Você está na página 1de 13

MAKALAH

AGAMA MERUPAKAN RAHMAT BAGI SEMUA


DI AJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Dosen Pengampu:
Dra. Yulidesni, M.Ag.

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 13 (Kelas I B)
1. Seri Melani (A1A015006)
2. A. Fika Elvia (A1A015078)

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2015
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb
Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah, kami panjatkan puji serta syukur atas
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya kepada kita, sehingga
karena dengan ridho-Nya kita dapat melaksanakan kegiatan untuk memenuhi tugas kelompok
mata kuliah Pendidikan Agama.
Makalah ini berjudul Agama Merupakan Rahmat Bagi Semua yang disusun untuk
memenuhi tugas kelompok mata kuliah Pendidikan Agama. Pada kesempatan ini kami
menyampaikan rasa terima kasih kepada Dosen Mata Kuliah Pendidikan Agama yaitu Dra.
Yulidesni, M.Ag dan teman-teman mahasiswa Universitas Bengkulu prodi Bahasa dan Sastra
Indonesia yang telah memberikan, saran dan bantuannya kepada kami.

Kami mohon maaf apabila terdapat kekurangan pada makalah ini, baik dari segi isi
maupun penulisan kata. Maka dari itu dengan mengharapkan ridha Allah SWT kami
membutuhkan kritik dan saran bersifat membangun dari teman-teman Mahasiswa untuk
penyempurnaan makalah ini.
Wassalamualaikum wr.wb

Bengkulu, September 2015

Penyusun
DAFTAR ISI
JUDUL ................................................................................................................................1
KATA PENGANTAR ........................................................................................................2
DAFTAR ISI .......................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................4
1.1 Latar Belakang ..............................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah .........................................................................................................5
1.3 Tujuan ...........................................................................................................................5
1.4 Manfaat .........................................................................................................................6
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................................7
2.1 Agama merupakan Rahmat bagi Semua .......................................................................7
2.1.1 Definisi...............................................................................................................7
2.1.2 Memahami Rahmat Islam...................................................................................7
2.1.3 Mencari Rahmat Islam .......................................................................................8
2.1.4 Bentuk-bentuk Rahmat Islam .............................................................................9
2.2 Rahmat Islam dalam Perang ..........................................................................................11
2.3 Rahmat dalam Hukum Had ............................................................................................12
2.4 Rahmat Kepada Hewan .................................................................................................14

BAB III PENUTUP ............................................................................................................15


3.1 Kesimpulan .....................................................................................................................15
3.2 Saran ...............................................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................................16
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari beragam agama.
Kemajemukan yang ditandai dengan keanekaragaman agama itu mempunyai kecenderungan
kuat terhadap identitas agama masing- masing. Indonesia merupakan sebuah negara dengan
berbagai macam keanekaragaman. Baik itu suku, budaya, adat, ras maupun agama. Indonesia
adalah negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, sekali lagi, terbanyak di dunia.
Maka melihat keterangan di atas, seharusnya Indonesia menjadi negara yang indah,
damai, dan beradab. Tapi lihat saja kenyataannya, kita tidak bisa menutup mata dan telinga
dengan pemberitaan sehari-hari yang mengabarkan tentang kisah-kisah menyedihkan dan tak
beradab. Mulai dari anak-anak yang melakukan pencabulan, berjudi, menghisab sabu.
Remaja tawuran antar sekolah, kumpul kebo, menjadi pengedar, minum-minuman keras.
Orang tua yang mencabuli anaknya sendiri, membunuh anggota keluarga sendiri, membunuh
karena masalah sepele, bunuh diri, mutilasi, dan sebagainya. Sampai kepada pejabat kita yang
melakukan tindak asusila, dan korupsi besar-besaran. Hampir setiap hari kejadian semacam
ini keluar di pemberitaan. Sebenarnya apa yang terjadi? Di mana moral mereka? Bukankah
sebagian besar dari mereka adalah muslim? Bukankah orang muslim seharusnya menjadi
rahmatan lil alamin?
Jika ingin merasakan Indonesia yang damai sejahtera, maka yang harus dibenahi adalah
moral bangsanya, bukan sekedar pendidikan belaka. Dan pendidikan moral yang
sesungguhnya, yang komplit, dan yang diperintahkan oleh pencipta manusia adalah Islam.
Setiap muslim wajib untuk belajar tentang agamanya. Dengan begitu kita akan mampu
menjadi khalifah sesungguhnya di bumi sesuai tujuan diciptakannya kita, yaitu menjadi
rahmat bagi semesta alam.

