página 1de 13

Tugas Mata Kuliah :

Agama

Topik :
Thoriqoh

Jurusan D3 Logistik Bisnis

DI SUSUN OLEH:

Tri Wira Saputra (5153119)

POLITEKNIK POS INDONESIA

Bandung,21 Juli 2017


KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Mata kuliah Agama

. Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka
kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah
ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk masyarakat dan
dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.

Bandung, 21 juli 2017


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................................................. 2
DAFTAR ISI................................................................................................................................................. 3
BAB I ............................................................................................................................................................ 4
1.1 LATAR BELAKANG .................................................................................................................. 4
a. RUMUSAN MASALAH ................................................................................................................. 4
1. Apa Definisi Tarekat ? ...................................................................................................................... 5
2. Apa saja aliran-aliran Tarekat dalam Islam ? .................................................................................... 5
1.2 Tujuan Penulisan ........................................................................................................................... 5
BAB II........................................................................................................................................................... 5
PEMBAHASAN ....................................................................................................................................... 5
A.Definisi Tarekat....................................................................................................................................5
B. Awal timbulnya tarekat.......................................................................................................................6
C. Korelasi Tarekat dengan tasawuf........................................................................................................7
D. Aliran aliran tarekat dalam islam........................................................................................................7

BAB III ....................................................................................................................................................... 11


PENUTUP .............................................................................................................................................. 11
KESIMPULAN...........................................................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 12
http://ahidjamaludin.blogspot.co.id https://tasawuf01.wordpress.com
https://id.wikipedia.org/wiki/Tarekat dzat-alif-satunggal.blogspot.co.id ................................................... 12
................................................................................................................................................................. 13
BAB I
1.1 LATAR BELAKANG

Sufisme dan Tarekat merupakan wacana dan praktik keagamaan yang cukup popular di
Indonesia. Bahkan akhir-akhir ini kecenderungan sufistik telah menjangkau kehidupan
masyarakat kelas menengah sampai masyarakat kelas atas(elite) dengan angka pertumbuhan
yang cukup signifikanterutama di daerah perkotaan. Tampaknya gejala gaya hidup ala sufistik
mulai digandrungi sebagian orang yang selama ini dianggap bertentangan dengan kondisi dan
gaya hidup mereka (perkotaan). Gejala ini bisa jadi sebagai bentuk pemenuhan unsure spiritual
yang belum juga terpenuhi oleh ibadah rutin.

Menguatnya gejala sufistik yang terjadi pada semua lapisan masyarakat, mengindikasikan bahwa
nilai-nilai yang terkandung dalam sufisme dan tarekat secara psikologis mampu membawa anak
bangsa ini menuju masyarakat yang lebih bermartabat dan manusiawi, sehinga tarekat
diharapkan dapat mengatasi sebagian persoalan hidup terutama dalam bidang moralitas.

Tarekat sebagai bentuk proses penguatan nilai spiritual bagi para penganutnya yang dalam hal ini
disebut Murid , dengan masuknya seorang murid pada tarekat beserta bimbingan spiritual yang
diberikan oleh mursyid kepada murid, maka disitulah letak proses pembinaan spiritual bagi
murid, sehingga murid selalu terbimbing yang pada akhirnya akan muncul sebuah dampak yang
positif akan berubahnya nilai-nilai spiritualitas pada diri seorang murid.

Al-Quran sendiri sangat menekankan nilai-nilai moralitas yang baik (al-Akhlak al-
Karimah), proses pembenahan jiwa yang dalam hal ini melalui dzikir, yang mana dzikir adalah
bagian perintah dalam al-Quran yang dalam penyebutannya tidak sedikit atau berulang-ulang,
bahkan dalam al-Quran sendiri menyebutkan bahwa dzikir adalah sebuah cara untuk
memperoleh ketenangan jiwa, dari ketenangan jiwa inilah yang menjadi tujuan inti orang
bertarekat.

a. RUMUSAN MASALAH

Dari penulisan latar belakang diatas, maka akan dirumuskan permasalahan


sebagai berikut:
1. Apa Definisi Tarekat ?
2. Apa saja aliran-aliran Tarekat dalam Islam ?

