Você está na página 1de 44

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN HIV/AIDS
1. Pengertian HIV
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang
melemahkan sistem kekebalan tubuh atau perlindungan tubuh manusia.
Virus inilah yang menyebabkan AIDS (Acquired Immune Deficiency
Syndrome) (Brooks : 2004).
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang
menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan AIDS.
HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas
menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut terutama limfosit yang memiliki
CD4 sebagai sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel
limfosit. Karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan
berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan
dalam mengatasi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan
sistem kekebalan yang baik, nilai CD 4 berkisar antara 1400-1500.
Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada
orang yang terinfeksi HIV) nilai CD 4 semakin lama akan semakin menurun
(bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol.
Gejala-gejala yang timbul tergantung dari infeksi oportunistik yang
menyertainya. Infeksi oportunistik terjadi oleh karena menurunnya daya
tahan tubuh (kekebalan) yang disebabkan rusaknya sistem imun tubuh akibat
infeksi HIV tersebut. Virus ini dapat menginfeksi sel mamalia, termasuk
manusia dan menimbulkan kelainan patologi.
2. Pengertian AIDS
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome
yang merupakan dampak atau efek dari perkembang biakan virus HIV
dalam tubuh makhluk hidup. Sindrom AIDS timbul akibat melemah atau
menghilangnya sistem kekebalan tubuh karena sel CD 4 pada sel darah putih
yang banyak dirusak oleh Virus HIV. (Depkes RI : 2008)

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 1


AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome,
yang berarti kumpulan gejala atau sindroma akibat menurunnya kekebalan
tubuh yang disebabkan infeksi virus HIV. Tubuh manusia mempunyai
kekebalan untuk melindungi diri dari serangan luar seperti kuman, virus, dan
penyakit. AIDS melemahkan atau merusak sistem pertahanan tubuh ini,
sehingga akhirnya berdatanganlah berbagai jenis penyakit lain (Yatim :
2006).
AIDS dapat diartikan sebagai kumpulan gejala atau penyakit yang
disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV
yang termasuk family retroviradae. AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi
HIV (Djoerban & Djauzi : 2006)
AIDS adalah suatu penyakit retrovirus oportunitik, neoplasma sekunder
dan kelainan neurologik. AIDS adalah merupakan stadium akhir dari suatu
kelainan imunologik dan klinis kontinumyang dikenal sebagai spektrum
infeksi HIV (Sylvia & Wilson : 2005)
Pada 18 Desember 1992, CDC (Centers for Disease Control and
Prevention) telah menerbitkan suatu sistem klasifikasi untuk infeksi HIV
dan mengembangkan definisi AIDS di kalangan remaja dan dewasa di
Amerika Syarikat. Mengikut standar klinis untuk pemantauan secara
immunologis pada pasien yang terinfeksi dengan HIV, sistem klasifikasi
tersebut meliputi pengukuran limfosit T CD 4+ dalam kategorisasi kondisi
klinis yang berhubungan dengan HIV dan ini telah menggantikan sistem
klasifikasi HIV yang diterbitkan pada tahun 1986. Semua pengidap AIDS
mempunyai limfosit T CD4+/uL kurang dari 200 atau kurang 14 persen
limfosit T CD4+ dari jumlah limfosit, atau yang didiagnosa dengan
tuberkulosis pulmoner, kanker servikal invasif, atau pneumonia rekuren.
Objektif dari pengembangan definisi AIDS ini adalah untuk menunjukkan
jumlah morbiditi pengidap AIDS dan pasien yang imunosupresi, dan juga
untuk memudahkan proses pelaporan kasus. Bermula dari tahun 1993,
definisi AIDS ini telah digunakan oleh semua negara untuk pelaporan kasus
AIDS.

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 2


B. TANDA DAN GEJALA HIV/AIDS
HIV menular melalui: Darah, cairan semen, cairan vagina, air susu ibu,
air liur/saliva, feses, air mata, air keringat, urine. Penularan dapat terjadi
melalui : hubungan seksual (tanpa kondom) dengan orang yang telah
terinfeksi HIV, jarum suntik/tindik/tato yang tidak steril dan dipakai secara
bergantian, transfusi darah yang mengandung virus HIV, ibu penderita HIV
positif saat melahirkan atau melalui air susu ibu (ASI).
1. Tanda-Tanda Klinis
Tanda-tanda klinis berupa: Berat badan menurun lebih dari 10%
dalam 1 bulan, diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan, demam
berkepanjangan lebih dari 1 bulan, penurunan kesadaran dan gangguan-
gangguan neurologis, dimensia HIV ensefalopati. Sedangkan gejala
minor yaitu: Batuk menetap lebih dari 1 bulan, dermatitis generalisata
yang gatal, adanya Herpes zoster multisegmental dan berulang, infeksi
jamur berulang pada alat kelamin wanita.
Menurut KPA (2007) gejala klinis terdiri dari 2 gejala yaitu gejala
mayor (umum terjadi) dan gejala minor (tidak umum terjadi):
Gejala mayor:
a. Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
b. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
c. Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
d. Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis
e. Demensia/ HIV ensefalopati
Gejala minor:
a. Batuk menetap lebih dari 1 bulan
b. Dermatitis generalisata
c. Adanya herpes zoster multisegmental dan herpes zoster berulang
d. Kandidias orofaringeal
e. Herpes simpleks kronis progresif
f. Limfadenopati generalisata
g. Retinitis virus Sitomegalo

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 3


Menurut Mayo Foundation for Medical Education and Research
(MFMER) (2008), gejala klinis dari HIV/AIDS dibagi atas beberapa fase.
a. Fase awal
Pada awal infeksi, mungkin tidak akan ditemukan gejala dan
tanda-tanda infeksi. Tapi kadang-kadang ditemukan gejala mirip flu
seperti demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, ruam dan
pembengkakan kelenjar getah bening. Walaupun tidak mempunyai
gejala infeksi, penderita HIV/AIDS dapat menularkan virus kepada
orang lain.
b. Fase lanjut
Penderita akan tetap bebas dari gejala infeksi selama 8 atau 9
tahun atau lebih. Tetapi seiring dengan perkembangan virus dan
penghancuran sel imun tubuh, penderita HIV/AIDS akan mulai
memperlihatkan gejala yang kronis seperti pembesaran kelenjar
getah bening (sering merupakan gejala yang khas), diare, berat badan
menurun, demam, batuk dan pernafasan pendek.
c. Fase akhir
Selama fase akhir dari HIV, yang terjadi sekitar 10 tahun atau
lebih setelah terinfeksi, gejala yang lebih berat mulai timbul dan
infeksi tersebut akan berakhir pada penyakit yang disebut AIDS.
Beberapa penderita menampakkan gejala yang menyerupai
mononucleosis infeksiosa dalam waktu beberapa minggu setelah
terinfeksi. Gejalanya berupa demam, ruam-ruam, pembengkakan
kelenjar getah bening dan rasa tidak enak badan yang berlangsung
selama 3-14 hari. Sebagian besar gejala akan menghilang, meskipun
kelenjar getah bening tetap membesar.
Selama beberapa tahun, gejala lainnya tidak muncul. Tetapi
sejumlah besar virus segera akan ditemukan di dalam darah dan
cairan tubuh lainnya, sehingga penderita bisa menularkan
penyakitnya. Dalam waktu beberapa bulan setelah terinfeksi,
penderita bisa mengalami gejala-gejala yang ringan secara berulang

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 4


yang belum benar-benar menunjukkan suatu AIDS (Gunawan :
1992).
Secara definisi, AIDS dimulai dengan rendahnya jumlah limfosit
CD4+ (kurang dari 200 sel/mL darah) atau terjadinya infeksi oportunistik
(infeksi oleh organisme yang pada orang dengan sistem kekebalan yang
baik tidak menimbulkan penyakit). Juga bisa terjadi kanker, seperti
sarkoma Kaposi dan limfoma non-Hodgkin.
Gejala-gejala dari AIDS berasal dari infeksi HIVnya sendiri serta
infeksi oportunistik dan kanker. Tetapi hanya sedikit penderita AIDS
yang meninggal karena efek langsung dari infeksi HIV. Biasanya
kematian terjadi karena efek kumulatif dari berbagai infeksi oportunistik
atau tumor. Organisme dan penyakit yang dalam keadaan normal hanya
menimbulkan pengaruh yang kecil terhadap orang yang sehat, pada
penderita AIDS bisa dengan segera menyebabkan kematian, terutama jika
jumlah limfosit CD4+ mencapai 50 sel/mL darah (Gunawan : 1992).
Beberapa infeksi oportunistik dan kanker merupakan ciri khas dari
munculnya AIDS:
a. Thrush. Pertumbuhan berlebihan jamur Candida di dalam mulut,
vagina atau kerongkongan, biasanya merupakan infeksi yang
pertama muncul. Infeksi jamur vagina berulang yang sulit diobati
seringkali merupakan gejala dini HIV pada wanita. Tapi infeksi
seperti ini juga bisa terjadi pada wanita sehat akibat berbagai faktor
seperti pil KB, antibiotik dan perubahan hormonal.
b. Pneumonia pneumokistik. Pneumonia karena jamur Pneumocystis
carinii merupakan infeksi oportunistik yang sering berulang pada
penderita AIDS. Infeksi ini seringkali merupakan infeksi
oportunistik serius yang pertama kali muncul dan sebelum
ditemukan cara pengobatan dan pencegahannya, merupakan
penyebab tersering dari kematian pada penderita infeksi HIV.
c. Toksoplasmosis. Infeksi kronis oleh Toxoplasma sering terjadi sejak
masa kanak-kanak, tapi gejala hanya timbul pada sekelompok kecil

