Você está na página 1de 12

TUGAS KLKK

Kasus : ANAK BUAH KAPAL

Oleh Kelompok 8:

1. I G N DHARMA KESUMA 12700400


2. HELFY AMALIA TRIANJARI 12700402
3. AHMAD RIZAL AL FIRDAUS 12700404
4. LAILATUL HASANAH 12700406
5. MUZAKKIR TANAIYO 12700408
6. HARNUM BINAZIR PRATIWI 12700410
7. RIGA ABIDA ROSYID 12700414
8. VENI EFRIANI 12700416
9. RICHA DIFAYANA 12700418
10. BINTANG PORADIAZ 12700420

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA

2014
Kasus :

ANAK BUAH KAPAL

Kecelakaan dengan segala bentuk dan akibatnya dapat merugikan pengusaha dan mayarakat,
karena kecelakaan kerja akan menimbulkan penderitaan lahir batin dan kerugian yang bersifat
ekonomis. Jadi K3 adalah masalah bersama dari semua pihak yang terlibat dalam proses
produksi barang dan jasa, yaitu pemerintah, pengusaha/pengurus tenaga kerja dan masyarakat.

A. Faktor lingkungan yang dicurigai sebagai hazard

1. Aspek fisik
a. Kebisingan
Gangguan yang ditimbulkan oleh mesin sebagai penggerak utama kapal.
Mesin tersebut dengan tingkat kebisingan (kuat bunyi) serta getaran yang
berlebihan sehingga akan mengganggu pendengaran anak buah kapal.
Intensitas bunyi yang akan mengganggu pendengaran adalah 90 db-100 db
b. Getaran
Getaran suatu gejala fisik gelombang dalam getaran yang merupakan sumber
asal proses tersebut selanjutnya getaran akan menyebar. Getaran yang
dihasilkan mesin kapal sampai ke tubuh manusia yang tidak terbiasa dengan
getaran dalam kehidupannya sehingga akan menimbulkan rasa tidak nyaman.
c. Suhu
Suhu di sekitar mesin bersumber dari gas buang mesin yanh tergantung pada
bahan bakar yang digunakan serta suhu udara yang tergantung pada keadaan
iklim cuaca.
Suhu gas buang mesin dengan menggunakan bahan bakar solar cenderung
stabil meningkat seiring meningkatnya laju putaran mesin. Suhu tertinggi
yang terjadi pada putaran 2200 RPM yaitu 130 derajat celcius.
d. Bau
Asap dan gas hasil buang pembakaran minyak solar pada mesin kapal
diesel berwarna hitam dan berbau tidak sedap sehingga akan menimbulkan
gangguan pernapasan.
2. Aspek Kimia
a. Gas buang (emission)
Warna asap hasil dari pembakaran bahan bakar yang dikeluarkan dari asap
pembuangan terlihat begitu hitam dan berbau. Hal ini mengakibatkan
ketidaknyamanan bekerja di kapal, apalagi bau dan warna pekat asap gas
buang erat kaitannya dengan so2, apabila semakin meningkat so2 maka
semakin berbahaya karena so2 ini bersifat karsinogenik sehingga memicu
timbulnya kanker.
3. Aspek biologi
4. Aspek ergonomic
5. Aspek psikologi
a. Gangguan emosional
b. Gangguan gaya hidung
c. Gangguan pendengaran

Secara langsung terjadinya kecelakaan ditempat kerja dapat dikelompokkan


secara garis besar menjadi 2 (dua) penyebab yaitu :

1. Tindakan Tidak Aman Dari Manusia (Unsafe Acts)

a. Bekerja tanpa wewenang


b. Gagal untuk memberi peringatan
c. Bekerja dengan kecepatan salah
d. Menyebabkan alat pelindung tidak berfungsi
e. Menggunakan alat yang rusak
f. Bekerja tanpa alat keselamatan kerja
g. Menggunakan alat secara salah
h. Melanggar peraturan keselamatan kerja
i. Bergurau di tempat kerja
j. Mabuk,
k. Mengantuk

Seseorang yang melakukan tindakan tidak aman atau kesalahan yang


mengakibatkan kecelakaan disebabkan karena :
a. Tidak tahu
Yang bersangkutan tidak mengetahui bagaimana melakukan pekerjaan dengan
aman dan tidak tahu bahaya-bahayanya sehingga terjadi kecelakaan
b. Tidak mau
Walaupun telah mengetahui dengan jelas cara kerja/peraturan dan bahaya-bahaya
yang ada serta yang bersangkutan mampu/bisa melakukannya, tetapi karena
c. kemauan tidak ada,
akhirnya melakukan kesalahan atau mengakibatkan kecelakaan
d. Tidak mampu
Yang bersangkutan telah mengetahui cara yang aman, bahaya-bahayanya, tetapi
belum mampu atau kurang terampil, akhirnya melakukan kesalahan dan gagal.