1.2 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui Definis Tarekat

2. Untuk mengetahui Aliran Aliran tarekat Dalam islam

BAB II
PEMBAHASAN

A. DefinisiTarekat

Ada beberapa definisi terkait masalah tarekat, yang pertama dalam tinjauan etimologi bahwa
tarekat yang berasal dari bahasa arab yaitu al-Tharq,jamaknya al-Thuruq merupakan
isim Musytaraq, yang secara etimologi berarti jalan, tempat lalu atau metode.

Sedangkan menurut terminology ada beberapa ahli yang mendefinisikan tentang tarekat,
diantaranya menurut Abu Bakar Aceh, tarekat adalah petunjuk dalam melaksanakan suatu
ibadah sesuai dengan ajaran yang ditentukan dan diajarkan oleh rasul, dikerjakan oleh sahabat
dan tabiin, turun temurun sampai pada guru-guru, sambung-menyambung dan rantai-berantai.

Atau suatu cara mengajar dan mendidik, yang akhirnya meluas menjadi kumpulan kekeluargaan
yang mengikat penganut-penganut sufi, untuk memudahkan menerima ajaran dan latihan-
latihan dari para pemimpin dalam suatu ikatan.
Harun Nasution mendefinisikan tarekat sebagai jalan yang harus ditempuh oleh seorang sufi,
dengan tujuan untuk berada sedekat mungkin dengan Allah.

Syekh Muhammad Amin Kurdy mendefinisakan tarekat sebagai pengamalan syariat dan
(dengan tekun) melaksanakan ibadah dan menjauhkan diri dari sikap mempermudah pada apa
yang memang tidak boleh dipermudah.
Zamakhsyari dhofier memberikan definisi terhadap tarekat sebagai suatu istilah generic,
perkataan tarekat berarti jalan atau lebih lengkap lagi jalan menuju surga dimana waktu
melakukan amalan-amalan tarekat tersebut si pelaku berusaha mengangkat dirinya melampaui
batas-batas kediriannya sebagai manusia dan mendekatkan dirinya ke sisi Allah.

Dari beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tarekat adalah melakukan pengamalan
yang berdasarkan syariat yang disertai dengan ketekunan dalam beribadah sehingga sampai pada
kedekatan diri dengan Allah. Hal inilah yang menjadi tujuan utama dalam ber-tarekat yakni kedekatan
diri kepada Allah (Taqarrub ila al Allah). Jadi, amalan tarekat merupakan sebuah amalan ibadah sesuai
dengan ajaran yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan dikerjakan oleh para sahabat, tabiin, dan tabi
tabiin secara turun temurun hingga kepada para ulama yang menyambung hingga pada masa kini.

B. Awal timbulnya Tarekat

Pada mulanya tarekat dilalui oleh seorang sufi secara individual, namun seiring dengan
perjalanannya, tarekan diajarkan baik secara individual maupun secara kolektif.
Pengajaran tarekat pada orang lain ini sudah dimulai sejak al-Hallaj (858-922 M) dan
dilakukan pula oleh sufi-sufi besar lainnya. Dengan demikian, timbullah dalam sejarah
islam kumpulan sufi yang mempunyai syaikh yang menganut tarekat tertentu sebagai
amalannya dan mempunyai pengikut.

System hubungan antara mursyid dan murid menjadi fondasi bagi pertumbuhan tarekat
sebagai sebuah organisasi dan jaringan. Fungsi mursyid yang sedemikian sentral sebagai
pembimbing rohani dalam rangka menjalani maqamat, menjadikan murid secara alami
menerima otoritas dan bimbingannya. Penerimaan ini tampaknya didasarkan atas
keyakinan bahwa setiap manusia mempunyai kemungkinan yang inheren dalam dirinya
berupa kemampuan untuk mewujudkan proses dalam pengalaman bersatu dengan
tuhan. Akan tetapi, potensi ini terpendam dan dapat terwujud hanya dengan iluminasi
tertentu yang
dianugerahkan oleh tuhan tanpa bimbingan dari seorang mursyid.