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 5


penderita AIDS. Jika terjadi pengaktivan kembali, maka Toxoplasma
bisa menyebabkan infeksi hebat, terutama di otak.
d. Tuberkulosis. Tuberkulosis pada penderita infeksi HIV, lebih sering
terjadi dan bersifat lebih mematikan. Mikobakterium jenis lain yaitu
Mycobacterium avium, merupakan penyebab dari timbulnya demam,
penurunan berat badan dan diare pada penderita tuberkulosa stadium
lanjut. Tuberkulosis bisa diobati dan dicegah dengan obat-obat anti
tuberkulosa yang biasa digunakan.
e. Infeksi saluran pencernaan. Infeksi saluran pencernaan oleh
parasit Cryptosporidium sering ditemukan pada penderita AIDS.
Parasit ini mungkin didapat dari makanan atau air yang tercemar.
Gejalanya berupa diare hebat, nyeri perut dan penurunan berat
badan.
f. Leukoensefalopati multifokal progresif. Leukoensefalopati
multifokal progresif merupakan suatu infeksi virus di otak yang bisa
mempengaruhi fungsi neurologis penderita. Gejala awal biasanya
berupa hilangnya kekuatan lengan atau tungkai dan hilangnya
koordinasi atau keseimbangan. Dalam beberapa hari atau minggu,
penderita tidak mampu berjalan dan berdiri dan biasanya beberapa
bulan kemudian penderita akan meninggal.
g. Infeksi oleh sitomegalovirus. Infeksi ulangan cenderung terjadi pada
stadium lanjut dan seringkali menyerang retina mata, menyebabkan
kebutaan. Pengobatan dengan obat anti-virus bisa mengendalikan
sitomegalovirus.
h. Sarkoma Kaposi. Sarkoma Kaposi adalah suatu tumor yang tidak
nyeri, berwarna merah sampai ungu, berupa bercak-bercak yang
menonjol di kulit. Tumor ini terutama sering ditemukan pada pria
homoseksual.
i. Kanker. Bisa juga terjadi kanker kelenjar getah bening (limfoma)
yang mula-mula muncul di otak atau organ-organ dalam. Wanita

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 6


penderita AIDS cenderung terkena kanker serviks. Pria homoseksual
juga mudah terkena kanker rectum (Gunawan : 1992).
2. Stadium Infeksi Dewasa menurut WHO
a. Stadium I; Tanpa gejala; Pembengkakan kelenjar getah bening di
seluruh tubuh yang menetap (limpadenopati generalisata). Tingkat
aktivitas 1: tanpa gejala, aktivitas normal.
b. Stadium II; Kehilangan berat badan, kurang dari 10%; Gejala pada
mukosa dan kulit yang ringan (dermatitis seboroik, infeksi jamur
pada kuku, perlukaan pada mukosa mulut yang sering kambuh,
radang pada sudut bibir); Herpes zoster terjadi dalam 5 tahun
terakhir; ISPA (infeksi saluran nafas bagian atas) yang berulang,
misalnya sinusitis karena infeksi bakteri. Tingkat aktivitas 2: dengan
gejala, aktivitas normal.
c. Stadium III; Penurunan berat badan lebih dari 10%; Diare kronik
yang tidak diketahui penyebabnya lebih dari 1 bulan; Demam
berkepanjangan yang tidak diketahui penyebabnya lebih dari 1
bulan; Candidiasis pada mulut; Bercak putih pada mulut berambut;
TB paru dalam 1 tahun terakhir; Infeksi bakteri yang berat, misalnya:
pneumonia, bisul pada otot (piomisitis). Tingkat aktivitas 3: terbaring
di tempat tidur, kurang dari 15 hari dalam satu bulan terakhir.
d. Stadium IV
1) Kehilangan berat badan lebih dari 10% ditambah salah satu
dari : diare kronik yang tidak diketahui penyebabnya lebih dari 1
bulan. Kelemahan kronik dan demam berkepanjangan yang
tidak diketahui penyebabnya lebih dari 1 bulan.
2) Pneumocystis carinii pneumonia (PCP).
3) Toksoplasmosis pada otak.
4) Kriptosporidiosis dengan diare lebih dari 1 bulan.
5) Kriptokokosis di luar paru.
6) Sitomegalovirus pada organ selain hati, limpa dan kelenjar getah
bening.

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 7


7) Infeksi virus Herpes simpleks pada kulit atau mukosa lebih dari
1 bulan atau dalam rongga perut tanpa memperhatikan lamanya.
8) PML(progressivemultifocalencephalopathy) atau infeksi virus
dalam otak.
9) Setiap infeksi jamur yang menyeluruh, misalnya :
histoplasmosis,kokidioidomikosis.
10) Candidiasis pada kerongkongan, tenggorokan, saluran paru dan
paru.
11) Mikobakteriosis tidak spesifik yang menyeluruh.
12) Septikemia salmonela bukan tifoid.
13) TB di luar paru.
14) Limfoma.
15) Kaposis sarkoma.
16) Ensefalopati HIV sesuai definisi CDC. Tingkat aktivitas 4:
terbaring di tempat tidur, lebih dari 15 hari dalam 1 bulan
terakhir.
3. Stadium Infeksi Bayi dan Anak-Anak Menurut WHO
a. Stadium klinis pediatrik I yang merupakan stadium asimptomatik
ditandai limfadenopati generalisata.
b. Stadium klinis pediatrik II, ditandai diare kronik, kandidiasis,
penurunan berat badan atau gagal tumbuh, demam persisten > 30
hari tanpa sebab yang jelas, infeksi bakterial berulang.
c. Stadium klinis pediatrik III, ditandai munculnya infeksi oportunistik
terkait AIDS, gagal tumbuh berat tanpa etiologi yang jelas,
ensefalopati progresif, keganasan, dan septikemia/ meningitis
berulang.
Laju perkembangan penyakit klinis sangat bervariasi antar orang dan
telah terbukti dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kerentanan
seseorang terhadap penyakit dan fungsi imun perawatan kesehatan dan
infeksi lain, dan juga faktor yang berhubungan dengan galur virus.
Infeksi oportunistik spesifik yang diderita pasien AIDS juga bergantung

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 8


pada prevalensi terjadinya infeksi tersebut di wilayah geografis tempat
hidup pasien.

C. PENYEBAB AIDS
Etiologi AIDS ialah HIV (Human Immunodeficiency Virus), suatu nama
yang berdasarkan konvensi telah diterima pada tahun 1986. Sebelumnya virus
tersebut dinamai untuk pertama kalinya sebagai Lymphadenopathy-
associated virus (LAV) atau Human T-lymphotropic virus type III (HLTV-III).
Berdasarkan penelitian analitik perbandingan dari LAV dan HTLV-III, telah
terbukti bahwa kedua jenis virus tersebut merupakan anggota dari golongan
yang sama, yaitu HIV-1 dan dengan ini pula etiologi AIDS telah ditetapkan
secara resmi.
Penyebab AIDS secara spesifik adalah HIV yang melekat dan memasuki
limfosit T helper CD4+. Virus tersebut menginfeksi limfosit CD4+ dan sel-sel
imunologis lainnya dan orang itu mengalami destruksi sel CD4+ secara
bertahap. Sel-sel yang mengulang dan memperkuat respon imunologis,
diperlukan untuk mempertahankan kesehatan yang baik, dab bila sel-sel
tersebut berkurang dan rusak, maka fungsi imun akan mulai terganggu.
HIV dapat pula menginfeksi makrofag, sel-sel yang dipakai virus untuk
melewati sawar darah otak masuk kedalam otak. Fungsi limfosit B juga mulai
terpengaruh dengan meningkatnya produksi imunoglobulin total yang
berhubungan dengan penurunan prooduksi antibodi spesifik . dengan
memburuknya sistem imun secara progresif tubuh menjadi semakin rentan
terhadap infeksi oportunistik dan juga berkurang kemampuannya dalam
memperlambat replikasi HIV.
Virus ini akan ditularkan hanya melalui kontak langsung dengan darah
atau produk darah dan cairan tubuh seperti cairan serebrospinalis, cairan
pleura, air susu, semen, saliva, air mata, urine, dan sekresi serviks. (Lynn :
2004)
Sekali virus AIDS menginfeksi seseorang, maka virus tersebut akan
berada dalam tubuh korban untuk seumur hidup. Badan penderita akan

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 9


mengadakan reaksi terhadap invasi virus AIDS dengan jalan membentuk
antibodi spesifik, yaitu antibodi HIV, yang agaknya tidak dapat menetralisasi
virus tersebut dengan cara-cara yang biasa, sehingga penderita tetap akan
menjadi individu yang infektif dan merupakan bahaya yang dapat menularkan
virusnya pada orang lain disekelilingnya. Kebanyakan orang yang terinfeksi
oleh virus AIDS hanya sedikit yang menderita sakit atau sama sekali tidak
sakit, akan tetapi pada beberapa orang perjalanan sakit dapat berlangsung dan
berkembang menjadi AIDS yang full blown.
Hingga sekarang belum diketahui secara pasti mengenai mekanisme
perkembangan penyakit dari seorang yang positif HIV menjadi penderita
AIDS yang full blown. Sampai saat ini ditemuan sangat banyak orang dengan
positif HIV diantara berbagai kelompok resiko tinggi (homoseksual, hemofili,
penyalahgunaan obat intravena) dan hanya waktulah yang dapat
memperlihatkan besarnya proporsi dari orang tersebut antinya berkembang
menjadi penderita AIDS yang sebenarnya. Masa inkubasi dari virus AIDS
berkisar antara 6 minggu sampai 6 tahun atau lebih dengan waktu rata-rata
yang berkisar antara 28 bulan.
Di samping itu ada beberapa kofaktor, diantaranya infeksi laten atau
rekuren oleh virus Epstein-Barr, virus herpes simplex atau cytomegalovirus
yang tidak diperlukan bagi proses transmisi virus AIDS, tetapi infeksi
serentak (concomitant) dengan virus tersebut akan mempengaruhi
perkembangan dan waktu terjadinya AIDS yang mekanismenya berlangsung
dengan berbagai cara, diantaranya aktivasi limfosit T-supressor (Reduksi
TH/TS) yang mengubah respon imun, peranan ekspresi/tansformasi sel dengan
akibat adanya perkembangan neoplasia (sarkoma Kaposi).
HIV termasuk genus Retrovirus dan tergolong ke dalam family
Retroviridae, yang anggota-anggotanya dapat ditemukan pada semua kelas
vertebra termasuk manusia. Virus AIDS yang termasuk golongan virus RNA,
mula-mula dimasukkan dalam subfamilia Oncovirinae, tetapi kemudian
dikoreksi oleh Gonda dan kawan-kawan, menjadi termasuk dalam subfamilia
Lentivirinae. Infeksi dari family Retroviridae ini khas ditandai dengan sifat