2. Keadaan Tidak Aman (Unsafe Condition)

a. Peralatan pengaman yang tidak memenuhi syarat


b. Bahan/peralatan yang rusak atau tidak dapat dipakai
c. Ventilasi dan penerangan kurang
d. Lingkungan yang sesak, lembab dan bising
e. Bahaya ledakan/terbakar
f. Kurang sarana pemberi tanda peringatan
g. Keadaan udara beracun adanya gas, debu dan uap

Keadaan tidak aman inilah yang selanjutnya akan menimbulkan kecelakaan dalam
bentuk seperti :
a. Terjatuh
b. Terbakar/terkena ledakan
c. Tertimpa benda jatuh
d. Terkena arus listrik
e. Kontak dengan benda berbahaya atau radiasi
f. Terjepit benda

B. Hierarki pengendalian

Hierarki Pengendalian untuk Anak Buah Kapal ( ABK )

Hierarki Pengendalian terdiri dari ;

1) Eliminasi

Eliminasi/menghilangkan bahaya dilakukan pada saat desain, tujuannya adalah untuk


menghilangkan kemungkinan kesalahan manusia dalam menjalankan suatu sistem karena
adanya kekurangan pada desain. Penghilangan bahaya merupakan metode yang paling
efektif sehingga tidak hanya mengandalkan prilaku pekerja dalam menghindari resiko,
namun demikian, penghapusan benar-benar terhadap bahaya tidak selalu praktis dan
ekonomis.

2) Substitusi
Metode pengendalian ini bertujuan untuk mengganti bahan, proses, operasi ataupun
peralatan dari yang berbahaya menjadi lebih tidak berbahaya. Dengan pengendalian ini
menurunkan bahaya dan resiko minimal melalui disain sistem ataupun desain ulang.

3) Perancangan / rekayasa / engineering control

Pengendalian ini dilakukan bertujuan untuk memisahkan bahaya dengan pekerja serta
untuk mencegah terjadinya kesalahan manusia. Pengendalian ini terpasang dalam suatu
unit sistem mesin atau peralatan.

4) Administrasi

Pengendalian ini dilakukan bertujuan untuk memisahkan bahaya dengan pekerja serta
untuk mencegah terjadinya kesalahan manusia. Pengendalian ini terpasang dalam suatu
unit sistem mesin atau peralatan.

5) Alat Perlindungan diri

Pemilihan dan penggunaan alat pelindung diri merupakan merupakan hal yang paling
tidak efektif dalam pengendalian bahaya,dan APD hanya berfungsi untuk mengurangi
resiko dari dampak bahaya. Karena sifatnya hanya mengurangi, perlu dihindari
ketergantungan hanya menggandalkan alat pelindung diri dalam menyelesaikan setiap
pekerjaan.

Hierarki yang sangat cocok bagi Anak Buah Kapal ialah :

1. Alat Perlindungan diri


Hierarki ini , merupakan hierarki wajib bagi semua ABK, karena alat perlidungan diri
ini hanya untuk mengurangi resiko dari bahaya. Alat Perlindungan diri yang wajib
digunakan bagi ABK adalah : Pelampung keselamatan.
2. Administrasi
Sebelum ABK memulai pekerjaan, seharusnya harus ada prosedur pekerjaan,
memberi pelatihan kepada para ABK untuk cara penyelamatan diri dan sebagainya,
memberi jadwal pekerjaan, dan rambu, kapan harus bekerja dan kapan tidak untuk
menghindari bahaya, dan untuk ABK harus mengetahui kondisi ombak dilautan
seperti apa.

C. Beban Kerja dan Kapasitas Kerja

Sesuai dengan beban kerja dan kapasitas kerja anak buah kapal, maka beban kerja dan
kapasitas kerja anak buah kapal adalah berikut:
ANAK BUAH KAPAL DINAS GELADAK