Amalan tarekat merupakan aspek yang inheren dalam tradisi sufi tanpa harus
dihubungkan dengan tradisi tarekat tertentu. Sesungguhnya, sebelum timbulnya
organisasi-organisasi tarekat (jauh sebelum abad ke-15), dalam masyarakat islam telah
berkembang amalan-amalan tarekat yang semata-mata merupakan aliran-aliran doktrin
tasawuf. Organisai-organisasi tarekat pada taraf awal pertumbuhannya merupakan
kelanjutan paham-paham tasawuf yang berkembang mulai abad ke-9, dan oleh karena itu
istilah tarekat tetap dipakai sesuai dengan arti aslinya, yaitu suatu cara atau jalan yang
ideal menuju ke sisi Allah dengan menekankan pentingnya aspek-aspek doktrin
disamping pelaksanaan praktik-praktik ritual yang tidak menyeleweng dari contoh-contoh
yang diberikan oleh nabi dan para sahabat.

C. Korelasi Tarekat Dengan Tasawuf

Sebelum kematangan sebagai lembaga, mistisisme Islam tidak lebih merupakan gerakan
individual dari elite-elite kerohanian. Memang harus diakui, sudah terdapat perbedaan
kecenderungan, jalan maupun pikiran yang dipakai oleh para tokoh sufi pada saat itu.
Annemarie Schimmel menyebutnya sebagai dua tipe ajaran mistik, yaitu mysticism of
infinity dan mysticism of personality. Mysticism of infinity adalah faham mistik yang
memandang tuhan sebagai realitas yang absolute dan tak terhingga. Tuhan diibaratkan
sebagai lautan yang tidak terbatas dan tidak terikat oleh zaman. Paham ini melihat
manusia sebagai percikan atau ombak lautan yang serba ilahi. Manusia bersumber dari
tuhan dan dapat mencapai penghayatan kesatuan kembali dengan-nya. Tokoh dalam
aliran ini adalah al-Hallaj dan Ibnu Arabi.

Sementara itu, mysticism of personality adalah suatu aliran mistik yang menekankan
aspek personal bagi manusia dan tuhan. Pada aliran kedua ini hubungan manusia dengan
tuhan dilukiskan sebagai hubungan antara makhluk dan khalik. Paham ini
mempertahankan adanya perbedaan yang esensial antara manusia sebagai makhluk dan
tuhan sebagai khalik.

Tasawuf dalam bahasa inggris disebut sebagai Islamic Mysticism (mistik yang tumuh
dalam islam). Adapun tujuan utama dari seseorang yang mengamalkan ajaran tasawuf,
menurut Abdul Hakim Hasan dalam bukunya At-Tashawwuf Fi Syiri Al-Arabi adalah
sampai kepada Dzat Al-Haqq atau mutlak (tuhan) dan bersatu dengannya.

D. Aliran aliran tarekat dalam islam

Tarekat Berkembang Secara Pesat di hampir seluruh dunia, termasuk di Indonesia.


Perkembangan tarekat yang pesat membawa dampak positif bagi perkembangan dakwah,
karena perkembangan tarekat juga merupakan perkembangan dakwah Islam. Diantara
tarekat-tarekat yang berkembang di dunia islam adalah sebagai berikut:

1. Tarekat Qadiriyah

Tarekat Qadiriyah didirikan oleh oleh Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani[20] (470-561
H/1077-1166 M) yang terkenal dengan sebutan syaikh Abdul Qadir Al-Jilani Al-Ghauts
atau Quthb Al-Auliya atau Sulthan Al-Auliya. Ia sangat terkenal di kalangan masyarakat
muslim. Manaqib[21] (biografi)nya sering dibaca oleh para pengikutnya, karena ia
dipercaya sebagai seorang wali yang memiliki derajat yang tinggi. Tarekat Qadiriyah
menempati posisi yang amat penting dalam sejarah spiritualitas di dunia islam, karena
stidak saja sebagai pelopor lahirnya organisasi tarekat, tetai juga sebagai cikal bakal
munculnya berbagai cabang tarekat di dunia Islam.