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 10


latennya yang lama, masa inkubasi yang lama, replikasi virus yang persisten
dan keterlibatan dari susunan saraf pusat (SSP). Sedangkan ciri khas untuk
jenis retrovirus yaitu : dikelilingi oleh membran lipid, mempunyai
kemampuan variasi genetik yang tinggi, mempunyai cara yang unik untuk
replikasi serta dapat menginfeksi seluruh jenis vertebra.
Tabel. Virus RNA dengan Struktur Tak Simetris atau Tak Diketahui

Simetri kapsid tak simetris/tak diketahui

Virion telanjang/berselubung berselubung

Tempat pembentukan kapsid sitoplasma

Tempat penyelubungan nuklekapsid permukaan membran

Reaksi terhadap eter sensitif

Diameter virion (nm) 100 0-300

Berat molekul asam nukleat dalam virion (106) 6-7 3-5

Nama Genus Tipe A Tipe B Tipe C Tipe D

Nama Subfamili Lentivirinae Spumavirinae Oncovirinae

Nama Famili Retroviridae Arenaviridae

Retroviridae Virus AIDS


LAV
HTLV-III
LAV/HTLV-III
HIV

Kebanyakan
Lentivirus retrovirus
penyebab AIDS yang mengadakan
sama dengan reproduksi
nomenklatur yang tanpa AIDS)
berbeda (penyebab mematikan sel
hospesnya, tetapi ada beberapa jenis retrovirus yang mempunyai kemampuan
sitosidal secara filogenetik.

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 11


Berhubungan dengan perspektif sejarah virus AIDS, para peneliti di
Perancis melaporkan ditemukannya suatu virus dari penderita AIDS yang
disebut lymphadenopathy-associated virus (LAV) atau Immunodeficienc-
associated virus (IDAV). Virus ini ternyata mempunyai sifat-sifat yang
identik dengan HLTV-III, suatu virus yang juga diasingkan dari penderita
AIDS di Amerika Serikat.
Cherman dan Barre (1985) kenudian menyebut virus AIDS dengan
lymphadenopathy-AIDS virus serta menambahkan singkatan LAV/HTLV-III
untuk retrivirus human baru penyebab AIDS. Virus ini pula kemudian oleh
Komisi Taksonomi Internasional diberi nama baru, yaitu human
immunodeficiency virus atau HIV.
1. Sifat-sifat Umum Retrovirus
Retrivirus anggota famili Retroviridae menurut klasifikasi Baltimore
termasuk golongan VI. Retrovirus merupakan virus RNA dengan genom
RNA yang berantai tunggal (single-stranded) dengan berat molekul
sebesar 6-10 x 106 Dalton. Besar partikel virus ialah 100nm dan
mempunyai peplos/selubung dengan nukleokapsid yang berbentuk
ikosahedral (bidang 20) dengan struktur anatomi yang khas.
Gambar 1 Struktur Anatomik Retrovirus

Gambar 2. Struktur Virion Human Immunodefeciency Virus (HIV)

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 12


2. Sifat-Sifat Khusus
a. Morfologi : membentuk tonjolan pada permukaan sel; partikel virus
dewasa (mature) mempunyai inti eksentrik berbentuk batang.
b. Densitas : 1,16-1,17 dalam gradien sukrosa.
c. Struktur Antigenik : ada dua, yaitu HIV-I dan HIV-II yang
mempunyai persamaan dalam tropisma spesifiknya dalam limfosit T4,
tipe efek sitopatik yang spesifik pada biakan sel in vitro, tetapi
berbeda secara biologik molekuler dan tropismanya pada anggota
golongan kera (HIV-I menginfeksi simpanse dan HIV-II golongan
makakus).
d. Asam Nukleat : mempunyai RNA yang terdiri dari dua sub unit
identik (9.200 pasang basa) dengan tiga antigen utama (gag, pol, dan
env) serta beberapa gen tambahan (LTR, tat, rev, vif, vpr, vpu dan
nef).
e. Enzim reverse transcriptase (RT) : bekerja dengan menggunakan
primer RNA-lysin dengan bantuan Mg++. Untuk pemeriksaan RT
dapat digunakan template primer poly A dan oligo dT atau poli C dan
oligo dG.
f. Prekusor gag : p53; prekusor env; gp 160.
g. Glikoprotein selubung terdiri dari : gp 120; gp 41
h. Tropisma : spesifik, selektif tinggi dari HIV terhadap sel limfosit T-
helper (OKT4-reactive); CD4; TH) yang memegang peranan penting pada
sistem kekebalan selular.

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 13


i. Sitopatologi : HIV pada biakan sel limfosit menimbulkan efek
sitopatik yang khas, berupa sel raksasa berinti banyak
(multinucleated giant cell). Pada permukaan sel dari biakan sel
leukemik secara invitro, akan teelihat adanya tonjolan-tonjolan
(budding) dari virion HIV.
Gambar 3. HIV dilihat dengan mikroskop elektron

Berikut ini adalah bukti-bukti yang menyokong peranan HIV pada


perkembangan AIDS :
1. Virus dapat diasingkan dengan mudah dari biakan sel limfosit T yang
berasal dari penderita AIDS, AIDS-related complex (ARC) atau pembawa
virus asimptomatik yang termasuk smeua golongan resiko tinggi. Semua
isolat mempunyai sifat-sifat umum retrovirus yang sama dan hanya
berbeda pada daerah env dari genom, akan tetapi mempunyai p25 yang
sama.
2. Virus mengadakan replikasi eksklusif dalam sub set limfosit T4, yaitu sel-
sel limfosit sama yang hilang atau berkurang pada penderita AIDS.
3. Antibodi spesifik terhadap HIV dapat ditemukan dan dibuktikan dalam
darah orang yang termasuk (semua) golongan resiko tinggi, yang
merupakan suatu indikasi tentang adanya infeksi ileh HIV tersebut.

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 14


Terdapat tanda-tanda lain pada penderita HIV/AIDS, yakni memiliki
respon spesifik yaitu :
1. Respon Biologis
Secara imunologis, sel T yang terdiri atas limfosit T-helper, disebut
limfosit CD4+ akan mengalami perubahan baik secara kualitas maupun
kuantitas. HIV menyerang CD4+ baik secara langsung maupun tidak
langsung. Virus HIV yang telah berhasil masuk ke dalam tubuh pasien,
juga menginfeksi berbagai macam sel, terutama monosit, makrofag, sel-
sel mikroglia di otak, sel-sel hobfour plasenta, sel-sel dendrit pada
kelenjar limfe, sel-sel epitel pada usus, dan sel Langerhans di kulit. Efek
infeksi pada sel mikroglia di otak adalah enselophati dan pada sel epitel
usus adalah diare yang kronis. Gejala klinis yang ditimbulkan akibat
infeksi tersebut biasanya baru disadari pasien setelah beberapa waktu
lamanya tidak mengalami kesembuhan. Pasien yang terinfeksi virus HIV
dapat tidak memperlihatkan tanda dan gejala selama bertahun-tahun.
Sepanjang perjalanan penyakit tersebut sel CD4+ mengalami penurunan
jumlahnya dari 1000/L sebelum terinfeksi menjadi sekitar 200-300/L
setelah terinfeksi selama 2-10 tahun.
2. Respon Adaptif Psikologis-Spiritual
a. Respon Adaptif Psikologis (Penerimaan Diri)
Pengalaman mengalami suatu penyakit akan membangkitkan
berbagai perasaan dan reaksi stress, frustasi, kecemasan, kemarahan,
penyangkalan, rasa malu, berduka dan ketidakpastian dengan
adaptasi penyakit.
b. Respon Psikologis terhadap penyakit
Kubler Ross (1974) menguaraikan lima tahap reaksi emosi
seseorang terhadap penyakit, yaitu :
1) Pengingkaran (denial)
2) Kemarahan (anger)
3) Sikap tawar menawar (bergaining)
4) Depresi

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 15


5) Penerimaan dan partisipasi
c. Respon adaptif spiritual
1) Harapan yang realiatis
2) Tabah dan sabar
3) Pandai mengambil hikmah
d. Respon adaptif sosial
1) Stigma sosial
2) Diskriminasi
3) Terjadi dalam waktu yang lama

D. PENATALAKSANAAN
Banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi virus HIV.
Oleh karena itu, darah donor dan produk darah yang digunakan pada
penelitian medis diperiksa kandungan HIV-nya. Tes HIV umum, termasuk
imuno-assay enzim HIV dan pengujian Western blot mendeteksi antibodi HIV
pada serum, plasma, cairan mulut, darah kering, atau urin pasien. Namun
demikian, window periode (periode antara infeksi dan perkembangan antibodi
yang dapat dideteksi melawan infeksi) dapat bervariasi. Hal ini menjelaskan
mengapa dapat membutuhkan waktu 3-6 bulan untuk serokonversi dan tes
positif. Ada pula tes komersial untuk mendeteksi antigen HIV lainnya, HIV-
RNA, dan HIV-DNA agar dapat mendeteksi infeksi HIV sebelum
perkembangan antibodi yang dapat dideteksi. Metode-metode penetapan
tersebut tidak secara spesifik disetujui untuk diagnosis infeksi HIV, tetapi
telah digunakan secara rutin di negara-negara maju.
Secara umum diagnosis HIV/AIDS terbagi atas dua, yaitu diagnosis dini
infeksi HIV dan diagnosis HIV menjadi AIDS. Keduanya akan dijelaskan
sebagai berikut:

1. Diagnosis Dini Infeksi HIV


Kebanyakan infeksi HIV pada anak akibat penularan HIV dari ibu-
ke-bayi (mother-to-child transmission/MTCT), yang dapat terjadi selama