Sedangkan kita tahu, dari firman Allah didalam QS.Ali Imran:110

110. kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada
yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli
kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan
kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Islam Agama Rahmat bagi Seluruh Alam. Kata islam berarti damai, selamat, sejahtera,
penyerahan diri, taat dan patuh. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa agama islam adalah
agama yang mengandung ajaran untuk menciptakan kedamaian, keselamatan, dan
kesejahteraan hidup umat manusia pada khususnya dan seluruh alam pada umumnya. Agama
islam adalah agama yang Allah turunkan sejak manusia pertama, Nabi pertama, yaitu Nabi
Adam AS. Agama itu kemudian Allah turunkan secara berkesinambungan kepada para Nabi
dan Rasul-rasul berikutnya.

Agama Islam mengakui keberagaman agama yang dianut oleh manusia, karena itu
agama Islam tidak hanya mengajarkan tata cara hubungan sesama umat Islam, tetapi juga
hubungan dengan umat beragama lain.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah agama merupakan rahmat bagi semua :
1) Apa definisi agama islam?
2) Bagaimana agama merupakan rahmat bagi semua umatnya?
3) Apa saja bentuk-bentuk rahmat Allah?

1.3 Tujuan
Tujuan pada makalah agama merupakan rahmat bagi semua adalah
1) Memberikan informasi kepada pembaca tentang rahmat yang diturunkan oleh Allah swt.
2) Mamahami bahwa setiap agama diturunkan kepada seluruh alam termasuk makhluk, jin
maupun manusia, muslim maupun kafir, benda hidup maupun mati untuk dijadikan
rahmat.
3) Memotivasi dan mendinamisasikan umat beragama khususnya umat islam agar dapat ikut
serta dalam upaya menjalin tali silaturahmi.

1.4 Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh mengajarkan manusia untuk selalu bersyukur pada nikmat dan
rahmat yang telah Allah turunkan pada semua umat.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Agama merupakan Rahmat bagi Semua


Setiap Rasul membawa rahmat bagi umat manusia. Wahyu yang diterima dari Allah
SWT yang mengutus Rasul-Rasul sejak awal hingga Muhammad SAW membawa manusia
ke rahmat Allah. Nabi Muhammad membawa rahmat bagi seluruh umat manusia. Tidak
semata di zaman dia diutus, atau semasa hidupnya semata. Rahmat yang dibawanya berlaku
selalu sepanjang masa Bahkan untuk berabad-abad mendatang, hingga datangnya kiamat.
Ajaran yang dibawanya, yakni Dinul Islam, tidak terbatas hanya di lingkungan tanah
kelahirannya saja. Ajaran Islam yang dibawanya melingkupi seluruh sudut bumi, dan berlaku
universal untuk segala tempat dan bangsa serta berlaku abadi sepanjang masa. Agama
diturunkan untuk membimbing dan memberi petunjuk kepada manusia guna mencapai
kesejahteraan hidupnya di dunia dan akhirat.