Adapun ide mistik dan religius Syekh Abdul Qadir Al-Jilani termuat dalam karya-
karya berikut:
a. Ghunyah Li Thalib Thariq Al-Haq yang dikenal dengan Ghunyah Ath-Thalibin. Itu
merupakan karya komprehensif mengenai kewajiban yang diperintahkan dan jalan
hidup yang islami.

b. Al-Fath Al-Rabbani adalah salinan dari 62 khutbahnya pada 545-546 H. (1150-


1152 M)

c. Futuh Al-Ghaib merupakan rekaman dari 78 khutbahnya yang dikumpulkan oleh


putranya, Abdur Razaq.[23]

2. Tarekat Syadziliyah

Tarekat Syadziliyah tak dapat dilepaskan dari pendirinya yakni, Abu Al-Hasan Al-
Syadzili. Secara lengkap nama pendirinya adalah ali bin Abdullah bin Abd. Jabbar Abu
Al-Hasan Al-Syadzili silsilah keturunannya memiliki hubungan dengan orang-orang garis
keturunan Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib. Ia lahir di desa ghumara dekat ceuta saat ini di
utara Maroko pada tahun 573 H. pada saat Dinasti Muwahhidun mencapai titik nadinya.

Pendidikannya dimulai dari orang tuanya, dan kemudian dilanjutkan ke pendidikan lebih
lanjut, dimana diantara guru kerohaniannya adalah ulama besar Abd. Salam Ibn Masyisy
(w. 628 H/1228 M) yang juga dikenal sebagai Quthb dari Quthb Para Wali seperti halnya
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani.

Ada beberapa kitab Tasawuf yang dikaji oleh Al-Syadzili yang kemudian di ajarkan
kepada para murid-muridnya, antara lain adalah: Ihya Ulum Al-Din karya Abu Hamid
Al-Ghazali, Qut Al-Qulub karya Abu Thalib Al-Makki, Khatm Al-Auliya karya Al-
Hakim Al-Tirmidzi, Al-Mawaqif Wa Al-Mukhatabah karya Muhammad Abd. Al-bbar,
Al-Nafri, Al-Syifa karya Qadhi Iyyadh, Al-Risalah karya Al-Qusyairi dan Al-Muharrar
Al-Wajiz karya Ibn Athiyyah.

3. Tarekat Naqsyabandiyah
Tarekat Naqsyabandiyah didirikan oleh ulama tasawuf terkenal yaitu: Muhammad bin
Muhammad Baha Al-Din Al-Uwaisi Al-Bukhori Naqsyabandi (717-791 H/1318-1389
M) dilahirkan di sebuah desa Qashrul Arifah, dekat dari bukhara tempat kelahiran Imam
Al-Bukhari.
Tarekat ini mempunyai cirri yang menonjol. Pertama, dalam hal agama, memberlakukan
syariat secara ketat, menekankan keseriusan dalam beribadah sehingga menolak music
dan tari, serta lebih menyukai berdzikir dalam hati. Kedua, dalam hal politik, adanya
upaya serius dalam memengaruhi kehidupan penguasa dan mendekatkan Negara pada
agama. Berbeda dengan tarekat lainnya, tarekat ini tidak menganut kebijaksanaan isolasi
diri dalam melancarkan konfrontasi dengan berbagai kekuatan politik. Selain itu, tarekat
ini pun tarekat ini membebankan tanggung jawab yang sama kepada para penguasa dan
menganggap bahwa upaya memperbaiki penguasa adalah sebagai prasyarat untuk
memperbaiki masyarakat.

3. Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah

Tarekat Qadiriyyah terbangun dari dua tarekat yaitu tarekat Qadiriyyah dan tarekat
Naqsyabandiyah (TQN). Tarekat ini didirikan oleh oleh Ulama asal Indonesia yaitu
Syekh Ahmad Khatib Sambas (1802-1872) yang dikenal sebagai penulis Kitab Fath Al-
Arifin. Sambas adalah sebuah nama kota di sebelah kota Pontianak, Kalimantan barat.
Syekh Naquib Al-Attas mengatakan bahwa TQN tampil sebagai sebuah tarekat
gabungan, karena Syaikh Sambas adalah seorang Syaikh dari kedua tarekat dan
mengajarkannya dalam satu versi yaitu mengajarkan dua jenis dzikir sekaligus yaitu
dzikir yang dibaca dengan keras (jahr) dalam tarekat Qadiriyyah dan dzikir yang
dilakukan dalam hati (khafi) dalam tarekat Naqsyabandiyyah.

Sesudah belajar pendidikan agama dasar di kampungnya, syaikh sambas berangkat ke


makkah pada usia Sembilan belas tahun untuk meneruskan studinya dan menetap disana
hingga wafatnya pada tahun 1289 H/1872 M. di makkah beliau belajar ilmu-ilmu islam
termasuk tasawuf, dan mencapai posisi yang sangat dihargai diantara teman-teman
sejawatnya, dan kemudian menjadi seorang tokoh yang berpengaruh di seluruh Indonesia.
Diantara guru-gurunya adalah Syaikh bin Daud bin Abdullah bin Idris Al-Fatani
(Thailand selatan) wafat tahun 1843, Seorang Alim besar yang juga tinggal di Makkah
yaitu Syekh Syamsuddin, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Banjarmasin,
Kalimantan Selatan), bahkan menurut salah satu sumber termasuk Syekh Abdul Samad
Al-Palembani (w. 1800). Dari semua murid-murid Syekh Syamsuddin, Ahmad Khatib
Sambas mencapai tingkat yang tertinggi dan kemudian ditunjuk sebagai Syaikh Mursyid
Kamil Mukammil.
4.
Tarekat Sammaniyah
Tarekat Sammaniyah didirikan oleh Muhammad bin Abd Al-Karim Al-Madani Al-
Syafii Al-Samman (1130-1189 H/1718-1775 M). ia lahir di madinah dari keluarga
Quraisy, dikalangan murid dan pengikutnya ia lebih dikenal dengan nama Al-Sammani
atau Muhammad Samman. Sambil mengajar di Sanjariyah, tampaknya Syaikh Samman
banyak menghabiskan hidupnya di Madinah dan tinggal di rumah bersejarah milik Abu
Bakar As-Shidiq.
Syaikh Samman sebenarnya tidak hanya menguasai bidang tarekat saja tetapi bidang-
bidang ilmu islam lainnya. Ia belajar hokum islam ke lima ulama fikih terkenal:
Muhammad Al-Daqqaq, Sayyid Ali-Al-Atthar, Ali Al-Kurdi, Abd Al-Wahhab At-
Thanthawi (di makkah) dan Said Hilal Al-Makki. Ia juga pernah berguru ke Muhammad
Hayyat, seorang Muahaddits dengan reputasi lumayan di Haramayn dan diinisiasi sebagai
penganut tarekat Naqsyabandiyah. Selain Samman, yang berguru ke Muhammad hayyat
adalah Muhammad bin Abd Al-Wahhab, seorang penentang bidah dan praktik-praktik
syirik serta pendiri Wahhabiyyah.
Syaikh Samman merupakan tokoh sufi yang menganut faham Wahdat Al-Wujud. Di
nusantara aliran wahdat al-wujud juga sudah di anut oleh kalangan sufi. Tarekat yang
lebih berperan di aceh pada akhir abad ke-16 misalnya, adalah Wahdat Al-Wujud atau
yang disebut dengan Wujudiyat.
Di Palembang, tarekat sammaniyah juga mendapat tempat tersendiri. Ada tiga orang
Indonesia asal Palembang pernah belajar tarekat Sammaniyah yang sebagiannya
langsung menjadi murid Syaikh Samman. Ketiganya adalah Syaikh Abd Al-Shamad,
Tuan Haji Ahmad, Dan Muhyiddin bin Syihabuddin. Dari ketiganya itu yang paling
berpengaruh adalah Syaikh Abd Al-Shamad Al-Palimbani.