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 16


kehamilan dan persalinan, atau selama menyusui. Walau sudah banyak
kemajuan dan penerapan intervensi pencegahan penularan HIV dari ibu-
ke-bayi yang efektif di negara berkembang, hampir 2.000 bayi terinfeksi
HIV setiap hari melalui MTCT di negara miskin sumber daya. Pada
2006, ada kurang lebih 2,3 juta anak terinfeksi HIV di seluruh dunia.
Jumlah ini diduga tetap akan meningkat dalam waktu dekat karena
beberapa alasan. Saat ini, kurang dari 10% ibu hamil yang terinfeksi HIV
di negara miskin sumber daya menerima profilaksis antiretroviral (ARV)
untuk pencegahan penularan HIV dari ibu-ke-bayi (prevention of mother-
to-child transmission/PMTCT).
Walaupun layanan profilaksis ARV ditingkatkan secara luar biasa,
infeksi HIV pada anak akan terus meningkat kecuali ada peningkatan
layanan pencegahan infeksi HIV baru pada perempuan secara bersamaan,
perbaikan akses pada keluarga berencana (KB), dan perluasan
ketersediaan pengobatan antiretroviral (ART) untuk ibu yang
membutuhkannya. Serupa dengan orang dewasa, anak yang terinfeksi
HIV menanggapi ART dengan baik. Tetapi, pengobatan semacam ini
paling efektif apabila dimulai sebelum anak jatuh sakit (artinya, sebelum
pengembangan penyakit lanjut). Tanpa ART, pengembangan infeksi HIV
sangat cepat pada bayi dan anak. Di rangkaian miskin sumber daya,
kurang lebih 30% anak terinfeksi HIV yang tidak diobati meninggal
sebelum ulang tahunnya yang pertama dan lebih dari 50% meninggal
sebelum mereka mencapai usia dua tahun. Infeksi HIV pada anak yang
tidak diobati juga mengakibatkan pertumbuhan yang tertunda dan
keterbelakangan mental yang tidak dapat disembuhkan oleh ART. Oleh
karena itu penting untuk mendiagnosis bayi yang terinfeksi HIV sedini
mungkin untuk mencegah kematian, penyakit dan penundaan
pertumbuhan dan pengembangan mental. Karena biayanya yang murah,
kemudahan untuk memakainya, dan kemampuan untuk menyediakan
hasil secara cepat, tes antibodi cepat adalah yang paling umum dipakai
untuk mendiagnosis infeksi HIV di negara miskin sumber daya. Tetapi,

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 17


karena antibodi HIV melewati plasenta selama kehamilan, semua bayi
yang terlahir dari ibu yang terinfeksi HIV akan menerima antibodi dari
ibu saat di rahim dan hasil tes antibodi akan positif saat lahir dan tidak
tergantung pada status infeksi HIV-nya sendiri. Antibodi dari ibu baru
hilang seluruhnya 12-18 bulan setelah kelahiran, oleh karena itu semua
tes antibodi pada bayi terinfeksi HIV yang dilakukan sebelumnya tidak
dapat diandalkan. Kesulitan lain untuk mendiagnosis infeksi HIV
pediatrik pada bayi di negara miskin sumber daya adalah paparan HIV
secara terus-menerus pada bayi yang disusui, sehingga menyulitkan
untuk mengecualikan infeksi HIV sampai penyusuan. Karena komplikasi
ini, kebanyakan tes HIV pada bayi di negara miskin sumber daya
dilakukan dengan memakai tes antibodi cepat pada usia 18 bulan. Tetapi,
pada usia ini, banyak bayi yang terinfeksi sudah meninggal dan lebih
banyak lagi yang mungkin sudah hilang.
Sebuah tes HIV yang murah dan mudah dipakai dan dapat
diandalkan untuk bayi terpajan HIV yang berusia kurang dari 18 bulan
dibutuhkan secara mendesak. Tes semacam ini dapat mencegah jutaan
kematian dini terkait HIV. Tujuan deteksi dini HIV pada dasarnya ada
dua, yakni sebagai intervensi pengobatan fase infeksi asimtomatik dapat
diperpanjang dan untuk menghambat perjalanan penyakit ke arah AIDS.
Dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu:
a. Langsung: biakan virus dari darah, isolasi virus dari sample,
umumnya menggunakan mikroskop elektron dan deteksi gen virus.
Yang paling sering digunakan adalah PCR (Polymerase Chain
Reaction).
b. Tidak Langsung: dengan melihat respons zat anti yang spesifik,
misalnya dengan tes ELISA, Western Blot, Immunofluoren Assay
(IFA), dan Radio Immunoprecipitation Assay (RIPA)
Berikut ini pemeriksaan/tes yang lazim dilakukan:
a. Biakan HIV dari darah

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 18


Di awal epidemi HIV, biakan HIV dalam darah dipakai untuk
mendeteksi infeksi HIV dan untuk mengukur jumlah virus dalam
darah secara langsung. Biakan HIV juga dipakai untuk mendiagnosis
bayi dan sebagai cara untuk menentukan tingkat keparahan infeksi
dan tanggapan selanjutnya terhadap pengobatan pada orang dewasa
dan anak. Walaupun tes ini sensitif dan spesifik, serta dapat dipakai
untuk menghitung viral load pasien, metode ini belum pernah
dipakai secara skala besar untuk mendiagnosis karena teknik tes
yang rumit dan membutuhkan reagen dan peralatan yang mahal,
waktu tes laboratorium yang lama, dan banyak darah. Sebagai
tambahan, membutuhkan hampir tujuh hari untuk mendapatkan hasil
dan karena biakan virus mengandung HIV yang aktif diperlukan
peralatan biohazard khusus.
b. Tes antigen P24
Sebelum pengembangan teknik viral load DNA dan reaksi rantai
polimerase (polymerase chain reaction/PCR) untuk mendiagnosis
infeksi HIV dan menghitung viral load, tes antigen HIV p24 dipakai
untuk menghitung viral load. HIV p24 adalah protein yang
diproduksi oleh replikasi HIV yang terjadi dalam darah ODHA
dengan jumlah yang berbeda-beda. Karena HIV p24 adalah protein
imunogenik, orang yang terinfeksi HIV juga membentuk antibodi
terhadap p24. Oleh karena itu, p24 hadiran dalam darah dalam
bentuk p24 bebas dan p24 terikat antibodi (kompleks kekebalan).
Untuk mengukur jumlah antigen p24, adalah penting
memisahkan antibodi dari antigen. Teknik sudah dikembangkan
untuk melakukan tugas ini, tetapi belum seluruhnya berhasil. Namun
demikian, karena kesederhanaan tes dan biayanya yang relatif
murah, para peneliti berusaha memperbaiki tes tersebut walaupun tes
viral load PCR lebih sensitif dan spesifik.
Sebagian dari penelitian ini berhasil. Teknik laboratorium
dikembangkan untuk memisahkan kompleks kekebalan p24,

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 19


meningkatan kemampuan kuantitatif tes dan keberhasilan diagnostik.
Berbagai penelitian menemukan bahwa tes antigen p24 ultrasensitif
mampu mendeteksi infeksi HIV pada bayi di atas usia enam minggu
secara pasti dengan spesifisitas dan sensitivitas serupa dengan tes
DNA HIV PCR dan viral load HIV. Tes tersebut tepat pada banyak
subtipe HIV dan lebih mudah dilakukan dibandingkan tes virologi
lain. Biayanya serupa dengan biaya tes PCR generasi lanjut.
Keprihatinan tentang sensitivitas tes p24 tetap ada. Dalam penelitian
terkini terhadap tes antigen HIV p24 baru yang ultrasensitif,
ilmuwan membandingkan sensitivitas tes tersebut antara DBS dan
plasma. Mereka menemukan bahwa tes tersebut mempunyai
spesifisitas 100% dan tidak ada perbedaan hasil secara kuantitatif
antara DBS dan plasma. Mereka juga membandingkan hasil tes
antigen p24 dengan viral load HIV dan menemukan korelasi yang
positif, tetapi koefisien korelasi tersebut rendah (r = 0,67).
Sensitivitas tes HIV p24 dibandingkan dengan tes viral load HIV
adalah kurang lebih 90%. Hal ini berarti bahwa tes untuk
menskrining bayi yang terinfeksi HIV akan menghasilkan hampir
10% bayi yang salah didiagnosis sebagai tidak terinfeksi.
Perbandingan metodologi tes baru-baru ini dilakukan oleh
ilmuwan dengan 72 contoh pediatrik dari Tanzania dan 210 contoh
pediatrik atau orang dewasa dari Swiss menemukan sensitivitas yang
bahkan lebih rendah. Tingkat deteksi berbagai tes adalah 84% untuk
tes antigen p24 pada DBS; 79% untuk tes PCR DNA yang dilakukan
pada DBS; 85% untuk tes antigen p24 pada plasma; dan 100% untuk
tes PCR RNA yang dilakukan pada plasma. Walaupun dengan
peningkatan yang bermakna pada kemanjuran, biaya dan spesifisitas
tes antigen p24 HIV, sensitivitas tes ini akan tetap bermasalah.
Penghematan biaya yang ditawarkan mungkin tidak dapat
mengimbangi dampak klinis terhadap persentase kegagalan
diagnosis secara bermakna pada bayi yang terinfeksi HIV.