2.1.1 Definisi
Islam secara etimologis, berasal dari bahasa Arab salima, yang berarti selamat sentosa.
Kemudian kata itu dibentuk menjadi aslama, yang artinya memelihara dalam keadaan
selamat sentosa dan berarti juga menyerahkan diri, tunduk, damai, selamat, taat, dan
patuh.
Islam secara terminologis, berarti agama islam yang berisi ajaran yang memberi
petunjuk kepada umat manusia untuk melaksanakan tugas kehidupan menurut syariat, jalan
kehidupan yang benar, yang memberikan kemaslahatan bagi semua makhluk Allah. Agama
islam sama sekali tidak mempunyai tujuan untuk mendatangkan dan membuat bencana atau
kerusakan dimuka bumi. Inilah yang disebut islam sebagai rahmatan lil ngalamin (rahmat
bagi seluruh alam).

2.1.2 Memahami Rahmat Islam


Islam adalah agama rahmatan lil alamin artinya Islam merupakan agama yang
membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan,
tumbuhan dan jin, jin maupun manusia, Muslim maupun kafir, benda hidup maupun
mati, apalagi sesama manusia. Sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al Anbiya:107
107. Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam.
Ayat di atas sering dijadikan hujjah bahwa Islam adalah agama rahmat. Itu benar. Rahmat
Islam itu luas, seluas dan seluwes ajaran Islam itu sendiri. Itu pun juga pemahaman yang
benar.
Sedangkan bentuk-bentuk kerahmatan Allah pada ajaran Islam itu adalah
1. Islam menunjukan Manusia jalan hidup yang benar.
2. Islam menghormati dan menghargai semua manusia sebagai hamba Allah, baik mereka muslim
maupaun non muslim.
3. Islam mengatur pemanfaatan alam secara baik dan professional.
4. Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk menggunakan potensi yang diberikan
oleh Allah secara tanggung jawab dan lain-lain.
Agama islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, namun banyak orang
menyimpangkan pernyataan ini pada pemahaman pemahaman yang salah kaprah.sehingga
menimbulkan banyak kesalahan dalam praktek beragama, bahkan dalam hal yang sangat
fundamental yaitu dalam masalah toleransi.
Fungsi islam sebagai rahmatan lil alamin tidak bergantung pada penerimaan atau
penilaian manusia. Fungsi tersebut akan dapat terwujud dan dapat dirasakan oleh manusia itu
sendiri ataupun makhluk lain apabila mannusia telah mentaati dan menjalankan ajaran islam
dengan benar.
Nabi muhammad saw diutus dengan membawa ajaran islam dengan dasar rahmatan lil
alamin. Sedangkan rahmat itu sendiri dalam lisanul arab berarti kelembutan yang berpadu
dengan rasa iba atau bisa diartikan sebagai kasih sayang. Jadi, diutusnya nabi Muhammad
saw adalah bentuk kasih sayang Allah kepada semua makhluk, terutama manusia.
2.1.3 Mencari Rahmat Islam
Allah SWT berfirman, dalam QS. Al-Baqarah: 208

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara
keseluruhannya. Dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan
itu musuh yang nyata bagimu, (QS al-Baqarah: 208)

Ada banyak dimensi dari universalitas ajaran Islam. Di antaranya adalah, dimensi rahmat.
Rahmat Allah yang bernama Islam meliputi seluruh dimensi kehidupan manusia. Allah telah
mengutus Rasul-Nya sebagai rahmat bagi seluruh manusia agar mereka mengambil petunjuk
Allah. Dan tidak akan mendapatkan petunjuk-Nya, kecuali mereka yang bersungguh-sungguh
mencari keridhaan-Nya.

Artinya :Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar
akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-
benar beserta orang-orang yang berbuat baik, (QS al-Ankabuut: 69).

2.1.4 Bentuk-bentuk Rahmat Islam


Ketika seseorang telah mendapat petunjuk Allah, maka ia benar-benar mendapat rahmat
dengan arti yang seluas-luasnya. Dalam tataran praktis, ia mempunyai banyak bentuk.