PASAL 1

1. Waktu kerja orang dinas jaga selama kapal berlayar baik pada hari kerja, maupun pada
hari minggu dan hari-hari libur resmi, adalah 8 jam sehari ditambah dengan waktu yang
dibutuhkan:
a. Mengambil alih jaga dan buku harian deck.
b. Tanpa memperhatikan peraturan-peraturan setempat, maka untuk dinas harian,
pembagian kerja adalah sebagai berikut:
07.00 12.00
13.00 16.00
2. Pekerjaan-pekerjaan di kapal dapat dibagi dalam:
a. Pekerjaan-pekerjaan untuk keperluan dinas pada umumnya.
b. Pekerjaan-pekerjaan dinas jaga.
c. Pekerjaan-pekerjaan dalam keadaan luar biasa.
3. Waktu makan diatur oleh nahkoda dengan mengingat waktu-waktu kerja yang telah
ditetapkan, dengan catatan bahwa disamping itu diadakan coffee time 2 kali sehari
selama 15 menit masing-masing.
4. Peraturan umum untuk dinas dipelabuhan atau ditempat berlabuh. Jam kerja adalah 7 jam
pada hari-hari kerja, kecuali hari Sabtu 5 jam. Minggu dan hari-hari libur resmi 0 jam.
5. Para mualim jika perlu wajib bekerja lembbur atas permintaan nahkoda. Mualim I dengan
kerja lembur diartikan pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut:
a. Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan setelah selesai tugas jaga selama kapal
berlayar.
b. Pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan diluar jam-jam kerja yang ditentukan dalam
no.5 pasal ini.
c. Pekerjaan-pekerjaan yang tidak termasuk kerja lembur ialah:
a. Pekerjaan-pekerjaan penting untuk keselamatan kapal, ABK dan muatan.
b. Pekerjaan-pekerjaan untuk memegang sijil sekoci dan atau latihan sekoci, sijil
kebakaran, dan atau latihan kebakaran.
d. Dengan di berlakukannya fixed overtime (lembur tetap) maka semuaa awak kapal
harus dengan suka rela melakukan kerja lembur minimal dua setengah jam sehari
dan maksimal sesuai dengan kondisi dan situasi setempat, cuaca, muatan schedule
kapal dll. Atas pertimbangan dan perintah nahkoda.JAGA PELABUHAN
e. Para mualim yang ditugaskan jaga pelabuhan dilarang meninggalkan kapal
selama waktu jaga. Ia bertanggung jawab atas keamanan kapal beserta muatan
serta alat-alat bantu untuk permuatan.
f. Terutama ia dibebankan tugas menjamin dan menyelenggarakan pekerjaan serta
tata tertib diseluruh kapal dalam bidang teknis yang lazim menjadi tanggung
jawab deck umpamanya :
a. Minta aliran listrik atau stroom untuk menjalankan derek-derek untuk dimuat.
b. Memberitahu masinis apabila aliran listrik atau stroom tidak dipakai lagi.

PASAL 2

DINAS LAUT
1) Yang diartikan dengan dinas jaga dianjungan dan dinas jaga di kamar mesin :
a. Selama berlayar
b. waktu jangkar, diperairan ramai, waktu hujan lebaat, kabut, arus laut, dan bila
nahkoda anggap perlu .
2) Terdapat 6 masa jaga selama 4 hari, dimulai jam 00.00
a. Jaga anjungan : 8 jam sehari.
Larut malam (middle watch) : 00.00 04.00 mualim II
Dini hari (morning watch) : 04.00 08.00 mualim I/IV
Pagi hari (forenoon watch) : 08.00 12.00 mualim III
Siang hari (afternoon watch): 12.00 16.00 mualim II
Sore hari (dog watch) : 16.00 20.00 mualim I
Malam hari (first watch) : 20.00 24.00 mualim III
3) Di perairan ramai atau berbahaya, waktu cuaca buruk, waktu kabut, atau setiap
keadaan lain yang mengurangi pengelihatan, masuk atau keluar pelabuhan atau
sungai, nahkoda diwajibkan berada di anjungan.
4) Mualim dinas (jaga) waktu melakukan jaga laut harus selalu berada di anjungan
dan tidak diperkenankan meninggalkan anjungan tanpa seizin nahkoda.
Sesudah jaga laut ia melakukan ronda dan melaporkan keadaan waktu ronda
wajib ditulis di Journal Kapal.
5) Jaga pelabuhan (berlabuh/sandar).

Jaga pelabuhan pada saat kapal sedang berlabuh/sandar diatur menurut kepentingannya
nahkoda:

1. Jaga mencegah pencurian.


2. Jaga di anjungan.
3. Jaga Kebakaran.
4. Jaga dok, reparasi, las, dll.

Orang jatuh ke laut (Man overboard)

Lemparkan pelampung yang sudah dilengkapi dengan lampu apung dan asap sedekat
orang yang jatuh

Usahakan orang yang jatuh terhindar dari benturan kapal dan baling-baling

Posisi dan letak pelampung diamati

Mengatur gerak untuk menolong (bile tempat untuk mengatur gerak cukup disarankan
menggunakan

metode "Williamson" Turn)

Tugaskan seseorang untuk mengawasi orang yang jatuh agar tetap terlihat

Bunyikan tiga suling panjang dan diulang sesuai kebutuhan


Regu penolong slap di sekoci

Nakhoda diberi tahu

Kamar mesin diberi tahu

Letak atau posisi kapal relatif terhadap orang yang jatuh di plot Posisi kapal tersedia
di kamar radio dan diperbaharui bila ada perubahan

Pencarian dan Penyelamatan (Search and Rescue)