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 20


c. Pemeriksaan ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay)/EIA
(Enzyme Immunosorbent Assay)
ELISA dari berbagai macam kit yang ada di pasaran mempunyai
cara kerja hampir sama. Pada dasarnya, diambil virus HIV yang
ditumbuhkan pada biakan sel, kemudian dirusak dan dilekatkan pada
biji-biji polistiren atau sumur microplate. Serum atau plasma yang
akan diperiksa, diinkubasikan dengan antigen tersebut selama 30
menit sampai 2 jam kemudian dicuci. Bila terdapat IgG
(immunoglobulin G) yang menempel pada biji-biji atau sumur
microplate tadi maka akan terjadi reaksi pengikatan antigen dan
antibodi. Antibodi anti-IgG tersebut terlebih dulu sudah diberi label
dengan enzim (alkali fosfatase, horseradish peroxidase) sehingga
setelah kelebihan enzim dicuci habis maka enzim yang tinggal akan
bereaksi sesuai dengan kadar IgG yang ada, kemudian akan
berwarna bila ditambah dengan suatu substrat.
Sekarang ada test EIA yang menggunakan ikatan dari heavy dan
light chain dari Human Immunoglobulin sehingga reaksi dengan
antibodi dapat lebih spesifik, yaitu mampu mendeteksi IgM maupun
IgG. Pada setiap tes selalu diikutkan kontrol positif dan negatif untuk
dipakai sebagai pedoman, sehingga kadar di atas cut-off value atau di
atas absorbance level spesimen akan dinyatakan positif. Biasanya
lama pemeriksaan adalah 4 jam. Pemeriksaan ELISA hanya
menunjukkan suatu infeksi HIV di masa lampau. Tes ELISA mulai
menunjukkan hasil positif pada bulan ke 2-3 masa sakit. Selama fase
permulaan penyakit (fase akut) dalam darah penderita dapat
ditemukan virus HIV/partikel HIV dan penurunan jumlah sel T4
(Grafik). Setelah beberapa hari terkena infeksi AIDS, IgM dapat
dideteksi, kemudian setelah 3 bulan IgG mulai ditemukan. Pada fase
berikutnya yaitu pada waktu gejala major AIDS menghilang (karena
sebagian besar HIV telah masuk ke dalam sel tubuh). HIV sudah

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 21


tidak dapat ditemukan lagi dari peredaran darah dan jumlah Sel T4
akan kembali ke normal.
Hasil pemeriksan ELISA harus diinterpretasi dengan hati-hati
karena tergantung dari fase penyakit. Umumnya hasil akan positif
pada fase dimana timbul gejala pertama AIDS (AIDS phase) dan
sebagian kecil akan negatif pada fase dini AIDS (Pre AIDS phase).
Beberapa hal tentang kebaikan test ELISA adalah nilai sensitivitas
yang tinggi : 98,1% - 100%, Western Blot memberi nilai spesifik
99,6% - 100%. Walaupun begitu, predictive value hasil test positif
tergantung dari prevalensi HIV di masyarakat. Pada kelompok
penderita AIDS, predictive positive value adalah 100% sedangkan
pada donor darah dapat antara 5% - 100%. Predictive value dari hasil
negatif ELISA pada masyarakat sekitar 99,99% sampai 76,9% pada
kelompok risiko tinggi.
Di samping keunggulan, beberapa kendala path test ELISA yang
perlu diperhatikan adalah :
1) Pemeriksaan ELISA hanya mendeteksi antibodi, bukan antigen
(akhir-akhir ini sudah ditemukan test ELISA untuk antigen).
Oleh karena itu test uji baru akan positif bila penderita telah
mengalami serokonversi yang lamanya 2-3 bulan sejak
terinfeksi HIV, bahkan ada yang 5 bulan atau lebih (pada
keadaan immunocompromised). Kasus dengan infeksi HIV laten
dapat temp negatif selama 34 bulan.
2) Pemeriksaan ELISA hanya terhadap antigen jenis IgG. Penderita
AIDS pada taraf permulaan hanya mengandung IgM, sehingga
tidak akan terdeteksi. Perubahan dari IgM ke IgG membutuhkan
waktu sampai 41 minggu.
3) Pada umumnya pemeriksaan ELISA ditujukan untuk HIV-1.
Bila test ini digunakan pada penderita HIV-2, nilai positifnya
hanya 24%. Tetapi HIV-2 paling banyak ditemukan hanya di
Afrika.

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 22


4) Masalah false positive pada test ELISA. Hasil ini sering
ditemukan pada keadaan positif lemah, jarang ditemukan pada
positif kuat. Hal ini disebabkan karena morfologi HIV hasil
biakan jaringan yang digunakan dalam test kemurniannya ber-
beda dengan HIV di alam.
Oleh karena itu test ELISA harus dikorfirmasi dengan test lain.
Tes ELISA mempunyai sensitifitas dan spesifisitas cukup tinggi
walaupun hasil negatif disini tidak dapat menjamin bahwa seseorang
bebas 100% dari HIV 1 terutama pada kelompok resiko tinggi.
Akhir-akhir ini test ELISA telah menggunakan recombinant antigen
yang sangat spesifik terhadap envelope dan core. Antibodi terhadap
envelope ditemukan pada setiap penderita HIV stadium apa saja.
Sedangkan antibodi terhadap p24 (protein dari core) bila positif
berarti penderita sedang mengalami kemunduran/deteriorasi.
d. Pemeriksaan Western Blot
Western Blot adalah sebuah metode untuk mendeteksi protein
pada sampel jaringan. Imunoblot menggunakan elektroforesis gel
untuk memisahkan protein asli atau perubahan oleh jarak polipeptida
atau oleh struktur 3-D protein. Protein tersebut dikirim ke membran,
di mana mereka dideteksi menggunakan antibodi untuk menargetkan
protein.
Pemeriksaan Western Blot cukup sulit, mahal, interpretasinya
membutuhkan pengalaman dan lama pemeriksaan sekitar 24 jam.
Cara kerja test Western Blot yaitu dengan meletakkan HIV murni
pada polyacrylamide gel yang diberi arus elektroforesis sehingga
terurai menurut berat protein yang berbeda-beda, kemudian
dipindahkan ke nitrocellulose. Nitrocellulose ini diinkubasikan
dengan serum penderita. Antibodi HIV dideteksi dengan
memberikan antlbodi anti-human yang sudah dikonjugasi dengan
enzim yang menghasilkan wama bila diberi suatu substrat. Test ini
dilakukan bersama dengan suatu bahan dengan profil berat molekul

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 23


standar, kontrol positif dan negatif. Gambaran band dari bermacam-
macam protein envelope dan core dapat mengidentifikasi macam
antigen HIV. Antibodi terhadap protein core HIV (gag) misalnya p24
dan protein precursor (p25) timbul pada stadium awal kemudian
menurun pada saat penderita mengalami deteriorasi. Antibodi
terhadap envelope (env) penghasil gen (gp160) dan precursor-nya
(gp120) dan protein transmembran (gp4l) selalu ditemukan pada
penderita AIDS pada stadium apa saja. Beberapa protein lainnya
yang sering ditemukan adalah: p3 I, p51, p66, p14, p27, lebih jarang
ditemukan p23, p15, p9, p7. Secara singkat dapat dikatakan bahwa
bila serum mengan-dung antibodi HIV yang lengkap maka Western
blot akan memberi gambaran profil berbagai macam band protein
dari HIV antigen cetakannya. Definisi hasil pemeriksaan Western
Blot menurut profit dari band protein dapat bermacam-macam, pada
umumnya adalah :
1) Positif :
Envelope : gp4l, gpl2O, gp160
Salah satu dari band : p15, p17, p24, p31, gp4l, p51, p55,
p66.
2) Negatif : Bila tidak ditemukan band protein.
3) Indeterminate
e. PCR (Polymerase Chain Reaction)
PCR adalah cara in vitro untuk memperbanyak target sekuen
spesifik DNA untuk analisis cepat atau karakterisasi, walaupun
material yang digunakan pada awal pemeriksaan sangat sedikit. Pada
dasarnya PCR meliputi tiga perlakuan yaitu: denaturisasi, hibridisasi
dari "primer" sekuen DNA pada bagian tertentu yang diinginkan,
diikuti dengan perbanyakan bagian tersebut oleh Tag polymerase,
kemudian dikerjakan dengan mengadakan campuran reaksi dalam
tabung mikro yang kemudian diletakkan pada blok pemanas yang
telah diprogram pada seri temperatur yang diinginkan.

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 24


Teknik ini ditemukan oleh Kary Mullis dari Cetus Corporation
dan sekarang digunakan secara luas dalam penelitian biologi. Pada
dasarnya, target DNA diekstraksi dari spesimen dan secara spesifik
membelah dalam tabung sampai diperoleh jumlah cukup yang akan
digunakan untuk deteksi dengan cara hibridisasi. Replikasi yang
mungkin dicapai adalah dalam kelipatan jutaan atau lebih dengan
menggunakan oligonukleotid primer yang berkomplemen terhadap
masing-masing rantai dari target sekuen ikatan rangkap. Jarak antara
letak ikatan dari 2 primer menetapkan ukuran produk yang
diamplifikasi.
Target mula-mula didenaturisasi pada suhu 9095C dan
didinginkan antara 3750C untuk membiarkan annealing spesifik
antara primer dan target DNA. Ini membuat cetakan untuk enzym
Tag polimerase yang pada suhu 6772C mengkopi masing-masing
rantai. Setiap produk akan terdiri dari sekuen yang saling
melengkapi 1 dari 2 primer dan akan menguatkan dalam lingkaran
sintesis berikut. Hubungan antara tingkat amplifikasi (Y) dengan
efisiensi reaksi (X) dan jumlah cycle adalah: Y = ( 1 + 1 )n
Salah satu hambatan dalam diagnosis PCR adalah adanya false
negative. Hart dkk (1988) menemukan 1 dari 21 spesimen seropositif
adalah negatif untuk HIV melalui analisis PCR dari DNA dan RNA.
Ou dkk (1988) menemukan 6 dari 11 spesimen seropositif adalah
negatif untuk HIV dengan PCR. Penggunaan lebih dari 1 pasang
primer merupakan cara untuk menghindari hasil false negative yang
dianjurkan oleh peneliti berikutnya. Beberapa hasil false negative
dapat dihindarkan dengan memilih primer dari bagian yang
berlawanan dari genome. Primer SK 38/39 dan SK 68/69 merupakan
pilihan yang baik digunakan untuk HIV.
Pada penggunaan pasangan primer ganda, satu dari masing-
masing secara terpisah diperiksa dengan masing-masing pasangan,
atau 2 atau lebih pasangan primer digunakan pada pemeriksaan yang

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 25


sama, cara kedua tidak selalu mudah dilakukan selama pasangan
primer mungkin memiliki perbedaan dalam annealing, sifat ikatan
polimerase yang berbeda dan mungkin bekerja sebagai penghambat
yang bersaing. Dalam hal ini penting untuk menentukan secara
empiris primer mana yang dapat dikombinasikan dalam reaksi yang
sama.
Pasangan primer SK-3839 dan atau SK-145101 telah berhasil
digunakan untuk mendeteksi HIV pada lebih dari 96% individu
dengan zat anti positif. PCR dapat mendeteksi molekul tunggal dari
target DNA dan juga mengamplifikasi target yang ada sebagai
pasangan yang tidak komplet; sebaliknya kontaminasi dan campuran
reaksi dengan sejumlah target DNA yang tidak terdeteksi akan
memberikan hasil false positive. Ketaatan mengikuti prosedur dapat
mengurangi risiko kontaminasi. Cara yang cepat dan sederhana
dalam menyiapkan sampel dapat pula mengurangi false positive.
Identifikasi HIV dengan PCR telah memberikan sumbangan
dalam diagnosis dan penelitian AIDS sebagai berikut:
1) PCR telah berhasil digunakan untuk memeriksa bayi lahir dari
ibu seropositif selama zat anti maternal masih dimiliki bayi
sampai umur 15 bulan, sedangkan diagnosis infeksi HIV secara
serologis terhambat.
2) PCR telah digunakan untuk menetapkan status infeksi path
individu seronegatif. Studi pada golongan risiko rendah, hasil
seronegatif menunjukkan bahwa individu tidak terinfeksi.
3) PCR telah digunakan untuk mendeteksi sekuen HIV pada
individu seropositif dengan gejala, yang hasilnya negatif dengan
uji deteksi langsung lainnya, termasuk dengan cara mengkultur
virus.
4) Telah digunakan untuk mengindentifikasi infeksi pada sejumlah
kecil individu berisiko tinggi sebelum serokonversi.