5. Tarekat Tijaniyyah

Tarekat Tijaniyyah didirikan oleh Syaikh Ahmad Bin Muhammad Al-Tijani (1150-1230
H/1737-1815 M) yang lahir di Ain Madi, Al-Jazair selatan, dan meninggal di fez,
maroko, dalam usia 80 tahun. Syaikh Tijani di yakini oleh kaum Tijaniyyah sebagai wali
agung yang memiliki derajat tertinggi, dan memilki banyak keramat.

Tarekat Tijaniyyah masuk ke Indonesia tidak diketahui secara pasti, tetapi ada dua
fenomena yang menunjukkan gerakan awal tarekat Tijaniyyah, yaitu kehadiran Syaikh
Ali Bin Abdullah Al-Thayyib, dan adanya pengajaran tarekat Tijaniyyah di Buntet,
Cirebon. Kehadiran Syaikh Ali Bin Abdullah Al-Thayyib tidak diketahui secara pastin
tahunnya; G.F Pijper menyebutkan bahwa Syaikh Ali Bin Abdullah Al-Thayyib dating
pertama kali ke Indonesia, saat menyebarkan tarekat tijaniyyah ini, di Tasikmalaya.
Pijper juga mengatakan bahwa Syaikh Ali Bin Abdullah Al-Thayyib sebelum ke
Tasikmalaya terlebih dahulu mendatangi ke pulau Jawa.
Perkembangan tarekat tijaniyyah di Jawa Barat, awal mulanya di Cirebon yang berpusat
di pondok pesantren Buntet di desa Mertapada Kulon. Pesantren ini di pimpin lima
bersaudara, diantaranya adalah KH. Abbas sebagai saudara tertua yang menjabat sebagai
ketua yayasan dan sesepuh pesantren, dan KH. Annas yang merupakan adik kandungnya.
Dalam mengajarkan tarekat tijaniyyah kepada murid-muridnya dan menjaga
kesinambungannya, para Mursyid tarekat ini menggunakan system pengkaderan melalui
kyai-kyai di pesantren Buntet.

Di samping tarekat-tarekat yang disebut di atas, masih banyak tarekat-tarekat lain yang
brekembang di dunia islam.

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Dari beberapa uraian makalh tersebut diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Definisi tentang tarekat, banyak para ahli mendefinisikan tarekat, diataranya adalah syaikh
amin al-kurdi, harun nasution hingga zamakhsyarie dhofier, masing-masing mempunyai definisi
yang berbeda namun jika ditarik inti dari tarekat maka ada kesamaan dari beberapa definisi-
definisi tersebut, yaitu: Melakukan pengamalan yang berdasarkan syariat yang disertai dengan
ketekunan dalam beribadah sehingga sampai pada kedekatan diri dengan Allah. Hal inilah yang
menjadi tujuan utama dalam ber-tarekat yakni kedekatan diri kepada Allah (Taqarrub ila al
Allah). Jadi, amalan tarekat merupakan sebuah amalan ibadah sesuai dengan ajaran yang
dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan dikerjakan oleh para sahabat, tabiin, dan tabi tabiin
secara turun temurun hingga kepada para ulama yang menyambung hingga pada masa kini.

2. Tarekat yang berkembang hingga sekarang cukup banyak, sebagaimana yang disebutkan
diatas, yaitu: tarekat Qadiriyah, tarekat Naqsabandiyah, tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah
(TQN), tarekat Syadziliyah, tarekat Sammaniyah, tarekat Tijaniyah, dan masih banyak tarekat-
tarekat lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

http://ahidjamaludin.blogspot.co.id
https://tasawuf01.wordpress.com
https://id.wikipedia.org/wiki/Tarekat
dzat-alif-satunggal.blogspot.co.id