1. Pertama, manhaj (ajaran).


Di antara rahmat Allah yang luas adalah manhaj atau ajaran yang dibawa oleh Rasulullah
saw berupa manhaj yang menjawab kebahagiaan seluruh umat manusia, jauh dari kesusahan
dan menuntunnya ke puncak kesempurnaan yang hakiki. Allah SWT berfirman,
Artinya : Kami tidak menurunkan Al Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi
sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah). (QS. Thahaa: 2-3).

Di ayat lain, Dia berfirman,


Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, (QS Al-Maidah: 3).

2. Kedua, al-Qur`an.
Al-Qur`an telah meletakkan dasar-dasar atau pokok-pokok ajaran yang abadi dan
permanen bagi kehidupan manusia yang selalu dinamis. Kitab suci terakhir ini memberikan
kesempatan bagi manusia untuk beristimbath (mengambil kesimpulan) terhadap hukum-
hukum yang bersifat furuiyah. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari tuntutan
dinamika kehidupannya. Begitu juga kesempatan untuk menemukan inovasi dalam hal sarana
pelaksanaannya sesuai dengan tuntutan zaman dan kondisi kehidupan, yang semuanya itu
tidak boleh bertentangan dengan ushul atau pokok-pokok ajaran yang permanen. Dari sini
bisa kita pahami bahwa al-Qur`an itu benar-benar sempurna dalam ajarannya. Tidak ada satu
pun masalah dalam kehidupan ini kecuali al-Qur`an telah memberikan petunjuk dan solusi.
Allah berfirman :

Artinya :Tidak ada sesuatu pun yang kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada
Tuhanlah mereka dikumpulkan, (QS al-Anaam: 38).

Dalam ayat lain berbunyi, ...Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk
menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang
yang berserah diri, (QS an-Nahl: 89).

3. Ketiga, penyempurna kehidupan manusia


Di antara rahmat Islam adalah keberadaannya sebagai penyempurna kebutuhan manusia
dalam tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini. Rahmat Islam adalah meningkatkan dan
melengkapi kebutuhan manusia agar menjadi lebih sempurna, bukan membatasi potensi
manusia. Islam tidak pernah mematikan potensi manusia, Islam juga tidak pernah
mengharamkan manusia untuk menikmati hasil karyanya dalam bentuk kebaikan-kebaikan
dunia.

....

Artinya :Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah
dikeluarkan-Nya untuk hambahamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki
yang baik?... (QS al-A`raf: 32).

Islam memberi petunjuk mana yang baik dan mana yang buruk, sedang manusia
sering tidak mengetahuinya.
Artinya :Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi
(pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui, (QS al-Baqarah: 216).

4. Keempat, jalan untuk kebaikan.


Rahmat dalam Islam juga bisa berupa ajarannya yang berisi jalan/cara mencapai
kehidupan yang lebih baik, dunia dan akhirat. Hanya kebanyakan manusia memandang jalan
Islam tersebut memiliki beban yang berat, seperti kewajiban sholat dan zakat, kewajiban
amar maruf nahi munkar, kewajiban memakai jilbab bagi wanita dewasa, dan sebagainya.
Padahal Allah SWT telah berfirman,
... Pada dasarnya, kewajiban tersebut hanyalah untuk kebaikan manusia itu
sendiri.
...
Artinya :Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri,... (QS
al-Isra: 7).

Artinya :Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya,...


(QS al-Baqarah: 286).

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ajaran Islam itu adalah rahmat
dalam artian yang luas, bukan rahmat yang dipahami oleh sebagian orang menurut seleranya
sendiri. Rahmat dalam Islam adalah rahmat yang sesuai dengan kehendak Allah dan ajaran-
Nya, baik berupa perintah atau larangan. Memerangi kemaksiatan dengan mengingatkan
kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar itu adalah rahmat, sekalipun sebagian
orang tidak setuju dengan tindakan tersebut. Allah berfirman :

Artinya : Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang
kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh
jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui,
sedang kamu tidak mengetahui, (QS al-Baqarah: 216).