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 26


5) PCR telah digunakan untuk konfirmasi kasus pertama dan HIV-
2 di Afrika Barat yang menjalani pengobatan di AmerikaSerikat.
6) PCR telah digunakan untuk mengevaluasi heterogenisitas virus
dalam HIV yang diisolasi.
2. Diagnosis HIV menjadi AIDS
AIDS merupakan stadium akhir infeksi HIV. Penderita dinyatakan
sebagai AIDS bila dalam perkembangan infeksi HIV selanjutnya
menunjukan infeksi-infeksi dan kanker oportunistik yang mengancam
jiwa penderita. Selain infeksi dan kanker dalam penetapan CDC 1993,
juga temasuk : ensefalopati, sindrom kelelahan yang berkaitan dengan
AIDS dan hitungan CD4 <200/ml.
3. Transmisi dan Pencegahannya
Tiga rute utama masuknya HIV adalah hubungan seksual, paparan
dengan cairan atau jaringan tubuh yang terinfeksi, dan dari ibu ke fetus
atau anak selama periode perinatal. Pada air liur, air mata dan urin orang
yang terinfeksi, dapat ditemukan HIV, tetapi tidak ada kasus infeksi oleh
hal ini, dan risiko infeksi tidak berarti.

a. Penularan melalui hubungan seksual


Mayoritas infeksi HIV berasal dari hubungan seksual tanpa
pelindung antar individu yang salah satunya terkena HIV. Hubungan
heteroseksual adalah modus utama infeksi HIV di dunia. Transmisi
HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan
vagina atau cairan preseminal seseorang dengan rektum, alat
kelamin, atau membran mukosa mulut pasangannya. Hubungan
seksual reseptif tanpa pelindung lebih berisiko daripada hubungan
seksual insertif tanpa pelindung. Risiko masuknya HIV dari orang
yang terinfeksi menuju orang yang belum terinfeksi melalui
hubungan seks anal lebih besar daripada risiko hubungan seksual dan
seks oral. Seks oral tidak berarti tak berisiko karena HIV dapat
masuk melalui seks oral reseptif maupun insertif. Risiko transmisi

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 27


HIV dari air liur jauh lebih kecil daripada risiko dari air mani.
Bertentangan dengan kepercayaan umum, seseorang harus menelan
segalon air liur dari individu HIV positif untuk membuat risiko
signifikan terinfeksi.
Penyakit menular seksual meningkatkan risiko penularan HIV
karena dapat menyebabkan gangguan pertahanan jaringan epitel
normal akibat adanya borok alat kelamin, dan juga karena adanya
penumpukan sel yang terinfeksi HIV (limfosit dan makrofag) pada
semen dan sekresi vaginal.
Penelitian epidemiologis dari Afrika Sub-Sahara, Eropa, dan
Amerika Utara menunjukkan bahwa terdapat sekitar empat kali lebih
besar risiko terinfeksi AIDS akibat adanya borok alat kelamin seperti
yang disebabkan oleh sifilis dan/atau chancroid. Risiko tersebut juga
meningkat secara nyata, walaupun lebih kecil, oleh adanya penyakit
menular seksual seperti gonorhoe, infeksi chlamydia, dan
trikomoniasis yang menyebabkan pengumpulan lokal limfosit dan
makrofag.
Transmisi HIV bergantung pada tingkat kemudahan penularan
dari pengidap dan kerentanan pasangan seksual yang belum
terinfeksi. Kemudahan penularan bervariasi pada berbagai tahap
penyakit ini dan tidak konstan antarorang. Beban virus plasma yang
tidak dapat dideteksi tidak selalu berarti bahwa beban virus kecil
pada air mani atau sekresi alat kelamin. Setiap 10 kali penambahan
jumlah RNA HIV plasma darah sebanding dengan 81% peningkatan
laju transmisi HIV. Wanita lebih rentan terhadap infeksi HIV-1
karena perubahan hormon, ekologi serta fisiologi mikroba vaginal,
dan kerentanan yang lebih besar terhadap penyakit seksual. Orang
yang terinfeksi dengan HIV masih dapat terinfeksi jenis virus lain
yang lebih mematikan.
b. Paparan dengan cairan tubuh yang terinfeksi

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 28


Rute transmisi ini terutama berhubungan dengan pengguna obat
suntik, penderita hemofilia, dan resipien transfusi darah dan produk
darah. Berbagi penggunaan jarum suntik merupakan penyebab
sepertiga dari semua infeksi baru HIV dan 50% infeksi hepatitis C di
Amerika Utara, Republik Rakyat Tiongkok, dan Eropa Timur. Risiko
terinfeksi dengan HIV dari satu tusukan dengan jarum yang
digunakan orang yang terinfeksi HIV diduga sekitar 1 banding 150.
Post-exposure prophylaxis dengan obat anti-HIV dapat lebih jauh
mengurangi risiko itu. Pekerja fasilitas kesehatan (perawat, pekerja
laboratorium, dokter, dan lain-lain) juga dikhawatirkan walaupun
lebih jarang. Jalur penularan ini dapat juga terjadi pada orang yang
memberi dan menerima rajah dan tindik tubuh. Kewaspadaan
universal sering kali tidak dipatuhi baik di Afrika Sub Sahara
maupun Asia karena sedikitnya sumber daya dan pelatihan yang
tidak mencukupi. WHO memperkirakan 2,5% dari semua infeksi
HIV di Afrika Sub Sahara ditransmisikan melalui suntikan pada
fasilitas kesehatan yang tidak aman. Oleh sebab itu, Majelis Umum
Perserikatan Bangsa-Bangsa, didukung oleh opini medis umum
dalam masalah ini, mendorong negara-negara di dunia menerapkan
kewaspadaan universal untuk mencegah transmisi HIV melalui
fasilitas kesehatan.
Risiko transmisi HIV pada resipien transfusi darah sangat kecil
di negara maju. Di negara maju, pemilihan donor bertambah baik
dan pengamatan HIV dilakukan. Namun demikian, menurut WHO,
mayoritas populasi dunia tidak memiliki akses terhadap darah yang
aman dan "antara 5% dan 10% infeksi HIV dunia terjadi melalui
transfusi darah yang terinfeksi".
Pekerja kedokteran yang mengikuti kewaspadaan universal,
seperti mengenakan sarung tangan lateks ketika menyuntik dan
selalu mencuci tangan, dapat membantu mencegah infeksi HIV.

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 29


Semua organisasi pencegahan AIDS menyarankan pengguna
narkoba untuk tidak berbagi jarum dan bahan lainnya yang
diperlukan untuk mempersiapkan dan mengambil narkoba (termasuk
syringe, bola kapas, sendok, air untuk mengencerkan obat, sedotan,
dan lain-lain). Orang perlu menggunakan jarum yang baru dan
disterilisasi untuk tiap suntikan. Informasi tentang membersihkan
jarum menggunakan pemutih disediakan oleh fasilitas kesehatan dan
program penukaran jarum. Di sejumlah negara maju, jarum bersih
terdapat gratis di sejumlah kota, di penukaran jarum atau tempat
penyuntikan yang aman. Banyak negara telah melegalkan
kepemilikan jarum dan mengijinkan pembelian perlengkapan
penyuntikan dari apotek tanpa perlu resep dokter.
c. Transmisi ibu ke anak
Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi in utero selama
minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Bila tidak
ditangani, tingkat transmisi antara ibu dan anak selama kehamilan
dan persalinan sebesar 25%. Namun demikian, jika sang ibu
memiliki akses terhadap terapi antiretroviral dan melahirkan dengan
cara bedah caesar, tingkat transmisi hanya sebesar 1%. Sejumlah
faktor dapat memengaruhi risiko infeksi, terutama beban virus pada
ibu saat persalinan (semakin tinggi beban virus, semakin tinggi
risikonya). Menyusui meningkatkan risiko transmisi sebesar 10-
15%. Risiko ini bergantung pada faktor klinis dan dapat bervariasi
menurut pola dan lama menyusui.
Penelitian menunjukkan bahwa obat antiretroviral, bedah caesar,
dan pemberian makanan formula mengurangi peluang transmisi HIV
dari ibu ke anak. Jika pemberian makanan pengganti dapat diterima,
dapat dikerjakan dengan mudah, terjangkau, berkelanjutan, dan
aman, ibu yang terinfeksi HIV disarankan tidak menyusui anak
mereka. Namun demikian, jika hal-hal tersebut tidak dapat terpenuhi,
pemberian ASI eksklusif disarankan dilakukan selama bulan-bulan