1. Mengambil pesan bahaya dengan menggunakan radio pencari arah

2. Pesan bahaya atau S.O.S dipancarkan ulang

3. Mendengarkan poly semua frekwensi bahaya secara terus menerus

4. Mempelajari buku petunjuk terbitan SAR (MERSAR)

5. Mengadakan hubungan antar SAR laut dengan SAR udara pada frekwensi 2182 K
dan atau chanel 16

6. Posisi, haluan dan kecepatan penolong yang lain di plot

7. Latihan-latihan bahaya atau darurat

Latihan-latihan anak buah kapal

1. Di kapal penumpang latihan-latihan sekoci dan kebakaran harus dilaksanakan 1 kali


seminggu jika mungkin. Latihan-latihan tersebut di atas juga harus dilakukan bila
meninggalkan suatu. pelabuhan terakhir untuk pelayaran internasional jarak jauh.

2. Di kapal barang latihan sekoci dan latihan kebakaran harus dilakukan 1 x sebulan.
Latihan-latihan tersebut di atas harus juga dilakukan dalam jangka waktu 24 jam
setelah meninggalkan suatu pelabuhan, dimana ABK telah diganti Iebih dari 25 %.
3. Latihan-latihan tersebut di atas harus dicatat dalam log book kapal dan bila dalam
jangka waktu 1 minggu (kapal penumpang) atau 1 bulan (kapal barang) tidak
diadakan latihan-latihan, maka harus dicatat dalam log book dengan alasan-
alasannya.

4. Di kapal penumpang pada pelayaran internasional jarak jauh dalam waktu 24 jam
setelah meninggalkan pelabuhan harus diadakan latihan-latihan untuk
penanggulangan.

5. Sekoci-sekoci penolong dalam kelompok penanggulangan harus digunakan secara


bergilir pada latihan-latihan tersebut dan bila mungkin diturunkan ke air dalam jangka
waktu 4 bulan. Latihan-latihan tersebut harus dilakukan sedemikian rupa sehingga
awak kapal memahami dan memperoleh pengalaman-pengalaman dalam melakukan
tugasnya masing-masing termasuk instruksi-instruksi tentang melayani rakit-rakit
penolong.

6. Semboyan bahaya untuk penumpang-penumpang supaya berkumpul di stasion


masing-masing, harus terdiri dari 7 atau lebih tiupan pendek disusul dengan tiupan
panjang pada suling kapal dengan cara berturut-turut. Di kapal penumpang pada
pelayaran internasional jarak jauh harus ditambah dengan semboyan-semboyan yang
dilakukan secara elektris.

Maksud dari semua semboyan-semboyan yang berhubungan dengan penumpang-


penumpang dan lain-lain instruksi, harus dinyatakan dengan jelas di atas kartu-kartu
dengan bahasa yang bisa dimengerti (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris) dan dipasang
dalam kamar-kamar penumpang dan lain-lain ruangan untuk penumpang.

Syarat Orang Jatuh ke Laut Man Over Board


Dalam pelayaran sebuah kapal dapat saja terjadi orang jatuh ke laut, bila seorang awak
kapal melihat orang jatuh ke laut, maka tindakan yang harus dilakukan adalah :

1. Berteriak "Orang jatuh ke laut"

2. Melempar pelampung penolong (lifebuoy)

3. Melapor ke Mualim jaga.


Selanjutnya Mualim jaga yang menerima laporan adanya orang jatuh ke laut dapat
melakukan manouver kapal untuk berputar mengikuti ketentuan "Willemson
Turn" atau "Carnoevan turn" untuk melakukan pertolongan.
Bila ternyata korban tidak dapat ditolong maka kapal yang bersangkutan wajib
menaikkan bendera internasional huruf "O".

Isyarat Bahaya lainnya

Dalam hal-hal tertentu bila terjadi kecelakaan atau keadaan darurat yang sangat
mendesak dengan pertimbangan bahwa bantuan pertolongan dari pihak lain sangat
dibutuhkan maka setiap awak kapal wajib segera memberikan tanda perhatian dengan
membunyikan bel atau benda lainnya maupun berteriak untuk meminta pertolongan.
Tindakan ini dimaksud agar mendapat bantuan secepatnya sehingga korban dapat
segera ditolong dan untuk mencegah timbulnya korban yang lain atau kecelakaan
maupun bahaya yang sedang terjadi tidak meluas.
Dalam keadaan bahaya atau darurat maka peralatan yang dapat digunakan adalah
peralatan atau mesin-mesin maupun pesawat-pesawat yang mampu beroperasi dalam
keadaan tersebut.
Sebuah kapal didesain dengan memperhitungkan dapat beroperasi pada kondisi
normal dan kondisi darurat.
Oleh sebab itu pada kapal dilengkapi juga dengan mesin atau pesawat yang
mampu beroperasi pada kondisi darurat.