Hendaknya kita jujur dalam mengungkapkan sebuah istilah. Jangan sampai kita
menggunakan ungkapan seperti sejuk, damai, toleransi, rahmat, dan sebagainya, kemudian
dikaitkan dengan kata Islam. Sementara ada tujuan lain yang justru bertentangan dengan
Islam itu sendiri.
2.2 Rahmat Islam dalam Perang
Demikian pula dalam peperangan, Agama Islam tidak lepas dari sifatnya sebagai rahmat
bagi seluruh alam. Islam mengajarkan peraturan-peraturan dan hukum-hukum perang. Siapa
yang boleh dibunuh dan siapa yang tidak. Bolehkah merusak jasad musuh atau tidak, dan
seterusnya. Setiap melepas suatu pasukan untuk berperang Rasulullah shallallahu `alaihi wa
sallam selalu memberikan wasiat kepada mereka, yang berisi nasihat dan peraturan
peperangan. Di dalamnya kita akan dapati rahmat dan kasih sayang.

Pernah pada suatu hari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam berjalan bersama
pasukannya dalam suatu peperangan. Kemudian Beliau melihat orang-orang berkerumun pada
sesuatu, maka beliau pun mengutus seseorang untuk melihatnya. Ternyata mereka
mengerumuni seorang wanita yang terbunuh oleh pasukan terdepan. Waktu itu pasukan
terdepan dipimpin oleh Khalid bin Walid. Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pun
bersabda: Berangkatlah engkau menemui Khalid dan katakan kepadanya: Sesungguhnya
Rasulullah melarang engkau untuk membunuh dzuriyah (wanita dan anak-anak, ed) dan
pekerja / pegawai. (HR. Abu Dawud).

Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Katakan pada
Khalid jangan ia membunuh wanita dan pekerja. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Ath-Thahawi.
Lihat Ash-Shahihah oleh Syaikh Al-Albani 6 / 314).

Dalam riwayat yang lebih shahih dikatakan: Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Nabi
shallallahu `alaihi wa sallam melihat seorang wanita terbunuh dalam suatu peperangan. Maka
beliau pun mengingkari pembunuhan wanita dan anak-anak. (Muttafaqun `alaihi)

Dari riwayat-riwayat ini jelas bahwa wanita dan anak-anak tidak boleh dibunuh dalam
peperangan. Sedangkan pegawai atau pekerja yang dimaksud adalah warga sipil yang tidak
ikut dalam peperangan. Mereka ini juga tidak boleh dibunuh. Demikianlah peraturan Islam,
betapa indahnya peraturan tersebut. Kaum muslimin sudah mengenal istilah warga sipil yang
tidak boleh dibunuh sejak turunnya Al-Quran ribuan tahun yang lalu. Inilah kasih-sayang
Islam yang datang sebagai rahmat bagi seluruh alam termasuk kepada musuhnya sekali pun.

2.3 Rahmat dalam Hukum Had


Termasuk dalam hukum had dan qishas, kasih sayang Islam tidak pernah hilang.
Disamping hukum itu sendiri memang membawa rahmat, penerapannya pun tidak
sembarangan. Membutuhkan penyelidikan dan kepastian serta masih terkait dengan tuntutan
korban atau maafnya.

Seperti hukum qishas, hukum seorang yang membunuh adalah dibunuh pula. Hukum ini
membawa rahmat kepada seluruh kaum muslimin yaitu keamanan dan ketentraman. Bahkan
hukum yang sepintas terlihat akan membawa korban lebih banyak, ternyata bagi orang yang
cerdas akan terlihat bahwa sesungguhnya hukum ini justru menjaga kehidupan. Allah
berfirman :