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 30


pertama dan selanjutnya dihentikan sesegera mungkin. Pada tahun
2005, sekitar 700.000 anak di bawah umur 15 tahun terkena HIV,
terutama melalui transmisi ibu ke anak; 630.000 infeksi di antaranya
terjadi di Afrika. Dari semua anak yang diduga kini hidup dengan
HIV, 2 juta anak (hampir 90%) tinggal di Afrika Sub Sahara.
Strategi pencegahan dikenal dengan baik di negara maju.
Namun demikian, penelitian perilaku dan epidemiologis di Eropa
dan Amerika Utara belakangan ini menunjukkan bahwa minoritas
banyak anak muda terus melakukan kegiatan berisiko tinggi dan
meskipun mengetahui tentang HIV/AIDS, anak muda meremehkan
risiko terinfeksi HIV. Namun demikian, transmisi HIV antar
pengguna narkoba telah menurun, dan transmisi HIV oleh transfusi
darah menjadi cukup langka di negara-negara maju.
Ada 5 cara untuk mencegah penularan HIV, yaitu :
1) A : Abstinence = tidak melakukan hubungan seks beresiko
tinggi.
2) B : Be faithful = bersikap saling setia
3) C : Condom = cegah dengan memakai kondom secara konsisten
dan benar
Selama hubungan seksual, hanya kondom pria atau kondom
wanita yang dapat mengurangi kemungkinan terinfeksi HIV dan
penyakit seksual lainnya serta kemungkinan hamil. Bukti terbaik
saat ini menunjukan bahwa penggunaan kondom yang lazim
mengurangi risiko transmisi HIV sampai kira-kira 80% dalam
jangka panjang, walaupun manfaat ini lebih besar jika kondom
digunakan dengan benar dalam setiap kesempatan. Penggunaan
efektif kondom dan penapisan (screening) transfusi darah di
Amerika Utara, Eropa Barat, dan Eropa Tengah dianggap
sebagai salah satu penyebab kecilnya jumlah AIDS di daerah-
daerah tersebut. Dengan penggunaan kondom yang konsisten
dan benar, risiko infeksi HIV sangatlah kecil. Penelitian

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 31


terhadap pasangan yang salah satunya terinfeksi menunjukkan
bahwa dengan penggunaan kondom yang konsisten, laju infeksi
HIV terhadap pasangan yang belum terinfeksi di bawah 1% per
tahun.
4) D : Drugs = Hindari pemakaian narkoba suntik
Dalam upaya pencegahan penularan melalui narkoba suntik
ada beberapa daerah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jatim,
Yogyakarta, Bali, Sumatera Selatan dan Sumatera Utara sudah
melakukan pelayanan Program Terapi Rumatan Metadon
(PTRM), yakni dengan memberi Metadon sejenis narkoba
sintesis kelas dua dengan sekali suntik dalam sehari namun
tidak menyebabkan kecanduan. Tujuannya untuk melakukan
terapi bertahap bagi pengguna narkoba suntik tersebut.
5) E : Equipment = Mintalah pelayanan kesehatan dengan
peralatan steril
4. Pengobatan
Sampai saat ini masih belum ditemukan obat penyakit AIDS/HIV
yang efesien. Beberapa usaha tetap dilakukan baik usaha penemuan obat
maupun vaksinnya. Obat yang digunakan saat ini tidak dapat
menyembuhkan penyakit HIV/AIDS, tetapi ada obat untuk mengatasi
infeksi atau gejala dari penyakit HIV/AIDS sehingga rasa sakit penderita
dapat berkurang atau hilang. Hal tersebut juga dapat memperpanjang
hidup penderita. Pengobatan hasrus dilakukan dengan cara melawan
virus bebas dan virus yang menginfeksi sel. Meskipun sejumlah zat telah
dibuat sebagai anti-HIV secara in vitro, hanya sedikit yang menunjukkan
kerja yang efektif sebagai anti-HIV pada toksisitas toleransi. Untuk
menghindari resistansi virus terhadap obat, obat yang diminum biasanya
adalah obat kombinasi yang terdiri terdiri dari beberapa jenis.
Pengobatan HIV/AIDS secara medis dapat digolongkan menjadi 3,
yaitu:
a. Pengobatan Suportif

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 32


HIV dan nutrisi keduanya sangat berhubungan. Infeksi HIV
dapat memicu adanya malnutrisi. Oleh karena itu, pengobatan AIDS
meningkat dengan pesat pada daerah-daerah miskin di seluruh dunia.
Maka pertanyaannya adalah bagaimana obat dapat bekerja dengan
baik apabila nutrisi makanannya tidak cukup baik. Oleh karena itu,
pada penderita HIV perlu diperhatikan pula mengenai nutrisi
Nasihat mengenai diet perlu disesuaikan dengan kondisi
penderita. Akan tetapi, umumnya, rekomendasi untuk orang yang
hidup dengan infeksi HIV yang belum menunjukkan gejala biasanya
sama dengan orang lainnya, yang berarti diet yang seimbang dan
sehat. Hanya ada tiga perbedaan yang penting, yaitu
1) Orang yang terinfeksi HIV cenderung membutuhkan energi
yang lebih banyak, maka jumlah kalori harus 10% lebih banyak
dibandingkan dengan jumlah kalori yang biasanya disarankan.
Dan lebih dari 30% lebih tinggi selama masa penyembuhan dari
penyakit. Keseimbangan dari lemak, protein, dan karbohidrat
harus dipertahankan supaya tetap sama.
2) Banyak ahli merekomendasikan multivitamin harian (biasanya
yang tanpa zat besi, kecuali pada wanita yang sedang menstruasi
atau orang dengan defisiensi zat besi).
3) WHO merekomendasikan suplemen vitamin A setiap 4-6 bulan
pada anak-anak yang terinfeksi HIV dan hidup di daerah miskin.
Orang yang positif terkena HIV yang kehilangan selera makan
harus berusaha keras untuk memastikan bahwa mereka telah cukup
makan. Beberapa saran yang membantu antara lain, memakan
beberapa makanan kecil per hari, melakukan latihan untuk
merangsang nafsu makan, dan mencari saran dari tenaga kesehatan
atau ahli gizi.
Jika tidak berhasil, dokter mungkin akan menyarankan
suplemen makanan cair untuk merangsang nafsu makan, atau latihan
untuk membentuk otot. Kemungkinan lain adalah pengobatan

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 33


dengan steroid dan hormon, walaupun cara ini lebih mahal dan
mempunyai efek samping yang lebih berbahaya
b. Pencegahan dan Pengobatan Infeksi Oportunistik
Meliputi penyakit infeksi Oportunistik yang sering terdapat pada
penderita infeksi HIV dan AIDS.
c. Pengobatan Antiretroviral
Terapi AIDS/HIV saat ini dilakukan terapi kimia
(chemotherapy) yang menggunakan obat anti-retroviral virus (ARV)
yang berfungsi menekan perkembangbiakan virus HIV. Prinsip dasar
dalam pemberian ARV adalah bahwa ARV sampai saat ini bukan
untuk menyembuhkan; bila digunakan dengan benar berhubungan
dengan perbaikan kualitas hidup penderita.
Tujuan pengobatan yang ingin dicapai adalah (1)
memperpanjang usia hidup anak yang terinfeksi, (2) mencapai
tumbuh dan kembang yang optimal, (3) menjaga, menguatkan dan
memperbaiki sistim imun dan mengurangi infeksi oportunistik, (4)
menekan replikasi virus HIV dan mencegah progresifitas penyakit,
(5) mengurangi morbiditas anak-anak dan meningkatkan kualitas
hidupnya.
Hingga saat ini sudah terdapat lebih kurang 20 jenis obat ARV.
Obat-obat ini pada dasarnya terdiri dari 5 jenis berdasarkan tempat
kerjanya, yaitu NRTI (Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor),
NNRTI (Non-Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor), PI
(protease Inhibitor), Fusion Inhibitor, dan Anti-Integrase.
Dalam terapi menggunakan obat ARV ini, umumnya dilakukan
dengan kombinasi beberapa jenis obat. Pemakaian kombinasi NRTI
dengan NNRTI dan PI ini saat ini dikenal sebagai Highly Active Anti
Retroviral Therapy (HAART). Penamaan ini didasarkan atas
peningkatan survival, pengurangan kemungkinan infeksi
oportunistik dan komplikasi lain, perbaikan pertumbuhan dan fungsi
neurokognitif dan peningkatan kualitas hidup penderita HIV.

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 34


Tanpa adanya HAART, infeksi HIV ke AIDS muncul dengan
rata-rata sekitar sembilan sampai sepuluh tahun dan waktu bertahan
setelah memiliki AIDS hanya 9.2 bulan. HAART meningkatkan
waktu bertahan antara 4 dan 12 tahun.
Tabel daftar obat anti retroviral.
a. Kombinasi multi kelas:
Kombinasi Nama Dagang Keterangan
efavirenz + TDF + FTC Atripla Diberikan saat perut kosong

b. Nucleoside/Nucleotide Reverse Transcriptase Inhibitors


(NRTIs) :
Nama
Singkatan Nama Dagang Keterangan
Generik
3TC lamivudine Epivir Diberikan dengan atau
tanpa makanan
ABC abacavir Ziagen Diberikan dengan atau
tanpa makanan
AZT atau zidovudine Retrovir Diberikan dengan atau
ZDV setelah makan
d4T1 stavudine Zerit Diberikan dengan atau
tanpa makanan
ddC2 zalcitabine Hivid Diberikan dengan atau
setelah makan
ddI didanosine Videx (tablet) Diberikan pada perut yang
kosong 30 menit sebelum
makan; hindari alkohol
Videx EC Diberikan pada perut yang
(capsule) kosong satu jam sebelum
makan; hindari alkohol
FTC emtricitabine Emtriva Diberikan dengan atau
tanpa makanan
TDF tenofovir Viread Diberikan dengan atau
tanpa makanan

c. NRTIs Yang Dikombinasikan:


Kombinasi Nama Dagang Keterangan
ABC + 3TC Epzicom (US)

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 35


Kivexa (Europe) Diberikan dengan atau tanpa
makanan
Diberikan dengan atau tanpa
ABC+AZT+3TC3 Trivizir
makanan
Diberikan dengan atau tanpa
AZT + 3TC Combivir
makanan
Diberikan dengan atau tanpa
TDF + FTC Truvada
makanan

d. Non-Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTIs):


Nama Generik Nama Dagang Keterangan
delavirdine Rescriptor Dilisensi di AS tapi tidak di
Inggris. Diberikan dengan atau
tanpa makanan. Tunggu selama
satu jam sebelum diberikan ddI
atau antasida.
efavirenz Sustiva (US) Diberikan ketika perut kosong
Stocrin (Europe)
etravirine4 Intelence Dilisensi di AS tapi tidak di
Inggris. Diberikan bersama
makanan
nevirapine Viramune Diberikan dengan atau tanpa
makanan

e. Protease Inhibitors (PIs):


Nama Generik Nama Dagang Keterangan
Amprenavir/ Agenerase/
fosamprenavir Lexiva (US) Diberikan dengan atau tanpa
Agenerase/ Telzir makanan
(Europe)
atazanavir5 Reyataz Diberikan dengan makanan
darunavir6 Prezista Diberikan dengan makanan
indinavir Crixivan Diberikan saat perut kosong jika
tidak diberikan bersama dengan
ritonavir
lopinavir+ Kaletra Beberapa formula harus diberikan
Aluvia
ritonavir dengan makanan. Beberapa
(developing formula perlu didinginkan hingga
world) lebih dari 6 minggu
nelfinavir Viracept Diberikan bersama makanan
ritonavir Norvir Diberikan bersama makanan atau

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 36


suplemen makanan cair
saquinavir Fortovase (soft Diberikan dalam dua jam makan.
gel capsule) Perlu didinginkan hingga lebih
dari 3 bulan
Invirase (hard gel Diberikan dalam dua jam makan
capsule)
tipranavir7 Aptivus Diberikan bersama makanan

f. Fusion or Entry Inhibitors:


Nama Generik Nama Dagang Keterangan
T-20 atau enfuvirtide8 Fuzeon Harus disiapkan dari serbuk
dan diinjeksikan pada paha,
lengan atau abdomen
maraviroc9 Celsentri (Europe) Diberikan dengan atau tanpa
Selzentry (US) makanan

g. Integrase Inhibitors:
Nama Generik Nama Dagang Keterangan
raltegravir10 Isentress Diberikan dengan atau tanpa
makanan

Pengobatan HIV biasanya melibatkan tiga obat yang diberikan


bersama-sama. WHO merekomendasikan bahwa di sebagian besar
kasus, first line regimen harus mengandung dua buah obat dari
kelompok nukleoside/nukleotida (NRTI) dan satu obat dari
kelompok non-nukleosida (NNRTI). Obat dari kelompok Protease
Inhibitor (PI) kurang cocok untuk digunakan dalam pengobatan awal
karena harganya, jumlah pil yang harus diberikan, dan beberapa efek
samping yang dapat timbul dengan obat-obat protease.
Pengobatan lini pertama yang disukai mengandung AZT atau
TDF (kelompok NRTI) yang dikombinasikan dengan 3TC atau FTC
(kelompok NRTI) lalu dikombinasikan lagi dengan EFV atau NVP

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 37


(kelompok NNRTI). Cara alternatif lain yaitu, AZT atau TDF diganti
dengan d4T atau ABC.
Kombinasi dari tiga NRTI dapat dilakukan dengan pertimbangan
situasi dimana pilihan NNRTI menyebabkan komplikasi tambahan.
Dalam kasus ini kombinasi yang dipakai adalah AZT+3TC+ABC
atau AZT+3TC+TDF (dimana FTC dapat disubstitusi untuk 3TC).
Bila terdapat kondisi yang mengarah ke kegagalan terapi ARV
lini pertama, maka diperlukan evaluasi ke arah kepatuhan berobat,
dosis dan infeksi oportunistik yang belum teratasi. Setelah dilakukan
evaluasi menyeluruh dan diputuskan untuk melakukan penggantian
obat, maka opsi pilihan lini kedua dipertimbangakan.
Standard untuk pengobatan lini kedua adalah mengandung dua
obat NRTI yang dikombinasikan dengan ritonavir-boosted protease
inhibitor, yang disingkat PI/r. Pilihan pertama biasanya ritonavir-
boosted lopinavir (LPV/r) karena tersedia dalam bentuk yang tidak
memerlukan pendinginan. Jika pengobatan lini pertama terdiri dari
tiga NRTI maka kemudian pengobatan lini kedua harus mengandung
satu obat NNRTI dan satu buah obat PI/r, dan dapat juga
mengandung ddI juga (optional).
Tabel Penggunaan Obat ARV
First drug Second drug Third drug
Preferred AZT or TDF 3TC or FTC EFV or NVP
Alternative d4T or ABC 3TC or FTC EFV or NVP
Triple NRTI AZT 3TC or FTC ABC or TDF

Tabel rekomendasi untuk penggantian regimen

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 38


First line regimen Second line regimen
First Second Third First Second Third

AZT / 3TC / NVP / EFV ddI / TDF ABC PI/r


d4T FTC TDF 3TC* PI/r
Standard TDF 3TC / NVP / TDF ddI ABC / PI/r
FTC 3TC*
ABC 3TC / NVP / TDF ddI / TDF 3TC* PI/r
FTC
First Second Third First Second Third
Triple
AZT / 3TC or TDF / ABC EFV / optional PI/r
NRTI
d4T FTC NVP ddI

* AZT dapat diberikan seperti 3TC dalam usaha untuk mencegah


atau menunda resistensi terhadap obat.
d. Manfaatnya penggunaan obat dalam bentuk kombinasi :
1) Memperoleh khasiat yang lebih lama untuk memperkecil
kemungkinan terjadinya resistensi
2) Meningkatkan efektivitas dan lebih menekan aktivitas virus.
Bila timbul efek samping bisa diganti dengan obat lainnya dan
bila virus mulai resisten terhadap oabt yang sedang digunakan
bisa memakai kombinasi lain.
e. Efektivitas
1) Lebih efektif dan menurunkan viral load lebih tinggi bila
dibandingkan dengan penggunaan satu obat saja

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 39


2) Kemungkinan terjadi resistensi virus kecil, namun apabila
pasien lupa minum obat ini akan menimbulkan resistensi
3) Kemungkinan efek samping lebih kecil
f. Waktu penggunaan ARV
Menurut WHO (2002), penggunaan ARV bisa dimulai pada
orang dewasa dengan kriteria sebagai berikut:
1) Bila pemeriksaan CD4 bisa dilakukan:
Pasien stadium IV, tanpa memperhatikan hasil tes CD4
Pasien stadium I, II, III dengan hasil perhitungan limfost
total <200/L
2) Bila pemeriksaan CD4 tidak dapat dilakukan:
Pasien stadium IV, tanpa memperhatikan hasil hitung
limfosit total
Pasien stadium I, II, III dengan hasil perhitungan limfosit
total <1000-1200/
3) Limfosit total <1000-1200 dapat diganti dengan CD4 dan
dijumpai tanda-tanda HIV. Hal ini kurang penting pada pasien
tanpa gejala (Stadium I menurut WHO) dan hendaknya jangan
dilakukan pengobatan terlebih dahulu karena belum ada
petunjuk tentang beratnya penyakit.
g. Cara memilih obat
1) Hasil pemeriksaan CD4, viral load dan kemampuan pasien
mengingat penggunaan obatnya
2) Kebanyakan orang lebih mudah mengingat obat yang diminum
sewaktu makan
h. Efek samping obat
1) Efek jangka pendek : mual, muntah, diare, sakit kepala, lesu dan
susah tidur.
2) Efek jangka pangjang belum diketahui pasti
3) Efek pada wanita : lebih berat daripada efek pada laki-laki. Cara
mengatasinya dengan penggunaan dosis yang lebih kecil.

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 40


i. Kepatuhan minum obat
1) Mencegah resistensi dan menekan virus terus menerus
2) Kiat penting :
Minum obat pada waktu yang sama setiap hari
Harus tersedia obat dimanapun pasien berada
Bawa obat kemanapun pasien pergi
Pergunakan peralatan

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 41


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Penyakit HIV/AIDS merupakan penyakit yang saat ini, menurut WHO,
merupakan penyakit yang paling mematikan di dunia. AIDS merupakan
bentuk terparah akibat infeksi HIV. HIV adalah retrovirus yang biasanya
menyerang organ vital sistem kekebalan manusia seperti sel T CD4+ (sejenis
sel T), makrofag, dan sel dendritik. Gejala awal hampir sama dengan gejala
penyakit lain, yaitu rasa tidak enak badan, karena ada kuman yang masuk ke
dalam tubuh. Secara fisik, tidak ada gejala khas dan gejalanya tidak dapat
dilihat, tapi berpotensi untuk menularkan ke orang lain.

Diagnosis HIV/AIDS dapat menggunakan beberapa cara, antara lain :

1. Langsung: biakan virus dari darah, isolasi virus dari sample, umumnya
menggunakan mikroskop elektron dan deteksi gen virus. Yang
paling sering digunakan adalah PCR (Polymerase Chain
Reaction).

2. Tidak Langsung: dengan melihat respons zat anti yang spesifik, misalnya
dengan tes ELISA, Western Blot, Immunofluoren Assay (IFA),
dan Radio Immunoprecipitation Assay (RIPA)

Virus HIV/AIDS ini biasanya ditularkan oleh kelompok berperilaku


beresiko tinggi, diantaranya : (1) pengguna narkoba suntikan, (2)
homoseksual, dan (3) Ibu-ibu yang terkena positif HIV (bisa terjangkit dari
suami, dari transfusi darah, atau pasangan pengguna narkoba suntik).

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 42


Untuk pengobatan HIV/AIDS, sampai saat ini belum ditemukan obat yang
dapat menyembuhkan penderita dari penyakit ini. Obat yang saat ini
digunakan adalah Anti Retroviral (ARV) yang fungsinya hanya
memperpanjang hidup penderita.

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 43


B. Saran
Saran dari penyusun antara lain :

1. Pemerintah diharapkan lebih mengutamakan upaya pencegahan penyakit


ini.
2. Pemerintah diharapkan melaksanakan subsidi obat antiretroviral pada
pengidap HIV/AIDS.
3. Pihak keluarga pengidap HIV/AIDS diharapkan memberikan
dukungannya.
4. Para peneliti diharapkan dapat mengembangkan obat-obat baru yang lebih
efektif.

Makalah Ginekologi Kebidanan : HIV/AIDS | 44