Artinya: Sesungguhnya pada hukum qishash ada kehidupan bagi kalian wahai orang yang
cerdas, semoga kalian bertakwa. (Al-Baqarah: 179)
Namun hukum ini pun terkait dengan tuntutan keluarga korban. Jika mereka
memaafkan maka tidak dilakukan hukum bunuh melainkan membayar diat, semacam uang
denda atau tebusan senilai harga seratus ekor unta yang diberikan kepada keluarga korban. Ini
pun merupakan rahmat dan keringanan dari Allah untuk mereka sebagaimana Allah katakan
sendiri dalam ayat-Nya:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan
orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan
wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya,
hendaknya (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi
maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang
demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang
melampui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. (Al-Baqarah: 178)
Ini pun kalau benar-benar terbukti ia membunuh dengan sengaja, kalau ternyata tidak
sengaja maka tidak ada qishas yang ada adalah diat. Bahkan kalau keluarga korban akan
menginfakkan tebusan tersebut kepada si pembunuh dan memaafkannya, berarti ia tidak perlu
membayar diat.
Walaupun yang dibunuh adalah seorang kafir muahad yang terikat perjanjian, tetap wajib
bagi si pembunuh yang Muslim membayar diat kepada keluarga korban serta memerdekakan
seorang budak. Tetapi tidak ada qishas baginya.

Sedangkan hukum potong tangan bagi pencuri atau hukum cambuk (bagi penzina yang
belum menikah) dan rajam (bagi penzina yang telah menikah) dan lain-lain merupakan
kejahatan yang jika sudah sampai kasusnya kepada pemerintah maka harus ditegakkan hukum
padanya. Inipun sesungguhnya merupakan rahmat bagi seluruh kaum muslimin bahkan seluruh
manusia.

2.4 Rahmat Kepada Hewan


Dalam memelihara hewan kita harus memberinya makan yang cukup. Dalam
menunggangi kita dilarang memberikan beban yang terlalu berat. Dalam menyembelih kita
harus menggunakan pisau yang tajam dan ditempat yang langsung mematikan, yaitu
dilehernya. Dan seterusnya, pernah suatu hari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam
memasuki perkampungan kaum Anshar. Kemudian beliau masuk ke suatu tembok kebun salah
seorang dari mereka. Tiba-tiba beliau melihat seekor unta yang kurus. Ketika melihat
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, unta itu menangis, merintih dan meneteskan air mata.
Maka beliau pun mendekatinya lalu mengusap perutnya sampai ke punuknya dan ekornya.
Unta itu pun tenang kembali. Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:
Siapa penggembala unta ini?

Dalam riwayat lain beliau bersabda: Siapa pemilik unta ini? Maka datanglah seorang
pemuda dari Anshar, kemudian berkata: Itu milikku ya Rasulullah. Maka Rasulullah
shallallahu `alaihi wa sallam berkata: Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam
memelihara ternak yang telah Allah berikan kepadamu itu? Sesungguhnya ia mengeluh
kepadaku bahwa engkau melaparkan dan melelahkannya. Maka beliau menegurnya dengan
ucapan: Tidakkah kamu takut kepada Allah. Ini mengandung ancaman bagi orang yang
menyiksa hewan peliharaannya. Bukankah ini suatu rahmat dan kasih sayang yang besar.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bahwa ajaran Islam itu adalah rahmat dalam artian yang luas, bukan rahmat yang
dipahami oleh sebagian orang menurut seleranya sendiri. Rahmat dalam Islam adalah rahmat
yang sesuai dengan kehendak Allah dan ajaran-Nya, baik berupa perintah atau larangan.
Memerangi kemaksiatan dengan mengingatkan kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang
munkar itu adalah rahmat, sekalipun sebagian orang tidak setuju dengan tindakan tersebut.

3.2 Saran
Sebagai seorang yang beragama islam, islam menjadi hendaknya menjadi dasar
dalam menata kehidupan, baik ekonomi, politik, maupun budaya sehingga kehidupannya
menjadi prilaku yang islami, karena sesungguhnya agama ini adalah rahmat bagi seluruh
makhluk, jin maupun manusia, muslim maupun kafir, benda hidup maupun mati.
Daftar pustaka
http://serimelani.blogspot.co.id/2015/09/agama-merupakan-rahmat-bagi-semua.html